Mempromosikan Program Televisi
Diki Umbara

 

Sebuah program hasil akuisi baru saja didapat oleh programming. Waktu mendapatkan program bagus kebetulan itu terbilang mepet. Sementara program tersebut mesti tayang dalam minggu ini juga. Agar penonton tahu tentang program tersebut maka harus segera dibuat promo program, promosi acara televisi di televisi atau apa yang disebut sebagai promo on air.

 

Ada banyak cara mempromosikan acara televisi sehingga masyarakat akan tahu perihal program televisi dan akhirnya menonton acara tersebut. Secara garis besar ada dua cara mempromosikan program televisi yakni promo off air dan promo on air. Dan kali ini membahas khusus tentang promo on air, promo yang memanfaatkan medium televisi secara berkesinambungan. Promo on air memiliki beberapa jenis yakni trailler, teaser, promo program, super imposse, dan running text. Untuk efektifitas kadangkala promo program yang sama bisa dilakukan di semua jenis promosi on air ini. Sebab intinya bagaimana agar program mendapat awarness dari calon penonton dan akhirnya ditonton khalayak.

Trailler merupakan cuplikan program yang disusun sedemikian rupa sehingga menggambarkan suatu program itu sendiri. Trailler kadang ditambah atau dilengkapi dengan narasi. Teaser dibuat dari potongan film, kumpulan potongan adegan yang akan menarik perhatian penonton. Untuk film lepas, trailer sudah dibuat oleh rumah produksi film tersebut. Jadi yang dilakukan oleh bagian promo televisi biasanya dengan menambahkan grafis perihal waktu tayang. Promo program hadir menjelang suatu acara selesai tayang, biasanya adlibs dari pembawa acara atau dilakukan oleh pembawa acara khusus yang kemunculannya di antara program yang satu ke program berikutnya. Super imposse dimunculkan saat program televisi berlangsung, ia muncul picture in picture atau split dengan program yang sedang berlangsung. Ini dimaksudkan agar penonton yang sedang melihat satu program tertentu bisa menonton pula program yang sedang dipromosikan itu. Sedangkan promo on air dalam bentuk running text merupakan promo berupa teks atau tulisan, deskripsi singkat program disertai dengan waktu tayang.

Kekuatan Grafis dan Narasi

Nyaris tidak ada promo on air yang tidak menggunakan grafis di dalamnya, setidaknya grafis itu berupa template untuk teks waktu dan jam tayang. Tapi grafis pada promo on air tentu bukan sekadar itu, sebab grafis bisa menjadi ciri khas baik untuk nama channel atau stasiun televisi, maupun untuk nama program yang dipromosikan.

Banyaknya kanal televisi, hal ini juga mengharuskan kanal atau stasiun memiliki promo onair yang khas dan grafis yang di antaranya dalam bentuk 2D atau super imposse penonton sudah bisa membedakan. Maka dari tampilan promo program sekilas saja sudah bisa dibedakan mana kanal Asia News Channel dan mana kanal Star Channel, penonton juga dengan mudah bisa membedakan mana program dari NET TV dan mana program dari stasiun ANTV.

Demikiaan pula dengan narasi atau voice over yang ada pada promo on air masing-masing stasiun dan bahkan nama program acara televisi. Pengisi suara pada promo on air harus khas, ear catchy, agar ketika penonton hanyamendengar tanpa melihat sekalipun sudah akan bisa mengetahui kalau itu adalah program A di kanal atau stasiun A. Maka dari pengisi suara saja, penonton akan bisa mengidentifikasi jika misalnya sebuah film akan ditayangkan di HBO dan bukan Hallmark atau sebuah program akan ditayangkan di Global TV bukan di Trans 7.

Begitulah grafis dan narasi atau pengisi suara dalam promo on air, walaupun hanya berdurasi tak lebih dari satu menit ia biasanya memiliki kekuatan sendiri setara dengan iklan komersial.

Durasi yang Pendek

Lamanya atau durasi dari promo on air mirip dengan durasi TVC atau PSA yakni satu menit, empat puluh lima detik, tiga puluh detik, limabelas detik, dan lima detik. Dengan durasi yang pendek inilah bagaimana agar tujuan dari promo on air bisa tersampaikan dengan baik. Maka sedari awal promo on air sudah harus didesain dengan menyertakan durasi. Karenanya beberapa promo on air dibuat seperti halnya iklan komersial atau layanan masyarakat.

Waktu Tayang

Penempatan dan frekuensi seberapa sering promo on air dilakukan menjadi hal penting juga. Artinya promo on air tidak juga asal menempatkan jam tayangnya. Maka biasanya promo program serupa akan ditempatkan pada program atau jeda program yang mirip. Misalnya trailler sinetron baiknya ditempatkan pada program sinetron juga. Kalaupun ditayangkan di program yang jauh berbeda hal ini dimaksudkan untuk menggrab penonton lain selain penonton program tersebut. Tapi biasanya dalam frekuensi atau seberapa sering dilakukan promo silang tersebut tidak lebih banyak dibanding pada program yang homogen.

Seperti halnya juga tv komesial atau iklan layanan masyarakat, penempatan teaser dan sejenisnya ini bisa dilakukan secara periodik pad jam tertentu namun bisa juga dilakukan dalam metode ROS atau random on spot, di mana promo on air tersebut bisa dilakukan kapan saja.

Shooting atau Hanya Editing

Di stasiun televisi, bagian promo on air ada yang dibawah langsung departemen programming namun ada juga di bawah departemen marketing. Namun bagaimana bagian promo on air ini bekerja di satu stasiun televisi dengan televisi lainnya hampir sama. Pada bagian ini memiliki produser dimana ia bertanggung jawab pada pembuatan promo on air, dari mulai konsep hingga memberikan saran kapan semestinya promo tersebut ditayangkan. Beberapa ada yang memiliki tim sendiri, yang berarti darimulai cameraman hingga editor memang didedikasikan untuk tim promo on air. Namun ada pula bagian promo menggunakan cameraman serta editor dari departemen lain.

