Salam Kopi Johny! Melihat Tim Kreatif Bekerja

Salam Kopi Johny! Melihat Tim Kreatif Bekerja
Diki Umbara

Pagi itu Jakarta gerimis, namun karena hari Minggu jalanan dari daerah Kebon Sirih menuju Kelapa Gading pun tidak memakan waktu lama, suatu hal di luar kebiasaan jalanan ibukota. Nurul Halimah bergegas keluar dari mobil, di Jalan Kelapa Kopyor ia menemui salah seorang pengacara ternama di negeri ini.

imah

Kedatangan Nurul Halimah disadari oleh Hotman Paris Hutapea yang rupanya telah tiba lebih dulu. Kali ini yang menemui Hotman lebih dari 20 orang, setidaknya itu yang tertera di buku catatan yang berada di atas meja dimana Hotman siap melayani keluh kesah orang yang sengaja datang ke Kopi Johny.

Tapi Ndut, begitu Hotman memanggil Nurul Halimah, bukanlah tamu biasa, ia tidak ada di list orang-orang yang akan curhat perihal permasalahan hukum. O ya Ndut itu bukan body shaming, ini adalah panggilan spesial Hotman pada Nurul. Perempuan berhijab ini merupakan tim kreatif untuk acara Hotman Paris Show, sebuah acara talkshow yang dipandu Hotman Paris di salah satu stasiun televisi.

Kopi Johny Masuk TV

Yang dilakukan Halimah merupakan satu di antara sekian banyak apa yang mesti dikerjakan oleh seorang yang tergabung di tim kreatif televisi. Imah begitu ia biasanya dipanggil, sedang melakukan dua hal sekaligus. Di Kopi Johny ia sedang mencari narasumber yang nantinya akan diundang ke acara Hotman Paris Show. Talent yang dimaksud adalah orang yang memiliki kasus hukum tertentu yang nantinya akan diundang untuk hadir saat shooting di segment SKJ alias Salam Kopi Johny. Ini merupakan salah satu segment di acara HPS (Hotman Paris Show) dimana narsumber akan mengungkapkan kasusnya di studio saat shooting.

Mencari narsumber dari sekian banyak orang yang mengadu pada Hotman di Kedai Bapau dan Kopi Johny bukan perkara mudah. Imah menyimak kasus demi kasus yang diungkap orang-orang yang antri tadi, lantas memilah mana di antara kasus tersebut yang paling menarik. Ada banyak kasus yang diungkap pada Hotman dari masalah hutang piutang, sengketa tanah, asmara, hingga kasus kriminal yang rumit .

Tidak sampai di situ, sebab Imah mesti melihat juga apakah yang memiliki kasus tersebut memiliki kemampuan komunikasi yang baik atau tidak. Sebab walau bagaimana pun tentu ini penting, sebab narasumber yang talkactive akan lebih menarik di televisi.

Di kesempatan lain Sigit Saputro, produser acara HPS juga melakukan apa yang Imah kerjakan. Sigit yang pernah menjadi tim kreatif di Fremantle Media ini memilih narsumber yang curhat pada Hotman di Kopi Johny tentang kasus pembunuhan ibunya. Dua orang kakak beradik datang jauh dari Medan mengungkapkan bahwa pembunuh ibunya belum juga terungkap padahal sudah berlangsung 4 tahun lalu. Sigit melihat bahwa calon narasumbernya memiliki cerita yang kuat. Benar saja, saat shooting HPS dan kedua orang tersebut dihadirkan di SKJ Hotman Paris Show, segment ini pecah.

Ya seorang yang tergabung di tim kreatif, ia mesti memiliki insting yang kuat sehingga ia bisa menemukan narasumber yang pas untuk mengisi acara.

Riset adalah Segalanya

Di sebuah ruangan yang dengan suhu 18 derajat celcius, Nurul Halimah bercengkerama dengan Ririn Zulaikha rekannya sesama kreatif untuk membahas tema. Entah apa yang mereka diskusikan hingga akhirnya Imah pun menelpon Hotman Paris  untuk menjelaskan perihal tema serta bintang tamu yang akan dihadirkan untuk shooting. Nampak lumayan alot, barangkali kreatif dan host acara talkshow tersebut sedang mencari titik temu. Penjelasan kreatif pada host sebelum shooting ini tentu saja penting agar saat briefing nantinya lebih mudah.

Salah satu tugas penting seseorang yang tergabung di tim kreatif adalah riset. Apapun jenis program acara televisi bahwa riset itu hal paling penting apalagi genre talkshow tentu saja. Karena itulah, baik sebelum mendapatkan narasumber atau bintang tamu maupun setelah bintang tamu itu ditentukan dan didapat maka tim kreatif melakukan riset.

Hasil riset ini kelak akan berguna, untuk membuat naskah serta pertanyaan kepada narasumber. Hasil riset juga bisa diberikan kepada pembawa acara agar sebelum melakukan wawancara, ia sudah memiliki pengetahuan terlebih dulu. Data yang telah didapat dari riset diolah sedemikian rupa sehingga outputnya akan menjadi naskah untuk VT (Video Tape) yakni materi yang akan ditayakan saat talkshow serta menjadi bahanpertanyaan yang disusun menjadi question list.

