Menyoal Sensor dalam Film dan Televisi

Menyoal Sensor dalam Film dan Televisi
Diki Umbara

Sensor dalam film maupun program televisi dianggap sebagai batu penghalang bagi kreatifitas, namun di sisi lain tak sedikit masyarakat yang beranggapan jika sensor bermanfaat untuk menjaga tayangan sehat. LSF sebagai  lembaga sensor mengklaim bahwa telah memiliki paradigma baru, bukan sekadar lembaga jagal seperti era lalu. Benarkah demikian?

Sebuah film Hollywood yang sedang box office di beberapa negara, tayang juga di Indonesia. Antrian panjang terlihat di salah satu bioskop di bilangan selatan Jakarta. Film yang dalam posternya ada tanda 17+ yang berarti diperuntukkan bagi penonton berusia 17 tahun ke atas. Namun ada pemandangan sedikit ganjil, seorang anak yang dipastikan masih dibawah umur nampak tersenyum karena telah mendapatkan tiket film tersebut. Ini artinya film yang telah diklasifikasi berdasar usia oleh Lembaga Sensor Film tersebut nampaknya sia-sia, karena di lapangan toh film tersebut bisa ditonton juga oleh masyarakat yang usianya tak sesuai dengan klasifikasi usia penonton tersebut.

Bagaimana Lembaga Sensor Bekerja?

Film yang akan ditayangkan di khalayak umum, ia harus melewati tahap penyensoran. Produser atau si pembuat film mendaftarkan filmnya pada lembaga sensor, yang selanjutnya dibuatkan berita acara di sekretariat lembaga tersebut, yang nantinya materi film akan diserahkan pada tim sensor. Sensor  merupakan penelitian, penilaian, dan penentuan kelayakan film untuk dipertunjukkan kepada khalayak umum.

Saat ini  ada 33 orang anggota tim sensor dengan latar belakang pendidikan yang berbeda, dengan beragamnya latar belakang ini dimaksudkan untuk  memperkaya wawasan yang beragam pula. Merekalah inilah  yang bekerja melakukan penyensoran pada materi-materi film yang diajukan oleh si para pemilik film. Materi-materi video disimpan oleh lembaga ini, kecuali film dalam bentuk seluloid yang sifatnya memang dipinjamkan oleh si pemilik film.

Film sebagai medium audio visual ia memiliki kekuatan dalam menyampaikan pesan, dan tentu saja pesan apapun. Lalu apa sebetulnya yang dinilai oleh tim sensor? Secara umum tim sensor akan mengacu pada UU Nomor 33 tentang perfilman, ini bisa dilihat seperti pada pasa 6. Film yang menjadi unsur pokok kegiatan perfilman dan usaha perfilman dilarang mengandung isi yang:

  1. Mendorong khalayak umum melakukan kekerasan dan perjudian serta penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya;
  2. Menonjolkan pornografi;
  3. Memprovokasi terjadinya pertentangan antarkelompok, antarsuku, antar-ras, dan/atau antargolongan;
  4. Menistakan, melecehkan, dan/atau menodai nilai-nilai agama;
  5. Mendorong khalayak umum melakukan tindakan melawan hukum; dan/atau
  6. Merendahkan harkat dan martabat manusia.

Karena masih terlampau umum dan bisa beda persepsi dalam memahami undang-undang ini, karenanya lembaga sesnor memiliki petunjuk tertulis sebagai acuan bagi tim sensor. Namun di lapangan ada kalanya tim sensor memiliki perbedaan persepsi dalam penyensoran, walaupun dasar penyensoran sudah jelas karena memang ada pada juklis (petunjuk tertulis) tadi. Jika terjadi perbedaan demikian, tim akan melakukan rapat pleno untuk mengambil keputusan.

Semua film yang lulus sensor tercantum di website resmi lembaga sensor yakni di www.lsf.go.id yang bisa dikses oleh siapapun karena memang ia menjadi informasi publik. Jadi, siapa saja bisa melihat informasi tentang nomor surat tanda lulus, judul film, genre, dan klasifikasi usia penonton.

Sensor Untuk Televisi

Pada dasarnya bagaimana tim sensor melakukan sensorship pada materi tayangan televisi tak jauh beda dengan sensor untuk film. Televisi sebagai lembaga penyiaran, juga production house sebagai pembuat acara televisi saat ini telah melakukan self sensor. Hal ini dilakukan untuk mempermudah, jadi misalnya karena adegan kekerasan tidak boleh maka televisi atau PH akan meminimalisir atau meniadakan sama sekali adegan tersebut. Ada beberapa yang bisa dilakukan, salah satunya melakukan bluring, dimana subyek dibuat terlihat kabur seperti pengambilan gambar tidak fokus.

Gerbang terakhir sensor di televisi ada di departemen Library dan Quality Control, yang tidak hanya mengontrol hal teknis, tapi ia juga memperhatikan konten. Petugas QC akan menggunakan panduan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3 & SPS) yakni sebuah peraturan yang dikeluarkan oleh Komisi Penyiaran Indonesia. Pada Pasal 23 misalnya disebut program siaran yang memuat adegan kekerasan dilarang: menampilkan manusia atau bagian tubuh yang berdarah-darah, terpotong-potong dan/atau kondisi yang mengenaskan akibat dari  peristiwa kekerasan.

