You are currently browsing the category archive for the ‘Broadcasting’ category.

Program Director Berita Televisi, Bagaimana Ia Bekerja?
Oleh Diki Umbara

Ada pelbagai format acara televisi saat ini tayang, baik yang disiarkan secara langsung maupun tidak. Dan di balik itu semua ada puluhan bahkan ratusan orang yang bekerja agar tayangan itu bisa terus berlangsung. Banyak tidaknya kru tentu saja tergantung dari seberapa besar program acara tersebut serta pada stasiun televisi mana acara televisi itu mengudara.

Di antara banyak kru di belakang layar itu salah satunya adalah program director. Beberapa stasiun televisi ada yang menyebutnya sebagai program director atau PD sedang di beberapa televisi lainnya menggunakan istilah pengarah acara. Pada dasarnya antara Program Director dengan Pengarah Acara tak ada bedanya, ia adalah orang yang bertanggung jawab serta memimpin acara sebuah program televisi baik siaran langsung/live atau siaran tunda/taping.

“10 Menit lagi S!” begitu pemberitahuan dari Master Control pada Sub Control bahwa acara akan dimulai 10 menit lagi. S yang dimaksud adalah sebutan untuk studio. Beberapa stasiun televisi memiliki SOP atau standar operasional termasuk di dalamnya tentang istilah dan singkatan yang mesti dimengeti oleh seluruh kru. Ketika waktu menjelang on air maka master control akan memastikan kembali apakah di sub control sudah benar-benar stand by. Count down terus bergulir hingga menjelang 10 detik sebelum siaran. Komunikasi dari master control pada sub control adalah dengan pengarah acara atau program director. Di sub control, program director sudah harus memastikan seluruh crew dengan tugas masing-masing sudah siap. Program director harus memastikan bahwa di studio semua sudah pada posisi masing-masing: setting, lighting, kamera, serta pengisi acara. Ketika semua sudah standby maka program director akan menginformasikan pada MCR bahwa acara sudah bisa dimulai.

Bekerja dengan Rundown

Program director, ia bertanggung jawab akan berlangsungnya acara, ia juga yang memimpin semua kru yang bertugas saat itu. Namun demikian program director tak sekadar mengarahkan acara. Yang menjadi pegangan program director ketika acara berlangsung ialah susunan acara atau rundown. Di dalam rundown sudah ada informasi detail tentang susunan acara serta waktu atau durasinya. Pada acara berita televisi rundown dibuat oleh produser yang telah ia usulkan pada saat rapat redaksi. Rundownlah yang menjadi acuan program director dari mulai acara pertama berlangsung hingga closing program. Namun pada berita televisi kerap rundown bisa berubah kapanpun, hal ini bisa karena berbagai alasan. Perubahan rundown akan diberitahukan segera oleh produser, misalnya karena ada berita yang baru saja masuk. Program director juga harus dengan cermat menghitung durasi, apakah durasi berlebih atau malah kurang. Setiap perubahan terjadi maka program director mesti memberitahukan pada kru yang ada di sub control, terutama pada operator play list dan prompter, karena rundown akan berkaitan juga pada kedua petugas tersebut.

800px-ATV_news_studio_control_room

Bekerja dengan Produser

Program director sebetulnya tak bertanggung jawab atas konten acara karena ia “hanya” menjalankan agar acara berlangsung seperti yang sudah tertulis pada rundown. Dan yang bertanggung jawab pada konten adalah produser. Bahkan ketika misalnya paket berita berlebih atau over durasi, program director hanya memberi tahu bahwa ada paket berita yang mesti didrop karena durasi berlebih. Tentang berita mana yang mesti didrop merupakan kewenangan produser. Walaupun bisa saja program director mengusulkan paket berita mana yang bisa diturunkan tersebut.
Produser merupakan partner program director, sebelum acara berita dimulai produser berdiskusi dulu dengan program director walapun kadang merupakan diskusi kecil saja. Koordinasi produser dengan program director ini penting agar saat acara berlangsung program director sudah tahu sampai hal yang sangat detail. Apalagi misalnya pada program berita tersebut ada siaran langsung dari lapangan. Program director harus memastikan koneksi dengan reporter di lapangan. Program director sudah harus terhubung dengan petugas electronic news gathering atau ENG.

Bukan Sekadar Pengarah

Program director pada prakteknya tak hanya bertugas mengarahkan acara, ia juga mengarahkan kru di dalam control room dan kru di studio. Pengisi acara, baik itu news caster atau news reader diarahkan juga oleh program director. Misalnya ke kamera mana ia mesti melihat atau apakah speed membaca yang terlalu cepat atau kebalikannya. Pada beberapa stasiun televisi, program director berita televisi dibantu oleh floor director atau pengarah lapangan namun sebagian televisi tidak menggunakan pengarah lapangan. Jadi segela pesan program director disampaikan langsung pada pengisi acara atau bisa juga melalui cameraman. Intinya pesan dari program director harus sampai pada pengisi acara tersebut.