Kreatif dan Komunikasi

Komunikasi merupakan hal penting lainnya yang mesti dimiliki oleh seorang tim kreatif, sebab ia akan berkomunikasi dengan orang lain dalam menyampaikan gagasannya. Apa yang telah dikonsep serta ditulis oleh tim kreatif selanjutnya mesti disampaikan dengan baik pada orang yang akan mengeksekusi yakni program director dam timnya serta komunikasi dengan pengisi acara, baik host maupun bintang tamu.

Tim kreatif mesti melakukan briefing sehingga skrip dan rundown dipahami oleh pembawa acara. Sebaik apapun ide serta gagasan yang tertuang dalam naskah maupun rundown, akan menjadi sia-sia ketika ia tidak tersampaikan dengan baik pada pengisi acara. Karena itulah tim kreatif mesti memiliki kemampuan komunikasi yang baik juga agar pesan ditangkap oleh komunikan. Ya salah satu syarat menjadi tim kreatif ia mesti menjadi komunikator yang baik pula.

Komunikasi juga diperlukan oleh tim kreatif untuk menyampaikan gagsannya pada kru yang lain. Kreatif akan melakukan briefing yang mesti dipahami oleh pengarah acara serta pengarah lapangan. Rundown yang telah disusun mungkin saja berubah saat shooting menjelang, namun demikian rundown mesti telah disusun secara baik pula sebab itu akan menjadi acuan kru dan pengisi acara.

Menulis untuk Mata

Di depan sebuah PC Nurul Halimah tampak sedang menulis script yang nantinya dibacakan oleh host dan co host. Pertanyaan ia susun sedemikian rupa mulai segment pertama hingga segment terakhir. Imah juga membuat kalimat pembuka untuk host yang ia tulis, kadang setelah daftar pertanyaan selesai atau malah ia tulis dari awal sebelum daftar pertanyaan semua ia tulis.

Tidak ada tim kreatif yang tidak bisa menulis. Inilah kemampuan tim kreatif yang hukumnya paling wajib. Menulis yang bukan melulu urusan teknis tapi bagaimana ide dituangkan agar nantinya bisa dilihat dan dinikmati penonton. Menulis naskah televisi, baik itu narasi, dialog, bahkan daftar pertanyaan, ia harus memperhatikan bagaimana nantinya bisa menghasilkan tontonan yang baik, informatif atau setidaknya menghibur. Jika tidak mendapatkan salah satunya, maka dipastikan naskah yang dibuat memang buruk adanya.

Menulis sejatinya bukan untuk diri sendiri tapi untuk orang lain atau audiens dalam hal ini. Karena itulah setelah atau sebelum menulis posisikan diri sebagai orang lain, orang yang kelak menyaksikan acara dari naskah yang kita tulis.

Paska Produksi

Menjelang siang sepulang dari Kopi Johny, rupanya Nurul Halimah tidak langsung pulang ke rumah, tidak pula pergi ke pusat perbelanjaan untuk membeli kebutuhan wanita padahal saat itu hari Minggu. Imah kembali ke kantor, ia menuju ruang editing. Materi hasil shooting di studio sebelumnya itu sudah masuk mesin editing mesti ia potong. Sebagai kreatif, Imah melakukan rough cut, yakni memotong bagian yang tidak perlu.

Sebagai tim kreatif sebetulnya tidak wajib bisa menggunakan software editing, namun Imah seperti halnya tim kreatif lain, ia bisa menggunakan piranti lunak penyunting gambar. Ndut…eh Imah, memastikan bahwa durasi bisa presisi sesuai ketentuan materi tayang.

Tidak sekadar memotong, Imah pun melakukan marking atau tanda di timeline editing sebagai catatan untuk editor. Dengan demikian editor hanya mengerjakan fine cut alias merapikan saja. Enaknya jadi editor ya. Padahal sejatinya rought cut juga dilakukan oleh penyunting gambar atau editor bukan oleh tim kreatif.

Ide Tidak Ada Batasnya Tapi…

Idea is unlimited, sebuah adagium yang sepertinya sederhana tapi tak boleh dipahami mentah oleh tim kreatif. Betul bahwa ide dan kreatifitas memang tidak ada batasnya. Fakta dan angan-angan bisa ditulis sedemikian rupa oleh tim kreatif. Tapi yang paling penting adalah apakah ide tersebut bisa diwujudkan?

Karena itulah dibutuhkan brainstorming, agar ide tadi bisa dieksusi sesuai keinginan tim kreatif. Dengan demikian tim kreatif akan membahas gagasannya dengan produser serta tim. Hal yang paling simpel misalnya ketika ada ide dari kreatif yang memerlukan property tertentu.

