Infotainment, (Tak) Semua Gosip Menghibur

Infotainment, (Tak) Semua Gosip Menghibur
Diki Umbara

 

Sepuluh hingga lima tahun lalu, program infotainment nyaris mendominasi tayangan televisi. Dari data AGB Nielsen, pada tahun-tahun itu pula infotainment sempat menduduki peringkat 15 hingga 10 acara televisi yang mendapatkan perolehan penonton terbanyak. Walaupun masa kejayaan infotainment sudah lewat, kini acara yang sudah dikenal di ujung tahun 80-an di Amerika itu masih memiliki pemirsa yang loyal.

Mulanya, infotainment sebagai padupadan dari kata information dan entertainment tidak dimaksudkan sebagai acara gosip. Infotainment merupakan inovasi dalam pengemasan informasi secara santai dengan konten serius berdasar fakta di lapangan. Jauh sebelum era infotainment di televisi, kemasan yang kini telah menjadi bias ini diawali dengan surat kabar di Amerika Serikat dengan sebutan penny press atau di Eropa sebagai yellow press. Lambat laun di era globalisasi nyatanya informasi dan hiburan menyatu atau memang sengaja pula disatukan hingga menjadi infotainment seperti saat ini. Dalam Oxford English Dictionary, infotainment didefinisikan sebagai broadcasting material which is intended both to entertain and to inform. Beragam acara televisi dikemas sedemikian rupa agar memiliki sisi hiburan. Acara berita olahraga misalnya dipandu oleh host dengan pakaian dan gaya pembawaan yang sporty. Pun demikian dengan acara yang memberikan informasi lainnya, diberikan sentuhan dalam pengemasan yang menghibur. Namun, pada perkembangannya infotainment mengalami perubahan banyak bahkan cenderung meleset dari apa yang dimaksudkan dari definisi infotainment di atas.

Yang semula infotainment berupa informasi serius namun terbilang pada soft news itu, kini kontennya hanya pada seputar kehidupan selebritas. Awalnya, infotainment jenis ini hadir di Indonesia ditayangkan RCTI yakni Buletin Sinetron. Tidak dibuat oleh RCTI, sebab Buletin Sinetron diproduksi oleh sebuah production house Bintang Advis Multimedia. Yang di kemudian hari rumah produksi ini lebih banyak memproduksi infotainment, baik untuk tayangan televisi maupun tabloid. Buletin Sinetron yang perdana hadir tahun 1994 ini seringkali mengulas tentang behind the scene atau di balik layar pembuatan sinetron. Ternyata kehidupan para pemain sinetron ternyata menarik pemirsa televisi.

Tak lama berselang, beberapa infotainmen serupa bermunculan di semua televisi swasta. Sepuluh tahun sejak kemunculan perdana infotainment, hampir 50 judul infotainment hadir. Melahirkan pula para pembawa acara infotainment yang tak kalah populer dengan para selebritas itu sendiri. Di luar sana muncullah nama-nama infotainer, sebutan untuk host infotainment ternama seperti Barbara Walters, Katie Couric, Keith Olbermann, Glenn Beck, Maury Povich, dan Deborah Norville.

Di Indonesia pembawa acara infotainment Fenny Rose sempat menjadi trend setter host infotainment dan bahkan olok-olok dengan meniru gaya bibirnya yang khas. Pembawa acara infotainment populer lainnya antara lain Irfan Hakim, Cut Tari, Indra Herlambang, Marissa Nasution, dan Yuanita Christiani.

infotainmentfoto: Diki Umbara

Bagaimana Infotainment Dibuat Hingga Tayang?

Tayangan infotainment masih menjadi perdebatan, hingga kini baru PWI atau Persatuan Wartawan Indonesia yang mengakui infotainment sebagai produk jurnalistik. Sedangkan lainnya meragukan itu bahkan tegas menolak, sebab beberapa kaidah jurnalisme kerap dilanggar para pekerja infotainment. Benarkah demikian? Berikut merupakan proses bagaimana infotainment diproduksi hingga ditayangkan televisi.

Tidak seperti halnya berita, nyaris tidak ada infotainment yang memiliki redaktur. Dalam infotainment, produser memiliki wewenang untuk mengurus bagaimana sebuah berita diliput hingga siap tayang. Dalam liputannya, akan ada beberapa reporter yang diterjunkan. Pengaturan reporter ke lapangan akan dilakukan oleh koordinator liputan, yang biasa disebut korlip atau diatur oleh produser itu sendiri. Di lapangan, reporter beserta cameraman melakukan liputan dengan mencari informasi ke narasumber serta melakukan wawancara. Selesai liputan, reporter akan membuat naskah untuk keperluan voice over atau narasi. Setelah naskah selesai, berikutnya perekaman suara. Seringkali reporter sendirilah yang menjadi narator. Proses penyuntingan gambar dilakukan pararel dengan kerja reporter berikutnya setelah editor mendapat materi liputan. Dan editor akan menyelesaikan penyuntingan gambar setelah mendapatkan narasi tadi. Pada beberapa rumah produksi, reporter mendampingi editor untuk memastikan hasilnya. Terakhir, hasil penyuntingan gambar yang biasanya berupa paket berita tersebut akan disupervisi oleh produser sehingga akhirnya dinyatakan layak tayang. Secara teknis, banyak kesamaan antara pembuatan infotainment dengan proses produksi berita. Jadi, apa yang menjadi keberatan sebagian orang tak mengakui infotainment sebagai produk jurnalistik?

Klarifikasi dari sumber berita seringkali tak diindahkan para pewarta infotainment, maka seringkali informasi menjadi tidak valid. Demikian pula dengan tak jarangnya klarifikasi pada misalnya subyek yang sedang berseteru. Kerap berita yang disuguhkan tidak proporsional dan komprehensif antara kenyataan dan narasi yang disampaikan. Serta alih-alih mengejar kebenaran, seringkali malah ikut memanas-manasi sesuatu yang sebetulnya masih simpang siur. Artinya, jika klarifikasi dari sumber berita saja malas dilakukan bagaimana mungkin infotainment bisa masuk pada kategori jurnalistik.

Menyoal Konten Infotainment

“Gosip terkadang sebenarnya sebuah kebenaran yang tertunda diketahui oleh orang banyak” terang Yuanita Christiani dalam suatu kesempatan. Penulis percaya pada kalimat ini. Tapi itu 10 tahun lalu, sebab kini gosip dalam infotainment banyak pula yang tidak terbukti kebenarannya. Kenapa hal ini bisa terjadi?