Ada beberapa petugas di sub control yakni audioman, switcherman, CCU-man, play list/CG-man, prompterman, dan tentu saja produser. Walaupun pada dasarnya setiap petugas itu sudah tahu apa yang mesti dilakukan saat sebelum dan saat siaran, namun program director mesti mengarahkan agar program acara bisa berjalan dengan lancar.

Walaupun tidak wajib, baiknya program director menguasai juga bagaimana mengoperasikan berbagai alat yang ada di studio dan sub-control. Beberapa stasiun televisi utamanya stasiun televisi kecil bahkan program director bekerja multifungsi, ia mengoperasikan sendiri video switcher dan video play list. Beberapa alat terkini teknologi broadcasting televisi bahkan memungkinkan seorang program director menjadi pengarah acara, switcherman, audioman, play-list video, sendirian.

image009

Don’t Panic!

Dua kata ini penting bagi seorang program director, jangan panik. Apapun yang terjadi selama acara berlangsung, program director dilarang panik. Kesalahan bisa terjadi, baik karena human error atau karena perlatan bermasalah. Karenanya program director harus tahu persis bagaimana skema sebuah acara berlangsung dari mulai rundown yang diterima hingga berita tayang di layar televisi. Pada acara live sebetulnya tak boleh ada kesalahan sama sekali karena acara tidak bisa diulang. Salah satu caranya yakni persiapan yang baik, patuhi standard operation procedure atau SOP yang sudah dibuat. Kru lain bisa saja panic namun program director yang mesti membuat semuanya tenang. Komputer bisa tiba-tiba hang, maka program director harus dengan cekatan memberi intruksi pada newsreader untuk mengeliminir kesalahan tadi. Bisa juga terjadi kesalahan yang sangat fatal, namun lagi-lagi seorang program director tak usah panic, ketika itu benar-benar terjadi maka program director segera mengalihkan acara atau meminta take over pada petugas master control. Lantas bagian master control biasanya akan mengisi jeda karena masalah tadi dengan iklan atau promo program.

photo(1)

Segalanya Tampak di Layar

Berita televisi berbeda dengan program acara televisi lainnya, kecepatan, ketepatan, dan akurasi berita menjadi segalanya. Dan yang tak kalah penting adalah berita televisi disiarkan secara langsung. Sekecil apapun kesalahan bisa tampak di layar televisi yang walapun sebetulnya bisa saja kesalahan karena di belakang layar. Ada yang sedikit unik untuk acara berita televisi di Indonesia dibandingkan dengan CNN atau BBC misalnya. Kebanyakan televisi di Indonesia “hanya” menggunakan newsreader atau pembaca berita bukan anchor atau newscaster/pembawa acara. Newsreader, biasanya ia hanya membaca apa yang ada di teleprompter. Artinya asal ada latihan membaca dengan baik, siapa saja bisa memnjadi seorang newsreader. Sedangkan newscaster biasanya berasal dari reporter. Selain mampu membaca dengan baik, seorang newscaster biasanya menguasai konten yang ia bawakan. Banyak televisi kita yang mementingkan tampilan si newsreader yang mesti cantik atau ganteng namun ia tak benar-benar menguasai perihal konten berita. Ya benar bahwa tampilan itu penting namun lebih dari itu penguasaan tentang materi berita yang suguhkan pada pemirasa tentu saja jauh lebih penting.

Gambar dari: svconline.com, wikimedia, dan koleksi pribadi.

buku cameraman

Cover Depan

cover back

Cover Belakang

Teknologi broadcasting televisi nampaknya akan terus berkembang,
era digital telah merubah segalanya. Dengan kemajuan teknologi
kini memungkinkan hampir semua kamera memiliki kontrol otomatis,
maka siapapun yang menggunakan kamera video akan sangat mudah
untuk mengoperasikannya. Jadi mengapa seorang calon cameraman
harus memiliki pengetahuan tehnik kamera ?

Secara garis besar di dalam buku ini dibahas dalam dua bahasan
pokok masalah, yakni teknis dan philosofis. Pengetahuan teknis
merupakan bagian dari pengetahuan operasional yang harus
dimiliki oleh seorang calon cameraman. Pengetahuan operasional
akan berkaitan dengan bagaimana menggunakan kamera
dengan segala fasilitas yang tersedia pada kamera tersebut.

How To Become A Cameraman telah dijadikan text book di beberapa kampus yang memiliki jurusan penyiaran televisi atau broadcasting. Buku ini merupakan panduan terlengkap bagi para calon camera person baik di industri penyiaran televisi maupun production house di Indonesia.

