Gimmick di Televisi, Bukan Sekadar Pemanis

Gimmick di Televisi, Bukan Sekadar Pemanis
Diki Umbara

“Ah hidup kamu kebanyakan gimmick!” Barangkali pernah mendengar seloroh seperti itu ketika seseorang mendapati kepura-puraan atau sesuatu yang dianggap serius padahal sebenarnya sekadar bercanda. Kata “gimmick” kini menjadi populer di masyarakat, yang sebelumnya kata ini hanya digunakan di kalangan orang hiburan, orang-orang di balik atau yang tampil di televisi utamanya.

Gimmick merupakan cara untuk menarik perhatian penonton dengan beragam cara seperti membuat adegan khusus, dandanan yang khas, musik, yel-yel, nyanyian, atau aktifitas lainnya. Gimmick juga bisa dilakukan dengan pergerakan kamera tertentu atau dilakukan saat editing. Karenanya gimmick dimaksudkan untuk menghibur, membuat penonton berdebar-debar, atau mendapatkan kejutan. Seringkali gimmick dibuat seperti tak ada hubungannya dengan inti sebuah acara. Namun itu semua tentu dengan tujuan penonton akan menyukai acara tersebut.

Bagaimana Gimmick Dibuat?

Sukses atau gagalnya gimmick pada acara televisi sangat tergantung dari banyak hal. Dan ketidakberhasilan gimmick kerap ditemui karena si kreator gimmick tidak membuat secara serius sedari awal. Gimmick bisa saja dibuat secara spontan, namun spontanitas demikian rentan pada kegagalan. Jadi sebaiknya gimmick memang sudah dirancang dan direncanakan terlebih dulu, yang di atas kertas keberhasilan gimmick sudah bisa diukur.

Gimmick walalupun sedari awal goalnya adalah membuat perhatian penonton, secara spesifik ia harus punya tujuan jelas. Artinya untuk apa gimmick itu dibuat karena sekadar mendapat perhatian penonton saja tidaklah cukup. Tim kreatif sebagai pembuat gimmick sebagai bagian dari acara, ia harus melakukan riset terlebih dulu. Pertama tentu saja ia mesti benar-benar paham tentang program acara yang sebelumnya sudah dirancang. Kedua, pada bagian mana gimmick itu nantinya dipakai; awal acara, di tengah-tengah acara, di ujung segment, atau di ujung acara. Gimmick bisa juga dibuat beberapa kali, kebutuhan seberapa banyak gimmick ini termasuk yang disiapkan dari awal. Ketiga, buatlah rancangan gimmick apakah ia akan tertuang dalam bentuk script, yang berarti nantinya cast akan menggunakan monolog atau dialog. Semi script, yang berarti dibuatkan sript sebagai panduan saja, pemain tak benar-benar menggunakan sript sebagai acuan utama yang berarti pemain bisa mengubah itu namun inti dari yang dimaksud script sebagai gimmick itu bisa tercapai. Atau unscripted, benar-benar tanpa script, pemain melakukan adegan atau dialog berdasar catatan khusus dari tim kreatif. Terakhir, gimmick sebaiknya disimulasikan terlebih dulu dengan tujuan untuk mengukur apakah konsep gimmick yang telah dirancang itu bisa diterapkan dengan baik atau tidak.

Seringkali gimmick bisa dijadikan ciri khas pada sebuah program. Artinya gimmick bisa dipatenkan menjadi sesuatu yang ditunggu oleh penotnton, kejutan yang kehadirannya dinanti oleh pemirsa. Namun demikian, walaupun akan dibuat pasti dalam setiap episodenya dan telah menjadi ciri khas, gimmick seperti ini pun tetap mesti dipersiapkan. Kegagalan justru hadir karena ketidaksiapan materi gimmick yang sudah dianggap rutin tersebut.

Personalitas dalam Gimmick

Dalam program The Tonight Show misalnya, Jimmy Fallon membuat gimmick kompetisi nyanyi serta sketsa sementara dalam Jimmy Kimmel Live! host Kimmel senang menirukan tingkah para selebriti. Gimmick kerap bisa menempel pada seseorang entertainer, ia akan menjadi ciri khas sendiri pada akhirnya. Apakah itu serta merta terjadi demikian? Tentu saja tidak, sebab gimmcik yang ia dan tim kreatif ciptakan telah melewati rangkaian seperti uraian bagaimana gimmick tercipta di atas. Ketika gimmick yang menyangkut personalitas ditiru oleh lainnya maka penonton akan mudah menengarai kalau gimmick itu orisinil lagi, ini berarti para pengikut atau yang berusaha meniru para pendahulu tidak akan sukses seperti orang-orang yang ditirunya.

Gimmick yang melekat pada personal tertentu nampaknya masih jarang pada cast di Indonesia, walaupun tentu ada. Komedian Haji Bolot misalnya, ia memiliki ciri khas yang kurang dalam pendengaran, sehingga kerap kreatif memasukan unsur gimmick “ketulalitan” Pak Bolot ketika ia menjadi pemain dalam program televisi. Gimmick yang disematkan pada personal tertentu bisa saja dibuat oleh tim kreatif sehingga kehadiran cast tersebut sudah bisa memancing kejutan dan gelak tawa misalnya. Person lain yang bisa dibuat sebagai gimmick biasanya ada pada kicker atau samsak, sehingga walaupun kehadirannya hanya selewatan saja sudah akan menajdi hiburan tersendiri. Sayangnya model samsak seperti ini masih menggunakan slapstick sebagai ciri khas atau adegan-adegan yang dianggap “kasar”.

Pendatang baru Gilang Dirga, rupanya melihat peluang ini. Ia bisa menirukan berbagai suara para pesohor di negeri ini dari mulai suara Presiden Joko Widodo, Gubernur Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok, hingga suara Mario teguh. Kepaiawaian dia dalam menirukan beberapa penyanyi seperti Anang Hermansyah hingga Cakra Khan juga menjadikan produser beberapa acara televisi mengundang dia untuk menjadi bintang tamu khusus, dimainkan beragam gimmick atas kemampuan peniruan tersebut.

