Reality Show, Realitas di Layar Televisi

Reality Show, Realitas di Layar Televisi
Diki Umbara

Program televisi reality show pernah menjadi begitu populer di Indonesia. Sangat terkenal dimulai dari acara Spontan di SCTV tahun 1995, hingga menyusul puluhan reality show di stasiun televisi yang sama dan lainnya. Walaupun beda jam tayang, format reality show telah menjadi alternatif lain setelah sinetron yang telah jauh lebih memikat pemirsa. Dalam suatu kesempatan reality show pernah mendapat share hingga 20 persen, hal yang biasanya hanya didapat oleh acara sinetron atau sepak bola.

 

Dari Masa ke Masa

Di Amerika danEropa, sejarah tayangan reality show memiliki rentang waktu yang panjang. Tahun 1940-1950 reality show sudah diperkenalkan dengan konsep sederhana. Juru kamera melakukan perekaman pada subyek-subyek di mana mereka tidak melakukan adegan berdasarkan naskah, karenanya subyek memang tidak diberikan naskah dan tidak diarahkan. Pada 1960-1970 reality show sudah dimodifikasi sehingga sudah bisa disebut sebagai format yang modern dan kompleks. Tahun 1980-1990 merupakan era game show mulai ditampilkan ditelevisi. Walaupun game show pada akhirnya merupakan format tersendiri, namun kebanyakan game show merupakan reality show juga atau setidaknya gam show adalah format turunan dari reality show. Tahun 2000-an hingga saat ini format reality show sudah melibatkan talent. Di antara reality show yang hingga kini masih digemari banyak penonton yakni ajang pencarian bakat. Tak pelak lagi, ajang bakat bisa dibuat hingga beberapa sesi.

Reality show berkembang di Amerika dan Eropa dengan dengan ciri masing-masing lantas menyebar ke negara-negara lain, baik dalam bentuk adaptasi maupun memang dibuat serupa. Berikut beberapa perkembangan reality show yang populer dari tahun ke tahun:

  • 1948 Candid Camera digagas oleh AllenFunt. Ada yang mengatakan ini menjadi prototype reality show.
  • 1945-1950 Queen for a Day
  • 1946 Cash and Carry
  • 1950 Game show Beat the Clock
  • 1950 Confession. Reality show dengan interviewer JackWyatt. Confession merupakan reality show dengan fokus pada masalah kriminal.
  • 1965-1986 The American Sportsman reality show yang dibuat ditayangkan di televisi ABC Amerika. Ini merupakan reality show yang memperlihatkan kegiatan sehari-hari artis dan keluarganya. Dialog pada acara ini tanpa naskah.
  • 1966 Chelshea Girls ,merupakan reality show dengan konsep direct cinema.
  • 1980 Real People denganproduser terkenal George Schalter di NBC yangkemudiandiikuti diikuti oleh ABC
  • 1989 COPS sebuah reality show terkenal di televisi Fox. Konsep yang digunakan yakni cinema verite
  • 1991 Nummer 28 hadir di televisi Belanda, konsep acara reality show yang melibatkan orang asing
  • 1992 The Real World di MTV terinspirasi dari Nummer 28 yang diciptakan ErikLatour
  • 1997 Expedition Robinson dengan producer Charlie Parson di Swedia. Ini merupakan tonggak reality show yang menggunakan metode kompetisi dan eliminasi.
  • 1996 Changing Room, pasangan dalam acara reality show ini bertukar rumah. Talent melakukan perubahan pada rumahyang ditempati sertamelakukan make over.
  • 1998 Streetmate, reality show yang terkenal di Inggris ini dibuat oleh Gabe sach. Ini merupakan dating reality show. Lalu di Amerika diadaptasi menjadi .
  • 2000 Big Brother, Survivor, American Idol. Inilah era puncak reality show di seluruh dunia. [sumber: wikipedia]

Berkembang dari tahun 1990 hingga 2000 lebih dari 30 jenis reality show diadaptasi. Dalam singing competition ada Idols, Star Academy, The X Factor. Ajang bakat atau talent show: Got Talent, Top Model, Masterchef. Dan yang merupakan reality game show: Deal or No Deal, WhoWants To Be Amilionaire dan Waekes Link diadaptasi lebih dari 50 negara. Di India, Indian Idol sangat populer hingga sesi 6.

Beragam Varian Genre Reality Show

Mulanya reality show dianggap sebagai acara yang tanpa skenario dan apa adanya. Barangkali hal ini karena dari penamaan genre itu sendiri “reality show” atau pertunjukkan realitas. Namun yang dianggap sebagai realita apa adanya ini nyatanya menuai kritik. Karenanya program reality show dianggap menjadi acara yang “scripting without paper”. Dan pada perkembangannya, acara feature reality show melahirkan genre-genre baru.

Di antara genre tersebut ada yang memilah menjadi: gamedoc, dating program, makeover program, docusoap, talent contest, court program, reality sitcom, dan celebrity variations.

Gamedoc format permainan dikemas untuk tayangan di televisi. Dating program, menyatukan pasangan yang sebelumnya tidak saling mengenal. Pada program ini dipilih pasangan mana yang memiliki kecocokan satu sama lain. Take Me Out merupakan salah satu reality show dating program yang sukses dan banyak diadaptasi diberbagai negara. Make over program, mengubah penampilan seseorang menjadi lebih menarik. Bisa juga mengubah ruang bahkan rumah. Music Television atau MTV pernah memiliki program make over. Docusoap, reality show yang menempatkan beberapa talent di suatu ruang tertentu sehingga akan muncul beragam konflik. Talent contest atau ajang pencarian bakat, inilah reality show yang paling banyak peminatnya baik dari sisi kontestan maupun pemirsanya. Idols, Masterchef, X-Factor, dan The Voice adalah contoh talent contest yang dikemas sedemikian rupa sehingga menjadi show yang tampak sangat grande.

Kategorisasi lain ada pula yang berdasar: Real-life participants yakni acara reality show dengan mengambil pemain bukan yang bukan aktor. Unscripted performance, dibuat dengan tidak menggunakan nakah samasekali, si pembuat sengaja membuat situasi. Voice over narration, pengadegan diambil seperti apa adanya namun nantinya dibuat narasi untuk voice over. Observation/ surveillance, pengamatan atau pengambilan gambar dengan hidden camera atau kamera tesembunyi. Voyeurism, emosi yang ditampilkan adalah nyata. Dan terakhir adalah audience participant, yakni reality show dengan melibatkan audiens “siapapun”.

Cinema Verite dan Direct Cinema dalam Reality Show

Pendekatan pembuatan reality show tak lepas juga dengan sejarah perfilman. Setidaknya ada dua pendekatan dalam pembuatan film yang juga berpengaruh pada pembuatan reality show yakni Cinema Verite dan Direct Cinema. Cinema Verite mengetengahkan realita secara sederhana dan apa adanya, yang diyakini dapat mempertahankan dan menjaga spontanitas aksi dan karakter lokasi otentik sesuai realita. Karenanya, ada yang menyebut pendekatan ini sebagai Spontaneous Cinema atau etnographic film.