Penerbit : Motion Publishing
ISBN : 978-602-95630-0-3
Halaman : 235
Harga Buku Rp.50.000

Pemesanan Langsung :
081318178860
info@katabergerak.com


Menakar Rating, Mengukur Pemirsa TV

Oleh Diki Umbara

Bagi sebagian pekerja televisi jantungnya akan berdebar-debar ketika laporan rating televisi mereka baru terima yang biasanya diberikan oleh tim programming televisi kepada eksekutif produser, produser, serta asistennya.  Betapa tidak, angka-angka yang sebetulnya takterlalu  rumit karena ia tidak  lebih dari dua digit itu menjadi sangat penting. Bahkan angka nol koma akan menjadi pembahasan, baik menyenangkan atau kebalikannya. Begitulah rating dan share tak jarang menjadi momok menakutkan buat para produser dan tim kreatif.

 tv

Karenanya berbagai cara dilakukan oleh televisi agar acarannya mendapat rating yang tinggi? Dengan rating bagus berarti acara akan dengan mudah mendapat iklan dari para agency, banyak iklan berarti pundi-pundi uang siap menanti. Begitulah rating dan share televisi sampai saat ini masih menjadi satu-satunya tolak ukur untuk melihat seberapa banyak kecenderungan penonton untuk melihat acara terntentu.

Tak seperti halnya media cetak atau internet, televisi memiliki potensial viewer yang lebih besar. Hampir tak ada biaya yang dikeluarkan seseorang untuk menonton televisi. Maka masyarakat penonton televisi Indonesia cenderung memilih mengonsumsi media televisi, dibanding media lainnya. Penduduk Indonesia yang dua ratus juta lebih dengan jumlah penduduk di daerah yang terjangkau siaran televisi mencapai 175.296. Angka ini tentu menjadi lahan bagus bagi produsen untuk mempromosikan produknya melaui televisi.

Menakar Rating, Dulu Hingga Sekarang

Di Amerika, aplikasi audimeter mulai digunakan di televisi pada tahun 1950-an. Sebuah perangkat disambungkan ke setiap televisi di beberapa rumah dan keluarga yang menempati rumah itu diminta untuk membuka audimeter di akhir pekan dan mengirimkan hasilnya ke Nielsen untuk dianalisis. Keluarga yang menjadi responden diberi insentif 50 sen setiap minggunya. Data dari audimeter TV memberikan dua hasil: Nielsen Television Index (NTI) dan Nielsen Station Index (NSI). Kelemahan dari metode ini adalah kurangnya data demografis. Sebab, audimeter hanya bisa bisa menjelaskan stasiun apa yang didengarkan, bukan siapa yang mendengarkan.

Kelemahan ini lalu diisi oleh American Research Bureau atau Arbitron yang menggunakan teknik pengumpulan data demografis berupa diary. Responden diminta untuk merekam aktivitas menonton TV dan mengirimkannya kembali ke Arbitron jika diary selesai diisi. Menghadapi ini, Nielsen terus menciptakan inovasi. Mulai dari menghentikan layanan survey rating radio karena terlalu boros dana, hingga menciptakan storage instantaneous audimeter (SIA) yang mengirimkan informasi melalui jaringan telepon langsung ke komputer Nielsen. Teknologi SIA memungkinkan pihak Nielsen mempublikasi rating sehari setelah program ditayangkan.

Di Indonesia, penyelenggaraan survai rating televisi di tanah air dirintis oleh Survai Research Indonesia (SRI) sejak 1990. Pada tahun 1994, AC Nielsen perusahaan riset pemasaran terkemuka asal Amerika Serikat—mengakuisisi SRI, sehingga namanya berubah menjadi AC Nielsen-SRI. Selanjutnya beberapa kali perusahaan ini berganti nama. Awalnya, AC Nielsen Media International, kemudian Nielsen Media Research

Secara internasional, NMR adalah bagian dari grup perusahaan VNU Media Measurement & Information. Terakhir pada tahun 2004, membentuk join venture dengan AGB, penyelenggara survei kepemirsaan terbesar nomor dua di dunia, sehingga namanya berubah menjadi AGB Nielsen Media Research. Melalui bendera AGB Nielsen Media Research, wilayah surveinya mencakup di 30 negara

Di Amerika, Nielsen Media Research menggambarkan dua tipe berbeda dalam mengambil sampel saat ingin mengukur aktivitas menonton TV di Amerika Serikat.Pertama, NTI yang didesain untuk merepresentasikan populasi di sebuah daerah. Hasil datanya bertaraf nasional. Sebagai sampel, Nielsen mula-mula memilih acak lebih dari 6000 area di suatu negara, biasanya berpusat pada area urban, lalu mensensus seluruh rumah tangga yang ada di area itu. Setelah itu, 5000 rumah tangga dari seluruh populasi diambil lagi secara acak. Setiap keluarga dihubungi, dan jika mereka bersedia untuk menjadi responden, Nielsen akan memasang People meter.

