Ekonomi Media: Bagaimana Televisi Lokal Bisa Hidup
Diki Umbara

Sebuah televisi lokal akhirnya kolaps juga. Diawali dengan semangat menggebu dan keyakinan akan tetap eksisnya media massa audio visual ini lambat laun meredup, lantas benar-benar mati sebab alih-alih bisa menuai keuntungan, di tahun ketiga televisi itu akhirnya sudah benar-benar tak dimiliki lagi oleh investor lokal.

Tumbuh pesatnya televisi lokal mulanya dianggap sebagai kabar baik, beberapa kota di Indonesia bahkan memiliki lebih dari empat stasiun televisi lokal. Sepuluh tahun lalu setidaknya sudah ada 40 televisi lokal dan kini tidak kurang dari 120 lokal ada di berbagai daerah di Indonesia. Artinya ini jauh melebihi jumlah televisi nasional yang “hanya” berjumlah 11 stasiun televisi. Namun kabar buruknya beberapa stasiun televisi lokal tersebut nyatanya banyak yang tak bisa bertahan lama, persiapan yang tidak terlalu matang serta manajemen buruk ditengarai sebagai penyebab utama sehingga banyak televisi lokal kepemilikannya sudah berpindah tangan.

Walau bagaimanapun investasi stasiun televisi tidaklah sedikit. Di awal ia harus menyiapkan infrastruktur yang harganya tentu saja tidak murah sebab sebagian besar peralatan broadcasting televisi merupakan produk luar. Selain infrastruktur tentu televisi juga harus memiliki studio, dan pembangunan studio juga akan membutuhkan uang yang tentu saja tidak sedikit. Dan tentu saja televisi akan mengeluarkan biaya operasional demi berlangsungnya siaran televisi tersebut.

Bisnis media massa, termasuk televisi di dalamnya memang unik, sebab yang “dijual” merupakan informasi oleh sebab masalah kepercayaan dari publik akan menjadi hal yang sangat penting. Bisnis media akan berkaitan dengan: audience, content, serta capital. Siapakah audiens yang hendak menjadi target, pemetaan ini kelak akan berkaitan dengan hal ke dua yakni konten. Ketika sudah diketahui siapa audiensnya maka konten atau isi dari media dalam hal ini acara televisi seperti apa yang harus disajikan akan ketahuan. Dan terakhir adalah kapital, seperti yang sudah dijelaskan di atas. Dari mana dan bagaimana pembiayaan media sehingga ia akan bisa sustain dan tentu saja harus menguntungkan.

Beragam Masalah TV Lokal

Bisa jadi sebagian besar pendirian tv lokal pada awal mula karena semangat terutama setelah lahir UU Penyiaran No.32. Namun semangat ini tidak dibarengi dengan kemampuan serta pengetahuan bahwa bisnis media memang unik. Kolapsnya beberapa tv lokal bahkan televisi yang dikelola oleh pemerintahan daerah. Secara umum televisi-televisi lokal ini berguguran karena besar pasak daripada tiang. Cost yang tinggi sementara pendapatan yang tidak memadai.

Menurut data yang dilansir AGB Nielsen, share yang diperoleh televisi lokal tidak lebih dari 3%. Dengan prosentase yang jauh di bawah televisi nasional inilah yang mengakibatkan para pengiklan ogah untuk memasang iklannya di televisi lokal. Share yang kecil berarti jumlah penonton televisi lokal memang masih sangat sedikit. Kenapa televisi lokal tidak banyak ditonton? Ada beberapa motif menonton televisi yakni informasi, identitas pribadi, integrasi sosial, serta hiburan. Artinya bisa jadi banyak televisi lokal yang tidak memiliki konten yang bisa memenuhi ke empat motif ini.

Beberapa pengamat mengira bahwa hal lain yang menyebabkan televisi lokal ambruk karena memiliki sumber daya manusia yang tak mumpuni. Akan tetapi penulis tidak sepakat, sebab nyatanya SDM di daerah tidak kalah dengan sumber daya manusia yang ada di kota atau yang ada di televisi nasional maupun televisi berjaringan luas. Sebagai bukti, ketika SDM dari daerah tersebut bergabung di televisi besar ia tetap mampu bersaing. Jadi perihal sumber daya manusia sebenarnya tak masalah di televisi-televisi lokal tersebut. Kalaupun permasalahan yang berkaitan dengan SDM bisa jadi karena manajemen di perusahaan televisi lokal tersebut. Di daerah, memiliki stasiun televisi menjadi gengsi tersendiri, namun karena manajemen yang buruk alih-alih bisa meraup keuntungan bahkan sekadar bisa sustain saja cukup sulit.