Gimmick dengan Audio

Audio sebagai bagian penting dari pertunjukan juga bisa menjadi tool sebagai bahan gimmick. Sound effect tertentu misalnya, dapat dibuat untuk gimmick yang akan menjadikan adegan menjadi lucu, menegangkan, atau meriah. Musik dan sound effect untuk keperluan gimmick bisa dibuat sebelum shooting, saat hooting, atau saat editing. Namun yang jelas, musik atau sound effect tersebut harus dibuat konsep terlebih dulu. Artinya ketika nantinya dibuat spontan sekalipun saat shooting misalnya, konsep itu sudah ada jauh sebelumnya. Konsep ini penting agar musik atau sound effect yang dibuat nantinya tidak asal-asalan atau sekadar filler yang bisa jadi justru akan menganggu sebuah adegan atau dialog dalam pertunjukan.

Membuat Gimmick di Edting

Sebagai tahap akhir dalam produksi, gimmick ada kalanya bisa dilakukan saat penyuntingan gambar atau editing. Pada tahap ini editor (tentu atas arahan produser atau tim kreatif) melakukan editing tertentu dengan tujuan sebagai gimmick. Ada banyak cara di sini, tergantung dari konsep serta hasil akhir seperti apa. Misalnya dibuat adegan slow motion atau fast motion dengan efek suara atau musik yang mendukung. Maka bisa jadi nantinya penonton akan melihat adegan tersebut menjadi lucu.

Pada tahap paska produski juga bisa membuat VT (video tape) atau materi yang nantinya akan diputar sebagai salah satu bagian dari show. VT ditonton oleh bintang tamu yang hadir di studio. Yang artinya sedari awal VT tersebut didesain sebagai gimmick, yang kemunculannya diatur sedemikian rupa, dituangkan ke dalam rundown program.

Mystery Guest dalam Talkshow

Pada acara talkshow seringkali formatnya sudah baku, acara dipandu oleh host dengan menghadirkan beragam bintang tamu. Agar tidak monoton, tim kreatif melakukan pelbagai cara dengan tujuan agar acara tidak terlampau serius. Gimmick dalam satu acara tentu akan berbeda dengan acara lainnya, gimmick dengan melihat format acara yang dipakai menjadi salah satu pertimbangan. Sebab misalnya, gimmick untuk acara talkshow bisa jadi berbeda dengan acara variety show.

Pada acara talkshow, bisa dibuat gimmick agar bintang tamu mendapatkan surprise. Ya kata “surprise” menjadi salah satu kunci. Bagaimana agar bintang tamu utama benar-benar mendapatkan kejutan. Maka dihadikannya guest star bisa jadi akan menimbulkan usur surprise tadi. Guest star yang dimaksud bisa jadi orang yang dianggap paling dekat dengan bintang tamu. Maka tentu saja bintang tamu akan terkejut jika mendapati orang terdekatnya dihadirkan. Gimmick seperti ini seringkali sukses, karenanya produser dan tim kreatif acara talkshow membuat gimmick dengan mystery guest yang telah disiapkan, dihadirkan berdasar riset terlebih dahulu tentunya.

Inovasi Tim Kreatif

Setelah script, sepertinya gimmick merupakan hal paling sulit dikerjakan oleh tim kreatif untuk nantinya dituangkan ke dalam bentuk rundown. Atau bisa jadi membuat gimmicklah bagian tersulit itu. Tak jarang gimmick yang mestinya menjadi andalan dalam sebuah acara justru menjadi garing karena konsep gimmick yang tidak dibuat secara matang. Bagaimana agar gimmick yang tertuang dalam bentuk konsep bisa diaplikasikan saat shooting juga hal paling penting lainnya. Agar tidak terjadi mispersepsi, maka gagasan ini dipaparkan oleh tim kreatif pada produser saat gimmick akan dibuat serta dijelaskan pada pengarah acara dan floor director.

Ada beberapa faktor yang saling menunjang satu sama lain sehingga gimmick akhirnya bisa menjadi bagian show yang menarik; konsep yang menarik, inovatif tidak itu-itu saja, dan sesuatu yang fresh. Yang terakhir inilah menjadi concern tim kreatif. Artinya harus terus berinovasi menciptakan hal baru, bukan sekadar meniru gimmick-gimmick yang telah ada sebab peniruan demikian akan menghasilkan sesuatu yang membosankan. Agar gimmick memiliki ciri khas, tim kreatif bisa membuat gimmick yang hanya ada pada acara yang ia buat saja, tidak ditemukan pada acara lain atau acara serupa lainnya.

Video Streaming: Dari Komunitas Hingga Penyiaran Televisi

Video Streaming: Dari Komunitas Hingga Penyiaran Televisi
Diki Umbara

Sebuah komunitas atau barangkali gerakan tepatnya, di salah satu sudut ibukota, puluhan anak muda sedang menyimak paparan tiga pembicara yang bergantian membahas salah satu isu yang lagi trend di linimasa sosial media twitter. Tiga meter di depan panggung, sebuah kamera high definition merekam helatan ini. Berlangsung hampir dua jam, acara ini disaksikan pula di Jogjakarta, Medan, Banjarmasin, Makassar, serta kota lainnya. Bahkan ada juga yang menyaksikan di luar Indonesia. Terhubung melalui YouTube Live Streaming, apapun dan dimanapun acara bisa tersebarluaskan secara (nyaris) realtime.

Menyaksikan event dalam waktu bersamaan dalam jarak tertentu atau bahkan seolah tak berjarak, telah menjadi eksperimen sedari dulu. Namun demikian hal ini berkaitan dengan infrastruktur lainnya, karenanya beragam platform kini memungkinkan untuk membuat acara yang bisa disaksikan di mana saja dengan biaya yang jauh lebih murah.

Membincangkan video streaming akan berkaitan pada beberapa hal, yakni video streaming sebagai cara: menangkap suara dan gambar (menonton), menyiarkan (broadcast), serta mentransmisikan. Ada kalanya ketiga hal ini bisa dilakukan bersamaan oleh pengguna yang sama. Teknologi internetlah yang telah memungkinkan semua ini. Bisa jadi, kelak akan makin banyak kanal-kanal pribadi yang bisa diakses oleh siapapun dan kapanpun secara langsung. Kebiasaan mengunggah video dan menyebarluaskan yang kini sedang menjadi trend nampaknya akan terus diakomodir oleh beragam produsen, baik yang berbekal basis aplikasi maupun dengan bantuan piranti keras.