Genre atau jenis acara televisi nyatanya akan memiliki treatment yang berbeda dari sisi kreatif. Variety show tentu akan beda misalnya dengan game show atau acara talent search. Pun demikian misalnya dengan acara yang memang murni dibuat sendiri atau adaptasi dari acara luar. Program televisi yang diadaptasi dan membayar royalty atas hal itu sebagai contoh, biasanya sudah ada production’s bible atau production’s book yang menjadi panduan untuk tim kreatif. Rule dalam sebuah game show misalnya apakah bisa diubah atau benar-benar copy cat dan adaptasi tanpa mengubah hal esensial di dalamnya.

Jam sudah menunjukkan pukul 21.45 dan pekerjaan Imah sudah selesai. Briefing pada Hotman Paris malam ini memang tidak sampai benar-benar selesai. Nampaknya Nurul Halimah lebih nyaman menjelaskan langsung secara tatap muka ketimbang lewat telpon.

Nurul Halimah pun akhirnya pulang, sebab shooting akan dilakukan besok siang. Begitulah tim kreatif bekerja, ia mesti bisa mengatur waktu untuk dirinya sendiri. Tapi Imah yang sebelumnya bekerja sebagai tim kreatif di Metro TV kini nampak lebih happy. Bisa jadi passion sebagai tim kreatif justru ia rasakan kini di stasiun televisi dekat statsiun kereta Gondangdia.

 

Setelah membaca ulang artikel ini nyatanya masih banyak hal yang belum dipaparkan tentang tanggung jawab apa saja yang mesti dilakukan oleh tim kreatif. Barangkali memang mesti melihat bagaimana Nurul Halimah bekerja jauh lebih lama, bukan hanya sehari saja. Jika begitu, anggap saja ini part 1 dari beberapa part perihal bagaimana tim kreatif bekerja.

 

 

Iklan

Rumitnya Broadcast Automation, Sederhananya Ia Bekerja

Rumitnya Broadcast Automation, Sederhananya Ia Bekerja
Diki Umbara

Mulanya televisi dan radio beroperasi secara manual dimana audio dan video disimpan dalam tape, lalu tape itulah yang kemudian diputar. Ketika teknologi komputer ada, cara konvensional memutar tape itu masih berlangsung lama. Seiring dengan perkembangan teknologi lainnya, maka saat ini ara konvensional mulai ditinggalkan atau setidaknya dikurangi. Broadcast Automation menjadi solusi bagaimana radio dan televisi yang kini beroperasi selama 24 jam non stop. Dan manusia tidak mesti selama itu pula mengontrolnya, itulah kenapa broadcast automation dibuat.

Dalam radio atau bahkan televisi, maka iklan, jingle, musik, bisa disusun sedemikian rupa dalam playlist yang jika telah tersusu rapi maka automationlah yang bekerja. Mulanya sesederhana itu prinsip kerja broadcast automation, namun kini beberapa software auotomation teleh disempurnakan sehingga kebutuhan yang diakomidir tidak hanya itu saja.

Sistem modern saat ini semua material disimpan dalam hardisk, berbagai jenis file musik, video, atau keduanya tersimpan dalam bentuk kompresi yang ukurannya bisa disesuaikan. Dengan digital automation maka penjadwalan bisa dilakukan dimana file yang dimaksud bisa diretrieve dengan waktu yang presisi.

Pada siaran televisi, playout automation memudahkan segalanya. Penyimpanan material dalam video server kini menggunakan teknologi 9-Pin Protocol dan Video Disk Control Protocol (VDCP). Inilah beberapa penunjang untuk managemen library video dan pengarsipan yang diperlukan televisi.

Broadcast Automation saat ini merupakan integrasi dari playout, ingest, penjadwalan. Dan semua ini terkoneksi di sebuah master control room televisi. Dengan automation yang terintegrasi ini tidak diperlukan lagi banyak orang, bahkan beberapa kanal televisi hanya memerlukan satu orang saja yang bertugas untuk mengoperasikan automation. Apalagi misalnya kanal televisi yang hanya memutar acara saja tanpa ada siaran langsung baik di studio maupun dari lapangan.digital studio

gamar: digitastudiome

Automation Workflow

Jalaur automation akan nampak rumit, namun justru ialah yang sesungguhnya mengurai kerumitan itu sehingga menjadi logika skema yang sederhana. Ialah yang mengatur jalur mulai dari source tayangan hingga material tersebut akhirnya bisa diterima oleh audiens.

Secara sederhana workflow automation akan terbagi atas tiga hal, yakni content creation, content management, dan content delevery. Content creation merupakan material yang nantinya dikirim pada content management. Content creation ini juga terbagi atas beberapa sumber yakni base ingest, file ingest, serta NLE Production Area.

Sedangkan pada content management akan terbagi atas scheduling and traffic, archieving and MAM, dan news room and live production. Sedangkan pada content delivery terdiri atas Master CR dan Production CR yang itu semua berujung pada berbagai playout.

Jika tidak dirunut maka skema seolah merupakan silang sengkarut, namun ia sesungguhnya memudahkan kita dalam bekerja secara sitematis dari hulu hingga hilir.