Hidup Manis Seperti Televisi Jakarta

Istilah Televisi Jakarta sebetulnya merupakan cemooh yang penulis pinjam dari salah seorang pengamat media, Televisi Jakarta dimaksudkan untuk televisi yang bisa bersiaran di seluruh Indonesia yang pusatnya di Jakarta. Ya semacam nama lain untuk istilah televisi nasional, sebab menurut UU Penyiaran No.32 memang tak ada televisi nasional, yang ada merupakan stasiun bejaringan yang kenyataanya UU ini pernah dan masih tersaruk-saruk karena implementasinya sulit juga di lapangan.

Banyak televisi lokal yang ingin seperti televisi besar di Jakarta, maka banyak televisi lokal yang meniru televisi Jakarta dengan harapan akan mendapat penonton yang banyak. Nyatanya hal ini menjadi kekeliruan besar, sebab rasanya tak ada penonton di daerah yang menonton televisi lokal sebagai substitusi dari televisi nasional. Yang terjadi adalah menonton televisi lokal sebagai komplementer. Dengan demikian jelas sudah bahwa penonton televisi di daerah menganggap televisi lokal sebagai pelengkap bukan pengganti. Hal ini tentu saja akan berkaitan dengan konten acara yang mestinya disajikan oleh televisi lokal tersebut. Yang menyadari akan hal ini sedari awal nampaknya adalah JTV atau Jawa Pos Televisi dan Bali TV. Hingga kini ke dua televisi lokal inilah yang paling sustain, terbukti juga dengan masih banyaknya penonton untuk ke dua televisi lokal ini.

Jalan Keluar

Permasalahan televisi lokal memang sudah terlanjur pelik, untuk mendapat iklan sangat sulit sebab jumlah penonton yang tak menarik buat para pengiklan. Acara yang tak menarik karena kemasan yang tidak menarik pula. Tak memiliki data yang valid karena tidak berlangganan riset dari AGB Nielsen yang harganya cukup aduhai. Hal pelik ini sebenarnya tak juga muskil untuk diurai, maka yang bisa dilakukan adalah sadari betul apa motif dari penonton seperti yang dijelaskan di atas tadi. Untuk mengetahui motif penonton bisa dilakukan dengan riset. Ya riset langsung di daerah di mana stasiun televisi lokal itu berada. Dengan riset maka kita akan tahu persis apa sebetulnya yang diinginkan oleh penonton, sebab bisa jadi kebutuhan di satu tdaerah akan berbeda dengan daerah lain. Konten mungkin berbeda atau memang harus berbeda dengan televisi nasional, akan tetapi perihal kualitas mestinya harus bisa bersaing. Sebab siapa juga yang akan menonton jika saluran televisinya buruk, artinya ini akan berkaitan dengan infrastruktur dan sumber daya manusia di dalamnya.

Iklan bukanlah satu-satunya pendapatan yang bisa dihasilkan televisi lokal, ia bisa juga mendapat penghasilan lainnya dari airtime yang bisa dijual untuk blocking time dengan perusahaan lokal atau perusahaan nasional yang ingin ekspansi di daerah. Hal lain yang bisa didapat yakni kerjasama dengan production house di daerah. Atau bisa jadi ada cara lain juga bagaimana mendapat keuntungan dari televisi tersebut.

Jalan terakhir dan ini mungkin bisa “menyakitkan” daripada benar-benar mati, jika tak bisa berdikari makan yang bisa dilakukan tentu saja bergabung dengan televisi berjaringan nasional. Lagipula ini seperti yang diamanatkan dalam UU Penyiaran No.32 tentang televisi siaran berjaringan.

Di sebuah gedung yang tak terlalu besar, di sebuah kota kecil di Indonesia. Gedung di tepi jalan yang lumayan ramai itu merupakan sebuah televisi lokal yang sudah berdiri lima tahun lalu. Dihadiri oleh beberapa orang, acara penandatanganan perusahan media penyiaran televisi berlangsung sederhana.

Kini televisi lokal yang sempat menjadi kebanggaan warga di tahun-tahun pertama itu kini telah beralih kepemilikan. Pemilik usaha media besar di Jakarta baru saja membuat televisi lokal tersebut menjadikan salah satu televisi jaringannya. Beberapa karyawan nampak tersenyum, namun sedikit di antaranya nampak murung. Ada yang merasa lebih nyaman, ada yang merasa terancam.

