TV Streaming: Lebih dari Kanal Alternatif

TV Streaming: Lebih dari Kanal Alternatif
Diki Umbara

 

Ribuan pendukung Ahok-Djarot memadati Konser Gue 2 di lapangan Ex Driving Range, Senayan, Jakarta, Sabtu (4/2). Tirto.id/Andrey Gromico

Ribuan pendukung Ahok-Djarot memadati Konser Gue 2 di lapangan Ex Driving Range, Senayan, Jakarta, Sabtu (4/2). Tirto.id/Andrey Gromico

Pemilihan Kepala Daerah atau Pilkada serentak telah usai. Ada yang disambut gegap gempita ada pula yang disikapi biasa saja. Pilkada DKI Jakarta nampaknya menjadi pilkada yang paling disoroti, Pilkada rasa Pilpres begitulah tanggapan dari masyarakat, sebab nyatanya menjadi perhatian rakyat Indonesia selain Jakarta. Liputan media yang begitu gencar barangkali itu menjadi salah satu sebabnya.

Kampanye dengan pengerahan massa rupanya menjadi salah satu hal yang tidak disia-siakan oleh setiap pasangan calon. Media massa mainstream (televisi, radio, surat kabar, online) kerap menjadikan berbagai hal terkait pemilihan kepala daerah sebagai headline. Hal menarik lainnya, dan ini kali pertama dalam pemilihan kepala daerah di Indonesia memanfaatkan sosial media untuk ajang kampanye mereka yakni Facebook dan Youtube, sebagai media live streaming.

Bertajuk #KonserGue2, salah satu pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI memanfaatkan live streaming via YouTube. Salah satu stasiun televisi berita memang menayangkan helatan tersebut sebagai program breaking news, namun siaran lengkap selama empat jam nyaris tanpa jeda hanya bisa disaksikan pada YouTuBe Live Streaming. Siapapun dan dimanapun bisa menikmati konser dengan sederet artis pendukung pasangan calon tersebut.

Streaming vs Konvensional

 Hingga saat ini antara broadcasting konvensional dan streaming, masih memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Sebagai media siaran baru, peralatan yang digunakan untuk streaming jauh dianggap lebih murah ketimbang peralatan yang diperlukan oleh media siaran konvensional. Sedangkan salah satu yang masih jadi kendala pada siaran streaming yakni kecepatan akses internet yang masih jauh di bawah ideal. Namun kelak, jika kecepatan akses internet sudah tidak lagi menjadi permasalahan, bukan hal mustahil jika siaran streaming justru akan mengalahkan broadcasting konvensional.

Aneka Platform

Platform mana sebetulnya yang paling cocok ketika kita menggunakan “pihak ke tiga” siaran atau program hendak disebarluaskan? Saat ini banyak pilihan, bahkan dalam waktu bersamaan bisa saja kita menggunakan pelbagai platform tersebut. YouTube setelah menjadi media pengunggah serta pengunduh video, menjadi platform favorit untuk streaming. YouTube Live menjadi pionir yang setelahnya disusul oleh  Facebook Live, Akamai, Wowza Stream Server, Zixi, dan Adobe Media Server. Berbagai platform ini tentu saja memiliki kelebihan masing-masing, karena itu pula beberapa pengguna  ada kalanya menggunakan lebih dari satu platform dengan harapan akan mendapat viewers yang lebih banyak dan beragam.

Hardware dan Software

Kualitas streaming akan dinikmati dengan baik ditunjang oleh tiga faktor, yakni hardware atau piranti keras  yang kompatibel, software atau piranti lunak dengan beragam fitur penunjang, serta akses internet dengan kecepatan tinggi. Menyadari hal ini, berbagai vendor telah merancang hardware serta software yang mendukung aktifitas live streaming.

Livestream Studio 4.2

livestream-studio

Livestream belum lama merilis Studio 4.2 sebagai live production switcher, yakni sebuah switcher yang nampaknya didedikasikan khusus buat live streaming. Tak hanya kamera dengan menggunakan kabel, sebab Studio 4.2 juga didesain untuk konektifitas kamera tanpa kabel alias wireless camera. Untuk tampilan,  Ada dua jenis output yang ditawarkan yakni HDMI dan SDI. Studio 4.2 juga mendukung berbagai device untuk live streaming dari mulai Facebook Live hingga Adobe Media Server.

TriCaster Mini

tricaster-mini

Berkantor di negara dengan teknologi maju Jepang, NewTek merupakan salah satu perusahaan yang konsisten dalam mengeluarkan berbagai produk untuk keperluan penunjang broadcasting. Dari mulai sistim produksi terintegrasi hingga software kreatif yang juga berkaitan dengan penyiaran. Jika Tricaster 8000 diperuntukkan bagi penyelenggara penyiaran dengan skala besar, maka Tricaster Mini nampaknya didesain untuk keperluan dengan skala kecil. Ya inilah sebuah alat untuk keperluan live streaming yang dikoneksikan ke beragam platform seperti halnya Livestream Studio 4.2.

Namun kecil-kecil cabe rawit, sebab TriCaster Mini memiliki pelbagai fitur yang bisa diandalkan penggunanya. Karenanya ia mengklaim sebagai sistem yang all in one, dan tak perlu kru yang banyak untuk menghandle peralatan multiguna ini. Fikri Ramadhan videomaker asal Bandung mengaku telah menggunakan produk NewTek ini untuk berbagai helatan. Laki-laki yang biasa disebut Piklih inilah salah seorang di balik hiruk pikuk control room acara #KonserGue2. Selain itu Piklih pernah menangani helatan creative live streaming untuk acara Chevrolet Track Unlock The City, Elang Nusa Telkomsel, dan event Menembus Langit (Jakarta-Garut) Live Stream.

img_3925

Ditanya kenapa memilih TriCaster, Piklih beralasan bahwa TriCaster tidak perlu banyak bridging device. “Semua sudah jadi satu, dari stream multiflatform (social media atau FTP), record ISO bisa, record PGM, grafik, VTR dan lain-lain” paparnya dengan menyebut beberapa istilah teknis. ISO yang dimaksud adalah isolated camera, yakni pengambilan gambar yang bukan gambar utama PGM (program).

BlackMagic ATEM

blackmagic-atem

ATEM Television Studio HD ditengarai sebagai production switcher yang didesain untuk keperluan broadcaster serta para provesional di bidang Audio Visual. ATEM 8 konektifitas, yakni 4 SDI dan 4 konektifitas HDMI yang bisa mendukung beragam format video hingga format 1080p. Tak hanya kamera profesional, karena kamera prosumer sekalipun bisa terkoneksi dengan alat ini.