Gaya Cinema Verite yang oleh Michael Rabinger dianggap sebagai semangat awal pembuatan film dokumenter ini kemudian baru berkembang di Amerika pada dekade 1960-an, dengan nama Direct Cinema. Perbedaan kedua pendekatan ini ada pada cara membangun dramatika atau konflik. Jika Cinema Verite cenderung agresif, maka Direct Cinema nampak lebih pasif. Bahkan, Cinema Verite terkadang menjadi provokator atas terjadinya konflik dalam film. Berbeda dengan Direct Cinema yang cenderung menunggu apa yang terjadi di depan kamera.

Pengaruh pendekatan pembuatan film dokumenter ini berpengaruh pula pada pembuatan reality show. Oleh karenanya bisa kita lihat bagaimana perbedaan reality show yang dibuat oleh negara Eropa dan reality show yang dibuat Amerika. Perbedaan juga akan terlihat dari bagaimana suatu negara mengadaptasi reality show dari negara semula. Hal ini biasanya sangat terkait oleh budaya masing-masing negara. Maka misalnya acara ajang bakat memasak Masterchef UK akan berbeda dengan Masterchef Aussie, pun akan berbeda dengan Masterchef India dan Masterchef Indonesia.

Reality Show di Indonesia

Tidak kurang dari 50 acara reality show menjamur ditayangkan televisi Indonesia, namun demikian acara reality show di negara kita “telat” 30 tahun dibanding televisi yang ada di Amerika. Reality show baru berkembang tahun 90-an. Namun jika game show masuk pada genre reality show, maka tahun 80-an tentu sudah ada dimana TVRI masih mejadi satu-satunya televisi di Indonesia. Awal 90-an era televisi swasta berkembang, berbagai format acara yang sebelumnya tidak adapun menjadi ada dan bervariasi termasuk format reality show.

Merunut pada berbagai varian genre reality show, maka beragam reality show ditelevisi Indonesia terus bermunculan, baik sebagai program adaptasi, franchaise, maupun yang benar-benar asal jiplak. Bagaimana sebuah acara televisi dijiplak oleh production house atau televisi, pada kesempatan lain akan menjadi bahasan sendiri.

Sudah ada puluhan acara reality show datang dan pergi meninggalkan layar televisi di Indonesia. Acara reality show tersebut di antaranya Paranoid, Katakan Cinta, Tolong, Bedah Rumah, Kena Deh, Ketok Pintu, Temehek-mehek, Dunia Lain, Play Boy Kabel, Uang Kaget, Realigi. Belum termasuk reality show yang diadaptasi atau hasil dari franchise di antaranya Super Trap, Big Brother Indonesia, Masterchef Indonesia, Indonesian Idols, Indonesian Top Models, Indonesian Got Talents, dan Hell Kitchen.

TV Reality, Kanal Khusus Reality Show

Banyaknya minat pemirsa pada acara-acara genre reality show menjadi bidikan tersendiri bagi para pebisnis kanal atau saluran-saluran televisi. Maka kini terdapat beberapa kanal televisi yang isinya dikhususkan bagi genre ini. Kanal-kanal itu sebagian besar ada pada pay television atau televisi berbayar, di antaranya: Fox Reality (Amerika), Global Reality Channel (Kanada), Zone Reality (Inggris), Cravo, E!, TLC, dan History. Acara krimininal, fashion, gaya hidup, hingga sejarah menjadi pilihan spesifik kanal televisi reality ini. Seperti pada kanal-kanal televisi lain di televisi berbayar, kanal-kanal ini ada selama duapuluh empat jam dengan tiga atau dua pengulangan/rerun setiap harinya.

Sukses di televisi, biasanya akan diikuti juga dalam bentuk home video. DVD serial reality show bisa didapat untuk memenuhi pemirsa yang ketinggalan dalam menyaksikan reality show kesukaannya. Acara reality show yang dikemas dalam cakram DVD antara lain Laguna Beach, The Real Orange Country, The Amazing Race, Project Runaway, serta America’s Top Model.

Reality Show Saat Ini

Tahun 2014 lalu majalah mingguan Week Entertainment mencatat bahwa reality show telah mengalami stagnasi. Puncak kejayaan reality show ada pada rentang 90-an hingga 2000-an. Itu terjadi di Amerika, Eropa, dan Asia. Acara ajang bakat suara seperti The Voice yang dibesut oleh John De Mol sukses diadaptasi oleh 50 negara di dunia. Namun di Indonesia, acara yang ditayangkan di Indosiar ini tergolong kurang sukses. Berbeda misalnya dengan X-Factor yang ditayangkan oleh RCTI. Bisa jadi ada beberapa faktor kenapa The Voice yang sangat populer di Amerika itu kurang diminati pemirsa Indonesia. Pasang surut reality show yang didadaptasi banyak negara ini tampak juga pada Indonesian Idol, ada sesi yang sukses ada juga sesi yang biasa saja.

Acara reality show, utamanya talent show yang melibatkan para talent yang banyak ternyata tidak benar-benar mati. De Academy dan The Terong Show hingga kini bisa meraih rating dan share yang sangat tinggi dan sering kali masuk pada jajaran top three raihan rating dan share di televisi Indonesia.

Kreatifitas dan Adaptasi

Inggris, bisa dibilang sebagai negara yang paling produktif menciptakan acara-acara reality show yang takhanya populer di negaranya sebab beberapa reality show besar lahir di sana dan banyak diadaptasi oleh puluhan negara lain. Di Inggris, creative house berkembang pesat. Creative house konsentrasi pada pembuatan bagaimana sebuah program akan menarik. Dari ide hingga akhirnya menghasilkan production’s bible yang nantinya menjadi semacam paduan bagi siapapun yang mengadaptasi program yang mereka ciptakan.

Kreatfitas tanpa batas bukan menjadi basa-basi, sebab creative house tak dibebani apa yang dialami oleh production house atau stasiun televisi. Creative house tidak memikirkan bagaimana pembiayaan sebuah produksi reality show. Mereka ”hanya”mencipta dan terus mencipta. Reality show bisa dicipta darimana saja, The taster misalnya merupakan reality show yang terinspirasi video game.

Reality Show yang Menuai Kritik

Sebagai program televisi yang banyak dinikmati orang utamanya untuk hiburan, reality show juga menuai banyak kritik. Sebagian orang meragukan apakah reality show benar-benar dibuat tanpa skenario? Karena sebetulnya reality show walau seolah tanpa naskah, ia memiliki semacam naskah awal atau pre-script yang dikenal dalam dokumenter. Dalam reality show nyatanya ada premediated scripting. Demikian pula dengan akting di dalamnya, beberapa reality show didalmnya ada talent yang diakui atau tidak, ada akting didalamnya. Yang paling kentara tentu saja ada editing. Semenjak era tahun 1993 beberapa realityshow memasukan footage lain karena sudah dikenal dengan non linear editing ini diawali oleh kehadiran Avid Editing System. Ya artinya”keutuhan” reality show sebetulnya sudah terkontaminasi oleh penyuntingan gambar tadi.