Beragam Cara Menonton Televisi

Banyak cara bagaimana menikmati siaran televisi. Yang konvensional, tentu saja menonton saluran televisi free to air dengan memanfaatkan antena UHF/VHF. Kelemahannya, sedikit saja saluran yang bisa diterima oleh pesawat televisi karena tergantung dari seberapa banyak transmisi televisi yang ada dan mampu ditangkat pesawat televisi. Masih menikmati saluran free to air bisa pula dengan menggunakan antena parabola. Ada ratusan kanal yang bisa dinikmati, tak hanya kanal yang ada di Indonesia. Dengan antena parabola bisa menangkap beragam saluran televisi luar negeri.

Cara lainnya dengan televisi berlangganan atau tv pay, bisa dengan kabel maupun mini dish parabola. Saat ini sudah banyak penyelia kanal televisi berlangganan. Beragam paket bisa dinikmati. Kelebihan dari televisi berlangganan tentu saja kita bisa menikmati saluran yang tidak ada pada kanal free to air. Kanal-kanal film, fashion, dan olahraga misalnya.

Dan terakhir yang kini sedang menajdi trend adalah menonton televisi melalui siaran streaming. Dengan alat tambahan yang disambungkan pada televisi (dan bisa jadi kelak pesawat televisi bisa embeded dengan alat tersebut) maka menikmati saluran televisi menjadi jauh lebih mudah dan murah. Beragam perusahaan membuat peralatan tersebut. Produk tersebut di antaranya: Roku 3, Amazon Fire TV, Apple TV, Google Nexus, dan Chromecast. Kualitas gambar dan suara di saluran televisi melalui peralatan ini tidak kalah bagus dibanding dengan televisi berlangganan apalagi jika dibandingkan dengan menonton televisi dengan cara konvensional di atas tadi.

Pada Roku 3, kita bisa menikmati bahkan hingga 2000 kanal lebih. Roku menyediakan remote control yang memudahkan pengguna dalam pencarian kanal yang diinginkan, ada pula headphone yang bisa digunakan tanpa kabel atau wireless, serta ada tambahan microSD dimana bisa menyimpan game di dalamnya.

Amazone Fire boleh dikata sebagai pionir dalam televisi streaming. Bagi peminat game, alat ini memungkinkan pengguna tak sekadar menonton televisi tapi bisa menikmati beragam game yang sangat populer seperti Minecraft dan Grand Theft. Amazon nampaknya tahu betul kebutuhan peminat saluran televisi streaming biasanya tak ingin repot-repot jika sewaktu-waktu ingin bermain video game walaupun sebenarnya console game ini dijual secara terpisah.

Apple yang sebelumnya terkenal dengan produk iPod dan iPhone, tak mau kalah dalam pembuatan device untuk menonton televisi streaming. Apple TV memungkinkan kita untuk menonton beragam saluran baik yang free to air maupun yang berbayar. Salah satu hal unik dari Apple TV, dengan device iOS kita bisa sharing foto dan video pada sesama pengguna Apple TV.

Setelah populer dengan mesin pencari yang siapapun kini pasti tahu dan menggunakannya, Google tak ketinggalan untuk meramaikan televisi streaming. Google Nexus bekerjasama dengan Asus melahirkan pula Nexus Player. Pun seperti halnya Apple TV, dengan Google Nexus pengguna bisa juga bermain game serta berbagi foto dan video. Selain Nexus, Google juga menghadirkan Chromecast sebuah produk yang nampaknya ebih banyak digemari dari pendahulunya.

Peralatan Live Streaming di Stasiun Televisi

Inilah yang dimaksud live streaming yang digunakan stasiun televisi. Di stasiun televisi, streaming menjadi cara ke empat bagaimana video (dan juga audio) ditansmisikan dari satu tempat. Pertama dengan SNG (Sattellite News Gathering), ke dua dengan microwave, ke tiga dengan FO (Fiber Optic), dan yang terakhir dengan teknologi Internet (IP) Transmission  seperti pada bahasan kali ini. Hingga kini setidaknya ada tiga platform IP Transmission atau live streaming untuk kebutuhan penyiaran televisi yang sudah digunakan oleh banyak stasiun televisi di dunia, yakni LiveU, TVU, dan DMNG.

LiveU memungkinkan digunakan di mana saja tanpa terbatas oleh jarak. Dengan peralatan yang berukuran kecil, perangkat LiveU tentu saja tidak memerlukan kendaraan khusus seperti halnya SNG. Dengan LiveU, reporter bisa bersiaran dari mana saja bahkan bisa melakukan reportase secara bergerak. LiveU mengeluarkan seri LU60 yang bisa menggunakan sinyal 3G/4G serta koneksi WiMAX serta modem wifi. Resolusi video LiveU sudah bisa 1080i HD.

Seperti halnya LiveU, TVU Network memanfaatkan sinyal seluler dan Internet Protocol (IP) dalam mentransmisikan video. TVU dengan TVUPack, peralatan TVU yang compact, memungkinkan untuk dibawa kemana-mana oleh seorang diri di lapangan. Pengoperasian alat ini terbilang sangat mudah yakni cukup menekan tombol on/off. Ada beragam interface standar broadcast yakni SDI, HDMI, Composite, serta Firewire. Kualitas live HD menggunakan koneksi 2.5G/3G/4G. Namun tak seperti SNG tentunya, karena pada TVU akan ada delay beberapa detik. Cukup dalam satu ransel, perlatan modular ini kini sangat populer. TVUPack digunakan oleh beberapa stasiun televisi di Indonesia seperti I News TV (MNC Group) tak jarang menggunakan perlatan ini dalam siaran langsung dari berbagai daerah ketika SNG tidak memungkinkan.

Dibanding LiveU dan TVU, nampaknya DMNG walaupun dianggap pendatang baru namun memiliki “kelebihan”. Ketersediaan input RCA, On Camera, serta peralatan yang lebih ringan merupakan kelebihan dari DMNG. Namun untuk lamanya ketahanan battere rupannya masih kalau dibanding LiveU maupun TVU. DMNG yang merupakan kepanjangan dari Digital Mobile News Gathering memiliki kamera wireless yang didesain khusus oleh Aviwest.

Berbagai Platform Streaming Televisi

Agar siaran televisi dan tentu saja tidak sekadar itu, diperlukan platform yang mendukung untuk mendistribusikan siaran atau tayangan tersebut. BBC yang semula sebagai televisi tereterial di Inggris, tahu betul akan kebutuhan streaming bagi siapapun yang hendak mengakses siaran BBC. Berbasis aplikasi iOS, BBC mengeluarkan BBC iPlayer. Hingga kini tak kurang dari 200 juta pelanggan iPlayer.  Pengguna iPhone, iPad, bahkan laptop bisa mendownload aplikasi ini lantas tersambung dengan BBC melalui iPlayer. Menonton siaran BBC menjadi sangat mudah.