Seperti halnya TriCaster, ATEM sebagai produk pendukung streaming keluaran BlackMagic ini juga memiliki banyak output untuk berbagai keperluan pengguna. Selain untuk kebutuhan live production, ATEM juga kerap digunakan untuk acara serial televisi, web show, juga helatan kompetisi game yang sedang banyak digandrungi para remaja.

Dengan desain portable namun kokoh, instalasi BlackMagic ATEM tergolong tidak rumit. Dengan demikian pengguna bisa melakukan “bongkar pasang” secara cepat.

WireCast Gear

wirecast-gear

Berdiri di era tumbangnya Orde Baru di Indonesia, Telesteram bermarkas di Nevada Amerika Serikat ini berfokus pada produk-produk yang kini diperlukan untuk keperluan streaming. Telestream terkenal karena selain mengeluarkan beberapa hardware jagoan, ia juga melahirkan semacam software gratisan untuk keperluan live streaming.

Untuk produk andalan, WireGear Cast merupakan hardware dan tentu saja software di dalamnya yang didesain sedemikian rupa agar keperluan para pengguna penyelenggara live streaming bisa memanfaatkannya. Untuk basic WireGear 110 dianggap sudah cukup mumpuni, 4 koneksi HDMI dirasa cukup untuk keperluan dengan skup kecil. Namun untuk keperluan yang lebih besar, Telestream mengeluarkan tipe WireGear 220 dengan 4 koneksi SDI. Seangkan untuk software sama-sama menggunakan WireCast Pro.

Telestream mengklaim kalau WireCast Gear merupakan ready-to-use system, serta cara penggunaan yang jauh lebih simpel ketimbang kompetitornya. Kelebihan lain dari WireCast Gear yakni build-in encoding, yang berarti bisa dikoneksikan dengan semua layanan platform pendukung streaming seperti YouTube Live, Microsoft Azure, DaCast, dan lainnya.

TV Masa Depan?

Bisa jadi televisi streaming akan menjadi televisi masa depan. Jika saat ini televisi streaming baru sekadar alternatif yang sidestream, tak menutup kemungkinan justru televisi streaming akan menjadi mainstream juga pada akhirnya, seperti televisi konvensional saat ini. Ada hal yang tidak bisa dipungkiri, sebab sebaik dan secanggih apapun teknologinya akan menjadi sia-sia ketika konten atau isi acara tidak terjaga.

Iklan

Melihat Dunia dengan Kamera 360

Melihat Dunia dengan Kamera 360
Diki Umbara

Ada yang unik pada helatan upacara 17 Agustus tahun ini di istana negara, tak hanya disiarkan langsung oleh stasiun televisi secara konvensional, melalui akun resmi Youtube Jokowi,  upacara HUT RI ke 71 ini bisa dilihat secara langsung dengan pemandangan berbeda yakni dengan kamera 360. Tak hanya di luar istana, bahkan siaran dengan kamera 360 juga ada di dalam istana.

Ada tiga kamera 360 yang diletakkan di sana yakni kamera Ricoh tipe Theta S milik Youtuber Dennis Adhiswara. Ya Ricoh merupakan salah satu brand dunia fotografi yang tak ketinggalan mengeluarkan jenis kamera yang sedang ngehits setelah kehadiran beragam action cam. Kini kamera 360 banyak digunakan bukan hanya untuk keperluan profesional namun juga digunakan para pehobi, dan kamera 360 jenis home use ini sudah mudah didapat. Kamera 360 jauh sebelumnya sudah dikenal bagi para pehobi selfie, namun yang sudah dikenal ini merupakan aplikasi di android maupun iOS.

Seluas Sudut Pandang

Video 360 derajat juga dikenal sebagai video imersif atau video asperikal yakni hasil rekaman video yang bisa dilihat dari berbagai arah dalam waktu yang sama. Shot video inilah yang dihasilkan dari kamera omni directional yang terdiri dari dua atau lebih lensa kamera. Saat pemutaran hasil video dari kamera inilah kita bisa mendapatkan beragam sudut pandang di antarnya sebuah panorama. Karenanya kamera 360 didesain sedemikian rupa seperti saat ini sebagai evolusi dari kamera dengan lensa panorama.

Sudut pandang 360 derajat artinya akan berkaitan dengan horizontal dan vertikal, saat ini sudah memungkinkan benar-benar bisa 360 derajat baik horisontal maupun vertikal. Namun yang paling umum sudut pandang 360 derajat dan vertikal 180 derajat.

Resolusi Video Kamera 360

Resolusi gambar yang dihasilkan kamera 360 memiliki banyak varian, dari HD broadcast alias 1K (1280 x 720 pixels ) hingga 12K (12,000 x 6,000 pixels). Namun karena kamera 360 memiliki beragam POV, maka perhitungan resolusi perekaman akan “berbubah” ketika nantinya ditayangkan. Misal pada perekaman langsung 360 12K akan menjadi 4K saat video diputar setelah perekaman.

Menggunakan Kamera 360

Pada dasarnya bagaimana mengoperasikan kamera 360 tidak banyak berbeda dengan penggunaan kamera konvensional, nyaris sama dengan mengoperasikan action cam yang jauh lebih populer itu. Kamera dipasang dimanapun sesuai dengan keinginan dan kepelruan dengan penyangga atau mounting tertentu, bisa direkam dengan cukup menekan tombol record, atau disambungkan dengan video recorder atau storage yang letaknya terpisah dengan kamera.

Jika tidak dioperasikan langsung memalui fitur yang ada di kamera tersebut, kamera 360 bisa dikontrol melalui ponsel atau gadget lain dengan jaringan WIFI.

Berbagai Peruntukan

Walaupun dianggap sebagai inovasi yang dianggap masih baru, berbagai produsen kamera 360 telah membuat varian kamera yang disesuaikan untuk berbagai kebutuhan. Dan kebutuhan atau peruntukan itu di antaranya: untuk acara LIVE dengan YouTube sebagai platform, video art, pengasuhan anak (childcare), racing atau balapan, real estate, travel, kesehatan, event, dan keperluan kantor.

Untuk keperluan umum serta home use, kamera 360 akan lebih banyak digunakan sebagai video surveillance yang sebelumnya menggunakan kamera CCTV biasa. Jika CCTV mesti digunakan dengan banyak kamera atau satu kamera dengan tambahan alat penggerak, maka kamera 360 hanya cukup satu kamera saja. Efektifitas inilah yang menjadi pilihan ara pengguna.

LIVE YouTube

Kita bisa menikmati berebagai pengalaman orang lain saat ini melalui kanal YouTube secara langsung, termasuk peristiwa kirab bendera di istana negara Agustus lalu itu. NASA yang memiliki saluran 24 jam di YouTube bisa dinikmati seluruh dunia, bagaimana para astronot bekerja di luar angkasa dengan pemandangan yang memukau. Kini mereka mash menggunakan kamera konvensional, namun tak akan lama lagi bisa jadi mereka akan menggunakan kamera 360 sehingga kita bisa menikmatinya dari berbagai perspektif.