Persaingan antar acara infotainment salah satu penyebabnya. Ada kalanya persaingan ini tidak sehat. Maka beragam cara banyak pula dilakukan oleh para pembuat infotainment. Cara yang sempat terkuak juga oleh pemirsa pada akhirnya, ialah “berita settingan”. Berita setingan yang dimaksud berbeda dengan apa yang dimaksud sebagai agenda setting seperti pada teori-teori jurnalisme. Berita setingan acapkali sebagai kongkalingkong antara subyek berita dengan si peliput berita. Dibuatlah seolah ada konflik selebritas A dengan selebritas B. Yang paling umum tujuannya untuk mendongkrak selebritas tertentu. Atau untuk tujuan publisitas, entah itu album lagu atau film misalnya. Dan kerapkali berita settingan semacam ini tidak rapi, karenanya pemirsa mudah menebak kalau itu hanya gosip dan bukan fakta. Dan di Indonesia, praktek-praktek semacam ini hingga kini masih ada.

Masih terkait konten, ciri khas lain infotainment kita ada pada narasi yang bombastis. Tak jarang kita mendapati narator yang enak didengar padahal belum tentu perlu. Narasi yang provokatif dan dengan acap dengan kalimat ending yang sinisme. Pada suatu masa beberapa kali kejadian subyek baik itu selebritas atau orang yang dikaitkan dengan selebritas protes karena menganggap narasi atau kalimat yang disampaikan pembawa acara infotainment berdampak sebagai judge mental. Karenanya ada infotainment yang diprotes keras hingga dihentikan tayangannya.

Infotainment Kini dan Mendatang   

Masa kejayaan infotainment yang secara frekuensi pernah mendominasi program televisi sudah lewat. Namun bukan berarti infotainment kehilangan pemirsanya, sebab hingga kini acara infotainment masih eksis dan beberapa stasiun televisi menayangkan secara striping. NET misalnya, memiliki program infotainment Entertainment News yang tayang setiap hari. Dari situs resmi NET, Entertainment News disebutkan sebagai program yang menyuguhkan berita atau informasi menarik dari dunia entertainment, di dalam dan luar negeri berdasar pada fakta dan informasi. Sepertinya ingin menghapus kesan bahwa infotainment sebagai program gosip. Faktanya tanpa atau minim gosip, program infotainment masih disukai penonton yang kebanyakan dari kaum perempuan ini. Tak kurang dari 14 orang kreatif yang terlibat di dalamnya. Artinya acara infotainment saat ini digarap dengan lebih serius. Sementara MNCTV juga memiliki program andalan infotainment yakni Seleb On News yang ditayangkan dua minggu sekali.

Kembalinya kemasan serta konten infotainment ke jalan yang nyaris benar ini tidak serta merta karena si pembuat acara juga. Sebab kritik dari masyarakat, bahkan suatu masa pernah ormas Islam menyatakan haramnya tayangan infotainment, membuat pembuat baik itu production house maupun stasiun televisi berpikir ulang untuk membuat tayangan infotainment yang walaupun bukan gosip, masih bisa menghibur.

Kabar baiknya, pemirsa yang semakin cerdas, pembuat acara televisi yang tak asal-asalan, serta pemodal media yang tak memikirkan bisnis semata, akan menjadi harapan ke depan bahwa acara televisi di Indonesia bisa semakin baik. Termasuk program infotainment juga tentunya. Bisa jadi.

Teknologi Broadcasting Televisi 4K, Lebih dari Sekadar Jernih dan Bening

Teknologi Broadcasting Televisi 4K, Lebih dari Sekadar Jernih dan Bening
Diki Umbara

Teknologi broadcasting televisi nampaknya akan terus berkembang hingga barangkali akan berhenti pada titik di mana gambar dan suara sudah benar-benar sempurna. Atau inovasi akan terus berlanjut dan kita tidak bisa benar-benar menebaknya. Yang dianggap canggih setahun lalu akan dirasa kuno saat ini, dan terus akan begitu.

Kecepatan inovasi teknologi seringkali melampaui kebutuhan dari konsumen, termasuk teknologi audio visual. Produsen melalui para insinyurnya terus mengembangkan teknologi audio visual sehingga kadangkala konsumen sebetulnya belum perlu benar dengan apa yang dilahirkan oleh produsen tersebut. Jadi saat ini, bukan sekadar gambar dan suara bening saja sebab lebih dari itu konsumen telah benar-benar dimanja sehingga apa yang dilihat dan didengar akan lebih terasa seperti benar adanya.

Teknologi yang audio visual yang dimaksud saat ini adalah 4K Ultra HD TV atau biasa disebut UHD TV. Produsen yang mengembangkan teknologi ini dimulai dengan Samsung, LG, dan Sony. Dan tentu saja menyusul dengan produsen lainnya. Secara teknis Ultra High Definition merupakan derivasi dari kamera 4K yang hasilnya digadang-gadang lebih memiliki nuansa dan detail yang lebih sempurna ketimbang generasi sebelumnya.

Teknologi 4K memiliki piksel horizontal sebanyak 4.000, semula teknologi ini diterapkan pada proyektor Digital Cinema Initiatives atau DCI yang diperuntukan bagi bioskop, namun kini teknologi ini telah diterapkan pada pesawat televisi. Dan persisnya 4K memiliki dimensi 4096 X 2160 piksel. Namun UHDTV atau Ultra High Definition Television ini sebenarnya memiliki resolusi 3840 X 2160 piksel (16 : 9) merupakan perkembangan terbaru setelah high definition television 720p atau 1080p.

Broadcasting Televisi

Teknologi brodcasting atau penyiaran televisi mau tak mau akan mengakomodir dari televisi sebagai produk home use yang dipasarkan, dan teknologi ini kerapkali saling susul menyusul. Ada kalanya teknologi penyiaran televisi lebih dulu mengeluarkan high teknologi, di lain kesempatan televisi bahkan bisa melampaui teknologi penyiaran televisi.

Salah satu yang berkaitan langsung dengan teknologi 4K ini adalah kamera. Maka produsen kamera berlomba-lomba untuk mengeluarkan pelbagai jenis kamera 4K. Tak hanya produsen pemain lama seperti Sony, Panasonic, dan JVC saja sebab pemain baru seperti Black Magic dan Red tak ketinggalan pula untuk bersaing dalam menghadirkan kamera yang support 4K.

Memilih Kamera 4 K

Selalu ada dua hal yang ketika teknologi audio visual dikeluarkan termasuk kamera video, yakni kebutuhan home use dan peruntukan profesional. Ada kalanya output yang dihasilkan sebetulnya menyerupai hanya saja atau memang benar-benar sama, yang secara kasat mata membedakan lebih pada ukuran atau kontruksi kameranya. Jadi secara sekilas bisa dilihat, mana untuk peruntukan profesional dan mana untuk kebutuhan amatir.

Memilih kamera 4K secara umum sebetulnya sama dengan memilih kamera generasi sebelumnya. Hal yang mesti diperhatikan sedari awal yakni: Kemampuan pengguna, ease of use atau mudah digunakan, kualitas, kompabilitas, dan terkhir yakni budget.