Video Jurnalis, yang Serba Bisa di Televisi
Diki Umbara

Sebuah telpon masuk redaksi, ada kejadian yang disampaikan oleh seseorang di mana ia menjadi salah seorang saksi mata. Di perbatasan kota di hari yang masih pagi buta terjadi beberapa tembakan. Tidak ada desas desus sebelumnya, pengepungan sebuah rumah baru saja berlangsung. Namun penelpon ke sebuah televisi tersebut tak menyebutkan secara rinci apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Tak lama berselang ada informasi serupa dari pelapor lain. Redaksi memutuskan untuk segera mengirim tim liputan ke lapangan. Di newsroom, produser dan dan timnya sedang mempersiapkan berita pagi. Kini jam menunjukkan pukul tiga, artinya masih ada dua jam sebelum berita pagi itu tayang. Kabar tentang penyerbuan sebuah rumah di sebuah perbatasan sudah sampai di newsroom. Tim redaksi menginginkan yang serupa pertempuran tersebut bisa naik di berita pagi. “Kalau bisa live dari lapangan, kita kirim video jurnalis sekarang!” demikian perintah pimpinan redaksi di hadapan produser dan koordinator liputan saat itu.

Video Jurnalis yang Siaga

Tidak ada waktu yang cukup untuk redaksi jika harus mengirim tim liputan lengkap. Jika sebuah tim lengkap dikirim untuk melakukan siaran langsung dari lapangan, maka setidaknya aka nada dua mobil yang disiapkan yakni OB Van atau Outside Broadcast Van yakni mobil berjenis van yang berisi peralatan vision mixer, audio mixer, serta peralatan uplink ke satelit , serta mobil tim liputan yakni cameraman dan reporter. Untuk menyiapkan itu semua tentu tidak bisa sangat segera, kendala agar segera cepat sampai di lokasi jadian juga merupakan persoalan tersendiri. Namun kini ada solusi lain, yakni mengirim video jurnalis. Ya video jurnalis bisa bekerja seorang diri.

Dengan briefing dari produser terlebih dulu sang video jurnalis sudah paham dengan apa yang mesti ia lakukan pagi buta ini. Berbekal surat tugas dari koordinator liputan dan produser tadi ia segera menuju bagian logistik. Daftar peralatan apa saja yang mesti dibawa disodorkan pada petugas logistik; kamera, batere, tripod, serta serta sebuah pc. Dalam hitungan menit peralatan tersebut kini sudah berada di tangan sang video jurnalis. Perlatan dalam kondisi prima, sehingga sang VJ yakin dan akan segera berangkat menuju lokasi.

Kali sang VJ tak berangkat sendirian, ia ditemani seorang messenger. Messenger adalah petugas yang mengirim materi hasil liputan reporter dan cameraman di lapangan agar materi segera sampai di newsroom untuk kemudian diingest lantas diedit. Dengan tas ransel di pundak, kamera didekap, serta tripod berukuran kecil, meluncurlah sang VJ dan messenger menggunakan motor. Jalanan yang lengang di pagi buta, tak sampai tiga puluh menit mereka tiba di sebuah perbatasan kota, tepatnya perbatasan tiga provinsi sekaligus; Jakarta, Jawa Barat, dan Banten.

Di Lapangan, Apapun Bisa Terjadi

Di luar sana profesi Video Jurnalis sudah terkenal sebab sepuluh tahunan lalu sudah ada, namun di Indonesia profesi ini bisa dibilang masih relatif baru. Video jurnalis, ia sebenarnya merupakan padu padan tiga profesi sekaligus yakni cameraman, reporter, dan editor. Yang berarti dengan satu orang inilah kegiatan jurnalistik bisadi kerjakan. Secara teknis ia harus bisa mengoperasikan kamera dan melakukan penyuntingan gambar, di sisi lain ia mesti pandai dalam penulisan naskah dan reportase yang di dalamnya berarti ia harus cakap dalam pengumpulan data, riset, dan kegiatan penunjang jurnalistik lainnya.

Tiba di lapangan sang VJ segera melakukan perekaman gambar, dengan cahaya yang minim ia segera mengadjust iris yang ada di kamera. Beberapa momen tak luput dari bidikan HD Videocamnya, kamera mungil namun beresolusi tinggi ini sudah ia pahami betul fitur-fiturnya. Sebelum melakukan pengambilan gambar lain ia menghampiri beberapa warga untuk mengorek informasi perihal kejadian penyerbuan salah satu rumah yang masih berlangsung ini. Dari hasil negosiasinya, salah satu warga bersedia juga diwawancara. Kali ini sang VJ tak menggunakan tripod, sebab dengan handheld ia merasa nyaman untuk wawancara. Jadi ketika misal tiba-tiba ia harus bergegas dalam perekaman gambar lain dengan mudah ia bisa melakukannya.

