Talent Coordinator Televisi, Tak Ada Artis yang Ia Tak Kenal

Talent Coordinator Televisi, Tak Ada Artis yang Ia Tak Kenal
Diki Umbara

Di layar komputer dalam satu sheet, deretan nama artis berikut nomor contactnya tersusun rapi berdasar alfabetikal. Pada sheet lain tersusun nama artis berdasar grade A, grade B, dan grade C. Dalam sheet lainnya terdapat nama narasumber kalangan non artis dari berbagai latar belakang. Di atas meja terdapat catatan nama-nama artis hasil meeting yang dilakukan kemarin.  “Shootingnya Selasa depan standby jam 5 sore dan akan mulai on cam jam 7 malam. Ya, akan tampil di segmen empat dan lima. Scriptnya segera saya email. Sip. Langsung saya lock ya!” demikian obrolan seorang talent coordinator dengan seorang manajer artis di ujung telpon.

Head Hunter - Recruiter

Talent coordinator baru saja menyelesaikan satu di antara puluhan hal yang harus ia  lakukan minggu ini. Lantas ia mulai mengontak lagi artis lainnya, kali ini negosiasi lebih alot, rupanya yang dihubungi merupakan artis yang baru naik daun. Entah manajer artis yang ia hubungi itu memang ribet atau bisa jadi si artis itu sendiri yang sangat selektif dalam menerima pekerjaan untuk tampil di televisi.Begitulah talent koordinator bekerja, kemampuan komunikasi dalam negosiasi merupakan syarat mutlak yang harus ia miliki. Lebih dari itu seorang talent coordinator tentu harus tahu berbagai karakter dan kemampuan talent yang kelak akan diundang untuk mengisi acara. Dalam lain kesempatan, talent coordinator juga harus pandai mendapatkan talent yang bisa jadi mereka adalah para pendatang baru.  Ditemani produser, ia melakukan casting untuk mendapatkan presenter atau pembawa acara misalnya. Dari membuat jadwal open casting hingga mendapat beberapa pilihan calon  presenter yang nantinya diajukan pada produser dan eksekutif produser.

Selain data dalam bentuk profil dan kontak beragam talent, ia juga harus memiliki data dalam bentuk audio visual. Talent coordinator memiliki bank data yang jika sewaktu-waktu dibutuhkan user dalam hal ini produser, eksekutif produser, dan manajer produksi, ia harus bisa segera memberikan data yang diperlukan tadi. Keputusan final memang ada di user, namun talent coordinator bisa saja memberikan rekomendasi atau catatan pada talent yang diajukan tadi. Ini tentu saja akan membantu user sebelum akhirnya menggunakan talent mana sebagai pilihan akhir.

Casting, Sepeti Mendapatkan Jodoh

Hal paling parah dalam sebuah program televisi salah satunya ialah mendapati pemain atau talent yang tidak cocok dari apa yang diinginkan. Hal ini bisa terjadi walaupun sebetulnya bisa dihindari.  Salah casting atau gagal castinglah menjadi penyebabnya. Dalam mencari pengisi acara atau pemain memang sudah ada formula atau langkah umum, yakni melakukan casting untuk mendapatkan itu semua. Di depan kamera calon pemain diminta melakukan sesuatu sesuai keinginan script. Bagaimana talent bisa monolog, dialog, atau melakukan aksi, dan jika hasilnya tidak sesuai dengan yang diinginkan tentu itu sudah jadi parameter kalau talent itu tidak cocok. Namun hal tersulit adalah ketika kita sudah mendapat misalnya ada beberapa pilihan talent yang sudah sesuai yang kita inginkan. Bagaimana memilih satu di antara tiga yang terbaik? Inilah hal krusial dalam menentukan talent mana yang akan diambil. Ini memang sudah bukan ranah talent koodinator, sebab keputusan terakhir ada pada user. Untuk membantu dalam mendapatkan talen terbaik inilah, talent coordinator bisa membuat dan menganalisa kelemahan apa saja yang ada pada ketiga talent terbaik tadi. Ya, pada akhirnya casting seperti mendapatkan jodoh. Selain logika, jangan pernah melupakan insting sebagai alat bantu dalam mengambil keputusan.

Jelas Sedari Awal

Bertatap muka langsung dengan talent dan juga mungkin managernya tentu akan lebih menguntungkan ketimbang berbicara melalui telpon, akan tetapi tidak betapa akan banyak waktu yang diperlukan talent coordinator jika harus melakukan itu. Komunikasi tatap muka hanya dilakukan saat urgent saja, termasuk saat sebelum talent akan menyetujui perkejaan yang diberikan. Dari awal talent coordinator, diminta atau tidak harus menjelaskan tentang klausul ketika talent menyepakati tawaran dari televisi tersebut. Hal penting itu terkait dengan jadwal detail, kapan mesti standby dan kapan shooting dilakukan, berapa jumlah episode serta berapa lama shooting dilakukan, berapa dan kapan fee dibayarkkan, apa saja yang harus dilakukan talent, bagaimana pembayaran,  dan hal rinci lainnya. Klausul itu baikknya tercantum  kontrak yang jelas. Beberapa talent suka malas membaca kontrak yang mungkin berlembar-lembar itu, karenanya talent coodinator mesti menjelaskan point-point penting.

