Infotainment, (Tak) Semua Gosip Menghibur

Infotainment, (Tak) Semua Gosip Menghibur
Diki Umbara

 

Sepuluh hingga lima tahun lalu, program infotainment nyaris mendominasi tayangan televisi. Dari data AGB Nielsen, pada tahun-tahun itu pula infotainment sempat menduduki peringkat 15 hingga 10 acara televisi yang mendapatkan perolehan penonton terbanyak. Walaupun masa kejayaan infotainment sudah lewat, kini acara yang sudah dikenal di ujung tahun 80-an di Amerika itu masih memiliki pemirsa yang loyal.

Mulanya, infotainment sebagai padupadan dari kata information dan entertainment tidak dimaksudkan sebagai acara gosip. Infotainment merupakan inovasi dalam pengemasan informasi secara santai dengan konten serius berdasar fakta di lapangan. Jauh sebelum era infotainment di televisi, kemasan yang kini telah menjadi bias ini diawali dengan surat kabar di Amerika Serikat dengan sebutan penny press atau di Eropa sebagai yellow press. Lambat laun di era globalisasi nyatanya informasi dan hiburan menyatu atau memang sengaja pula disatukan hingga menjadi infotainment seperti saat ini. Dalam Oxford English Dictionary, infotainment didefinisikan sebagai broadcasting material which is intended both to entertain and to inform. Beragam acara televisi dikemas sedemikian rupa agar memiliki sisi hiburan. Acara berita olahraga misalnya dipandu oleh host dengan pakaian dan gaya pembawaan yang sporty. Pun demikian dengan acara yang memberikan informasi lainnya, diberikan sentuhan dalam pengemasan yang menghibur. Namun, pada perkembangannya infotainment mengalami perubahan banyak bahkan cenderung meleset dari apa yang dimaksudkan dari definisi infotainment di atas.

Yang semula infotainment berupa informasi serius namun terbilang pada soft news itu, kini kontennya hanya pada seputar kehidupan selebritas. Awalnya, infotainment jenis ini hadir di Indonesia ditayangkan RCTI yakni Buletin Sinetron. Tidak dibuat oleh RCTI, sebab Buletin Sinetron diproduksi oleh sebuah production house Bintang Advis Multimedia. Yang di kemudian hari rumah produksi ini lebih banyak memproduksi infotainment, baik untuk tayangan televisi maupun tabloid. Buletin Sinetron yang perdana hadir tahun 1994 ini seringkali mengulas tentang behind the scene atau di balik layar pembuatan sinetron. Ternyata kehidupan para pemain sinetron ternyata menarik pemirsa televisi.

Tak lama berselang, beberapa infotainmen serupa bermunculan di semua televisi swasta. Sepuluh tahun sejak kemunculan perdana infotainment, hampir 50 judul infotainment hadir. Melahirkan pula para pembawa acara infotainment yang tak kalah populer dengan para selebritas itu sendiri. Di luar sana muncullah nama-nama infotainer, sebutan untuk host infotainment ternama seperti Barbara Walters, Katie Couric, Keith Olbermann, Glenn Beck, Maury Povich, dan Deborah Norville.

Di Indonesia pembawa acara infotainment Fenny Rose sempat menjadi trend setter host infotainment dan bahkan olok-olok dengan meniru gaya bibirnya yang khas. Pembawa acara infotainment populer lainnya antara lain Irfan Hakim, Cut Tari, Indra Herlambang, Marissa Nasution, dan Yuanita Christiani.

infotainmentfoto: Diki Umbara

Bagaimana Infotainment Dibuat Hingga Tayang?

Tayangan infotainment masih menjadi perdebatan, hingga kini baru PWI atau Persatuan Wartawan Indonesia yang mengakui infotainment sebagai produk jurnalistik. Sedangkan lainnya meragukan itu bahkan tegas menolak, sebab beberapa kaidah jurnalisme kerap dilanggar para pekerja infotainment. Benarkah demikian? Berikut merupakan proses bagaimana infotainment diproduksi hingga ditayangkan televisi.

Tidak seperti halnya berita, nyaris tidak ada infotainment yang memiliki redaktur. Dalam infotainment, produser memiliki wewenang untuk mengurus bagaimana sebuah berita diliput hingga siap tayang. Dalam liputannya, akan ada beberapa reporter yang diterjunkan. Pengaturan reporter ke lapangan akan dilakukan oleh koordinator liputan, yang biasa disebut korlip atau diatur oleh produser itu sendiri. Di lapangan, reporter beserta cameraman melakukan liputan dengan mencari informasi ke narasumber serta melakukan wawancara. Selesai liputan, reporter akan membuat naskah untuk keperluan voice over atau narasi. Setelah naskah selesai, berikutnya perekaman suara. Seringkali reporter sendirilah yang menjadi narator. Proses penyuntingan gambar dilakukan pararel dengan kerja reporter berikutnya setelah editor mendapat materi liputan. Dan editor akan menyelesaikan penyuntingan gambar setelah mendapatkan narasi tadi. Pada beberapa rumah produksi, reporter mendampingi editor untuk memastikan hasilnya. Terakhir, hasil penyuntingan gambar yang biasanya berupa paket berita tersebut akan disupervisi oleh produser sehingga akhirnya dinyatakan layak tayang. Secara teknis, banyak kesamaan antara pembuatan infotainment dengan proses produksi berita. Jadi, apa yang menjadi keberatan sebagian orang tak mengakui infotainment sebagai produk jurnalistik?