Video trailler atau teaser tidak selalu dibuat pengambilan gambarnya oleh tim promo on air. Karenanya jika misalnya dari film lepas atau sinetron, bagian promo on air akan membuat konsep editing dan melakukan penyuntingan saja tanpa mesti melakukan shooting tersendiri. Bagian promo on air akan memilah dan memilih adegan mana yang paling menarik. Misal itu film action, maka scene yang menegangkan akan menjadi pilihan pertama.Jika itu film drama maka adegan paling dramatis akan menjadi pilihan. Atau bisa juga dari dialog yang menarik. Pemilihan shot-shot yang menarik kemudian disambung dan diselaraskan dalam penyuntingan gambar sehingga trailer akan menjadi tontonan pendek yang menjadikan itu penasaran bagi penonton.

Akan tetapi beberapa program televisi bisa jadi promo on airnya harus dibuatkan juga teaser yang gambarnya mesti dibuat sendiri. Karenanya konsep pembuatan promo on air harus dibuat sedetail mungkin. Beberapa bagian promo on air televisi,mereka akan membuat konsep yang dituangkan dalam story board bahkan hingga stelomatic. Stelomatic seperti halnya story board namun ia sudah dilengkapi dialog, narasi, dan musik.

Ketika pertama hendak membuat konsep promo on air, produser promo akan mempelajari terlebih dahulu konsep program itu sendiri: genre, tema, target audiens, serta waktu tayang akan menjadi fokus pertama. Dan yang paling utama ialah apa yang menjadi ciri khas dari program tersebut, seperti siapa pembawa acara dan para bintang tamu misalnya.

Promo Program Televisi di Sosial Media

Mulanya promo program televisi di media sosial tidak dianggap sebagai hal penting, hingga akhirnya “orang televisi” paham jika efek viral sosial media bisa menggiring siapa saja untuk menonton atau tidak menonton program televisi. Trailler teaser acara televisi diunggah ke jejaring pengunggah video seperti YouTube, maka pengguna internet bisa melihat trailler tersebut. Beberapa televisi membuat kanal sendiri YouTube, ketika program selesai ditayangkan segera diunggah ke kanal tersebut sehingga penonton yang tak sempat menyaksikan di televisi bisa menyaksikan di kemudian hari bahkan beberapa jam setelahnya.

Banyak program televisi yang memiliki penggemarnya sendiri, untuk mengakomodiritu semua beberepa situs jejaring sosial kerap digunakan. Fan Page di Facebook atau akun program televisi di twitter, link promo on air program yang telah diuanggah di YouTube bisa dishare pada jejaring sosial twitter dan facebook tadi. Keuntungan dari promo ini, selain memiliki dampak yang viral juga bisa berinterakksi langsung dengan penonton. Karenanya di program acara televisi juga saat ini sudah mulai banyak super imposse serta running text yang mencantumkan akun jejaring sosial. Begitulah pada akhirnya akan ada crossing promo dan entah kelak akan ada model promo program televisi apa lagi.

 

 

 

Memilah dan Memilih Kamera Video
Diki Umbara

Kami ingin membeli kamera video. Punya rekomendasi merk dan tipe kamera yang bagus? Demikian kerap penulis mendapat pertanyaan ketika menjadi pembicara untuk tema video jurnalistik. Dan pertanyaan serupa penulis dapatkan ketika memberi pelatihan untuk para pegawai bagian humas salah satu pemerintahan daerah di Papua.

 

Artikel ini merupakan jawaban atas pertanyaan yang sering dilontarkan seperti di atas tadi. Alih-alih menjawab langsung, biasanya penulis justru menanyakan balik. Sebab dari pertanyaan kembalilah akan didapatkan jawaban yang menjadi harapan si penanya, pada akhirnya. Ada beberapa hal yang mesti dilakukan ketika kita memutuskan untuk membeli kamera video yang ideal sesuai kebutuhan. Maka beberapa pertanyaan di bawah ini akan membantu untuk mendapatkan kamera yang diinginkan itu.

seminar

Kamera untuk apa?

Tentu saja untuk pengambilan gambar, merekam baik gambar maupun suara. Ini masih terlalu umum. Lebih spesifik lagi, kebutuhan apakah yang diinginkan dalam pengambilan gambar tersebut. Jika diklasifikasikan sebagai peruntukan dalam berbagai jenis, maka kamera video akan terbagi atas: kamera studio, kamera EFP (Electronic Field Production), kamera ENG (Electronic News Gathering), dan kamera home video.

Tiga jenis kamera merupakan kamera video yang digunakan oleh broadcasting televisi. Kamera studio sesuai namanya merupakan kamera yang didesain untuk keperluan shooting di dalam studio. Kamera ini biasanya terintegrasi dengan sebuah sistem yang disebut multikamera. Terhubung dengan vision mixer atau video switcher. Beberapa control kamera studio ada pada CCU atau Camera Control Unit. Pada CCU akan ada adjusment untuk iris dan gain untuk mengatur cahaya juga kontrol warna. Sehingga pada kamera studio, operator kamera tidak dibebankan untuk mengontrol kedua hal ini.

Kamera EFP, sering digunakan untuk keperluan di luar studio. Kamera ini seringkali digunakan untuk acara olahraga seperti sepakbola misalnya. Kamera EFP sebetulnya mirip dengan kamera studio. Kontrol kamera menggunakan CCU, walaupun demikian bisa juga digunakan stand alone ketika tidak terhubung dengan sistem multikamera.

Jenis kamera ENG diperuntukkan bagi para operator kamera saat liputan. Kamera ini didesain untuk keperluan peliputan berita, pembuatan feature, dokumenter dan sejenisnya.