Menjaga Hubungan

Komplain baik dari talent pada talent koordinator atau sebaliknya dari koodinator talent paada talent itu sendiri, mestinya tidak ada, jika kesepakatan seperti yang dijelaskan di atas, sudah dibuat sebelumnya. Tapi begitulah dalam kenyataan, ada kalanya seiring waktu ada hal-hal di mana kesepakatan itu dilanggar. Ini harus menjasdi catatan untuk talent coodinator. Ketika talent memiliki attidude yang tidak baik apalagi membahayakan dalam keberlangsungan acara, tentu jangan segan untuk membuat black list pada talen tersebut. Blacklist pada talent ini sudah seperti rahasia umum, dan ini bisa saja dishare pada talent coordinator televisi lainnya. Dan tentu saja ini menjadi kerugian besar bagi talent yang bersangkutan.

Di lain pihak, talent koordinator harus pandai menjaga hubungan dengan para talent atau manajernya itu. Daftar artis dan kontaknya bukan buku telpon yang tidak bermakna, di sanalah nama-nama yang kita bisa ajak kerjasama, kontak-kontak itu menjadi nyawa bagi talent coordinator.

Di Lokasi Shooting

Pekerjaan talent coordinator tidak hanya menyangkut komunikasi dan hal administratif. Saat di lokasi shooting, ia harus memastikan appoitment yang sudah dilakukan sebelumnya itu. Talent coodinator harus update terus pada produser atau asisten produser tentang talentnya itu, sehingga misalnya jika terjadi kelambatan datang pada lokasi shooting, produser sudah bisa mengantisiasi untuk melakukan opsi lain dari plaing yang telah ditentukan. Ketika berkaitan dengan talent, maka talent coordinator itulah yang akan ditanyakan oleh produser dan mungkin tim kreatif yang akan melakukan briefing di lapangan.

Manajemen Waktu

Kemampuan lain dari talent koordinator yang tak kalah penting ialah perihal manajemen waktu. Ia harus paham betul tentang time shooting schedule, dimana ia juga bisa membreakdown schedule itu untuk kepentingan talen-talentnya. Dalam produksi sinetron, talent coordinator akan bekerjasama dengan  asisten sutradara dua. Apalagi misalnya menyangkut produksi sintron yang striping. Begitulah talent coodinator, ia selain harus pandai mencari, mendapatkan, dan mengelola para talentnya juga harus bisa bekerjasama dengan tim produksi lainnya.

Terbang Mencari Gambar Bersama Drone

Terbang Mencari Gambar Bersama Drone
Diki Umbara

Mulanya digunakan oleh militer Amerika, Unmanned Aerial Vehicle atau pesawat tanpa awak digunakan sebagai salah satu penunjang senjata yang ampuh. Namun UAV atau yang sekarang lebih dikenal dengan sebutan drone sudah digunakan dalam berbagai kebutuhan. Ya salah satunya adalah untuk alat pengambilan gambar dari udara, baik untuk gambar diam (fotografi) maupun gambar bergerak (videografi).

drone

Berbagai produsen kini berlomba dalam beragam inovasi agar drone yang dilengkapi kamera tersebut bisa digunakan lebih mudah. Namun karena dianggap mudah itulah sebagian orang menganggap drone sebagai mainan. Lain drone lain pula dengan pesawat RC, sebab ia memiliki fungsi yang beda. Menggunakan drone berarti harus memiliki dua kemampuan sekaligus; mengoperasikan pesawat dengan remote control dan pengoperasian kamera. Penggunaan drone yang serampangan akan mengakibatkan hal buruk, misalnya membahayakan keselamatan orang.

Berikut beberapa hal yang mesti diperhatikan dalam penggunaan drone:

  1. Yakinkan terlebih dulu sebelum menerbangkan drone, Anda harus benar-benar bisa menerbangkan drone dalam arti sebenarnya. Latihan dari hal yang paling simpel, jangan terlalu ingin buru-buru menerbangkan drone dengan sangat tinggi.
  2. Pastikan dari awal untuk keperluan apakah pengambilan gambar dilakukan sehingga harus menggunakan drone. Kalau perlu, buatlah semacam catatan kecil. Atau bisa juga dibuatkan semacam video treatment.
  3. Perhatikan daerah sekitar area terbang drone, mungkin saja langit terbebas dari hambatan akan tetapi jangan abaikan subyek-subyek yang ada di bawahnya. Benar bahwa beberapa drone memiliki kontrol kendali akan tetapi bisa saja membahayakan jika ia lepas kendali sehingga misalnya menabrak orang.
  4. Jangan sampai drone tidak nampak oleh Anda yang mengoperasikannya, karenanya tetap jaga arah pandang. Walaupun lagi-lagi, saat ini ada perlatan penunjang sehingga drone bisa kembali ke operator dengan teknologi yang memungkinkan itu.
  5. Terakhir, ada kalanya tidak semua hasil rekaman drone bisa sembarang kita share ke publik. Jadi walaupun kita telah mengambil gambar dengan drone yang kita miliki, perhatikan pula tentang apakah wilayah serta subyek yang kita ambil gambarnya merupakan hal yang bebas bisa kita share pada orang lain atau tidak.

Berbagai Fungsi Drone

Pesawat tanpa awak yang dilengkapi kamera kini tak hanya digunakan untuk keperluan pengambilan gambar aeral shot saja, beberapa produsen mulai mengembangkan guna berbagai kebutuhan. Jika mulanya untuk kebutuhan militer sebagai pengintai maupun pengangkut peluru kendali, kini drone digunakan untuk hal yang lebih bermanfaat lainnya. Kebutuhan survival untuk membantu penyelamatan dalam bencana sampai kelak untuk keperluan kurir jasa pengiriman barang. Dari drone yang berukuran besar hingga yang sangat mungil dengan fitur-fitur yang tidak kalah canggihnya. Ini merupakan beberapa varian drone yang sudah ada di pasaran:

remote

Parrot Bebop

Namanya unik dan lucu, Bebop. Drone ini didesain untuk mengambil gambar yang lumayan ekstrim, Bebop biasanya digunakan untuk keperluan sport luar ruangan. Bebbop cukup dikendalikan dengan smartphone. Navigasi menngunakan CPU dual-core Parrot P7 dengan memory flash yang bisa menampung 8 gigabyte.