Kemampuan pengguna alias a man behind the gun merupakan faktor utama ketika kita hendak memutuskan membeli kamera. Secanggih apapun kameranya tentu akan percuma ketika kemampuan penggunanya tidak mumpuni. Kamera canggih hanya akan jadi onggokan mahal yang tak digunakan maksimal.

Ease of use, ada kalanya produsen menciptakan pelbagai fitur baik berupa menu yang tersedia dalam kamera tersebut atau fitur berupa hardware dengan sitim tombol, sentuh, atau putar. Namun ketersediaan fitur tersebut ada kalanya tidak easy to use. Alih-alih bisa memudahkan, ada kalanya itu justru membingungkan si pengguna. Karenanya kamera ease of use harus menjadi pertimbangan utama juga.

Kualitas kamera 4K menjadi pertimbangan berikutnya. Ya tentu saja kamera 4K untuk keperluan pro-sumer akan berbeda dengan kamera 4K untuk kebutuhan profesional. Salah satu kelebihan pada profesional misalnya ada teknologi untuk low light yang dibutuhkan untuk keperluan profesional.

Kompabilitas merupakan hal yang juga perlu diperhatikan. Untuk kebutuhan audio misalnya, kamera profesional 4K akan mengakomodir kebutuhan audio external yang harus menggunakan kabel XLR untuk keperluan mikropon. Ini biasanya tidak diakomodir oleh kamera walapun resolusi 4K namun ia untuk kebutuhan prosumer. Jadi ketika kebutuhan audio saat perekaman dirasa penting, maka kompabilitas kamera teradap kebutuhan mikropon eksternal ini juga harus diperhatikan. Kompabilitas lainnya yang mesti diperhatikan adalah file yang dihasilkan oleh kamera 4K yang pastinya berukuran lebih besar. Ini akan berkaitan dengan editing pada nantinya. Secara teknis, file hasil shooting dari kamera 4K harus bisa diimpor dengan AVCHD secara mudah.

Budget atau anggaran, ada kalanya justru ini diperhatikan sedari awal. Kenapa disusun seperti kebutuhan akhir, karena asumsinya pembaca akan membeli kamera profesional 4K di mana budget memang sudah dipersiapkan sedari awal. Semakin banyak fitur dan kompabilitas kamera lebih bagus, maka sudah tentu harganya akan jauh lebih mahal apalagi jika dibandingkan dengan kamera 4K pro-sumer.

Beberapa Kamera 4K

Kamera prosumer perdana dengan resolusi 4K dikeluarkan oleh Sony dengan type AX100. Dengan berat hampi 1 kg kamera ini dibandrol dengan harga di bawah 30 juta rupiah. Masih dari Sony, ada tipe lain yakni XA1000 yang merupakan pilihan beberapa videografer. Untuk kelas profesional, Sony meluncurkan PXW-Z100. Inilah kamera yang digadang-gadang sebagai kamera yang bisa merekam benar-benar 4K yakni 4096×2160 piksel dan UltraHD 3840×2160. Kamera ini memiliki output untuk codec MXF, salah satu codec standar yang telah diakomodir oleh software editing. Tentu saja hal ini perlu sebab ini berkaitan dengan kompabilitas seperti pada penjelasan di atas tadi. Untuk fitur yang lebih lengkap dengan lensa jenis G, Sony merilis kamera PXW-Z100, kamera yang dilengkapi dengan sensor CMOS Exmor R.

Tak mau ketinggalan, produsen kamera JVC, belum lama merilis kamera 4K dengan tipe HM-200 yang sebelumnya mengeluarkan tipe HM-170. Salah satu kelebihan GY HM-200 dibanding HM-170 yakni output XLR. Tentu saja ini perlu untuk kepentingan perekaman audio secara profesional. Kabar baiknya, jenis kamera yang dikeluarkan JVC ini jauh lebih murah daripada kamera dengan spesifikasi sejenis yang dikeluarkan Sony.

Dari produsen Panasonic mengeluarkan HC-X1000 sebagai kamera dengan teknologi 4K perdana. Ini merupakan kamera yang banyak direkomendasikan oleh beberapa pengguna. Kamera tipe HC ini mampu melakukan perekaman 4K Ultra HD pada 60p dalam SD Card. Terobosan dari Panasonic lainnya justru pada DSLR, Lumix DMC-GH4 4K Mirrorless merupakan kamera foto dan video yang digunakan para profesional. Kamera tipe ini memiliki output 16.05-megapixel dengan digital live MOS sensor.

Walapun dianggap pendatang baru, Black Magic selalu mendapat perhatian ketika ia merilis produk terbarunya. Nama tipe kameranya cukup unik, The Ursa, namun menjadi jaminan kalau kamera keluaran Black Magic ini benar-benar 4K. Bentuk kamera yang simpel dari setiap kamera keluaran Black Magic rupanya menjadikan kamera ini inceran di kalangan pro-sumer.

Barangkali ini menjadi jagoan di atas jagoan, Red One. Tak hanya di kalangan videografer, kamera besutan Red selalu mendapat perhatian para sinematografer. Tidak sedikit film layar lebar yang produksinya dibuat dengan kamera ini. Kamera 4K buatan Red ini bentuknya memang kaku tapi tampak sangat kokoh justru disukai oleh para profesional. Jauh sebelum teknologi 4K dihadirkan di rumah, Red telah lebih dulu merilis kamera ini.

Kanal Televisi Dengan Teknologi 4K

Walapun teknologi sudah mengakomodir beragam kebutuhan 4K, nyatanya baru sedikit saja televisi yang telah menggunakan teknologi ini. Dan tepatnya bukan 4K murni, namun seperti penjelasan di atas yakni Ultra HD 1. Stasiun televisi tersebut di anataranya NHK Jepang serta BBC Inggris. High Television atau seringkali disebut High 4K sudah dimulai untuk kanal entertainment, lifestyle, extreme sport, dan film. Kanal-kanal ini nampaknya memang “paling urgent” diutamakan ketika teknologi Ultra HD 1 diperkenalkan. Tak sekadar jernih dan bening, acara-acara pada kanal-kanal ini membutuhkan detail yang baik dan teknologi high 4K memungkinkan dalam mengakomodir kebutuhan ini.

Masa Mendatang                     

Seperti di awal tulisan ini, bahwa teknologi akan terus berkembang dan karenanya inovasi tak henti-hentinya dihadirkan. Secanggih apapun ruapanya teknologi bukan tanpa “cacat”. Alih-alih pure 4K yang beresolusi 4096×2160, bahkan televisi Ultra HD 3840×2160 atau UHD Television sudah dikeluhkan oleh konsumen. Gambar yang terlalu jernih dan bening dianggap terlalu kontras untuk mata. Maka jarak pandang layar televisi dengan matapun tidak bisa dekat. Yang berarti perlu space yang ekstra untuk menata penempatan pesawat televisi. Ini berarti sedang atau akan dirancang sebuah inovasi di mana bukan sekadar gambar dan suara yang jernih dan bening, lebih dari itu bangaimana agar mata dan telinga tetap nyaman.