People Meter 1People Meter yang dipasang di responden

People Meter3

Skema pengiriman data dari responden ke pusat perhitungan rating

Prosedur yang hampir sama di Indonesia juga dilakukan oleh AGB Nielsen yang saat ini wilayah suirveinya mencakup 10 kota besar, yaitu Jakarta, Surabaya, Medan, Semarang, Bandung, Makassar, Yogyakarta, Palembang, Denpasar, dan Banjarmasin. Tingkat penyebaran panel (satu set perangkat pencatatan rating pada televisi rseponden) didasarkan pada survei awal atau Establishment Survey (ES) di 10 kota tersebut untuk menetapkan dan mengidentifikasi profil demografi penonton TV. Dari ES, akan didapatkan jumlah rumah tangga (berusia 5 tahun ke atas) yang memiliki TV yang berfungsi dengan baik atau disebut populasi TV. Penyebaran sampel tidak sama di setiap kota, yaitu Jakarta 55 persen, Surabaya 20 persen, Bandung 5 persen, Yogyakarta 5 persen, Medan 4 persen, Semarang 3 persen, Palembang 3 persen, Makassar 2 persen, Denpasar 2 persen, dan Banjarmasin 1 persen. Angka ini proporsional berdasarkan populasi kepemilikan televsisi di tiap-tiap kota itu. Kepemilikan televisi di Jakarta, misalnya, 55 persen terhadap total 10 kota, maka jumlah sampelnya 55 persen.

Angka rating televisi dihitung dengan rumus sederhana:

Rating   =   Jumlah Penonton Suatu Program

                   —————————————————  X 100 %

                   Jumlah Universe

Sedangkan

Share   =       Jumlah Penonton Suatu Program

                  ———————————————————  X 100 %

                 Total Penonton TV Disaat Bersamaan

Contoh jumlah universe di Jakarta teradapat 3 televisi. Misalnya akan dihitung rating dan share masing-masing televisi tersebut pada pukul 9 sampai pukul 10 malam dimana misalnya TV A ditonton oleh 5 juta orang, TV B 4 juta orang, TV C 2 juta orang. Maka seluruh jumlah pemirsa adalah 11 juta orang. Dengan rumus tadi rating TV A adalah 25% dengan perhitungan: 5 juta dibagi 20 juta dikali 100%. Sedangkan share untuk TV A: 5 juta dibagi  dibagi 11 juta dikali 100 % yakni 45%. Demikian juga dengan TV B dan C, tinggal memasukan rumus di atas tadi.

Pengambilan Data Kepermirsaan Televisi

Pesawat televisi dan perlatan yang terhubung akan dipantau secara elektronik oleh sistim people meter. Masing-masing anggota rumah tangga diberikan sebuah tombol khusus pada handset people meter, misalnya tombol 1 untuk ayah, tombol 2 untuk ibu, tombol 3 untuk anak. Anggota rumah tangga diminta untuk menekan tombol handset pada saat menonton televisi dan menekan kembali ketika selesai menonton.

Pengambilan data dilakukan melalui dua sistim yakni offline dan online. Pada sistem online data diambil setiap malam melalui  siteim telpon yang diset secara otomatis dan dihubungkan dengan sistim pengolahan data sentral di AGB Nielsen Media Research. Sitem penarikan data harian atau daily rating di Jakara, Bandung, dan Surabaya. Sedangkan untuk data offline di kota lainnya akan didatangi petugas Liaison Officer untuk mengganti modul atau alat perekam data.

Membaca Rating

Lalu bagaimana data rating televisi bisa menjadi “kebijakan” para programmer televisi? Data rating yang dibeli dari AGB Nielsen bisa ditelaah dengan mudah oleh bagian departemen programming televisi, pun leh production house atau agency. Data berupa grafik dan angka suatu acara di televisi A bisa dikomparasi dengan acara di televisi B di waktu yang sama. Program acara juga bisa dilihat minutes by minute, sehingga bisa terbaca pada menit ke berapa acara ditonton banyak orang dan kapan mulai ada penurunan.  Jadi selain head to head dengan program lain, data rating acara televisi juga bisa dilihat secara detail bagaimana trend pemirsa menonton acara tersebut.

Inilah yang nantinya diolah sehingga pada akhirnya menjadi “kebijakan” programing, misalnya apakah acara itu akan terus dilanjutkan, dihentikan, atau “direvisi” sana-sini. Data rating yang telah diolah tadi lantas didistribusikan pada para produser dan tim kreatif. Maka seperti penjelasan di atas, angka nol koma sekian saja menjadi sangat penting untuk mereka.

Rating Televisi vs Kualitas Acara

Ini sudah lumayan lama diperdebatkan, nyatanya rating televisi tidak berbanding lurus dengan kualitas acara tv. Sebagian masyarakat menginginkan ada semacam lembaga yang justru bisa mengukur kualitas acara televisi, dengan demikian akan menjadi salah satu panduan bagi penonton untuk melihat acara televisi yang baik. Parameter serta bagaimana metode penilainya tentu saja bisa dirumuskan. Jika pada rating televisi merupakan metode kuantitatif maka untuk menilai bagus tidaknya program televisi tentu mesti menggunakan metode kualitatif.

