Associate Producer atau Assistant Producer, Dia Harus Bisa Apa?

Associate Producer atau Assistant Producer, Dia Harus Bisa Apa?
Diki Umbara

Dalam sebuah situs kolaborasi media, seseorang sedang mencari profesional untuk sebuah pekerjaan. Pada situs berbahasa Inggris tersebut tercantum deskripsi yang diperlukan, tidak terlampau panjang namun cukup jelas apa yang dia inginkan dan apa yang akan didapat oleh yang hendak diajak bekerja tersebut.

49554401_374070306702414_4158380535049083952_n

I’m hiring an AP whose role will be 75% Production Coordinator and 25% shooting/editing.

The role is a rolling 3o-day contract position. It’ll pay between $4k and $4,500 per month based on experience. Looking for someone with about 2 years production experience.

AP di atas maskudnya singkatan dari Associate Producer, sebuah profesi dalam produksi program acara televisi dan film. Nah artikel ini hendak menjelaskan apa sih sebetulnya Associate Producer itu. Kemampuan apa saja yang mesti ia miliki sehingga perusahaan atau personal akan menggunakan jasa dari orang yang dimaksud.

Associate Producer kerap kali memiliki latar belakang yang berbeda, Vino G. Bastian misalnya ia menjadi Associate Producer untuk film Tabula Rasa, Vino sendiri dikenal sebagai aktor yang biasa di depan layar. Di televisi atau production house seorang Associate Producer biasanya ia pernah menjadi Production Assistant. Perihal Production Assistant sudah saya tulis sebelumnya. Namun demikian AP juga bisa berasal dari seorang yang sebelumnya tergabung di Tim Kreatif. Tapi yang jelas, dia biasanya merupakan orang yang pernah bekerja di bidang audio visual.

Associate Producer sebetulnya tidak hanya ada di dunia televisi dan film, sebab profesi ini juga ada di industri game, yakni Game Associate Producer (GAP). Tapi kali ini bahasan akan saya persempit pada Associate Producer yang bekerja di stasiun televisi dan rumah produksi.

Responsibility

Associate Producer, ia tidak bertanggungjawab kepada Producer. Nah karena itulah ini yang menjadikan perbedaan antara Assistant Producer dengan Associate Producer, walaupun di beberapa tempat dianggap sama. Bagi Associate Producer maka Produser merupakan rekan kerja, sebab itulah kemampuan Associate Producer sebetulnya hampir sama dengan Produser.

Namanya Andika Hutama, saat ini bertangungjawab untuk Pagi-Pagi Pasti Happy. Dika adalah Associate Producer di Trans TV. Acara stripping tiap pagi ini tidak memiliki Producer, Dika bercerita jika ia ditunjuk untuk menangani acara tersebut. Atasannya menilai jika ia mampu memimpin sebuah acara layaknya seorang produser. Dika bekerja dibantu oleh 4 orang Production Assistant dan 4 orang Kreatif. Dika bekerja sebagai Associate Producer tanpa producer. Ia bertanggung jawab langsung pada Executive Producer.

Dari sini bisa dilihat bahwa memang Associate Producer di televisi utamanya, dalam keadaan tertentu mesti bisa melakukan apa yang produser lakukan. Lantas kepada siapa Associate Producer bertanggungjawab? Seorang AP biasanya bekerja atas arahan Executive Producer, dan bagi AP seorang produser adalah mitra. Di beberapa tempat walau jarang, seorang Associate Producer disebut juga sebagai Co-Producer. Hal ini merujuk pada mitra sutradara yakni Co-Director.

Atau dalam dunia penerbangan dikenal sebagai Co-Pilot, yang jam terbang memang masih di bawah Pilot namun seorang Co Pilot mesi bisa menerbanggkan pesawat, bahkan ketika seorang Pilot memiliki masalah sekalipun.

Akmal Rio Ramadhan, Associate Producer di salah satu stasiun televisi MNC Group, dalam satu kesempatan mesti menggantikan sang produser dikarenakan sakit. Rio, begitu ia biasanya dipanggil, menjalankan semua hal yang sebelumnya dilakukan produser mulai dari pra produksi, produksi, hingga paska produksi.

Kualifikasi

Lantas kemampuan apa saja yang mesti dimiliki seorang Associate Producer? Kualifikasi apa sehingga ia layak mendapatkan posisi tersebut. Apakah seorang Associate Producer bekerja seperti halnya Production Assistant yang bekerja siang malam nyaris tanpa jeda?