Sensor dan Perdebatan

Bagi para pembuat film, sensor masih dianggap sebagai pengebirian kreatifitas, perdebatan perihal ini masih terjadi. Filmmaker berpendapat bahwa baiknya LSF hanya mengklasifikasi film berdasar usia saja, tidak menyoal konten. Namun karena lembaga ini memang hadir berdasar undang-undang dan masyarakat masih menganggap masih perlu, maka lembaga ini masih menjalankan fungsi dan tugasnya, dan mereka membuka ruang untuk berkomunikasi.

Perdebatan kerap karena memang ada beberapa hal yang bisa multitafsir, atau menjadi debatable sebagai contoh pada UU No 8 Pasal 19  Film dan reklame film yang secara tematis ditolak secara utuh, adalah: b. yang cerita dan penyajiannya menonjolkan adegan-adegan seks lebih dari 50 persen. Jadi bagaimana tim sensor melihat adegan seks lebih dari 50 persen dari sebuah poster film. Apa yang menjadi tolak ukurnya, hal ini menjadi keberatan para produsen film.

Beberapa film pernah menuai polemik karena adegan atau dialog di film tersebut dianggap kontroversial dan LSF nyatanya bisa menarik atau menggugurkan surat tanda lulus sensor yang telah ia keluarkan. Apakah lembaga sensor benar-benar independen atau ia bisa ditekan karena intervensi dari kelompok orang? Walahualam.

Iklan

Video Streaming: Dari Komunitas Hingga Penyiaran Televisi

Video Streaming: Dari Komunitas Hingga Penyiaran Televisi
Diki Umbara

Sebuah komunitas atau barangkali gerakan tepatnya, di salah satu sudut ibukota, puluhan anak muda sedang menyimak paparan tiga pembicara yang bergantian membahas salah satu isu yang lagi trend di linimasa sosial media twitter. Tiga meter di depan panggung, sebuah kamera high definition merekam helatan ini. Berlangsung hampir dua jam, acara ini disaksikan pula di Jogjakarta, Medan, Banjarmasin, Makassar, serta kota lainnya. Bahkan ada juga yang menyaksikan di luar Indonesia. Terhubung melalui YouTube Live Streaming, apapun dan dimanapun acara bisa tersebarluaskan secara (nyaris) realtime.

Menyaksikan event dalam waktu bersamaan dalam jarak tertentu atau bahkan seolah tak berjarak, telah menjadi eksperimen sedari dulu. Namun demikian hal ini berkaitan dengan infrastruktur lainnya, karenanya beragam platform kini memungkinkan untuk membuat acara yang bisa disaksikan di mana saja dengan biaya yang jauh lebih murah.

Membincangkan video streaming akan berkaitan pada beberapa hal, yakni video streaming sebagai cara: menangkap suara dan gambar (menonton), menyiarkan (broadcast), serta mentransmisikan. Ada kalanya ketiga hal ini bisa dilakukan bersamaan oleh pengguna yang sama. Teknologi internetlah yang telah memungkinkan semua ini. Bisa jadi, kelak akan makin banyak kanal-kanal pribadi yang bisa diakses oleh siapapun dan kapanpun secara langsung. Kebiasaan mengunggah video dan menyebarluaskan yang kini sedang menjadi trend nampaknya akan terus diakomodir oleh beragam produsen, baik yang berbekal basis aplikasi maupun dengan bantuan piranti keras.

Beragam Cara Menonton Televisi

Banyak cara bagaimana menikmati siaran televisi. Yang konvensional, tentu saja menonton saluran televisi free to air dengan memanfaatkan antena UHF/VHF. Kelemahannya, sedikit saja saluran yang bisa diterima oleh pesawat televisi karena tergantung dari seberapa banyak transmisi televisi yang ada dan mampu ditangkat pesawat televisi. Masih menikmati saluran free to air bisa pula dengan menggunakan antena parabola. Ada ratusan kanal yang bisa dinikmati, tak hanya kanal yang ada di Indonesia. Dengan antena parabola bisa menangkap beragam saluran televisi luar negeri.

Cara lainnya dengan televisi berlangganan atau tv pay, bisa dengan kabel maupun mini dish parabola. Saat ini sudah banyak penyelia kanal televisi berlangganan. Beragam paket bisa dinikmati. Kelebihan dari televisi berlangganan tentu saja kita bisa menikmati saluran yang tidak ada pada kanal free to air. Kanal-kanal film, fashion, dan olahraga misalnya.

Dan terakhir yang kini sedang menajdi trend adalah menonton televisi melalui siaran streaming. Dengan alat tambahan yang disambungkan pada televisi (dan bisa jadi kelak pesawat televisi bisa embeded dengan alat tersebut) maka menikmati saluran televisi menjadi jauh lebih mudah dan murah. Beragam perusahaan membuat peralatan tersebut. Produk tersebut di antaranya: Roku 3, Amazon Fire TV, Apple TV, Google Nexus, dan Chromecast. Kualitas gambar dan suara di saluran televisi melalui peralatan ini tidak kalah bagus dibanding dengan televisi berlangganan apalagi jika dibandingkan dengan menonton televisi dengan cara konvensional di atas tadi.

Pada Roku 3, kita bisa menikmati bahkan hingga 2000 kanal lebih. Roku menyediakan remote control yang memudahkan pengguna dalam pencarian kanal yang diinginkan, ada pula headphone yang bisa digunakan tanpa kabel atau wireless, serta ada tambahan microSD dimana bisa menyimpan game di dalamnya.