Institut Kesenian Jakarta sebetulnya pernah melakukan semacam mengukur rating televisi dengan metode ini dan hasilnya memang jauh dengan rating yang dikeluarkan oleh AGB Nielsen. Namun demikian hal ini tidak bisa dilakukan secara berkala karena terkait dengan berbagai hal dan yang paling utama masalah pendanaan. Sebuah riset pasti memerlukan dana, dan riset nirlaba harus didukung oleh pendanaan yang banyak serta bisa secara simultan. Inilah salah satu problem besarnya.

Lantas bagaimana ke depannya? Mesti ada terobosan, bagaimana mengukur kecenderungan penonton televisi dengan tak bergantung pada salah satu lembaga rating saja. Belum lama Komisi Penyiaran Indonesia sudah melakukan seminar perihal rating, namun rasanya belum ada solusi yang mumpuni dalam waktu dekat agar persoalan kualitas acara televisi dan bagaimana cara menakar dan mengukur dengan ideal.

Berdiri Melucu di Televisi
Diki Umbara

 

Standup comedy, dua tahun belakangan sangat popular di Indonesia. Terutama setelah salah satu genre komedi ini menjadi tayangan di dua televisi nasional, diawali oleh Kompas TV dan disusul Metro TV. Kenapa standup comedy banyak diminati pentonton kita? Ya karena standup comedy memang menghibur. 

Tentu saja acara ini sudah sangat terkenal nun jauh di sana, seperti di Amerika dan Eropa misalnya. Nyatanya acara serupa bisa kita temui di pelbagai daerah di Indonesia seperti Sumatera dan Papua. Di “Denias, Senandung di Atas Awan” sebuah film garapan Arie Sihasale ada satu scene yang diperankan Minuc C Karoba dimana seseorang melucu di depan teman-temannya seperti halnya acara standup comedy. 

“Untuk tayang di televisi, pas standup akan hati-hati pemilihan bahasa dan materi. Karena untuk tv tentu ada KPI (Komisi Penyiaran Indonesia), sangat dibatasi. Sebenarnya kita dibebaskan mau bawa SARA (Suku, Agama, Ras) terserah, tapi ketika editing yang berbau sara akan dibuang. Biasanya yang ngakalin bukan comic tapi stasiun televisinya. Di MetroTV sebelum taping dibriefing dulu, ngasih materi apa saja. Mana boleh mana tidak” demikian penuturan Dwika Putra seorang comic, sebutan untuk comedian standup comedy yang sempat jadi finalis Standup Comedy Indonesia.

standup2

gambar: Kompas TV

Begitulah tayangan televisi, ia tidak seperti acara off air. Harus patuh pada rambu-rambu yang telah dituangkan ke dalam Undang-Undang dan tentu saja hal normatif lainnya walaupun tidak tidak masuk ranah UU, karena tayangan televisi teresterial telah menggunakan ranah publik, ranah udara yang “dipinjam” stasiun televisi. Karenanya yang bekerja di tim kreatif harus berpikir keras bagaimana agar acara yang sukses di tonton secara off air, akan tetap menarik ditonton di televisi secara on air.

“Standup comedy itu punya pakem tersendiri, beda dengan jenis komedi lainnya. Di televisi komedi situasi atau sketsa, komedian yang mereka lakukan atau sampaikan sudah terskript. Mereka tinggal mengembangkan tekstur dan improvisasi. Di standup comedy seorang comic berlaku sebagai penulis naskah, actor, sutradara sekaligus” terang Andi Gunawan, seorang comic yang pernah menjadi tim kreatif di Standup Comedy Show MetroTV.

standup5

gambar: Andi Gunawan, MetroTV

Namun tampaknya televisi tak banyak mengubah format standup comedy versi off air untuk kepentingan on air. Kecuali masalah konten yang “tak laik siar” dan perihal durasi, dan ini semua bisa dilakukan di paska produksi. Biasanya editor akan dapat arahan dari produser perihal materi mana yang harus dibuang. Off material akan diedit sedemikian rupa sehingga menjadi broadcast material yang bisa layak siar.

Berawal dari Sosial Media

Tidak bisa dipungkiri bahwa standup comedy di Indonesia nyatanya populer karena jejaring sosial media, twitter khususnya. Standup comedy yang dilakukan di sebuah cafe Kemang diadakan setiap minggu mendapat respon postitif dengan promosi di jejaring sosial ini. Siapa saja boleh tampil untuk memeriahkan standup comedy, lantas open mic atau “panggung terbuka standup comedy” ini merambah ke kota-kota lain di Indonesia. Tak hanya di pulau Jawa, karena open mic kerap dilakukan juga di tempat lain seperti Kalimantan dan Sumatera. Selain dari jejaring sosial media, tentu saja pada akhirnya dari mulut ke  mulut acara ini menjadi semacam hiburan yang relatif baru jika dibanding acara hiburan komedi lainnya.