Reality Show, Realitas di Layar Televisi

Reality Show, Realitas di Layar Televisi
Diki Umbara

Program televisi reality show pernah menjadi begitu populer di Indonesia. Sangat terkenal dimulai dari acara Spontan di SCTV tahun 1995, hingga menyusul puluhan reality show di stasiun televisi yang sama dan lainnya. Walaupun beda jam tayang, format reality show telah menjadi alternatif lain setelah sinetron yang telah jauh lebih memikat pemirsa. Dalam suatu kesempatan reality show pernah mendapat share hingga 20 persen, hal yang biasanya hanya didapat oleh acara sinetron atau sepak bola.

 

Dari Masa ke Masa

Di Amerika danEropa, sejarah tayangan reality show memiliki rentang waktu yang panjang. Tahun 1940-1950 reality show sudah diperkenalkan dengan konsep sederhana. Juru kamera melakukan perekaman pada subyek-subyek di mana mereka tidak melakukan adegan berdasarkan naskah, karenanya subyek memang tidak diberikan naskah dan tidak diarahkan. Pada 1960-1970 reality show sudah dimodifikasi sehingga sudah bisa disebut sebagai format yang modern dan kompleks. Tahun 1980-1990 merupakan era game show mulai ditampilkan ditelevisi. Walaupun game show pada akhirnya merupakan format tersendiri, namun kebanyakan game show merupakan reality show juga atau setidaknya gam show adalah format turunan dari reality show. Tahun 2000-an hingga saat ini format reality show sudah melibatkan talent. Di antara reality show yang hingga kini masih digemari banyak penonton yakni ajang pencarian bakat. Tak pelak lagi, ajang bakat bisa dibuat hingga beberapa sesi.

Reality show berkembang di Amerika dan Eropa dengan dengan ciri masing-masing lantas menyebar ke negara-negara lain, baik dalam bentuk adaptasi maupun memang dibuat serupa. Berikut beberapa perkembangan reality show yang populer dari tahun ke tahun:

  • 1948 Candid Camera digagas oleh AllenFunt. Ada yang mengatakan ini menjadi prototype reality show.
  • 1945-1950 Queen for a Day
  • 1946 Cash and Carry
  • 1950 Game show Beat the Clock
  • 1950 Confession. Reality show dengan interviewer JackWyatt. Confession merupakan reality show dengan fokus pada masalah kriminal.
  • 1965-1986 The American Sportsman reality show yang dibuat ditayangkan di televisi ABC Amerika. Ini merupakan reality show yang memperlihatkan kegiatan sehari-hari artis dan keluarganya. Dialog pada acara ini tanpa naskah.
  • 1966 Chelshea Girls ,merupakan reality show dengan konsep direct cinema.
  • 1980 Real People denganproduser terkenal George Schalter di NBC yangkemudiandiikuti diikuti oleh ABC
  • 1989 COPS sebuah reality show terkenal di televisi Fox. Konsep yang digunakan yakni cinema verite
  • 1991 Nummer 28 hadir di televisi Belanda, konsep acara reality show yang melibatkan orang asing
  • 1992 The Real World di MTV terinspirasi dari Nummer 28 yang diciptakan ErikLatour
  • 1997 Expedition Robinson dengan producer Charlie Parson di Swedia. Ini merupakan tonggak reality show yang menggunakan metode kompetisi dan eliminasi.
  • 1996 Changing Room, pasangan dalam acara reality show ini bertukar rumah. Talent melakukan perubahan pada rumahyang ditempati sertamelakukan make over.
  • 1998 Streetmate, reality show yang terkenal di Inggris ini dibuat oleh Gabe sach. Ini merupakan dating reality show. Lalu di Amerika diadaptasi menjadi .
  • 2000 Big Brother, Survivor, American Idol. Inilah era puncak reality show di seluruh dunia. [sumber: wikipedia]

Berkembang dari tahun 1990 hingga 2000 lebih dari 30 jenis reality show diadaptasi. Dalam singing competition ada Idols, Star Academy, The X Factor. Ajang bakat atau talent show: Got Talent, Top Model, Masterchef. Dan yang merupakan reality game show: Deal or No Deal, WhoWants To Be Amilionaire dan Waekes Link diadaptasi lebih dari 50 negara. Di India, Indian Idol sangat populer hingga sesi 6.

Beragam Varian Genre Reality Show

Mulanya reality show dianggap sebagai acara yang tanpa skenario dan apa adanya. Barangkali hal ini karena dari penamaan genre itu sendiri “reality show” atau pertunjukkan realitas. Namun yang dianggap sebagai realita apa adanya ini nyatanya menuai kritik. Karenanya program reality show dianggap menjadi acara yang “scripting without paper”. Dan pada perkembangannya, acara feature reality show melahirkan genre-genre baru.

Di antara genre tersebut ada yang memilah menjadi: gamedoc, dating program, makeover program, docusoap, talent contest, court program, reality sitcom, dan celebrity variations.

Gamedoc format permainan dikemas untuk tayangan di televisi. Dating program, menyatukan pasangan yang sebelumnya tidak saling mengenal. Pada program ini dipilih pasangan mana yang memiliki kecocokan satu sama lain. Take Me Out merupakan salah satu reality show dating program yang sukses dan banyak diadaptasi diberbagai negara. Make over program, mengubah penampilan seseorang menjadi lebih menarik. Bisa juga mengubah ruang bahkan rumah. Music Television atau MTV pernah memiliki program make over. Docusoap, reality show yang menempatkan beberapa talent di suatu ruang tertentu sehingga akan muncul beragam konflik. Talent contest atau ajang pencarian bakat, inilah reality show yang paling banyak peminatnya baik dari sisi kontestan maupun pemirsanya. Idols, Masterchef, X-Factor, dan The Voice adalah contoh talent contest yang dikemas sedemikian rupa sehingga menjadi show yang tampak sangat grande.

Kategorisasi lain ada pula yang berdasar: Real-life participants yakni acara reality show dengan mengambil pemain bukan yang bukan aktor. Unscripted performance, dibuat dengan tidak menggunakan nakah samasekali, si pembuat sengaja membuat situasi. Voice over narration, pengadegan diambil seperti apa adanya namun nantinya dibuat narasi untuk voice over. Observation/ surveillance, pengamatan atau pengambilan gambar dengan hidden camera atau kamera tesembunyi. Voyeurism, emosi yang ditampilkan adalah nyata. Dan terakhir adalah audience participant, yakni reality show dengan melibatkan audiens “siapapun”.