Yang terakhir yakni kamera home video, inilah jenis kamera yang paling banyak variannya baik low-end maupun high-end. Kamera ini biasanya berbentuk compact, atau lebih dikenal sebabagai handycam.

Dari berbagai jenis atau tipe kamera inilah sudah mulai bisa dipilah bahwa jenis kamera mana yang diperlukan. Namun dengan mengetahui berbagai jenis kamera ini saja belum cukup benar, karena kenyataannya masih ada lagi tipe kamera yang diklasifikasi berdasar media rekam apa terdapat pada kamera tersebut.

Ada Beragam Media Rekam

Kamera Mini-DV. Kamera jenis ini sangat populer utamanya untuk para video jurnalis dalam liputan berita, infotainment, serta para pembuat film dokumenter. Kamera ini menggunakan kaset mini-DV sebagai media penyimpanan. Kelebihan kamera jenis ini tentu karena banyak yang masih percaya bahwa kaset merupakan media penyimpanan yang aman jika dibandingkan dengan hardisk. Kamera ini salah satunya yakni Panasonic Pro AG-DVX100BP.

DVD Camcorder. Jenis kamera ini sangat compact, media penyimpanan berupa cakram DVD. Namun jenis kamera ini tidak direkomendasikan untuk keperluan pengambilan gambar profesional karena kompresi pada hasil rekaman jenis kamera ini mengakibatkan kualitas gambar menjadi turun. Kamera jenis ini misalnya Sony DCR DVD 650

HDD Camcorder. Jika kamera mini DV media penyimpanannya dalam bentuk tape atau kaset, dan DVD Camcorder dalam bentuk cakram DVD, maka HDD Camcorder menggunakan hardisk sebagai media penyimpanannya. Seberapa besar kapasitas hardisk yang ada di kamera tersebut tergantung dari tipe yang dikeluarkan oleh produsen. Yang barangkali agak membingungkan banyak orang pikir kalau HDD Camcorder itu artinya High Definition, padahal HDD Camcorder artinya adalah Hard Disc Drive yang dalam perekaman dan penyimpanannya bisa SD atau Serial Definition maupun HD atau High Definition.

HDD Camcorder dalam hal media penyimpanan sebetulnya mirip dengan komputer, yakni ia menyimpan materi berdasar megabite yang digunakan. Salah satu kamera yang populer adalah JVC Everio GZHD7 3CCD 60GB, yang berarti kamera ini memiliki media penyimpanan sebesar 60GB.

Flash Memory Camcorder. Pada kenyataannya storage atau media penyimpanan juga mengalami perkembangan. Flash memory yang semula didesain untuk keperluan gadget dan kamera still, kini juga digunakan dalam penyimpanan file audio visual. Ada dua jenis format flash drive yang digunakan, yakni Memory Stick yang diproduksi dan hanya digunakan oleh Sony dan SD/SDHC yang digunakan oleh produk merk lainnya. Kelebihan dari flash memory tentu saja ia bisa lebih tahan banting ketimbang hardisk karena bentuknya yang sangat compact. Karena banyak yang dibuat sebagai kamera home video, hampir semua vendor mengeluarkan kamera jenis ini. Salah satunya adalah Panasonic HC X900M

Ya kini sudah makin mengkerucut bukan? Selain jenis maka media perekaman dari masing-masing kamera ini sudah bisa menjadi pertimbangan Anda dalam menentukan kamera apa yang cocok digunakan sesuai kebutuhan. Lalu hal apa saja yang perlu diperhatikan sehingga kita bisa memastikan kamera mana dibutuhkan, ini tidak berkaitan langsung dengan fisik kamera itu sendiri. Artinya yang mesti jeli kita lakukan adalah dengan mengetahui spesifikasi yang ada di dalamnya. Salah satunya adalah mengenai resolusi gambar dan frame size

Dari VGA hingga Full HD

Resolusi gambar sudah menjadi perhatian para vendor sedari awal, baik untuk kebutuhan consumer maupun industri, baik untuk keperluan playback ataupun untuk perekaman. Resolusi gambar paling tinggi video saat ini adalah Full HD alias 1080p. Resolusi ini telah diakomodir oleh kamera jenis HDSLR. Frame size full HD adalah 1920 X 1080 pixel. Di bawah Full HD ada HD atau biasa disebut 720p. Pada dasarnya HD juga termasuk high definition, hanya saja frame sizenya 1280 X 720. Selanjutnya ada HDV atau High Definition Video yang memiliki format 1440 X 1080 anamorphic. Sedangkan resolusi yang masih “umum” dan masih banyak digunakan adalah SD atau standard definition. Ada dua jenis SD yang populer yakni PAL 720 X 576 untuk negara-negara di Eropa dan NTSC 720 X 480 untuk negara-negara di Amerika Utara. Sedangkan broadcasting televisi di Indonesia menggunakan format PAL. Dan resolusi terakhir adalah VGA atau video grapic array. Resolusi VGA merupakan resolusi paling rendah, namun resolusi ini masih digunakan misalnya untuk kamera ponsel.

Semakin tinggi resolusi gambar tentu saja artinya semakin baik juga gambar yang dihasilkan. Yang perlu diperhatikan dalam perihal resolusi ini adalah kompabilitas, hal ini akan berkaitan dengan editing serta hasil akhir apa yang diinginkan nantinya.