Namun kritik yang paling nampak justru bukan dari para pemerhati acara televisi. Kritik hadir dari pemirsa awam. Untuk acara ajang bakat, beberapa penonton meragukan independensi para juri. Ini tak hanya di Indonesia, di luar sana pun demikian. Budayawan Goenawan Muhamad dalam satu cuitan di twitter pernah mengatakan “Jika tak bisa mendidik, setidaknya acara televisi jangan membohongi publik”. Ia tentu saja tak mengkhususkan pada acara televisi tertentu. Beberapa tahun silam acara reality show dengan konsep candid camera juga mendapat banyak kritik, karena salah satu acara reality show bahkan nyaris mendapat korban. Di kemudian si pengelola acara minta maaf dan acara tersebut dihentikan. Stasiun televisi yang meyiarkan serta si pembuat acara televisi termasuk reality show, jika abai pada kritik dari masyarakat tentu akan merugi. Bisa jadi acara televisi benar-benar akan ditinggalkan.

 

 

 

 

Kerjasama Televisi, Production House, dan Pihak Lainnya

Kerjasama Televisi, Production House, dan Pihak Lainnya
Diki Umbara

Banyak pertanyaan seputar bagaimankah melakukan kerjasama dengan pihak televisi. Jika tidak tepat pada jalurnya memang, jangankan bisa kerjasama karena yang ada malah tersesat berjumpa dengan orang yang tidak tepat atau tidak berkompetensi dalah hal kerjasama. Pada akhirnya televisi juga tidak bisa berdiri sendiri sebab ia memerlukan partner. Bahkan mestinya sebagai broadcasting sesuai namanya, televisi hanya menyiarkan saja sedangkan konten bisa didapat dari pihak lain.

 

Ada beberapa helatan television broadcasting expo, di mana salah satu agenda besarnya merupakan pertemuan antara pihak televisi sebagai buyer dan para agent yang memiliki lisensi beragam acara televisi. Helatan tahunan ini dilakukan di Singapore, China, Inggris dan Amerika. Selain agent dan televisi, pada acara ini juga dihari oleh pihak dari creative house, production house, agency, maupun personal. Selepas pertemuan itu biasanya televisi akan segera memutuskan untuk membeli program mana yang akan ditayangkan di televisi mereka.

Jauh sebelum mengirimkan perwakilannya ke ajang expo, direktur programming bersama tim acquisision program mendiskusikan tentang program-program televisi apa yang akan dibuat sendiri atau in house production dan program mana yang harus mereka beli atau joint venture. Kebijakan apakah akan buat sendiri atau membeli dari pihak lain diperhitungkan dengan matang, hal itu misalnya melihat dari sumber daya manusia yang mereka miliki apakah akan sanggup membuat acara tersebut atau tidak, juga tentang apakah cost yang dikeluarkan jika suatu acara dibuat sendiri bisa jauh lebih murah atau malah sebaliknya.

icgmagazinefoto: icgmagazine

Beberapa program sangat besar biasanya televisi akan melibatkan setidaknya dua pihak: dengan pihak si pemilik program dimana televisi akan membayarkan royalti atas lisensi yang digunakan serta pihak production house yang akan melakukan produksi. Namun bisa saja televisi hanya membayar royalti atas lisensi suatu program, misalnya program-program televisi ajang pencarian bakat. Di Inggris ada sebuah perusahaan di mana ia menghasilkan beragam format acara, creative house semacam itu sudah lazim ada di Inggris dan di Amerika. Bagaimanakah kerjasama televisi di dalam negeri?

Tiga Macam Kerjasama

Untuk kepentingan tayangnya sebuah acara di televisi yang melibatkan pihak luar adalah dengan cara kerjasama. Setidaknya ada tiga jenis atau macam cara kerjasama yang biasanya dilakukan televisi. Pihak yang paling banyak diajak kerjasama oleh televisi adalah production house atau rumah produksi, berikunya adalah agency dan intansi.

Blocking Time

Pada dasarnya televisi memiliki air time yang bisa ia jual pada hampir siapapun. Air time atau waktu tayang bisa diisi oleh tak hanya televisi itu sendiri. Harga sebuah air time sangat beragam tergantung dari televisi mana dan pada jam berapa air time tersebut. Air time pada jam-jam prime time atau waktu utama penonton tentu akan berbeda dengan jam-jam bukan prime time. Demikian juga harga air time di televisi lokal akan berbeda dengan televisi yang memiliki jaringan nasional. Dan hal lain adalah durasi atau panjangnya air time. Harga air time tiga puluh menit akan berbeda dengan harga air time satu jam.

Blocking time berarti televisi menyediakan waktu sedangkan pihak lain menyediakan materi tayang. Dengan kesepakatan tertentu, suatu acara akan ditayangkan di televisi tertentu dengan membayar air time tadi. Namun demikian, siapapun pembeli air time baik production house, agency, intansi, bahkan pribadi sekalipun harus memenuhi kriteria umum atas konten atau materi tayang tersebut. Materi tayang akan harus sudah melewati atau mendapat izin tayang dari lembaga sensor. Secara teknis juga amteri tayang akan melewati tahapan quality control dari televisi yang bersangkutan. Secara sederhana, blocking time itu artinya kita membeli waktu yang dimiliki televisi. Pada televisi lokal, acara seremonial sebuah perusahaan bisa ditampilkan di televisi tersebut dengan melakukan blocking time.

Lalu apakah dalam blocking time boleh beriklan? Karena pada dasarnya kita yang telah membeli air time pada televisi tersebut, artinya kita memiliki hak atas waktu yang berarti kita setiap slot iklan pada acara blocking time menjadi milik si pembeli air time. Misal pada acara 30 menit blocking time, bisa diisi penuh oleh isi acara atau setidaknya bisa memiliki enam menit unttuk slot iklan jika konten acara berdurasi dua puluh empat menit. Artinya apakah blocking time itu seluruhnya dipakai untuk konten acara atau dibuat segmentasi sehingga ada jeda iklan di setiap segmennya. Blocking time biasanya dilakukan oleh perusahaan yang ingin menayangkan acara yang berkaitan dengan produk atau jasanya serta intansi pemerintah untuk mengkampanyekan visi dan misinya.

