Virtual Set, Bagaimana Agar Terlihat Lebih Realistik?

Virtual Set, Bagaimana Agar Terlihat Lebih Realistik?
Diki Umbara

Bagi Anda penggemar film Superman, tentu akan bisa membedakan film superhero dari masa ke masa semakin terlihat lebih bagus, bagaimana Clark Kent bisa terbang begitu sempurna utamanya dari Superman Returns (2006), Man of Steel (2013), dan tentu saja nanti pada Batman vs Superman: Dawn of Justice (2016).Inilah salah satu film yang menggunakan teknologi dengan tehnik chroma keying. Tentu masih banyak sederet film Hollywood lain seperti Alice in Wonderland, The Hobbit, dan Life of Pi. Pada film terakhir, penonton takjub bagaimana aktor bisa bersahabat erat dengan memeluk harimau, yang pada pembuatan filmnya sesunggunya aktor hanya memeluk boneka warna biru. Boneka biru inilah yang “disulap” pada tahap paska produksi menjadi harimau tadi.

 

Tidak hanya di film, teknologi chroma key juga digunakan pada tayangan televisi. Bisa jadi hampir semua stasiun televisi menggunakan teknologi dan tehnik ini, acara berita salah satunya. Jika pada film tehnik chroma key dilakukan pada tahap post production, maka di program televisi dilakukan secara langsung. Namun pada dasarnya sama, inilah yang dimaksud sebagai chroma keying. Pembaca berita seolah sedang duduk dengan beragam latar seperti kota malam hari, gedung parlemen, dan lain sebagainya. Padahal aslinya di belakang news anchor tersebut hanya dinding berwarna biru atau warna hijau.

Dalam teknologi ini engine pada keying memakai algoritma pencarian pixel yang berbeda (unsimilar) dengan fixel sekitarnya. Lalu didakan pemisahan dengan pixel yang berbeda informasi, lantas dihilangkan. Namun keadaan default baik dengan menggunakan hadware, software, atau gabungan keduanya ini bisa diakalin dengan value yang bisa diubah oleh pengguna.

Keberhasilan dari bagaimana virtual set bisa padupadan dengan subyek nampak realistik didukung oleh beberapa faktor. Dengan demikian ketika salah satu faktor atau elemen ini tidak dibuat atau dilakukan dengan benar, kemungkinan akan menghasilkan tampilan yang kasar, tidak enak dipandang mata.

5 Elemen Penting

Keberhasilan virtual set didukung oleh 5 hal penting berikut, yakni: Space (ruang), Screen (layar), Camera (kamera), Lighting (pencahayaan), dan Post Pro (paska produksi/editing). Kelima elemen inilah yang mesti diperhatikan ketika kita hendak menggunakan virtual set sebagai kesatuan tampilan pada layar nantinya. Jika saja salah satu elemen itu tidak diindahkan, bisa jadi hasil akhir virtual set tidak akan sempurna.

Space

Ruang atau space diperlukan untuk menempatkan subyek, yakni orang yang bisa jadi presenter atau host, bintang tamu, atau siapapun itu bahkan benda mati sekalipun. Semakin luas ruang tersedia itu lebih baik, diperlukan jarak antara subyek dengan layar (screen). Jika subyek akan diambil dengan full atau wide shot tentu ruang yang sempit akan menyulitkan.

Screen

Layar atau screen untuk chroma key biasanya berwana hijau atau biru, kedua warna ini diyakini sebagai warna yang tidak dimiliki oleh manusia. Hal ini untuk memudahkan saat shooting atau editing nantinya ketika memisahkan subyek dengan latar. Screen bisa terbuat dari apa saja. Bisa dinding yang dicat atau bisa juga berupa kain yang berwarna hijau atau biru. Untuk dinding yang dicat warna hijau atau biru, gunakan bahan yang tidak memantulkan cahaya. Hindari cat yang mengandung coating karena bisa menimbulkan refleksi.

Saat ini sudah ada beberapa screen yang bisa dibawa kemana-mana, ini tentu saja memudahkan ketika shooting dilakukan tidak hanya di satu tempat saja. ChromaFlex dengan ukuran 2,1 meter berat 5kg sebagai contohnya. Alat ini cukup praktis untuk melakukan shooting chroma keying di lokasi mana saja.

Screen lain yang biasa digunakan untuk keperluan shooting chroma key adalah cyclorama, nyaris tidak ada sudut pada layar ini. Hal ini membuat pencahayaan akan bisa lebih merata, yang berarti subyek dengan latar tidak sulit untuk dipisahkan.

Kamera

Kamera video jenis apa yang cocok untuk shooting dengan metode chroma keying? Sebetulnya saat ini hampir semua jenis kamera memungkinkan hal ini. Namun sebagai perbandingan, kamera dengan format DV nyatanya tidak lebih baik dari kamera dengan format betacam. Kamera dengan format Full HD tentu sudah jauh lebih baik. Terlepas dari itu, hal yang paling penting daat shooting untuk chroma keying adalah setting di kamera itu sendiri. Diafragma dan speed harus diperhatikan sedari awal. Fokus diafragma dan speed normal pada backgroundnya, bukan pada subyeknya.

Lighting

Pencahayaan atau lighting dalam shooting untuk keperluan chroma keying menjadi poin yang sangat krusial. Sebaik apapun latar atau screen serta kamera yang digunakan akan menjadi sia-sia ketika pencahayaan tidak dilakukan dengan baik. Chroma key berkaitan erat dengan warna, dan warna tidak bisa dipisahkan dengan cahaya, karenanya cahaya yang asal terang dengan tidak memperhatikan kebutuhan chroma keying ini bisa merusak segalanya.

Untuk subyek diperlukan pencahayaan utama (key light), lantas pencahyaan pengisi (fill light), serta back light untuk memisahkan subyek dan latar, dan terakhir diperlukan background light. Jika back light, cahaya diarahkan pada subyek dari arah belakang, maka background light dimaksudkan untuk memberi cahaya pada screen/latar agar warna green atau blue merata.

Editing  

Hasil akhir dari chroma keying dilakukan pada saat paska produksi. Namun ini tidak demikian untuk keperluan LIVE misalnya. Pada acara live digunakan hardware tertentu untuk melakukan chroma keying tadi. Yang paling umum adalah menggunakan vision mixer, dimana pada mixer video tersebut sudah ada fasilitas untuk chroma key.