Kabar baiknya, seorang AP bekerja tidak separah PA. Tapi bukan berarti lebih enteng juga, sebab AP memiliki tanggungjawab lain yang tidak dilakukan oleh PA. Pada dunia profesi, Associate Producer masih termasuk entry-level management. Namun demikian sesungguhnya dalam manajemen produksi film dan televisi, seorang bisa menjadi AP merupakan kebanggaan. Sebab dari AP hanya satu step lagi ia akan menjadi producer. Walau demikian di luar sana, ada AP merupakan profesi khusus bukan jenjang menuju produser, karena itulah misalnya di Amerika para Associate Producer tergabung dalam Asosiasi Profesi.

Nah inilah kualifikasi seseorang sehingga layak menjadi seorang AP:

Di beberapa stasiun televisi jabatan Associate Producer disebut sebagai Perancang Acara Madya. Hal tersebut merujuk pada istilah produser yang disebut sebagai Perancang Acara. Perancang Acara merupakan padanan Bahasa Indonesia paling tepat untuk produser televisi. Nah untuk bisa menjadi Associate Producer maka ia mesti memiliki kualifikasi sebagai persyaratan bahwa seseorang itu layak atau tidak.

Komunikasi verbal dan tertulis merupakan kemampuan utama yang mesti dimiliki, karena seorang Perancang Acara Madya akan berhubungan dengan banyak orang dimana komunikasi verbal serta tertulis merupakan syarat mutlak. Komunikasi lisan dan tulisan kerap dilakukan oleh AP untuk berkoordinasi hingga lintas departeman.

Karena salah satu tugasnya berkoordinasi tadi maka kerja seorang AP mesti teroganisir serta mampu memperhatikan hal sangat detail. Kualifikasi lain yang mesti dimiliki seorang AP adalah ia mesti seorang yang pemikir dan analitis, mampu menangani tugas teknis serta paham betul kompenen visual.

Selain bekerja kolaborasi dengan tim, AP juga harus memiliki kemampuan bekerja secara mandiri serta pandai dalam mengambil inisiatif. Ia mesti mampu menentukan skala prioritas, mencapai tujuan, dan yang paling penting lagi bisa memenuhi tenggat waktu.

Vivi Febrianti seorang Perancang Program Madya di salah satu stasiun swasta di daerah bilangan Kebon Sirih misalnya ia tahu betul bagaimana menyelesaikan pekerjaan yang setumpuk berdasar prioritas. Vivi menerjemahkan keinginan apa yang dirancang oleh tim kreatif sehingga bisa dieksekusi dengan baik, kalau perlu dengan gaya cerwetnya yang khas itu.

Associate Producer dalam produksi acara televisi nyatanya agak berbeda dengan Associate Producer untuk produksi film. Vino G. Bastian, ia mesti turut mencari sponsor serta ikut pitching sebelum film akan diproduksi serta ikut terlibat dalam strategi promosi film yang sudah picture lock dan siap ditayangkan agar ditonton banyak orang. Namun hal serupa juga dilakukan oleh Vivi, ia mesti membuat promo program televisinya di sosial media, sebab nyatanya promo on air saja tidak cukup.

Terakhir dalam tulisan ini saya hendak memberitahu, apa jenjang karir selanjutnya seseorang setelah menjadi Associate Producer? Jawabannya tak ada. Loh kok bisa begitu? Bukankah setelah menjadi Associate Producer ia akan naik menjadi Producer? Tidak demikian. Sebab nyatanya Associate Producer itu seperti Second Line Director yang bukan merupakan jenjang karir sebelum ia menjadi Director. Dengan demikian ketika Associate Producer menjadi Producer, sesungguhnya itu lebih dari jenjang karir. Lompatan seperti itu bisa disebut sebagai hijrah, sebab nyatanya ia akan memiliki responsibility yang berbeda.

Di luar sana, Associate Producer memiliki organisasi atau asosiasi dimana para Associate Producer bergabung. Pun demikian dengan profesi lainnya dimana mereka memiliki asosiasi profesi tertentu. Lantas apakah bisa dari Associate Producer menjadi seorang Producer? Tentu saja bisa namun itu berarti dia telah “pindah” dari satu profesi ke profesi lainnya yang terkesan mirip namun sejatinya bukan jenjang karir. Silang sengkarut ini kerap terlihat di banyak stasiun televisi di Indonesia, sebab itulah misalnya ada produser yang posisinya ia raih dengan instan. Ia tidak pandai menulis serta kurang memahami konten, padahal konten itu sangat penting. Pun juga kebalikannya, produser tidak boleh konsen pada konten semata, sementara hal teknis tidak dikuasai.

