Membuat Video Keren dengan Smartphone

Membuat Video Keren dengan Smartphone
Diki Umbara

Smartphone sebagai yang semula sebagai sarana alat komunikasi, kini memiliki fungsi yang lebih dari sekadar itu. Manusia modern, anggaplah begitu, saat ini seakan tak bisa lepas dari benda mungil pintar. Sebab nyaris apapun saat ini bisa dilakukan dengan menggunakan smartphone. Berbagai aplikasi diluncurkan, mengubah yang semula offline menjadi online atau daring (dalam jaringan). Alasannya, segala aktifitas yang semula dianggap ribet akan dibuat lebih mudah.

Beragam Video

Kekuatan gambar (apalagi gambar bergerak plus suara) tak bisa dipungkiri, baik sebagai media hiburan maupun informasi. Gadget sebagai benda yang tidak atau sulit lepas dari kehidupan kita saat ini, memungkinkan bagi siapapun untuk membuat beragam video. Dari yang sekadar iseng hingga serius. Bagi yang menekuni, ini bisa menjadi peluang bahkan bisa menghasilkan sejumlah uang. Video dibuat lantas diunggah ke sosial media, menjadi viral, bisa menjadi rezeki baik langsung atau tidak.

Video yang itu-itu saja bisa membosankan, karenanya perlu inovasi dari si pembuat. Dari sisi produsen gadget dan  dan perlatan pendukung sudah memungkinkan hal itu. Kini tinggal para penggunanya, apakah bisa ,memanfaatkan rancangan tersebut atau tidak. Sebab teknologi akan terus berkembang bahkan dengan kecepatan yang melebihi kebutuhan calon penggunanya.

  Smartphone dan Alat Pendukung

Sebetulnya, smartphone dengan tanpa tambahan alat pendukung lainnya sudah bisa digunakan untuk membuat berbagai beragam video; film pendek, klip, video tutorial, dan lain sebagainya. Namun untuk kebutuhan lain yang lebih spesifik, misalnya untuk menghasilkan artistik tertentu, alat tambahan itu dibutuhkan. Bagaimana agar smarthone digunakan nyaman ketika pengambilan gambar, bagaimana agar jangkauan atau sudut pandang bisa lebih luas, pergerakan kamera, serta untuk mendapakan kualitas audio yang bagus, maka kebutuhan peralatan pendukung itu tidak bisa dihindari. Kabar baiknya, para produsen peralatan ini sudah dan terus berinovasi menciptakan beragam perlatan, yang dahulu keperluan ini diperuntukan bagi para filmmaker profesional.

Mobile Tripod: Banyak Pilihan

Untuk menghasilkan gambar yang benar-benar kita inginkan, apakah untuk stabilitas yang benar-benar steady  (tidak shaking) atau justru mengingkan pergerakan kamera namun tetap smooth, ada beragam penyangga yang bisa dipilih untuk keperluan tersebut. Dari sisi fungsional, peralatan ini didesain sedemikian rupa persis seperti halnya kebutuhan kamera profesional dalam pembuatan film. Peralatan ini dirancang seperti miniatur berbagai penyangga kamera yang memang diperuntukan bagi para video dan filmmaker.

Tiltpod Mobile

Berbentuk tripod ball head, penyangga smartphone ini difungsikan untuk menopang gadget yang bisa digerakan secara horizontal. Dengan demikian bisa difungsikan untuk keperluan tilt up dan tilt down.

GorillaPod

Dengan penyangga tiga kaki, berfungsi persis seperti halnya tripod pada kamera video profesional. Bisa digunakan oleh semua jenis smartphone dengan catatan smartphone tersebut sudah dikenakan mounting terlebih dulu.

Slingshot

Jika dilihat sekilas, bentuknya seperti tongsis namun slingshot jauh lebih pendek dan memang tidak bisa ditarik memanjang seperti halnya tongsis. Dengan satu pegangan, slingshot berfungsi seperti halnya monopod pada kamera DSLR.

Grifiti iPads

Berfungsi seperti halnya tripod, grifiti digunakan sebagai penyangga pada gadget yang dikhusukan untuk berbagai jenis iPad.

Riging: Penyangga Lain Smartphone

Jika pada kebutuhan sinematografer atau videografer didukung oleh berbagai riging sebagai alat bantu, maka dengan mengadopsi kebutuhan tersebut para produsen melihat peluang tersebut agar para smartphone filmmaker juga bisa memanfaatkan perlatan tersebut.

Diffcage Cinema Rig

Berfungsi seperti halnya rig pada kamera sinema, Diffcage ini merupakan device yang memiliki bracket dengan jumlah 14 lubang. Sehingga memungkinkan sebagai penyangga smarphone serta aksesoris lainnya yang diperlukan seperti microphone misalnya.

BeastGrip

Adapter dan rig system yang didesain untuk pegangan serta konversi lensa. Dengan alat ini memegang smarrtphone seperti halnya menggunakan DSLR.

Cam Caddie Scorpion

Stabiliser handheld yang simpel, bisa digunakan untuk semua tipe dan jenis smartphone, tablet, DSLR, serta kamera video.

Pergerakan Dinamis

Adakalanya bahkan tidak jarang pergerakan kamera akan menghadilkan gambar yang dihasilkan lebih terlihat dinamis. Beberapa alat memungkinkan untuk menggerakan smartphone ketika melakukan pengambilan gambar. Subyek yang diam dan kamera yang bergerak atau gabungan antara subyek yang bergerak dan kamera (smartphone) yang juga bergerak.

Mobyslider

Seperti slider untuk DSLR, mobyslider dirancang untuk menggeser smartphone secara horizontal dengan pergerakkan yang smooth. Mobyslider bisa digunakan untuk hampir semua jenis smartphone. Inilah portable cinema track yang bisa digunakan dimana saja karena memang tidak perlu memerlukan space aatau ruang yang mesti luas.

Camera Table Dolly

Secara sekilas seperti mainan anak-anak atau seperti mobil-mobilan semacam race car karena ukurannya juga memang sama. Pada peralatan ini didukung oleh arm yang bisa menghandle smarphone.

Lensa Tambahan

Lensa sebagai mata kamera yang terdapat pada smartphone saat ini sudah sangat mumpuni kalau itu digunakan untuk berfotoria atau membuat video sederhana. Namun jika gambar yang dihasilkan ingin lebih baik lagi karena untuk keperluan lain maka lensa tambahan diperlukan.