Platform lainnya yang populer tentu saja YouTube. Mulanya Youtube hanya sebagai website peungggah dan pengunduh video. Namun saat ini YouTube memungkinkan bagi siapapun untuk live streaming. Ya seperti yang dilakukan oleh komunitas di Jakarta pada awal artikel ini tentu saja. Tak perlu banyak budget yang dikeluarkan, kini siapapun bisa punya kanal sendiri di YouTube untuk bersiaran langsung. Yang paling banyak menggunakan saat ini adalah para video blogger. 17 juta lebih pengguna YouTube kini saling sharing konten video.

Belum terintegrasi pada semua smart tv, tapi Netflix bisa digunakan di PC/Mac, Appple TV, Wii, telpon Android serta tablet. Dengan Netflix bisa menikmati beragam saluran televisi berkelas. Namun sayangnya tidak gratis sebab Netflix memungut biaya sekitar Rp.70 ribu per bulan.

Selain Netflix, ada LoveFilm Instant yang juga bisa berjalan pada PC/Mac, Kindle Fire HD, iPad, Xbox, PS3 serta Sony’s Home Cinema System. Tidak kurang dari 4.000 judul film bisa ditonton melalui Netflix belum termasuk beberapa saluran televisi favorit. Pada bulan pertama kita bisa menikmati semua ini secara gratis, sedangkan selanjutnya mesti membayar.

Siaran Televisi Streaming

Dan siaran televisi streaming sebagai “televisi” yang mandiri nampaknya menjadi hal lain. Komunitas sebagai organisasi nirlaba serta perusahaan sudah memanfaatkan jaringan ini. Artinya televisi sebagai medium siaran ini dijadikan alternatif saat streaming memungkinkan hal itu. Lunar TV, Inspira, serta NT TV sebagai contoh kecil saja bagaimana mereka bisa bersiaran dan tentu dengan budget yang jauh lebih rendah ketimbang televisi konvensional yang sudah lama establish.
Jika infrastruktur memadai tentu saja televisi streaming akan menjadi bukan sekadar alternatif tapi bisa jadi pilihan utama nantinya. Sekolah, kampus, pesantren, atau komunitas apa saja yang sebelumnya tidak mudah untuk “membuat” kanal televisi, kini tidak sulit lagi untuk mewujudkan itu semua. Di balik itu semua, rasanya tak ada yang jauh lebih penting dari konten siarannya. Secanggih dan semudah apapun teknologi akan menjadi sia-sia ketika konten yang ditansmisikan tidak memiliki manfaat bagi si penontonnya kelak.

Virtual Set, Bagaimana Agar Terlihat Lebih Realistik?

Virtual Set, Bagaimana Agar Terlihat Lebih Realistik?
Diki Umbara

Bagi Anda penggemar film Superman, tentu akan bisa membedakan film superhero dari masa ke masa semakin terlihat lebih bagus, bagaimana Clark Kent bisa terbang begitu sempurna utamanya dari Superman Returns (2006), Man of Steel (2013), dan tentu saja nanti pada Batman vs Superman: Dawn of Justice (2016).Inilah salah satu film yang menggunakan teknologi dengan tehnik chroma keying. Tentu masih banyak sederet film Hollywood lain seperti Alice in Wonderland, The Hobbit, dan Life of Pi. Pada film terakhir, penonton takjub bagaimana aktor bisa bersahabat erat dengan memeluk harimau, yang pada pembuatan filmnya sesunggunya aktor hanya memeluk boneka warna biru. Boneka biru inilah yang “disulap” pada tahap paska produksi menjadi harimau tadi.

 

Tidak hanya di film, teknologi chroma key juga digunakan pada tayangan televisi. Bisa jadi hampir semua stasiun televisi menggunakan teknologi dan tehnik ini, acara berita salah satunya. Jika pada film tehnik chroma key dilakukan pada tahap post production, maka di program televisi dilakukan secara langsung. Namun pada dasarnya sama, inilah yang dimaksud sebagai chroma keying. Pembaca berita seolah sedang duduk dengan beragam latar seperti kota malam hari, gedung parlemen, dan lain sebagainya. Padahal aslinya di belakang news anchor tersebut hanya dinding berwarna biru atau warna hijau.

Dalam teknologi ini engine pada keying memakai algoritma pencarian pixel yang berbeda (unsimilar) dengan fixel sekitarnya. Lalu didakan pemisahan dengan pixel yang berbeda informasi, lantas dihilangkan. Namun keadaan default baik dengan menggunakan hadware, software, atau gabungan keduanya ini bisa diakalin dengan value yang bisa diubah oleh pengguna.

Keberhasilan dari bagaimana virtual set bisa padupadan dengan subyek nampak realistik didukung oleh beberapa faktor. Dengan demikian ketika salah satu faktor atau elemen ini tidak dibuat atau dilakukan dengan benar, kemungkinan akan menghasilkan tampilan yang kasar, tidak enak dipandang mata.

5 Elemen Penting

Keberhasilan virtual set didukung oleh 5 hal penting berikut, yakni: Space (ruang), Screen (layar), Camera (kamera), Lighting (pencahayaan), dan Post Pro (paska produksi/editing). Kelima elemen inilah yang mesti diperhatikan ketika kita hendak menggunakan virtual set sebagai kesatuan tampilan pada layar nantinya. Jika saja salah satu elemen itu tidak diindahkan, bisa jadi hasil akhir virtual set tidak akan sempurna.

Space

Ruang atau space diperlukan untuk menempatkan subyek, yakni orang yang bisa jadi presenter atau host, bintang tamu, atau siapapun itu bahkan benda mati sekalipun. Semakin luas ruang tersedia itu lebih baik, diperlukan jarak antara subyek dengan layar (screen). Jika subyek akan diambil dengan full atau wide shot tentu ruang yang sempit akan menyulitkan.