Selebritas Baru

Pada akhirnya acara yang ditayangkan di televisi, ia akan melahirkan para selebritas baru dan “jika beruntung” kelak akan menjadi public figure seperi halnya yang dilahirkan panggung hiburan lainnya. Menyusul Pandji dan Raditya Dika, nama-nama seperti Ernest Prakasa, Sam Darma Putra, Miund, Muhadkly Acho menjadi selebritas baru. Dengan ketenaran yang telah mereka miliki tentu saja menjadi modal untuk menghasilkan pundi-pundi uang dari profesi ini. Dan dampak dari seringnya mereka tampil di televisi, job off air akan mengalir.

standup1

gambar: Kompas TV

Menurut kabar, beberapa politisi sudah mengincar para selebritas baru ini untuk kepentingan kampanye politik. Jadi kalau dulu para artis menjadi incaran tim sukses politikus, kini para comic menjadi pilihan lain. Tentu tidak semua, karena beberapa comic ingin tetap netral tak mau menjadi bagian dari penyuara tim sukses pribadi atau parpol tertentu.

Bagaimana Agar Tetap Lucu?

Opini dari stand up comedian seringkali jadi punchline, menonjok. Seringkali comic setuju dan pemirsa setuju maka pemirsa akan tertawa. Kesetujuannya itu ketawa. Banyak faktor berhasilna sebuah joke. Materi politik gak akan berhasil tidak akan cocok pada anak-anak. Sebaiknya yang disampaikan yang diketahui oleh comic atau hal yg ingin diketahui. Comic harus observasi. Realita sosial, yang meresahkan, atau mungkin unik. Pada akhitnya sikap ini akan menjadi persona komic. Pemarah, kalem, menggebu-gebu atau masa bodoh.

george carlinfoto: George Carlin

Tidak ada nilai kelucuan absolut. Ini juga menjadi pekerjaan rumah sendiri untuk comic. Namun pada askhirnya setiap comic itu tematik. Tema akan bergantung point of view comic. Bisa jadi itu random, bisa jadi beda komic beda eksekusi. Tema tergantung pengembangan si komic. Bisa jadi bit panjang atau pendek. Bit pendek itu one line biasanya tak lebih dari tiga kalimat. Kalau diluaskan mungkin satu bit limabelas menit untk bahas tema yang sama.

Sampai Kapan Standup Comedy Bertahan?

Ini tak hanya menjadi kekhawatiran para comic tapi televisi itu sendiri. Bagaimana agar acara standup comedy tetap digemari publik dalam hal ini pemirsa. “Kalau ingin bertahan, kami harus beradaprasi dengan ide baru, gak monoton. Memadukan dengan bentuk lain yang di luar bentuk umum.” kata Andi Gunawan.

Pada akhirnya standup comedy  turunannya menjadi banyak. Ada grup dengan mengolah improve langsung di tempat dengan banyak penonton, permaninan properti, atau memadupadankan dengan musik. Di tv ada baik buruknya. Buruknya, kalau komic terbatas sementara energi tayangan. Dan yang tak kalah penting adalah kesempatan untuk latihan. Di sisi lain komik makin banyak, baik karena wadahnya ada untuk regenerasi.

Demikian juga dengan standup comedy di televisi, nyatanya tak semua acara standu up yang didesain untuk tayang di televisi bisa sukses. Acara Comic Action di Kompas TV misalnya, tidak bertahan lama. Artinya kemasan acara televisi untuk standup comedy juga harus menarik. Isi materi yang sama jika dikemas tidak baik itu juga akan berpengaruh pada acara secara keseluruhan. Oleh karenanya tim kreatif harus berpikir keras untuk membuat kemasan yang menarik.

Kesulitan dan Masa Depan Standup Comedy di Indonesia

Tak mudah untuk mempertahankan suatu hiburan baru untuk bisa eksis, baik untuk off air maupun on air. Sejumlah kesulitan itu misalnya: negara kita multi kultur. Otomatis banyak pebedaan, itu berat. Segmen komedi terbatas. Satu materi lucu di kalangan tertentu, dianggap sebagai yang gak di kalangan lain. Kesulitannya adalah inovasi agak sulit. Pada awalnya referensi terbatas. Atau banyak tapi dari barat. Belum tentu disesuaikan akan layak. Referensi bagus di sana, bagus di sana belum tentu di sini sama, kebahasaan beda. Mesti ada hal yang disesuai. Hal lain ialah pengembangan komunitas baik. Semakin banya sult dijangkau. Mereka beriusaha tumbuh sendiri. Mereka akan memanfaatkan youtube dan buku. Saat mereka mencoba mempelajri otodidak tanpa bimbingan maka itu akan berpotensi multitafsir. Akan salah kaprah, agak sulit dicegah.

standup6

gambar: Sosishot Project

Sebetulnya permintaan standup comedy di daerah itu banyak. Jadi akan ada audience baru. Karenanya materi yang satu bisa di bawa ke daerah ke daerah lain. Pertunjukan digelar pasang tiket tidak jarang yang murah, memang layak dihargai karena proses kreatif panjang dan melelahkan, kata Andi Gunawan.