Tak lama berselang hape sang VJ berbunyi, rupanya ia dapat panggilan dari newsroom televisi di mana ia bekerja. “Empat puluh menit lagi berita pagi akan dimulai, messenger sudah bisa segera mengirim materi liputan kamu sekarang. Atau memungkinkan kalau kamu bisa live nanti?” demikian produser di ujung telpon memberi opsi. Ada beberapa alasan kenapa kejadian itu mesti disiarkan langsung. Rupanya ini bukan penggerebekan teroris biasa, di balik itu semua ada dugaan melibatkan orang yang tidak asing di kota ini.

Live on Location,Tak Serumit Dulu

Teknologi saat ini memungkinkan untuk televisi melakukan siaran langsung atau live bahkan di tempat terpencil sekalipun. Salah satu teknologi yang dimaksud yakni penggunaan sinyal telpon GSM. Ya TVU memanfaatkan jalur telpon seluler dalam mengirim data dalam bentuk suara dan gambar. Secara teknis, dari camera disambungkan ke sebuah laptop yang sudah dilengkapi modem. Aplikasi TVU di laptop tersebut akan menerima audio dan visual dari video kamera, lantas data tersebut dikirim dan akan diterima di control room televisi.

Karena menggunakan sinyal telpon selular, maka bagus atau tidaknya gambar dan suara yang diterima tentu sangat tergantung dari sinyal telpon itu sendiri. Jadi pemilihan operator selular mana yang akan kita gunakan tentu menjadi sangat penting. Namun yang jelas, dengan teknologi ini biaya untuk siaran langsung akan jauh lebih murah dan lebih mudah.

Dari data yang dihimpun di lapangan sang VJ bisa memastikan kalau kejadian ini memang penyergapan teroris yang dilakukan seperti mendadak, sebab beberapa warga menuturkan tidak ada hal yang mencurigakan terjadi dari pagi hingga sore sebelumnya. Dan sang VJ rupanya merupakan jurnalis televisi satu-satunya yang pertama tiba di lokasi.

Video Jurnalis Itu All In One

Selain Video Jounalist atau yang lebih simpel dipangggil VJ, ada pula istilah baru yakni Solo Journalist yang pada prinsipnya sama yakni ia bekerja seorang diri: sebagai seorang reporter, cameraman, serta editor. Jadi mulai pra produksi sampai paska produksi bahkan hingga ia melaporkan kejadian secara live dari lapangan. Ya seorang VJ itu all in one karenya ia harus multi-skill dan tentu ini menjadi pekerjaan yang sangat berat. Butuh passion yang tinggi bagi seseorang yang hendak menjadi seorang video jurnalis.

Sebagai reporter, ia memiliki tugas dalam mengumpulkan data, mewawancara, hingga membuat laporan secara lengkap. Sebagai cameraman ia akan mencari memilih subyek, mencari, dan merekam kejadian. Sebagai editor ia akan memilih, memotong, serta menyusun shot-shot menjadi satu kesatuan cerita. Bagi stasiun televisi, dengan adanya video jurnalis ini tentu akan banyak mendapatkan penghematan baik dalam pengeluaran dana hingga efektifitas waktu. Karenanya video jurnalis yang mulanya populer di Amerika, kini juga mulai banyak diterapkan dan direkrut oleh banyak stasiun televisi di Indonesia.

Jam delapan empatpuluh lima pagi di hari yang sama sang VJ yang bertugas tadi tiba di kantor salah satu stasiun televisi berita ternama di Indonesia. Tanpa diduga, ketika ia tiba di newsroom ia mendapat surprise. Pimpinan redaksi menyalami sang VJ sembari mengucapkan selamat, tepuk tangan dari semua yang bertugas di newsroompun menggema. Laporan langsung sang VJ dari tempat kejadian penyergapan teroris di berita pagi di televisi tersebut menjadi perbincangan.

Library Televisi, Pustakawan Audio Visual
Diki Umbara

Sebuah intra-mail masuk pada milis library, pengirimnya dari bagian marketing yang berisikan permintaan copy tayang sebuah acara. Berdasar email tersebut, seorang petugas library di salah satu stasiun televisi segera memeriksa. Dengan bantuan aplikasi News Archive, ia dengan mudah menemukan file data copy tayang yang dimaksud.