Screen

Layar atau screen untuk chroma key biasanya berwana hijau atau biru, kedua warna ini diyakini sebagai warna yang tidak dimiliki oleh manusia. Hal ini untuk memudahkan saat shooting atau editing nantinya ketika memisahkan subyek dengan latar. Screen bisa terbuat dari apa saja. Bisa dinding yang dicat atau bisa juga berupa kain yang berwarna hijau atau biru. Untuk dinding yang dicat warna hijau atau biru, gunakan bahan yang tidak memantulkan cahaya. Hindari cat yang mengandung coating karena bisa menimbulkan refleksi.

Saat ini sudah ada beberapa screen yang bisa dibawa kemana-mana, ini tentu saja memudahkan ketika shooting dilakukan tidak hanya di satu tempat saja. ChromaFlex dengan ukuran 2,1 meter berat 5kg sebagai contohnya. Alat ini cukup praktis untuk melakukan shooting chroma keying di lokasi mana saja.

Screen lain yang biasa digunakan untuk keperluan shooting chroma key adalah cyclorama, nyaris tidak ada sudut pada layar ini. Hal ini membuat pencahayaan akan bisa lebih merata, yang berarti subyek dengan latar tidak sulit untuk dipisahkan.

Kamera

Kamera video jenis apa yang cocok untuk shooting dengan metode chroma keying? Sebetulnya saat ini hampir semua jenis kamera memungkinkan hal ini. Namun sebagai perbandingan, kamera dengan format DV nyatanya tidak lebih baik dari kamera dengan format betacam. Kamera dengan format Full HD tentu sudah jauh lebih baik. Terlepas dari itu, hal yang paling penting daat shooting untuk chroma keying adalah setting di kamera itu sendiri. Diafragma dan speed harus diperhatikan sedari awal. Fokus diafragma dan speed normal pada backgroundnya, bukan pada subyeknya.

Lighting

Pencahayaan atau lighting dalam shooting untuk keperluan chroma keying menjadi poin yang sangat krusial. Sebaik apapun latar atau screen serta kamera yang digunakan akan menjadi sia-sia ketika pencahayaan tidak dilakukan dengan baik. Chroma key berkaitan erat dengan warna, dan warna tidak bisa dipisahkan dengan cahaya, karenanya cahaya yang asal terang dengan tidak memperhatikan kebutuhan chroma keying ini bisa merusak segalanya.

Untuk subyek diperlukan pencahayaan utama (key light), lantas pencahyaan pengisi (fill light), serta back light untuk memisahkan subyek dan latar, dan terakhir diperlukan background light. Jika back light, cahaya diarahkan pada subyek dari arah belakang, maka background light dimaksudkan untuk memberi cahaya pada screen/latar agar warna green atau blue merata.

Editing  

Hasil akhir dari chroma keying dilakukan pada saat paska produksi. Namun ini tidak demikian untuk keperluan LIVE misalnya. Pada acara live digunakan hardware tertentu untuk melakukan chroma keying tadi. Yang paling umum adalah menggunakan vision mixer, dimana pada mixer video tersebut sudah ada fasilitas untuk chroma key.

Jika tidak dilakukan langsung, maka tehnik chroma key dilakukan saat paska produksi atau editing. Hampir semua software editing memiliki fasilitas atau plugs in untuk chroma key. Namun ada juga softwar untuk chroma key yang berdiri sendiri atau stand alone. Wax, sebuah software yang dikhususkan untuk chroma keying termasuk compositing dan 3D effect. Software ini bisa digunakan secara mandiri (stand alone) maupun sebagai plug in yang ditambatkan pada sofware editing. VirtualDub, juga merupakan software editing yang didesain sedemikian rupa agar editor bisa dengan cepat melakukan chroma keying. Karena tool chroma keying sebagai tambahan, hasilnya memang kurang maksimal.

Blue Screen atau Green Screen?

Seperti penjelasan pada awal tulisan ini, shooting dengan tehnik chroma key artinya subyek akan diambil gambarnya dengan latar satu warna. Warna yang dimaksud adalah biru atau hijau. Kedua warna ini dianggap paling tidak menyerupai warna kulit. Porsi warna hijau atau biru di latar belakang akan digantikan dengan gambar lain. Proses ini dikenal sebagai keying, keying out, ada juga yang menyebutnya dengan kata key saja.

Hingga kini warna hijau paling sering digunakan dibandingkan warna lain, hal ini disebabkan sensor penerima gambar di kamera video digital paling sensitif dengan warna hijau. Pada bayer pattern nyatanya banyak pixel pada warna hijau, hal ini dilakukan dengan meniru sensitifitas mata manusia yang meningkat terhadap cahaya hijau. Dengan demikian kamera menangkap key warna ini paling jernih.

Pencahyaan untuk menyinari warna hijaupun rupanya diperlukan lebih sedikit ketimbang warna biru, hal ini dikarenakan sensitfitas pada warna hijau terhadap sensor kamera lebih tinggi. Sebelumnya, warna biru digunakan sebelum digital keying terutama untuk proses optikal, namun demikian warna biru ini memerlukan pencahyaan yang jauh lebih banyak. Walaupun nyatanya warna biru memiliki keunggulan yaitu di dalam spektrum visual. Namun lagi-lagi, faktor terpenting dalam proses keying yakni pemisahan antara warna subyek dengan warna latar belakang atau screen.

Chroma Key untuk LIVE

Saat ini banyak produsen yang menawarkan teknologi chroma key untuk keperluan acara televisi live. Beraga kelebihan ditawarkan, bahkan tentu saja bukan sekadar chroma key yang memisahkan subyek dan latar, lebih dari itu produk yang dimaksud bisa memadupadankan beragam kebutuhan lainnya. Latar tiga dimensi, grafis yang interaktif, serta pencahayaan yang pada akhirnya output yang dihasilkan lebih realistik.

Diantara teknologi chroma key yang dimaksud antara lain Ultimate dengan produk terakhirnya Ultimate 11 HD/SD dengan fasilitas input firewire, composite, dan S-Video. Ultimate merupakan gabungan antara hardware dan software. Produk lainnya BoinxTV, mudah digunakan, selain untuk televisi juga bisa digunakan untuk keperluan broadcasting lain seperti streaming internet. Namun BoinxTV hanya berjalan pada platform Mac. Pada jajaran profesional ada Blacmagic Design Declink, beragam input dan output memungkinkan untuk digunakan para profesional dengan hasil yang baik.