Tool Tambahan

Ketika membeli kamera video yang tanpa perencanaan terlebih dulu biasanya akan menyisakan PR, ternyata ada kebutuhan lain yang jika itu tidak terpenuhi maka pekerjaan yang menggunakan kamera video menjadi tidak maksimal. Tidak seperti halnya membeli kamera foto, banyak orang yang tidak memperhatikan perihal lensa kamera. Lensa kamera video pada umumnya memang sudah terpasang pada body kamera dan tidak bisa diganti. Namun beberapa kamera video terutama kamera video profesional memungkinkan pengguna untuk mengganti lensa. Jadi, ketika akan memutuskan membeli kamera perlu diperhatikan juga misalnya apakah hanya perlu lensa standar yang berarti tidak perlu lensa tambahan dan hanya perlu kamera yang sudah memiliki kamera standar tersebut. Atau misalnya memerlukan juga lensa tele atau wide karena untuk keperluan tertentu. Jika demikian maka sedari awal kita sudah akan tahu apakah kamera yang akan dibeli itu harus bisa ganti lensa atau tidak.

Tambahan lain yang diperlukan adalah microphone. Ya tentu saja kamera video standar sudah memiliki microphone baik yang internal (biasanya untuk kamera pro-sumer) maupun microphone external untuk kamera semi-pro dan kamera profesional. Ada banyak microphone yang bisa digunakan, namun lagi-lagi hal ini mesti diperhatikan dari sisi kebutuhan. Misalnya untuk keperluan interview bisa jadi kita memerlukan shot gun atau clip on. Microphone pun ada yang menggunakan kabel ada pula yang wireless.

Supporting utama terakhir yang tak kalah penting adalah mounting penyangga kamera. Dan yang paling umum digunakan yakni tripod, penyangga dengan tiga kaki ini ada beberapa jenis. Tripod untuk kamera video berbeda dengan tripod kamera foto. Karena kebanyakan kamera video memiliki beban yang lebih berat. Tripod yang baik ia mesti kokoh serta bisa dengan mudah digunakan untuk paning (pergerakkan horisontal) dan tilting (pergerakkan vertikal)

Ada Harga Ada Rupa

Ini nampaknya sudah sudah menjadi adagium populer baik untuk pembeli maupun bagi si penjual. Ada harga ada rupa, ada uang yang banyak ada barang yang bagus. Nyaris tidak ada yang salah dengan hal itu. Namun ada kalanya ini tidak berlaku ketika misal kamera yang mahal telah dibeli namun tidak sesuai dengan kebutuhan.

Apa sebetulnya mempengaruhi harga video kamera? Jenis serta klasifikasi seperti di ataslah yang menjadi faktornya. Kamera HDD dengan hardisk 120GB tentu akan lebih mahal dari yang memiliki hardisk 60GB. Jadi tentukan,apakah memang benar kebutuhan penampungan gambar saat peliputan itu memerlukan waktu perekaman berdurasi panjang atau tidak. Demikian juga dengan lensa kamera, apakah cukup dengan lensa standar atau perlu juga lensa tele atau widelens.

Ada beberapa merk kamera: Sony, Panasonic, Canon, Ikegami, JVC, dan beberapa merk lain. Masing-masing merk kadang memiliki ciri khas yang di antaranya ialah karakter warna. Terakhir, silakan bandingkan masing-masing merk tersebut dengan kamera tipe sejenis. Jangan sampai tergiur dengan harga yang lebih murah namun ternyata ada fasilitas menu yang kurang di dalamnya, padahal misalnya hal itu diperlukan.

Purna jual atau garansi juga akan pengaruh pula pada harga. Sebelum memutuskan membeli, pastikan dengan teliti tentang garansi ini. Layanan purna jual yang baik ia akan mengakomodir keluhan anda ketika ada permasalahan pada kamera. Pembelian kamera di toko dalam negeri maupun di toko luar negeri sebetulnya tidak masalah ketika jaminan garansinya jelas.

A Man Behind The Gun

Ketika sudah yakin dengan keputusan dari hasil memilah dan akhirnya memilih kamera yang diinginkan dan diperlukan, sebetulnya ada hal yang paling esensi dari itu semua, yakni siapa yang akan menggunakan kamera tersebut. Kemampuan mengoperasikan kamera yang buruk akan berbanding terbalik dengan pilihan kamera video yang terbaik sekalipun. Belajar kamera bukan perihal mengerti manual book saja karena di dalam manual book hanya berisi penjelasan teknis. Di luar itu semua,operator kamera mesti bisa mengoptimalkan kegunaan kamera tersebut.

Acara Televisi: Ada Penonton yang (Tidak) Ditonton
Diki Umbara

Satu jam tiga puluh menit lagi acara ajang bakat musik dimulai, di pintu gerbang studio ratusan penonton antri. Dengan terlebih dahulu melewati pemeriksaan sekuriti, satu per satu dari mereka mulai memasuki studio yang dari luar nampak seperti tenda giant.

Dengan bantuan pengeras suara, seorang Floor Director mengatur penonton, dan kini studio sudah nyaris penuh. Mereka duduk rapi dari mulai row paling depan hingga barisan di trap paling ujung. Lantas Floor Director atau lebih sering disingkat sebagai FD menjelaskan tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan penonton saat di dalam studio. Briefing ini dimaksudkan agar acara berjalan lancar tak ada gangguan dari tribun penonton. Acara masih tiga puluh menit lagi, dentuman musik mengalun dengan beat agak cepat. Penonton di studio nampak senang, sebab tak akan lama lagi mereka akan melihat penampilan artis calon artis yang diidolakan.