Jika tidak dilakukan langsung, maka tehnik chroma key dilakukan saat paska produksi atau editing. Hampir semua software editing memiliki fasilitas atau plugs in untuk chroma key. Namun ada juga softwar untuk chroma key yang berdiri sendiri atau stand alone. Wax, sebuah software yang dikhususkan untuk chroma keying termasuk compositing dan 3D effect. Software ini bisa digunakan secara mandiri (stand alone) maupun sebagai plug in yang ditambatkan pada sofware editing. VirtualDub, juga merupakan software editing yang didesain sedemikian rupa agar editor bisa dengan cepat melakukan chroma keying. Karena tool chroma keying sebagai tambahan, hasilnya memang kurang maksimal.

Blue Screen atau Green Screen?

Seperti penjelasan pada awal tulisan ini, shooting dengan tehnik chroma key artinya subyek akan diambil gambarnya dengan latar satu warna. Warna yang dimaksud adalah biru atau hijau. Kedua warna ini dianggap paling tidak menyerupai warna kulit. Porsi warna hijau atau biru di latar belakang akan digantikan dengan gambar lain. Proses ini dikenal sebagai keying, keying out, ada juga yang menyebutnya dengan kata key saja.

Hingga kini warna hijau paling sering digunakan dibandingkan warna lain, hal ini disebabkan sensor penerima gambar di kamera video digital paling sensitif dengan warna hijau. Pada bayer pattern nyatanya banyak pixel pada warna hijau, hal ini dilakukan dengan meniru sensitifitas mata manusia yang meningkat terhadap cahaya hijau. Dengan demikian kamera menangkap key warna ini paling jernih.

Pencahyaan untuk menyinari warna hijaupun rupanya diperlukan lebih sedikit ketimbang warna biru, hal ini dikarenakan sensitfitas pada warna hijau terhadap sensor kamera lebih tinggi. Sebelumnya, warna biru digunakan sebelum digital keying terutama untuk proses optikal, namun demikian warna biru ini memerlukan pencahyaan yang jauh lebih banyak. Walaupun nyatanya warna biru memiliki keunggulan yaitu di dalam spektrum visual. Namun lagi-lagi, faktor terpenting dalam proses keying yakni pemisahan antara warna subyek dengan warna latar belakang atau screen.

Chroma Key untuk LIVE

Saat ini banyak produsen yang menawarkan teknologi chroma key untuk keperluan acara televisi live. Beraga kelebihan ditawarkan, bahkan tentu saja bukan sekadar chroma key yang memisahkan subyek dan latar, lebih dari itu produk yang dimaksud bisa memadupadankan beragam kebutuhan lainnya. Latar tiga dimensi, grafis yang interaktif, serta pencahayaan yang pada akhirnya output yang dihasilkan lebih realistik.

Diantara teknologi chroma key yang dimaksud antara lain Ultimate dengan produk terakhirnya Ultimate 11 HD/SD dengan fasilitas input firewire, composite, dan S-Video. Ultimate merupakan gabungan antara hardware dan software. Produk lainnya BoinxTV, mudah digunakan, selain untuk televisi juga bisa digunakan untuk keperluan broadcasting lain seperti streaming internet. Namun BoinxTV hanya berjalan pada platform Mac. Pada jajaran profesional ada Blacmagic Design Declink, beragam input dan output memungkinkan untuk digunakan para profesional dengan hasil yang baik.

Untuk keperluan shooting dengan menggunakan lebih dari satu kamera, beberapa produsen untuk chroma keyingpun tak kalah bersaingnya. Tricaster salah satunya, terus mengembangkan beberapa varian yang bisa menjadi pilihan pengguna. Bagaimana kamera seolah bisa melakukan manuver seperti jimmy jib, tak hanya zooming dan paning, tapi kamera bisa nampak swing atau mengayun yang berarti studi kecil saja seperti nampak besar. Begitulah teknologi broadcasting televisi kini. Artinya bagaimana kreatifitas para user telah dibantu oleh salah satu teknologi ini.

Action Cam, Bukan Sekadar Gaya
Diki Umbara

Melayang di udara dengan indah, kedua tangan pemotocross memegang bagian belakang speda motor sport, menukik menuju landasan, hingga akhirnya roda benar-benar menyentuh lap dengan penuh kerikil. Semua momen ini tertangkap jelas bukan dari hasil bidikan cameraman di bawah. Tiga action cam yang dipasang pada kendaraan roda dua dan si pemotor itulah yang menangkap rangkaian semua gerakan dramatis ini.

Action camera didesain untuk keperluan perekaman dari pelbagai sudut serta beragam posisi. Action cam didesain sedemikian rupa dengan tujuan demikian karena kebutuhan perekaman seperti ini tidak bisa atau agak sulit diakomodir oleh kamera jenis konvensional yang telah ada. Kini beberapa produsen kamera aksi telah dan terus mengeluarkan beragam jenis action cam yang disesuaikan untuk para penggunanya. Action cam biasa disebut POV atau point-of-view camera, sebab tak seperti halnya kamera konvensional yang digunakan dengan cara handheld atau menggunakan penyangga, kamera ini dikenakan di badan si pengguna. Action cam dengan mudah bisa dipasang pada handlebar sepeda gunung, sepeda motor, mobil, helm, atau papan surfing.

source: shadowmedya

source: shadowmedya

Pada alat atau kendaraan apapun action cam disematkan, tujuan dasarnya tentu saja sama, yakni untuk merekam aktifitas yang terjadi. Artinya action cam memang difungsikan sebagai alat yang bisa mendokumentasikan secara visual dan mungkin kelak audio juga. Maka sesuatu yang berhubungan dengan video telah menjadi concern para produsen.

source: ridetua

source: ridetua

Resolusi video yang disokong oleh action cam lebih variatif, walaupun ada jenis action cam yang hanya memiliki default untuk satu saja resolusi namun lainnya memungkinkan pengguna untuk memilih resolusi video mana yang akan digunakan dalam perekaman. Ada tiga jenis resolusi HD sebagaimana pada kamera selain action cam yakni HDV 720p, HDV 1080i, dan HDV 1080p.