OlloClip

Berbagai lensa yang bisa ditempelkan langsung pada iPhone maupun iPad, jenis-jenis lensa tersebut yakni wide-angle, telephoto, dan macro. Dengan demikian apakah misalnya gambar yang hendak diambil itu ingin nampak luas maka Olloclip yang digunakan adalah jenis wide-angle. Jika subyek yang akan diambil gambarnya berukuran kecil atau hendak diambil dengan jarak yang dekat maka jenis lensa macrolah yang bisa dipilih.

Phocus

Bisa digunakan pada semua adapter lensa 37mm, lensa ini juga memiliki berbagai tipe untuk kebutuhan. Lensa terdiri dari fish eye, telephoto, serta widelens.

iPro Lens Sytem

Lebih lengkap dibanding OlloClip, varian lensa iPro yakni bisa untuk fish eye dan super wide. Selain untuk iPhone dan iPad, lensa ini juga bisa digunakan pada gadget android.

Lighting

Tidak bisa membuat gambar baik gambar diam maupun gambar bergerak tanpa ada cahaya. Entah itu cahaya yang memang telah ada (available light) maupun cahaya yang memang sengaja dibuat (artificial light). Memanfaatkan cahaya yang ada tentu saja menjadi pilihan utama, cahaya matahari atau cahaya dari lampu yang tersedia seperti lampu di dalam gedung misalnya. Namun ada kalanya cahaya yang ada tidak cukup ketika kita hendak mengambil gambar dengan kebutuhan tertentu. Pencahayaan yang minim akan membuat gambar bagus.

Kabar baiknya, untuk para pembuat video atau film dengan menggunakan gadget, saat ini sudah ada lighting yang memang didesain untuk menunjang pencahayaan ini. Pencahayaan yang didesain sedemikian rupa agar bisa kompatibel dengan gadget.

Photojojo Spotlight

Disambungkan pada jack headphone, spotlight ini menggunakan rechargeble battere. Bisa digunakan pada semua jenis gadget. Cahaya yang dihasilkan setidaknya bisa digunakan untuk medium shot. Kekurangan cahaya saat pengambilan gambar bisa teratasi dengan lighting tambahan ini.

Phocus LED

Seperti lighting LED pada kamera video profesional, phocus LED ini bahkan bisa ditambahkan berbagai filter untuk efek tertentu terutama untuk penyesuaian color temperature. Dengan adapter mounting shoe, phocus LED bisa dipakai pada semua jenis gadget.

Kebutuhan Selain Gambar

Dalam banyak hal gambar bergerak memang sudah bisa mewakili informasi, namun tidak lengkap rasanya jika karya audio visual tidak dilengkapi dengan suara. Sebagai alat yang berdiri sendiri, hingga saat ini belum ada smartphone yang bisa merekam suara dengan baik. Kalaupun ada, untuk mendapatkan rekaman audio yang bagus,  antara sumber suara dengan smartphone yang digunakan tidak bisa berjarak jauh.

Karenanya untuk membuat karya audio visual dengan smartphone diperlukan alat perekam audio tambahan. Kebutuhan itu diakomodir oleh para produsen audio, bahkan beberapa merupakan produsen peralatan audio profesional yang sudah memiliki nama di bidang spesifik audio seperti Tascam, Belkin, dan Rode.

Zoom iQ5

Inilah “aksesoris” audio recording yang bisa ditempelkan langsung pada iPhone, iPad, maupun iPod. Walaupun menempel langsung pada body gadget namun alat ini bisa diputar baik vertikal maupun horisontal. Dengan demikian bisa disesuaikan dengan arah sumber suara yang akan direkam.

Tascam iM2

Seperti hallnya Zoom iQ5, produk ini hanya diperuntukkan bagi gadget keluaran Apple. Untuk kualitas suara, Taskam sebagai produsen alat perekaman audio tidak diragukan lagi.

Apogee MiC

Selain untuk iPhone, iPad, dan iPod alat perekam audio ini bisa juga disambungkan dengan Mac dan PC. Bentuknya seperti microphone profesional bagi para penyiar radio, alat ini dilengkapi dengan penyangga yang memudahkan untuk ditempatkan di mana saja.

Fostex AR101

Dengan peralatan pegangan tangan khusus, dua microphone sekaligus pada produk ini menghasilkan audio yang sangat baik. Tak hanya untuk gadget, Mac, dan PC, Fostex AR101 juga kompatibel untuk DSLR.

Belkin LiveAction Mic

Inilah directional microphone yang diperuntukkan gadget. Bentuk dan fungsinya cocok untuk keperluan interview, mirophone didesain untuk mengarah pada sumber suara. Video-video wawancara akan lebih pas jika menggunakan mirophone jenis ini.

Rode Lavalier

Clip on yang diperuntukan bagi gadget, barangkali itu yang paling tepat untuk mendeskripsikan fungsi dari perekam audio ini. Suara akan lebih jernih karena microphone ditempelkan pada subyek. Jika Belkin LiveAction merupakan jenis directonal mic, maka Edutige adalah jenis mirophon omni-directional.

Tascam iXZ

Ini bukanlah salah satu jenis mirophone, Tascam iXZ  merupakan device adapter yang berfungsi sebagai penghubung antara mirophone profesional dengan gadget yang digunakan. Selain untuk gadget device ini juga bisa digunakan untuk penghubung microphone pada PC atau Mac. Microphone profesional dengan bisa terkoneksi dengan salah satu fungsi yang tak kalah pentingnya yakni phantom yang bisa diset on/off.

Melayang Bersama Gadget

Mendapatkan gambar indah dengan aeral view dari ketinggian telah menjadi hal yang tidak sulit ketika drone sudah mulai menjamur. Tak hanya untuk keindahan semata, lebih dari itu drone juga kerap digunakan untuk kebutuhan fungsional, sebagai alat pengontrol keamanan hingga layanan pengiriman barang.

Gadget yang ketika kehadiran drone hanya digunakan sebagai alat pengontrol, kini bisa juga digunakan sebagai medium perekam.  Parrot AR 2.0 misalnya, drone ini didesain agar smartphone bisa melakukan perekaman di atas ketinggian. Artinya smartphone yang telah direkatkan pada drone ini bisa melayang di udara dikendalikan oleh gadget lainnya. Aericam Anura, kecil namun kokoh, drone ini didesain untuk bisa menerbangkan apapun jenis smartphone. Modifikasi bisa dilakukan pada lensa di smartphone dengan lens converter (wide, superwide, fish-eye), jadi gambar yang dihasilkan akan sesuai dengan yang kita inginkan.