 X8+

Masing-masing drone memiliki kelebihan yang ia andalkan. Drone merk X8+ memiliki sistem rotor yang sangat baik, drone quad-copter memiliki delapan baling-baling. Dengan demikian ia mampu mengangkat kamera yang lebih berat. Karenanya tidak hanya kamera GoPro saja yang cocok untuk drone ini, kamera mirrorless LX100 dan Canon S110 bisa mengandalkan drone canggih ini.

Hubsan X4 Pro
Inilah yang bisa digunakan oleh pengguna pemula maupun profesional. Ada pilihan mode yang bisa diswitch, yakni normal untuk pemula dan expert untuk pengguna yang sudah pro. Ada fasilitas yang bakal digemari penggunanya yakni waypoit Xpro yang bisa mengendalikan drone ini terbang dan turun secara otomatis.

Ada Harga Ada Rupa

Pepatah ini berlaku juga untuk produk yang kini makin digandrungi para fotografer dan videografer ini. Fasilitas serta kemampuan drone yang lengkap tentu saja harganya akan jauh lebih mahal dibanding yang memiliki fasilitas dan fungsi minimalis. Range harga drone dimulai jutaan hingga puluhan juta. Drone tahan banting biasanya menggunakan bahan-bahan yang biasanya dipakai untuk pesawat beneran. Tahan banting di sini adalah tahan banting dalam arti sesungguhnya. Dengan bahan yang biasa ketika drone jatuh tentu saja akan benar-benar rusak dan tidak bisa diperbaiki lagi. Oleh karenanya perawatan drone juga mesti menjadi perhatian bagi para penggunanya.

Drone Bukan Mainan!

Sesimpel apapun cara pengoperasiannya, drone bukanlah mainan. Untuk menerbangkan drone dan menghasilkan gambar yang direkam secara baik memrlukan keahlian sendiri. Artinay operator semestinya memiliki kemampuan tentang navigasi yang baik. Secara umum drone merupakan kombinasi dari serupa pesawat RC + remote control + aplikasi navigasi. Aplikasi navigasi untuk drone pun variatif. Aplikasi ini biasanya bisa digunakan melalui tablet atau bahkan smartphone biasa. Pada aplikasi navigasi ada local level plane digambarkan sebagai posisi pesawat UAV di atas permukaan bumi. Operator bisa melihat parameter-parameter navigasi . Ada sensor-sensor yang digunakan pada sistem navigasi ini diantaranya adalah GPS, sensor altimeter untuk melihat parameter ketinggian, sensor accelerometer yang berfungsi sebagai sensor percepatan, dan sensor gyroscope untuk kecepatan sudut.

drone app

Di udara apapun bisa terjadi, ada kalanya angin sangat kencang bisa tiba-tiba hadir ketika kita menerbangkan drone. Jika panik, bisa jadi yang mengoperasikan drone akan kehilangan kendali, pesawat jatuh walaupun sudah dilengkapi navigasi canggih. Karenanya operator mesti bisa melakukan manuver sehingga kendala tadi bisa diatasi.

Kalau Tidak Memiliki Bisa Sewa

Ketika kita sering dan memang memerlukan drone untuk pekerjaan tentu saja pilihan pertama adalah kita membeli drone tersebut. Tipe drone seperti apa disesuaikan dengan kebutuhan, misalnya apakah untuk kamera kecil seperti GoPro+ atau kamera lebih canggih yang memiliki bobot berat yang lebih. Namun jika kita hanya sesekali saja atau sangat jarang mengggunakan drone, baiknya tentu saja dengan menyewa. Kelebihan dari menyewa, selain lebih hemat kita juga bisa menggunakan jasa operatornya. Jadi kita tinggal order saja, gambar seperti apa yang diinginkan.

Ya, jika dulu ketika kita ingin gambar dari ketinggian mesti menggunakan balon udara atau bahkan helly copter, kini kita bisa terbang mencari gambar bersama drone, menggunakan hanya remote control dan smartphone.

Tim Kreatif Televisi Itu Keren!

Tim Kreatif Televisi Itu Keren!
Diki Umbara

Ruang Tim Kreatif sebuah stasiun televisi mendadak gaduh. Kepala departemen kreatif baru saja mengumumkan dua kabar sekaligus. Pertama, salah satu program acara televisi yang mereka buat mendapatkan rating dan share tinggi yang sebelumnya belum pernah dicapai oleh acara tersebut. Tepuk tangan crew yang tergabung di tim kreatifpun riuh. Lalu mendadak hening ketika pengumuman ke dua, yakni satu acara yang sudah lama bertahan mendadak diberhentikan, tidak akan diproduksi kembali.

tvHingga kini rating dan share yang dikeluarkan oleh lembaga atau perusahaan satu-satunya penyelia jasa pengukur pemirsa televisi AGB Nielsen, menjadi barometer untuk televisi dan para pemakai jasa tersebut seperti agency dan rumah produksi. Rating dan share inilah yang membuat para pembuat acara televisi tersenyum atau cemberut kecut. Salahkah lembaga rating tersebut?  Kali ini pembahasan lebih ke bagaimana sebuah acara televisi dibuat sehingga pada akhirnya akan berperan baik langsung atau tidak, pada capaian rating dan share tersebut.

Bagaimana Tim Kreatif Bekerja?