Jual Putus

Inilah metode yang paling digemari oleh production house, sebab televisi akan membeli program dari production house dengan kriteria yang tentu saja sudah disyaratkan oleh televisi. Di Indonesia, program-program televisi yang menggunakan metode jual putus biasanya acara-acara fiksi seperti sinetron atau FTV. Jadi televisi akan membeli program yang dibuat oleh production house yang dituangkan ke dalam sebuah perjanjian, tentang berapa episode, harga masing-masing episode, dan metode serta termin pembayarannya kan tercantum di sana. Karena dalam hal ini televisi pada pihak si pembeli program, maka biasanya ia akan sangat selektif dan tak jarang akan ikut intervensi dalam konten acara tersbut. Sering terjadi misalnya televisi menginginkan artis tertentu atau tema cerita tententu sesuai yang televisi inginkan. Dalam perjanjian juga biasanya ada klausul tentang rating dan share yang harus dicapai program tertentu. Berapa kisaran harga sebuah program dibeli oleh televisi? Ini juga tergantung dari beberapa hal, durasi atau panjangnya program, akan ditayangkan pada hari dan jam berapa, serta harus mendapat perolehan rating dan share berapa. Semakin bagus share dan rating program tersebut maka akan semakin mahal program tersebut dibeli pihak televisi.

Dengan jual putus, televisilah yang berhak atas seluruh iklan yang ada pada program tersebut nantinya. Karenanya televisi akan menjual slot iklan tersebut untuk memperoleh keuntungan atas program yang mereka beli dan tayangkan.

Profit Sharing

Cara atau metode ke tiga dari kerjasama televisi dengan pihak lain yaitu profit sharing. Ini seperti jalan tengah antara blocking time dan jual putus. Profit sharing dilakukan ketika biaya pembuatan program keseluruhannya ditanggung production house, sedangkan televisi menyediakan air time atau waktu tayang. Televisi tidak membeli program tersebut, production house tidak dibebankan membayar air time. Lalu dari mana keduanya mendapat keuntungan? Iklanlah yang dibagi dua, jadi dari pemasang iklanlah tv dan ph akan mendapat penghasilannya. Tentang bagaimana slot iklan itu dijual tentu tertuang juga di dalam klausul perjanjian kerjasama dengan model profit sharing ini.

Dengan setidaknya ada tiga model kerjasama ini, televisi dan PH bisa memilih program mana yang cocok dilakukan kerjama dengan model blocking time, jual putus, atau profit sharing. Intinya bagaimana agar kerjasama itu akan menguntungkan kedua belah pihak.

Menjual Ide

Ini juga seringkali menjadi pertanyaan sebagian orang yang ingin kerjasama namun belum tahu bagaimana mekanisme suatu program bisa ditayangkan di televisi. “Saya ada ide keren dalam program televisi. Bagaimana saya menjual ide itu? Siapa ya yang harus saya temui?” Begitulah per orangan yang ingin ide atau gagasannya bisa tayang di televisi. Jika di luar sana ada creative house yang tidak sekadar ide acara televisinya yang bisa dibeli, nampaknya ini masih ada keulitan di Indonesia. Perorangan agak sulit untuk bisa bekerjasama dengan televisi. Yang paling memungkinkan ialah melalui production house atau agency. Masih jarang televisi yang menggunakan jasa freelancer creative karena di televisi sendiri untuk urusan kreatif bahkan ada departemennya sendiri.

Proposal acara baiknya dibuat sedetail mungkin namun tidak bertele-tele. Untuk keperluan presentasi buatlah materi presentasi semenarik mungkin, dengan menambahkan unsur multimedia akan lebih bagus lagi. Orang programing bisa jadi tak banyak waktu untuk mendengarkan presentasi yang rumit. Karenanya dengan presentasi visual akan lebih meyakinkan. Dari awal mesti dibuat jelas: seperti apa format acaranya, apa genrenya, segment penontonnya siapa, bagaimana konten setiap epiodenya. Jangan pernah mengklaim kalau acara itu original, sebab kini sudah begitu banyak format acara televisi di dunia. Jadi tentu saja harus berhati-hati dalam hal ini, jangan sampai kita dituduh menjiplak suatu acara tertentu.

Untuk lebih meyakinkan lagi, baiknya dibuatkan dummy atau pilot project. Memang memerlukan biaya yang bisa jadi tidak sedikit, namun dengan dummy sudah akan terlihat apakah acara yang dipresentasikan itu menarik atau tidak.

Candid Camera, Bukan Sekadar Menyembunyikan Kamera

 Candid Camera, Bukan Sekadar Menyembunyikan Kamera
Diki Umbara

 

Rutan Salemba siang itu ramai seperti biasanya. Di pintu gerbang, penjagaan terlihat wajar. Bahkan tidak nampak lebih ketat ketimbang kedutaan Amerika Serikat. Beberapa pengunjung antri melewati dua lapis pintu masuk. Di lapis ke dua inilah pemeriksaan nampak benar-benar dilakukan.

Di antara puluhan pengunjung saat itu ada seorang pemuda yang juga ikut antri, sama seperti yang lain ia melewati pemeriksaan petugas. Namun ada yang tidak disadari oleh petugas penjaga rumah tahanan, pemuda tadi sudah dan masih melakukan perekaman video. Bagaimana bisa?

Candid camera merupakan tehnik pengambilan gambar di mana subyek yang direkam tidak menyadarinya sebab si perekam tidak nampak seperti sedang melakukan pengambilan gambar. Kenapa mengambil gambar harus secara diam-diam? Dari sinilah sebetulnya upaya candid camera harus dilakukan atau tidak. Ya, candid camera bukan sekadar menyembunyikan kamera. Lebih dari itu ada beberapa hal yang mesti diperhatikan, saat persiapan juga pada waktu berlangsungnya pengambilan gambar tersebut.

Beragam Spy Cam

Saat ini telah banyak alat untuk melakukan perekaman gambar dengan tersembunyi di mana subyek yang direkam tidak akan menyadarinya. Beragam spy cam dibuat sedemikian rupa baik yang dikenakan oleh si pengguna atau “sekadar” di taruh di tempat tertentu. Dan beragam alat ini tidak sulit didapat karena ada banyak toko yang menjajakannya atau bisa dipesan melalui toko online di internet. Alat pengintai yang semula hanya ada di film-film spionase semisal James Bond, kini bisa dibeli siapa saja.

Melihat perkembangannya, apapun kini nampaknya bisa dipasangi lensa kamera yang pada akhirnya bisa merekam serta menyimpan hasil rekamannya. Industri melihat peluang ini, maka beragam produk kamera pengintai kini sudah banyak variannya. Di antara produk tersebut di antaranya, Spy Pen kamera pengintai yang ditanam di dalam sebuah bullpoint. Bentuknyapun memang serupa bullpoint, maka orang tidak akan mengira kalau itu merupakan spycam. Untuk menggunakan kamera ini cukup diletakan di saku baju. Spycam Watch berupa jam tangan, beragam bentuk dari yang classy sampai yang trendy. Arahkan tangan ke manapun, maka arah perekaman akan mengikuti bagaimana jam tangan itu diarahkan.