Padupadan Teknis dan Konseptual

 Pada akhirnya tool hanyalah tool belaka jika si pengguna tak tahu benar apa yang mesti dilakukan.  Karena itu bukan bagaimana menggunakan berbagai peralatan pendukung tersebut, tapi sedari awal mesti jelas dan dipahami dulu, apakah yang akan kita buat. Lalu kita akan tahu kebutuhan peralatan apa yang benar-benar dibutuhkan. Video yang dibuat dengan konsep yang baik dari awal inilah nantinya bisa dieksekusi dengan segala perlatan pendukung. Dan tentu bukan sekadar gaya-gayaan belaka. Lain hal jika memang kita pingin sambil bereksperimen.

Shooting dengan Natural Light

 Shooting dengan Natural Light
Diki Umbara

Pencahayaan dalam shooting merupakan keniscayaan. Entah seberapa besar intensitas cahaya, sebab yang jelas tak mungkin subyek atau obyek akan nampak ketika cahaya benar-benar tidak ada. Untuk keperluan shooting kerap diperlukan lighting yang memerlukan peralatan khusus. Namun bagaimana jika peralatan itu tidak ada, apakah shooting masih bisa dilakukan?

Menggunakan cahaya yang ada atau natural light, biasa disebut pula sebagai available light diperlukan teknis-teknis khusus sehingga kelak akan menghasilkan kualitas videography seperti yang diinginkan. Para videografer dan filmmaker telah melakukan beragam eksperimen yang bisa pembaca ikuti juga atau bisa pula dengan melakukan eksperimen yang berbeda. Ya salah satu kunci keberhasilan bagaimana untuk mendapatkan hasil video yang maksimal saat menggunakan natural light adalah dengan cara melakukan eksperimen.

Memilih Kamera dan Lensa

Walau bagaimanapun kenyataannya jenis atau tipe kamera apa yang hendak digunakan dalam pengambilan gambar akan berpengaruh pada hasil, apalagi jika kita akan shooting dengan natural light yang bisa jadi intensitas cahaya yang ada sangat minim. Pada jenis handycam pilahan jenis kamera yang bisa menunjang low light adalah Panasonic HC -WXF991K, Sony FDR-AX100/B, Canon VIXIA HFG40. Sedangkan pada jenis camcorder profesional bisa menggunakan tipe Canon XA-10, Panasonic HC-X1000, atau Sony PXWZ100. Pada level di atasnya ada Canon Cinema EOS C500, Sony NEX FS700RH, dan RED ONE The Original. Tiga kamera terakhir ini merupakan rekomendasi beberapa reviewer. Beberapa cinematografer Indonesia bahkan menggunakan kamera tersebut untuk beberapa film layar lebar. Sebab salah satu spesifikasi pada kamera ini yakni format 4K yang memang menjadi kebutuhan gambar dengan resolusi tinggi.

Kenapa kamera dengan spesifikasi low light yang bagus diperlukan untuk shooting dengan natutaral light? karena pada kamera-kamera inilah telah dilengkapi dengan device lux’s rating yang bagus yang berfungsi untuk mendapatkan gambar sejernih mungkin walaupun dengan pencahayaan yang minim.

Pasangan kamera untuk mendapatkan hasil gambar yang baik saat low light tentu saja lensa. Ya lensa menjadi penentu kedua setelah jenis kamera apa yang akan digunakan. Yang dimaksud di sini tentu saja untuk kamera yang lensanya bisa diganti, sebab masih ada kamera yang lensanya tak bisa diganti. Pemilihan lensa juga mesti diseuaikan dengan kamera yang digunakan, setiap kamera memiliki kompabilitas tersendiri. Untuk kamera DSLR misalnya, lensa yang direkomendasikan untuk shooting video di antaranya Canon SF-S 18-35mm f/3.5-5.6 IS, Canon EF 50mm f/1.8 II, Rokinon Cine 85mm, dan Sigma 18-35mm F1.8 DC HSM L.

Memahami Ruang

Ruang atau lokasi pengambilan gambar pada natural light yang menjadi pembahasan kali ini merupakan lokasi out door atau alam bebas. Dengan demikian kita mesti memahami karakteristik dari  ruang yang dimaksud. Walau bagaimanapun, pembuatan video atau film berarti membatasi ruang yang ada. Seluas apapun lokasi, kita harus bisa mengeliminir sesuai dengan kebutuhan framing. Dengan demikian kita bisa menentukan kebutuhan cahaya seperti apakah yang diinginkan.

Arah Cahaya

Karena mengandalkan cahaya matahari, maka arah cahaya shooting di out door sebetulnya sudah bisa diketahui. Kita tak bisa menggeser matahari, namun arah cahaya bisa dimanipulasi dengan cara memantulkan cahaya dengan batuan alat. Alat tersebut biasanya berbentuk reflektor. Ada berbgai reflektor yang bisa digunakan, reflektor portabel paling sering digunakan karena lebih praktis. Reflektor pun terbuat dari berbagai bahan, hal ini dimaksudkan untuk mengatur intensitas cahaya.

Intensitas Cahaya

Intensitas atau besaran cahaya yang dihasilkan sumber cahaya (dalam hal ini matahari), sangat tergantung beberapa hal dan di antaranya tentu saja waktu. Selain intensitas, berkaitan dengan waktu akan berpengaruh juga ada warna cahaya. Pagi hari yang cenderung bluish (unsur biru dominan), siang yang netral, serta sore hari yang cenderung yellowish (kekuning-kuningan). Intensitas cahaya maksimal akan ada pada siang hari, yang biasanya justru akan mendapat cahaya yang berlebih. Karenanya intesitas cahaya yang berlebih inilah yang biasanya mesti dikurangi dengan diffuser.

Peralatan Pendukung

Berkaitan dengan intensitas dan arah cahaya, masih bisa dimanIpulasi oleh peralatan yang menunjang. Karenanya saat shooting oudoor kebutuhan reflector dan diffuser menjadi keharusan. Ada berbagai reflektor yang bisa digunakan yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan. Beberapa produsen membuat reflektor 5 in 1 menjadi semacam reflector kit. Ada lima jenis reflektor yang bisa digunakan untuk kebutuhan berbeda. Reflektor ini bebrbentuk disk yang berdiameter 43 inchi. Warna silver untuk menambah kontras, ini bermanfaat ketika kita menginginkan intensitas cahaya yang lebih. Warna gold untuk skin tone yang hangat. Warna hitam untuk mereduksi atau mengurangi intensitas cahaya yang berlebihan, kebalikan dari reflektor berrwarna silver atau perak. Dan warna putih untuk pencahayaan dengan warna netral.