(Terlalu) Banyak Pilihan

Bermula populer dari Go-Pro, saat ini puluhan produsen berlomba mengeluarkan beragam varian action cam. Feiyu, Back-Bone, V.I.O, Sony, Tom Tom, Cyclic, JVC, Kodak, Toshiba, Ion, Replay, Garmin, Contour, Yashica, Rolley, VidVision, Drift, Panasonic, Brica, Polaroid, Xiomi, dan deretan produsen lainnya. Ada dua hal ketika produk sejenis diproduksi oleh banyak produsen, kabar menggembirakan untuk konsumen karena ini berarti banyak varian atau justru membingungkan karena terlalu banyaknya pilihan. Maka review dan testimoni dari para pengguna masing-masing produk akan sangat membantu.

Lebih dari itu yang paling penting justru bagaimana agar kita bisa memanfaatkan action cam yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan, sebab fasilitas yang berlebih bisa jadi tak begitu bermanfaat untuk kebutuhan atau terlalu mahal jika ditautkan dengan keperluan.

Beragam Alat Pendukung

Action cam yang memiliki fungsi untuk menangkap beragam moment ini nyatanya akan lebih maksimal jika didukung peralatan lain. Beragam tool pendukung dimaksudkan agar tangkapan gambar baik sebagai still image maupun gambar bergerak bisa sesuai yang diinginkan. Penyedia tool inilah yang memanfaatkan keperluan para pengguna action cam. Seringkali produsen supporting tool ini bukan dari produsen action itu sendiri. Tool tersebut di anataranya waterproof housing, back-up batteries, car charger, wi-fi remote attachment, microphone adapter, camera tether kit, floaty back door, dog harness, bodyboard mount, head strap, chest mount, helmet mount, wrist strap, dan the hand grip.

Waterproof housing, dengan alat ini action cam bisa menangkap momen di kedalaman laut. Jika dulu diperlukan cameraman under water untuk melihat keindahan laut, dengan alat ini diver biasa bisa melakukan itu semua. Tentu sangat praktis dibanding kamera besar yang juga mmeerlukan housing yang besar pula.

Back-up batteries, batere cadangan ini bermanfaat untuk action cam yang dalam penggunaannya dilakukan dengan durasi lama. Jika battere utama telah habis, maka battere back inilah sebagai penyelamatnya.

Car charger, seperti halnya charger mobil lainnya, untuk keperluan pengisian battere pada action cam juga ada charger mobil yang bisa mengisi battere. Jika action cam kebetulan dipasang di dalam mobil tentu car charger bisa digunakan saat action cam melakukan perekaman yang berarti ia bisa mengisi sekaligus digunakan.

Wi-fi remote attachment, kebutuhan wifi sebagai alat koneksi dari gambar yang diambil yang duhubungkan pada aplikasi ini diakomodir oleh tool ini.

Microphone adapter, microphone tambahan tidak bisa disambung begitu saja pada action cam karenanya diperlukan adapter untuk menghubungkannya. Maka microphone adapter inilah yang nantinya bisa menyambungkan beragam koneksi mikropon.

Dog harness, alat ini diikatkan pada anjing untuk menempelkan action cam. Dengan demikian poin of view akan didapat dari beragam gerakan atau aktifitas anjing. Pada bagian mana alat ini diikatkan tentu bisa disesuaikan agar anjing sebagai subyek masih tetap nyaman menggunakannya.

Head strap, pengikat yang dilekatkan di kepala. Head strap ini mirip dengan pengikat kepala yang dilekatkan pada para pegawai yang bekerja di terowongan atau goa.

Chest mount, mounting ini diikat pada badan manusia. Wrist strap, dipasang di pergelangan tangan seperti gelang. The hand grip mirip dengan wrist strap yakni penyangga yang dilekatkan di tangan.

Mengabadikan Momen ke Seluruh Dunia

Nyaris tak ada teknologi yang berdiri sendiri, hal ini tentu bergantung dari keterkaitan pengguna pada alat tersebut dengan alat lainnya. Pun demikian dengan action cam, sebagai kamera yang bisa menagkap beragam aktifitas ini bisa dinikmati untuk individu namun bisa juga dinikmati oleh komunitas yang cakupannya lebih besar. Jaringan internet memungkinkan hal ini. Momen yang diambil oleh action cam bisa langsung disebarluaskan hingga pelosok yang nyaris tanpa batas. Dengan memanfaatkan perangkat tambahan dan jaringan internet, beragam event bisa dilihat oleh siapa saja. Penyelia pengunggah live steraming ini di antaranya Youtube dan Ustream.

Untuk memanfaatkan fasilitas ini, pengguna mesti membuat channel yang berfungsi untuk mempublish. Kanal ini seperti halnya akun, jadi tidakakan ada nama yang sama. Ini artinya kita tidak bisa membuat nama kanal yang sama dengan kanal yang telah ada. Nama kanal baiknya dibuat secara unik, hal ini juga bermanfaat untuk keperluan publikasi. Setelah itu menuju tautan Go Live!, yang lantas akan membuka window baru untuk mengakses action cam yang terhubung pada komputer tersebut. Maka, kanal kita bisa ditonton oleh siapaun.

Secara sederhana, konektifitas perlatan yang digunakan yakni action cam yang memiliki fasilitas wifi tersambung dengan gadget dengan istilah tethering mode, lalu gadget tersebut dengan fasilitas jaringan 3G/LTE dikoneksikan pada penyelia Ustream, dan viewer akan mengakses kanal yang kita buat di Ustream tadi. Ya sesimpel itulah saat ini bagaimana momen bisa disebarluaskan ke pelbagai pelosok. Ini tentu berbeda dengan live event yang biasanya digunakan oleh televisi konvensional seperti halnya televisi tereterial.

Action Cam untuk Acara Televisi Live

Digandeng produsen teknologi broadcasting televisi Viselink, GoPro menjadi action cam yang bisa menyokong siaran lansung televisi. Antena khusus didesain sedemikian rupa sehingga gambar yang dihasilkan GoPro bisa dipancarkan pada layar televisi. Transmiter mikro ditempelkan pada kamera ini sehingga gambar bisa dikirim untuk akhirnya diterima di stasiun televisi. Pertama kali teknologi ini digunakan di kanal televisi khusus olahraga ESPN.