Content Creation

Material utama tayangan dimulai dari hulu bisa dibuat dengan berbagai cara. Pada base-band ingest materi didapat dari kamera, VTR, serta satelit yang kemudian melalui A/V router ia akan masuk pada media recorder yang diingest melalui VTR atau feeding. Cara lainnya dengan file ingest, file diingest melalui P2 atau XDCAM, bisa pula melalui FTP. Dan terakhir konten dibuat melalui non linear editing (NLE).

Nah dari ketiga cara inilah selanjutnya content creation terhubung pada content management mallui proxy. Daftar yang akan diingest kemudian dimasukan ke dalam sistem content management.

Content Management

File audio, video, atau keduanya bisa dikelola sedemikian rupa sehingga file yang semula dari content creation tersebut akhirnya bisa terdistribusikan. Melalui ingest list (daftar file yang telah diiput) file tersebut disusun untuk keperluan schedulling dan traffic yang di dalamnya mencakup semua program, iklan, yang nantinya akan bermuara pada laporan billing di content delivery.

Selain schedulling dan traffic pada content managemen ini juga ada library yang berfungsi sebagai pengarsipan dimana data video dan audio tadi bias diretrieve kapan saja. Sederhanya file dari content creation diterima melalui proxy generatorlantas dimasukan ke dalam pengarsipan yang selanjutnya bisa ditranscode untuk dikirim ke content delivery.

Pada content management yang tidak kalah penting tentu saja playlist untuk kebutuhan newsroom dan live production. Sebuah fasilitas yang simpel namun bermanfaat ada di dalamnya yakni aplikasi untuk pembuatan rundown.

Content Delivery

Inilah muara dari semua proses broadcasting televisi yang diakomodir melalui automation. Dari scheduling dan traffic yang dihasilkan oleh content management tadi akan memiliki output berupa billing untuk keperluan sales marketing serta akunting.

Dari newsroom maupun production live pada content management, akan muncul rundown yang telah dibuat tadi serta naskah yang pada akhirnya bisa ditampilkan ke dalam prompter yang kemudian bisa dibaca oleh pembawa acara.

Yang paling banyak bermuara dari content management menuju content delivery adalah archieving, dimana materi audio visual yang berbentuk file tadi masuk ke MCR melalui Play Out utama beserta backupnya. Dari sanalahlah berbagai output ada mulai dari 4K, SDI, serta IP yang kemudian ditansmisikan baik salah satu atau bersamaan. Maka, siaran televisi bisa diterima melalui beragam platform, melalui website, terseterial, maupun satelit.

Begitulah automation, ia benar-benar mengatur dari hulu hingga hilir sehingga jalur yang rumit disederhanakan. Oleh karena itulah saat ini banyak kanal televisi yang bisa dioperasikan oleh sedikit orang saja.

Mengapa Per Sesi Acara Televisi 13 Episode?

“Buatlah 13 episode dulu, setelah itu nanti kita review. Kalau oke lanjut 13 episode lagi” kata seorang manajer produksi pada produser dalam sebuah meeting reguler di salah satu stasiun televisi. Namun nyatanya masih banyak yang belum tahu kenapa mesti angka 13 bukan 10 atau 6 dan seterusnya. Jangankan orang awam sebab ada pula produser yang belum tahu kenapa ia mesti memproduksi 13 episode serta kelipatannya.

Demikian juga penonton, walaupun ia tahu angka 13 serta kelipatannya namun belum tentu tahu kenapa mesti ada angka tersebut. Penonton Netflix yang biasa menikmati serial via streaming misalnya, ia biasa menyaksikan berbagai season. Yang ia tahu per season adalah 13 episode. Jadi misalnya sebuah serial terbagi atas 4 season maka sebetulnya akan ada 4 season dengan masing-masing 13 episode. Misalnya serial House of Cards terdiri atas 4 season dengan 52 episode yang berarti terbagi atas 13–13–13–13.

house

sumber: screenrant.com

Nah rahasia 13 episode itu sebetulnya bermula dari televisi di Amerika, ini berkaitan dengan musim, kualitas, dan marketing. Lantas bagaimana penjelasannya?

Di negara-negara yang memiliki empat musim (semi, panas, gugur, dingin) pola hidupnya akan tergantung dengan hal ini sedikit banyaknya. Untuk memenuhi kebutuhan yang berbeda karena perbedaan musim tersebut itulah maka kebutuhan akan hiburan dan informasi dari televisi pun disesuaikan.

Nah 13 episode tadi merujuk pada 13 minggu setiap musimnya. Sederhananya, akan ada 13 episode untuk musim panas, 13 episode saat musim dingin, dan seterusnya. Dengan demikian kreator program televisi akan membuat konten yang disesuaikan dengan musim tadi. Jika musim salju misalnya, konten yang berkaitan dengan keluarga akan mendominasi dari program yang dibuat tersebut. Atau misalnya pada musim panas, maka 13 episode untuk musim ini dibuat dengan konten liburan.