Menonton langsung pertunjukan tentu saja akan memberikan kesan tersendiri, itulah sebab acara musik selalu dipenuhi oleh penonton, baik untuk pertunjukan yang mengenakan tiket masuk dan apalagi pertunjukan yang memang digratiskan. Pun demikian untuk berbagai pertunjukan musik yang dikemas sedemikian rupa oleh televisi, ada kalanya penonton menjadi bagian tersendiri dari pertujukan tersebut. Namun untuk acara musik televisi yang dilakukan reguler apalagi striping, nyatanya tak mudah mendatangkan penonton yang ingin menyaksikan acara ini.

aries

ilustrasi: Kintil

Penonton Bayaran

Mulanya sekitar sepuluh tahun lalu, untuk mendapatkan penonton di studio yang setia mengikuti acara sedari awal hingga acara usai sangatlah sulit. Terlebih penonton yang bisa diarahkan sehingga bisa mengikuti keinginan dari si pembuat acara. Kebutuhan inilah yang melahirkan apa yang dinamakan sebagai penonton bayaran. Kenapa disebut sebagai penonton bayaran karena memang penonton demikian benar-benar dibayar untuk keperluan agar suatu acara bisa ditonton di lokasi shooting. Penonton ini ia akan menyaksikan acara dari mulai awal hingga selesai, terjadilah simbiosis mutualisme: televisi mendapat penonton langsung saat acara, penonton mendapat hiburan dan sedikit uang.

Agensi, Sang Penyalur Penonton

Seorang produser televisi menyodorkan tangannya. Setelah sedikit basa-basi, Harsono begitu ia dipanggil namanya merupakan satu di antara beberapa pemilik agensi penonton yang cukup dikenal di kalangan orang televisi, mulai menanyakan berapa banyak penonton yang diinginkan serta kategori penonton apa yang diperlukan oleh produser tersebut. Setelah diberi penjelasan detail, tak lama kemudian kesepakatanpun mereka buat.

Kini sudah ada beberapa agency yang mengurusi soal penonton bayaran tersebut, selain Harsono ada Nia Agency dan Elly Agency. Dari para agency inilah berbagai acara televisi yang memerlukan penonton saat acara berlangsung tersedia. Di lapangan para agensi ini akan menurunkan korlap atau koordinator lapangan. Korlap penonton inilah yang akan mengatur bagaimana para penonton ini tiba hingga pulang selepas acara.

Kenapa Perlu Penonton Langsung?

Tidak semua acara televisi membutuhkan acara yang harus ada penotonton di lokasi. Beberapa acara yang memerlukan penonton di antaranya acara musik, kuis, talkshow, serta acara dengan format variety show. Seorang manajer produksi salah satu stasiun televisi menjelaskan bahwa pentonton dilokasi shooting diperlukan agar acara bisa lebih hidup.

Untuk acara musik misalnya, bisa jadi penonton sebetulnya membludak hanya saja kebiasaan penonton kita yang pasif. Jadi penonton bayaran inilah yang didesain sedemikian rupa agar mereka bisa lebih aktif. Penonton bayaran dengan mudah untuk diarahkan, menari, ikut menyanyi, tepuk tangan, dan lain sebagainya.

Bagi sebagian pengisi acara, dengan kehadiran penonton di tengah-tengah mereka yang ikut antusias dalam turut menyanyi seringkali akan membuat mereka lebih semangat. Penonton menjadi semacam akselerator kemeriahan panggung acara, bahkan di bawah terik matahari atau guyuran hujan sekalipun. Bagi penyelenggara acara, penonton akan berfungsi sebagai ambiens. Kehadiran penonton akan menambah riuh yang dalam keadaan tertentu hal ini diperlukan. Dengan demikian acara akan tampak lebih hidup.

Tidak Semua Penonton Dibayar

Hingar bingar studio televisi dengan ratusan penonton nyatanya tidak selamanya juga karena penonton bayaran, sebab beberapa acara memang tidak melibatkan penonton bayaran sama sekali. Mereka merupakan penonton yang suka rela untuk menyaksikan acara tersebut. Acara ajang bakat yang digelar di studio misalnya, di sana akan hadir penonton yang bisa bertahan berjam-jam untuk mengikuti acara tersebut. Pada acara pencarian bakat kerap akan hadir penonton yang dengan sengaja ikut mendukung salah satu kontestan, mungkin dibayar mungkin juga tidak. Yang jelas bagi pertunjukan semacam ini, penonton menjadi bagian penting sebab hal ini bisa dikaitkan sebagai dukungan tertentu. Semakin meriah penonton pendukung setidaknya akan mempengaruhi pula bagi si kontestan di atas panggung.

Penonton di Mata Penonton

Di mata penonton televisi, tak begitu sulit untuk mengidentifikasi mana penonton bayaran dan mana penonton yang pure atau benar-benar sukarela sebagai penonton, tanpa dibayar. Pada acara-acara musik tertentu, penonton bayaran akan tampil sangat dekat dengan stage atau bahkan benar-benar menjadi bagian di atas panggung. Siapapun penyanyi dan apapun yang dinyanyikan, kerap penonton yang dekat dan atau sepanggung dengan penyanyi tersebut, tarian si penonton selalu itu-itu saja. Karenanya dengan mudah penonton melihat kalau itu sebagai penonton bayaran. Walaupun saat ini beberapa agency sudah sadar akan hal itu, dengan demikian ia akan memberikan arahan untuk tidak asal joget misalnya. Dan hal yang paling mencolok, beberapa penonton menggunakan pakaian dengan gambar produk tertentu.

Apakah penonton itu mengganggu bagi penonton televisi yang tidak berada di lokasi di mana acara itu berlangsung? Bisa iya, bisa juga tidak. Program Director atau PD yang memandu acara di belakang layar ia mestinya pandai pada bagian mana saja penonton di lokasi itu diambil untuk ditayangkan dan pada bagian mana justru mereka tidak akan ditampilkan. Sebab PD mestinya bisa mewakili penonton televisi, sehingga ia bisa memilah-milah perihal itu. Jangan sampai penonton televisi justru merasa terganggu dengan kemunculan penonton di layar televisi.

Ekonomi Media: Bagaimana Televisi Lokal Bisa Hidup
Diki Umbara

Sebuah televisi lokal akhirnya kolaps juga. Diawali dengan semangat menggebu dan keyakinan akan tetap eksisnya media massa audio visual ini lambat laun meredup, lantas benar-benar mati sebab alih-alih bisa menuai keuntungan, di tahun ketiga televisi itu akhirnya sudah benar-benar tak dimiliki lagi oleh investor lokal.

