Reality Show, Realitas di Layar Televisi

Reality Show, Realitas di Layar Televisi
Diki Umbara

Program televisi reality show pernah menjadi begitu populer di Indonesia. Sangat terkenal dimulai dari acara Spontan di SCTV tahun 1995, hingga menyusul puluhan reality show di stasiun televisi yang sama dan lainnya. Walaupun beda jam tayang, format reality show telah menjadi alternatif lain setelah sinetron yang telah jauh lebih memikat pemirsa. Dalam suatu kesempatan reality show pernah mendapat share hingga 20 persen, hal yang biasanya hanya didapat oleh acara sinetron atau sepak bola.

 

Dari Masa ke Masa

Di Amerika danEropa, sejarah tayangan reality show memiliki rentang waktu yang panjang. Tahun 1940-1950 reality show sudah diperkenalkan dengan konsep sederhana. Juru kamera melakukan perekaman pada subyek-subyek di mana mereka tidak melakukan adegan berdasarkan naskah, karenanya subyek memang tidak diberikan naskah dan tidak diarahkan. Pada 1960-1970 reality show sudah dimodifikasi sehingga sudah bisa disebut sebagai format yang modern dan kompleks. Tahun 1980-1990 merupakan era game show mulai ditampilkan ditelevisi. Walaupun game show pada akhirnya merupakan format tersendiri, namun kebanyakan game show merupakan reality show juga atau setidaknya gam show adalah format turunan dari reality show. Tahun 2000-an hingga saat ini format reality show sudah melibatkan talent. Di antara reality show yang hingga kini masih digemari banyak penonton yakni ajang pencarian bakat. Tak pelak lagi, ajang bakat bisa dibuat hingga beberapa sesi.

Reality show berkembang di Amerika dan Eropa dengan dengan ciri masing-masing lantas menyebar ke negara-negara lain, baik dalam bentuk adaptasi maupun memang dibuat serupa. Berikut beberapa perkembangan reality show yang populer dari tahun ke tahun:

  • 1948 Candid Camera digagas oleh AllenFunt. Ada yang mengatakan ini menjadi prototype reality show.
  • 1945-1950 Queen for a Day
  • 1946 Cash and Carry
  • 1950 Game show Beat the Clock
  • 1950 Confession. Reality show dengan interviewer JackWyatt. Confession merupakan reality show dengan fokus pada masalah kriminal.
  • 1965-1986 The American Sportsman reality show yang dibuat ditayangkan di televisi ABC Amerika. Ini merupakan reality show yang memperlihatkan kegiatan sehari-hari artis dan keluarganya. Dialog pada acara ini tanpa naskah.
  • 1966 Chelshea Girls ,merupakan reality show dengan konsep direct cinema.
  • 1980 Real People denganproduser terkenal George Schalter di NBC yangkemudiandiikuti diikuti oleh ABC
  • 1989 COPS sebuah reality show terkenal di televisi Fox. Konsep yang digunakan yakni cinema verite
  • 1991 Nummer 28 hadir di televisi Belanda, konsep acara reality show yang melibatkan orang asing
  • 1992 The Real World di MTV terinspirasi dari Nummer 28 yang diciptakan ErikLatour
  • 1997 Expedition Robinson dengan producer Charlie Parson di Swedia. Ini merupakan tonggak reality show yang menggunakan metode kompetisi dan eliminasi.
  • 1996 Changing Room, pasangan dalam acara reality show ini bertukar rumah. Talent melakukan perubahan pada rumahyang ditempati sertamelakukan make over.
  • 1998 Streetmate, reality show yang terkenal di Inggris ini dibuat oleh Gabe sach. Ini merupakan dating reality show. Lalu di Amerika diadaptasi menjadi .
  • 2000 Big Brother, Survivor, American Idol. Inilah era puncak reality show di seluruh dunia. [sumber: wikipedia]

Berkembang dari tahun 1990 hingga 2000 lebih dari 30 jenis reality show diadaptasi. Dalam singing competition ada Idols, Star Academy, The X Factor. Ajang bakat atau talent show: Got Talent, Top Model, Masterchef. Dan yang merupakan reality game show: Deal or No Deal, WhoWants To Be Amilionaire dan Waekes Link diadaptasi lebih dari 50 negara. Di India, Indian Idol sangat populer hingga sesi 6.

Beragam Varian Genre Reality Show

Mulanya reality show dianggap sebagai acara yang tanpa skenario dan apa adanya. Barangkali hal ini karena dari penamaan genre itu sendiri “reality show” atau pertunjukkan realitas. Namun yang dianggap sebagai realita apa adanya ini nyatanya menuai kritik. Karenanya program reality show dianggap menjadi acara yang “scripting without paper”. Dan pada perkembangannya, acara feature reality show melahirkan genre-genre baru.

Di antara genre tersebut ada yang memilah menjadi: gamedoc, dating program, makeover program, docusoap, talent contest, court program, reality sitcom, dan celebrity variations.