Selain berkaitan dengan season atau musim, 13 episode juga dibuat untuk kebutuhan kualitas. Sebuah program akan terjaga kualitasnya ketika dibatasi dengan jumlah episode tertentu. Karena itulah misalnya para kreator mesti memikirkan bagaimana kualitas untuk serial pada season 1, 2, dan seterusnya.

Hal lain yang berkaitan dengan angka “seram” 13 ini juga menyangkut marketing. Bagaimana para sales marketing untuk menjual program pada para pemasang iklan. Atau untuk keperluan bagaimana sebuah program dijual tiap sesinya. Misalnya televisi A hendak membeli serial dengan jumlah berapa sesi.

Jika 13 episode dikaitkan dengan musim, lalu bagaimana dengan Indonesia yang hanya mengenal dua musim? Menyangkut hal ini kita sebetulnya sekadar ikut-ikutan saja. Sebab para kreator tidak diharuskan untuk membuat program dengan konten pada musim tertentu. Artinya, sebetulnya televisi di Indonesia tidak mesti mengikuti formula 13 episode tadi.

Namun yang jelas, 13 episode pertama serial televisi di kita menajadi pertaruhan, apakah sebuah program tersebut dilanjutkan atau dihentikan. Nah misal ada acara televisi yang belum juga dikenal publik sudah keburu tidak ada, dipastikan program tersebut telah dievaluasi sebagai program yang tidak banyak diminati penonton atau bisa jadi tidak menjual. Tapi hal ini kadang bukan berkaitan dengan kualitas program tersebut, tapi secara ekonomi memang tidak menguntungkan.

Arianna, Inilah Software Pengolah Data Rating dan Share Televisi

Tidak ada hal yang paling “menakutkan” bagi para pekerja televisi level menengah ke atas kecuali perihal rating dan share. Secara sederhana, rating dan share merupakan jumlah penonton pada program televisi pada waktu tertentu.

Hingga saat ini rating dan share menjadi salah satu acuan penting bagi para pengiklan untuk menempatkan slot iklannya pada suatu acara di televisi. Cilakanya hanya ada satu lembaga riset yang kredibilitasnya diakui dalam mengeluarkan data rating dan share yakni AGB Nielsen.

Lembaga penyiaran, advertising, production house, dan lain sebagainya bisa berlangganan untuk mendapatkan data rating dan share tersebut pada Nielsen. Hanya saja tentu data yang dimaksud tidak detail, dalam artian mesti diolah lagi hingga kita tahu persis perihal kecenderungan penonton pada sebuah acara.

Untuk mengolah data tersebut diperlukan piranti lunak. Dan salah satu software yang paling banyak digunakan yakni Arianna. Bahkan disebut bahwa Arianna merupakan satu-satunya software pengelola data untuk Nilesen. Sama halnya seperti software lain, Arianna memiliki varian versi misalnya Arianna 10.0 Namun tentu saja ada software penunjang lain seperti SPSS atau MS Excel.Inilah software yang bisa mengolah data rating dan share yang kita terima dari Nielsen tadi. Data diolah dengan Arianna sehingga akan menghasilkan informasi yang kita inginkan. Hal apa saja yang bisa dipaparkan melalui software tersebut?

Dari data yang diolah maka akan ada informasi yang kemudian bisa kita identifikasi, analisa, komparasi, investigasi, hingga evaluasi. Mengapa hal ini bisa dilakukan? Karena data dari Nielsen tadi diambil dari people meter dimana akan ada data perihal penonton berdasar demografi, jenis kelamin, usia, hingga SES atau Status Ekonomi Sosial.

Fungsi itu semua tiada lain agar iklan yang ditempatkan dalam suatu program tepat sasaran. Itu tentu saja dari sisi user dalam hal ini si pengiklan. Sedangkan bagi programing televisi tentu data yang telah diolah tadi bisa digunakan banyak hal. Termasuk untuk evaluasi sebuah program.

Banyak variabel pada informasi yang diolah melalui Arianna tadi. Untuk memudahkan maka ada pengelompokan yang bisa disesuaikan dengan informasi apa yang hendak kita dapatkan. Misalnya kita hendak mengetahui penonton berdasarkan waktu tayang sebuah acara, maka pengelompokan dilandaskan pada day part. Kita akan tahu misalnya siapa penonton untuk acara pukul 21.00 hingga 22.00 dan seterusnya. Pengelompokan bisa juga berdasarkan hari, dimana misalnya kita ingin tahu penonton mana yang melihat acara pada weekend dan penonton mana yang betah pada weekdays.

Informasi yang dihasilkan oleh software ini bahkan bisa sangat detail, kita bisa melihat pergerakan penonton menit per menit. Bahkan kita bisa melihat ke mana penonton bermigrasi atau sebaliknya, dari mana penonton suatu program mendapatkan limpahan penonton. Hal ini tentu saja disebabkan penonton televisi yang bisa berpindah-pindah kanal untuk menemui atau meninggalkan acara di televisi.