Di akhir perbincangan, Dwika  Putra menambahkan, mau dibuat sok kreatif tentu harus ada gimmick terserah kreatif. Ini komedi baru. Komedi fisik yang turun temurun. Ini suatu baru, mungkin ada semacam culture shock. Di ujung akan jadi dilematis, apakah untuk menggrab atau mendapat penonton baru atau tetap penonton setia.

Hemat penulis, berdiri melucu baik yang ditayangkan di media televisi atau secara langsung di depan audiens tentu memerlukan kreatifitas yang tanpa batas. Inovasi diperlukan oleh para comic itu sendiri maupun para tim kreatif televisi. Apakah standup comedy akan menjadi hiburan musiman atau akan langgeng seperti halnya hiburan lainnya? Wallahu alam.

Dokumenter Televisi, Bukan Sekadar Dokumentasi
Diki Umbara

Pelbagai acara televisi di berbagai kanal seolah mengatakan “tonton kami, tonton kami!” Dan pada akhirnya hanya tontonan menariklah yang akan menjadi pilihan pemirsa. Itupun mereka belum tentu setia mengikuti acara televisi hingga akhir acara. Ketidaksetiaan itu dipengaruhi oleh berbagai alasan, dan alasan paling umum biasanya acara tak menarik untuk diikuti sampai selesai. Maka dalam hitungan sepersekian detik penonton dengan mudah akan mengganti kanal atau saluran televisi.

 

Seringkali acara televisi memiliki segment tertentu, ketertarikan acara televisi dipengaruhi oleh minat penonton karena berbagai hal di antaranya faktor usia, latar belakang pendidikan, gender, dan status ekonomi sosial. Karenanya para kreator acara televisi akan memperhatikan unsur tersebut. Akan tetapi itu bukan segalanya karena kontent yang menariklah yang akan menjadi pilihan akhir.

Informasi, Edukasi, Hiburan!

Televisi apapun itu selalu terkait dengan tiga hal besar, ia harus memiliki unsur informasi, edukasi, dan hiburan. Dan unsur terakhir rupanya merupakan rumusan yang tak boleh dihindari, bahkan untuk jenis acara apapun. Ya, nyatanya acara televisi mesti menghibur. Kenapa unsur hiburan itu penting? Karena sebagian besar penonton tak menganggap serius apa yang ditayangkan di televisi. Lalu bagaimana untuk acara-acara televisi non hiburan? Medium is messege. Televisi sebagai media adalah pesan itu sendiri. Karenanya acara yang mengandung unsur informasi dan edukasi juga memiliki tempat. Acara berita tenntu saja, kanal-kanal televisi berita memiliki penontonnya sendiri. Demikian juga dengan acara yang memiliki unsur edukasi. Walaupun nyatanya tak seelok acara berita dan hiburan. Sebut misalnya Blomberg TV, LiTV, Deutche Welle, dan E-TV yang memiliki banyak acara edukasi, ia juga memiki penontonnya sendiri.

dokumenter art.stanford.edu

foto: art.stanford.edu

Dokumenter TV vs Acara Lain

Di antara format acara televisi yang memiliki kekhasan dan memiliki penonton tersendiri ialah dokumenter. Sebetulnya dokumenter televisi merupakan salah satu format acara televisi paling awal era tayangnya televisi itu sendiri, namun berbagai format baru nyaris saja menggilas acara ini utamanya acara dengan format hiburan seperti sinetron, gameshow, music show, talent hunting atau ajang pencarian bakat, dan quiz. Karenanya para kreator dokumenter televisi mesti berpikir keras bagaimana agar dokumenter televisi bisa tetap menjadi tontonan menarik, bahkan memiliki ketiga unsur tadi yakni memberikan informasi, ada unsur edukasi, serta menghibur. Maka kanal-kanal televisi dokumenter bisa masih eksis, Discovery Channel sebagai salah satu televisi yang mengkhususkan pada acara dokumenter melahirkan kanal-kanal baru yang lebih spesifik seperti Discovery Kid dan Discovery Family.

dokumenter www.publicaffairs.ubc.ca

foto: publicaffairs.ubc.ca

Realitas dan Kreativitas

Dua hal yang paling khas dam dokumenter televisi ini tak bisa dipisahkan, realitas atau kenyataan alias bukan fiksi serta kreativitas, yaitu bagaimana agar sesuatu yang ada dalam kenyataan ini bisa didesain sedemikian rupa dengan sekreatif mungkin oleh para pembuat dokumenter televisi. Karenanya dokumenter sering disebut sebagai perlakuan kreatif atas realitas.