Cinema Verite dan Direct Cinema dalam Reality Show

Pendekatan pembuatan reality show tak lepas juga dengan sejarah perfilman. Setidaknya ada dua pendekatan dalam pembuatan film yang juga berpengaruh pada pembuatan reality show yakni Cinema Verite dan Direct Cinema. Cinema Verite mengetengahkan realita secara sederhana dan apa adanya, yang diyakini dapat mempertahankan dan menjaga spontanitas aksi dan karakter lokasi otentik sesuai realita. Karenanya, ada yang menyebut pendekatan ini sebagai Spontaneous Cinema atau etnographic film.

Gaya Cinema Verite yang oleh Michael Rabinger dianggap sebagai semangat awal pembuatan film dokumenter ini kemudian baru berkembang di Amerika pada dekade 1960-an, dengan nama Direct Cinema. Perbedaan kedua pendekatan ini ada pada cara membangun dramatika atau konflik. Jika Cinema Verite cenderung agresif, maka Direct Cinema nampak lebih pasif. Bahkan, Cinema Verite terkadang menjadi provokator atas terjadinya konflik dalam film. Berbeda dengan Direct Cinema yang cenderung menunggu apa yang terjadi di depan kamera.

Pengaruh pendekatan pembuatan film dokumenter ini berpengaruh pula pada pembuatan reality show. Oleh karenanya bisa kita lihat bagaimana perbedaan reality show yang dibuat oleh negara Eropa dan reality show yang dibuat Amerika. Perbedaan juga akan terlihat dari bagaimana suatu negara mengadaptasi reality show dari negara semula. Hal ini biasanya sangat terkait oleh budaya masing-masing negara. Maka misalnya acara ajang bakat memasak Masterchef UK akan berbeda dengan Masterchef Aussie, pun akan berbeda dengan Masterchef India dan Masterchef Indonesia.

Reality Show di Indonesia

Tidak kurang dari 50 acara reality show menjamur ditayangkan televisi Indonesia, namun demikian acara reality show di negara kita “telat” 30 tahun dibanding televisi yang ada di Amerika. Reality show baru berkembang tahun 90-an. Namun jika game show masuk pada genre reality show, maka tahun 80-an tentu sudah ada dimana TVRI masih mejadi satu-satunya televisi di Indonesia. Awal 90-an era televisi swasta berkembang, berbagai format acara yang sebelumnya tidak adapun menjadi ada dan bervariasi termasuk format reality show.

Merunut pada berbagai varian genre reality show, maka beragam reality show ditelevisi Indonesia terus bermunculan, baik sebagai program adaptasi, franchaise, maupun yang benar-benar asal jiplak. Bagaimana sebuah acara televisi dijiplak oleh production house atau televisi, pada kesempatan lain akan menjadi bahasan sendiri.

Sudah ada puluhan acara reality show datang dan pergi meninggalkan layar televisi di Indonesia. Acara reality show tersebut di antaranya Paranoid, Katakan Cinta, Tolong, Bedah Rumah, Kena Deh, Ketok Pintu, Temehek-mehek, Dunia Lain, Play Boy Kabel, Uang Kaget, Realigi. Belum termasuk reality show yang diadaptasi atau hasil dari franchise di antaranya Super Trap, Big Brother Indonesia, Masterchef Indonesia, Indonesian Idols, Indonesian Top Models, Indonesian Got Talents, dan Hell Kitchen.

TV Reality, Kanal Khusus Reality Show

Banyaknya minat pemirsa pada acara-acara genre reality show menjadi bidikan tersendiri bagi para pebisnis kanal atau saluran-saluran televisi. Maka kini terdapat beberapa kanal televisi yang isinya dikhususkan bagi genre ini. Kanal-kanal itu sebagian besar ada pada pay television atau televisi berbayar, di antaranya: Fox Reality (Amerika), Global Reality Channel (Kanada), Zone Reality (Inggris), Cravo, E!, TLC, dan History. Acara krimininal, fashion, gaya hidup, hingga sejarah menjadi pilihan spesifik kanal televisi reality ini. Seperti pada kanal-kanal televisi lain di televisi berbayar, kanal-kanal ini ada selama duapuluh empat jam dengan tiga atau dua pengulangan/rerun setiap harinya.

Sukses di televisi, biasanya akan diikuti juga dalam bentuk home video. DVD serial reality show bisa didapat untuk memenuhi pemirsa yang ketinggalan dalam menyaksikan reality show kesukaannya. Acara reality show yang dikemas dalam cakram DVD antara lain Laguna Beach, The Real Orange Country, The Amazing Race, Project Runaway, serta America’s Top Model.

Reality Show Saat Ini

Tahun 2014 lalu majalah mingguan Week Entertainment mencatat bahwa reality show telah mengalami stagnasi. Puncak kejayaan reality show ada pada rentang 90-an hingga 2000-an. Itu terjadi di Amerika, Eropa, dan Asia. Acara ajang bakat suara seperti The Voice yang dibesut oleh John De Mol sukses diadaptasi oleh 50 negara di dunia. Namun di Indonesia, acara yang ditayangkan di Indosiar ini tergolong kurang sukses. Berbeda misalnya dengan X-Factor yang ditayangkan oleh RCTI. Bisa jadi ada beberapa faktor kenapa The Voice yang sangat populer di Amerika itu kurang diminati pemirsa Indonesia. Pasang surut reality show yang didadaptasi banyak negara ini tampak juga pada Indonesian Idol, ada sesi yang sukses ada juga sesi yang biasa saja.

Acara reality show, utamanya talent show yang melibatkan para talent yang banyak ternyata tidak benar-benar mati. De Academy dan The Terong Show hingga kini bisa meraih rating dan share yang sangat tinggi dan sering kali masuk pada jajaran top three raihan rating dan share di televisi Indonesia.

Kreatifitas dan Adaptasi

Inggris, bisa dibilang sebagai negara yang paling produktif menciptakan acara-acara reality show yang takhanya populer di negaranya sebab beberapa reality show besar lahir di sana dan banyak diadaptasi oleh puluhan negara lain. Di Inggris, creative house berkembang pesat. Creative house konsentrasi pada pembuatan bagaimana sebuah program akan menarik. Dari ide hingga akhirnya menghasilkan production’s bible yang nantinya menjadi semacam paduan bagi siapapun yang mengadaptasi program yang mereka ciptakan.

Kreatfitas tanpa batas bukan menjadi basa-basi, sebab creative house tak dibebani apa yang dialami oleh production house atau stasiun televisi. Creative house tidak memikirkan bagaimana pembiayaan sebuah produksi reality show. Mereka ”hanya”mencipta dan terus mencipta. Reality show bisa dicipta darimana saja, The taster misalnya merupakan reality show yang terinspirasi video game.