Sun Glasses Spy, seperti halnya jam tangan, kaca mata pengintai ini juga memiliki beragam bentuk. Dari kacamata yang biasa digunakan dipantai, hingga kacamata para eksekutif muda. Penggunaanya tentu sangat mudah atau bisa jadi ini paling mudah. Seperti halnya mengenakan kacamata biasa, tinggal mana obyek yang ingin diintai, maka arahkan mata ke obyek tersebut. Lighter Spy, kamera yang ditanam ke dalam bentuk korek atau lighter. Penggunaanya tinggal diletakan saja di atas meja, atau dengan pura-pura menyalakan rokok misalnya. ID Card Spy, lensa kamera yang sangat mungil ditanam pada kartu pengenal. Dikalungkan atau dijepitkan pada saku baju. Pin Spy, mirip dengan ID Card Spy hanya saja dalam berbagai bentuk pin. Kelebihannya tentu saja pin spy bisa ditempel di mana saja. Ada juga yang dalam bentuk kancing baju. Jadi kamera menempel di kancing baju, dengan demikian kancing kamera tersebut mesti sama persis dengan kancing lainnya yang ada di pakaian tersebut.

Selain spy cam yang memang dikenakan di tubuh kita, beberapa jenis kamera pengintai memiliki bentuk dan fungsi yang bisa ditata di tempat tertentu. Cloth Hanger Spy, kamera pengintai dalam bentuk gantungan baju. Tentu saja kamera ini memungkinkan untuk dipasang di kamar atau ruang tertentu yang jika ada gantungan baju merupakan hal yang lumrah. Frame Spy, merupakan kamera pengintai dalam bentuk frame foto. Ruang tamu, ruang kerja, serta kamar menjadi tempat-tempat di mana frame spy ini bisa disimpan. Power Switch Spy, kamera yang ditanam pada stop kontak listrik.   

Merekam Diam-Diam dalam Undang-Undang

Menurut ahli hukum yang berdasar pada Pasal 31 ayat 2 UU ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik) 2008, ternyata merekam diam-diam dengan menggunakan perangkat teknologi seperti kamera tersembunyi, alat perekam video, atau perekam suara dikategorikan sebagai illegal interception. Kegiatan perekaman diam-diam yang dimaksud seperti percakapan pribadi seseorang yang direkam secara diam-diam, percakapan rahasia dagang, percakapan rahasia negara, serta percakapan yang atas permintaan lawan biacara agar dirahasiakan.

Namun demikian, perekaman yang diperuntukan kepentingan publik nyatanya bisa dibenarkan seperti CCTV misalnya, atau untuk keperluan jurnalistik. Dengan demikian perekaman diam-diam yang tidak dimaksudkankepentingan umum ini bisa dijerat hukuman. Jadi, untuk keperluan apa kita melakukan perekaman secara diam-diam tersebut harus dipikirkan sedari awal.

Candid Camera Program Televisi

Seorang crew segera mengejar orang yang baru saja direkam oleh timnya secara diam-diam. Ia memperkenalkan diri sebagai bagian dari tim lantas menyodorkan secarik kertas yang berisi tentang apakah subyek mengizinkan yang tim lakukan itu ditayangkan di televisi atau tidak. Ada yang setuju ada juga yang tidak. Kepada yang tidak setuju, crew tersebut berjanji untuk menghapus rekamannnya itu.

Begitulah salah satu kerja yang dilakukan oleh crew program televisi populer Just For Laugh sebuah acara ngerjain siapapun yang direkam dan ditayangkan televisi. Lucu, karena beragam reaksi dari subyek yang didapat secara spontan. Acara serupa, kalau tidak dibilang menjiplak, juga banyak di televisi di Indonesia. Namun rupanya cara kerjanya agak sedikit beda. Maka tak mengherankan ketika ada beberapa kasus komplain orang karena ia tidak suka direkam diam-diam dan lantas jadi tontonan publik. Kenapa bisa begitu? bisa jadi kebanyakan pembuat acara candid camera di kita tidak melakukan izin setelah melakukan perekaman diam-diam tersebut.

Seolah Hidden Camera

Tak mudah seperti yang dibayangkan, membuat acara televisi hidden camera akan menemui banyak kesulitan. Subyek yang belum tentu mau direkam secara diam-diam, lokasi yang sulit dalam pengambilan gambar, hingga subyek yang “tiba-tiba” bisa pergi dari intaian kamera. Jika pengambilan gambar atau shooting konsep hidden camera ini real dilakukan maka biasanya 7 dari 10 pengambilan gambar akan gagal. Jadi betapa harus banyak melakukan pengambilan subyek untuk misalnya satu episode acara televisi saja. Kesulitan semacam ini membuat crew frustasi.

Tidak menjadi problem ketika sebuah acara hidden camera itu tayang satu minggu sekali, namun jika lebih maka televisi atau production house tidak memiliki waktu.Ya tenggat atau deadline menjadi alasan klasik, maka dibuatlah cara bagaimana agar shooting candid camera tak memiliki kesulitan tersebut. Maka dibuatlah cara pengambilan gambar dengan seolah hidden camera. Pengambilan gambar tidak betul-betul dilakukan secara candid, namun seolah kameranya memang tersembunyi. Hal lain yang dilakukan, mengarahkan subyek seolah ia tak sadar sedang direkam. Sudut pengambilan gambar atau angle tententu memunngkinkan penonton akan merasa bahwa itu dilakukan secara diam-diam, secara tersembunyi. Angle yang dimaksud misalnya menggunakan sudut pengambilan gambar yang seolah rumit atau menggunakan foreground atau penghalang di depan lensa kamera.

Hidden Camera untuk Investigasi

Peralatan hidden camera seperti di atas akan sangat membantu para jurnalis yang melakukan liputan investigasi. Melakukan perekaman diam-diam pada akhirnya harus dilakukan ketika situasi tak memungkinkan untuk melakukan pengambilan gambar secara terang-terangan. Isu bahwa ada pesta narkoba di dalam penjara pernah terdengar. Karenanya untuk membuktikan itu harus dilakukan investigasi. Dan pemuda yang diceritakan di awal tadi telah berhasil melakukan jurnalisme investigasi, menggunakan spy cam dalam bentuk bullpoint di mana ia dengan leluasa bisa merekam kenyataan bahwa pemakaian narkoba di penjara benar adanya.

Liputan investigasi pesta narkoba di dalam penjara ditayangkan. Publikpun terperangah. Beberapa tahun kemudian kejadian serupa juga ada, kamar ekslusif bagi terpidana korupsi ada juga di penjara. Untuk beberapa kalangan, liputan investigasi merupakan hal yang mengerikan.

 

               

Mempromosikan Program TV

Mempromosikan Program Televisi
Diki Umbara

 

Sebuah program hasil akuisi baru saja didapat oleh programming. Waktu mendapatkan program bagus kebetulan itu terbilang mepet. Sementara program tersebut mesti tayang dalam minggu ini juga. Agar penonton tahu tentang program tersebut maka harus segera dibuat promo program, promosi acara televisi di televisi atau apa yang disebut sebagai promo on air.