Tidak semua stasiun televisi memiliki departemen kreatif, hanya stasiun televisi besar saja biasanya memiliki departemen ini. Lainnya, tim kreatif tergabung di bawah departemen produksi, atau bahkan di bawah langsung eksekutif produser. Bahkan bisa jadi tak dapat dikatakan sebagai tim kreatif sebab banyak acara yang hanya memiliki satu orang saja kreatif. Namun idealnya tim kreatif itu memang mesti ada. Kenapa demikian? karena tim kreatif akan konsentrasi khusus pada konten-konten acara yang diproduksi oleh televisi tersebut. Pun demikian di production house tentunya. Bahkan di luar sana ada creative house, yakni semacam rumah produksi yang konsen pada hanya pembuatan konsep-konsep program televisi.

Sebagaimana namanya, tim kreatif tidak bekerja sendirian, ada beberapa orang yang tergabung di departemen ini untuk menjadi si pembuat resep agar hidangan atau acara kelak menjadi santapan yang lezat ditonton pemirsa. Resep yang baik tentunya tidak akan terlalu sulit ketika kelak diimplementasikan menjadi program yang baik pula. Karenanya, ia tidak boleh keliru. Uji resep acara televisi biasanya akan berbentuk dummy atau pilot project. Lantas dummy tersebut dievaluasi oleh tim programming, dipresentasikan produser, lalu dibahas bersama agar kelak ketika ditayangkan akan menjadi tontonan yang manarik. Ditonton banyak orang, mendapat rating dan share yang bagus, memancing para pengiklan, mendapatkan pundi-pundi uang.

Ide atau gagasan dasar acara bisa dari mana saja, bisa dari tim programming, dari tim produksi, atau tentu saja dari tim kreatif itu sendiri. Lantas tim kreatiflah yang mengolah itu semua. Hasil akhir dari tim kreatif adalah script atau naskah serta rundown acara. Ya, sehelai rundown dan beberapa halaman naskah itulah yang mesti dibuat oleh tim kreatif. Inilah lembaran-lembaran ajaib yang berikutnya akan menjadi panduan tim produksi untuk mengeksekusinya menjadi sebuah tayangan.

Naskah Semi-Script dan Fully Scripted

Format penulisan naskah kadang berbeda antara program jenis satu dengan lainnya. Bentuk atau format penulisan itu dimaksudkan untuk memudahkan departemen atau crew lain untuk membaca dan mengaplikasikan naskah tersebut. Dalam beberapa hal, ada kalanya naskah kemudian dibuatkan breakdown oleh masing-masing departemen. Naskah semi-script biasanya dibuat untuk format acara reality show sedangkan fully script untuk naskah sinetron atau FTV.

Split Page

Dibuat empat kolom memanjang yang terdiri atas nomor, video, audio, remarks. Pada kolom video, kreatif akan menuliskan gambar apa saja yang diperlukan sesuai dengan gagasannya. Pada kolom audio diisi narasi atau audio dari narasumber/talent. Sedangkan pada kolom remarks akan ditulis keterangan atau catatan khusus jika penulis menginginkan sesuatu yang intinya sebagai catatan juga pada si pembaca naskah tersebut nantinya. Format split page ini biasanya untuk program dokumenter, feature, atau infotainment.

Naskah Fiksi

Format penulisannya seperti pada film, FTV, atau sinetron. Ada scene heading terdiri atas lokasi tempat yang ditandai dengan EXT untuk eksterior dan INT untuk interior. Ada angka yang ditaruh sebelum keterangan tempat. Angka yang dimaksud sebagai urutan scene atau pegadegan. Pada scene heading baris paling kanan ada keterangan waktu yang ditulis DAY untuk suasana siang dan NIGHT untuk menunjukan suasana malam hari. DI bawah scene heading adalah keterangan adegan. Adegan tidak mesti ditulis terlalu mendetail, karena pada dasarnya naskah akan dibuat breakdown script oleh pengarah acara atau sutradara. Persis di bawah keterangan pengadegan ada nama tokoh serta dialog.

Do not direct the script! Demikian saran beberapa penulis naskah serial televisi. Tapi tentu saja naskah juga jangan sampai membingungkan si sutradara dalam mengeksekusi menjadi tayangan televisi nantinya.

Episode by Episode

Beberapa acara televisi seringkali bukan dibuat hanya untuk satu episode. Ada beberapa slasan kesinambungan, acara tersebut dibuat secara serial atau memang rutin ditayangkan: stripping, seminggu tiga kali, atau seminggu sekali/weekly. Tim kreatif harus memikirkan tidak hanya untuk satu episode. Beberapa acara dibuat untuk 13 episode, 26, episode, 52 episode, dan seterunya. Kenapa 13 episode ini sebetulnya mengacu pada acara televisi yang ditayangkan di Amerika atau Eropa. 13 episode berarti ia akan selesai dalam satu musim. Karenanya akan beda untuk 13 episode untuk musim semi dengan 13 episode untuk musim salju. Itu akan berkaitan dengan apakah 13 episode untuk cocok untuk keluarga, untuk musim liburan, dan selanjutnya. Namun demikian, ternyata ini juga dicontoh oleh negera-negara yang hanya memiliki dua musim. Jadi 13 episode di Indonesia tidak berkaitan dengan musim tadi. Walaupun demikian beberapa kontrak acara televisi dibuat seperti itu juga pada akhirnya.