Tumbuh pesatnya televisi lokal mulanya dianggap sebagai kabar baik, beberapa kota di Indonesia bahkan memiliki lebih dari empat stasiun televisi lokal. Sepuluh tahun lalu setidaknya sudah ada 40 televisi lokal dan kini tidak kurang dari 120 lokal ada di berbagai daerah di Indonesia. Artinya ini jauh melebihi jumlah televisi nasional yang “hanya” berjumlah 11 stasiun televisi. Namun kabar buruknya beberapa stasiun televisi lokal tersebut nyatanya banyak yang tak bisa bertahan lama, persiapan yang tidak terlalu matang serta manajemen buruk ditengarai sebagai penyebab utama sehingga banyak televisi lokal kepemilikannya sudah berpindah tangan.

Walau bagaimanapun investasi stasiun televisi tidaklah sedikit. Di awal ia harus menyiapkan infrastruktur yang harganya tentu saja tidak murah sebab sebagian besar peralatan broadcasting televisi merupakan produk luar. Selain infrastruktur tentu televisi juga harus memiliki studio, dan pembangunan studio juga akan membutuhkan uang yang tentu saja tidak sedikit. Dan tentu saja televisi akan mengeluarkan biaya operasional demi berlangsungnya siaran televisi tersebut.

Bisnis media massa, termasuk televisi di dalamnya memang unik, sebab yang “dijual” merupakan informasi oleh sebab masalah kepercayaan dari publik akan menjadi hal yang sangat penting. Bisnis media akan berkaitan dengan: audience, content, serta capital. Siapakah audiens yang hendak menjadi target, pemetaan ini kelak akan berkaitan dengan hal ke dua yakni konten. Ketika sudah diketahui siapa audiensnya maka konten atau isi dari media dalam hal ini acara televisi seperti apa yang harus disajikan akan ketahuan. Dan terakhir adalah kapital, seperti yang sudah dijelaskan di atas. Dari mana dan bagaimana pembiayaan media sehingga ia akan bisa sustain dan tentu saja harus menguntungkan.

Beragam Masalah TV Lokal

Bisa jadi sebagian besar pendirian tv lokal pada awal mula karena semangat terutama setelah lahir UU Penyiaran No.32. Namun semangat ini tidak dibarengi dengan kemampuan serta pengetahuan bahwa bisnis media memang unik. Kolapsnya beberapa tv lokal bahkan televisi yang dikelola oleh pemerintahan daerah. Secara umum televisi-televisi lokal ini berguguran karena besar pasak daripada tiang. Cost yang tinggi sementara pendapatan yang tidak memadai.

Menurut data yang dilansir AGB Nielsen, share yang diperoleh televisi lokal tidak lebih dari 3%. Dengan prosentase yang jauh di bawah televisi nasional inilah yang mengakibatkan para pengiklan ogah untuk memasang iklannya di televisi lokal. Share yang kecil berarti jumlah penonton televisi lokal memang masih sangat sedikit. Kenapa televisi lokal tidak banyak ditonton? Ada beberapa motif menonton televisi yakni informasi, identitas pribadi, integrasi sosial, serta hiburan. Artinya bisa jadi banyak televisi lokal yang tidak memiliki konten yang bisa memenuhi ke empat motif ini.

Beberapa pengamat mengira bahwa hal lain yang menyebabkan televisi lokal ambruk karena memiliki sumber daya manusia yang tak mumpuni. Akan tetapi penulis tidak sepakat, sebab nyatanya SDM di daerah tidak kalah dengan sumber daya manusia yang ada di kota atau yang ada di televisi nasional maupun televisi berjaringan luas. Sebagai bukti, ketika SDM dari daerah tersebut bergabung di televisi besar ia tetap mampu bersaing. Jadi perihal sumber daya manusia sebenarnya tak masalah di televisi-televisi lokal tersebut. Kalaupun permasalahan yang berkaitan dengan SDM bisa jadi karena manajemen di perusahaan televisi lokal tersebut. Di daerah, memiliki stasiun televisi menjadi gengsi tersendiri, namun karena manajemen yang buruk alih-alih bisa meraup keuntungan bahkan sekadar bisa sustain saja cukup sulit.

Hidup Manis Seperti Televisi Jakarta

Istilah Televisi Jakarta sebetulnya merupakan cemooh yang penulis pinjam dari salah seorang pengamat media, Televisi Jakarta dimaksudkan untuk televisi yang bisa bersiaran di seluruh Indonesia yang pusatnya di Jakarta. Ya semacam nama lain untuk istilah televisi nasional, sebab menurut UU Penyiaran No.32 memang tak ada televisi nasional, yang ada merupakan stasiun bejaringan yang kenyataanya UU ini pernah dan masih tersaruk-saruk karena implementasinya sulit juga di lapangan.

Banyak televisi lokal yang ingin seperti televisi besar di Jakarta, maka banyak televisi lokal yang meniru televisi Jakarta dengan harapan akan mendapat penonton yang banyak. Nyatanya hal ini menjadi kekeliruan besar, sebab rasanya tak ada penonton di daerah yang menonton televisi lokal sebagai substitusi dari televisi nasional. Yang terjadi adalah menonton televisi lokal sebagai komplementer. Dengan demikian jelas sudah bahwa penonton televisi di daerah menganggap televisi lokal sebagai pelengkap bukan pengganti. Hal ini tentu saja akan berkaitan dengan konten acara yang mestinya disajikan oleh televisi lokal tersebut. Yang menyadari akan hal ini sedari awal nampaknya adalah JTV atau Jawa Pos Televisi dan Bali TV. Hingga kini ke dua televisi lokal inilah yang paling sustain, terbukti juga dengan masih banyaknya penonton untuk ke dua televisi lokal ini.