Kini tak hanya ESPN yang memanfaatkan action cam, beragam televisi bahkan televisi komunitas sekalipun sudah ada yang memanfaatkan teknologi ini walapun spesifikasi peralatannya bisa jadi berbeda. Namun intinya sama, bagaimana agar moment entah itu sport, musik, dan lain sebagainya bisa ditransmisikan oleh televisi lalu bisa dinikmati pemirsanya.

Sebab televisi memiliki format dan frame size untuk video, maka mau tak mau pada akhirnya frame size itu akan disesuaikan sehingga format video dan frame size pada action cam akan bisa diterima oleh peralatan yang dimiliki stasiun atau kanal televisi tesebut.

Bukan Sekadar Gaya

Barangkali hingga kini masih banyak yang menggunakan action cam sebagai piranti untuk mengabadikan sebagai gaya-gayaan saja. Padahal momen yang ditangkap oleh action cam baik berbentuk still image maupun gambar bergerak, bisa dimanfaatkan untuk hal yang jauh lebih berguna. Teknologi akan terus berkembang dan tak akan pernah berhenti, bagaimana agar hasil teknologi itu bisa berfaedah? Bisa jadi kita bukan gagap teknologi karena toh mempelajari penggunaan teknologi juga bukan hal sulit. Hal esensial adalah faedah apa yang harus didapat dengan penggunaan beragam hasil karya manusia ini.

Yang Menggoda dari Mata Najwa

Yang Menggoda dari Mata Najwa
Diki Umbara

NAJWA

Script opening ini tampil pada teleprompter, yakni sebuah pengial baca yang diletakkan di depan lensa kamera. Dengan sorot mata yang khas, intonasi yang diatur sedemikian rupa, Najwa Shihab membuka acara Mata Najwa dengan membaca naskah di atas. Talkshow sebagai format acara di radio dan televisi diprakarsai oleh Joe Franklin pada tahun 1951 di WJZ-TV. Sebagai acara perdana, acara mendapat sambutan baik dari pemirsa di Amerika. Selanjuttnya mulai tahun 1962 hingga 1993 talkshow ini berpindah ke televisi WOR-TV. 31 tahun tentu bukan waktu yang pendek untuk sebuah acara televisi.

Talkshow Televisi dan Perkembangannya

Diminati di Amerika, talkshow sebagai acara yang informatif selain berita, menyebar dan digemari pula oleh masyarakat Eropa serta benua lainnya. The Tonight Show, merupakan acara talkshow paling lama. Dimulai tayang perdana tahun 1954, acara yang tayang di NBC ini hingga sekarang masih ada. Disusul kemudian oleh The Late Night Show, sebuah talkshow yang begitu populer di Irlandia.

Talkshow sebagai salah satu format acara, pada perkembangannya juga melahirkan semacam sub-genre. Maka lahirlah talkshow yang khusus tayang pada pagi, siang, sore, dan malam hari. Sub genre lainnya adalah Sunday Talk, talkshow yang tayang khusus pada akhir pekan. Sub genre berdasar waktu tayang ini juga nyatanya diikuti oleh televisi di Indonesia, talkshow Bincang Malam dan Indahnya Pagi, dua talkshow ini cukup lama tayang di TVRI. Sub genre bukan sekadar perihal waktu tayang, lebih dari itu biasanya akan berkaitan dengan konten atau tema, narasumber, serta kemasannya.

Isu dan Narasumber

Isu atau tema serta narasumber pada talkshow adalah dua elemen penting, karena sepopuler siapapun hostnya tentu tidak akan menarik jika bahasan serta narasumber dari talkshow itu bisa-biasa saja. Tema dalam talkshow tentu bisa apa saja, tergantung dari tujuan dari talkshow itu sendiri. Dua hal paling populer yang dijadikan tema dalam talkshow yakni segala sesuatu tentang current issue dan hal yang inspiring. Jika current issue akan berkaitan dengan waktu, maka tema inspiring biasanya tidak akan tergantung hal itu bahkan bisa timeless.

Host Talkshow

Host atau pembawa acara talkshow menjadi point utama dalam acara ini. Host menjadi kunci karena merekalah yang memandu, ke mana arah talkshow ditujukan, ia yang menggali isu dari narasumber yang dihadapinya. Kekuatan host ini disadari betul oleh pembuat acara televisi. Atas itu pulalah lahir talkshow dengan membawa nama si host dalam judul talkshownya. Di Amerika ada The Jerry Sringer Show, Piers Morgan Tonight, The Jay Lano Show, The Caroline Rhea Show, Oprah Winfrey Show, dan Larry King Live. Oprah Wimfrey dan Larry King membawakan acara talkshow cukup lama, karenanya nama kedua host ini tak hanya terkenal di Amerika tapi sangat dikenal hingga pelosok dunia.

Selain di Amerika, talkshow yang menggunakan nama host sebagai nama pertunjukkan juga dilakukan negara lain. The Paul O’Gradey Show (Inggris), Nightlife with Alan Khan (Afrika Selatan), Kofee with Karan (India), The Alan Hamel Show (Kanada), dan Sanja (Kroasia). Sanja, sebagai salah satu host disematkan untuk nama talkshow tanpa embel-embel kata lainnya. Di Indonesia ada Sarah Sechan, host yang namanya juga dipakai untuk judul talkshow di Net TV. Televisi yang “boros” menggunakan nama host dalam acara talkshow adalaha Metro TV. Di televisi yang memposisikan diri sebagai televisi berita ini ada Just Alvin yang dipandu Alvin Adam, Kick Andy yang dipandu Andy F. Noya, dan Mata Najwa yangdipandu oleh Najwa Shihab. Televisi publik TVRI tak mau ketinggalan pula membuat talkshow dengan menyematkan nama host pada acaranya yakni Minggu Malam Bersama Slamet Rahardjo.

Ada Apa-Apa di Mata Najwa                                                                

Acara talkshow di Indonesia seringkali tak bertahan lama. Alasan kenapa acara tersebut tidak berlanjut biasanya ada beberapa hal, dan yang paling umum tentu saja terkait dengan rating dan share acara tersebut. Karena rating dan share dari Nielsen Media Research masih menjadi satu-satunya alat ukur seberapa banyak sebuah acara ditonton. Acara talkshow datang dan pergi silih berganti. Tapi ada yang masih bertahan dan masih banyak digandrungi penonton, yakni Mata Najwa.