Klarifikasi dari sumber berita seringkali tak diindahkan para pewarta infotainment, maka seringkali informasi menjadi tidak valid. Demikian pula dengan tak jarangnya klarifikasi pada misalnya subyek yang sedang berseteru. Kerap berita yang disuguhkan tidak proporsional dan komprehensif antara kenyataan dan narasi yang disampaikan. Serta alih-alih mengejar kebenaran, seringkali malah ikut memanas-manasi sesuatu yang sebetulnya masih simpang siur. Artinya, jika klarifikasi dari sumber berita saja malas dilakukan bagaimana mungkin infotainment bisa masuk pada kategori jurnalistik.

Menyoal Konten Infotainment

“Gosip terkadang sebenarnya sebuah kebenaran yang tertunda diketahui oleh orang banyak” terang Yuanita Christiani dalam suatu kesempatan. Penulis percaya pada kalimat ini. Tapi itu 10 tahun lalu, sebab kini gosip dalam infotainment banyak pula yang tidak terbukti kebenarannya. Kenapa hal ini bisa terjadi?

Persaingan antar acara infotainment salah satu penyebabnya. Ada kalanya persaingan ini tidak sehat. Maka beragam cara banyak pula dilakukan oleh para pembuat infotainment. Cara yang sempat terkuak juga oleh pemirsa pada akhirnya, ialah “berita settingan”. Berita setingan yang dimaksud berbeda dengan apa yang dimaksud sebagai agenda setting seperti pada teori-teori jurnalisme. Berita setingan acapkali sebagai kongkalingkong antara subyek berita dengan si peliput berita. Dibuatlah seolah ada konflik selebritas A dengan selebritas B. Yang paling umum tujuannya untuk mendongkrak selebritas tertentu. Atau untuk tujuan publisitas, entah itu album lagu atau film misalnya. Dan kerapkali berita settingan semacam ini tidak rapi, karenanya pemirsa mudah menebak kalau itu hanya gosip dan bukan fakta. Dan di Indonesia, praktek-praktek semacam ini hingga kini masih ada.

Masih terkait konten, ciri khas lain infotainment kita ada pada narasi yang bombastis. Tak jarang kita mendapati narator yang enak didengar padahal belum tentu perlu. Narasi yang provokatif dan dengan acap dengan kalimat ending yang sinisme. Pada suatu masa beberapa kali kejadian subyek baik itu selebritas atau orang yang dikaitkan dengan selebritas protes karena menganggap narasi atau kalimat yang disampaikan pembawa acara infotainment berdampak sebagai judge mental. Karenanya ada infotainment yang diprotes keras hingga dihentikan tayangannya.

Infotainment Kini dan Mendatang   

Masa kejayaan infotainment yang secara frekuensi pernah mendominasi program televisi sudah lewat. Namun bukan berarti infotainment kehilangan pemirsanya, sebab hingga kini acara infotainment masih eksis dan beberapa stasiun televisi menayangkan secara striping. NET misalnya, memiliki program infotainment Entertainment News yang tayang setiap hari. Dari situs resmi NET, Entertainment News disebutkan sebagai program yang menyuguhkan berita atau informasi menarik dari dunia entertainment, di dalam dan luar negeri berdasar pada fakta dan informasi. Sepertinya ingin menghapus kesan bahwa infotainment sebagai program gosip. Faktanya tanpa atau minim gosip, program infotainment masih disukai penonton yang kebanyakan dari kaum perempuan ini. Tak kurang dari 14 orang kreatif yang terlibat di dalamnya. Artinya acara infotainment saat ini digarap dengan lebih serius. Sementara MNCTV juga memiliki program andalan infotainment yakni Seleb On News yang ditayangkan dua minggu sekali.

Kembalinya kemasan serta konten infotainment ke jalan yang nyaris benar ini tidak serta merta karena si pembuat acara juga. Sebab kritik dari masyarakat, bahkan suatu masa pernah ormas Islam menyatakan haramnya tayangan infotainment, membuat pembuat baik itu production house maupun stasiun televisi berpikir ulang untuk membuat tayangan infotainment yang walaupun bukan gosip, masih bisa menghibur.

Kabar baiknya, pemirsa yang semakin cerdas, pembuat acara televisi yang tak asal-asalan, serta pemodal media yang tak memikirkan bisnis semata, akan menjadi harapan ke depan bahwa acara televisi di Indonesia bisa semakin baik. Termasuk program infotainment juga tentunya. Bisa jadi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s