Amazone Fire boleh dikata sebagai pionir dalam televisi streaming. Bagi peminat game, alat ini memungkinkan pengguna tak sekadar menonton televisi tapi bisa menikmati beragam game yang sangat populer seperti Minecraft dan Grand Theft. Amazon nampaknya tahu betul kebutuhan peminat saluran televisi streaming biasanya tak ingin repot-repot jika sewaktu-waktu ingin bermain video game walaupun sebenarnya console game ini dijual secara terpisah.

Apple yang sebelumnya terkenal dengan produk iPod dan iPhone, tak mau kalah dalam pembuatan device untuk menonton televisi streaming. Apple TV memungkinkan kita untuk menonton beragam saluran baik yang free to air maupun yang berbayar. Salah satu hal unik dari Apple TV, dengan device iOS kita bisa sharing foto dan video pada sesama pengguna Apple TV.

Setelah populer dengan mesin pencari yang siapapun kini pasti tahu dan menggunakannya, Google tak ketinggalan untuk meramaikan televisi streaming. Google Nexus bekerjasama dengan Asus melahirkan pula Nexus Player. Pun seperti halnya Apple TV, dengan Google Nexus pengguna bisa juga bermain game serta berbagi foto dan video. Selain Nexus, Google juga menghadirkan Chromecast sebuah produk yang nampaknya ebih banyak digemari dari pendahulunya.

Peralatan Live Streaming di Stasiun Televisi

Inilah yang dimaksud live streaming yang digunakan stasiun televisi. Di stasiun televisi, streaming menjadi cara ke empat bagaimana video (dan juga audio) ditansmisikan dari satu tempat. Pertama dengan SNG (Sattellite News Gathering), ke dua dengan microwave, ke tiga dengan FO (Fiber Optic), dan yang terakhir dengan teknologi Internet (IP) Transmission  seperti pada bahasan kali ini. Hingga kini setidaknya ada tiga platform IP Transmission atau live streaming untuk kebutuhan penyiaran televisi yang sudah digunakan oleh banyak stasiun televisi di dunia, yakni LiveU, TVU, dan DMNG.

LiveU memungkinkan digunakan di mana saja tanpa terbatas oleh jarak. Dengan peralatan yang berukuran kecil, perangkat LiveU tentu saja tidak memerlukan kendaraan khusus seperti halnya SNG. Dengan LiveU, reporter bisa bersiaran dari mana saja bahkan bisa melakukan reportase secara bergerak. LiveU mengeluarkan seri LU60 yang bisa menggunakan sinyal 3G/4G serta koneksi WiMAX serta modem wifi. Resolusi video LiveU sudah bisa 1080i HD.

Seperti halnya LiveU, TVU Network memanfaatkan sinyal seluler dan Internet Protocol (IP) dalam mentransmisikan video. TVU dengan TVUPack, peralatan TVU yang compact, memungkinkan untuk dibawa kemana-mana oleh seorang diri di lapangan. Pengoperasian alat ini terbilang sangat mudah yakni cukup menekan tombol on/off. Ada beragam interface standar broadcast yakni SDI, HDMI, Composite, serta Firewire. Kualitas live HD menggunakan koneksi 2.5G/3G/4G. Namun tak seperti SNG tentunya, karena pada TVU akan ada delay beberapa detik. Cukup dalam satu ransel, perlatan modular ini kini sangat populer. TVUPack digunakan oleh beberapa stasiun televisi di Indonesia seperti I News TV (MNC Group) tak jarang menggunakan perlatan ini dalam siaran langsung dari berbagai daerah ketika SNG tidak memungkinkan.

Dibanding LiveU dan TVU, nampaknya DMNG walaupun dianggap pendatang baru namun memiliki “kelebihan”. Ketersediaan input RCA, On Camera, serta peralatan yang lebih ringan merupakan kelebihan dari DMNG. Namun untuk lamanya ketahanan battere rupannya masih kalau dibanding LiveU maupun TVU. DMNG yang merupakan kepanjangan dari Digital Mobile News Gathering memiliki kamera wireless yang didesain khusus oleh Aviwest.

Berbagai Platform Streaming Televisi

Agar siaran televisi dan tentu saja tidak sekadar itu, diperlukan platform yang mendukung untuk mendistribusikan siaran atau tayangan tersebut. BBC yang semula sebagai televisi tereterial di Inggris, tahu betul akan kebutuhan streaming bagi siapapun yang hendak mengakses siaran BBC. Berbasis aplikasi iOS, BBC mengeluarkan BBC iPlayer. Hingga kini tak kurang dari 200 juta pelanggan iPlayer.  Pengguna iPhone, iPad, bahkan laptop bisa mendownload aplikasi ini lantas tersambung dengan BBC melalui iPlayer. Menonton siaran BBC menjadi sangat mudah.

Platform lainnya yang populer tentu saja YouTube. Mulanya Youtube hanya sebagai website peungggah dan pengunduh video. Namun saat ini YouTube memungkinkan bagi siapapun untuk live streaming. Ya seperti yang dilakukan oleh komunitas di Jakarta pada awal artikel ini tentu saja. Tak perlu banyak budget yang dikeluarkan, kini siapapun bisa punya kanal sendiri di YouTube untuk bersiaran langsung. Yang paling banyak menggunakan saat ini adalah para video blogger. 17 juta lebih pengguna YouTube kini saling sharing konten video.