Data tentang minute by minute rating ini tentu bermanfaat juga untuk pembuat acara televisi. Dari data ini produser misalnya bisa menganalisa bagian mana dalam suatu acara yang disukai atau tidak disukai. Dari data ini juga bisa kita lihat part mana dalam suatu program yang peak alias paling banyak ditonton. Dengan demikian setidaknya bisa menjadi acuan produser untuk memperbaiki bagian yang lemah serta mempertahankan part yang paling banyak ditonton tadi.

Rating dan share yang diolah software ini juga bisa menghasilkan informasi untuk komparasi sebuah program dengan stasiun televisi kompetitor. Head to head di day part atau waktu yang sama bisa nampak dengan pengelompokan berdasar waktu yang sama dengan televisi yang hendak kita head to headkan. Saling melirik program di “tv sebelah” tentu sangat penting, karena itulah yang akan mempengaruhi share alias “pembagian” penonton berdasar jumlah lembaga penyiaran pesaing.

Dalam tataran paling ekstrim maka dari rating share ini bisa dilakukan investigasi sebuah program, mengapa misalnya penonton di sebuah program bisa bermigrasi ke stasiun televisi lain. Jadi sesungguhnya persaingan yang paling inti antar stasiun televisi adalah share. Share tinggi artinya stasiun tv atau suatu program mampu mendapat raihan penonton jauh lebih besar ketimbang kompetitornya. Dan seyogyanya masih ada variable lain yang saling melengkapi seperti reach, index, thousand, serta loyalty.

arriana

Tentang Arianna

Jika kita terbiasa dengan statistik, maka memahami Arianna itu akan nampak mudah. Seperti halnya SPSS sebagai software pengolah statistik, maka cara kerja Arianna ini mirip. Hanya saja karena software hanya digunakan sedikit user yang di antaranya programming, marketing, dan agency, maka memang tidak terlalu banyak yang menggunakan pengolah data rating share ini.

Saking sederhananya, bahkan Arianna bisa dijalankan dengan PC dengan sepesifikasi di bawah ini.

  1. CPU:      2.0 GHz
  2. RAM:     2GB minimum
  3. Operation System:          Windows 7 (Starting from Arianna 8.3.0), Windows 8 (Starting from Arianna 10.0)
  4. Hard Disk Space:               1 GB of available hard disk space
  5. Screen Resolution:          1024 x 768 or higher recommended
  6. Internet Connection:     HighSpeed
  7. Internet Browser:            Internet Explorer 8 Internet Explorer 9 (Starting from Arianna 8.8.2)
  8. Internet Explorer 10 (Starting from Arianna10.0)
  9. Microsoft Office:              Microsoft Office 2003, 2007, 2010 (for Excel export)

Sederhana Bikin Pusing

Softwarenya sih sederhana memang, Arianna mengolah data dari Nielsen menjadi sekumpulan informasi yang diinginkan cukup mudah. Justru bagaimana melihat informasi dan mengambil keputusan atas paparan data itulah yang kerap bikin pening para pembuat acara televisi.

Informasi bisa dilihat dengan mudah apalagi berbagai chart atau grafik yang dihasilkan software ini sama saja dengan grafik lain pada umumnya. Melihat naik turunnya sebuah grafik itulah menjadi seni bagi para programer program tv untuk berpikir keras bagaimana agar sebuah acara diminati penonton dari pola penonton kita saat ini.

Celakanya kadang para pembuat acara televisi tidak akurat juga dalam memahami atau menerjemahkan informasi yang sejatinya sederhana tadi. Kesalahan cara membaca inilah yang bisa berakibat tidak baik, sebab pembuat acara televisi aka konsen ke bagaimana sebuah acara bisa ditonton oleh sebanyak mungkin penonton bukan seberapa baik sebuah program.

Para pembuat acara televisi mesti sadar bahwa banyaknya penonton atau besarnya rating televisi tidak melulu berbanding lurus dengan baiknya atau kualitas acara. Bahkan bisa jadi sebaliknya. Jadi jangan baper jika orang televisi dianggap turut andil dalam membodohi masyarakat penonton kita.

bahwa banyaknya penonton atau besarnya rating televisi tidak melulu berbanding lurus dengan baiknya atau kualitas acara. Bahkan bisa jadi sebaliknya. Jadi jangan baper jika orang televisi dianggap turut andil dalam membodohi masyarakat penonton kita.

Gimmick di Televisi, Bukan Sekadar Pemanis

Gimmick di Televisi, Bukan Sekadar Pemanis
Diki Umbara

“Ah hidup kamu kebanyakan gimmick!” Barangkali pernah mendengar seloroh seperti itu ketika seseorang mendapati kepura-puraan atau sesuatu yang dianggap serius padahal sebenarnya sekadar bercanda. Kata “gimmick” kini menjadi populer di masyarakat, yang sebelumnya kata ini hanya digunakan di kalangan orang hiburan, orang-orang di balik atau yang tampil di televisi utamanya.