Penggunaan reflektor dan diffuser ini sebetulnya sederhana saja, intinya bagaimana agar cahaya bisa diatur sedemikian rupa sehingga subyek yang memerlukan cahaya bisa terlihat seperti yang diinginkan ketika diambil gambarnya.

Latihan dan Latihan

Inilah yang mesti dilakukan oleh para pembuat video atau film ketika memanfaatkan lokasi out door tanpa artificial light. Shooting dengan memanfaatkan cahaya matahari memerlukan trik khusus, sebab ia akan berkaitan dengan banyak hal termasuk hal yang tak diduga sekalipun, cuaca sebagai salah satu contohnya. Pembuat film atau video mesti bisa memanfaatkan waktu yang terbatas, beda ketika dengan shootinng dengan menggunakan lampu yang memang didesain untuk keperluan shooting.

Ya bahkan para filmmaker kawakan sekalipun, mereka akan melakukan latihan serta rehearsal yang ekstra ketika melakukan shooting dengan pencahayaan natural. Yang umum dilakukan, pertama adalah ia mesti tahu persis dengan situasi lokasi shooting. Seberapa besar space yang diperlukan, dalam hal ini untuk keperluan di dalam layar. Kedua, ia mesti tahu dari mana sumber cahaya atau arah matahari datang, sebab ini berarti tak bisa sembarang posisi subyek berada. Jikalau demikian, ia mesti memikirkan bagaimana agar subyek tersebut tetap mendapatkan cahaya. Karena itulah reflektor dan diffuser diperlukan untuk mengatur pencahayaan ini.

Lakukan percobaan sederhana, dengan atau tanpa kamera, mengangkat tangan lalu membolak-balikan ke kanan atau ke kiri. Dengan cara ini kita bisa melihat seberapa banyak intensitas cahaya yang mengenai subyek. Nah dari sinilah kita bisa memutuskan dan dengan mencobanya juga tentu saja, kemana arah cahaya dari reflektor mesti diarahkan. Sebab seperti halnya shoting menggunakan lighting, shooting dengan cahaya mataharipun sebetulnya ada key light (pencahayaan utama), fill light (sebagai pengisi) dan mengurangi bayangan, serta back light dan background light. Yang artinya three point lighting juga sebagai teori dasar pencahayaan tetap berlaku pada shooting outdoor ini.

Manajemen Waktu

Seperti telah dijelaskan singkat di atas, bahwa shooting di out door akan berkaitan dengan manajemen waktu yang lebih strike ketimbang shooting pada indoor. Waktu siang hari mungkin memiliki waktu yang lebih panjang dariada pagi dan sore hari. Artinya untuk shooting pagi dan sore hari inilah bagaimana kita harus memamnfaatkan waktu seoptimal mungkin. Apalagi misalnya kita hendak memanfaatkan waktu apa yang dinamakan sebagai blue hour. Pada waktu inilah momen sangat pendek, bahkan untuk di Indonesia ta lebih dari 30 menit yakni mulai pukul 17.45. Blue hour memang lazim untuk fotography ketimbang videography. Namun demikian momen ini bisa pula digunakan untuk shooting video ketika hendak memanfaatkan gambar-gambar dengan view yang indah.

Menyoal Sensor dalam Film dan Televisi

Menyoal Sensor dalam Film dan Televisi
Diki Umbara

Sensor dalam film maupun program televisi dianggap sebagai batu penghalang bagi kreatifitas, namun di sisi lain tak sedikit masyarakat yang beranggapan jika sensor bermanfaat untuk menjaga tayangan sehat. LSF sebagai  lembaga sensor mengklaim bahwa telah memiliki paradigma baru, bukan sekadar lembaga jagal seperti era lalu. Benarkah demikian?

Sebuah film Hollywood yang sedang box office di beberapa negara, tayang juga di Indonesia. Antrian panjang terlihat di salah satu bioskop di bilangan selatan Jakarta. Film yang dalam posternya ada tanda 17+ yang berarti diperuntukkan bagi penonton berusia 17 tahun ke atas. Namun ada pemandangan sedikit ganjil, seorang anak yang dipastikan masih dibawah umur nampak tersenyum karena telah mendapatkan tiket film tersebut. Ini artinya film yang telah diklasifikasi berdasar usia oleh Lembaga Sensor Film tersebut nampaknya sia-sia, karena di lapangan toh film tersebut bisa ditonton juga oleh masyarakat yang usianya tak sesuai dengan klasifikasi usia penonton tersebut.

Bagaimana Lembaga Sensor Bekerja?

Film yang akan ditayangkan di khalayak umum, ia harus melewati tahap penyensoran. Produser atau si pembuat film mendaftarkan filmnya pada lembaga sensor, yang selanjutnya dibuatkan berita acara di sekretariat lembaga tersebut, yang nantinya materi film akan diserahkan pada tim sensor. Sensor  merupakan penelitian, penilaian, dan penentuan kelayakan film untuk dipertunjukkan kepada khalayak umum.

Saat ini  ada 33 orang anggota tim sensor dengan latar belakang pendidikan yang berbeda, dengan beragamnya latar belakang ini dimaksudkan untuk  memperkaya wawasan yang beragam pula. Merekalah inilah  yang bekerja melakukan penyensoran pada materi-materi film yang diajukan oleh si para pemilik film. Materi-materi video disimpan oleh lembaga ini, kecuali film dalam bentuk seluloid yang sifatnya memang dipinjamkan oleh si pemilik film.

Film sebagai medium audio visual ia memiliki kekuatan dalam menyampaikan pesan, dan tentu saja pesan apapun. Lalu apa sebetulnya yang dinilai oleh tim sensor? Secara umum tim sensor akan mengacu pada UU Nomor 33 tentang perfilman, ini bisa dilihat seperti pada pasa 6. Film yang menjadi unsur pokok kegiatan perfilman dan usaha perfilman dilarang mengandung isi yang:

  1. Mendorong khalayak umum melakukan kekerasan dan perjudian serta penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya;
  2. Menonjolkan pornografi;
  3. Memprovokasi terjadinya pertentangan antarkelompok, antarsuku, antar-ras, dan/atau antargolongan;
  4. Menistakan, melecehkan, dan/atau menodai nilai-nilai agama;
  5. Mendorong khalayak umum melakukan tindakan melawan hukum; dan/atau
  6. Merendahkan harkat dan martabat manusia.