Belum terintegrasi pada semua smart tv, tapi Netflix bisa digunakan di PC/Mac, Appple TV, Wii, telpon Android serta tablet. Dengan Netflix bisa menikmati beragam saluran televisi berkelas. Namun sayangnya tidak gratis sebab Netflix memungut biaya sekitar Rp.70 ribu per bulan.

Selain Netflix, ada LoveFilm Instant yang juga bisa berjalan pada PC/Mac, Kindle Fire HD, iPad, Xbox, PS3 serta Sony’s Home Cinema System. Tidak kurang dari 4.000 judul film bisa ditonton melalui Netflix belum termasuk beberapa saluran televisi favorit. Pada bulan pertama kita bisa menikmati semua ini secara gratis, sedangkan selanjutnya mesti membayar.

Siaran Televisi Streaming

Dan siaran televisi streaming sebagai “televisi” yang mandiri nampaknya menjadi hal lain. Komunitas sebagai organisasi nirlaba serta perusahaan sudah memanfaatkan jaringan ini. Artinya televisi sebagai medium siaran ini dijadikan alternatif saat streaming memungkinkan hal itu. Lunar TV, Inspira, serta NT TV sebagai contoh kecil saja bagaimana mereka bisa bersiaran dan tentu dengan budget yang jauh lebih rendah ketimbang televisi konvensional yang sudah lama establish.
Jika infrastruktur memadai tentu saja televisi streaming akan menjadi bukan sekadar alternatif tapi bisa jadi pilihan utama nantinya. Sekolah, kampus, pesantren, atau komunitas apa saja yang sebelumnya tidak mudah untuk “membuat” kanal televisi, kini tidak sulit lagi untuk mewujudkan itu semua. Di balik itu semua, rasanya tak ada yang jauh lebih penting dari konten siarannya. Secanggih dan semudah apapun teknologi akan menjadi sia-sia ketika konten yang ditansmisikan tidak memiliki manfaat bagi si penontonnya kelak.

Editing Televisi, Apa yang Perlu Diperhatikan?

Editing Televisi, Apa yang Perlu Diperhatikan?
Diki Umbara

Paska produksi sebagai salah satu bagian penting di penyiaran televisi harus didukung oleh sumberdaya manusia serta teknologi penunjang sehingga keberlangsungan siaran televisi akan terjaga dengan baik. Industri yang mensupport baik hardware maupun software terus membuat inovasi sehingga pengguna akan menjadi dimudahkan.

Industri yang mensupport kebutuhan televisi itu misalnya Sony Electronics, Avid Technology Miranda, Adobe, dan Quantel. Karenanya saat ini production house atau televisi tinggal memilih produk mana yang paling cocok untuk menunjang kebutuhan di paska produksi tersebut.

 

Ada tiga elemen penting di paska produksi atau post production televisi yakni sumberdaya manusia, hardware atau piranti keras, serta software atau piranti lunak. Ketiga elemen ini tak bisa dipisahkan. Secangih apapun hardware dan software yang digunakan jika tidak ditunjang dengan sumberdaya manusia yang baik maka peralatan serta software editing menjadi tidak akan berfungsi maksimal dari mulai proses rekruitmen hingga pelatihan yang diberikan pada semua yang terlibat di proses paska produksi sangatlah penting. Karena tak melulu perihal manusia, departemen HRD juga tak boleh abai dengan departemen lain misalnya Departemen Tehnik karena keterkaitan antara 3 hal tadi yakni human resourse, hardware, serta software.

ruang editingfoto: http://www.colorleasingstudios.com

Semua Tentang Pilihan

Alih-alih menggali sendiri untuk menyesuaikan dengan kebutuhan serta budget yang disediakan, seringkali production house dan bahkan penyiaran televisi di Indonesia ikut-ikutan ketika dia memilih produk untuk paska produski yang akan mereka gunakan. Maka industri televisi dunia biasanya dijadikan kiblat tentang alat apa saja yang mereka gunakan dan adakalanya itu belum tentu cocok atau kompetibel dengan misalnya peralatan lainnya. Hal lain tentu saja tentang budgeting yang bisa jadi akan membengkak karena perhitungan yang keliru.

Hingga saat ini ada puluhan software editing televisi. Ada kekurangan dan kelebihan dari masing-masing software tersebut. Yang paling popular di antaranya Adobe Premiere CS, Final Cut Pro, Sony Vegas, dan Avid Composer. Sampai sekarang software-sofware ini saling bersaing ketat. Dan nampaknya Avid Composer dan Final Cut Pro menduduki peringkat paling atas. Lalu apakah dengan demikian televise atau PH di Indonesia harus menggunakan satu di antara kedua software paling popular tersebut?  Tentu saja tidak. Karena ada juga software yang jauh lebih murah akan tetapi masih memiliki tools yang cukup mumpuni yang diperlukan oleh editor.

tiga softwaregambar: http://www.poptent.net/

Legalitas

Perihal legalitas software yang digunakan ini memang masalah lain, tak hanya software editing saja bahkan software untuk keperluan lainpun nampaknya masih banyak pengguna di Indonesia yang memakan software illegal. Dengan demikian misalnya berapapun harga software orisinal Adobe Premiere atau Avid Composer menjadi tak masalah, harga menjadi sama dan murah tak masuk akal karena bajakan atau illegal tadi. Ini penulis kira harus segera dihentikan karena bukan tidak mungkin dengan maraknya penggunaan software illegal ini para produsen bisa menuntut si pengguna. Bahkan mereka bisa melakukan itu saat ini juga, jika mereka inginkan.