Pada akhirnya tulisan ini hendak menyampaikan pesan, bahwa pahami segala sesuatu secara menyeluruh jangan parsial agar saat kita menjalani profesi tertentu tahu persis bahwa kita memang layak secara kualifikasi hingga bisa menjalankan responsibility dengan baik pula.

Kelak dalam satu kesempatan saya akan menuliskan perihal bagaimana jenjang karir di televisi. Misalnya ada seorang General Manager Produksi yang dulunya meniti karir dari tim kreatif. Tapi lagi-lagi, tentu saja raihan yang ia capai tidak serta merta dalam waktu pendek. Nah detailnya nanti saja.

Iklan

Mau Capek Kerja di TV atau PH? Jadi Production Assistant Saja

Mau Capek Kerja di TV atau PH? Jadi Production Assistant Saja
Diki Umbara

Kalau kamu ke stasiun televisi atau ke sebuah production house, lihatlah orang yang paling sibuk. Coba perhatikan saja. Maka kemungkinan yang paling sibuk itu adalah seorang PA (dibaca: pi e) alias Production Assistant. Entah bagaimana mulanya di dunia pertelevisian Indonesia ini sehingga begitu banyak beban yang dilimpahkan kepada seorang Production Assistant.

Di sebuah stasiun televisi malah ada yang berseloroh jika PA itu singkatan dari Pembantu Acara, ya dialah yang membantu berbagai kebutuhan untuk berlangsungnya sebuah acara. PA juga kerap bekerja seperti Personal Assistant, ia melayani kru lain dalam menyelesaikan tugasnya. Waduh segitunya ya? Nah tulisan ini akan membahas perihal apa yang dilakukan oleh seorang Pembantu Acara eh Production Assistant.

WhatsApp Image 2019-02-18 at 20.00.01

Namanya Yulinar di hari Minggu mestinya ia jalan sama Dewo pacarnya. Hanya saja hal itu tidak ia lakukan. Enang, begitu ia biasanya dipanggil, kini berada di booth editing sebuah stasiun televisi. Ia sedang memeriksa “marking” yang dibuat oleh tim kreatif. Enang mencatat apa yang ditulis pada marking sebuah timeline editing terkait kebutuhan materi insert untuk sebuah episode variety show.

Itulah Enang, seorang Production Assistant yang sedang menjalankan salah satu dari puluhan tugasnya. Puluhan? Ya begitulah seorang PA, ia memiliki paling banyak job desrcription. Seorang PA akan terlibat dalam sebuah acara dari mulai pra pro duksi, produksi, paska produksi, bahkan ketika sebuah acara telah tayang sekalipun.

Lantas apa saja sebetulnya yang menjadi tanggung jawab seorang PA? Bisa jadi masing-masing production house atau stasiun televisi memberikan tugas yang berbeda pada PA, hanya saja inilah yang umum mereka kerjakan.

Koordinasi

Inilah hal utama yang mesti dilakukan seorang PA. Ia mesti mampu berkoordinasi dengan banyak orang, hampir semua lini akan bersentuhan dengan PA. Atas arahan produser, PA akan berkoordinasi dengan kru lain dari mulai pra produksi. Ia menyiapkan agenda meeting reguler maupun konfidensial untuk sebuah program. Pada saat produski PA akan melakukan crew call sehingga crew bisa tepat waktu hadir saat shooting. Sedangkan pada paska produksi, PA akan berkoordinasi dengan editor serta tim kreatif.

Karena koordinasi dalam sebuah produksi itu sangat penting, maka kemampuan berkomunikasi seorang PA merupakan hal yang mesti dimiliki. Ya, seorang PA mesti pandai berkomunikasi untuk kelancaran koordinasi dari pra hingga paska produksi, hingga lintas departemen.

Karena itulah seorang PA kerap akan membawa catatan sebagai reminder untuk melakukan apa yang telah ia tulis atau menuliskan apa yang telah ia lakukan.

Manajemen Waktu

Siapa yang mengatur waktu seorang Production Assistant dalam bekerja? Tidak ada. Ialah yang mesti pandai mengatur sendiri. PA tidak bekerja office hour, tidak pula ia bekerja 8 jam dalam satu hari. Seorang PA bisa bekerja lebih dari 12 jam. Mengapa hal ini bisa terjadi?