Untuk keperluan shooting dengan menggunakan lebih dari satu kamera, beberapa produsen untuk chroma keyingpun tak kalah bersaingnya. Tricaster salah satunya, terus mengembangkan beberapa varian yang bisa menjadi pilihan pengguna. Bagaimana kamera seolah bisa melakukan manuver seperti jimmy jib, tak hanya zooming dan paning, tapi kamera bisa nampak swing atau mengayun yang berarti studi kecil saja seperti nampak besar. Begitulah teknologi broadcasting televisi kini. Artinya bagaimana kreatifitas para user telah dibantu oleh salah satu teknologi ini.

Action Cam, Bukan Sekadar Gaya
Diki Umbara

Melayang di udara dengan indah, kedua tangan pemotocross memegang bagian belakang speda motor sport, menukik menuju landasan, hingga akhirnya roda benar-benar menyentuh lap dengan penuh kerikil. Semua momen ini tertangkap jelas bukan dari hasil bidikan cameraman di bawah. Tiga action cam yang dipasang pada kendaraan roda dua dan si pemotor itulah yang menangkap rangkaian semua gerakan dramatis ini.

Action camera didesain untuk keperluan perekaman dari pelbagai sudut serta beragam posisi. Action cam didesain sedemikian rupa dengan tujuan demikian karena kebutuhan perekaman seperti ini tidak bisa atau agak sulit diakomodir oleh kamera jenis konvensional yang telah ada. Kini beberapa produsen kamera aksi telah dan terus mengeluarkan beragam jenis action cam yang disesuaikan untuk para penggunanya. Action cam biasa disebut POV atau point-of-view camera, sebab tak seperti halnya kamera konvensional yang digunakan dengan cara handheld atau menggunakan penyangga, kamera ini dikenakan di badan si pengguna. Action cam dengan mudah bisa dipasang pada handlebar sepeda gunung, sepeda motor, mobil, helm, atau papan surfing.

source: shadowmedya

source: shadowmedya

Pada alat atau kendaraan apapun action cam disematkan, tujuan dasarnya tentu saja sama, yakni untuk merekam aktifitas yang terjadi. Artinya action cam memang difungsikan sebagai alat yang bisa mendokumentasikan secara visual dan mungkin kelak audio juga. Maka sesuatu yang berhubungan dengan video telah menjadi concern para produsen.

source: ridetua

source: ridetua

Resolusi video yang disokong oleh action cam lebih variatif, walaupun ada jenis action cam yang hanya memiliki default untuk satu saja resolusi namun lainnya memungkinkan pengguna untuk memilih resolusi video mana yang akan digunakan dalam perekaman. Ada tiga jenis resolusi HD sebagaimana pada kamera selain action cam yakni HDV 720p, HDV 1080i, dan HDV 1080p.

(Terlalu) Banyak Pilihan

Bermula populer dari Go-Pro, saat ini puluhan produsen berlomba mengeluarkan beragam varian action cam. Feiyu, Back-Bone, V.I.O, Sony, Tom Tom, Cyclic, JVC, Kodak, Toshiba, Ion, Replay, Garmin, Contour, Yashica, Rolley, VidVision, Drift, Panasonic, Brica, Polaroid, Xiomi, dan deretan produsen lainnya. Ada dua hal ketika produk sejenis diproduksi oleh banyak produsen, kabar menggembirakan untuk konsumen karena ini berarti banyak varian atau justru membingungkan karena terlalu banyaknya pilihan. Maka review dan testimoni dari para pengguna masing-masing produk akan sangat membantu.

Lebih dari itu yang paling penting justru bagaimana agar kita bisa memanfaatkan action cam yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan, sebab fasilitas yang berlebih bisa jadi tak begitu bermanfaat untuk kebutuhan atau terlalu mahal jika ditautkan dengan keperluan.

Beragam Alat Pendukung

Action cam yang memiliki fungsi untuk menangkap beragam moment ini nyatanya akan lebih maksimal jika didukung peralatan lain. Beragam tool pendukung dimaksudkan agar tangkapan gambar baik sebagai still image maupun gambar bergerak bisa sesuai yang diinginkan. Penyedia tool inilah yang memanfaatkan keperluan para pengguna action cam. Seringkali produsen supporting tool ini bukan dari produsen action itu sendiri. Tool tersebut di anataranya waterproof housing, back-up batteries, car charger, wi-fi remote attachment, microphone adapter, camera tether kit, floaty back door, dog harness, bodyboard mount, head strap, chest mount, helmet mount, wrist strap, dan the hand grip.

Waterproof housing, dengan alat ini action cam bisa menangkap momen di kedalaman laut. Jika dulu diperlukan cameraman under water untuk melihat keindahan laut, dengan alat ini diver biasa bisa melakukan itu semua. Tentu sangat praktis dibanding kamera besar yang juga mmeerlukan housing yang besar pula.

Back-up batteries, batere cadangan ini bermanfaat untuk action cam yang dalam penggunaannya dilakukan dengan durasi lama. Jika battere utama telah habis, maka battere back inilah sebagai penyelamatnya.

Car charger, seperti halnya charger mobil lainnya, untuk keperluan pengisian battere pada action cam juga ada charger mobil yang bisa mengisi battere. Jika action cam kebetulan dipasang di dalam mobil tentu car charger bisa digunakan saat action cam melakukan perekaman yang berarti ia bisa mengisi sekaligus digunakan.

Wi-fi remote attachment, kebutuhan wifi sebagai alat koneksi dari gambar yang diambil yang duhubungkan pada aplikasi ini diakomodir oleh tool ini.

Microphone adapter, microphone tambahan tidak bisa disambung begitu saja pada action cam karenanya diperlukan adapter untuk menghubungkannya. Maka microphone adapter inilah yang nantinya bisa menyambungkan beragam koneksi mikropon.

Dog harness, alat ini diikatkan pada anjing untuk menempelkan action cam. Dengan demikian poin of view akan didapat dari beragam gerakan atau aktifitas anjing. Pada bagian mana alat ini diikatkan tentu bisa disesuaikan agar anjing sebagai subyek masih tetap nyaman menggunakannya.

Head strap, pengikat yang dilekatkan di kepala. Head strap ini mirip dengan pengikat kepala yang dilekatkan pada para pegawai yang bekerja di terowongan atau goa.

Chest mount, mounting ini diikat pada badan manusia. Wrist strap, dipasang di pergelangan tangan seperti gelang. The hand grip mirip dengan wrist strap yakni penyangga yang dilekatkan di tangan.