Karena masih terlampau umum dan bisa beda persepsi dalam memahami undang-undang ini, karenanya lembaga sesnor memiliki petunjuk tertulis sebagai acuan bagi tim sensor. Namun di lapangan ada kalanya tim sensor memiliki perbedaan persepsi dalam penyensoran, walaupun dasar penyensoran sudah jelas karena memang ada pada juklis (petunjuk tertulis) tadi. Jika terjadi perbedaan demikian, tim akan melakukan rapat pleno untuk mengambil keputusan.

Semua film yang lulus sensor tercantum di website resmi lembaga sensor yakni di www.lsf.go.id yang bisa dikses oleh siapapun karena memang ia menjadi informasi publik. Jadi, siapa saja bisa melihat informasi tentang nomor surat tanda lulus, judul film, genre, dan klasifikasi usia penonton.

Sensor Untuk Televisi

Pada dasarnya bagaimana tim sensor melakukan sensorship pada materi tayangan televisi tak jauh beda dengan sensor untuk film. Televisi sebagai lembaga penyiaran, juga production house sebagai pembuat acara televisi saat ini telah melakukan self sensor. Hal ini dilakukan untuk mempermudah, jadi misalnya karena adegan kekerasan tidak boleh maka televisi atau PH akan meminimalisir atau meniadakan sama sekali adegan tersebut. Ada beberapa yang bisa dilakukan, salah satunya melakukan bluring, dimana subyek dibuat terlihat kabur seperti pengambilan gambar tidak fokus.

Gerbang terakhir sensor di televisi ada di departemen Library dan Quality Control, yang tidak hanya mengontrol hal teknis, tapi ia juga memperhatikan konten. Petugas QC akan menggunakan panduan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3 & SPS) yakni sebuah peraturan yang dikeluarkan oleh Komisi Penyiaran Indonesia. Pada Pasal 23 misalnya disebut program siaran yang memuat adegan kekerasan dilarang: menampilkan manusia atau bagian tubuh yang berdarah-darah, terpotong-potong dan/atau kondisi yang mengenaskan akibat dari  peristiwa kekerasan.

Sensor dan Perdebatan

Bagi para pembuat film, sensor masih dianggap sebagai pengebirian kreatifitas, perdebatan perihal ini masih terjadi. Filmmaker berpendapat bahwa baiknya LSF hanya mengklasifikasi film berdasar usia saja, tidak menyoal konten. Namun karena lembaga ini memang hadir berdasar undang-undang dan masyarakat masih menganggap masih perlu, maka lembaga ini masih menjalankan fungsi dan tugasnya, dan mereka membuka ruang untuk berkomunikasi.

Perdebatan kerap karena memang ada beberapa hal yang bisa multitafsir, atau menjadi debatable sebagai contoh pada UU No 8 Pasal 19  Film dan reklame film yang secara tematis ditolak secara utuh, adalah: b. yang cerita dan penyajiannya menonjolkan adegan-adegan seks lebih dari 50 persen. Jadi bagaimana tim sensor melihat adegan seks lebih dari 50 persen dari sebuah poster film. Apa yang menjadi tolak ukurnya, hal ini menjadi keberatan para produsen film.

Beberapa film pernah menuai polemik karena adegan atau dialog di film tersebut dianggap kontroversial dan LSF nyatanya bisa menarik atau menggugurkan surat tanda lulus sensor yang telah ia keluarkan. Apakah lembaga sensor benar-benar independen atau ia bisa ditekan karena intervensi dari kelompok orang? Walahualam.

Melihat Dunia dengan Kamera 360

Melihat Dunia dengan Kamera 360
Diki Umbara

Ada yang unik pada helatan upacara 17 Agustus tahun ini di istana negara, tak hanya disiarkan langsung oleh stasiun televisi secara konvensional, melalui akun resmi Youtube Jokowi,  upacara HUT RI ke 71 ini bisa dilihat secara langsung dengan pemandangan berbeda yakni dengan kamera 360. Tak hanya di luar istana, bahkan siaran dengan kamera 360 juga ada di dalam istana.

Ada tiga kamera 360 yang diletakkan di sana yakni kamera Ricoh tipe Theta S milik Youtuber Dennis Adhiswara. Ya Ricoh merupakan salah satu brand dunia fotografi yang tak ketinggalan mengeluarkan jenis kamera yang sedang ngehits setelah kehadiran beragam action cam. Kini kamera 360 banyak digunakan bukan hanya untuk keperluan profesional namun juga digunakan para pehobi, dan kamera 360 jenis home use ini sudah mudah didapat. Kamera 360 jauh sebelumnya sudah dikenal bagi para pehobi selfie, namun yang sudah dikenal ini merupakan aplikasi di android maupun iOS.

Seluas Sudut Pandang

Video 360 derajat juga dikenal sebagai video imersif atau video asperikal yakni hasil rekaman video yang bisa dilihat dari berbagai arah dalam waktu yang sama. Shot video inilah yang dihasilkan dari kamera omni directional yang terdiri dari dua atau lebih lensa kamera. Saat pemutaran hasil video dari kamera inilah kita bisa mendapatkan beragam sudut pandang di antarnya sebuah panorama. Karenanya kamera 360 didesain sedemikian rupa seperti saat ini sebagai evolusi dari kamera dengan lensa panorama.

Sudut pandang 360 derajat artinya akan berkaitan dengan horizontal dan vertikal, saat ini sudah memungkinkan benar-benar bisa 360 derajat baik horisontal maupun vertikal. Namun yang paling umum sudut pandang 360 derajat dan vertikal 180 derajat.

Resolusi Video Kamera 360

Resolusi gambar yang dihasilkan kamera 360 memiliki banyak varian, dari HD broadcast alias 1K (1280 x 720 pixels ) hingga 12K (12,000 x 6,000 pixels). Namun karena kamera 360 memiliki beragam POV, maka perhitungan resolusi perekaman akan “berbubah” ketika nantinya ditayangkan. Misal pada perekaman langsung 360 12K akan menjadi 4K saat video diputar setelah perekaman.

Menggunakan Kamera 360

Pada dasarnya bagaimana mengoperasikan kamera 360 tidak banyak berbeda dengan penggunaan kamera konvensional, nyaris sama dengan mengoperasikan action cam yang jauh lebih populer itu. Kamera dipasang dimanapun sesuai dengan keinginan dan kepelruan dengan penyangga atau mounting tertentu, bisa direkam dengan cukup menekan tombol record, atau disambungkan dengan video recorder atau storage yang letaknya terpisah dengan kamera.