Video Art

Helatan seni seperti seni instalasi video telah menggunakan kamera 360 sebagai bahan ujicoba. Persektif yang tadinya hanya nampak satu sisi menjadi bisa dinikmati dari pelbagai sudut pandang. Kini seniman video bisa mengeksplorasi lebih jauh lagi bagaimana sebuah karya video menjadi tontonan yang bisa jadi ke depannya bisa benar-benar tanpak nyata.

Masih untuk keperluan seni, kamera 360 juga bisa digunakan sebagai video surveillance yang digunakan di ruang pameran. Kamera yang bukan saja digunakan sebagai pemantau pengunjung, namun bisa pula hasil gambarnya dinikmati sebagai seni itu sendiri.

Childcare

Kebutuhan video untuk pengasuhan anak baik di rumah, sekolah, atau tempat penitipan anak yang bisa dilakukan sepanjang waktu anak banyak terbantu dengan kamera 360 ini. Artinya setiap pergerakan anak bisa terpantau darri berbagai sudut pandang, sehingga pengawasan terhadap anak akan lebih efektif karena tidak ada celah yang memungkinkan anak “hilang” dari pantauan.

Racing

Bagi para penonton balapan baik mobil maupun motor, tentu terbiasa dengan tampilan point of view dari si pembalap, itu karena di kendaraan dipasang dua action cam yang menampilkan tampak depan dan tampak belakang si pembalap. Dengan kamera ini, penonton akan merasakan bagaimana menjadi seorang pembalap karena keterwakilan dari point of view tersebut. Dengan sudut tak terbatas, kamera 360 membuat point view ini menjadi lebih menarik lagi, karenanya penonton bisa melihat sisi mana saja yang ingin diperhatikan, bahkan melebihi perhatian si pembalap itu sendiri.

Travel

Hoby traveling kini sudah sangat populer, jalan-jalan sebagai refreshing menjadi pilihan menarik ketimbang aktifitas liburan lainnya semisal pergi ke pusat perbelanjaan. Mengunjungi tempat-tempat yang indah di beragam tempat di dunia kadang ingin kita perlihatkan juga pada orang lain, karenanya para traveller merekam momen-momen penting mereka. Dengan kamera 360, lokasi-lokasi bisa direkam dengan beragam sudut pandang.

Kesehatan

Dunia kedokteran telah lama menggunakan kamera sebagai alat bantu pada pelaksanaan operasi yang pelik. Kamera jenis tertentu yang sangat kecil bisa menelusuri tubuh manusia, sehingga dokter bisa memantaunya jauh sebelum operasi diakukan. Kamera 360 yang dikhususkan bagi kedokteran memungkinkan pengguna untuk melihat pelbagai sudut dalam tubuh manusia.

Berbagai Merk

Seperti halnya action cam yang lebih dulu populer, banyak produsen yang menawarkan kamera 360 baik untuk keperluan profesional maupun sebagai kebutuhan rumahan. Kodak, Ricoh, Nokia, Xiaomi, Giroptic, dan masih banyak lagi tentunya.

Kodak Pixpro360

Sebagai merk kamera paling lawas, kodak tak ingin ketinggalan dalam membuat inovasi kamera, termasuk kamera 360. Dengan harga kisaran 5jt-an rupiah, Pixpro360 keluaran kodak sudah lumayan bagus. Kualitas video high definition, serta sudut pandang horisontal 360 dan vertikal 180, kamera ini menjadi bisa menjadi pilihan untuk pemula.

Giroptic 360

Ukurannya mungil sebesar bola billiard, giroptic mengklaim sebagai kamera pertama dengan kualitas HD. Kelebihan dari kamera ini ada pada fasilitas sensor dan konektifitas yang sangat baik serta tahan air. Kamera Giroptic 360cam nampaknya cocok bagi para petualang atau pehobi traveling.

Elecam 360

Merk yang barangkali tidak banyak orang tahu, karenanya Elecam membandrol kamera ini sangat murah dibanding produsen kamera 360 lainnya. Walaupun murah karena memang hanya kisaran 2jt-an, Elecam 360 dilengkapi fasilitas WIFI yang berarti bisa dikendalikan melalui smartphone atau gadget lainnya.

Ricoh Theta S

Inilah kamera yang disebutkan di awal artikel ini, kamera yang digunakan kali pertama dalam kirab bendera di istana negara. Bentuknya menyerupai ponsel, harganya di atas rata-rata kamera 360 derajat lainnya, namun Theta S memiliki beberapa keunggulan. Selain menghasilkan video yang baik, kamera 360 produksi Ricoh ini juga menghasilkan still image atau foto yang sangat baik. Kelebihan atas kualitas gambar yang dihasilkan kamera tentu merupakan hal yang mesti diperhitungkan bahkan hal pertama yang semestinya dinilai. Salah satunya adalah bagaimana jika subyek atau lingkungan yang diambil gambarnya memiliki pencahayaan yang kurang, artinya fasilitas low light pada kamera menjadi penting di sini.

Ada harga ada rupa, barangkali ini memang cuku relevan ketika kita ditawarkan atau memilih peralatan atau barang. Namun yang jauh lebih penting, untuk apa sebetulnya peralatan tersebut kita miliki? Jadi selain budget yang kita miliki, sebelum memutuskan untuk membeli kamera 360 merk dan tipe tertentu baiknya kita mesti yakin untuk keperluan apa kamera tersebut kita punyai.

 

Mengatur Cahaya untuk Estetika

Mengatur Cahaya untuk Estetika
Diki Umbara

“Area untuk RI2 jangan terlalu terang, tapi jangan terlalu gelap. Dibuat sedang saja” demikian kata salah seorang protokoler didampingi dua anggota Paspamres. Tak ada banyak kalimat yang saya ucapkan menanggapi permintaan itu. “Siap, Pak” sahut saya. Waktu itu helatan penutupan Musabaqah Tilawatil Quran atau MTQ Tingkat Nasional segera berlangsung, persisnya dua jam setengah sebelum lokasi dinyatakan sudah clear area.

Tak menunggu lama, saya langsung menuju ruang kontrol tata cahaya. Saya sampaikan jika area untuk Wakil Presiden pencahayaannya jangan terlampau terang. Dengan alat pengontrol cahaya, chief lightingman mulai mengatur intensitas cahaya, tombol dimmer ia putar dan cahaya perlahan mulai meredup. “Segini, Mas?” tanyanya. “Terlalu gelap, tambahin sedikit ya” pinta saya.