Mengabadikan Momen ke Seluruh Dunia

Nyaris tak ada teknologi yang berdiri sendiri, hal ini tentu bergantung dari keterkaitan pengguna pada alat tersebut dengan alat lainnya. Pun demikian dengan action cam, sebagai kamera yang bisa menagkap beragam aktifitas ini bisa dinikmati untuk individu namun bisa juga dinikmati oleh komunitas yang cakupannya lebih besar. Jaringan internet memungkinkan hal ini. Momen yang diambil oleh action cam bisa langsung disebarluaskan hingga pelosok yang nyaris tanpa batas. Dengan memanfaatkan perangkat tambahan dan jaringan internet, beragam event bisa dilihat oleh siapa saja. Penyelia pengunggah live steraming ini di antaranya Youtube dan Ustream.

Untuk memanfaatkan fasilitas ini, pengguna mesti membuat channel yang berfungsi untuk mempublish. Kanal ini seperti halnya akun, jadi tidakakan ada nama yang sama. Ini artinya kita tidak bisa membuat nama kanal yang sama dengan kanal yang telah ada. Nama kanal baiknya dibuat secara unik, hal ini juga bermanfaat untuk keperluan publikasi. Setelah itu menuju tautan Go Live!, yang lantas akan membuka window baru untuk mengakses action cam yang terhubung pada komputer tersebut. Maka, kanal kita bisa ditonton oleh siapaun.

Secara sederhana, konektifitas perlatan yang digunakan yakni action cam yang memiliki fasilitas wifi tersambung dengan gadget dengan istilah tethering mode, lalu gadget tersebut dengan fasilitas jaringan 3G/LTE dikoneksikan pada penyelia Ustream, dan viewer akan mengakses kanal yang kita buat di Ustream tadi. Ya sesimpel itulah saat ini bagaimana momen bisa disebarluaskan ke pelbagai pelosok. Ini tentu berbeda dengan live event yang biasanya digunakan oleh televisi konvensional seperti halnya televisi tereterial.

Action Cam untuk Acara Televisi Live

Digandeng produsen teknologi broadcasting televisi Viselink, GoPro menjadi action cam yang bisa menyokong siaran lansung televisi. Antena khusus didesain sedemikian rupa sehingga gambar yang dihasilkan GoPro bisa dipancarkan pada layar televisi. Transmiter mikro ditempelkan pada kamera ini sehingga gambar bisa dikirim untuk akhirnya diterima di stasiun televisi. Pertama kali teknologi ini digunakan di kanal televisi khusus olahraga ESPN.

Kini tak hanya ESPN yang memanfaatkan action cam, beragam televisi bahkan televisi komunitas sekalipun sudah ada yang memanfaatkan teknologi ini walapun spesifikasi peralatannya bisa jadi berbeda. Namun intinya sama, bagaimana agar moment entah itu sport, musik, dan lain sebagainya bisa ditransmisikan oleh televisi lalu bisa dinikmati pemirsanya.

Sebab televisi memiliki format dan frame size untuk video, maka mau tak mau pada akhirnya frame size itu akan disesuaikan sehingga format video dan frame size pada action cam akan bisa diterima oleh peralatan yang dimiliki stasiun atau kanal televisi tesebut.

Bukan Sekadar Gaya

Barangkali hingga kini masih banyak yang menggunakan action cam sebagai piranti untuk mengabadikan sebagai gaya-gayaan saja. Padahal momen yang ditangkap oleh action cam baik berbentuk still image maupun gambar bergerak, bisa dimanfaatkan untuk hal yang jauh lebih berguna. Teknologi akan terus berkembang dan tak akan pernah berhenti, bagaimana agar hasil teknologi itu bisa berfaedah? Bisa jadi kita bukan gagap teknologi karena toh mempelajari penggunaan teknologi juga bukan hal sulit. Hal esensial adalah faedah apa yang harus didapat dengan penggunaan beragam hasil karya manusia ini.

Yang Menggoda dari Mata Najwa

Yang Menggoda dari Mata Najwa
Diki Umbara

NAJWA

Script opening ini tampil pada teleprompter, yakni sebuah pengial baca yang diletakkan di depan lensa kamera. Dengan sorot mata yang khas, intonasi yang diatur sedemikian rupa, Najwa Shihab membuka acara Mata Najwa dengan membaca naskah di atas. Talkshow sebagai format acara di radio dan televisi diprakarsai oleh Joe Franklin pada tahun 1951 di WJZ-TV. Sebagai acara perdana, acara mendapat sambutan baik dari pemirsa di Amerika. Selanjuttnya mulai tahun 1962 hingga 1993 talkshow ini berpindah ke televisi WOR-TV. 31 tahun tentu bukan waktu yang pendek untuk sebuah acara televisi.

Talkshow Televisi dan Perkembangannya

Diminati di Amerika, talkshow sebagai acara yang informatif selain berita, menyebar dan digemari pula oleh masyarakat Eropa serta benua lainnya. The Tonight Show, merupakan acara talkshow paling lama. Dimulai tayang perdana tahun 1954, acara yang tayang di NBC ini hingga sekarang masih ada. Disusul kemudian oleh The Late Night Show, sebuah talkshow yang begitu populer di Irlandia.

Talkshow sebagai salah satu format acara, pada perkembangannya juga melahirkan semacam sub-genre. Maka lahirlah talkshow yang khusus tayang pada pagi, siang, sore, dan malam hari. Sub genre lainnya adalah Sunday Talk, talkshow yang tayang khusus pada akhir pekan. Sub genre berdasar waktu tayang ini juga nyatanya diikuti oleh televisi di Indonesia, talkshow Bincang Malam dan Indahnya Pagi, dua talkshow ini cukup lama tayang di TVRI. Sub genre bukan sekadar perihal waktu tayang, lebih dari itu biasanya akan berkaitan dengan konten atau tema, narasumber, serta kemasannya.

Isu dan Narasumber

Isu atau tema serta narasumber pada talkshow adalah dua elemen penting, karena sepopuler siapapun hostnya tentu tidak akan menarik jika bahasan serta narasumber dari talkshow itu bisa-biasa saja. Tema dalam talkshow tentu bisa apa saja, tergantung dari tujuan dari talkshow itu sendiri. Dua hal paling populer yang dijadikan tema dalam talkshow yakni segala sesuatu tentang current issue dan hal yang inspiring. Jika current issue akan berkaitan dengan waktu, maka tema inspiring biasanya tidak akan tergantung hal itu bahkan bisa timeless.