Brain Storming

Sebagai sebuah tim, kreatif tidak bekerja sendirian. Dengan demikian brain storming atau bertukar pikiran akan melahirkan ide-ide yang saling melngkapi. Perihal brain storming ini Fabian Dharmawan, Head of Production RCTI pernah berseloroh, brainstorming itu tidak usah terlalu banyak melibatkan orang karena alih-alih mendapat ide yang bagus malah yang terjadi storming. Ya ada benarnya juga, ada kalanya terlalu banyak kepala dalam merumuskan ide malah tidak terlalu baik. Apalagi ketika acara baru saja akan dibuat. Fabian juga menjelaskan bahwa hampir tidak aad ide yang orisinal, oleh karenanya ketika kita membuat acara televisi baiknya memiliki banyak referensi. Referensi artinya sebagai perbandingan bukan menjiplak. Referensi bisa didapat dengan cara melihat acara televisi serupa di televisi-televisi luar yang memang memiliki program yang bagus.

Kreatif, Tak Ada Sekolahnya

Bagaimana agar kita bisa kreatif? Berpkirlah secara out of the box. Seperti halnya kejujuran, kreatif itu tidak ada sekolahnya. Ini seperti gurauan, tapi demikian adanya. Untuk berpikir kreatif acapkali kita harus memandang sesuatu dari yang orang lain tak melihat demikian. Sesekali ubahlah sudut pandang kita ketika melihat sesuatu. Kalau terbiasa menulis di tempat yang hening, cobalah untuk menulis di keramaian. Suasana yang beda kadang akan mendapatkan hasil yang bisa jadi di luar dugaan. Sesekali menulislah dengan membayangkan Anda sebagai salah satu penonton acara televisi. Minta kritik dari orang yang tidak terlibat dengan acara yang kita buat juga menarik. Bagaimana sebetulnya acara televisi yang baik? Budayawan Goenawan Muhammad pernah bilang, acara televisi itu menghibur dan tidak membodohi pemirsanya saja sudah cukup. Lalu bagaimana agar acara televisi bisa mendapat rating dan share yang bagus? Jika ada formula pasti tentang itu, pasti akan menjadi rebutan para creator acara televisi tentunya. Yang jelas jadi Tim Kreatif Televisi itu, keren!

Tata Cahaya Televisi, Bukan Asal Terang

  Tata Cahaya Televisi, Bukan Asal Terang

Diki Umbara

Set panggung bagus serta tata cahaya yang sempurna menjadi padupadan beberapa program televisi sehingga acara tersebut menjadi terlihat lebih grande. Sebut saja acara ajang pencarian bakat Indonesian Idols, X Factor, The Voice, dan yang paling terakhir The Raising Star. Efek-efek dari tata cahaya menjadikan ke empat acara televisi tersebut terlihat mewah. Begitulah, bahwa tata cahaya menjadi bagian yang sangat penting dalam acara pertunjukan televisi. Bahkan untuk acara televisi yang sederhana sekalipun.

Rising-Star-1

image source: mlsp.de

Tak ada acara televisi yang tidak membutuhkan pencahayaan, ya karena pencahayaan merupakan salah satu unsur terpenting dalam karya visual. Sebab, pengambilan gambar baik itu diam maupun bergerak adalah melukis dengan cahaya.  Tidak ada cahaya maka gambar itu tidak akan pernah benar-benar ada.

Mulanya dari Konsep

Acara televisi selalu bermula dari gagasan serta konsep acara tersebut. Gagasan dan konsep kerap mesti menyesuaikan dengan format acara televisi itu sendiri. Beda format acara beda pula konsep pencahayaanya, bahkan format acara yang sama bisa jadi konsep pencahayaannya berbeda. Secara sederhana pencahyaan dibutuhkan agar secara visual bisa menarik. Setelah itu baru nilai artistik dari pencahyaan diperhitungkan.

Mengenal Jenis Pencahyaan

Benda apapun itu akan nampak karena ia memantulkan cahaya, artinya kita bisa melihat benda karena ada cahaya lantas diterima oleh mata kita dan seterusnya. Dalam acara televisi (termasuk film terntunya) mengenal dua sumber pencahyaan yakni pencahyaan yang sudah ada atau available light, misalnya cahaya matahari, cahaya dari lampu yang sudah tersedia, lampu jalanan, dan sejenisnya. Dan ada sumber cahaya yang sengaja didesain untuk keperluan pengambilan gambar, pencahayaan jenis ini disebut sebagai artificial light. Untuk shooting di luar ruangan misalnya, bisa saja kita tidak menggunakan lampu sama sekali karena sudah ada cahaya matahari. Pun di ruangan yang sudah ada lampu yang sebenarnya bukan dimaksudkan untuk keperluan shooting.

Intensitas Cahaya

Seringkali tontonan televisi mesti terang merata, karena justru dengan meratanya intensitas cahaya bisa jadi akan membuat mata penonton cepat lelah. Padahal dalam fungsi artistik cahaya bisa menimbulkan dimensi tertentu. Secara teknis, intensitas cahaya bisa diatur sehingga kebutuhan cahaya bisa disesuaikan dengan konsep yang telah dibuat sebelumnya tadi. Ada kalanya dalam panggung ada area dibutuhkan spot cahaya tertentu, ini biasanya dimaksudkan agar penonton bisa fokus pada area itu.

Untuk memudahkan dalam membagi fungsinya, maka penata cahaya akan menentukan cahaya sebagai key light, fill light, back light, dan background light. Key light merupakan pencahayaan utama, ini merupakan pencahayaan yang wajib. Jika pengambilan gambar hanya menggunakan satu lighting, maka dipastikan ia berfungsi sebagai key light. Fill light seperti sebutannya, ia berfungsi sebagai “pengisi” di mana ketika pencahyaan utama sudah ada maka biasanya fill light diperlukan untuk membuat dimensi pada subyek yang mendapat pencahaan tersebut. Sedangkan back light, pencahayaan dari arah belakang subyek difungsuikan agar subyek tidak terkesan menempel pada background yakni agar mendapat kesan tadi, subyek memiliki dimensi alias tidak flat.