Kejadian di atas merupakan salah satu contoh kecil betapa cahaya dan pencahyaan bisa diatur sedemikian rupa tergantung pada kebutuhan. Saya tidak bisa memenuhi persis keinginan protokoler sebab barangkali memang akan jauh lebih sejuk di pada mata Wakil Presiden serta rombongan, namun akan menjadi kendala untuk pengambilan gambar. Karenanya saya ambil jalan tengah, tidak mengganggu apalagi menyilaukan mata, namun masih bisa bagus ketika area diambil gambarnya untuk keperluan tayang di televisi saat itu.

Intensitas Cahaya

Cahaya sebagai bagian unsur penting dalam pertunjukkan, baik itu untuk off air maupun keperluan on air, sedemikian rupa mesti sudah dipersiapkan. Karenanya penata cahaya akan membuat konsep penataan cahaya. Dari konsep itulah nantinya penata cahaya akan tahu kebutuhan berapa kapasitas lighting sebagai sumber cahaya, jenis lighting seperti apa, serta kebutuhan equipment penunjang lainnya.

Secara sederhana, intensitas cahaya akan dipengaruhi oleh dua hal yakni luas ruang sebagai medium yang akan mendapatkan sumber cahaya serta lighting sebagai sumber cahaya itu sendiri. Namun demikian, intensitas cahaya bisa diatur. Maka, berbagai control tata cahaya hadir yang tak hanya mengontrol intesnsitas cahaya saja namun juga arah cahaya.

 Arah Cahaya

Sumber cahaya dalam hal ini lighting yang memang didesain sedemikian rupa untuk keperluan pertunjukkan, diperlukan pengatur yang bisa diarahkan pada area dan subyek tertentu. Karenanya dalam pertunjukkan, penata cahaya mesti tahu berbagai arah cahaya untuk keperluan ini. Background light, pencahyaan yang diperuntukkan latar belakang panggung, backlight arah cahaya latar belakang subyek, front light atau arah pencahayaan dari depan yang biasanya untuk keperluan keylight atau pencahayaan utama serta side light yakni arah pencahyaan dari samping kanan atau samping kiri yang biasanya difungsikan sebagai fill light. Arah cahaya akan berkaitan dengan penempatan sumber cahaya, yang namun demikian hal ini juga bisa diatur dengan pengontrol cahaya.

Warna Cahaya

 Yang dimaksud warna cahaya di sini adalah temperatur warna atau color temperature yang dikur dalam satuan Kelvin (K). Di atas 5000K biasanya disebut cool color atau bluish white, sedangkan antara 2700-3000 biasa disebut warm color. Untuk mengatur temepartur atau suhu warna akan dilakukan color balance. Hal ini dilakukan biasanya mengacu pada kulit manusia, sehingga kalaupun nantinya ada berbagai warna cahaya efek tidak akan “mengganggu” warna cahaya normal.

Lighting Controller

Seperti halnya mixer pada audio yang bisa mengaatur atau mengontrol berbagai sumber suara, lighting contoller dibuat untuk mengatur cahaya. Sumber cahaya dari lighting bisa diatur deisesuaikan dengan kebutuhan. Pun seperti halnya mixer audio, pengatur cahaya ini juga ada yang manual ada pula yang digital, bahkan lighting controller sudah ada yang wireless alias tanpa kabel. Demikian juga dengan harga, lighting controller memiliki harga di bawah satu juta hingga puluhan juta rupiah. Kenapa bisa demikian?

Pengatur cahaya yang baik tentu saja yang bisa mengakomodir kebutuhan penataan cahaya sehingga penata cahaya akan sangat terbantu dengan alat tersebut. Light contoller paling sederhana biasanya berupa dimmer biasa, dengan alat ini intensitas cahaya bisa diatur sehingga seberapa terang area atau subyek yang akan diberi pencahayaan sesuai yang diinginkan. Namun kenyataanya, pencahayaan bukan sekadar gelap terang saja, lebih dari itu ada unsur estetika atau keindahan yang merupakan bagian dari konsep acara atau pertunjukkan dimana pencahyaan menjadi hal utama, sekecil apapun acara atau pertunjukkan tersebut. Misalnya, warna apa saja yang diperlukan, apakah merah, biru, kuning, oranye atau padupadan beberapa warna. Pun dengan pergerakan cahaya, dengan lighting controller beberapa lighting bisa digerakkan sehingga pencahayaan tidak hanya diam.

Beragam Lighting Controller

Walaupun tidak terlalu banyak, produsen lighting untuk pertunjukkan biasanya mengeluarkan produk pengatur cahaya, juga ada produsen tersendiri yang mengeluarkan lighting controller, bahkan ada pula software yang didesain khusus sebagai lighting controller. Elation HedgeHog4 N II DMX Console sebuah konsol pengatur lighting tergolong high end. Alat ini biasanya digunakan untuk megatur cahaya di berbagai ruang seperti tempat pertunjukkan, event perusahaan, acara televisi, bahkan untuk nigh club. Dengan harga 100jt-an, inilah light controller yang memiliki berbagai fungsi yang bisa bermanfaat dan memudahkan kerja lightingman. Di konsol ini sudah termasuk 1 light converse visualizer software, sebuah software yang “ditanam” pada light controller yang meiiliki berbagai fungsi. Dengan hardisk 256GB yang juga tertanam di dalamnya, di alat ini bisa menyimpan berbagai setting yang sudah default maupun setting atau pengaturan yang secara custom dibuat oleh oepartor atau lightingman.

Selain Elation HedgeHog4 lighting controller kelas high end lainnya yakni  Mega Lite Enlighten Control Wing Software Control. Kisaran harga 40jt-an, light controller ini memiliki beragam fitur yang diperlukan penata cahaya.  Ada 8 high quality sliders, 1 grand master, 1 manual crossfader, 11 jog wheels fo, serta 8 bump buttons. Seperti halnya Elation, Mega Lite juga disertai software yang melengkapi light controller ini.

Jika dua light controller di atas merupakan high end yang memang digunakan untuk para profesional dan untuk keperluan penataan cahaya pada skala besar, tentu ada juga light controller yang masuk pada kategori low end yang digunakan untuk keperluan khusus. Namun secara sederhana, alat ini tentu saja memiliki fungsi dasar controller, yakni mengatur cahaya.  Chauvet DJ Obey 3 3-Channel DMX seperti namnya merupakan light controller yang hanya memiliki 3 kanal DMX. Alat ini didesain sebagai pengatur lighting LED, karenanya 3 kanal tadi dimaksudkan untuk mengatur warna merah, hijau, biru. Ada pula fungsi fader (untuk menaikan atau menurunkan intensitas cahaya) secara keseluruhan atau master fader di dalamnya.