Gamedoc format permainan dikemas untuk tayangan di televisi. Dating program, menyatukan pasangan yang sebelumnya tidak saling mengenal. Pada program ini dipilih pasangan mana yang memiliki kecocokan satu sama lain. Take Me Out merupakan salah satu reality show dating program yang sukses dan banyak diadaptasi diberbagai negara. Make over program, mengubah penampilan seseorang menjadi lebih menarik. Bisa juga mengubah ruang bahkan rumah. Music Television atau MTV pernah memiliki program make over. Docusoap, reality show yang menempatkan beberapa talent di suatu ruang tertentu sehingga akan muncul beragam konflik. Talent contest atau ajang pencarian bakat, inilah reality show yang paling banyak peminatnya baik dari sisi kontestan maupun pemirsanya. Idols, Masterchef, X-Factor, dan The Voice adalah contoh talent contest yang dikemas sedemikian rupa sehingga menjadi show yang tampak sangat grande.

Kategorisasi lain ada pula yang berdasar: Real-life participants yakni acara reality show dengan mengambil pemain bukan yang bukan aktor. Unscripted performance, dibuat dengan tidak menggunakan nakah samasekali, si pembuat sengaja membuat situasi. Voice over narration, pengadegan diambil seperti apa adanya namun nantinya dibuat narasi untuk voice over. Observation/ surveillance, pengamatan atau pengambilan gambar dengan hidden camera atau kamera tesembunyi. Voyeurism, emosi yang ditampilkan adalah nyata. Dan terakhir adalah audience participant, yakni reality show dengan melibatkan audiens “siapapun”.

Cinema Verite dan Direct Cinema dalam Reality Show

Pendekatan pembuatan reality show tak lepas juga dengan sejarah perfilman. Setidaknya ada dua pendekatan dalam pembuatan film yang juga berpengaruh pada pembuatan reality show yakni Cinema Verite dan Direct Cinema. Cinema Verite mengetengahkan realita secara sederhana dan apa adanya, yang diyakini dapat mempertahankan dan menjaga spontanitas aksi dan karakter lokasi otentik sesuai realita. Karenanya, ada yang menyebut pendekatan ini sebagai Spontaneous Cinema atau etnographic film.

Gaya Cinema Verite yang oleh Michael Rabinger dianggap sebagai semangat awal pembuatan film dokumenter ini kemudian baru berkembang di Amerika pada dekade 1960-an, dengan nama Direct Cinema. Perbedaan kedua pendekatan ini ada pada cara membangun dramatika atau konflik. Jika Cinema Verite cenderung agresif, maka Direct Cinema nampak lebih pasif. Bahkan, Cinema Verite terkadang menjadi provokator atas terjadinya konflik dalam film. Berbeda dengan Direct Cinema yang cenderung menunggu apa yang terjadi di depan kamera.

Pengaruh pendekatan pembuatan film dokumenter ini berpengaruh pula pada pembuatan reality show. Oleh karenanya bisa kita lihat bagaimana perbedaan reality show yang dibuat oleh negara Eropa dan reality show yang dibuat Amerika. Perbedaan juga akan terlihat dari bagaimana suatu negara mengadaptasi reality show dari negara semula. Hal ini biasanya sangat terkait oleh budaya masing-masing negara. Maka misalnya acara ajang bakat memasak Masterchef UK akan berbeda dengan Masterchef Aussie, pun akan berbeda dengan Masterchef India dan Masterchef Indonesia.

Reality Show di Indonesia

Tidak kurang dari 50 acara reality show menjamur ditayangkan televisi Indonesia, namun demikian acara reality show di negara kita “telat” 30 tahun dibanding televisi yang ada di Amerika. Reality show baru berkembang tahun 90-an. Namun jika game show masuk pada genre reality show, maka tahun 80-an tentu sudah ada dimana TVRI masih mejadi satu-satunya televisi di Indonesia. Awal 90-an era televisi swasta berkembang, berbagai format acara yang sebelumnya tidak adapun menjadi ada dan bervariasi termasuk format reality show.

Merunut pada berbagai varian genre reality show, maka beragam reality show ditelevisi Indonesia terus bermunculan, baik sebagai program adaptasi, franchaise, maupun yang benar-benar asal jiplak. Bagaimana sebuah acara televisi dijiplak oleh production house atau televisi, pada kesempatan lain akan menjadi bahasan sendiri.

Sudah ada puluhan acara reality show datang dan pergi meninggalkan layar televisi di Indonesia. Acara reality show tersebut di antaranya Paranoid, Katakan Cinta, Tolong, Bedah Rumah, Kena Deh, Ketok Pintu, Temehek-mehek, Dunia Lain, Play Boy Kabel, Uang Kaget, Realigi. Belum termasuk reality show yang diadaptasi atau hasil dari franchise di antaranya Super Trap, Big Brother Indonesia, Masterchef Indonesia, Indonesian Idols, Indonesian Top Models, Indonesian Got Talents, dan Hell Kitchen.