Supporting

Software editing tidak berdiri sendiri, ia akan berkaitan dengan hardware serta software penunjang lainnya. Karenanya tidak bisa begitu saja memilih software editing tanpa melihat hal penting lainnya itu. Software yang canggih akan tak maksimal jika tidak didukung oleh hardware yang bagus. Maka spesifikasi hardware yang disyaratkan oleh software editing harus diperhatikan. Beberapa editor selalu ingin menggunakan software editing versi terkini agar tak terlihat ketinggalan, namu sayangnya kadang ini tidak dibarengi oleh yang memiliki atau mengelola departemen paska produksi dimana editing ada di dalmnya. Hal lain tentang Codec, Codec atau coder-decoder yang mentransfer data satu menjadi data lainnya seringkali diabaikan editor. Padahal di era digital saat ini tak boleh diabaikan. Resolusi gambar, aspek rasio, serta sample rate audio semua ada di codec sebagai supporting pada software penyuntingan gambar.

Era Digital

Memang era televisi digital di Indonesia masih beberapa tahun lagi dan sudah ada beberapa televisi mencoba siaral digital, namun kabar buruknya ialah hampir sebagian besar televisi kita belum siap dengan era digital ini terutama televisi dengan siaran teresterial. Jika adaptasi tidak segera dilakukan maka akan keteteran nantinya. Dan kita tidak bisa bersaing dengan televisi asing. Era digital bukan melulu tentang format digital, bukan tentang skala 4 : 3 berubah menjadi 16 : 9, lebih dari itu akan ada keterkaitan dengan teknologi lainnya bahkan yang diluar teknologi, seperti aspek estetika misalnya.

codecccgambar: http://www.live-production.com

Editor, Sekadar Operator

Editor sebagai orang yang sangat penting di departemen paska produksi seringkali dihadapkan dengan tenggat atau deadline. Maka beberapa PH dan televisi membuat SOP atau standard operation serta manajemen waktu. Dan seringkali aturan itu berbeda di satu PH atau TV dengan PH atau TV lainnya. Bahkan di beberapa televisi yang dimiliki oleh grup yang sama. Agak aneh memang, tapi kenyataanya begitu. Editor itu penyunting gambar, ia yang akan menyusun serangkaian hasil shooting menjadi satu kesatuan cerita. Tak sekadar potong sambung, ia harus memiliki kemampuan serta sense sehingga hasilnya tidak asal-asalan. Aspek peenyambungan gambar seperti spasial, ritmik, tempo, dan ruang itu sebagai syarat utama yang mesti dikpahami dan dimiliki oleh para editor. Sayangnya ini kerap tidak terjadi, sebagian yang juga disebut editor nyatanya hanya sebagai operator. Hanya memotong dan sambung tanpa memikirkan kaidah-kaidah editing yang baik.

Post-Effects-Visual-Part-2-1foto: http://www.cheapfilmmaking.com

Solusi

Penulis yakin selalin beberapa hal yang dipaparkan di atas, masih ada problem lain di paska produksi televisi ini. Sebagai pintu gerbang sebelum program ditayangkan, semestinya paska produksi diberi perhatian yang baik. Kalau perlu top management televise dan atau production house bisa melihat langsung di lapangan. Karena untuk beberpa hal, para supervisor di paska produksi bahkan head of post production memiliki kekurangan sehingga paska produksi di banyak ph dan tv di Indonesia menghadapi problem yang beragam.

Saran penulis bagi para editor, belajar bisa dimana saja termasuk dari internet tentu saja. Bisa juga dengan menonton program luar dan tentu saja amati, banyak sekali acara berskala internasional yang dari sisi penyuntingan gambanrya bagus sekali. Tak mesti meniru, jadikan acara tersebut sebagai referensi. Dan referensi tentu saja sebanyak mungkin. Deadline tidak bisa dihindari, tapi itu semua tidak boleh menjadi penghalang untuk menjadi oarang-orang kreatif di belakang layar.

Editing Televisi: Linear dan Non Linear

Editing Televisi: Linear dan Non Linear

Oleh Diki Umbara

Editing merupakan penggabungan beberapa shot tunggal menjadi satu rangkaian cerita yang dipahami oleh penonton. Belum ada definisi yang tepat tentang pengertian shot, namun hingga saat ini shot diartikan sebagai pengambilan gambar oleh cameraman dari mulai start hingga stop. Tidak ada batasan seberapa lama durasi sebuah shot. Ribuan shot yang sebelumnya seperti puzle yang berantakan, disusun oleh editor sehingga puzle tersebut menjadi bidang yang mudah dipahami bagi siapapun yang melihatnya. Editor, ia seperti chef atau juru masak yang akan mengubah bahan masakan menjadi hidangan yang lezat. Editing tak hanya berkaitan dengan estetika, namun ia akan bersentuhan dengan hal teknis yang dengan kecanggihan teknologi ia bisa dimudahkan. Editing sebagai salah satu hal penting di dalam paska produksi televisi, memiliki beberapa tahapan yakni:

  1. Capturing
  2.  Assembling
  3. RoughCut
  4. Fine Cut
  5. Mastering

Tahapan ini tidak sepenuhnya sama antara editing yang satu dengan editing lainnya tergantung dari jenis acara serta alat editing yang digunakan. Dibagi berdasarkan alat yang digunakan, ada dua jenis sistim editing yakni Linear Editing dan Non Linear Editing. Dua jenis editing inilah yang menjadi bahasan utama pada tulisan ini.