Pekerjaan tidak selesai sampai di situ, setelah menemukan file yang dimaksud, ia segera memindahkan file dari server ke dalam bentuk cakram DVD. Esoknya copy tayang segera diambil oleh bagian marketing untuk selanjutnya diberikan ke client beserta invoice dari bagian akunting. Begitulah bagian library bekerja, ia mensupport divisi lain yang membutuhkan layanan data dalam bentuk audio-visual. Di library inilah seluruh materi yang akan dan telah ditayangkan disimpan dengan sangat rapi.

Bagaimana Library Menyimpan Materi Tayang?

Bersama reporter seorang cameraman baru tiba di kantor, sebelumnya mereka berdua habis melakukan sebuah liputan. Tanpa membuang waktu, reporter segera menulis naskah sedangkan cameraman menuju salah satu ruang bagian library. Ia memberikan hasil liputan beserta catatan. Materi liputan berupa P2 card segera diingest oleh petugas library. Lantas sekarang materi liputan dengan filling yang rapi sudah tersimpan dalam server, yang kelak bisa dikases oleh user yakni editor dan juga produser.

Di newsroom, produser memeriksa naskah yang telah ditulis oleh reporter. Beberapa kesalahan kecil lantas ia koreksi. Untuk menyesuaikan naskah dengan hasil liputan, produser melakukan preview dengan mengakses materi hasil liputan yang telah tersimpan di server tadi. Naskahpun sudah siap untuk dibacakan reporter di ruang sulih suara.

Beberapa stasiun televisi membuat dua bagian library yakni library news, ia yang mengelola semua materi hasil liputan dan materi siap tayang dari editing, dan library yang mengelola materi tayang dari produksi atau non news. Dibuat demikian biasanya untuk memudahkan dalam melayani user dari dua departemen yang berbeda. Walaupun dalam penyimpanan materi tadi bisa saja dalam satu server yang sama.

Selain server yang walau bagaimanapun pasti ada limitasi untuk penyimpanan file-file dalam bentuk audio visual, maka biasanya akan ada tempat penyimpanan lain yakni hardisk eksternal atau sebuah tape dalam bentuk LTO atau Linear Tape-Open. LTO ini terus dikembangkan agar bisa menampung lebih banyak data, hingga saat ini sedang dikembangkan LTO-10 yang bisa menampung data hingga 48 terrabyte. Yang berarti dalam satu tape bisa menampung hingga ratusan jam materi auido visual. Ya dalam LTO-lah file-file ini disimpan terakhir kali setelah server tidak lagi bisa menampung. Karenanya di server sendiri dibatasi waktu penyimpanan baik materi hasil shooting maupun materi dari editing yang siap tayang. Bagian library-lah yang melakukan pemindahan materi dari server tersebut ke dalam LTO dengan catatan yang rapi sehingga kelak jika dibutuhkan materi tersebut akan dengan mudah untuk mencarinya.

Untitled-3

Peran Library di Televisi

Uraian di atas sudah menggambarkan bagaimana peran bagian library di televisi, sebagai gambaran lain beginilah urutan sederhana bagaimana sebuah acara bisa tayang di televisi:

Dari departemen programming disusun pola acara untuk waktu satu bulan, seminggu, hingga detail per hari. Untuk meyakinkan bahwa materi sudah ada atau belum makan programming akan berhubungan dengan bagian library. Di bagian library lah semua data tentang materi tayang tersedia, mulai judul, episode, durasi, hingga detail time code tiap segmentnya. Materi siap tayang dari tentu saja harus sudah melewati QC atau quality checker di mana kualitas gambar dan suara sudah benar-benar diperiksa, jika lolos QC maka materi tersebut artinya layak tayang. Dari programming, jadwal acara tersebut kemudian diterima oleh bagian MCR atau master control room. Selain data tersebut MCR juga akan menerima materi tayang dari library. Maka selanjutnya, berdasar jadwal dan materi tayang itulah tayangan akan muncul dari play out MCR.

Library televisi ibarat gudang materi tayang. Beragam kebutuhan (materi hasil shooting, materi untuk tayang, dan materi setelah tayang) dari berbagai departemen akan dipenuhinya. Artinya library televisi merupakan bagian vital, karena bagian inilah yang mesupport departemen lain. Iya akan melayani produser, bagian programming, petugas di MCR, dan bagian sales marketing. Dikepalai oleh seorang chief, library televisi akan bekerja selama 24 jam dengan pengaturan shifting untuk para petugasnya.