Bisa jadi inilah yang menjadi titik poin kenapa dokumenter televisi di Indonesia masih belum menjadi acara unggulan kecuali di beberapa televisi seperti MetroTV, TVOne, KompasTV dan terakhir NET. Kreatifitas semestinya tanpa batas agar dokumenter tak menjadi acara yang membosankan. Ada beberapa faktor kenapa ini tak terjadi secara baik di televisi yang ada di Indonesia. Kreativitas akan berkaitan dengan sumber daya manusia alias yang terlibat pada pembuatan dokumenter tersebut. Data sebagai salah satu hal yang sangat penting seringkali diabaikan. Data yang kemudian diolah menjadi fakta karena riset masih dirasa minim.

dokumenter indonesia bagus netmedia co id

foto: netmedia.co.id

Hal lain yang tak kalah penting adalah menyangkut ide dan tema. Sebagai salah seorang juri di KPI Award kategori dokumenter televisi, penulis melihat tema yang diangkat dalam dokumenter televisi kita masih kurang beragam. Dan ini menjadi catatan yang kita sampaikan pada KPI Award 2012 lalu.

Sekadar Dokumentasi

Mungkin ini kritik yang agak berlebihan, tapi dengan berat hati penulis sampaikan nyatanya dokumenter televisi kita masih banyak yang sekadar dokumentasi. Separah itukah? Semoga tidak demikian ke depannya, setidaknya kabar baik itu bisa kita lihat pada dokumenter televisi di KompasTV dan NET. Namun secara umum memang dokumenter televisi kita jauh dari apa yang dikatakan di atas, perlakuan kreatif atas realitas. Alih-alih kreativitas yang tinggi, beberapa serial dokumenter televisi kita masih minim akan riset. Ini bisa kita temui misalnya ketika kita menonton dokumenter televisi di tv kita minim akan informasi sehingga informasi yang disuguhkan cenderung dangkal.

Ditinggalkan atau Mengejar

Pilihannya hanya ada dua, dokumenter televisi kita akan ditinggalkan atau dibuat sedemikian rupa menarik dengan mengejar program-program yang jauh lebih dahulu diminati penonton. Berat memang, dokumenter televisi tak bisa sedramatis sinetron atau FTV yang memang naskahnya dibuat berdasar khayalan. Namun bukan berarti dokumenter tidak bisa menarik. Hal-hal teknis yang bisa dilakukan pada program lain bisa juga diterapkan pada dokumenter televisi. Untuk videografi atau pengambilan gambarnya, dokumenter televisi di NET sudah lumayan bahkan bagus menyusul dokumenter yang ada di KompasTV. Keindahan gambar pada dokumenter televisi tidak kalah dengan gambar-gambar yang ada di sinetron. Namun masih ada yang mesti diperbaiki yakni konten atau isi acara. Riset menjadi teramat penting dilakukan oleh para pembuat dokumenter televisi. Tentu saja bukan riset yang ala kadarnya. Demikian juga dengan tema. Dari Aceh hingga Papua, dengan keberagaman hayati, sosial, seni, dan budaya sepertinya tak akan pernah kurang. Subyek dan obyek yang itu-itu saja apalagi misalnya tempat yang sudah sangat familiar tentu akan menjadi membosankan jika itu terus diulang. Artinya para kreator jangan terjebak dengan hal yang itu-itu saja. Keberagaman dan pelbagai potensi alam serta aspek sosial di dalamnya merupakan modal yang sangat besar. Lalu beranikan para pembuat dokumenter mulai melirik tema lain yang tak sekadar ikut-ikutan dengan hasil dokumenter televis yang pernah dibuat sebelumnya?

dokumenter nationalgeographic co id

gambar: nationalgeographic.co.id

Lokal untuk Global!

Ini barangkali kelemahan lain para pembuat dokumenter televisi kita, mereka membuat acara dokumenter memang untuk ditayangkan di tv lokal, nasional, atau berjaringan nasional. Jadi membuat dokumenter hanya berdasar yang “diinginkan” lokal saja. Barangkali akan beda jika para pembuat dokumenter berpikir bahwa kelak hasil dokumenter televisi tersebut akan ditayangkan secara internasional seperti halnya National Geographic atau Discovery Channel. Karena dengan ditayangkan luas di berbagai negara, secara kualitas juga akan memenuhi standar internasional. Quality control yang mereka lalkukan sangat ketat, baik aspek teknis maupun konten. Jadi, buatlah acara dokumenter televisi konten lokal yang (akan) ditayangkan di televise jaringan mancanegara. Selamat berkreativitas!

Kategori

Kicauan

SociaBuzz

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 101 pengikut lainnya.