Editing Linear

Dari sisi penggunaan alat dan instalasi pada sistim linear editing akan berkaitan pada penggunaan pola Deck to Deck atau VTR to VTR Editing. Salah satu Deck/VTR berfungsi sebagai sumber gambar dan suara sedangkan Deck/VTR lainnya berfungsi sebagai media perekam. Peralatan yang terapasang pada linear editing akan melalui proses sinkronisasi sinyal, bisa melalui sinyal genlock atau word clock.

Setidaknya ada 3 jenis editing linear: On Cam editing, A/Roll, dan A/B Roll. On Cam editing, editing yang dilakukan “tanpa” menggunakan perlatan editing. Ia menggunakan kamera sebagai alat editing itu sendiri. Ada dua cara, pertama editing dilakukan oleh cameraman saat pengambilan gambar atau shooting. Ketika mengambil gambar, seorang cameraman ia mesti sudah memikirkan hasil shootingnya sebagai hasil editing juga. Jadi, pengambilan gambar berdasar cerita yang sudah dibuat sebelumnya. Untuk memudahkan konsep ini maka cameraman harus membuat shot list terlebih dahulu. Dan yang paling penting lagi shooting dilakukan berdasar ututan cerita. Edit on Cam yang kedua, memang benar-benar menggunakan kamera sebagai alat penyuntingan gambar. Setelah melakukan pengambilan gambar, cameraman memilah gambar atau shot yang benar-benar diperlukan, membuang atau mendelete shot yang tidak diperlukan. Kamera-kamera digital sekarang sudah memungkinkan untuk melakukan Edit on Cam, ada fasilitas edit di dalamnya. A Roll merupakan editing linear dengan menggunakan satu deck player dan satu deck recorder. Satu deck berfungsi untuk playback materi yang akan diedit, satu deck lainnya untuk merekam hasil edit. Editing A Roll biasanya digunakan untuk editing berita. Ada juga dalam satu alat, seperti laptop yang adalm satu alat tersebut sudah ada dua deck serta dua monitor. Alat ini cocok untuk editing berita di lapangan. Di Indonesia, statsiun Metro TV menggunakan alat ini. A/B Roll, beda halnya dengan A Roll pada alat editing A/B Roll terdapat dua deck yang berfungsi sebagai player serta satu deck berfungsi sebagai recorder. Jadi pada A/B Roll bisa ada dua materi shooting yang dikontrol untuk digabungkan ke dalam satu materi editing. Baik pada A Roll maupun A/B Roll bisanya terdapat tombol jog/shutle yang berfungsi untuk rewind maupun fast forward tape/kaset yang ada pada deck deck tersebut. Tombol lainnya adalah tombol marking, untuk menandai timecode yang ada pada tape/kaset yang akan digunakan pada hasil akhir editing.

Editing Non Linear

Editing Non Linear, editing dilakukan tidak secara urut. Editor bisa melakukan penyuntingan gambar dari mana saja. Penyuntingan gambar tidak selalu mesti dilakukan dari awal. Jika misalnya, melakukan penyuntingan gambar untuk program televisi materi editing yang lengkap baru ada di segmen dua, maka editor bisa melakukan penyuntingan gambar segmen dua tersebut. Hal ini tidak bisa aau sulit jika dilakukan menggunakan editing linear. Editing non linear menggunakan seperangkat komputer serta deck. Jika dulu editing non linear mesti menggunakan komputer khusus, saat ini PC biasa dengan spesifikasi tertentu sudah bisa dijadikan alat editing. Bahkan beberapa laptop dengan software editing sudah bisa digunakan. Banyak software editing non linear. Yang populer di antarnya Adobe Premiere, Canopus Edius, Avid, dan Final Cut Pro. Kedua terakhir yang di sebutkan merupakan non linear editing paling banyak digunakan oleh industri baik televisi maupun di rumah produksi.

Kelebihan lain dari editing non linear adalah proses trimming yang memungkinkan editor melakukan koreksi in point dan out point pada setiap potongan serta sambungan gambar. Dengan demikian akurasi penyambungan gambar akan sesuai dengan keinginan si editor. Kesalahan in point bisa dikoreksi baik dikurangi maupun ditambah, hal ini tidak bisa dilakukan pada mesin editing linear apalagi misalnya cutting atau shot yang dikoreksi berada di antara shot sebelum dan setelahnya. Spesial efek baik efek transisi maupun efek dalam video di editing non linear jauh lebih variatif, beberapa non linear editing memungkinkan mendapat digital video effect lebih banyak lagi dari software tambahan atau plug ins. Digital video effect pada non linear editing memiliki fasilitas mengkoreksi warna yang memungkinkan editor mengadjusting warna yang diinginkan.