 

Ada banyak cara mempromosikan acara televisi sehingga masyarakat akan tahu perihal program televisi dan akhirnya menonton acara tersebut. Secara garis besar ada dua cara mempromosikan program televisi yakni promo off air dan promo on air. Dan kali ini membahas khusus tentang promo on air, promo yang memanfaatkan medium televisi secara berkesinambungan. Promo on air memiliki beberapa jenis yakni trailler, teaser, promo program, super imposse, dan running text. Untuk efektifitas kadangkala promo program yang sama bisa dilakukan di semua jenis promosi on air ini. Sebab intinya bagaimana agar program mendapat awarness dari calon penonton dan akhirnya ditonton khalayak.

Trailler merupakan cuplikan program yang disusun sedemikian rupa sehingga menggambarkan suatu program itu sendiri. Trailler kadang ditambah atau dilengkapi dengan narasi. Teaser dibuat dari potongan film, kumpulan potongan adegan yang akan menarik perhatian penonton. Untuk film lepas, trailer sudah dibuat oleh rumah produksi film tersebut. Jadi yang dilakukan oleh bagian promo televisi biasanya dengan menambahkan grafis perihal waktu tayang. Promo program hadir menjelang suatu acara selesai tayang, biasanya adlibs dari pembawa acara atau dilakukan oleh pembawa acara khusus yang kemunculannya di antara program yang satu ke program berikutnya. Super imposse dimunculkan saat program televisi berlangsung, ia muncul picture in picture atau split dengan program yang sedang berlangsung. Ini dimaksudkan agar penonton yang sedang melihat satu program tertentu bisa menonton pula program yang sedang dipromosikan itu. Sedangkan promo on air dalam bentuk running text merupakan promo berupa teks atau tulisan, deskripsi singkat program disertai dengan waktu tayang.

Kekuatan Grafis dan Narasi

Nyaris tidak ada promo on air yang tidak menggunakan grafis di dalamnya, setidaknya grafis itu berupa template untuk teks waktu dan jam tayang. Tapi grafis pada promo on air tentu bukan sekadar itu, sebab grafis bisa menjadi ciri khas baik untuk nama channel atau stasiun televisi, maupun untuk nama program yang dipromosikan.

Banyaknya kanal televisi, hal ini juga mengharuskan kanal atau stasiun memiliki promo onair yang khas dan grafis yang di antaranya dalam bentuk 2D atau super imposse penonton sudah bisa membedakan. Maka dari tampilan promo program sekilas saja sudah bisa dibedakan mana kanal Asia News Channel dan mana kanal Star Channel, penonton juga dengan mudah bisa membedakan mana program dari NET TV dan mana program dari stasiun ANTV.

Demikiaan pula dengan narasi atau voice over yang ada pada promo on air masing-masing stasiun dan bahkan nama program acara televisi. Pengisi suara pada promo on air harus khas, ear catchy, agar ketika penonton hanyamendengar tanpa melihat sekalipun sudah akan bisa mengetahui kalau itu adalah program A di kanal atau stasiun A. Maka dari pengisi suara saja, penonton akan bisa mengidentifikasi jika misalnya sebuah film akan ditayangkan di HBO dan bukan Hallmark atau sebuah program akan ditayangkan di Global TV bukan di Trans 7.

Begitulah grafis dan narasi atau pengisi suara dalam promo on air, walaupun hanya berdurasi tak lebih dari satu menit ia biasanya memiliki kekuatan sendiri setara dengan iklan komersial.

Durasi yang Pendek

Lamanya atau durasi dari promo on air mirip dengan durasi TVC atau PSA yakni satu menit, empat puluh lima detik, tiga puluh detik, limabelas detik, dan lima detik. Dengan durasi yang pendek inilah bagaimana agar tujuan dari promo on air bisa tersampaikan dengan baik. Maka sedari awal promo on air sudah harus didesain dengan menyertakan durasi. Karenanya beberapa promo on air dibuat seperti halnya iklan komersial atau layanan masyarakat.

Waktu Tayang

Penempatan dan frekuensi seberapa sering promo on air dilakukan menjadi hal penting juga. Artinya promo on air tidak juga asal menempatkan jam tayangnya. Maka biasanya promo program serupa akan ditempatkan pada program atau jeda program yang mirip. Misalnya trailler sinetron baiknya ditempatkan pada program sinetron juga. Kalaupun ditayangkan di program yang jauh berbeda hal ini dimaksudkan untuk menggrab penonton lain selain penonton program tersebut. Tapi biasanya dalam frekuensi atau seberapa sering dilakukan promo silang tersebut tidak lebih banyak dibanding pada program yang homogen.

Seperti halnya juga tv komesial atau iklan layanan masyarakat, penempatan teaser dan sejenisnya ini bisa dilakukan secara periodik pad jam tertentu namun bisa juga dilakukan dalam metode ROS atau random on spot, di mana promo on air tersebut bisa dilakukan kapan saja.

Shooting atau Hanya Editing

Di stasiun televisi, bagian promo on air ada yang dibawah langsung departemen programming namun ada juga di bawah departemen marketing. Namun bagaimana bagian promo on air ini bekerja di satu stasiun televisi dengan televisi lainnya hampir sama. Pada bagian ini memiliki produser dimana ia bertanggung jawab pada pembuatan promo on air, dari mulai konsep hingga memberikan saran kapan semestinya promo tersebut ditayangkan. Beberapa ada yang memiliki tim sendiri, yang berarti darimulai cameraman hingga editor memang didedikasikan untuk tim promo on air. Namun ada pula bagian promo menggunakan cameraman serta editor dari departemen lain.

Video trailler atau teaser tidak selalu dibuat pengambilan gambarnya oleh tim promo on air. Karenanya jika misalnya dari film lepas atau sinetron, bagian promo on air akan membuat konsep editing dan melakukan penyuntingan saja tanpa mesti melakukan shooting tersendiri. Bagian promo on air akan memilah dan memilih adegan mana yang paling menarik. Misal itu film action, maka scene yang menegangkan akan menjadi pilihan pertama.Jika itu film drama maka adegan paling dramatis akan menjadi pilihan. Atau bisa juga dari dialog yang menarik. Pemilihan shot-shot yang menarik kemudian disambung dan diselaraskan dalam penyuntingan gambar sehingga trailer akan menjadi tontonan pendek yang menjadikan itu penasaran bagi penonton.

Akan tetapi beberapa program televisi bisa jadi promo on airnya harus dibuatkan juga teaser yang gambarnya mesti dibuat sendiri. Karenanya konsep pembuatan promo on air harus dibuat sedetail mungkin. Beberapa bagian promo on air televisi,mereka akan membuat konsep yang dituangkan dalam story board bahkan hingga stelomatic. Stelomatic seperti halnya story board namun ia sudah dilengkapi dialog, narasi, dan musik.

Ketika pertama hendak membuat konsep promo on air, produser promo akan mempelajari terlebih dahulu konsep program itu sendiri: genre, tema, target audiens, serta waktu tayang akan menjadi fokus pertama. Dan yang paling utama ialah apa yang menjadi ciri khas dari program tersebut, seperti siapa pembawa acara dan para bintang tamu misalnya.