Jalan Keluar

Permasalahan televisi lokal memang sudah terlanjur pelik, untuk mendapat iklan sangat sulit sebab jumlah penonton yang tak menarik buat para pengiklan. Acara yang tak menarik karena kemasan yang tidak menarik pula. Tak memiliki data yang valid karena tidak berlangganan riset dari AGB Nielsen yang harganya cukup aduhai. Hal pelik ini sebenarnya tak juga muskil untuk diurai, maka yang bisa dilakukan adalah sadari betul apa motif dari penonton seperti yang dijelaskan di atas tadi. Untuk mengetahui motif penonton bisa dilakukan dengan riset. Ya riset langsung di daerah di mana stasiun televisi lokal itu berada. Dengan riset maka kita akan tahu persis apa sebetulnya yang diinginkan oleh penonton, sebab bisa jadi kebutuhan di satu tdaerah akan berbeda dengan daerah lain. Konten mungkin berbeda atau memang harus berbeda dengan televisi nasional, akan tetapi perihal kualitas mestinya harus bisa bersaing. Sebab siapa juga yang akan menonton jika saluran televisinya buruk, artinya ini akan berkaitan dengan infrastruktur dan sumber daya manusia di dalamnya.

Iklan bukanlah satu-satunya pendapatan yang bisa dihasilkan televisi lokal, ia bisa juga mendapat penghasilan lainnya dari airtime yang bisa dijual untuk blocking time dengan perusahaan lokal atau perusahaan nasional yang ingin ekspansi di daerah. Hal lain yang bisa didapat yakni kerjasama dengan production house di daerah. Atau bisa jadi ada cara lain juga bagaimana mendapat keuntungan dari televisi tersebut.

Jalan terakhir dan ini mungkin bisa “menyakitkan” daripada benar-benar mati, jika tak bisa berdikari makan yang bisa dilakukan tentu saja bergabung dengan televisi berjaringan nasional. Lagipula ini seperti yang diamanatkan dalam UU Penyiaran No.32 tentang televisi siaran berjaringan.

Di sebuah gedung yang tak terlalu besar, di sebuah kota kecil di Indonesia. Gedung di tepi jalan yang lumayan ramai itu merupakan sebuah televisi lokal yang sudah berdiri lima tahun lalu. Dihadiri oleh beberapa orang, acara penandatanganan perusahan media penyiaran televisi berlangsung sederhana.

Kini televisi lokal yang sempat menjadi kebanggaan warga di tahun-tahun pertama itu kini telah beralih kepemilikan. Pemilik usaha media besar di Jakarta baru saja membuat televisi lokal tersebut menjadikan salah satu televisi jaringannya. Beberapa karyawan nampak tersenyum, namun sedikit di antaranya nampak murung. Ada yang merasa lebih nyaman, ada yang merasa terancam.

Video Jurnalis, yang Serba Bisa di Televisi
Diki Umbara

Sebuah telpon masuk redaksi, ada kejadian yang disampaikan oleh seseorang di mana ia menjadi salah seorang saksi mata. Di perbatasan kota di hari yang masih pagi buta terjadi beberapa tembakan. Tidak ada desas desus sebelumnya, pengepungan sebuah rumah baru saja berlangsung. Namun penelpon ke sebuah televisi tersebut tak menyebutkan secara rinci apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Tak lama berselang ada informasi serupa dari pelapor lain. Redaksi memutuskan untuk segera mengirim tim liputan ke lapangan. Di newsroom, produser dan dan timnya sedang mempersiapkan berita pagi. Kini jam menunjukkan pukul tiga, artinya masih ada dua jam sebelum berita pagi itu tayang. Kabar tentang penyerbuan sebuah rumah di sebuah perbatasan sudah sampai di newsroom. Tim redaksi menginginkan yang serupa pertempuran tersebut bisa naik di berita pagi. “Kalau bisa live dari lapangan, kita kirim video jurnalis sekarang!” demikian perintah pimpinan redaksi di hadapan produser dan koordinator liputan saat itu.

Video Jurnalis yang Siaga

Tidak ada waktu yang cukup untuk redaksi jika harus mengirim tim liputan lengkap. Jika sebuah tim lengkap dikirim untuk melakukan siaran langsung dari lapangan, maka setidaknya aka nada dua mobil yang disiapkan yakni OB Van atau Outside Broadcast Van yakni mobil berjenis van yang berisi peralatan vision mixer, audio mixer, serta peralatan uplink ke satelit , serta mobil tim liputan yakni cameraman dan reporter. Untuk menyiapkan itu semua tentu tidak bisa sangat segera, kendala agar segera cepat sampai di lokasi jadian juga merupakan persoalan tersendiri. Namun kini ada solusi lain, yakni mengirim video jurnalis. Ya video jurnalis bisa bekerja seorang diri.

Dengan briefing dari produser terlebih dulu sang video jurnalis sudah paham dengan apa yang mesti ia lakukan pagi buta ini. Berbekal surat tugas dari koordinator liputan dan produser tadi ia segera menuju bagian logistik. Daftar peralatan apa saja yang mesti dibawa disodorkan pada petugas logistik; kamera, batere, tripod, serta serta sebuah pc. Dalam hitungan menit peralatan tersebut kini sudah berada di tangan sang video jurnalis. Perlatan dalam kondisi prima, sehingga sang VJ yakin dan akan segera berangkat menuju lokasi.

Kali sang VJ tak berangkat sendirian, ia ditemani seorang messenger. Messenger adalah petugas yang mengirim materi hasil liputan reporter dan cameraman di lapangan agar materi segera sampai di newsroom untuk kemudian diingest lantas diedit. Dengan tas ransel di pundak, kamera didekap, serta tripod berukuran kecil, meluncurlah sang VJ dan messenger menggunakan motor. Jalanan yang lengang di pagi buta, tak sampai tiga puluh menit mereka tiba di sebuah perbatasan kota, tepatnya perbatasan tiga provinsi sekaligus; Jakarta, Jawa Barat, dan Banten.