Arah Cahaya

Selain intensitas atau banyaknya cahaya dibuat, hal paling penting lagi ialah arah cahaya. Dari atas, depan, belakang, atau samping. Sumber cahaya setidaknya harus logis juga pada akhirnya, pencahayaan yang frontal biasanya untuk efek tertentu misalnya dalam pertunjukan musik atau video klip. Secara “normal” arah sumber cahaya biasanya dari atas atau top light. Dengan pencahayaan dari atas tidak akan mengakibatkan talent yang ada di panggung silau karena jatuhnya cahaya.

Warna Cahaya

Secara sederhana setidaknya ada dua jenis warna cahaya yang lazim diperuntukkan dalam acara televisi yakni day light dan tungsten. Day light cenderung normal karena warna cahaya yang dihasilkan netral sehingga ia tidah “mengubah” warna kulit manusia, sedangkan tungsten cenderung kekuning-kuningan. Untuk menimbulkan efek warna cahaya biasanya diperlukan light filter. Ada beragam filter cahaya seperti biru, merah, oranye, kuning, dan lain sebagainya. Efek-efek warna cahaya ini diperlukan untuk menambah nilai artistik. Pertunjukan musik kerap kali menggunakan berbagai efek sehingga warna yang dihasilkan sesuai dengan yang diinginkan.

Cahaya untuk Shooting Multikamera

Sebenarnya hamper sama saja kebutuhan cahaya untuk pengambilan gambar dengan menggunakan single kamera atau multikamera dengan menggunakan sistim. Tata cahaya yang baik akan menghasilkan gambar yang baik dari segi pencahayaan. Secara teknis, untuk keperluan shooting dengan menggunakan system multikamera, akan dibantu dengan CCU atau Camera Control Unit. Masing-masing kamera dikontrol pencahayaanya oleh masing-masing CCU yang terintegrasi.

Pada pertandingan sepak bola misalnya, seorang CCU-man yang bertugas mengoperasikan CCU, ia akan mengadjust masing-masing kamera. Karena bisa jadi pencahaan di kamera satu akan berbeda dengan pencahayaan di kamera dua dan seterusnya. Ketika kamera satu mendapat mengambil gambar subyek dengan pencahayaan rendah, CCU-man akan menambahkan iris sehingga antar kamera akan mendapati brightness yang sama. Gambar dengan close shot atau shot padat bisa jadi akan berbeda dengan gambar dengan yang wide, karena misalnya subyek yang close shot kebetuan ada di area yang pencahayaanya kurang.

Bekerja dengan Breakdown Sheet

Untuk acara-acara televisi yang memiliki treatment yang berbeda-beda setiap segemennya maka diperlukan breakdown sheet. Ini serupa lembaran yang kelak dijadikan panduan oleh penata cahaya. Breakdown sheet dibuat berdasarkan rundown yang telah dibuat oleh produser atau tim kreatif. Misalnya pada opening segmen, tim kreatif ingin pencahayaan dimulai dengan semburat cahaya yang jatuh pada panggung, maka chief lighting akan membuat catatan pada segmen satu tersebut. Atau misalnya, ketika host berjalan produser atau kreatif menginginkan pencahayaan yang mengikuti host ketika berjalan menuju stage maka dalam breakdown sheet dibuat catatan kebutuhan follow spot.

Segmen demi segemen acara dibuat catatan tentang konsep pencahayaan dan kebutuhan cahaya yang berarti kebutuhan lampu yang diinginkan. Breakdown sheet lighting dibuat semudah mungkin sehingga ia bisa dipahami oleh semua crew lighting. Jadi, ketika chief lighting menjelaskan pada anak buahnya akan lebih mudah.

Tidak Asal Terang

Ada istilah astrada yang semestinya merupakan akronim dari asisten sutradara diplesetkan menjadi asal gambar terang ada. Semacam olok-olok pada tata cahaya yang hanya mengandalkan asal terang saja. Apakah sepenuhnya salah? Bisa jadi iya. Gambar dengan pencahayaan yang asal terang tentu tidak akan menghasilkan visual yang artisktik. Bisa jadi mata penonton akan cepat lelah ketika mesti melihat gambar yang konsisten dengan pencahyaan yang pekat. Dengan demikian, asal terang itu mesti segera ditinggalkan. Penata cahaya apa salahnya untuk memanjakan mata para penonton acara televisi tersebut.

Karena Cahaya, Menjadi Indah

Begitulah tata cahaya, ia akan menjadikan program acara televisi menjadi artistik, indah dan mengagumkan. Ia tidak sekadar enak dipandang mata, lebih dari itu ada nilai seni di dalamnya. Seorang penata cahaya adalah seorang pelukis yang memanfaatkan medium cahaya sebagai bahan baku utamanya.

Produser Televisi, Bagaimana Ia Menjalankan Program Acara?

 Produser Televisi, Bagaimana Ia Menjalankan Program Acara?

Diki Umbara

Di ruang programming, preview sebuah acara televisi berlangsung. Selesai sampai pada credit title, semua yang hadir di ruangan bertepuk tangan. Kini produser mempersilakan tim programing untuk mengulas apa saja kelebihan dan kekurangan dari acara tersebut.

Kritik tajampun baru saja dimulai. Begitulah sampai akhirnya program benar-benar nantinya ditayangkan di sebuah stasiun televisi. Ada proses yang panjang dilalui sehingga programing memutuskan tentang plotting tayang acara, berapa episode yang mesti dibuat berikutnya, dan seterusnya.