Reality Show yang Menuai Kritik

Sebagai program televisi yang banyak dinikmati orang utamanya untuk hiburan, reality show juga menuai banyak kritik. Sebagian orang meragukan apakah reality show benar-benar dibuat tanpa skenario? Karena sebetulnya reality show walau seolah tanpa naskah, ia memiliki semacam naskah awal atau pre-script yang dikenal dalam dokumenter. Dalam reality show nyatanya ada premediated scripting. Demikian pula dengan akting di dalamnya, beberapa reality show didalmnya ada talent yang diakui atau tidak, ada akting didalamnya. Yang paling kentara tentu saja ada editing. Semenjak era tahun 1993 beberapa realityshow memasukan footage lain karena sudah dikenal dengan non linear editing ini diawali oleh kehadiran Avid Editing System. Ya artinya”keutuhan” reality show sebetulnya sudah terkontaminasi oleh penyuntingan gambar tadi.

Namun kritik yang paling nampak justru bukan dari para pemerhati acara televisi. Kritik hadir dari pemirsa awam. Untuk acara ajang bakat, beberapa penonton meragukan independensi para juri. Ini tak hanya di Indonesia, di luar sana pun demikian. Budayawan Goenawan Muhamad dalam satu cuitan di twitter pernah mengatakan “Jika tak bisa mendidik, setidaknya acara televisi jangan membohongi publik”. Ia tentu saja tak mengkhususkan pada acara televisi tertentu. Beberapa tahun silam acara reality show dengan konsep candid camera juga mendapat banyak kritik, karena salah satu acara reality show bahkan nyaris mendapat korban. Di kemudian si pengelola acara minta maaf dan acara tersebut dihentikan. Stasiun televisi yang meyiarkan serta si pembuat acara televisi termasuk reality show, jika abai pada kritik dari masyarakat tentu akan merugi. Bisa jadi acara televisi benar-benar akan ditinggalkan.

 

 

 

 

Kerjasama Televisi, Production House, dan Pihak Lainnya

Kerjasama Televisi, Production House, dan Pihak Lainnya
Diki Umbara

Banyak pertanyaan seputar bagaimankah melakukan kerjasama dengan pihak televisi. Jika tidak tepat pada jalurnya memang, jangankan bisa kerjasama karena yang ada malah tersesat berjumpa dengan orang yang tidak tepat atau tidak berkompetensi dalah hal kerjasama. Pada akhirnya televisi juga tidak bisa berdiri sendiri sebab ia memerlukan partner. Bahkan mestinya sebagai broadcasting sesuai namanya, televisi hanya menyiarkan saja sedangkan konten bisa didapat dari pihak lain.

 

Ada beberapa helatan television broadcasting expo, di mana salah satu agenda besarnya merupakan pertemuan antara pihak televisi sebagai buyer dan para agent yang memiliki lisensi beragam acara televisi. Helatan tahunan ini dilakukan di Singapore, China, Inggris dan Amerika. Selain agent dan televisi, pada acara ini juga dihari oleh pihak dari creative house, production house, agency, maupun personal. Selepas pertemuan itu biasanya televisi akan segera memutuskan untuk membeli program mana yang akan ditayangkan di televisi mereka.

Jauh sebelum mengirimkan perwakilannya ke ajang expo, direktur programming bersama tim acquisision program mendiskusikan tentang program-program televisi apa yang akan dibuat sendiri atau in house production dan program mana yang harus mereka beli atau joint venture. Kebijakan apakah akan buat sendiri atau membeli dari pihak lain diperhitungkan dengan matang, hal itu misalnya melihat dari sumber daya manusia yang mereka miliki apakah akan sanggup membuat acara tersebut atau tidak, juga tentang apakah cost yang dikeluarkan jika suatu acara dibuat sendiri bisa jauh lebih murah atau malah sebaliknya.

icgmagazinefoto: icgmagazine

Beberapa program sangat besar biasanya televisi akan melibatkan setidaknya dua pihak: dengan pihak si pemilik program dimana televisi akan membayarkan royalti atas lisensi yang digunakan serta pihak production house yang akan melakukan produksi. Namun bisa saja televisi hanya membayar royalti atas lisensi suatu program, misalnya program-program televisi ajang pencarian bakat. Di Inggris ada sebuah perusahaan di mana ia menghasilkan beragam format acara, creative house semacam itu sudah lazim ada di Inggris dan di Amerika. Bagaimanakah kerjasama televisi di dalam negeri?

Tiga Macam Kerjasama

Untuk kepentingan tayangnya sebuah acara di televisi yang melibatkan pihak luar adalah dengan cara kerjasama. Setidaknya ada tiga jenis atau macam cara kerjasama yang biasanya dilakukan televisi. Pihak yang paling banyak diajak kerjasama oleh televisi adalah production house atau rumah produksi, berikunya adalah agency dan intansi.

Blocking Time

Pada dasarnya televisi memiliki air time yang bisa ia jual pada hampir siapapun. Air time atau waktu tayang bisa diisi oleh tak hanya televisi itu sendiri. Harga sebuah air time sangat beragam tergantung dari televisi mana dan pada jam berapa air time tersebut. Air time pada jam-jam prime time atau waktu utama penonton tentu akan berbeda dengan jam-jam bukan prime time. Demikian juga harga air time di televisi lokal akan berbeda dengan televisi yang memiliki jaringan nasional. Dan hal lain adalah durasi atau panjangnya air time. Harga air time tiga puluh menit akan berbeda dengan harga air time satu jam.

Blocking time berarti televisi menyediakan waktu sedangkan pihak lain menyediakan materi tayang. Dengan kesepakatan tertentu, suatu acara akan ditayangkan di televisi tertentu dengan membayar air time tadi. Namun demikian, siapapun pembeli air time baik production house, agency, intansi, bahkan pribadi sekalipun harus memenuhi kriteria umum atas konten atau materi tayang tersebut. Materi tayang akan harus sudah melewati atau mendapat izin tayang dari lembaga sensor. Secara teknis juga amteri tayang akan melewati tahapan quality control dari televisi yang bersangkutan. Secara sederhana, blocking time itu artinya kita membeli waktu yang dimiliki televisi. Pada televisi lokal, acara seremonial sebuah perusahaan bisa ditampilkan di televisi tersebut dengan melakukan blocking time.

Lalu apakah dalam blocking time boleh beriklan? Karena pada dasarnya kita yang telah membeli air time pada televisi tersebut, artinya kita memiliki hak atas waktu yang berarti kita setiap slot iklan pada acara blocking time menjadi milik si pembeli air time. Misal pada acara 30 menit blocking time, bisa diisi penuh oleh isi acara atau setidaknya bisa memiliki enam menit unttuk slot iklan jika konten acara berdurasi dua puluh empat menit. Artinya apakah blocking time itu seluruhnya dipakai untuk konten acara atau dibuat segmentasi sehingga ada jeda iklan di setiap segmennya. Blocking time biasanya dilakukan oleh perusahaan yang ingin menayangkan acara yang berkaitan dengan produk atau jasanya serta intansi pemerintah untuk mengkampanyekan visi dan misinya.