Pada kelas midle end, nampaknya light controller justru paling banyak ditemukan di pasaran, barangkali inilah light controller yang paling banyak digunakan. Harga yang tidak terlampau mahal seperti halnya pada kelas high end, namun memiliki fitur yang cukup mumpuni untuk kebutuhan pengaturan cahaya. Di antaranya lighting controller pada level ini ada Martin M-Touch 512 Channel DMX dengan kisaran harga 7jt-an, alat ini memiliki lebih dari 500 channel DMX yang tetu saja bisa expad hingga ribuan kanal. Dengan plug and play, peralatan kelas menengah ini dianggap tidak ribet. Ada 14 FSR faders dan 20 kontrol efek yang bisa dioptimalkan sehingga lighting bisa diatur sedemikian rupa menghasilkan pencahyaan yang sudah dikonsepkan sebelumnya. Yang sekelas dengan Martin M-Touch dan bisa menjadi pertimbangan lain adalah Elation MIDIcon Light Controller. Elation Midicon memiliki 32 tombol instan dengan berbagai varian efek dan selain itu memiliki 12 pad untuk efek-efek yang dibuat untuk keperluan momen-momen tertentu.

Ada Software Selain Hardware

Jika lighting controller di atas merupakan hardware atau perangkat keras (yang sebetulnya ada dilengkapi software secara embeded), ada pula light controller berupa piranti lunak atau software. Walaupun tentu saja software ini bisa berjalan melalui hardware yakni komputer. Di antara software pengattur cahaya yang populer antara lain Emulation Control Software. Emulation merupakan software yang bisa mengatur LED, berfungsi sebagai dimmer, mengontrol laser, serta berbagai efek. Software ini bisa dijalankan pada Mac OS maupun Microsoft Window. Emulation menjadi software yang cukup power full dalam mengatur pencahayaan.

 Software lainnya ada DMX512 + Art-Net, dengan interface USB ke DMX, sebetulnya tidak murni software sebab ia tetap menggunakan hardware walaupun jauh lebih sederhana ketimbang hardware pengontrol cahaya di atas tadi.

Musik dan Pencahayaan

Pada dasarnya baik light controller berbentuk hardware, software, atau gabungan keduanya bisa disetting sedemikan mungkin oleh pengguna untuk membuat scene-scene tertentu. Scene atau “adegan pencahayaan” ini tidak berdiri sendiri namun biasanya mengkuti rundown dari acara atau program yang dibuat. Misalnya untuk adegan awal pencahyaan dibuat agak redup, pada adegan tertentu pencahayaan dibuat dinamis, sedang pada adegan lain pencahayaan dibuat lebih lembut, atau ada adegan dimana pencahayaan dibuat sangat terang dengan warna-warna tertentu. Scene-scene itu diatur pada light controller sebelum acara berlangsung dan tentu saja dilakukan rehearsal agar pencahayaan benar-benar sesuai konsep yang diinginkan.

Yang paling rumit, seperti halnya diungkapkan oleh para lightingman, adalah pencahayaan untuk acara atau program musik. Ini menjadi tantangan bagi para lightiman, pencahayaan yang menjadi bagian penting dari sebuah show. “Acara musiknya sih keren, sayangnya lightingnya kurang bagus”. Jika ada kalimat semacam ini tentu akan menjadi beban bagi lightingman, lain halnya ketika. “Musiknya keren banget, lightingnya juga keren, pas banget antara musik dengan lighting”. Nah agar pas antara musik dan lighting inilah menjadi tantangan buat para lightingman yang biasanay bekerja sama dengan art director atau performance director dan juga show director.

Artinya seorang lightingman juga mesti paham dengan audio, dengan nada, dan beat. Bagaimana agar musik “menyatu” dengan cahaya, sehingga misalnya pada nada atau beat mana lighting memberikan kesan tertentu. Seberapa cepat pergerakan cahaya serta warna apa yang pas untuk musik atau beat tertentu. Untuk acara musik tertentu, ada sotware khusus yang dibuat untuk sync antara lagu dengan musik, software ini antara lain Sync with the Music / Music2Light yang dengan software ini pencahayaan benar-benar dibuat sedemikian rupa seolah menyatu dengan musik.

Cahaya dan Estetika

Peralatan tetaplah peralatan baik pianti keras maupun piranti lunak, lighting controller hanya akan menjadi alat yang canggih namun tak begitu bermanfaat jika tidak digunakan dengan baik oleh user. Cahaya dan pencahayaan sudah ada bahkan jauh sebelum pertunjukkan ada, keindahan pencahayaan yang baik tentu saja ia berkaitan dengan estetika. Karenanya lightiman ia mesti bisa melukis dengan cahaya agar keindahan bisa dipersembahkan, dinikmati banyak orang, dan mendapat apresiasi walau dalam kalimat sederhana: “Lightingnya keren!”

 

Gimmick di Televisi, Bukan Sekadar Pemanis

Gimmick di Televisi, Bukan Sekadar Pemanis
Diki Umbara

“Ah hidup kamu kebanyakan gimmick!” Barangkali pernah mendengar seloroh seperti itu ketika seseorang mendapati kepura-puraan atau sesuatu yang dianggap serius padahal sebenarnya sekadar bercanda. Kata “gimmick” kini menjadi populer di masyarakat, yang sebelumnya kata ini hanya digunakan di kalangan orang hiburan, orang-orang di balik atau yang tampil di televisi utamanya.

Gimmick merupakan cara untuk menarik perhatian penonton dengan beragam cara seperti membuat adegan khusus, dandanan yang khas, musik, yel-yel, nyanyian, atau aktifitas lainnya. Gimmick juga bisa dilakukan dengan pergerakan kamera tertentu atau dilakukan saat editing. Karenanya gimmick dimaksudkan untuk menghibur, membuat penonton berdebar-debar, atau mendapatkan kejutan. Seringkali gimmick dibuat seperti tak ada hubungannya dengan inti sebuah acara. Namun itu semua tentu dengan tujuan penonton akan menyukai acara tersebut.

Bagaimana Gimmick Dibuat?

Sukses atau gagalnya gimmick pada acara televisi sangat tergantung dari banyak hal. Dan ketidakberhasilan gimmick kerap ditemui karena si kreator gimmick tidak membuat secara serius sedari awal. Gimmick bisa saja dibuat secara spontan, namun spontanitas demikian rentan pada kegagalan. Jadi sebaiknya gimmick memang sudah dirancang dan direncanakan terlebih dulu, yang di atas kertas keberhasilan gimmick sudah bisa diukur.