Promo Program Televisi di Sosial Media

Mulanya promo program televisi di media sosial tidak dianggap sebagai hal penting, hingga akhirnya “orang televisi” paham jika efek viral sosial media bisa menggiring siapa saja untuk menonton atau tidak menonton program televisi. Trailler teaser acara televisi diunggah ke jejaring pengunggah video seperti YouTube, maka pengguna internet bisa melihat trailler tersebut. Beberapa televisi membuat kanal sendiri YouTube, ketika program selesai ditayangkan segera diunggah ke kanal tersebut sehingga penonton yang tak sempat menyaksikan di televisi bisa menyaksikan di kemudian hari bahkan beberapa jam setelahnya.

Banyak program televisi yang memiliki penggemarnya sendiri, untuk mengakomodiritu semua beberepa situs jejaring sosial kerap digunakan. Fan Page di Facebook atau akun program televisi di twitter, link promo on air program yang telah diuanggah di YouTube bisa dishare pada jejaring sosial twitter dan facebook tadi. Keuntungan dari promo ini, selain memiliki dampak yang viral juga bisa berinterakksi langsung dengan penonton. Karenanya di program acara televisi juga saat ini sudah mulai banyak super imposse serta running text yang mencantumkan akun jejaring sosial. Begitulah pada akhirnya akan ada crossing promo dan entah kelak akan ada model promo program televisi apa lagi.

 

 

 

Memilah dan Memilih Kamera Video

Memilah dan Memilih Kamera Video
Diki Umbara

Kami ingin membeli kamera video. Punya rekomendasi merk dan tipe kamera yang bagus? Demikian kerap penulis mendapat pertanyaan ketika menjadi pembicara untuk tema video jurnalistik. Dan pertanyaan serupa penulis dapatkan ketika memberi pelatihan untuk para pegawai bagian humas salah satu pemerintahan daerah di Papua.

 

Artikel ini merupakan jawaban atas pertanyaan yang sering dilontarkan seperti di atas tadi. Alih-alih menjawab langsung, biasanya penulis justru menanyakan balik. Sebab dari pertanyaan kembalilah akan didapatkan jawaban yang menjadi harapan si penanya, pada akhirnya. Ada beberapa hal yang mesti dilakukan ketika kita memutuskan untuk membeli kamera video yang ideal sesuai kebutuhan. Maka beberapa pertanyaan di bawah ini akan membantu untuk mendapatkan kamera yang diinginkan itu.

seminar

Kamera untuk apa?

Tentu saja untuk pengambilan gambar, merekam baik gambar maupun suara. Ini masih terlalu umum. Lebih spesifik lagi, kebutuhan apakah yang diinginkan dalam pengambilan gambar tersebut. Jika diklasifikasikan sebagai peruntukan dalam berbagai jenis, maka kamera video akan terbagi atas: kamera studio, kamera EFP (Electronic Field Production), kamera ENG (Electronic News Gathering), dan kamera home video.

Tiga jenis kamera merupakan kamera video yang digunakan oleh broadcasting televisi. Kamera studio sesuai namanya merupakan kamera yang didesain untuk keperluan shooting di dalam studio. Kamera ini biasanya terintegrasi dengan sebuah sistem yang disebut multikamera. Terhubung dengan vision mixer atau video switcher. Beberapa control kamera studio ada pada CCU atau Camera Control Unit. Pada CCU akan ada adjusment untuk iris dan gain untuk mengatur cahaya juga kontrol warna. Sehingga pada kamera studio, operator kamera tidak dibebankan untuk mengontrol kedua hal ini.

Kamera EFP, sering digunakan untuk keperluan di luar studio. Kamera ini seringkali digunakan untuk acara olahraga seperti sepakbola misalnya. Kamera EFP sebetulnya mirip dengan kamera studio. Kontrol kamera menggunakan CCU, walaupun demikian bisa juga digunakan stand alone ketika tidak terhubung dengan sistem multikamera.

Jenis kamera ENG diperuntukkan bagi para operator kamera saat liputan. Kamera ini didesain untuk keperluan peliputan berita, pembuatan feature, dokumenter dan sejenisnya.

Yang terakhir yakni kamera home video, inilah jenis kamera yang paling banyak variannya baik low-end maupun high-end. Kamera ini biasanya berbentuk compact, atau lebih dikenal sebabagai handycam.

Dari berbagai jenis atau tipe kamera inilah sudah mulai bisa dipilah bahwa jenis kamera mana yang diperlukan. Namun dengan mengetahui berbagai jenis kamera ini saja belum cukup benar, karena kenyataannya masih ada lagi tipe kamera yang diklasifikasi berdasar media rekam apa terdapat pada kamera tersebut.

Ada Beragam Media Rekam

Kamera Mini-DV. Kamera jenis ini sangat populer utamanya untuk para video jurnalis dalam liputan berita, infotainment, serta para pembuat film dokumenter. Kamera ini menggunakan kaset mini-DV sebagai media penyimpanan. Kelebihan kamera jenis ini tentu karena banyak yang masih percaya bahwa kaset merupakan media penyimpanan yang aman jika dibandingkan dengan hardisk. Kamera ini salah satunya yakni Panasonic Pro AG-DVX100BP.

DVD Camcorder. Jenis kamera ini sangat compact, media penyimpanan berupa cakram DVD. Namun jenis kamera ini tidak direkomendasikan untuk keperluan pengambilan gambar profesional karena kompresi pada hasil rekaman jenis kamera ini mengakibatkan kualitas gambar menjadi turun. Kamera jenis ini misalnya Sony DCR DVD 650

HDD Camcorder. Jika kamera mini DV media penyimpanannya dalam bentuk tape atau kaset, dan DVD Camcorder dalam bentuk cakram DVD, maka HDD Camcorder menggunakan hardisk sebagai media penyimpanannya. Seberapa besar kapasitas hardisk yang ada di kamera tersebut tergantung dari tipe yang dikeluarkan oleh produsen. Yang barangkali agak membingungkan banyak orang pikir kalau HDD Camcorder itu artinya High Definition, padahal HDD Camcorder artinya adalah Hard Disc Drive yang dalam perekaman dan penyimpanannya bisa SD atau Serial Definition maupun HD atau High Definition.

HDD Camcorder dalam hal media penyimpanan sebetulnya mirip dengan komputer, yakni ia menyimpan materi berdasar megabite yang digunakan. Salah satu kamera yang populer adalah JVC Everio GZHD7 3CCD 60GB, yang berarti kamera ini memiliki media penyimpanan sebesar 60GB.