Beragam Sumber Audio-Visual

Ada banyak materi audio visual yang harus dikelola oleh bagian library. Untuk liputan berita lokal, maka library akan mengingest materi tersebut dari cameraman. Di beberapa televisi ada yang mewajibkan si cameraman televisi itulah yang mengingest materi liputan dia dengan didampingi petugas library. Untuk televisi skala nasional atau televisi sebagai pusat dari televisi berjaringan, materi hasil shooting juga didapat dari berbagai kontributor di daerah. Untuk mengurusi semua itu akan ada korda atau koordinator daerah yang akan menerima materi liputan dari daerah.

Melalui jaringan internet, para peliput di daerah mengirim materi hasil shooting dengan fasilitas send-video sehingga dengan cepat materi tersebut bisa diunduh oleh kordinator daerah yang berada di stasiun televisi pusat tersebut. Selain materi hasil liputannya, mereka juga akan mengirim naskah serta keterangan dari hasil liputannya itu. Setelah diunduh oleh korda, materi tadi kemudian disimpan di server library. Sehingga berikutnya materi tadi bisa diakses oleh produser yang kemudian ia akan oleh menjadi materi berita siap tayang.

Sumber lain bisa juga dari liputan di luar negeri, prosesnyapun hampir sama. Materi diunggah dari negara di mana liputan itu dilakukan lalu diunduh dan kemudian disimpan di server library. Sedangkan untuk materi berita internasional, beberapa televisi melakukan kerjasama dengan para penyedia konten berita. Ada beberapa situs yang menyediakan jasa tersebut diantaranya APTN atu AP Video Hub. Untuk mendapat berita dari luar inilah biasanya produser akan membuat list berita mana yang diinginkan dan menyerahkannya pada petugas library. Kemudian bagian library akan masuk situs terebut dan mencari berita yang dimaksud. Setelah paket berita didapat maka ia akan mengunduh berita tersebut. File materi tersebut biasanya akan berbentuk mp4 atau mpeg2 yang jika tidak sesuai dengan format untuk keperluan editing makan setelah diunduh materi tersebut kemudian dikonversi menjadi file yang bisa diedit. Ya petugas library akan mengconvert file-file tersebut sehingga bisa diedit ketika materi tersebut diambil oleh bagian editing. Jadi materi hasil unduhan yang disimpan di serrver merupakan file siap edit.

File lain yang mesti dikelola oleh bagian library adalah materi siap tayang dari bagian QC atau quality checker. Bagian QC akan menerima materi dari bagian editing atau internal stasiun televisi tersebut juga dari luar. Yang dimaksud dari luar adalah bisa dari production house untuk tv program seperti sinetron atau dari agency untuk materi tvc atau iklan. Setelah lolos QC materi-materi tersebut akan diserahkan pada bagian library.

Menjadi Petugas Library

Yang bertugas di bagian library televisi memang tidak disebut sebagai pustakawan juga tidak dinamai librarian. Walapun pada dasarnya library di televisi secara kerja nyaris seperti library atau perpustakaan buku. Ia harus pandai menyimpan, mengatur, serta melayani para peminjamnya. Untuk menjadi seorang petugas library di televisi, ia dipastikan harus menyukai audio visual, bisa mengoperasikan aplikasi komputer untuk keperluan library, serta menyukai seluk beluk perihal filling.

Walaupun tidak diwajibkan menguasai penyuntingan gambar karena petugas library memang tidak melakukan editing, namun baiknya petugas library bisa juga menggunakan software editing. Aplikasi yang mesti dikuasai oleh petugas library adalah aplikasi pengelolaan audio visual misalnya final cut server atau avid news server serta berbagai software untuk ingest materi hasil shooting.

Kecermatan dalam fillinglah merupakan syarat mutlak yang diperlukan oleh orang-orang yang akan bekerja di bagian library. Dan tentu saja kecepatan dalam mensupport para user tadi, sebab ada kalanya para user memerlukan materi yang diperlukan secepat mungkin. Ya pada akhirnya bagian library harus memiliki jiwa service to other.

Bagaimana Untuk Bergabung Dengan Televisi?
Diki Umbara

 

Keluar dari sebuah ruangan interview, seorang perempuan nampak kurang semangat. Ini berbeda ketika lima belas menit sebelumnya saat ia memasuki ruangan itu, nampak semangat dengan wajah yang ceria. Ya baru saja ia melakukan tahap paling esensi dalam proses melamar di salah satu stasiun televisi baru namun sudah langsung populer itu.