Bermula Dari Ide

Beda stasiun televisi nyatanya beda juga bagaimana sebuah acara dibuat, walaupun secara umum selalu bermula dari tahapan ide, pra produksi, produksi, dan paska produksi. Ide atau gagasan acara bisa dari mana saja, bisa dari programing atau dari departemen kreatif. Lantas ide yang semula masih sebagai jabang bayi itu dikembangkan menjadi konsep yang pada akhirnya nanti bisa dieksekusi oleh tim produksi.  Di sinilah produser sudah mulai kerja. Ia mendiskusikan perihal konten acara dengan tim kreatif. Tim kreatif tentu ia akan membuat sesuatu yang “liar” tak terbatas, namun mereka mesti “realitis” agar acara bisa dibuat. Karenanya diskusi dengan produser akan intens dilakukan karena produser yang lebih tahu dan akan menyesuaikan dengan budgeting, equipment, serta sumber daya manusia atau crew yang dimiliki stasiun televisi tersebut.

Perencanaan Produksi

Ketika ide sudah dituangkan ke dalam bentuk rundown acara di mana minute by minute sudah tertulis detail maka produser sudah bisa melakukan langkah yang sangat krusial, yakni perencanaan produksi. Agak berbeda dengan production house, crew untuk produksi sudah tersedia. Beberapa televisi memasukan crew di bawah departemen supporting. Jadi produser tidak membuat kru produksi, tapi menyusun kru yang oaring-orangnya diminta dari atau diberikan oleh departemen support tadi.

Seberapa banyak kru yang dibutuhkan akan disesuaikan dengan besar kecilnya suatu produksi. Untuk acara berjenis lite program bisa jadi hanya butuh 5 orang saja, tentu beda misalnya denga program besar seperti kuis atau acara music yang krunya bisa mencapai puluhan orang. Beberapa program bahkan ada yang memerlukan kru hingga ratusan.

Di hadapan masing-masing kepala departeman, produser memaparkan gagasan tentang acara tersebut. Dengan demikian masing-masing departemen akan paham baik secara konten maupun kebutuhan teknis yang diperlukan. Konsep yang tertuang dalam desain produksi yang telah ia susun sebelumnya dipaparkan secara detail. Dalam meeting pra-produksi inilah secara cermat produser mengungkapkan dengan cermat, sehingga kelak ketika produksi berjalan tidak ada hal yang tidak dipahami oleh kru yang akan terlibat. Selepas presentasi, masing-masing kepala departemen akan mengajukan pertanyaan atau usulan. Pertemuan berikutnya, produser menagendakan technical meeting.

Departemen Kreatif, Sang Juru Masak Acara

Jauh sebelum presentasi produser di hadapan masing-masing perwakilan departemen tadi, produser akan terlibat diskusi dengan tim kreatif. Ide atau gagasan yang sebetulnya bisa datang dari siapa saja bahkan bisa jadi usulan dari departemen programming, diolah sedemikian rupa oleh tim kreatif. Tim ini ibarat seorang professional chef, ia yang menciptakan menu dalam hal ini konsep acara televisi yang kelak akan dijabarkan oleh produser.

Acara televisi, utamanya berupa serial, ia tidak boleh hanya memikirkan satu episode saja namun mesti memikirkan serial episode berikutnya. Seorang konseptor acara televisi pernah berujar: Write the guidelines for the show detailing the content for episodes throughout the season. Artinya tim kreatif di mana di dalamnya ada penulis ia mesti memikirkan konten secara detail untuk tiap musim. Di pelbagai televisi biasanya akan dibuat per 13 episode dan kelipatannya. Hal ini sebetulnya mengacu pada televisi di Amerika dan Eropa yang mengenal 4 musim, namun Indonesia yang hanya mengenal 2 musim mengikuti jejak kebiasaan televisi di luar sana. Jadi, tim kreatif akan menyuguhkan menu tema dengan konsep lengkapnya sebanyak 13 episode dan seterusnya.

Menyusun Budget Produksi

Membuat budget produksi seringkali bukan merupakan pekerjaan produser televisi, ia “hanya” menyesuaikan berdasar budget yang sudah dianggarkan oleh bagian keuangan. Bagimana departemen finansial ini bisa mengaggarkan sebuah produksi televisi? Mereka biasanya sudah memiliki semacam platform anggaran produksi berdasar tipe acara. Walapun sebelum budgeting itu benar-benar direlease dengan persetujuan direktur keuangan, biasanya ada hitungan-hitungan di mana hal demikian sebelumnya dipresentasikan oleh eksekutif produser.

Namun tak sampai di situ, produser mesti piawai bagaimana ia mengelola budget tersebut. Produser mesti cermat bagaimana misalnya menyusun anggaran yang seperti halnya konsep per 13 episode tadi, sehingga biaya produksi setiap episodenya menjadi presisi seperti yang telah dianggarkan sebelumnya. Produser bisa saja melakukan subsidi silang untuk beberapa episode, artinya masing-masing episode tidak sama persis biayanya, namun ketika semuanya dikalkulasi per 13 episode dan kelipatannya sama dengan yang telah dianggarkan. Kenapa hal ini bisa terjadi? Karena bisa saja biaya masing-masing episode pada kenyataanya memang membutuhkan biaya yang berbeda.

Budget produksi yang dikeluarkan sebetulnya bisa jadi tak persis angkanya, namun semua itu mesti dihitung, misal untuk penggunaan equipment atau perlatan shooting tak mengeluarkan uang karena alat sudah disediakan oleh si stasiun tv, untuk kpentingan budgeting semuanya mesti dihitung, pun dengan biaya untuk sumber daya atau crew, studio, dan semua unsur lainnya.