Beberapa program televisi dibuat membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Satu-satunya yang membatasi adalah deadline atau tenggat waktu. Itulah yang menyebabkan seorang PA bisa bekerja seolah tidak mengenal waktu. Maka manajemen waktulah menjadi kuncinya. Bagaimana misalnya agar pekerjaan tidak menumpuk. Timeline dan working schedule mesti menjadi acuan seorang PA sehingga pekejaan bisa selesai tepat pada waktunya.

Dari Pra Produksi hingga Selesai Tayang

Seperti di industri lain pada industri media tentu memiliki karyawan dengan jobdesc spesifik masing-masing. Ia biasanya akan bertanggung jawab pada tugas dan waktu tertentu. Ada yang hanya bekerja pra produksi,ada pula yang bekerja saat produksi dan paska produksi saja. Namun tidak demikian dengan Production Assitant.

Yulinar, sudah mulai bekerja pada saat pra produksi dari mulai menghadiri meeting persiapan produksi hingga mempersiapkan berbagai kebutuhan untuk saatnya produksi nanti. Saat pra produksi, berbagai keperluan dilist sedemikian rupa agar tidak ada yang telewat.

Dalam meeting pra produksi produser akan memaparkan breakdown program. Nah dari breakdown inilah berbagai kebutuhan akan nampak. Dari sinilah PA mencatat dan kemudian berkoordinasi dengan departemen lainnya untuk memenuhi keperluan tersebut. Di antara kebutuhan yang dimaksud di antaranya equipment shooting.

PA akan mencatat equipment apa saja yang diperlukan saat shooting. Setelah itu ia akan order equipment yang dimaksud, lantas apakah peralatan tersebut tersedia di tempat sendiri atau mesti sewa. Deany Maryana Purba, seorang Asisten Produser yang pernah menjadi Production Assistant mengatakan bahwa pemesanan equipment di televisi yang dikomandoi Wisnutama untuk pemesanan equipment seorang PA tidak bisa order dadakan, ia mesti jauh-jauh hari melakukan pemesanan. Hal tersebut tentu saja wajar sebab stasiun televisi memliki keterbatasan dalam aset.

Beberapa televisi atau PH bisa jadi memiliki prosedur yang berbeda, nah prosedur itulah yang mesti dipahami oleh seorang PA. Bagaimana meminjam equiment, mengurus wardrobe, property, hingga hal kecil semisal ATK. Prosedur tersebut kadang bikin melelahkan seorang PA. Jika saja koordinasi tidak baik maka bisa berantakanlah sebuah acara.

Lantas apa yang dilakukan seorang PA saat produksi? Ada beberapa hal berbeda yang dilakukan PA saat produksi, salah satunya tergantung dari jenis atau tipe acaranya itu sendiri. Sebab kebutuhan untuk shooting di studio berbeda dengan di luar studio. Apakah di studio atau di luar PA bisa lebih santai? Tidak keduanya karena baik di studio maupun di luar tugas PA telah menanti. Saat shooting di luar, PA akan memenuhi keperluan yang berkaitan dengan logistik hingga keperluan konsumsi kru. Kok seperti Pembantu Umum ya? Ya keculia sinetron, dalam produksi non studio PA juga mesti mengurusi urusan perut kru. PA tahu betul jam berapa dan kapan kru mesti istirhat makan.

Apa yang terjadi di lokasi shooting pun dicatat oleh PA misalnya untuk keperluan di paska produksi nantinya. Ia mesti menyiapkan media penyimpanan dari saat mulai shooting hingga shooting berakhir. Selapas shooting selesai pun PA masih mesti bekerja, misalnya mengecek semua equipment yang telah digunakan tadi sebab mesti dikembalikan ke departemen logistik atau ke pihak rental jika equipment tersebut mesti disewa.

Capek selepas shooting, sang PA pun tidak bisa berleha-leha sebab pekerjaan berikutnya menanti. Yakni mempersiapkan materi hasil shooting tadii untuk keperluan editing. PA sudah mulai bekerja di paska produksi bahkan sebelum editor bekerja. PA akan melakukan ingest atau memasukan materi shooting ke storage yang di editing. Tidak sekadar ingest sebab materi mesti dikelompokkan per segmen atau per scene. Proses grouping ini untuk memudahkan kelak saat editor akan melakukan penyuntingan gambar.

Selesai sampai di situ? Ternyata tidak sebab PA masih berkoordinasi dengan editor, kreatif, serta produser. PA harus mempersiapkan materi yang telah diedit tersebut untuk dipreview oleh produser dan eksekutif produser. PA dan kreatif akan mencatat hal apa saja yang mesti direvisi yang kemudian ia akan kembali ke booth editing.