Gimmick merupakan cara untuk menarik perhatian penonton dengan beragam cara seperti membuat adegan khusus, dandanan yang khas, musik, yel-yel, nyanyian, atau aktifitas lainnya. Gimmick juga bisa dilakukan dengan pergerakan kamera tertentu atau dilakukan saat editing. Karenanya gimmick dimaksudkan untuk menghibur, membuat penonton berdebar-debar, atau mendapatkan kejutan. Seringkali gimmick dibuat seperti tak ada hubungannya dengan inti sebuah acara. Namun itu semua tentu dengan tujuan penonton akan menyukai acara tersebut.

Bagaimana Gimmick Dibuat?

Sukses atau gagalnya gimmick pada acara televisi sangat tergantung dari banyak hal. Dan ketidakberhasilan gimmick kerap ditemui karena si kreator gimmick tidak membuat secara serius sedari awal. Gimmick bisa saja dibuat secara spontan, namun spontanitas demikian rentan pada kegagalan. Jadi sebaiknya gimmick memang sudah dirancang dan direncanakan terlebih dulu, yang di atas kertas keberhasilan gimmick sudah bisa diukur.

Gimmick walalupun sedari awal goalnya adalah membuat perhatian penonton, secara spesifik ia harus punya tujuan jelas. Artinya untuk apa gimmick itu dibuat karena sekadar mendapat perhatian penonton saja tidaklah cukup. Tim kreatif sebagai pembuat gimmick sebagai bagian dari acara, ia harus melakukan riset terlebih dulu. Pertama tentu saja ia mesti benar-benar paham tentang program acara yang sebelumnya sudah dirancang. Kedua, pada bagian mana gimmick itu nantinya dipakai; awal acara, di tengah-tengah acara, di ujung segment, atau di ujung acara. Gimmick bisa juga dibuat beberapa kali, kebutuhan seberapa banyak gimmick ini termasuk yang disiapkan dari awal. Ketiga, buatlah rancangan gimmick apakah ia akan tertuang dalam bentuk script, yang berarti nantinya cast akan menggunakan monolog atau dialog. Semi script, yang berarti dibuatkan sript sebagai panduan saja, pemain tak benar-benar menggunakan sript sebagai acuan utama yang berarti pemain bisa mengubah itu namun inti dari yang dimaksud script sebagai gimmick itu bisa tercapai. Atau unscripted, benar-benar tanpa script, pemain melakukan adegan atau dialog berdasar catatan khusus dari tim kreatif. Terakhir, gimmick sebaiknya disimulasikan terlebih dulu dengan tujuan untuk mengukur apakah konsep gimmick yang telah dirancang itu bisa diterapkan dengan baik atau tidak.

Seringkali gimmick bisa dijadikan ciri khas pada sebuah program. Artinya gimmick bisa dipatenkan menjadi sesuatu yang ditunggu oleh penotnton, kejutan yang kehadirannya dinanti oleh pemirsa. Namun demikian, walaupun akan dibuat pasti dalam setiap episodenya dan telah menjadi ciri khas, gimmick seperti ini pun tetap mesti dipersiapkan. Kegagalan justru hadir karena ketidaksiapan materi gimmick yang sudah dianggap rutin tersebut.

Personalitas dalam Gimmick

Dalam program The Tonight Show misalnya, Jimmy Fallon membuat gimmick kompetisi nyanyi serta sketsa sementara dalam Jimmy Kimmel Live! host Kimmel senang menirukan tingkah para selebriti. Gimmick kerap bisa menempel pada seseorang entertainer, ia akan menjadi ciri khas sendiri pada akhirnya. Apakah itu serta merta terjadi demikian? Tentu saja tidak, sebab gimmcik yang ia dan tim kreatif ciptakan telah melewati rangkaian seperti uraian bagaimana gimmick tercipta di atas. Ketika gimmick yang menyangkut personalitas ditiru oleh lainnya maka penonton akan mudah menengarai kalau gimmick itu orisinil lagi, ini berarti para pengikut atau yang berusaha meniru para pendahulu tidak akan sukses seperti orang-orang yang ditirunya.

Gimmick yang melekat pada personal tertentu nampaknya masih jarang pada cast di Indonesia, walaupun tentu ada. Komedian Haji Bolot misalnya, ia memiliki ciri khas yang kurang dalam pendengaran, sehingga kerap kreatif memasukan unsur gimmick “ketulalitan” Pak Bolot ketika ia menjadi pemain dalam program televisi. Gimmick yang disematkan pada personal tertentu bisa saja dibuat oleh tim kreatif sehingga kehadiran cast tersebut sudah bisa memancing kejutan dan gelak tawa misalnya. Person lain yang bisa dibuat sebagai gimmick biasanya ada pada kicker atau samsak, sehingga walaupun kehadirannya hanya selewatan saja sudah akan menajdi hiburan tersendiri. Sayangnya model samsak seperti ini masih menggunakan slapstick sebagai ciri khas atau adegan-adegan yang dianggap “kasar”.

Pendatang baru Gilang Dirga, rupanya melihat peluang ini. Ia bisa menirukan berbagai suara para pesohor di negeri ini dari mulai suara Presiden Joko Widodo, Gubernur Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok, hingga suara Mario teguh. Kepaiawaian dia dalam menirukan beberapa penyanyi seperti Anang Hermansyah hingga Cakra Khan juga menjadikan produser beberapa acara televisi mengundang dia untuk menjadi bintang tamu khusus, dimainkan beragam gimmick atas kemampuan peniruan tersebut.