Yang melakukan interview padanya barusan bukan staf HRD, tapi seorang produser sebagai user yang memerlukan personil baru untuk acara yang ia pegang. Sebelumnya perempuan itu sudah melewati dua tahapan lamaran yakni interview pertama dengan HRD dan psikotest dan dalam kedua tahapan tersebut ia dinyatakan lolos, hingga ia mesti menjalankan interview dengan user yang seorang produser tadi.

 tv logo

Tidak sedikit orang pada akhirnya tidak bisa diterima oleh stasiun televisi yang membuka lowongan karena si calon karyawan justru tidak lolos pada tahapan interview dengan user. Ya user inilah yang memiliki peran penting dalam memberikan nilai serta merekomendasikan apakah si A bisa diterima atau tidak. Kenapa demikian? User di televisi berarti ia akan menjadi atasan calon karyawan yang direkrut televisi tersebut. Karena user yang paling tahu kapasitas karyawan seperti apa yang dibutuhkan, karenanya dia mampu menilai apakah si A atau si B layak atau tidak kelak menjadi bawahannya untuk diberikan tugas-tugas sebagai job descriptionnya.

Kembali ke ruangan saat interview tadi, rupanya perempuan sang pelamar merupakan fresh gradute dari kampus dengan akreditasi A untuk jurusan di mana perempuan itu menempuh pendidikan. Saat obrolan pertama dengan produser, awalnya masih cukup meyakinan. Ia mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan sekitar dunia televisi secara umum. Hingga akhirnya ia tampak kewalahan dan nyaris mengalah ketika dia diuji oleh sang produser untuk menulis naskah sebuah tayangan televisi. Ya rupanya perempuan itu melamar untuk posisi creative. Dan contoh naskah yang baru saja ia buat dinilai tidak layak oleh produser. Sang produser menjelaskan bagaimana kalau ia mau membuat program dan meminta kepada yang di hadapannya itu untuk membuat gimmick sehingga program menjadi menghibur. Si pelamar nampak gelagapan, ia nyaris tidak bisa berpikir bagaimana membuat gimmick dalam waktu singkat sedangkan ia tidak pernah diajari untuk membuat itu di kampusnya.

Fresh Graduate vs Berpengalaman

Pada dasarnya televisi memang menerima karyawan baik yang sudah berpengalaman ataupun yang bena-benar fresh gradute. Tidak ada jaminan juga yang sudah berpengalaman bisa dengan mudah bergabung di televisi sebab bisa jadi ia tidak masuk kriteria yang diinginkan. Tapi bukan berarti pula yang fresh gradute tidak bisa masuk bergabunng di televisi tersebut. Yang televisi inginkan tentu yang benar-benar bisa siap bekerja, dengan demikian kontibusinya memang akan terlihat nyata.

Beberapa hal yang barangkali bisa menjadi perhatian untuk para fresh graduate ketika hendak bergabung di televisi. Buatlah lamaran yang tidak kaku, tapi tentu saja tetap mengunakan bahasa resmi. Lulusan broadcasting televisi bukan jaminan juga bisa lebih mudah bergabung bekerja di televisi, walaupun setidaknya bisa jadi itu menjadi point pertama. Yang bukan lulusan broadcasting nyatanya juga banyak yang bisa bekerja di televisi. Buatlah curriculum vitae semenarik mungkin, cantumkan kegiatan-kegiatan yang menurut anda bisa menjadi nilai plus untuk si pembaca lamaran dan pewawancara nantinya. Jika benar-benar fresh gradute, pengalaman magang akan menjadi point sangat penting, karena dengan demikian ia sudah pernah terlibat dalam suatu produksi program televisi.

Show Reel, Contoh Karya Nyata

Selain curriculum vitae, yang menjadi point utama untuk user saat hendak merekrut calon bawahannya adalah show reel. Ya show reel merupakan bukti bahwa anda benar-benar sudah pernah melakukan pekerjaan yang diinginkan. Misalnya saat di kampus anda pernah membuat suatu karya audio visual, maka karya tersebut simpanlah ke dalam bentuk show reel atau bisa juga diupload ke dalam sosial media sehingga saat melamar link show reel anda juga bisa dicantumkan.

Tidak ada aturan sebarapa panjang show reel. Namun untuk keperluan interview, buatlah show reel yang tidak lebih dari lima menit saja. Jika anda melamar untuk posisi penata kamera, tunjukan shot-shot yang menurut anda paling bagus. Jika melamar untuk posisi editor, tunjukan karya anda dengan scene dimana cuting-cutingnya baik. Dan misalnya melamar untuk posisi creative, tentu tunjukan karya yang memiliki keratifitas yang bagus, karya yang memiliki gimmick bagus atau misalnya karya dengan scene yang terdapat dialog-dialog atau narasi yang bagus. Sehingga user akan yakin dengan kemampuan anda, juga anda bisa menjelaskan dengan baik karena terbantu juga oleh apa yang anda pelihatkan itu.