Di Lapangan, Apapun Bisa Terjadi

Di luar sana profesi Video Jurnalis sudah terkenal sebab sepuluh tahunan lalu sudah ada, namun di Indonesia profesi ini bisa dibilang masih relatif baru. Video jurnalis, ia sebenarnya merupakan padu padan tiga profesi sekaligus yakni cameraman, reporter, dan editor. Yang berarti dengan satu orang inilah kegiatan jurnalistik bisadi kerjakan. Secara teknis ia harus bisa mengoperasikan kamera dan melakukan penyuntingan gambar, di sisi lain ia mesti pandai dalam penulisan naskah dan reportase yang di dalamnya berarti ia harus cakap dalam pengumpulan data, riset, dan kegiatan penunjang jurnalistik lainnya.

Tiba di lapangan sang VJ segera melakukan perekaman gambar, dengan cahaya yang minim ia segera mengadjust iris yang ada di kamera. Beberapa momen tak luput dari bidikan HD Videocamnya, kamera mungil namun beresolusi tinggi ini sudah ia pahami betul fitur-fiturnya. Sebelum melakukan pengambilan gambar lain ia menghampiri beberapa warga untuk mengorek informasi perihal kejadian penyerbuan salah satu rumah yang masih berlangsung ini. Dari hasil negosiasinya, salah satu warga bersedia juga diwawancara. Kali ini sang VJ tak menggunakan tripod, sebab dengan handheld ia merasa nyaman untuk wawancara. Jadi ketika misal tiba-tiba ia harus bergegas dalam perekaman gambar lain dengan mudah ia bisa melakukannya.

Tak lama berselang hape sang VJ berbunyi, rupanya ia dapat panggilan dari newsroom televisi di mana ia bekerja. “Empat puluh menit lagi berita pagi akan dimulai, messenger sudah bisa segera mengirim materi liputan kamu sekarang. Atau memungkinkan kalau kamu bisa live nanti?” demikian produser di ujung telpon memberi opsi. Ada beberapa alasan kenapa kejadian itu mesti disiarkan langsung. Rupanya ini bukan penggerebekan teroris biasa, di balik itu semua ada dugaan melibatkan orang yang tidak asing di kota ini.

Live on Location,Tak Serumit Dulu

Teknologi saat ini memungkinkan untuk televisi melakukan siaran langsung atau live bahkan di tempat terpencil sekalipun. Salah satu teknologi yang dimaksud yakni penggunaan sinyal telpon GSM. Ya TVU memanfaatkan jalur telpon seluler dalam mengirim data dalam bentuk suara dan gambar. Secara teknis, dari camera disambungkan ke sebuah laptop yang sudah dilengkapi modem. Aplikasi TVU di laptop tersebut akan menerima audio dan visual dari video kamera, lantas data tersebut dikirim dan akan diterima di control room televisi.

Karena menggunakan sinyal telpon selular, maka bagus atau tidaknya gambar dan suara yang diterima tentu sangat tergantung dari sinyal telpon itu sendiri. Jadi pemilihan operator selular mana yang akan kita gunakan tentu menjadi sangat penting. Namun yang jelas, dengan teknologi ini biaya untuk siaran langsung akan jauh lebih murah dan lebih mudah.

Dari data yang dihimpun di lapangan sang VJ bisa memastikan kalau kejadian ini memang penyergapan teroris yang dilakukan seperti mendadak, sebab beberapa warga menuturkan tidak ada hal yang mencurigakan terjadi dari pagi hingga sore sebelumnya. Dan sang VJ rupanya merupakan jurnalis televisi satu-satunya yang pertama tiba di lokasi.

Video Jurnalis Itu All In One

Selain Video Jounalist atau yang lebih simpel dipangggil VJ, ada pula istilah baru yakni Solo Journalist yang pada prinsipnya sama yakni ia bekerja seorang diri: sebagai seorang reporter, cameraman, serta editor. Jadi mulai pra produksi sampai paska produksi bahkan hingga ia melaporkan kejadian secara live dari lapangan. Ya seorang VJ itu all in one karenya ia harus multi-skill dan tentu ini menjadi pekerjaan yang sangat berat. Butuh passion yang tinggi bagi seseorang yang hendak menjadi seorang video jurnalis.

Sebagai reporter, ia memiliki tugas dalam mengumpulkan data, mewawancara, hingga membuat laporan secara lengkap. Sebagai cameraman ia akan mencari memilih subyek, mencari, dan merekam kejadian. Sebagai editor ia akan memilih, memotong, serta menyusun shot-shot menjadi satu kesatuan cerita. Bagi stasiun televisi, dengan adanya video jurnalis ini tentu akan banyak mendapatkan penghematan baik dalam pengeluaran dana hingga efektifitas waktu. Karenanya video jurnalis yang mulanya populer di Amerika, kini juga mulai banyak diterapkan dan direkrut oleh banyak stasiun televisi di Indonesia.

Jam delapan empatpuluh lima pagi di hari yang sama sang VJ yang bertugas tadi tiba di kantor salah satu stasiun televisi berita ternama di Indonesia. Tanpa diduga, ketika ia tiba di newsroom ia mendapat surprise. Pimpinan redaksi menyalami sang VJ sembari mengucapkan selamat, tepuk tangan dari semua yang bertugas di newsroompun menggema. Laporan langsung sang VJ dari tempat kejadian penyergapan teroris di berita pagi di televisi tersebut menjadi perbincangan.

Kategori

Kicauan

SociaBuzz

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 104 pengikut lainnya.