Jika tidak dioperasikan langsung memalui fitur yang ada di kamera tersebut, kamera 360 bisa dikontrol melalui ponsel atau gadget lain dengan jaringan WIFI.

Berbagai Peruntukan

Walaupun dianggap sebagai inovasi yang dianggap masih baru, berbagai produsen kamera 360 telah membuat varian kamera yang disesuaikan untuk berbagai kebutuhan. Dan kebutuhan atau peruntukan itu di antaranya: untuk acara LIVE dengan YouTube sebagai platform, video art, pengasuhan anak (childcare), racing atau balapan, real estate, travel, kesehatan, event, dan keperluan kantor.

Untuk keperluan umum serta home use, kamera 360 akan lebih banyak digunakan sebagai video surveillance yang sebelumnya menggunakan kamera CCTV biasa. Jika CCTV mesti digunakan dengan banyak kamera atau satu kamera dengan tambahan alat penggerak, maka kamera 360 hanya cukup satu kamera saja. Efektifitas inilah yang menjadi pilihan ara pengguna.

LIVE YouTube

Kita bisa menikmati berebagai pengalaman orang lain saat ini melalui kanal YouTube secara langsung, termasuk peristiwa kirab bendera di istana negara Agustus lalu itu. NASA yang memiliki saluran 24 jam di YouTube bisa dinikmati seluruh dunia, bagaimana para astronot bekerja di luar angkasa dengan pemandangan yang memukau. Kini mereka mash menggunakan kamera konvensional, namun tak akan lama lagi bisa jadi mereka akan menggunakan kamera 360 sehingga kita bisa menikmatinya dari berbagai perspektif.

Video Art

Helatan seni seperti seni instalasi video telah menggunakan kamera 360 sebagai bahan ujicoba. Persektif yang tadinya hanya nampak satu sisi menjadi bisa dinikmati dari pelbagai sudut pandang. Kini seniman video bisa mengeksplorasi lebih jauh lagi bagaimana sebuah karya video menjadi tontonan yang bisa jadi ke depannya bisa benar-benar tanpak nyata.

Masih untuk keperluan seni, kamera 360 juga bisa digunakan sebagai video surveillance yang digunakan di ruang pameran. Kamera yang bukan saja digunakan sebagai pemantau pengunjung, namun bisa pula hasil gambarnya dinikmati sebagai seni itu sendiri.

Childcare

Kebutuhan video untuk pengasuhan anak baik di rumah, sekolah, atau tempat penitipan anak yang bisa dilakukan sepanjang waktu anak banyak terbantu dengan kamera 360 ini. Artinya setiap pergerakan anak bisa terpantau darri berbagai sudut pandang, sehingga pengawasan terhadap anak akan lebih efektif karena tidak ada celah yang memungkinkan anak “hilang” dari pantauan.

Racing

Bagi para penonton balapan baik mobil maupun motor, tentu terbiasa dengan tampilan point of view dari si pembalap, itu karena di kendaraan dipasang dua action cam yang menampilkan tampak depan dan tampak belakang si pembalap. Dengan kamera ini, penonton akan merasakan bagaimana menjadi seorang pembalap karena keterwakilan dari point of view tersebut. Dengan sudut tak terbatas, kamera 360 membuat point view ini menjadi lebih menarik lagi, karenanya penonton bisa melihat sisi mana saja yang ingin diperhatikan, bahkan melebihi perhatian si pembalap itu sendiri.

Travel

Hoby traveling kini sudah sangat populer, jalan-jalan sebagai refreshing menjadi pilihan menarik ketimbang aktifitas liburan lainnya semisal pergi ke pusat perbelanjaan. Mengunjungi tempat-tempat yang indah di beragam tempat di dunia kadang ingin kita perlihatkan juga pada orang lain, karenanya para traveller merekam momen-momen penting mereka. Dengan kamera 360, lokasi-lokasi bisa direkam dengan beragam sudut pandang.

Kesehatan

Dunia kedokteran telah lama menggunakan kamera sebagai alat bantu pada pelaksanaan operasi yang pelik. Kamera jenis tertentu yang sangat kecil bisa menelusuri tubuh manusia, sehingga dokter bisa memantaunya jauh sebelum operasi diakukan. Kamera 360 yang dikhususkan bagi kedokteran memungkinkan pengguna untuk melihat pelbagai sudut dalam tubuh manusia.

Berbagai Merk

Seperti halnya action cam yang lebih dulu populer, banyak produsen yang menawarkan kamera 360 baik untuk keperluan profesional maupun sebagai kebutuhan rumahan. Kodak, Ricoh, Nokia, Xiaomi, Giroptic, dan masih banyak lagi tentunya.

Kodak Pixpro360

Sebagai merk kamera paling lawas, kodak tak ingin ketinggalan dalam membuat inovasi kamera, termasuk kamera 360. Dengan harga kisaran 5jt-an rupiah, Pixpro360 keluaran kodak sudah lumayan bagus. Kualitas video high definition, serta sudut pandang horisontal 360 dan vertikal 180, kamera ini menjadi bisa menjadi pilihan untuk pemula.

Giroptic 360

Ukurannya mungil sebesar bola billiard, giroptic mengklaim sebagai kamera pertama dengan kualitas HD. Kelebihan dari kamera ini ada pada fasilitas sensor dan konektifitas yang sangat baik serta tahan air. Kamera Giroptic 360cam nampaknya cocok bagi para petualang atau pehobi traveling.

Elecam 360

Merk yang barangkali tidak banyak orang tahu, karenanya Elecam membandrol kamera ini sangat murah dibanding produsen kamera 360 lainnya. Walaupun murah karena memang hanya kisaran 2jt-an, Elecam 360 dilengkapi fasilitas WIFI yang berarti bisa dikendalikan melalui smartphone atau gadget lainnya.

Ricoh Theta S

Inilah kamera yang disebutkan di awal artikel ini, kamera yang digunakan kali pertama dalam kirab bendera di istana negara. Bentuknya menyerupai ponsel, harganya di atas rata-rata kamera 360 derajat lainnya, namun Theta S memiliki beberapa keunggulan. Selain menghasilkan video yang baik, kamera 360 produksi Ricoh ini juga menghasilkan still image atau foto yang sangat baik. Kelebihan atas kualitas gambar yang dihasilkan kamera tentu merupakan hal yang mesti diperhitungkan bahkan hal pertama yang semestinya dinilai. Salah satunya adalah bagaimana jika subyek atau lingkungan yang diambil gambarnya memiliki pencahayaan yang kurang, artinya fasilitas low light pada kamera menjadi penting di sini.