Kelar? Ternyata belum sebab setelah selesai maka materi master edit yang siap tayang akan dikirim ke bagian Quality Control atau QC. Banyak televisi yang sudah terkoneksi antara editing dengan QC dan MCR namun ada pula yang masih konvensional. Jadi file master edit tadi dikirim ke QC dengan melampirkan form timecode (timecode ini diperlukan untuk MCR untuk mengisi jeda waktu dan lainnya).

Nah nyatanya tidak semua materi hasil editing langsung lolos QC. Maka jika ada revisi, PA akan kembakli ke editor untuk memperbaiki materi tadi. Lantas ia kembalikan kembali ke QC hingga benar-benar lolos QC dan siap ditayangkan.

Jika telah tayang maka semua kru tentu senang. Tapi lagi-lagi, PA ternyata masih saja harus bekerja walau acara telah ditayangkan sekalipun. Ada kalanya sponsor acara menginginkan copy tayang, maka PA akan meminta copy tayang pada bagian library. Kemudian PA akan mengirimkan copy tayang tersebut kepada sponsor atau klien.

Wah…beres dong pekerjaan Production Assistant? Tunggu dulu, ya untuk episode kali ini memang sudah beres namun pekerjaan lain telah menunggu. PA akan menyiapkan kebutuhan shooting episode berikutnya. Terus ia akan melakukan itu hingga ia kerap lupa waktu.

Yulinar Supriyaningsih seorang PA yang diceritakan di awal tulisan ini ia bahkan melakukan lebih dari apa yang ada di artikel ini. Kali ini ia masih sehat-sehat saja, bukan hal mustahil kelak karena hecticnya pekerjaan ia akan giliran kena thypus seperti produsernya.

O ya bekerja karena passion terntu saja menyenangkan. Kabar baiknya, PA memiliki jenjang karir. Setelah menjadi Senior PA, ia biasanya akan menjadi Asisten Produser. Ketika secara ia ternyata memiliki kemampuan lain selain teknis yakni konten misalnya, maka Asisten Produser berikutnya akan naik jabatan lagi menjadi Produser.

Tapi tak ada jenjang karir yang instan. Di stasiun televisi daerah Mampang Jakarta Selatan misalnya, seorang PA bisa menjadi Asisten Produser setelah masa waktu 5 tahun. Tentu bisa lebih cepat lagi, tergantung dari kemampuan dan penilaian atasannya dan mungkin perihal hoki. Tapi jangan pernah percaya yang terakhir.

Bagaimana Agar Video Kita Tidak Dicuri?

Bagaimana jika video yang kita buat ternyata dimanfaatkan oleh orang lain tanpa sepengetahuan kita? Menyebalkan bukan? Hal itulah yang terjadi pada seorang kawan yang seorang pegiat video. Ia kaget sebab videonya digunakan oleh stasiun televisi untuk sebuah tayangan. Tidak hanya itu, yang lebih menyedihkan adalah video tersebut diakui sebagai milik si pencuri video tersebut dengan sebuah watermark.

Setelah komplain di sosial media, akhirnya Wapemred stasiun televisi yang mencuri video itu mau menemui kawan saya. Berikutnya entah kesepakatan apa yang terjadi. Ada pelajaran penting yang bisa dipetik dari kejadian ini. Ya inilah perihal copyright atau hak cipta video. Lantas bagaimana agar video kita aman dari sang pencuri?

Sebetulnya tidak ada hal yang bisa menjamin seratus persen sebuah karya audio visual aman dari si pencomot. Yang bisa dilakukan oleh kreator adalah bagaimana meminimalisir video tersebut jatuh ke tangan yang tidak berhak tadi.

Berikut merupakan beberapa cara untuk menjaga video kita setidaknya tidak serampangan digunakan tanpa izin si pemilik.copy.jpg

sumber: insticc.org

Saat kita membuat video tentu salah satu hal yang mesti kita pastikan adalah untuk siapa video itu dibuat. Apakah video itu dibuat untuk bisa tersebar ditonton banyak orang? Atau malah sebaliknya, jangan sampai video itu dilihat oleh publik. Kenapa hal ini penting? Sebab bagaimana kita menjaga video tersebut juga menjadi salah satu hal penting.

Watermark

Ini merupakan teknik paling mudah yakni video diberi gambar watermark. Tehnik visible watermark, video disisipi tanda berupa gambar atau tulisan berwarna putih dengan transparan. Dengan cara ini video secara jelas akan ketahuan milik siapa. Hanya ini tentu saja akan sedikit menganggu yang melihat video tersebut. Simple dan gratis, sebab tidak memerlukan software khusus. Kelemahannya, selain mengganggu watermark ini tidak bisa dihilangkan terutama jika watremark ditempatkan pada area yang sulit dicropping.