Flash Memory Camcorder. Pada kenyataannya storage atau media penyimpanan juga mengalami perkembangan. Flash memory yang semula didesain untuk keperluan gadget dan kamera still, kini juga digunakan dalam penyimpanan file audio visual. Ada dua jenis format flash drive yang digunakan, yakni Memory Stick yang diproduksi dan hanya digunakan oleh Sony dan SD/SDHC yang digunakan oleh produk merk lainnya. Kelebihan dari flash memory tentu saja ia bisa lebih tahan banting ketimbang hardisk karena bentuknya yang sangat compact. Karena banyak yang dibuat sebagai kamera home video, hampir semua vendor mengeluarkan kamera jenis ini. Salah satunya adalah Panasonic HC X900M

Ya kini sudah makin mengkerucut bukan? Selain jenis maka media perekaman dari masing-masing kamera ini sudah bisa menjadi pertimbangan Anda dalam menentukan kamera apa yang cocok digunakan sesuai kebutuhan. Lalu hal apa saja yang perlu diperhatikan sehingga kita bisa memastikan kamera mana dibutuhkan, ini tidak berkaitan langsung dengan fisik kamera itu sendiri. Artinya yang mesti jeli kita lakukan adalah dengan mengetahui spesifikasi yang ada di dalamnya. Salah satunya adalah mengenai resolusi gambar dan frame size

Dari VGA hingga Full HD

Resolusi gambar sudah menjadi perhatian para vendor sedari awal, baik untuk kebutuhan consumer maupun industri, baik untuk keperluan playback ataupun untuk perekaman. Resolusi gambar paling tinggi video saat ini adalah Full HD alias 1080p. Resolusi ini telah diakomodir oleh kamera jenis HDSLR. Frame size full HD adalah 1920 X 1080 pixel. Di bawah Full HD ada HD atau biasa disebut 720p. Pada dasarnya HD juga termasuk high definition, hanya saja frame sizenya 1280 X 720. Selanjutnya ada HDV atau High Definition Video yang memiliki format 1440 X 1080 anamorphic. Sedangkan resolusi yang masih “umum” dan masih banyak digunakan adalah SD atau standard definition. Ada dua jenis SD yang populer yakni PAL 720 X 576 untuk negara-negara di Eropa dan NTSC 720 X 480 untuk negara-negara di Amerika Utara. Sedangkan broadcasting televisi di Indonesia menggunakan format PAL. Dan resolusi terakhir adalah VGA atau video grapic array. Resolusi VGA merupakan resolusi paling rendah, namun resolusi ini masih digunakan misalnya untuk kamera ponsel.

Semakin tinggi resolusi gambar tentu saja artinya semakin baik juga gambar yang dihasilkan. Yang perlu diperhatikan dalam perihal resolusi ini adalah kompabilitas, hal ini akan berkaitan dengan editing serta hasil akhir apa yang diinginkan nantinya.

Tool Tambahan

Ketika membeli kamera video yang tanpa perencanaan terlebih dulu biasanya akan menyisakan PR, ternyata ada kebutuhan lain yang jika itu tidak terpenuhi maka pekerjaan yang menggunakan kamera video menjadi tidak maksimal. Tidak seperti halnya membeli kamera foto, banyak orang yang tidak memperhatikan perihal lensa kamera. Lensa kamera video pada umumnya memang sudah terpasang pada body kamera dan tidak bisa diganti. Namun beberapa kamera video terutama kamera video profesional memungkinkan pengguna untuk mengganti lensa. Jadi, ketika akan memutuskan membeli kamera perlu diperhatikan juga misalnya apakah hanya perlu lensa standar yang berarti tidak perlu lensa tambahan dan hanya perlu kamera yang sudah memiliki kamera standar tersebut. Atau misalnya memerlukan juga lensa tele atau wide karena untuk keperluan tertentu. Jika demikian maka sedari awal kita sudah akan tahu apakah kamera yang akan dibeli itu harus bisa ganti lensa atau tidak.

Tambahan lain yang diperlukan adalah microphone. Ya tentu saja kamera video standar sudah memiliki microphone baik yang internal (biasanya untuk kamera pro-sumer) maupun microphone external untuk kamera semi-pro dan kamera profesional. Ada banyak microphone yang bisa digunakan, namun lagi-lagi hal ini mesti diperhatikan dari sisi kebutuhan. Misalnya untuk keperluan interview bisa jadi kita memerlukan shot gun atau clip on. Microphone pun ada yang menggunakan kabel ada pula yang wireless.

Supporting utama terakhir yang tak kalah penting adalah mounting penyangga kamera. Dan yang paling umum digunakan yakni tripod, penyangga dengan tiga kaki ini ada beberapa jenis. Tripod untuk kamera video berbeda dengan tripod kamera foto. Karena kebanyakan kamera video memiliki beban yang lebih berat. Tripod yang baik ia mesti kokoh serta bisa dengan mudah digunakan untuk paning (pergerakkan horisontal) dan tilting (pergerakkan vertikal)

Ada Harga Ada Rupa

Ini nampaknya sudah sudah menjadi adagium populer baik untuk pembeli maupun bagi si penjual. Ada harga ada rupa, ada uang yang banyak ada barang yang bagus. Nyaris tidak ada yang salah dengan hal itu. Namun ada kalanya ini tidak berlaku ketika misal kamera yang mahal telah dibeli namun tidak sesuai dengan kebutuhan.

Apa sebetulnya mempengaruhi harga video kamera? Jenis serta klasifikasi seperti di ataslah yang menjadi faktornya. Kamera HDD dengan hardisk 120GB tentu akan lebih mahal dari yang memiliki hardisk 60GB. Jadi tentukan,apakah memang benar kebutuhan penampungan gambar saat peliputan itu memerlukan waktu perekaman berdurasi panjang atau tidak. Demikian juga dengan lensa kamera, apakah cukup dengan lensa standar atau perlu juga lensa tele atau widelens.

Ada beberapa merk kamera: Sony, Panasonic, Canon, Ikegami, JVC, dan beberapa merk lain. Masing-masing merk kadang memiliki ciri khas yang di antaranya ialah karakter warna. Terakhir, silakan bandingkan masing-masing merk tersebut dengan kamera tipe sejenis. Jangan sampai tergiur dengan harga yang lebih murah namun ternyata ada fasilitas menu yang kurang di dalamnya, padahal misalnya hal itu diperlukan.

Purna jual atau garansi juga akan pengaruh pula pada harga. Sebelum memutuskan membeli, pastikan dengan teliti tentang garansi ini. Layanan purna jual yang baik ia akan mengakomodir keluhan anda ketika ada permasalahan pada kamera. Pembelian kamera di toko dalam negeri maupun di toko luar negeri sebetulnya tidak masalah ketika jaminan garansinya jelas.

A Man Behind The Gun

Ketika sudah yakin dengan keputusan dari hasil memilah dan akhirnya memilih kamera yang diinginkan dan diperlukan, sebetulnya ada hal yang paling esensi dari itu semua, yakni siapa yang akan menggunakan kamera tersebut. Kemampuan mengoperasikan kamera yang buruk akan berbanding terbalik dengan pilihan kamera video yang terbaik sekalipun. Belajar kamera bukan perihal mengerti manual book saja karena di dalam manual book hanya berisi penjelasan teknis. Di luar itu semua,operator kamera mesti bisa mengoptimalkan kegunaan kamera tersebut.