Jual Putus

Inilah metode yang paling digemari oleh production house, sebab televisi akan membeli program dari production house dengan kriteria yang tentu saja sudah disyaratkan oleh televisi. Di Indonesia, program-program televisi yang menggunakan metode jual putus biasanya acara-acara fiksi seperti sinetron atau FTV. Jadi televisi akan membeli program yang dibuat oleh production house yang dituangkan ke dalam sebuah perjanjian, tentang berapa episode, harga masing-masing episode, dan metode serta termin pembayarannya kan tercantum di sana. Karena dalam hal ini televisi pada pihak si pembeli program, maka biasanya ia akan sangat selektif dan tak jarang akan ikut intervensi dalam konten acara tersbut. Sering terjadi misalnya televisi menginginkan artis tertentu atau tema cerita tententu sesuai yang televisi inginkan. Dalam perjanjian juga biasanya ada klausul tentang rating dan share yang harus dicapai program tertentu. Berapa kisaran harga sebuah program dibeli oleh televisi? Ini juga tergantung dari beberapa hal, durasi atau panjangnya program, akan ditayangkan pada hari dan jam berapa, serta harus mendapat perolehan rating dan share berapa. Semakin bagus share dan rating program tersebut maka akan semakin mahal program tersebut dibeli pihak televisi.

Dengan jual putus, televisilah yang berhak atas seluruh iklan yang ada pada program tersebut nantinya. Karenanya televisi akan menjual slot iklan tersebut untuk memperoleh keuntungan atas program yang mereka beli dan tayangkan.

Profit Sharing

Cara atau metode ke tiga dari kerjasama televisi dengan pihak lain yaitu profit sharing. Ini seperti jalan tengah antara blocking time dan jual putus. Profit sharing dilakukan ketika biaya pembuatan program keseluruhannya ditanggung production house, sedangkan televisi menyediakan air time atau waktu tayang. Televisi tidak membeli program tersebut, production house tidak dibebankan membayar air time. Lalu dari mana keduanya mendapat keuntungan? Iklanlah yang dibagi dua, jadi dari pemasang iklanlah tv dan ph akan mendapat penghasilannya. Tentang bagaimana slot iklan itu dijual tentu tertuang juga di dalam klausul perjanjian kerjasama dengan model profit sharing ini.

Dengan setidaknya ada tiga model kerjasama ini, televisi dan PH bisa memilih program mana yang cocok dilakukan kerjama dengan model blocking time, jual putus, atau profit sharing. Intinya bagaimana agar kerjasama itu akan menguntungkan kedua belah pihak.

Menjual Ide

Ini juga seringkali menjadi pertanyaan sebagian orang yang ingin kerjasama namun belum tahu bagaimana mekanisme suatu program bisa ditayangkan di televisi. “Saya ada ide keren dalam program televisi. Bagaimana saya menjual ide itu? Siapa ya yang harus saya temui?” Begitulah per orangan yang ingin ide atau gagasannya bisa tayang di televisi. Jika di luar sana ada creative house yang tidak sekadar ide acara televisinya yang bisa dibeli, nampaknya ini masih ada keulitan di Indonesia. Perorangan agak sulit untuk bisa bekerjasama dengan televisi. Yang paling memungkinkan ialah melalui production house atau agency. Masih jarang televisi yang menggunakan jasa freelancer creative karena di televisi sendiri untuk urusan kreatif bahkan ada departemennya sendiri.

Proposal acara baiknya dibuat sedetail mungkin namun tidak bertele-tele. Untuk keperluan presentasi buatlah materi presentasi semenarik mungkin, dengan menambahkan unsur multimedia akan lebih bagus lagi. Orang programing bisa jadi tak banyak waktu untuk mendengarkan presentasi yang rumit. Karenanya dengan presentasi visual akan lebih meyakinkan. Dari awal mesti dibuat jelas: seperti apa format acaranya, apa genrenya, segment penontonnya siapa, bagaimana konten setiap epiodenya. Jangan pernah mengklaim kalau acara itu original, sebab kini sudah begitu banyak format acara televisi di dunia. Jadi tentu saja harus berhati-hati dalam hal ini, jangan sampai kita dituduh menjiplak suatu acara tertentu.

Untuk lebih meyakinkan lagi, baiknya dibuatkan dummy atau pilot project. Memang memerlukan biaya yang bisa jadi tidak sedikit, namun dengan dummy sudah akan terlihat apakah acara yang dipresentasikan itu menarik atau tidak.

Candid Camera, Bukan Sekadar Menyembunyikan Kamera

 Candid Camera, Bukan Sekadar Menyembunyikan Kamera
Diki Umbara

 

Rutan Salemba siang itu ramai seperti biasanya. Di pintu gerbang, penjagaan terlihat wajar. Bahkan tidak nampak lebih ketat ketimbang kedutaan Amerika Serikat. Beberapa pengunjung antri melewati dua lapis pintu masuk. Di lapis ke dua inilah pemeriksaan nampak benar-benar dilakukan.

Di antara puluhan pengunjung saat itu ada seorang pemuda yang juga ikut antri, sama seperti yang lain ia melewati pemeriksaan petugas. Namun ada yang tidak disadari oleh petugas penjaga rumah tahanan, pemuda tadi sudah dan masih melakukan perekaman video. Bagaimana bisa?

Candid camera merupakan tehnik pengambilan gambar di mana subyek yang direkam tidak menyadarinya sebab si perekam tidak nampak seperti sedang melakukan pengambilan gambar. Kenapa mengambil gambar harus secara diam-diam? Dari sinilah sebetulnya upaya candid camera harus dilakukan atau tidak. Ya, candid camera bukan sekadar menyembunyikan kamera. Lebih dari itu ada beberapa hal yang mesti diperhatikan, saat persiapan juga pada waktu berlangsungnya pengambilan gambar tersebut.

Beragam Spy Cam

Saat ini telah banyak alat untuk melakukan perekaman gambar dengan tersembunyi di mana subyek yang direkam tidak akan menyadarinya. Beragam spy cam dibuat sedemikian rupa baik yang dikenakan oleh si pengguna atau “sekadar” di taruh di tempat tertentu. Dan beragam alat ini tidak sulit didapat karena ada banyak toko yang menjajakannya atau bisa dipesan melalui toko online di internet. Alat pengintai yang semula hanya ada di film-film spionase semisal James Bond, kini bisa dibeli siapa saja.

Melihat perkembangannya, apapun kini nampaknya bisa dipasangi lensa kamera yang pada akhirnya bisa merekam serta menyimpan hasil rekamannya. Industri melihat peluang ini, maka beragam produk kamera pengintai kini sudah banyak variannya. Di antara produk tersebut di antaranya, Spy Pen kamera pengintai yang ditanam di dalam sebuah bullpoint. Bentuknyapun memang serupa bullpoint, maka orang tidak akan mengira kalau itu merupakan spycam. Untuk menggunakan kamera ini cukup diletakan di saku baju. Spycam Watch berupa jam tangan, beragam bentuk dari yang classy sampai yang trendy. Arahkan tangan ke manapun, maka arah perekaman akan mengikuti bagaimana jam tangan itu diarahkan.

