Menyoal Sensor dalam Film dan Televisi

Menyoal Sensor dalam Film dan Televisi
Diki Umbara

Sensor dalam film maupun program televisi dianggap sebagai batu penghalang bagi kreatifitas, namun di sisi lain tak sedikit masyarakat yang beranggapan jika sensor bermanfaat untuk menjaga tayangan sehat. LSF sebagai  lembaga sensor mengklaim bahwa telah memiliki paradigma baru, bukan sekadar lembaga jagal seperti era lalu. Benarkah demikian?

Sebuah film Hollywood yang sedang box office di beberapa negara, tayang juga di Indonesia. Antrian panjang terlihat di salah satu bioskop di bilangan selatan Jakarta. Film yang dalam posternya ada tanda 17+ yang berarti diperuntukkan bagi penonton berusia 17 tahun ke atas. Namun ada pemandangan sedikit ganjil, seorang anak yang dipastikan masih dibawah umur nampak tersenyum karena telah mendapatkan tiket film tersebut. Ini artinya film yang telah diklasifikasi berdasar usia oleh Lembaga Sensor Film tersebut nampaknya sia-sia, karena di lapangan toh film tersebut bisa ditonton juga oleh masyarakat yang usianya tak sesuai dengan klasifikasi usia penonton tersebut.

Bagaimana Lembaga Sensor Bekerja?

Film yang akan ditayangkan di khalayak umum, ia harus melewati tahap penyensoran. Produser atau si pembuat film mendaftarkan filmnya pada lembaga sensor, yang selanjutnya dibuatkan berita acara di sekretariat lembaga tersebut, yang nantinya materi film akan diserahkan pada tim sensor. Sensor  merupakan penelitian, penilaian, dan penentuan kelayakan film untuk dipertunjukkan kepada khalayak umum.

Saat ini  ada 33 orang anggota tim sensor dengan latar belakang pendidikan yang berbeda, dengan beragamnya latar belakang ini dimaksudkan untuk  memperkaya wawasan yang beragam pula. Merekalah inilah  yang bekerja melakukan penyensoran pada materi-materi film yang diajukan oleh si para pemilik film. Materi-materi video disimpan oleh lembaga ini, kecuali film dalam bentuk seluloid yang sifatnya memang dipinjamkan oleh si pemilik film.

Film sebagai medium audio visual ia memiliki kekuatan dalam menyampaikan pesan, dan tentu saja pesan apapun. Lalu apa sebetulnya yang dinilai oleh tim sensor? Secara umum tim sensor akan mengacu pada UU Nomor 33 tentang perfilman, ini bisa dilihat seperti pada pasa 6. Film yang menjadi unsur pokok kegiatan perfilman dan usaha perfilman dilarang mengandung isi yang:

  1. Mendorong khalayak umum melakukan kekerasan dan perjudian serta penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya;
  2. Menonjolkan pornografi;
  3. Memprovokasi terjadinya pertentangan antarkelompok, antarsuku, antar-ras, dan/atau antargolongan;
  4. Menistakan, melecehkan, dan/atau menodai nilai-nilai agama;
  5. Mendorong khalayak umum melakukan tindakan melawan hukum; dan/atau
  6. Merendahkan harkat dan martabat manusia.

Karena masih terlampau umum dan bisa beda persepsi dalam memahami undang-undang ini, karenanya lembaga sesnor memiliki petunjuk tertulis sebagai acuan bagi tim sensor. Namun di lapangan ada kalanya tim sensor memiliki perbedaan persepsi dalam penyensoran, walaupun dasar penyensoran sudah jelas karena memang ada pada juklis (petunjuk tertulis) tadi. Jika terjadi perbedaan demikian, tim akan melakukan rapat pleno untuk mengambil keputusan.

Semua film yang lulus sensor tercantum di website resmi lembaga sensor yakni di www.lsf.go.id yang bisa dikses oleh siapapun karena memang ia menjadi informasi publik. Jadi, siapa saja bisa melihat informasi tentang nomor surat tanda lulus, judul film, genre, dan klasifikasi usia penonton.

Sensor Untuk Televisi

Pada dasarnya bagaimana tim sensor melakukan sensorship pada materi tayangan televisi tak jauh beda dengan sensor untuk film. Televisi sebagai lembaga penyiaran, juga production house sebagai pembuat acara televisi saat ini telah melakukan self sensor. Hal ini dilakukan untuk mempermudah, jadi misalnya karena adegan kekerasan tidak boleh maka televisi atau PH akan meminimalisir atau meniadakan sama sekali adegan tersebut. Ada beberapa yang bisa dilakukan, salah satunya melakukan bluring, dimana subyek dibuat terlihat kabur seperti pengambilan gambar tidak fokus.

Gerbang terakhir sensor di televisi ada di departemen Library dan Quality Control, yang tidak hanya mengontrol hal teknis, tapi ia juga memperhatikan konten. Petugas QC akan menggunakan panduan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3 & SPS) yakni sebuah peraturan yang dikeluarkan oleh Komisi Penyiaran Indonesia. Pada Pasal 23 misalnya disebut program siaran yang memuat adegan kekerasan dilarang: menampilkan manusia atau bagian tubuh yang berdarah-darah, terpotong-potong dan/atau kondisi yang mengenaskan akibat dari  peristiwa kekerasan.

Sensor dan Perdebatan

Bagi para pembuat film, sensor masih dianggap sebagai pengebirian kreatifitas, perdebatan perihal ini masih terjadi. Filmmaker berpendapat bahwa baiknya LSF hanya mengklasifikasi film berdasar usia saja, tidak menyoal konten. Namun karena lembaga ini memang hadir berdasar undang-undang dan masyarakat masih menganggap masih perlu, maka lembaga ini masih menjalankan fungsi dan tugasnya, dan mereka membuka ruang untuk berkomunikasi.

Perdebatan kerap karena memang ada beberapa hal yang bisa multitafsir, atau menjadi debatable sebagai contoh pada UU No 8 Pasal 19  Film dan reklame film yang secara tematis ditolak secara utuh, adalah: b. yang cerita dan penyajiannya menonjolkan adegan-adegan seks lebih dari 50 persen. Jadi bagaimana tim sensor melihat adegan seks lebih dari 50 persen dari sebuah poster film. Apa yang menjadi tolak ukurnya, hal ini menjadi keberatan para produsen film.

Beberapa film pernah menuai polemik karena adegan atau dialog di film tersebut dianggap kontroversial dan LSF nyatanya bisa menarik atau menggugurkan surat tanda lulus sensor yang telah ia keluarkan. Apakah lembaga sensor benar-benar independen atau ia bisa ditekan karena intervensi dari kelompok orang? Walahualam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s