Gimmick walalupun sedari awal goalnya adalah membuat perhatian penonton, secara spesifik ia harus punya tujuan jelas. Artinya untuk apa gimmick itu dibuat karena sekadar mendapat perhatian penonton saja tidaklah cukup. Tim kreatif sebagai pembuat gimmick sebagai bagian dari acara, ia harus melakukan riset terlebih dulu. Pertama tentu saja ia mesti benar-benar paham tentang program acara yang sebelumnya sudah dirancang. Kedua, pada bagian mana gimmick itu nantinya dipakai; awal acara, di tengah-tengah acara, di ujung segment, atau di ujung acara. Gimmick bisa juga dibuat beberapa kali, kebutuhan seberapa banyak gimmick ini termasuk yang disiapkan dari awal. Ketiga, buatlah rancangan gimmick apakah ia akan tertuang dalam bentuk script, yang berarti nantinya cast akan menggunakan monolog atau dialog. Semi script, yang berarti dibuatkan sript sebagai panduan saja, pemain tak benar-benar menggunakan sript sebagai acuan utama yang berarti pemain bisa mengubah itu namun inti dari yang dimaksud script sebagai gimmick itu bisa tercapai. Atau unscripted, benar-benar tanpa script, pemain melakukan adegan atau dialog berdasar catatan khusus dari tim kreatif. Terakhir, gimmick sebaiknya disimulasikan terlebih dulu dengan tujuan untuk mengukur apakah konsep gimmick yang telah dirancang itu bisa diterapkan dengan baik atau tidak.

Seringkali gimmick bisa dijadikan ciri khas pada sebuah program. Artinya gimmick bisa dipatenkan menjadi sesuatu yang ditunggu oleh penotnton, kejutan yang kehadirannya dinanti oleh pemirsa. Namun demikian, walaupun akan dibuat pasti dalam setiap episodenya dan telah menjadi ciri khas, gimmick seperti ini pun tetap mesti dipersiapkan. Kegagalan justru hadir karena ketidaksiapan materi gimmick yang sudah dianggap rutin tersebut.

Personalitas dalam Gimmick

Dalam program The Tonight Show misalnya, Jimmy Fallon membuat gimmick kompetisi nyanyi serta sketsa sementara dalam Jimmy Kimmel Live! host Kimmel senang menirukan tingkah para selebriti. Gimmick kerap bisa menempel pada seseorang entertainer, ia akan menjadi ciri khas sendiri pada akhirnya. Apakah itu serta merta terjadi demikian? Tentu saja tidak, sebab gimmcik yang ia dan tim kreatif ciptakan telah melewati rangkaian seperti uraian bagaimana gimmick tercipta di atas. Ketika gimmick yang menyangkut personalitas ditiru oleh lainnya maka penonton akan mudah menengarai kalau gimmick itu orisinil lagi, ini berarti para pengikut atau yang berusaha meniru para pendahulu tidak akan sukses seperti orang-orang yang ditirunya.

Gimmick yang melekat pada personal tertentu nampaknya masih jarang pada cast di Indonesia, walaupun tentu ada. Komedian Haji Bolot misalnya, ia memiliki ciri khas yang kurang dalam pendengaran, sehingga kerap kreatif memasukan unsur gimmick “ketulalitan” Pak Bolot ketika ia menjadi pemain dalam program televisi. Gimmick yang disematkan pada personal tertentu bisa saja dibuat oleh tim kreatif sehingga kehadiran cast tersebut sudah bisa memancing kejutan dan gelak tawa misalnya. Person lain yang bisa dibuat sebagai gimmick biasanya ada pada kicker atau samsak, sehingga walaupun kehadirannya hanya selewatan saja sudah akan menajdi hiburan tersendiri. Sayangnya model samsak seperti ini masih menggunakan slapstick sebagai ciri khas atau adegan-adegan yang dianggap “kasar”.

Pendatang baru Gilang Dirga, rupanya melihat peluang ini. Ia bisa menirukan berbagai suara para pesohor di negeri ini dari mulai suara Presiden Joko Widodo, Gubernur Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok, hingga suara Mario teguh. Kepaiawaian dia dalam menirukan beberapa penyanyi seperti Anang Hermansyah hingga Cakra Khan juga menjadikan produser beberapa acara televisi mengundang dia untuk menjadi bintang tamu khusus, dimainkan beragam gimmick atas kemampuan peniruan tersebut.

Gimmick dengan Audio

Audio sebagai bagian penting dari pertunjukan juga bisa menjadi tool sebagai bahan gimmick. Sound effect tertentu misalnya, dapat dibuat untuk gimmick yang akan menjadikan adegan menjadi lucu, menegangkan, atau meriah. Musik dan sound effect untuk keperluan gimmick bisa dibuat sebelum shooting, saat hooting, atau saat editing. Namun yang jelas, musik atau sound effect tersebut harus dibuat konsep terlebih dulu. Artinya ketika nantinya dibuat spontan sekalipun saat shooting misalnya, konsep itu sudah ada jauh sebelumnya. Konsep ini penting agar musik atau sound effect yang dibuat nantinya tidak asal-asalan atau sekadar filler yang bisa jadi justru akan menganggu sebuah adegan atau dialog dalam pertunjukan.

Membuat Gimmick di Edting

Sebagai tahap akhir dalam produksi, gimmick ada kalanya bisa dilakukan saat penyuntingan gambar atau editing. Pada tahap ini editor (tentu atas arahan produser atau tim kreatif) melakukan editing tertentu dengan tujuan sebagai gimmick. Ada banyak cara di sini, tergantung dari konsep serta hasil akhir seperti apa. Misalnya dibuat adegan slow motion atau fast motion dengan efek suara atau musik yang mendukung. Maka bisa jadi nantinya penonton akan melihat adegan tersebut menjadi lucu.

Pada tahap paska produski juga bisa membuat VT (video tape) atau materi yang nantinya akan diputar sebagai salah satu bagian dari show. VT ditonton oleh bintang tamu yang hadir di studio. Yang artinya sedari awal VT tersebut didesain sebagai gimmick, yang kemunculannya diatur sedemikian rupa, dituangkan ke dalam rundown program.

Mystery Guest dalam Talkshow

Pada acara talkshow seringkali formatnya sudah baku, acara dipandu oleh host dengan menghadirkan beragam bintang tamu. Agar tidak monoton, tim kreatif melakukan pelbagai cara dengan tujuan agar acara tidak terlampau serius. Gimmick dalam satu acara tentu akan berbeda dengan acara lainnya, gimmick dengan melihat format acara yang dipakai menjadi salah satu pertimbangan. Sebab misalnya, gimmick untuk acara talkshow bisa jadi berbeda dengan acara variety show.