Namun ada juga jenis watermark yang invisible, ia tidak kelihatan secara kasat mata namun bisa menandai video tersebut dengan logo atau text. Hanya saja untuk menggunakan invisible watermark ini memerlukan software khusus. Salah satunya yakni Digimarc Guardian, ia bisa memproteksi video yang dimaksud. Dengan software ini video bisa “dikunci” sehingga hanya bisa dilihat dengan enkripsi melalui software tersebut.

Proteksi Plugins

Inilah proteksi video yang sesungguhnya. Bahkan dengan Digital Rights Management (DRM) misalnya, video bisa distetting sedemikian rupa untuk hanya ditonton pada periode waktu tertentu. Lantas untuk apa sebetulnya proteksi video seperti ini? Tentu untuk video yang kebutuhannya bagi kalangan terbatas. Misalnya video marketing tool perusahaan yang diperuntukan bagi kalangan karyawan saja.

Video Password

File video bisa dibuatkan passwordnya. Fasilitas password untuk memproteksi file video ini ada di platform pendukung hosting dan marketing. Jadi, individu atau group yang mendapat otoritas pada video tersebutlah yang bisa mengakses. Hal ini dilakukan baik pada satu video atau berupa play list yang memuat beberapa video.

Area Domain

Nah video yang ada pada web tertentu juga bisa diproteksi, bisa dikontrol apakah misalnya video tersebut bisa dishare atau diplay kembali. Ya dengan domain restriction ini cocok untuk website yang hendak memuat video dengan kontrol penuh.

Penjadwalan

Kadang ada video yang hendak kita pertontonkan dalam kurun waktu tertentu. Dengan scheduled delivery, maka video bisa diunggah kemudian diajdwalkan penayangannya dalam kurun waktu tertentu. Video yang dikirim bersamaan dengan kode akses dimana kode tersebut ada tenggat waktunya.

IP Address

Hampir sama dengan domain, namun restriction IP Address ini memang dibuat untuk lingkungan tertentu misalnya perusahaan dan kampus. Jadi video hanya bisa diputar pada komputer dengan IP Address yang telah ditentukan. Video yang hanya bisa dibuka di IP Address tertentu ini biasanya merupakan video yang bersifat internal, misalnya untuk keperluan training.

Masih ada beberapa lagi bagaimana agar video bisa diproteksi sedemikian rupa yang intinya video tersebut hanya digunakan oleh orang yang kita inginkan saja.

Perihal Hak Cipta

Sedangkan kasus pencurian video seperti di awal artikel ini sebetulnya agak lain. Seorang teman memang sengaja mengunggah video tersebut melalui platform YouTube. Ia memang tidak memproteksi video tersebut karena memang sengaja untuk bisa ditonton publik.

Namun nyatanya ada yang memanfaatkan video tersebut untuk keperluan komersial. Dalam hal ini sebuah stasiun televisi mengambil video tersebut tanpa izin pada si pembuat. Bahkan tanpa malu ia mencantumkan watermark yang seolah video tersebut merupakan property si media pencuri tadi.

Tentu hal itu salah sebab artinya ia telah melanggar hak cipta, sesuatu hal yang sebetulnya sudah lama namun masih banyak tidak disadari oleh masyarakat kita. Kebiasaan mengambil dan menggunakan video orang lain tanpa izin masih saja menjadi kebiasaan. Dan celakanya hal itu dilakukan pula oleh stasiun televisi, tanpa malu mengambil video hasil karya kreator.

Pelatihan Jurnalistik Media

Seiring dengan waktu, jurnalisme terus berkembang. Berbagai platform media saat ini bisa menjangkau sasaran nyaris tanpa batas. Perlahan media yang hanya satu arah pun akan ditinggalkan. Namun demikian nilai jurnalistik kini malah menjadi sumir sebab banyak kaidah yang dilanggar.