Manajemen Data

Pada editing non linear material atau rushes hasil shooting dan hasil editing disimpan di dalam hardisk. Jadi ketika misalnya suatu saat diperlukan maka editor bisa meretrive/mengambil data itu kapan saja. Beberapa software editing memiliki manajemen data yang baik, Avid Composer misalnya ia tak hanya menyimpan data berdasar folder yang yang kita buat tapi memiliki folder yang diciptakan oleh sistem editing itu sendiri. Ia juga memiliki folder penyimpanan otomatis “attic” yang berfungsi menyimpan secara autosave yang kita bisa setting waktunya. Jika misalnya terjadi mati lampu atau komputer hang maka kita bisa meretrive file yang dibuat secara otomatis tersebut. Hingga saat ini penggunaan kaset atau tape sebagai penyimpanan data video masih dilakukan. Generasi tapeless belum sepenuhnya mengubah cara konvensional ini. Baik editing linear maupun non linear ketika hasil akhir menjadi master data baik master untuk tayang maupun back up masih menggunakan tape sebagai media penyimpanan. Menyimpan data pada tape atau di dalam hardisk yang tersambung dengan server memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Belum lama sebuah stasiun televisi nasional mengalami “kecelakaan” dimana server sempat down, alhasil data-data yang tersimpan disana tidak bisa diakses. Karena tak memiliki back up konvensional dalam bentuk kaset maka untuk beberapa hari terpaksa stasiun tersebut menayangkan program secara re-run atau tayang ulang. Begitulah teknologi komputerisasi, ternyata cara penyimpanan konvensional masih diperlukan utamanya sebagai back up untuk mengatasi hal yang tidak diinginkan seperti kejadian di atas yang secara tak langsung memang tak berkaitan dengan sistem editing linear atau non linear.

Mana yang Lebih Bagus?

Tidak serta merta editing non linear itu lebih baik dari editing linear. Kedua jenis editing ini memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Pada editing linear, penyuntingan gambar dilakukan secara linear atau urut. Ia tak bisa melakukan editing bagian C jika bagian A dan B belum dilakukan. Kelebihan pada editing linear, pengerjaan penyuntingan gambar akan lebih cepat karena ada tahapan yang bisa dilewati dalam editing non linear, yakni tahap capturing atau memindahkan data dari tape/kaset atau data di memory ke dalam komputer.

Editing non linear memiliki kelebihan dimana editor bisa melakukan editing dari bagian mana yang siap ia kerjakan, koreksi atas hasil editing bisa dilakukan dengan mudah serta manajemen data yang lebih baik karena data disimpan di dalam bentuk digital yang bisa diretrive kapan saja untuk kemudian misalnya diambil, ditambah, atau dikurangi. Jadi, pilihannya tergantung dari kebutuhan masing-masing pengguna apakah memerlukan mesin editing linear atau non linear atau mungkin memerlukan kedua jenis editing tersebut.

Dari sisi kebutuhan karena beragam jenis acara serta format tayangan maka stasiun televisi akan memerlukan kedua jenis alat editing ini. Teknologi semakin canggih, beberapa alat editing linear ditambah dengan fitur-fitur yang sebelumnya hanya ada di editing non linear.

Seni Editing Part 2

Prinsip Editing Film & TV

Oleh Diki Umbara

Tujuan dari editing film bukan hanya pada kontinyuitas atau kesinambungan cerita saja, jauh dari itu nilai dramatis tidah boleh diabaikan. Problem editing akan terjadi pada individual shot, apakah dalam shot tersebut merupakan gambar diam atau bergerak, apakah fokus ada pada foreground atau background, seberapa dekat subyek di dalam sebuah frame, apakah subyek berada di tengah atau salah satu sisi frame, bagaimana dengan warna serta cahaya yang ada dalam shot tersebut? Akan menjadi dramatis ketika shot sudah dijukstaposisi, shot ke dua harus punya relasi atau hubungan dengan shot sebelumnya. Hubungan antar shot tersebut harus diperhatikan oleh editor.

Film yang paling sederhana merupakan shot tunggal yang sudah merupakan rangkaian adegan, misalnya : seorang laki-laki memasuki café lalu duduk dan memesan minuman. Akan tetapi bisa jadi shot tunggal yang secara waktu merupakan waktu nyata/realtime ini menjadi tidak menarik, karena tidak ada perubahan komposisi, perubahan sudut pandang, perubahan ritme. Kasus seperti ini yang menjadi perhatian Griffith untuk mencoba membuat apa yang dinamakan dramatic time. Waktu nyata atau real time bisa dilanggar dengan dramatic time, dengan menempatkan shot lain bukan shot tunggal. Editor bisa menempatkan shot

Pemotongan Gambar

Ada dua jenis pemotongan gambar dalam editing, yakni cut dan transisi. Cut berarti perpindahan dari satu shot ke shot berikutnya secara langsung, tanpa ada transisi sama sekali. Sedangkan transisi atau effect transition , jenis sambungan yang menggunakan transisi/antara dari satu shot ke shot berikutnya. Editor bisa menggunakan cut atau transisi tergantung dari dampak atau efek apa yang diinginkan, karena secara prinsip penggunaan ke dua jenis transisi ini akan berbeda. Misalnya, durasi film yang sama akan terasa lebih lama jika dalam fim tersebut menggunakan efek transisi daripada penggunaan cut. Jenis pemotongan cut sendiri dibagi dua, yakni matched cut dan cut away. Match cut berarti ada kesinambungan antar shot satu dengan cut shot berikutnya. Sebuah sambungan atau cut dipengaruhi oleh beberapa faktor.

Penyambungan

Editing tidak boleh membingungkan penonton, ini sebuah prinsip dasar yang harus dimiliki oleh seorang editor. Ketika shot disambungkan satu sama lain sehingga menjadi satu rangkaian, maka rangkaian shot tersebut harus dipahami oleh penonton. Barangkali, baiknya editor terlebih dahulu memahami tentang prinsip penyambungan shot, yang terdiri atas : sequence shot, cutting to continuity, classical cutting, thematic montage, dan abstract cutting.