TV Reality, Kanal Khusus Reality Show

Banyaknya minat pemirsa pada acara-acara genre reality show menjadi bidikan tersendiri bagi para pebisnis kanal atau saluran-saluran televisi. Maka kini terdapat beberapa kanal televisi yang isinya dikhususkan bagi genre ini. Kanal-kanal itu sebagian besar ada pada pay television atau televisi berbayar, di antaranya: Fox Reality (Amerika), Global Reality Channel (Kanada), Zone Reality (Inggris), Cravo, E!, TLC, dan History. Acara krimininal, fashion, gaya hidup, hingga sejarah menjadi pilihan spesifik kanal televisi reality ini. Seperti pada kanal-kanal televisi lain di televisi berbayar, kanal-kanal ini ada selama duapuluh empat jam dengan tiga atau dua pengulangan/rerun setiap harinya.

Sukses di televisi, biasanya akan diikuti juga dalam bentuk home video. DVD serial reality show bisa didapat untuk memenuhi pemirsa yang ketinggalan dalam menyaksikan reality show kesukaannya. Acara reality show yang dikemas dalam cakram DVD antara lain Laguna Beach, The Real Orange Country, The Amazing Race, Project Runaway, serta America’s Top Model.

Reality Show Saat Ini

Tahun 2014 lalu majalah mingguan Week Entertainment mencatat bahwa reality show telah mengalami stagnasi. Puncak kejayaan reality show ada pada rentang 90-an hingga 2000-an. Itu terjadi di Amerika, Eropa, dan Asia. Acara ajang bakat suara seperti The Voice yang dibesut oleh John De Mol sukses diadaptasi oleh 50 negara di dunia. Namun di Indonesia, acara yang ditayangkan di Indosiar ini tergolong kurang sukses. Berbeda misalnya dengan X-Factor yang ditayangkan oleh RCTI. Bisa jadi ada beberapa faktor kenapa The Voice yang sangat populer di Amerika itu kurang diminati pemirsa Indonesia. Pasang surut reality show yang didadaptasi banyak negara ini tampak juga pada Indonesian Idol, ada sesi yang sukses ada juga sesi yang biasa saja.

Acara reality show, utamanya talent show yang melibatkan para talent yang banyak ternyata tidak benar-benar mati. De Academy dan The Terong Show hingga kini bisa meraih rating dan share yang sangat tinggi dan sering kali masuk pada jajaran top three raihan rating dan share di televisi Indonesia.

Kreatifitas dan Adaptasi

Inggris, bisa dibilang sebagai negara yang paling produktif menciptakan acara-acara reality show yang takhanya populer di negaranya sebab beberapa reality show besar lahir di sana dan banyak diadaptasi oleh puluhan negara lain. Di Inggris, creative house berkembang pesat. Creative house konsentrasi pada pembuatan bagaimana sebuah program akan menarik. Dari ide hingga akhirnya menghasilkan production’s bible yang nantinya menjadi semacam paduan bagi siapapun yang mengadaptasi program yang mereka ciptakan.

Kreatfitas tanpa batas bukan menjadi basa-basi, sebab creative house tak dibebani apa yang dialami oleh production house atau stasiun televisi. Creative house tidak memikirkan bagaimana pembiayaan sebuah produksi reality show. Mereka ”hanya”mencipta dan terus mencipta. Reality show bisa dicipta darimana saja, The taster misalnya merupakan reality show yang terinspirasi video game.

Reality Show yang Menuai Kritik

Sebagai program televisi yang banyak dinikmati orang utamanya untuk hiburan, reality show juga menuai banyak kritik. Sebagian orang meragukan apakah reality show benar-benar dibuat tanpa skenario? Karena sebetulnya reality show walau seolah tanpa naskah, ia memiliki semacam naskah awal atau pre-script yang dikenal dalam dokumenter. Dalam reality show nyatanya ada premediated scripting. Demikian pula dengan akting di dalamnya, beberapa reality show didalmnya ada talent yang diakui atau tidak, ada akting didalamnya. Yang paling kentara tentu saja ada editing. Semenjak era tahun 1993 beberapa realityshow memasukan footage lain karena sudah dikenal dengan non linear editing ini diawali oleh kehadiran Avid Editing System. Ya artinya”keutuhan” reality show sebetulnya sudah terkontaminasi oleh penyuntingan gambar tadi.

Namun kritik yang paling nampak justru bukan dari para pemerhati acara televisi. Kritik hadir dari pemirsa awam. Untuk acara ajang bakat, beberapa penonton meragukan independensi para juri. Ini tak hanya di Indonesia, di luar sana pun demikian. Budayawan Goenawan Muhamad dalam satu cuitan di twitter pernah mengatakan “Jika tak bisa mendidik, setidaknya acara televisi jangan membohongi publik”. Ia tentu saja tak mengkhususkan pada acara televisi tertentu. Beberapa tahun silam acara reality show dengan konsep candid camera juga mendapat banyak kritik, karena salah satu acara reality show bahkan nyaris mendapat korban. Di kemudian si pengelola acara minta maaf dan acara tersebut dihentikan. Stasiun televisi yang meyiarkan serta si pembuat acara televisi termasuk reality show, jika abai pada kritik dari masyarakat tentu akan merugi. Bisa jadi acara televisi benar-benar akan ditinggalkan.

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s