Lebih dari Sekadar Interview

Ketika benar-benar akan diterima untuk bergabung, beberapa televisi ada yang mensyaratkan kelak karyawan barunya itu untuk melakukan training terlebih dulu. Masa ini sekalian dibuat juga sebagai probabition yang waktunya biasa tidak lebih dari tiga bulan. Pada masa inilah si karyawan baru akan mendapat gemblengan sehingga ia akan benar-benar tahu apa yang mesti dilakukan di stasiun televisi tersebut ke depannya. Tidak selesai sampai di sana, selepas mendapatkan training karyawan baru tersebut tidak langsung benar-benar menjalankan tugaskannya secara full namun iya akan didampingi oleh seniornya. Jika tahapan itu terlewati dengan baik barulah ia dipercaya untuk akhirnya menjadi karyawan televisi itu sesungguhnya.

Akan tetapi ada pula stasiun televisi yang tidak membuat tahapan seperti itu, namun untuk sebelum user merekomendasikan bahwa yang diinterviewnya itu bisa bergabung atau tidak hal terakhir yang mesti dilewati oleh calon karyawan tersebut ialah melakukan test praktek. Dalam arti sesungguhnya, user akan meminta calon karyawan televisi tersebut melakukan salah satu elemen dalam job description. Apa yang mesti dilakukan tentu tergantung dari posisi apa yang nantinya akan ditempati. Untuk calon cameraman akan diminta untuk melakukan pengambilan gambar, untuk editor akan diminta untuk melakukan penyuntingan gambar, untuk reporter akan diminta untuk on cam di depan kamera melakukan reporting dan wawancara.

Ketika semua tahapan sebelumnya bisa terlewati dengan baik, belum tentu tahap praktek ini bisa dengan mudah dilewati, sebab ada kalanya calon karyawan tersebut tidak seratus persen siap. Yang mesti dilakukan oleh calon karyawan ketika akan melewati tahap praktek ini tentu saja memang harus benar-benar menguasai terlebih dulu. Jika perlu, cari informasi yang akan membantu agar pada saat praktek bisa dikerjakan dengan baik. Misanya, untuk di stasiun televisi A jenis software editing apa yang digunakan. Jadi calon editor di televisi tersebut sudah harus paham tentang aplikasi editing apa yang dipakai. Jika si calon editor itu paham betul Final Cut Pro misalnya padahal di televisi tersebut menggunakan Avid Composser maka bisa jadi akan sia-sia saja ketika praktek jika si calon editor di televisi tersebut tidak menguasai software Avid. Pun demikian untuk cameraman, ia harus tahu kamera jenis apa yang digunakan di televisi yang ia ajukan lamarannya itu. Secara umum peralatan yang digunakan oleh masing-masing televisi memang tidak jauh berbeda, namun ada kalanya ada juga televisi yang menggunakan equipment dan software yang spesifik yang pada akhirnya menginginkan calon karyawannya sudah mahir dalam penggunaan equipment tersebut.

Hal yang berkaitan dengan bagaimana agar bisa bergabung dengan stasiun televisi yang diidamkan, pada dasarnya nyaris serupa, hal umum itu misalnya tentang basic salary serta tunjangan-tunjangan yang akan didapat. Televisi seperti halnya perusahaan lain tentu sudah punya standar masing-masing, namun ada kalanya hal ini negotiable. Gaji untuk production assistant atau PA misalnya bisa jadi punya range tertentu. Karenanya negosiasi awal ini sangatlah penting, baik dengan pihak HRD maupun dengan user, oleh sebab itu bisa jadi posisi yang sama akan mendapat gaji yang berbeda padahal itu ada di stasiun televisi yang sama.

Adaptasi

Beda stasiun televisi beda pula budaya kerja di dalamnya. Ada yang masih menerapkan senioritas, ada pula yang tidak. Beberapa peraturan tak tertulis itu kadang bisa mempengaruhi juga pada kinerja seseorang. Pun perihal promosi jabatan di antaranya. Apapun siatuasinya, yang memungkinkan dilakukan oleh karyawan baru tentu saja bisa beradaptasi dengan lingkungan barunya itu. Dan hal paling penting tentu saja bagaimana kita bisa benar-benar profesional menjalakan kewajiban kepada perusahaan. Saat kita bisa melakukan pekerjaan yang baik maka lingkunganpun akan merespon pula dengan baik, riak-riak kecil tentu saja ada. Dan itulah seninya bekerja di stasiun televisi.

Kategori

Kicauan

SociaBuzz

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 101 pengikut lainnya.