Bagaimana untuk memahami jurnalisme media yang terus bergerak dinamis ini? Saya memberikan berbagai pelatihan media, baik untuk korporasi maupun intansi. Materi yang diberikan diantaranya:

  1. Menulis untuk Media
  2. Menyunting/editing
  3. Membuat Press Release
  4. Jurnalistik Televisi

Beberapa pelatihan telah saya berikan untuk lembaga pemerintahan dan swasta. Jika Anda memerlukan pelatihan yang dimaksud, Silakan contact saya melalui surel dikiumbara@gmail.com atau twitter: dikiumbara

 

TV Streaming: Lebih dari Kanal Alternatif

TV Streaming: Lebih dari Kanal Alternatif
Diki Umbara

 

Ribuan pendukung Ahok-Djarot memadati Konser Gue 2 di lapangan Ex Driving Range, Senayan, Jakarta, Sabtu (4/2). Tirto.id/Andrey Gromico

Ribuan pendukung Ahok-Djarot memadati Konser Gue 2 di lapangan Ex Driving Range, Senayan, Jakarta, Sabtu (4/2). Tirto.id/Andrey Gromico

Pemilihan Kepala Daerah atau Pilkada serentak telah usai. Ada yang disambut gegap gempita ada pula yang disikapi biasa saja. Pilkada DKI Jakarta nampaknya menjadi pilkada yang paling disoroti, Pilkada rasa Pilpres begitulah tanggapan dari masyarakat, sebab nyatanya menjadi perhatian rakyat Indonesia selain Jakarta. Liputan media yang begitu gencar barangkali itu menjadi salah satu sebabnya.

Kampanye dengan pengerahan massa rupanya menjadi salah satu hal yang tidak disia-siakan oleh setiap pasangan calon. Media massa mainstream (televisi, radio, surat kabar, online) kerap menjadikan berbagai hal terkait pemilihan kepala daerah sebagai headline. Hal menarik lainnya, dan ini kali pertama dalam pemilihan kepala daerah di Indonesia memanfaatkan sosial media untuk ajang kampanye mereka yakni Facebook dan Youtube, sebagai media live streaming.

Bertajuk #KonserGue2, salah satu pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI memanfaatkan live streaming via YouTube. Salah satu stasiun televisi berita memang menayangkan helatan tersebut sebagai program breaking news, namun siaran lengkap selama empat jam nyaris tanpa jeda hanya bisa disaksikan pada YouTuBe Live Streaming. Siapapun dan dimanapun bisa menikmati konser dengan sederet artis pendukung pasangan calon tersebut.

Streaming vs Konvensional

 Hingga saat ini antara broadcasting konvensional dan streaming, masih memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Sebagai media siaran baru, peralatan yang digunakan untuk streaming jauh dianggap lebih murah ketimbang peralatan yang diperlukan oleh media siaran konvensional. Sedangkan salah satu yang masih jadi kendala pada siaran streaming yakni kecepatan akses internet yang masih jauh di bawah ideal. Namun kelak, jika kecepatan akses internet sudah tidak lagi menjadi permasalahan, bukan hal mustahil jika siaran streaming justru akan mengalahkan broadcasting konvensional.

Aneka Platform

Platform mana sebetulnya yang paling cocok ketika kita menggunakan “pihak ke tiga” siaran atau program hendak disebarluaskan? Saat ini banyak pilihan, bahkan dalam waktu bersamaan bisa saja kita menggunakan pelbagai platform tersebut. YouTube setelah menjadi media pengunggah serta pengunduh video, menjadi platform favorit untuk streaming. YouTube Live menjadi pionir yang setelahnya disusul oleh  Facebook Live, Akamai, Wowza Stream Server, Zixi, dan Adobe Media Server. Berbagai platform ini tentu saja memiliki kelebihan masing-masing, karena itu pula beberapa pengguna  ada kalanya menggunakan lebih dari satu platform dengan harapan akan mendapat viewers yang lebih banyak dan beragam.

Hardware dan Software

Kualitas streaming akan dinikmati dengan baik ditunjang oleh tiga faktor, yakni hardware atau piranti keras  yang kompatibel, software atau piranti lunak dengan beragam fitur penunjang, serta akses internet dengan kecepatan tinggi. Menyadari hal ini, berbagai vendor telah merancang hardware serta software yang mendukung aktifitas live streaming.

Livestream Studio 4.2

livestream-studio

Livestream belum lama merilis Studio 4.2 sebagai live production switcher, yakni sebuah switcher yang nampaknya didedikasikan khusus buat live streaming. Tak hanya kamera dengan menggunakan kabel, sebab Studio 4.2 juga didesain untuk konektifitas kamera tanpa kabel alias wireless camera. Untuk tampilan,  Ada dua jenis output yang ditawarkan yakni HDMI dan SDI. Studio 4.2 juga mendukung berbagai device untuk live streaming dari mulai Facebook Live hingga Adobe Media Server.