Mata Najwa pertama kali tayang di Metro TV pada 29 November 2009. Memasuki tahun ke 5 acara yang menjadi unggulan Metro ini selalu menghadirkan bintang tamu yang dianggap sedang kontroversial saat itu atau pejabat tinggi negeri ini. Megawati, BJ Habibie, Jusuf Kalla, Joko Widodo, dan Basuki Tjahya Purnama atau Ahok pernah menjadi narasumber di Mata Najwa.

Najwa Shihab yang kini dipercaya sebagai Wakil Pimpinan Redaksi Metro TV, meniti karir jurnalis yang cukup pesat. Bermula sebagai reporter, presenter, lantas menjadi asisten produser, produser, dan eksekutif produser. Karir dari reporter menjadi presenter sebetulnya hal yang lumrah, karena seringkali jenjangnya demikian. Namun di luar sana, semisal CNN atau BBC, kita akan jarang menemukan presenter yang sangat muda. Karena untuk menjadi presenter diharuskan menguasai lapangan sebagai reporter dalam jangka waktu yang panjang. Dengan demikian maka penyiar televisi CNN, BBC, ABC, FOX News, biasanya merupakan penyiar yang matang. Hal ini nampaknya agak berbeda dengan televisi di Indonesia, sebab kenyataannya beberapa presenter lahir dari reporter yang belum lama menguasai lapangan. Demikian pula dengan Najwa Shihab, ia sebetulnya belum memiliki pengalaman panjang sebagai reporter ketika akhirnya meniti karir menjadi presenter.

Namun nampaknya Najwa belajar cepat, sempat tegopoh-gopoh di awal-awal saat menjadi presenter, kini telah menjadi pembawa acara yang memiliki kepercayaan tinggi. Berbagai penghargaan telah di dapat Mata Najwa, seperti dua kali KPI Awards sebagai talkshow terbaik serta terpilih menjadi salah satu nominasi The 15th Asian Television Awards untuk kategori Best Current Affair Program untuk episode Separuh Jiwaku Pergi.

Tatapan Najwa dalam membawakan Mata Najwa menjadi sangat khas, Nana begitu ia biasa dipanggil, biasanya akan menatap langsung narasumbernya dengan tajam. Kerap ketika narasumber nampak kaku, maka Najwa akan membuka pertanyaan dengan hal yang sangat ringan. Ini biasa pula dilakukan para presenter di luar dengan tujuan sebagai ice breaking. Kekhasan lain dari Mata Najwa, Nana akan menggunakan semacam bahasa tubuh dengan menyorongkan badan ke arah narasumber. Hal ini nampaknya disukai oleh narasumber, karena itu berarti betapa host atau pembawa acara concern pada paparan narasumber.                                    

Kekuatan Riset

Memang tak seperti Oprah Winfrey show yang memiliki tim riset yang begitu banyak, atau tidak pula seperti Jay Lano dan Larry King yang punya tim riset lengkap, tapi Mata Najwa nampaknya tak mengenyampingkan riset sebagai senjata utama dalam talkshow. Data dari hasil riset sangat diperlukan bagi pembawa acara. Dengan data yang diolah menjadi informasi yang penting, menjadi salah satu bahan pertanyaan atau question list yang dibuat oleh tim penulis. Lebih dari itu, informasi dari hasil riset juga bisa menjadi bahan untuk konfirmasi pada narasumber yang dihadapi oleh pembawa acara.

Seperti halnya Oprah Winfrey Show yang sukses pula pada tour talkshow di luar studio, Mata Najwa ditonton ribuan pasang mata saat tampil di Universitas Negeri Jogjakarta dengan tema saat itu, Dari Jogja: Berani Tampil Beda. Lalu, sampai kapan Mata Najwa akan bertahan di televisi, tak ada yang bisa memastikan. Tapi setidaknya, lima tahun sudah terlewati oleh Najwa Shihab dan timnya untuk menghadirkan tontonan menarik selain hiburan yang ditayangkan televisi.

 

Infotainment, (Tak) Semua Gosip Menghibur

Infotainment, (Tak) Semua Gosip Menghibur
Diki Umbara

 

Sepuluh hingga lima tahun lalu, program infotainment nyaris mendominasi tayangan televisi. Dari data AGB Nielsen, pada tahun-tahun itu pula infotainment sempat menduduki peringkat 15 hingga 10 acara televisi yang mendapatkan perolehan penonton terbanyak. Walaupun masa kejayaan infotainment sudah lewat, kini acara yang sudah dikenal di ujung tahun 80-an di Amerika itu masih memiliki pemirsa yang loyal.

Mulanya, infotainment sebagai padupadan dari kata information dan entertainment tidak dimaksudkan sebagai acara gosip. Infotainment merupakan inovasi dalam pengemasan informasi secara santai dengan konten serius berdasar fakta di lapangan. Jauh sebelum era infotainment di televisi, kemasan yang kini telah menjadi bias ini diawali dengan surat kabar di Amerika Serikat dengan sebutan penny press atau di Eropa sebagai yellow press. Lambat laun di era globalisasi nyatanya informasi dan hiburan menyatu atau memang sengaja pula disatukan hingga menjadi infotainment seperti saat ini. Dalam Oxford English Dictionary, infotainment didefinisikan sebagai broadcasting material which is intended both to entertain and to inform. Beragam acara televisi dikemas sedemikian rupa agar memiliki sisi hiburan. Acara berita olahraga misalnya dipandu oleh host dengan pakaian dan gaya pembawaan yang sporty. Pun demikian dengan acara yang memberikan informasi lainnya, diberikan sentuhan dalam pengemasan yang menghibur. Namun, pada perkembangannya infotainment mengalami perubahan banyak bahkan cenderung meleset dari apa yang dimaksudkan dari definisi infotainment di atas.