Sun Glasses Spy, seperti halnya jam tangan, kaca mata pengintai ini juga memiliki beragam bentuk. Dari kacamata yang biasa digunakan dipantai, hingga kacamata para eksekutif muda. Penggunaanya tentu sangat mudah atau bisa jadi ini paling mudah. Seperti halnya mengenakan kacamata biasa, tinggal mana obyek yang ingin diintai, maka arahkan mata ke obyek tersebut. Lighter Spy, kamera yang ditanam ke dalam bentuk korek atau lighter. Penggunaanya tinggal diletakan saja di atas meja, atau dengan pura-pura menyalakan rokok misalnya. ID Card Spy, lensa kamera yang sangat mungil ditanam pada kartu pengenal. Dikalungkan atau dijepitkan pada saku baju. Pin Spy, mirip dengan ID Card Spy hanya saja dalam berbagai bentuk pin. Kelebihannya tentu saja pin spy bisa ditempel di mana saja. Ada juga yang dalam bentuk kancing baju. Jadi kamera menempel di kancing baju, dengan demikian kancing kamera tersebut mesti sama persis dengan kancing lainnya yang ada di pakaian tersebut.

Selain spy cam yang memang dikenakan di tubuh kita, beberapa jenis kamera pengintai memiliki bentuk dan fungsi yang bisa ditata di tempat tertentu. Cloth Hanger Spy, kamera pengintai dalam bentuk gantungan baju. Tentu saja kamera ini memungkinkan untuk dipasang di kamar atau ruang tertentu yang jika ada gantungan baju merupakan hal yang lumrah. Frame Spy, merupakan kamera pengintai dalam bentuk frame foto. Ruang tamu, ruang kerja, serta kamar menjadi tempat-tempat di mana frame spy ini bisa disimpan. Power Switch Spy, kamera yang ditanam pada stop kontak listrik.   

Merekam Diam-Diam dalam Undang-Undang

Menurut ahli hukum yang berdasar pada Pasal 31 ayat 2 UU ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik) 2008, ternyata merekam diam-diam dengan menggunakan perangkat teknologi seperti kamera tersembunyi, alat perekam video, atau perekam suara dikategorikan sebagai illegal interception. Kegiatan perekaman diam-diam yang dimaksud seperti percakapan pribadi seseorang yang direkam secara diam-diam, percakapan rahasia dagang, percakapan rahasia negara, serta percakapan yang atas permintaan lawan biacara agar dirahasiakan.

Namun demikian, perekaman yang diperuntukan kepentingan publik nyatanya bisa dibenarkan seperti CCTV misalnya, atau untuk keperluan jurnalistik. Dengan demikian perekaman diam-diam yang tidak dimaksudkankepentingan umum ini bisa dijerat hukuman. Jadi, untuk keperluan apa kita melakukan perekaman secara diam-diam tersebut harus dipikirkan sedari awal.

Candid Camera Program Televisi

Seorang crew segera mengejar orang yang baru saja direkam oleh timnya secara diam-diam. Ia memperkenalkan diri sebagai bagian dari tim lantas menyodorkan secarik kertas yang berisi tentang apakah subyek mengizinkan yang tim lakukan itu ditayangkan di televisi atau tidak. Ada yang setuju ada juga yang tidak. Kepada yang tidak setuju, crew tersebut berjanji untuk menghapus rekamannnya itu.

Begitulah salah satu kerja yang dilakukan oleh crew program televisi populer Just For Laugh sebuah acara ngerjain siapapun yang direkam dan ditayangkan televisi. Lucu, karena beragam reaksi dari subyek yang didapat secara spontan. Acara serupa, kalau tidak dibilang menjiplak, juga banyak di televisi di Indonesia. Namun rupanya cara kerjanya agak sedikit beda. Maka tak mengherankan ketika ada beberapa kasus komplain orang karena ia tidak suka direkam diam-diam dan lantas jadi tontonan publik. Kenapa bisa begitu? bisa jadi kebanyakan pembuat acara candid camera di kita tidak melakukan izin setelah melakukan perekaman diam-diam tersebut.

Seolah Hidden Camera

Tak mudah seperti yang dibayangkan, membuat acara televisi hidden camera akan menemui banyak kesulitan. Subyek yang belum tentu mau direkam secara diam-diam, lokasi yang sulit dalam pengambilan gambar, hingga subyek yang “tiba-tiba” bisa pergi dari intaian kamera. Jika pengambilan gambar atau shooting konsep hidden camera ini real dilakukan maka biasanya 7 dari 10 pengambilan gambar akan gagal. Jadi betapa harus banyak melakukan pengambilan subyek untuk misalnya satu episode acara televisi saja. Kesulitan semacam ini membuat crew frustasi.

Tidak menjadi problem ketika sebuah acara hidden camera itu tayang satu minggu sekali, namun jika lebih maka televisi atau production house tidak memiliki waktu.Ya tenggat atau deadline menjadi alasan klasik, maka dibuatlah cara bagaimana agar shooting candid camera tak memiliki kesulitan tersebut. Maka dibuatlah cara pengambilan gambar dengan seolah hidden camera. Pengambilan gambar tidak betul-betul dilakukan secara candid, namun seolah kameranya memang tersembunyi. Hal lain yang dilakukan, mengarahkan subyek seolah ia tak sadar sedang direkam. Sudut pengambilan gambar atau angle tententu memunngkinkan penonton akan merasa bahwa itu dilakukan secara diam-diam, secara tersembunyi. Angle yang dimaksud misalnya menggunakan sudut pengambilan gambar yang seolah rumit atau menggunakan foreground atau penghalang di depan lensa kamera.

Hidden Camera untuk Investigasi

Peralatan hidden camera seperti di atas akan sangat membantu para jurnalis yang melakukan liputan investigasi. Melakukan perekaman diam-diam pada akhirnya harus dilakukan ketika situasi tak memungkinkan untuk melakukan pengambilan gambar secara terang-terangan. Isu bahwa ada pesta narkoba di dalam penjara pernah terdengar. Karenanya untuk membuktikan itu harus dilakukan investigasi. Dan pemuda yang diceritakan di awal tadi telah berhasil melakukan jurnalisme investigasi, menggunakan spy cam dalam bentuk bullpoint di mana ia dengan leluasa bisa merekam kenyataan bahwa pemakaian narkoba di penjara benar adanya.

Liputan investigasi pesta narkoba di dalam penjara ditayangkan. Publikpun terperangah. Beberapa tahun kemudian kejadian serupa juga ada, kamar ekslusif bagi terpidana korupsi ada juga di penjara. Untuk beberapa kalangan, liputan investigasi merupakan hal yang mengerikan.