Ada harga ada rupa, barangkali ini memang cuku relevan ketika kita ditawarkan atau memilih peralatan atau barang. Namun yang jauh lebih penting, untuk apa sebetulnya peralatan tersebut kita miliki? Jadi selain budget yang kita miliki, sebelum memutuskan untuk membeli kamera 360 merk dan tipe tertentu baiknya kita mesti yakin untuk keperluan apa kamera tersebut kita punyai.

 

Mengatur Cahaya untuk Estetika

Mengatur Cahaya untuk Estetika
Diki Umbara

“Area untuk RI2 jangan terlalu terang, tapi jangan terlalu gelap. Dibuat sedang saja” demikian kata salah seorang protokoler didampingi dua anggota Paspamres. Tak ada banyak kalimat yang saya ucapkan menanggapi permintaan itu. “Siap, Pak” sahut saya. Waktu itu helatan penutupan Musabaqah Tilawatil Quran atau MTQ Tingkat Nasional segera berlangsung, persisnya dua jam setengah sebelum lokasi dinyatakan sudah clear area.

Tak menunggu lama, saya langsung menuju ruang kontrol tata cahaya. Saya sampaikan jika area untuk Wakil Presiden pencahayaannya jangan terlampau terang. Dengan alat pengontrol cahaya, chief lightingman mulai mengatur intensitas cahaya, tombol dimmer ia putar dan cahaya perlahan mulai meredup. “Segini, Mas?” tanyanya. “Terlalu gelap, tambahin sedikit ya” pinta saya.

Kejadian di atas merupakan salah satu contoh kecil betapa cahaya dan pencahyaan bisa diatur sedemikian rupa tergantung pada kebutuhan. Saya tidak bisa memenuhi persis keinginan protokoler sebab barangkali memang akan jauh lebih sejuk di pada mata Wakil Presiden serta rombongan, namun akan menjadi kendala untuk pengambilan gambar. Karenanya saya ambil jalan tengah, tidak mengganggu apalagi menyilaukan mata, namun masih bisa bagus ketika area diambil gambarnya untuk keperluan tayang di televisi saat itu.

Intensitas Cahaya

Cahaya sebagai bagian unsur penting dalam pertunjukkan, baik itu untuk off air maupun keperluan on air, sedemikian rupa mesti sudah dipersiapkan. Karenanya penata cahaya akan membuat konsep penataan cahaya. Dari konsep itulah nantinya penata cahaya akan tahu kebutuhan berapa kapasitas lighting sebagai sumber cahaya, jenis lighting seperti apa, serta kebutuhan equipment penunjang lainnya.

Secara sederhana, intensitas cahaya akan dipengaruhi oleh dua hal yakni luas ruang sebagai medium yang akan mendapatkan sumber cahaya serta lighting sebagai sumber cahaya itu sendiri. Namun demikian, intensitas cahaya bisa diatur. Maka, berbagai control tata cahaya hadir yang tak hanya mengontrol intesnsitas cahaya saja namun juga arah cahaya.

 Arah Cahaya

Sumber cahaya dalam hal ini lighting yang memang didesain sedemikian rupa untuk keperluan pertunjukkan, diperlukan pengatur yang bisa diarahkan pada area dan subyek tertentu. Karenanya dalam pertunjukkan, penata cahaya mesti tahu berbagai arah cahaya untuk keperluan ini. Background light, pencahyaan yang diperuntukkan latar belakang panggung, backlight arah cahaya latar belakang subyek, front light atau arah pencahayaan dari depan yang biasanya untuk keperluan keylight atau pencahayaan utama serta side light yakni arah pencahyaan dari samping kanan atau samping kiri yang biasanya difungsikan sebagai fill light. Arah cahaya akan berkaitan dengan penempatan sumber cahaya, yang namun demikian hal ini juga bisa diatur dengan pengontrol cahaya.

Warna Cahaya

 Yang dimaksud warna cahaya di sini adalah temperatur warna atau color temperature yang dikur dalam satuan Kelvin (K). Di atas 5000K biasanya disebut cool color atau bluish white, sedangkan antara 2700-3000 biasa disebut warm color. Untuk mengatur temepartur atau suhu warna akan dilakukan color balance. Hal ini dilakukan biasanya mengacu pada kulit manusia, sehingga kalaupun nantinya ada berbagai warna cahaya efek tidak akan “mengganggu” warna cahaya normal.

Lighting Controller

Seperti halnya mixer pada audio yang bisa mengaatur atau mengontrol berbagai sumber suara, lighting contoller dibuat untuk mengatur cahaya. Sumber cahaya dari lighting bisa diatur deisesuaikan dengan kebutuhan. Pun seperti halnya mixer audio, pengatur cahaya ini juga ada yang manual ada pula yang digital, bahkan lighting controller sudah ada yang wireless alias tanpa kabel. Demikian juga dengan harga, lighting controller memiliki harga di bawah satu juta hingga puluhan juta rupiah. Kenapa bisa demikian?

Pengatur cahaya yang baik tentu saja yang bisa mengakomodir kebutuhan penataan cahaya sehingga penata cahaya akan sangat terbantu dengan alat tersebut. Light contoller paling sederhana biasanya berupa dimmer biasa, dengan alat ini intensitas cahaya bisa diatur sehingga seberapa terang area atau subyek yang akan diberi pencahayaan sesuai yang diinginkan. Namun kenyataanya, pencahayaan bukan sekadar gelap terang saja, lebih dari itu ada unsur estetika atau keindahan yang merupakan bagian dari konsep acara atau pertunjukkan dimana pencahyaan menjadi hal utama, sekecil apapun acara atau pertunjukkan tersebut. Misalnya, warna apa saja yang diperlukan, apakah merah, biru, kuning, oranye atau padupadan beberapa warna. Pun dengan pergerakan cahaya, dengan lighting controller beberapa lighting bisa digerakkan sehingga pencahayaan tidak hanya diam.

Beragam Lighting Controller

Walaupun tidak terlalu banyak, produsen lighting untuk pertunjukkan biasanya mengeluarkan produk pengatur cahaya, juga ada produsen tersendiri yang mengeluarkan lighting controller, bahkan ada pula software yang didesain khusus sebagai lighting controller. Elation HedgeHog4 N II DMX Console sebuah konsol pengatur lighting tergolong high end. Alat ini biasanya digunakan untuk megatur cahaya di berbagai ruang seperti tempat pertunjukkan, event perusahaan, acara televisi, bahkan untuk nigh club. Dengan harga 100jt-an, inilah light controller yang memiliki berbagai fungsi yang bisa bermanfaat dan memudahkan kerja lightingman. Di konsol ini sudah termasuk 1 light converse visualizer software, sebuah software yang “ditanam” pada light controller yang meiiliki berbagai fungsi. Dengan hardisk 256GB yang juga tertanam di dalamnya, di alat ini bisa menyimpan berbagai setting yang sudah default maupun setting atau pengaturan yang secara custom dibuat oleh oepartor atau lightingman.