TriCaster Mini

tricaster-mini

Berkantor di negara dengan teknologi maju Jepang, NewTek merupakan salah satu perusahaan yang konsisten dalam mengeluarkan berbagai produk untuk keperluan penunjang broadcasting. Dari mulai sistim produksi terintegrasi hingga software kreatif yang juga berkaitan dengan penyiaran. Jika Tricaster 8000 diperuntukkan bagi penyelenggara penyiaran dengan skala besar, maka Tricaster Mini nampaknya didesain untuk keperluan dengan skala kecil. Ya inilah sebuah alat untuk keperluan live streaming yang dikoneksikan ke beragam platform seperti halnya Livestream Studio 4.2.

Namun kecil-kecil cabe rawit, sebab TriCaster Mini memiliki pelbagai fitur yang bisa diandalkan penggunanya. Karenanya ia mengklaim sebagai sistem yang all in one, dan tak perlu kru yang banyak untuk menghandle peralatan multiguna ini. Fikri Ramadhan videomaker asal Bandung mengaku telah menggunakan produk NewTek ini untuk berbagai helatan. Laki-laki yang biasa disebut Piklih inilah salah seorang di balik hiruk pikuk control room acara #KonserGue2. Selain itu Piklih pernah menangani helatan creative live streaming untuk acara Chevrolet Track Unlock The City, Elang Nusa Telkomsel, dan event Menembus Langit (Jakarta-Garut) Live Stream.

img_3925

Ditanya kenapa memilih TriCaster, Piklih beralasan bahwa TriCaster tidak perlu banyak bridging device. “Semua sudah jadi satu, dari stream multiflatform (social media atau FTP), record ISO bisa, record PGM, grafik, VTR dan lain-lain” paparnya dengan menyebut beberapa istilah teknis. ISO yang dimaksud adalah isolated camera, yakni pengambilan gambar yang bukan gambar utama PGM (program).

BlackMagic ATEM

blackmagic-atem

ATEM Television Studio HD ditengarai sebagai production switcher yang didesain untuk keperluan broadcaster serta para provesional di bidang Audio Visual. ATEM 8 konektifitas, yakni 4 SDI dan 4 konektifitas HDMI yang bisa mendukung beragam format video hingga format 1080p. Tak hanya kamera profesional, karena kamera prosumer sekalipun bisa terkoneksi dengan alat ini.

Seperti halnya TriCaster, ATEM sebagai produk pendukung streaming keluaran BlackMagic ini juga memiliki banyak output untuk berbagai keperluan pengguna. Selain untuk kebutuhan live production, ATEM juga kerap digunakan untuk acara serial televisi, web show, juga helatan kompetisi game yang sedang banyak digandrungi para remaja.

Dengan desain portable namun kokoh, instalasi BlackMagic ATEM tergolong tidak rumit. Dengan demikian pengguna bisa melakukan “bongkar pasang” secara cepat.

WireCast Gear

wirecast-gear

Berdiri di era tumbangnya Orde Baru di Indonesia, Telesteram bermarkas di Nevada Amerika Serikat ini berfokus pada produk-produk yang kini diperlukan untuk keperluan streaming. Telestream terkenal karena selain mengeluarkan beberapa hardware jagoan, ia juga melahirkan semacam software gratisan untuk keperluan live streaming.

Untuk produk andalan, WireGear Cast merupakan hardware dan tentu saja software di dalamnya yang didesain sedemikian rupa agar keperluan para pengguna penyelenggara live streaming bisa memanfaatkannya. Untuk basic WireGear 110 dianggap sudah cukup mumpuni, 4 koneksi HDMI dirasa cukup untuk keperluan dengan skup kecil. Namun untuk keperluan yang lebih besar, Telestream mengeluarkan tipe WireGear 220 dengan 4 koneksi SDI. Seangkan untuk software sama-sama menggunakan WireCast Pro.

Telestream mengklaim kalau WireCast Gear merupakan ready-to-use system, serta cara penggunaan yang jauh lebih simpel ketimbang kompetitornya. Kelebihan lain dari WireCast Gear yakni build-in encoding, yang berarti bisa dikoneksikan dengan semua layanan platform pendukung streaming seperti YouTube Live, Microsoft Azure, DaCast, dan lainnya.

TV Masa Depan?

Bisa jadi televisi streaming akan menjadi televisi masa depan. Jika saat ini televisi streaming baru sekadar alternatif yang sidestream, tak menutup kemungkinan justru televisi streaming akan menjadi mainstream juga pada akhirnya, seperti televisi konvensional saat ini. Ada hal yang tidak bisa dipungkiri, sebab sebaik dan secanggih apapun teknologinya akan menjadi sia-sia ketika konten atau isi acara tidak terjaga.