Yang semula infotainment berupa informasi serius namun terbilang pada soft news itu, kini kontennya hanya pada seputar kehidupan selebritas. Awalnya, infotainment jenis ini hadir di Indonesia ditayangkan RCTI yakni Buletin Sinetron. Tidak dibuat oleh RCTI, sebab Buletin Sinetron diproduksi oleh sebuah production house Bintang Advis Multimedia. Yang di kemudian hari rumah produksi ini lebih banyak memproduksi infotainment, baik untuk tayangan televisi maupun tabloid. Buletin Sinetron yang perdana hadir tahun 1994 ini seringkali mengulas tentang behind the scene atau di balik layar pembuatan sinetron. Ternyata kehidupan para pemain sinetron ternyata menarik pemirsa televisi.

Tak lama berselang, beberapa infotainmen serupa bermunculan di semua televisi swasta. Sepuluh tahun sejak kemunculan perdana infotainment, hampir 50 judul infotainment hadir. Melahirkan pula para pembawa acara infotainment yang tak kalah populer dengan para selebritas itu sendiri. Di luar sana muncullah nama-nama infotainer, sebutan untuk host infotainment ternama seperti Barbara Walters, Katie Couric, Keith Olbermann, Glenn Beck, Maury Povich, dan Deborah Norville.

Di Indonesia pembawa acara infotainment Fenny Rose sempat menjadi trend setter host infotainment dan bahkan olok-olok dengan meniru gaya bibirnya yang khas. Pembawa acara infotainment populer lainnya antara lain Irfan Hakim, Cut Tari, Indra Herlambang, Marissa Nasution, dan Yuanita Christiani.

infotainmentfoto: Diki Umbara

Bagaimana Infotainment Dibuat Hingga Tayang?

Tayangan infotainment masih menjadi perdebatan, hingga kini baru PWI atau Persatuan Wartawan Indonesia yang mengakui infotainment sebagai produk jurnalistik. Sedangkan lainnya meragukan itu bahkan tegas menolak, sebab beberapa kaidah jurnalisme kerap dilanggar para pekerja infotainment. Benarkah demikian? Berikut merupakan proses bagaimana infotainment diproduksi hingga ditayangkan televisi.

Tidak seperti halnya berita, nyaris tidak ada infotainment yang memiliki redaktur. Dalam infotainment, produser memiliki wewenang untuk mengurus bagaimana sebuah berita diliput hingga siap tayang. Dalam liputannya, akan ada beberapa reporter yang diterjunkan. Pengaturan reporter ke lapangan akan dilakukan oleh koordinator liputan, yang biasa disebut korlip atau diatur oleh produser itu sendiri. Di lapangan, reporter beserta cameraman melakukan liputan dengan mencari informasi ke narasumber serta melakukan wawancara. Selesai liputan, reporter akan membuat naskah untuk keperluan voice over atau narasi. Setelah naskah selesai, berikutnya perekaman suara. Seringkali reporter sendirilah yang menjadi narator. Proses penyuntingan gambar dilakukan pararel dengan kerja reporter berikutnya setelah editor mendapat materi liputan. Dan editor akan menyelesaikan penyuntingan gambar setelah mendapatkan narasi tadi. Pada beberapa rumah produksi, reporter mendampingi editor untuk memastikan hasilnya. Terakhir, hasil penyuntingan gambar yang biasanya berupa paket berita tersebut akan disupervisi oleh produser sehingga akhirnya dinyatakan layak tayang. Secara teknis, banyak kesamaan antara pembuatan infotainment dengan proses produksi berita. Jadi, apa yang menjadi keberatan sebagian orang tak mengakui infotainment sebagai produk jurnalistik?

Klarifikasi dari sumber berita seringkali tak diindahkan para pewarta infotainment, maka seringkali informasi menjadi tidak valid. Demikian pula dengan tak jarangnya klarifikasi pada misalnya subyek yang sedang berseteru. Kerap berita yang disuguhkan tidak proporsional dan komprehensif antara kenyataan dan narasi yang disampaikan. Serta alih-alih mengejar kebenaran, seringkali malah ikut memanas-manasi sesuatu yang sebetulnya masih simpang siur. Artinya, jika klarifikasi dari sumber berita saja malas dilakukan bagaimana mungkin infotainment bisa masuk pada kategori jurnalistik.

Menyoal Konten Infotainment

“Gosip terkadang sebenarnya sebuah kebenaran yang tertunda diketahui oleh orang banyak” terang Yuanita Christiani dalam suatu kesempatan. Penulis percaya pada kalimat ini. Tapi itu 10 tahun lalu, sebab kini gosip dalam infotainment banyak pula yang tidak terbukti kebenarannya. Kenapa hal ini bisa terjadi?

Persaingan antar acara infotainment salah satu penyebabnya. Ada kalanya persaingan ini tidak sehat. Maka beragam cara banyak pula dilakukan oleh para pembuat infotainment. Cara yang sempat terkuak juga oleh pemirsa pada akhirnya, ialah “berita settingan”. Berita setingan yang dimaksud berbeda dengan apa yang dimaksud sebagai agenda setting seperti pada teori-teori jurnalisme. Berita setingan acapkali sebagai kongkalingkong antara subyek berita dengan si peliput berita. Dibuatlah seolah ada konflik selebritas A dengan selebritas B. Yang paling umum tujuannya untuk mendongkrak selebritas tertentu. Atau untuk tujuan publisitas, entah itu album lagu atau film misalnya. Dan kerapkali berita settingan semacam ini tidak rapi, karenanya pemirsa mudah menebak kalau itu hanya gosip dan bukan fakta. Dan di Indonesia, praktek-praktek semacam ini hingga kini masih ada.

Masih terkait konten, ciri khas lain infotainment kita ada pada narasi yang bombastis. Tak jarang kita mendapati narator yang enak didengar padahal belum tentu perlu. Narasi yang provokatif dan dengan acap dengan kalimat ending yang sinisme. Pada suatu masa beberapa kali kejadian subyek baik itu selebritas atau orang yang dikaitkan dengan selebritas protes karena menganggap narasi atau kalimat yang disampaikan pembawa acara infotainment berdampak sebagai judge mental. Karenanya ada infotainment yang diprotes keras hingga dihentikan tayangannya.