Selain Elation HedgeHog4 lighting controller kelas high end lainnya yakni  Mega Lite Enlighten Control Wing Software Control. Kisaran harga 40jt-an, light controller ini memiliki beragam fitur yang diperlukan penata cahaya.  Ada 8 high quality sliders, 1 grand master, 1 manual crossfader, 11 jog wheels fo, serta 8 bump buttons. Seperti halnya Elation, Mega Lite juga disertai software yang melengkapi light controller ini.

Jika dua light controller di atas merupakan high end yang memang digunakan untuk para profesional dan untuk keperluan penataan cahaya pada skala besar, tentu ada juga light controller yang masuk pada kategori low end yang digunakan untuk keperluan khusus. Namun secara sederhana, alat ini tentu saja memiliki fungsi dasar controller, yakni mengatur cahaya.  Chauvet DJ Obey 3 3-Channel DMX seperti namnya merupakan light controller yang hanya memiliki 3 kanal DMX. Alat ini didesain sebagai pengatur lighting LED, karenanya 3 kanal tadi dimaksudkan untuk mengatur warna merah, hijau, biru. Ada pula fungsi fader (untuk menaikan atau menurunkan intensitas cahaya) secara keseluruhan atau master fader di dalamnya.

Pada kelas midle end, nampaknya light controller justru paling banyak ditemukan di pasaran, barangkali inilah light controller yang paling banyak digunakan. Harga yang tidak terlampau mahal seperti halnya pada kelas high end, namun memiliki fitur yang cukup mumpuni untuk kebutuhan pengaturan cahaya. Di antaranya lighting controller pada level ini ada Martin M-Touch 512 Channel DMX dengan kisaran harga 7jt-an, alat ini memiliki lebih dari 500 channel DMX yang tetu saja bisa expad hingga ribuan kanal. Dengan plug and play, peralatan kelas menengah ini dianggap tidak ribet. Ada 14 FSR faders dan 20 kontrol efek yang bisa dioptimalkan sehingga lighting bisa diatur sedemikian rupa menghasilkan pencahyaan yang sudah dikonsepkan sebelumnya. Yang sekelas dengan Martin M-Touch dan bisa menjadi pertimbangan lain adalah Elation MIDIcon Light Controller. Elation Midicon memiliki 32 tombol instan dengan berbagai varian efek dan selain itu memiliki 12 pad untuk efek-efek yang dibuat untuk keperluan momen-momen tertentu.

Ada Software Selain Hardware

Jika lighting controller di atas merupakan hardware atau perangkat keras (yang sebetulnya ada dilengkapi software secara embeded), ada pula light controller berupa piranti lunak atau software. Walaupun tentu saja software ini bisa berjalan melalui hardware yakni komputer. Di antara software pengattur cahaya yang populer antara lain Emulation Control Software. Emulation merupakan software yang bisa mengatur LED, berfungsi sebagai dimmer, mengontrol laser, serta berbagai efek. Software ini bisa dijalankan pada Mac OS maupun Microsoft Window. Emulation menjadi software yang cukup power full dalam mengatur pencahayaan.

 Software lainnya ada DMX512 + Art-Net, dengan interface USB ke DMX, sebetulnya tidak murni software sebab ia tetap menggunakan hardware walaupun jauh lebih sederhana ketimbang hardware pengontrol cahaya di atas tadi.

Musik dan Pencahayaan

Pada dasarnya baik light controller berbentuk hardware, software, atau gabungan keduanya bisa disetting sedemikan mungkin oleh pengguna untuk membuat scene-scene tertentu. Scene atau “adegan pencahayaan” ini tidak berdiri sendiri namun biasanya mengkuti rundown dari acara atau program yang dibuat. Misalnya untuk adegan awal pencahyaan dibuat agak redup, pada adegan tertentu pencahayaan dibuat dinamis, sedang pada adegan lain pencahayaan dibuat lebih lembut, atau ada adegan dimana pencahayaan dibuat sangat terang dengan warna-warna tertentu. Scene-scene itu diatur pada light controller sebelum acara berlangsung dan tentu saja dilakukan rehearsal agar pencahayaan benar-benar sesuai konsep yang diinginkan.

Yang paling rumit, seperti halnya diungkapkan oleh para lightingman, adalah pencahayaan untuk acara atau program musik. Ini menjadi tantangan bagi para lightiman, pencahayaan yang menjadi bagian penting dari sebuah show. “Acara musiknya sih keren, sayangnya lightingnya kurang bagus”. Jika ada kalimat semacam ini tentu akan menjadi beban bagi lightingman, lain halnya ketika. “Musiknya keren banget, lightingnya juga keren, pas banget antara musik dengan lighting”. Nah agar pas antara musik dan lighting inilah menjadi tantangan buat para lightingman yang biasanay bekerja sama dengan art director atau performance director dan juga show director.

Artinya seorang lightingman juga mesti paham dengan audio, dengan nada, dan beat. Bagaimana agar musik “menyatu” dengan cahaya, sehingga misalnya pada nada atau beat mana lighting memberikan kesan tertentu. Seberapa cepat pergerakan cahaya serta warna apa yang pas untuk musik atau beat tertentu. Untuk acara musik tertentu, ada sotware khusus yang dibuat untuk sync antara lagu dengan musik, software ini antara lain Sync with the Music / Music2Light yang dengan software ini pencahayaan benar-benar dibuat sedemikian rupa seolah menyatu dengan musik.

Cahaya dan Estetika

Peralatan tetaplah peralatan baik pianti keras maupun piranti lunak, lighting controller hanya akan menjadi alat yang canggih namun tak begitu bermanfaat jika tidak digunakan dengan baik oleh user. Cahaya dan pencahayaan sudah ada bahkan jauh sebelum pertunjukkan ada, keindahan pencahayaan yang baik tentu saja ia berkaitan dengan estetika. Karenanya lightiman ia mesti bisa melukis dengan cahaya agar keindahan bisa dipersembahkan, dinikmati banyak orang, dan mendapat apresiasi walau dalam kalimat sederhana: “Lightingnya keren!”