Gimmick dengan Audio

Audio sebagai bagian penting dari pertunjukan juga bisa menjadi tool sebagai bahan gimmick. Sound effect tertentu misalnya, dapat dibuat untuk gimmick yang akan menjadikan adegan menjadi lucu, menegangkan, atau meriah. Musik dan sound effect untuk keperluan gimmick bisa dibuat sebelum shooting, saat hooting, atau saat editing. Namun yang jelas, musik atau sound effect tersebut harus dibuat konsep terlebih dulu. Artinya ketika nantinya dibuat spontan sekalipun saat shooting misalnya, konsep itu sudah ada jauh sebelumnya. Konsep ini penting agar musik atau sound effect yang dibuat nantinya tidak asal-asalan atau sekadar filler yang bisa jadi justru akan menganggu sebuah adegan atau dialog dalam pertunjukan.

Membuat Gimmick di Edting

Sebagai tahap akhir dalam produksi, gimmick ada kalanya bisa dilakukan saat penyuntingan gambar atau editing. Pada tahap ini editor (tentu atas arahan produser atau tim kreatif) melakukan editing tertentu dengan tujuan sebagai gimmick. Ada banyak cara di sini, tergantung dari konsep serta hasil akhir seperti apa. Misalnya dibuat adegan slow motion atau fast motion dengan efek suara atau musik yang mendukung. Maka bisa jadi nantinya penonton akan melihat adegan tersebut menjadi lucu.

Pada tahap paska produski juga bisa membuat VT (video tape) atau materi yang nantinya akan diputar sebagai salah satu bagian dari show. VT ditonton oleh bintang tamu yang hadir di studio. Yang artinya sedari awal VT tersebut didesain sebagai gimmick, yang kemunculannya diatur sedemikian rupa, dituangkan ke dalam rundown program.

Mystery Guest dalam Talkshow

Pada acara talkshow seringkali formatnya sudah baku, acara dipandu oleh host dengan menghadirkan beragam bintang tamu. Agar tidak monoton, tim kreatif melakukan pelbagai cara dengan tujuan agar acara tidak terlampau serius. Gimmick dalam satu acara tentu akan berbeda dengan acara lainnya, gimmick dengan melihat format acara yang dipakai menjadi salah satu pertimbangan. Sebab misalnya, gimmick untuk acara talkshow bisa jadi berbeda dengan acara variety show.

Pada acara talkshow, bisa dibuat gimmick agar bintang tamu mendapatkan surprise. Ya kata “surprise” menjadi salah satu kunci. Bagaimana agar bintang tamu utama benar-benar mendapatkan kejutan. Maka dihadikannya guest star bisa jadi akan menimbulkan usur surprise tadi. Guest star yang dimaksud bisa jadi orang yang dianggap paling dekat dengan bintang tamu. Maka tentu saja bintang tamu akan terkejut jika mendapati orang terdekatnya dihadirkan. Gimmick seperti ini seringkali sukses, karenanya produser dan tim kreatif acara talkshow membuat gimmick dengan mystery guest yang telah disiapkan, dihadirkan berdasar riset terlebih dahulu tentunya.

Inovasi Tim Kreatif

Setelah script, sepertinya gimmick merupakan hal paling sulit dikerjakan oleh tim kreatif untuk nantinya dituangkan ke dalam bentuk rundown. Atau bisa jadi membuat gimmicklah bagian tersulit itu. Tak jarang gimmick yang mestinya menjadi andalan dalam sebuah acara justru menjadi garing karena konsep gimmick yang tidak dibuat secara matang. Bagaimana agar gimmick yang tertuang dalam bentuk konsep bisa diaplikasikan saat shooting juga hal paling penting lainnya. Agar tidak terjadi mispersepsi, maka gagasan ini dipaparkan oleh tim kreatif pada produser saat gimmick akan dibuat serta dijelaskan pada pengarah acara dan floor director.

Ada beberapa faktor yang saling menunjang satu sama lain sehingga gimmick akhirnya bisa menjadi bagian show yang menarik; konsep yang menarik, inovatif tidak itu-itu saja, dan sesuatu yang fresh. Yang terakhir inilah menjadi concern tim kreatif. Artinya harus terus berinovasi menciptakan hal baru, bukan sekadar meniru gimmick-gimmick yang telah ada sebab peniruan demikian akan menghasilkan sesuatu yang membosankan. Agar gimmick memiliki ciri khas, tim kreatif bisa membuat gimmick yang hanya ada pada acara yang ia buat saja, tidak ditemukan pada acara lain atau acara serupa lainnya.

                      <img src=”http://i.sociabuzz.com/tck_pix/bl_act?_ref=5d5d852a45a2ed49458e9b3c520ba815df232161&_host=dikiumbara.wordpress.com&#8221; width=”1″ height=”1″>