Menyusun Kru

Setidaknya ada dua cara bagaimana produser menggunakan sumber daya manusia atau kru yang akan dilibatkan dalam produksi acara televisi. Pertama dengan membangun kru, yakni benar-benar menentukan kru siapa saja yang akan dilibatkan. Kedua dengan menyusun kru, lantas meminta sumber daya tersebut pada departmen support. Yang paling banyak dilakukan adalah dengan cara kedua, karena hamper semua stasiun televisi mmeiliki departemen support yang akan mensuply kru yang dibutuhkan dalam kegiatan produksi. Produser menentukan misalnya berapa penata kamera yang diperlukan, ini disesuaikan dengan jenis produksinya apakah cukup dengan satu kamera, dua kamera, atau mesti kamera yang terintegrasi dengan sistim multikamera. Pun untuk keperluan kru lainnya, seperti audio dan penataan cahaya.

Besar kecilnya acara juga akan memerlukan apakah produser memerlukan assisten produser atau cukup dengan production assistant atau PA saja. Beberapa acara bisa memerlukan lebih dari satu asisten produser atau bisa saja satu asisten produser dan lebih dari satu production assistant. Selain masing-masing kru sudah mesti paham dengan job desc masing-masing, ada kalanya produser harus menentukan tugas masing-masing kru yang sudah dibentuk tadi.

Pra Produksi

Inilah bagian paling esensial dalam pembuatan acara televisi. Baik buruknya sebuah acara televisi sebetulnya bisa dilihat dari bagaimanana persiapan dalam pra produksi, karena sebenarnya lebih dari 50 persen dari proses pembuatan acara televisi ada pada tahapan pra produksi ini.  Naskah serta rundown yang dibuat tim kreatif segera disupervisi oleh produser, sehingga jika ada kekurangan ia bisa meminta tim kreatif untuk mengubahnya atau bisa saja produser mengubah naskah tersebut. Karena pada dasarnya produser mesti bisa menulis naskah juga.

Kebutuhan set yang menjadi salah satu bagian penting dalam tayangan televisi tentu tidak boleh luput dari pantauan produser. Set designer akan mendesain sedemikian rupa sesuai arahan produser yang tertuang dalam konsep acara televisi tersebut. Setelah desain set selesai tentu saja gambar segera dikirim ke bagian art dan set builder. Tim inilah yang akan mengimplementasikan gambar desain set tadi menjadi set yang sesungguhnya. Sedangkan property, walaupun ia biasanya satu departemen dengan art, ia mesti cermat setiap episodenya karena bisa saja tiap episode membutuhkan property yang berbeda-beda. Kebutuhan properti ini dibuat breakdown dari naskah atau skrip masing-masing episode tadi.

Pun demikian dengan bagian wardrobe, ia harus membuat breakdown kebutuhan wardrobe dari rundown yang telah dibuat sebelumnya tadi. Intinya semua departemen harus membuat breakdown dari skrip atau rundown untuk memudahkan pekerjaanya.

 Produksi

Jika semua persiapan sudah dijalankandengan baik saat pra produksi, sebetulnya saat produksi bukan hal yang sulit. Set baik studio atau non studio harus sudah siap untuk digunakan shooting. Rehearsal atau latihan sebaiknya dilakukan di lokasi shooting, hal ini untuk memudahkan koreksi jika ada perubahan atau aapun kebutuhan produksi tersebut. Saat rehearsal inilah semua departemen bisa memanfaatkan waktunya. Tata cahaya dan penata audio, harus dengan sigap mengimplementasikan “keinginan” dari rundown. Masing-masing segmen bisa saja kebutuhan tata suara dan tata cahanya berbeda, karenanya lag-lagi setiap departemen harus cermat mebuat breakdown.

Ada dua jenis tipe tayang, yakni siaran langsung atau tunda. Dalam siaran langsung, tidak boleh sedikitpun ada kesalahan. Namun demikian dalam siaran tunda atau taping, sebisa mungkin presisi susuai dengan rundown yang telah dibuat. Hal ini untuk meudahkan saat penyuntingan gambar di tahapan berikutnya, paska produksi.

Paska Produski

Paska produksi merupakan gerbang terakhir dari pembuatan acara televisi. Materi hasil shooting diberikan pada departemen paska produksi. Sebelumnya, produser memberikan arahan pada chief editor tentang konsep acara yang dibuat. Menyunting gambar bukan sekadar memotong dan menyambung gambar. Lebih dari itu editor baiknya punya rasa seni juga, sehingga hasil yang akan ditayangkan bukan sambungan atau potongan mekanis saja. Editor merupakan story teller, ia harus mampu bertutur dengan bahasa gambar.

Tak hanya gambar atau visual, editor juga harus memperhatikan unsur audio. Mixing audio kerap dibutuhkan agar suara yang dihasilkan balance. Sebelum akhirnya materi tersebut diserahkan pada departemen yang mengurusi penayangan, produser harus mensupervisi sehingga ia yakin betul kalau materi yang akan ditayangkan memang sudah sesuai dengan yang diharapkan.

Kepemimpinan

Pada akhirnya, seorang produser memang wajib memiliki kemampuan dalam memimpin. Tayangan televisi merupakan karya kolaborasi. Kerjasama tim bisa jadi segalanya, dan kerjasama yang baik akan bisa berlangsung ketika produser mampu memimpin, mulai dari pra produksi hingga paska produksi. Kemampuan manajerial produser disertai kemampuan komunikasi adalah kombinasi wajib yang mesti dimiliki oleh seorang produser.