Host Talkshow

Host atau pembawa acara talkshow menjadi point utama dalam acara ini. Host menjadi kunci karena merekalah yang memandu, ke mana arah talkshow ditujukan, ia yang menggali isu dari narasumber yang dihadapinya. Kekuatan host ini disadari betul oleh pembuat acara televisi. Atas itu pulalah lahir talkshow dengan membawa nama si host dalam judul talkshownya. Di Amerika ada The Jerry Sringer Show, Piers Morgan Tonight, The Jay Lano Show, The Caroline Rhea Show, Oprah Winfrey Show, dan Larry King Live. Oprah Wimfrey dan Larry King membawakan acara talkshow cukup lama, karenanya nama kedua host ini tak hanya terkenal di Amerika tapi sangat dikenal hingga pelosok dunia.

Selain di Amerika, talkshow yang menggunakan nama host sebagai nama pertunjukkan juga dilakukan negara lain. The Paul O’Gradey Show (Inggris), Nightlife with Alan Khan (Afrika Selatan), Kofee with Karan (India), The Alan Hamel Show (Kanada), dan Sanja (Kroasia). Sanja, sebagai salah satu host disematkan untuk nama talkshow tanpa embel-embel kata lainnya. Di Indonesia ada Sarah Sechan, host yang namanya juga dipakai untuk judul talkshow di Net TV. Televisi yang “boros” menggunakan nama host dalam acara talkshow adalaha Metro TV. Di televisi yang memposisikan diri sebagai televisi berita ini ada Just Alvin yang dipandu Alvin Adam, Kick Andy yang dipandu Andy F. Noya, dan Mata Najwa yangdipandu oleh Najwa Shihab. Televisi publik TVRI tak mau ketinggalan pula membuat talkshow dengan menyematkan nama host pada acaranya yakni Minggu Malam Bersama Slamet Rahardjo.

Ada Apa-Apa di Mata Najwa                                                                

Acara talkshow di Indonesia seringkali tak bertahan lama. Alasan kenapa acara tersebut tidak berlanjut biasanya ada beberapa hal, dan yang paling umum tentu saja terkait dengan rating dan share acara tersebut. Karena rating dan share dari Nielsen Media Research masih menjadi satu-satunya alat ukur seberapa banyak sebuah acara ditonton. Acara talkshow datang dan pergi silih berganti. Tapi ada yang masih bertahan dan masih banyak digandrungi penonton, yakni Mata Najwa.

Mata Najwa pertama kali tayang di Metro TV pada 29 November 2009. Memasuki tahun ke 5 acara yang menjadi unggulan Metro ini selalu menghadirkan bintang tamu yang dianggap sedang kontroversial saat itu atau pejabat tinggi negeri ini. Megawati, BJ Habibie, Jusuf Kalla, Joko Widodo, dan Basuki Tjahya Purnama atau Ahok pernah menjadi narasumber di Mata Najwa.

Najwa Shihab yang kini dipercaya sebagai Wakil Pimpinan Redaksi Metro TV, meniti karir jurnalis yang cukup pesat. Bermula sebagai reporter, presenter, lantas menjadi asisten produser, produser, dan eksekutif produser. Karir dari reporter menjadi presenter sebetulnya hal yang lumrah, karena seringkali jenjangnya demikian. Namun di luar sana, semisal CNN atau BBC, kita akan jarang menemukan presenter yang sangat muda. Karena untuk menjadi presenter diharuskan menguasai lapangan sebagai reporter dalam jangka waktu yang panjang. Dengan demikian maka penyiar televisi CNN, BBC, ABC, FOX News, biasanya merupakan penyiar yang matang. Hal ini nampaknya agak berbeda dengan televisi di Indonesia, sebab kenyataannya beberapa presenter lahir dari reporter yang belum lama menguasai lapangan. Demikian pula dengan Najwa Shihab, ia sebetulnya belum memiliki pengalaman panjang sebagai reporter ketika akhirnya meniti karir menjadi presenter.

Namun nampaknya Najwa belajar cepat, sempat tegopoh-gopoh di awal-awal saat menjadi presenter, kini telah menjadi pembawa acara yang memiliki kepercayaan tinggi. Berbagai penghargaan telah di dapat Mata Najwa, seperti dua kali KPI Awards sebagai talkshow terbaik serta terpilih menjadi salah satu nominasi The 15th Asian Television Awards untuk kategori Best Current Affair Program untuk episode Separuh Jiwaku Pergi.

Tatapan Najwa dalam membawakan Mata Najwa menjadi sangat khas, Nana begitu ia biasa dipanggil, biasanya akan menatap langsung narasumbernya dengan tajam. Kerap ketika narasumber nampak kaku, maka Najwa akan membuka pertanyaan dengan hal yang sangat ringan. Ini biasa pula dilakukan para presenter di luar dengan tujuan sebagai ice breaking. Kekhasan lain dari Mata Najwa, Nana akan menggunakan semacam bahasa tubuh dengan menyorongkan badan ke arah narasumber. Hal ini nampaknya disukai oleh narasumber, karena itu berarti betapa host atau pembawa acara concern pada paparan narasumber.                                    

Kekuatan Riset

Memang tak seperti Oprah Winfrey show yang memiliki tim riset yang begitu banyak, atau tidak pula seperti Jay Lano dan Larry King yang punya tim riset lengkap, tapi Mata Najwa nampaknya tak mengenyampingkan riset sebagai senjata utama dalam talkshow. Data dari hasil riset sangat diperlukan bagi pembawa acara. Dengan data yang diolah menjadi informasi yang penting, menjadi salah satu bahan pertanyaan atau question list yang dibuat oleh tim penulis. Lebih dari itu, informasi dari hasil riset juga bisa menjadi bahan untuk konfirmasi pada narasumber yang dihadapi oleh pembawa acara.

Seperti halnya Oprah Winfrey Show yang sukses pula pada tour talkshow di luar studio, Mata Najwa ditonton ribuan pasang mata saat tampil di Universitas Negeri Jogjakarta dengan tema saat itu, Dari Jogja: Berani Tampil Beda. Lalu, sampai kapan Mata Najwa akan bertahan di televisi, tak ada yang bisa memastikan. Tapi setidaknya, lima tahun sudah terlewati oleh Najwa Shihab dan timnya untuk menghadirkan tontonan menarik selain hiburan yang ditayangkan televisi.