Pada acara talkshow, bisa dibuat gimmick agar bintang tamu mendapatkan surprise. Ya kata “surprise” menjadi salah satu kunci. Bagaimana agar bintang tamu utama benar-benar mendapatkan kejutan. Maka dihadikannya guest star bisa jadi akan menimbulkan usur surprise tadi. Guest star yang dimaksud bisa jadi orang yang dianggap paling dekat dengan bintang tamu. Maka tentu saja bintang tamu akan terkejut jika mendapati orang terdekatnya dihadirkan. Gimmick seperti ini seringkali sukses, karenanya produser dan tim kreatif acara talkshow membuat gimmick dengan mystery guest yang telah disiapkan, dihadirkan berdasar riset terlebih dahulu tentunya.

Inovasi Tim Kreatif

Setelah script, sepertinya gimmick merupakan hal paling sulit dikerjakan oleh tim kreatif untuk nantinya dituangkan ke dalam bentuk rundown. Atau bisa jadi membuat gimmicklah bagian tersulit itu. Tak jarang gimmick yang mestinya menjadi andalan dalam sebuah acara justru menjadi garing karena konsep gimmick yang tidak dibuat secara matang. Bagaimana agar gimmick yang tertuang dalam bentuk konsep bisa diaplikasikan saat shooting juga hal paling penting lainnya. Agar tidak terjadi mispersepsi, maka gagasan ini dipaparkan oleh tim kreatif pada produser saat gimmick akan dibuat serta dijelaskan pada pengarah acara dan floor director.

Ada beberapa faktor yang saling menunjang satu sama lain sehingga gimmick akhirnya bisa menjadi bagian show yang menarik; konsep yang menarik, inovatif tidak itu-itu saja, dan sesuatu yang fresh. Yang terakhir inilah menjadi concern tim kreatif. Artinya harus terus berinovasi menciptakan hal baru, bukan sekadar meniru gimmick-gimmick yang telah ada sebab peniruan demikian akan menghasilkan sesuatu yang membosankan. Agar gimmick memiliki ciri khas, tim kreatif bisa membuat gimmick yang hanya ada pada acara yang ia buat saja, tidak ditemukan pada acara lain atau acara serupa lainnya.

                      <img src=”http://i.sociabuzz.com/tck_pix/bl_act?_ref=5d5d852a45a2ed49458e9b3c520ba815df232161&_host=dikiumbara.wordpress.com&#8221; width=”1″ height=”1″>

Video Streaming: Dari Komunitas Hingga Penyiaran Televisi

Video Streaming: Dari Komunitas Hingga Penyiaran Televisi
Diki Umbara

Sebuah komunitas atau barangkali gerakan tepatnya, di salah satu sudut ibukota, puluhan anak muda sedang menyimak paparan tiga pembicara yang bergantian membahas salah satu isu yang lagi trend di linimasa sosial media twitter. Tiga meter di depan panggung, sebuah kamera high definition merekam helatan ini. Berlangsung hampir dua jam, acara ini disaksikan pula di Jogjakarta, Medan, Banjarmasin, Makassar, serta kota lainnya. Bahkan ada juga yang menyaksikan di luar Indonesia. Terhubung melalui YouTube Live Streaming, apapun dan dimanapun acara bisa tersebarluaskan secara (nyaris) realtime.

Menyaksikan event dalam waktu bersamaan dalam jarak tertentu atau bahkan seolah tak berjarak, telah menjadi eksperimen sedari dulu. Namun demikian hal ini berkaitan dengan infrastruktur lainnya, karenanya beragam platform kini memungkinkan untuk membuat acara yang bisa disaksikan di mana saja dengan biaya yang jauh lebih murah.

Membincangkan video streaming akan berkaitan pada beberapa hal, yakni video streaming sebagai cara: menangkap suara dan gambar (menonton), menyiarkan (broadcast), serta mentransmisikan. Ada kalanya ketiga hal ini bisa dilakukan bersamaan oleh pengguna yang sama. Teknologi internetlah yang telah memungkinkan semua ini. Bisa jadi, kelak akan makin banyak kanal-kanal pribadi yang bisa diakses oleh siapapun dan kapanpun secara langsung. Kebiasaan mengunggah video dan menyebarluaskan yang kini sedang menjadi trend nampaknya akan terus diakomodir oleh beragam produsen, baik yang berbekal basis aplikasi maupun dengan bantuan piranti keras.

Beragam Cara Menonton Televisi

Banyak cara bagaimana menikmati siaran televisi. Yang konvensional, tentu saja menonton saluran televisi free to air dengan memanfaatkan antena UHF/VHF. Kelemahannya, sedikit saja saluran yang bisa diterima oleh pesawat televisi karena tergantung dari seberapa banyak transmisi televisi yang ada dan mampu ditangkat pesawat televisi. Masih menikmati saluran free to air bisa pula dengan menggunakan antena parabola. Ada ratusan kanal yang bisa dinikmati, tak hanya kanal yang ada di Indonesia. Dengan antena parabola bisa menangkap beragam saluran televisi luar negeri.

Cara lainnya dengan televisi berlangganan atau tv pay, bisa dengan kabel maupun mini dish parabola. Saat ini sudah banyak penyelia kanal televisi berlangganan. Beragam paket bisa dinikmati. Kelebihan dari televisi berlangganan tentu saja kita bisa menikmati saluran yang tidak ada pada kanal free to air. Kanal-kanal film, fashion, dan olahraga misalnya.

Dan terakhir yang kini sedang menajdi trend adalah menonton televisi melalui siaran streaming. Dengan alat tambahan yang disambungkan pada televisi (dan bisa jadi kelak pesawat televisi bisa embeded dengan alat tersebut) maka menikmati saluran televisi menjadi jauh lebih mudah dan murah. Beragam perusahaan membuat peralatan tersebut. Produk tersebut di antaranya: Roku 3, Amazon Fire TV, Apple TV, Google Nexus, dan Chromecast. Kualitas gambar dan suara di saluran televisi melalui peralatan ini tidak kalah bagus dibanding dengan televisi berlangganan apalagi jika dibandingkan dengan menonton televisi dengan cara konvensional di atas tadi.

Pada Roku 3, kita bisa menikmati bahkan hingga 2000 kanal lebih. Roku menyediakan remote control yang memudahkan pengguna dalam pencarian kanal yang diinginkan, ada pula headphone yang bisa digunakan tanpa kabel atau wireless, serta ada tambahan microSD dimana bisa menyimpan game di dalamnya.

Amazone Fire boleh dikata sebagai pionir dalam televisi streaming. Bagi peminat game, alat ini memungkinkan pengguna tak sekadar menonton televisi tapi bisa menikmati beragam game yang sangat populer seperti Minecraft dan Grand Theft. Amazon nampaknya tahu betul kebutuhan peminat saluran televisi streaming biasanya tak ingin repot-repot jika sewaktu-waktu ingin bermain video game walaupun sebenarnya console game ini dijual secara terpisah.