Infotainment Kini dan Mendatang   

Masa kejayaan infotainment yang secara frekuensi pernah mendominasi program televisi sudah lewat. Namun bukan berarti infotainment kehilangan pemirsanya, sebab hingga kini acara infotainment masih eksis dan beberapa stasiun televisi menayangkan secara striping. NET misalnya, memiliki program infotainment Entertainment News yang tayang setiap hari. Dari situs resmi NET, Entertainment News disebutkan sebagai program yang menyuguhkan berita atau informasi menarik dari dunia entertainment, di dalam dan luar negeri berdasar pada fakta dan informasi. Sepertinya ingin menghapus kesan bahwa infotainment sebagai program gosip. Faktanya tanpa atau minim gosip, program infotainment masih disukai penonton yang kebanyakan dari kaum perempuan ini. Tak kurang dari 14 orang kreatif yang terlibat di dalamnya. Artinya acara infotainment saat ini digarap dengan lebih serius. Sementara MNCTV juga memiliki program andalan infotainment yakni Seleb On News yang ditayangkan dua minggu sekali.

Kembalinya kemasan serta konten infotainment ke jalan yang nyaris benar ini tidak serta merta karena si pembuat acara juga. Sebab kritik dari masyarakat, bahkan suatu masa pernah ormas Islam menyatakan haramnya tayangan infotainment, membuat pembuat baik itu production house maupun stasiun televisi berpikir ulang untuk membuat tayangan infotainment yang walaupun bukan gosip, masih bisa menghibur.

Kabar baiknya, pemirsa yang semakin cerdas, pembuat acara televisi yang tak asal-asalan, serta pemodal media yang tak memikirkan bisnis semata, akan menjadi harapan ke depan bahwa acara televisi di Indonesia bisa semakin baik. Termasuk program infotainment juga tentunya. Bisa jadi.

Teknologi Broadcasting Televisi 4K, Lebih dari Sekadar Jernih dan Bening

Teknologi Broadcasting Televisi 4K, Lebih dari Sekadar Jernih dan Bening
Diki Umbara

Teknologi broadcasting televisi nampaknya akan terus berkembang hingga barangkali akan berhenti pada titik di mana gambar dan suara sudah benar-benar sempurna. Atau inovasi akan terus berlanjut dan kita tidak bisa benar-benar menebaknya. Yang dianggap canggih setahun lalu akan dirasa kuno saat ini, dan terus akan begitu.

Kecepatan inovasi teknologi seringkali melampaui kebutuhan dari konsumen, termasuk teknologi audio visual. Produsen melalui para insinyurnya terus mengembangkan teknologi audio visual sehingga kadangkala konsumen sebetulnya belum perlu benar dengan apa yang dilahirkan oleh produsen tersebut. Jadi saat ini, bukan sekadar gambar dan suara bening saja sebab lebih dari itu konsumen telah benar-benar dimanja sehingga apa yang dilihat dan didengar akan lebih terasa seperti benar adanya.

Teknologi yang audio visual yang dimaksud saat ini adalah 4K Ultra HD TV atau biasa disebut UHD TV. Produsen yang mengembangkan teknologi ini dimulai dengan Samsung, LG, dan Sony. Dan tentu saja menyusul dengan produsen lainnya. Secara teknis Ultra High Definition merupakan derivasi dari kamera 4K yang hasilnya digadang-gadang lebih memiliki nuansa dan detail yang lebih sempurna ketimbang generasi sebelumnya.

Teknologi 4K memiliki piksel horizontal sebanyak 4.000, semula teknologi ini diterapkan pada proyektor Digital Cinema Initiatives atau DCI yang diperuntukan bagi bioskop, namun kini teknologi ini telah diterapkan pada pesawat televisi. Dan persisnya 4K memiliki dimensi 4096 X 2160 piksel. Namun UHDTV atau Ultra High Definition Television ini sebenarnya memiliki resolusi 3840 X 2160 piksel (16 : 9) merupakan perkembangan terbaru setelah high definition television 720p atau 1080p.

Broadcasting Televisi

Teknologi brodcasting atau penyiaran televisi mau tak mau akan mengakomodir dari televisi sebagai produk home use yang dipasarkan, dan teknologi ini kerapkali saling susul menyusul. Ada kalanya teknologi penyiaran televisi lebih dulu mengeluarkan high teknologi, di lain kesempatan televisi bahkan bisa melampaui teknologi penyiaran televisi.

Salah satu yang berkaitan langsung dengan teknologi 4K ini adalah kamera. Maka produsen kamera berlomba-lomba untuk mengeluarkan pelbagai jenis kamera 4K. Tak hanya produsen pemain lama seperti Sony, Panasonic, dan JVC saja sebab pemain baru seperti Black Magic dan Red tak ketinggalan pula untuk bersaing dalam menghadirkan kamera yang support 4K.

Memilih Kamera 4 K

Selalu ada dua hal yang ketika teknologi audio visual dikeluarkan termasuk kamera video, yakni kebutuhan home use dan peruntukan profesional. Ada kalanya output yang dihasilkan sebetulnya menyerupai hanya saja atau memang benar-benar sama, yang secara kasat mata membedakan lebih pada ukuran atau kontruksi kameranya. Jadi secara sekilas bisa dilihat, mana untuk peruntukan profesional dan mana untuk kebutuhan amatir.

Memilih kamera 4K secara umum sebetulnya sama dengan memilih kamera generasi sebelumnya. Hal yang mesti diperhatikan sedari awal yakni: Kemampuan pengguna, ease of use atau mudah digunakan, kualitas, kompabilitas, dan terkhir yakni budget.

Kemampuan pengguna alias a man behind the gun merupakan faktor utama ketika kita hendak memutuskan membeli kamera. Secanggih apapun kameranya tentu akan percuma ketika kemampuan penggunanya tidak mumpuni. Kamera canggih hanya akan jadi onggokan mahal yang tak digunakan maksimal.

Ease of use, ada kalanya produsen menciptakan pelbagai fitur baik berupa menu yang tersedia dalam kamera tersebut atau fitur berupa hardware dengan sitim tombol, sentuh, atau putar. Namun ketersediaan fitur tersebut ada kalanya tidak easy to use. Alih-alih bisa memudahkan, ada kalanya itu justru membingungkan si pengguna. Karenanya kamera ease of use harus menjadi pertimbangan utama juga.