Sequence Shot

Film atau adegan dibuat tanpa menggunakan pemotongan sama sekali atau no cut. Awalnya metode ini dilakukan karena pada awalnya sejarah film, memang belum dikenal dengan teknologi serta prinsip editing. Satu adegan direkam dalam satu shot, tanpa ada interupsi cutting. Makanya pada saat itu film belum bisa dibuat dalam durasi yang panjang. Akan tetatpi, saat ini sepertinya ini dijadikan sebuah model untuk pengambilan gambar secara khusus serta salah satu metode editing. Satu rangkaian adegan dilakukan dalam satu shot tanpa ada pemotongan gambar sama sekali. Misalnya saja, dalam sebuah naskah dituliskan sebuah adegan sebagai berikut : Dalam sebuah kamar kost, Sari mengambil handphone di atas meja, mengambil tas, lalu bergegas ke luar kamar. Sutradara yang menterjemahkan naskah ke dalam bentuk bahasa visual, sebetulnya bisa membuat berbagai treatment shot sesuai dengan gagasannya. Contoh adegan di atas misalnya, sutradara bisa membuat beberapa shot serta bisa jadi beberapa angle atau sudut pengambilan gambar. Namun, dengan konsep sequence shot, sutradara hanya membuat satu shot untuk rangkaian adegan tadi. Demikian juga dalam editing, editor tidak usah melakukan pemotongan atau cutting jika itu dimaksudkan sebagai sequence shot.

Cutting to Continuity

Ketika kita menyambungkan satu shot dengan shot lainnya, seorang editor harus memiliki motivasi atau tujuan yang jelas. Sebuah cerita atau adegan dirangkai dari beberapa shot. Cutting to continuity merupakan sambungan atau cut digunakan untuk melanjutkan cerita, cutting to continue teeling the story. Sebuah cut untuk menyambung scene dengan scene berikutnya. Misalnya, ada beberapa shot sperti ini : 1. Secangkir kopi 2. CU seorang pria 3. Tangan yang mengangkat cangkir kopi 4. Meletakan cangkir 5. Menghela nafas. Jika ke lima shot itu disambung maka akan menghasilkan cerita, misalnya menjadi seorang pria yang sedang meminum kopi. Dan ini yang dinamakan penyambungan untuk membuat satu cerita.

Classical Cutting

Kalau anda suka menonton sinetron atau film India, maka dipastikan kita akan melihat (baik disadari atau tidak) satu konsep penyambungan gambar seperti ini, yakni classical cutting. Yakni sebuah pemotongan untuk memperjelas, mendramatisir atau menggarisbawahi sesuatu (shot), cutting to clarify, dramatize or underline the previous shot. Hampir sama dengan jenis sambungan cutting to continuity, bedanya dalam jenis penyambungan ini diharapkan penonton akan mendapatkan efek yang dramatis akan perpindahan gambar ini. Misalnya ada dua tokoh yang sedang berantem dengan ekspresi muka yang marah. Editor melakukan penyambungan beberapa kali pada ke dua tokoh tersebut dengan maksud untuk memperjelas bahwa ada konflik di antara ke dua tokoh tersebut.

Thematic Montage

Sudah sejak dari jaman awal sinema, para sineas Russia telah mencoba beberapa eksperimen penyambungan gambar. Dan yang paling polpuler yang mereka lakukan, dan hingga kini masih berpengaruh pada para sineas dunia yakni metode penyambungan gambar thematic montage. Yakni sebuah cut untuk menyambung satu cerita dengan cerita lain, sebuah cut untuk menyambung sebuah tesis (shot) dengan tesis (shot) lain; cutting to connect one story to another; cutting to argue one thesis to another.

Eksperimen ini dilakukan dengan cara menggabungkan satu cerita dengan cerita lain akan menghasilkan cerita yang baru. Sineas Russia itu mencoba menggabungkan, satu cerita tentang tentara dengan perlengkapan perang yang lengkap yang ke luar dari kapal perang. Di satu cerita lain, petani gandum yang sedang panen. Ketika ke dua scne itu digabungkan, maka seolah-olah akan terjadi invasi tentara pada petani gandum.

Abstract Cutting

Sebuah cut yang tidak untuk menyambung cerita, tidak untuk memperjelas atau mendramatisasi atau menggarisbawahi sesuatu, juga tidak untuk menyambung satu cerita dengan cerita lain; juga tidak untuk menyambung satu thesis dengan thesis lain, maka sebuah sambungan berfungsi hanya sebagai sambungan belaka; cutting is cutting; cutting as cutting

NOTE: Penjelasan tentang metode penyambungan gambar ini akan saya coba jelaskan dengan rinci lagi. Tulisan ini merupakan hasil diskusi di Editor Discussion League yang diselenggarakan oleh AEI (Asosiasi Editor Indonesia) yang saat diskusi tersebut dimoderatori oleh mas Sastha Sunu, salah seorang editor film serta dosen di IKJ. AEI, memiliki Board of Director, antara lain: Sastha Sunu, Andhy Pulung Widagdo, W. Ichwandiardono, Aline Jusria, Diki Umbara, Chandra Sulistiyanto, dan Ahsan Andrian