Apple yang sebelumnya terkenal dengan produk iPod dan iPhone, tak mau kalah dalam pembuatan device untuk menonton televisi streaming. Apple TV memungkinkan kita untuk menonton beragam saluran baik yang free to air maupun yang berbayar. Salah satu hal unik dari Apple TV, dengan device iOS kita bisa sharing foto dan video pada sesama pengguna Apple TV.

Setelah populer dengan mesin pencari yang siapapun kini pasti tahu dan menggunakannya, Google tak ketinggalan untuk meramaikan televisi streaming. Google Nexus bekerjasama dengan Asus melahirkan pula Nexus Player. Pun seperti halnya Apple TV, dengan Google Nexus pengguna bisa juga bermain game serta berbagi foto dan video. Selain Nexus, Google juga menghadirkan Chromecast sebuah produk yang nampaknya ebih banyak digemari dari pendahulunya.

Peralatan Live Streaming di Stasiun Televisi

Inilah yang dimaksud live streaming yang digunakan stasiun televisi. Di stasiun televisi, streaming menjadi cara ke empat bagaimana video (dan juga audio) ditansmisikan dari satu tempat. Pertama dengan SNG (Sattellite News Gathering), ke dua dengan microwave, ke tiga dengan FO (Fiber Optic), dan yang terakhir dengan teknologi Internet (IP) Transmission  seperti pada bahasan kali ini. Hingga kini setidaknya ada tiga platform IP Transmission atau live streaming untuk kebutuhan penyiaran televisi yang sudah digunakan oleh banyak stasiun televisi di dunia, yakni LiveU, TVU, dan DMNG.

LiveU memungkinkan digunakan di mana saja tanpa terbatas oleh jarak. Dengan peralatan yang berukuran kecil, perangkat LiveU tentu saja tidak memerlukan kendaraan khusus seperti halnya SNG. Dengan LiveU, reporter bisa bersiaran dari mana saja bahkan bisa melakukan reportase secara bergerak. LiveU mengeluarkan seri LU60 yang bisa menggunakan sinyal 3G/4G serta koneksi WiMAX serta modem wifi. Resolusi video LiveU sudah bisa 1080i HD.

Seperti halnya LiveU, TVU Network memanfaatkan sinyal seluler dan Internet Protocol (IP) dalam mentransmisikan video. TVU dengan TVUPack, peralatan TVU yang compact, memungkinkan untuk dibawa kemana-mana oleh seorang diri di lapangan. Pengoperasian alat ini terbilang sangat mudah yakni cukup menekan tombol on/off. Ada beragam interface standar broadcast yakni SDI, HDMI, Composite, serta Firewire. Kualitas live HD menggunakan koneksi 2.5G/3G/4G. Namun tak seperti SNG tentunya, karena pada TVU akan ada delay beberapa detik. Cukup dalam satu ransel, perlatan modular ini kini sangat populer. TVUPack digunakan oleh beberapa stasiun televisi di Indonesia seperti I News TV (MNC Group) tak jarang menggunakan perlatan ini dalam siaran langsung dari berbagai daerah ketika SNG tidak memungkinkan.

Dibanding LiveU dan TVU, nampaknya DMNG walaupun dianggap pendatang baru namun memiliki “kelebihan”. Ketersediaan input RCA, On Camera, serta peralatan yang lebih ringan merupakan kelebihan dari DMNG. Namun untuk lamanya ketahanan battere rupannya masih kalau dibanding LiveU maupun TVU. DMNG yang merupakan kepanjangan dari Digital Mobile News Gathering memiliki kamera wireless yang didesain khusus oleh Aviwest.

Berbagai Platform Streaming Televisi

Agar siaran televisi dan tentu saja tidak sekadar itu, diperlukan platform yang mendukung untuk mendistribusikan siaran atau tayangan tersebut. BBC yang semula sebagai televisi tereterial di Inggris, tahu betul akan kebutuhan streaming bagi siapapun yang hendak mengakses siaran BBC. Berbasis aplikasi iOS, BBC mengeluarkan BBC iPlayer. Hingga kini tak kurang dari 200 juta pelanggan iPlayer.  Pengguna iPhone, iPad, bahkan laptop bisa mendownload aplikasi ini lantas tersambung dengan BBC melalui iPlayer. Menonton siaran BBC menjadi sangat mudah.

Platform lainnya yang populer tentu saja YouTube. Mulanya Youtube hanya sebagai website peungggah dan pengunduh video. Namun saat ini YouTube memungkinkan bagi siapapun untuk live streaming. Ya seperti yang dilakukan oleh komunitas di Jakarta pada awal artikel ini tentu saja. Tak perlu banyak budget yang dikeluarkan, kini siapapun bisa punya kanal sendiri di YouTube untuk bersiaran langsung. Yang paling banyak menggunakan saat ini adalah para video blogger. 17 juta lebih pengguna YouTube kini saling sharing konten video.

Belum terintegrasi pada semua smart tv, tapi Netflix bisa digunakan di PC/Mac, Appple TV, Wii, telpon Android serta tablet. Dengan Netflix bisa menikmati beragam saluran televisi berkelas. Namun sayangnya tidak gratis sebab Netflix memungut biaya sekitar Rp.70 ribu per bulan.

Selain Netflix, ada LoveFilm Instant yang juga bisa berjalan pada PC/Mac, Kindle Fire HD, iPad, Xbox, PS3 serta Sony’s Home Cinema System. Tidak kurang dari 4.000 judul film bisa ditonton melalui Netflix belum termasuk beberapa saluran televisi favorit. Pada bulan pertama kita bisa menikmati semua ini secara gratis, sedangkan selanjutnya mesti membayar.

Siaran Televisi Streaming

Dan siaran televisi streaming sebagai “televisi” yang mandiri nampaknya menjadi hal lain. Komunitas sebagai organisasi nirlaba serta perusahaan sudah memanfaatkan jaringan ini. Artinya televisi sebagai medium siaran ini dijadikan alternatif saat streaming memungkinkan hal itu. Lunar TV, Inspira, serta NT TV sebagai contoh kecil saja bagaimana mereka bisa bersiaran dan tentu dengan budget yang jauh lebih rendah ketimbang televisi konvensional yang sudah lama establish.
Jika infrastruktur memadai tentu saja televisi streaming akan menjadi bukan sekadar alternatif tapi bisa jadi pilihan utama nantinya. Sekolah, kampus, pesantren, atau komunitas apa saja yang sebelumnya tidak mudah untuk “membuat” kanal televisi, kini tidak sulit lagi untuk mewujudkan itu semua. Di balik itu semua, rasanya tak ada yang jauh lebih penting dari konten siarannya. Secanggih dan semudah apapun teknologi akan menjadi sia-sia ketika konten yang ditansmisikan tidak memiliki manfaat bagi si penontonnya kelak.