Kualitas kamera 4K menjadi pertimbangan berikutnya. Ya tentu saja kamera 4K untuk keperluan pro-sumer akan berbeda dengan kamera 4K untuk kebutuhan profesional. Salah satu kelebihan pada profesional misalnya ada teknologi untuk low light yang dibutuhkan untuk keperluan profesional.

Kompabilitas merupakan hal yang juga perlu diperhatikan. Untuk kebutuhan audio misalnya, kamera profesional 4K akan mengakomodir kebutuhan audio external yang harus menggunakan kabel XLR untuk keperluan mikropon. Ini biasanya tidak diakomodir oleh kamera walapun resolusi 4K namun ia untuk kebutuhan prosumer. Jadi ketika kebutuhan audio saat perekaman dirasa penting, maka kompabilitas kamera teradap kebutuhan mikropon eksternal ini juga harus diperhatikan. Kompabilitas lainnya yang mesti diperhatikan adalah file yang dihasilkan oleh kamera 4K yang pastinya berukuran lebih besar. Ini akan berkaitan dengan editing pada nantinya. Secara teknis, file hasil shooting dari kamera 4K harus bisa diimpor dengan AVCHD secara mudah.

Budget atau anggaran, ada kalanya justru ini diperhatikan sedari awal. Kenapa disusun seperti kebutuhan akhir, karena asumsinya pembaca akan membeli kamera profesional 4K di mana budget memang sudah dipersiapkan sedari awal. Semakin banyak fitur dan kompabilitas kamera lebih bagus, maka sudah tentu harganya akan jauh lebih mahal apalagi jika dibandingkan dengan kamera 4K pro-sumer.

Beberapa Kamera 4K

Kamera prosumer perdana dengan resolusi 4K dikeluarkan oleh Sony dengan type AX100. Dengan berat hampi 1 kg kamera ini dibandrol dengan harga di bawah 30 juta rupiah. Masih dari Sony, ada tipe lain yakni XA1000 yang merupakan pilihan beberapa videografer. Untuk kelas profesional, Sony meluncurkan PXW-Z100. Inilah kamera yang digadang-gadang sebagai kamera yang bisa merekam benar-benar 4K yakni 4096×2160 piksel dan UltraHD 3840×2160. Kamera ini memiliki output untuk codec MXF, salah satu codec standar yang telah diakomodir oleh software editing. Tentu saja hal ini perlu sebab ini berkaitan dengan kompabilitas seperti pada penjelasan di atas tadi. Untuk fitur yang lebih lengkap dengan lensa jenis G, Sony merilis kamera PXW-Z100, kamera yang dilengkapi dengan sensor CMOS Exmor R.

Tak mau ketinggalan, produsen kamera JVC, belum lama merilis kamera 4K dengan tipe HM-200 yang sebelumnya mengeluarkan tipe HM-170. Salah satu kelebihan GY HM-200 dibanding HM-170 yakni output XLR. Tentu saja ini perlu untuk kepentingan perekaman audio secara profesional. Kabar baiknya, jenis kamera yang dikeluarkan JVC ini jauh lebih murah daripada kamera dengan spesifikasi sejenis yang dikeluarkan Sony.

Dari produsen Panasonic mengeluarkan HC-X1000 sebagai kamera dengan teknologi 4K perdana. Ini merupakan kamera yang banyak direkomendasikan oleh beberapa pengguna. Kamera tipe HC ini mampu melakukan perekaman 4K Ultra HD pada 60p dalam SD Card. Terobosan dari Panasonic lainnya justru pada DSLR, Lumix DMC-GH4 4K Mirrorless merupakan kamera foto dan video yang digunakan para profesional. Kamera tipe ini memiliki output 16.05-megapixel dengan digital live MOS sensor.

Walapun dianggap pendatang baru, Black Magic selalu mendapat perhatian ketika ia merilis produk terbarunya. Nama tipe kameranya cukup unik, The Ursa, namun menjadi jaminan kalau kamera keluaran Black Magic ini benar-benar 4K. Bentuk kamera yang simpel dari setiap kamera keluaran Black Magic rupanya menjadikan kamera ini inceran di kalangan pro-sumer.

Barangkali ini menjadi jagoan di atas jagoan, Red One. Tak hanya di kalangan videografer, kamera besutan Red selalu mendapat perhatian para sinematografer. Tidak sedikit film layar lebar yang produksinya dibuat dengan kamera ini. Kamera 4K buatan Red ini bentuknya memang kaku tapi tampak sangat kokoh justru disukai oleh para profesional. Jauh sebelum teknologi 4K dihadirkan di rumah, Red telah lebih dulu merilis kamera ini.

Kanal Televisi Dengan Teknologi 4K

Walapun teknologi sudah mengakomodir beragam kebutuhan 4K, nyatanya baru sedikit saja televisi yang telah menggunakan teknologi ini. Dan tepatnya bukan 4K murni, namun seperti penjelasan di atas yakni Ultra HD 1. Stasiun televisi tersebut di anataranya NHK Jepang serta BBC Inggris. High Television atau seringkali disebut High 4K sudah dimulai untuk kanal entertainment, lifestyle, extreme sport, dan film. Kanal-kanal ini nampaknya memang “paling urgent” diutamakan ketika teknologi Ultra HD 1 diperkenalkan. Tak sekadar jernih dan bening, acara-acara pada kanal-kanal ini membutuhkan detail yang baik dan teknologi high 4K memungkinkan dalam mengakomodir kebutuhan ini.

Masa Mendatang                     

Seperti di awal tulisan ini, bahwa teknologi akan terus berkembang dan karenanya inovasi tak henti-hentinya dihadirkan. Secanggih apapun ruapanya teknologi bukan tanpa “cacat”. Alih-alih pure 4K yang beresolusi 4096×2160, bahkan televisi Ultra HD 3840×2160 atau UHD Television sudah dikeluhkan oleh konsumen. Gambar yang terlalu jernih dan bening dianggap terlalu kontras untuk mata. Maka jarak pandang layar televisi dengan matapun tidak bisa dekat. Yang berarti perlu space yang ekstra untuk menata penempatan pesawat televisi. Ini berarti sedang atau akan dirancang sebuah inovasi di mana bukan sekadar gambar dan suara yang jernih dan bening, lebih dari itu bangaimana agar mata dan telinga tetap nyaman.