Acara Televisi: Ada Penonton yang (Tidak) Ditonton

Acara Televisi: Ada Penonton yang (Tidak) Ditonton
Diki Umbara

Satu jam tiga puluh menit lagi acara ajang bakat musik dimulai, di pintu gerbang studio ratusan penonton antri. Dengan terlebih dahulu melewati pemeriksaan sekuriti, satu per satu dari mereka mulai memasuki studio yang dari luar nampak seperti tenda giant.

Dengan bantuan pengeras suara, seorang Floor Director mengatur penonton, dan kini studio sudah nyaris penuh. Mereka duduk rapi dari mulai row paling depan hingga barisan di trap paling ujung. Lantas Floor Director atau lebih sering disingkat sebagai FD menjelaskan tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan penonton saat di dalam studio. Briefing ini dimaksudkan agar acara berjalan lancar tak ada gangguan dari tribun penonton. Acara masih tiga puluh menit lagi, dentuman musik mengalun dengan beat agak cepat. Penonton di studio nampak senang, sebab tak akan lama lagi mereka akan melihat penampilan artis calon artis yang diidolakan.

Menonton langsung pertunjukan tentu saja akan memberikan kesan tersendiri, itulah sebab acara musik selalu dipenuhi oleh penonton, baik untuk pertunjukan yang mengenakan tiket masuk dan apalagi pertunjukan yang memang digratiskan. Pun demikian untuk berbagai pertunjukan musik yang dikemas sedemikian rupa oleh televisi, ada kalanya penonton menjadi bagian tersendiri dari pertujukan tersebut. Namun untuk acara musik televisi yang dilakukan reguler apalagi striping, nyatanya tak mudah mendatangkan penonton yang ingin menyaksikan acara ini.

aries

ilustrasi: Kintil

Penonton Bayaran

Mulanya sekitar sepuluh tahun lalu, untuk mendapatkan penonton di studio yang setia mengikuti acara sedari awal hingga acara usai sangatlah sulit. Terlebih penonton yang bisa diarahkan sehingga bisa mengikuti keinginan dari si pembuat acara. Kebutuhan inilah yang melahirkan apa yang dinamakan sebagai penonton bayaran. Kenapa disebut sebagai penonton bayaran karena memang penonton demikian benar-benar dibayar untuk keperluan agar suatu acara bisa ditonton di lokasi shooting. Penonton ini ia akan menyaksikan acara dari mulai awal hingga selesai, terjadilah simbiosis mutualisme: televisi mendapat penonton langsung saat acara, penonton mendapat hiburan dan sedikit uang.

Agensi, Sang Penyalur Penonton

Seorang produser televisi menyodorkan tangannya. Setelah sedikit basa-basi, Harsono begitu ia dipanggil namanya merupakan satu di antara beberapa pemilik agensi penonton yang cukup dikenal di kalangan orang televisi, mulai menanyakan berapa banyak penonton yang diinginkan serta kategori penonton apa yang diperlukan oleh produser tersebut. Setelah diberi penjelasan detail, tak lama kemudian kesepakatanpun mereka buat.

Kini sudah ada beberapa agency yang mengurusi soal penonton bayaran tersebut, selain Harsono ada Nia Agency dan Elly Agency. Dari para agency inilah berbagai acara televisi yang memerlukan penonton saat acara berlangsung tersedia. Di lapangan para agensi ini akan menurunkan korlap atau koordinator lapangan. Korlap penonton inilah yang akan mengatur bagaimana para penonton ini tiba hingga pulang selepas acara.

Kenapa Perlu Penonton Langsung?

Tidak semua acara televisi membutuhkan acara yang harus ada penotonton di lokasi. Beberapa acara yang memerlukan penonton di antaranya acara musik, kuis, talkshow, serta acara dengan format variety show. Seorang manajer produksi salah satu stasiun televisi menjelaskan bahwa pentonton dilokasi shooting diperlukan agar acara bisa lebih hidup.

Untuk acara musik misalnya, bisa jadi penonton sebetulnya membludak hanya saja kebiasaan penonton kita yang pasif. Jadi penonton bayaran inilah yang didesain sedemikian rupa agar mereka bisa lebih aktif. Penonton bayaran dengan mudah untuk diarahkan, menari, ikut menyanyi, tepuk tangan, dan lain sebagainya.

Bagi sebagian pengisi acara, dengan kehadiran penonton di tengah-tengah mereka yang ikut antusias dalam turut menyanyi seringkali akan membuat mereka lebih semangat. Penonton menjadi semacam akselerator kemeriahan panggung acara, bahkan di bawah terik matahari atau guyuran hujan sekalipun. Bagi penyelenggara acara, penonton akan berfungsi sebagai ambiens. Kehadiran penonton akan menambah riuh yang dalam keadaan tertentu hal ini diperlukan. Dengan demikian acara akan tampak lebih hidup.

Tidak Semua Penonton Dibayar

Hingar bingar studio televisi dengan ratusan penonton nyatanya tidak selamanya juga karena penonton bayaran, sebab beberapa acara memang tidak melibatkan penonton bayaran sama sekali. Mereka merupakan penonton yang suka rela untuk menyaksikan acara tersebut. Acara ajang bakat yang digelar di studio misalnya, di sana akan hadir penonton yang bisa bertahan berjam-jam untuk mengikuti acara tersebut. Pada acara pencarian bakat kerap akan hadir penonton yang dengan sengaja ikut mendukung salah satu kontestan, mungkin dibayar mungkin juga tidak. Yang jelas bagi pertunjukan semacam ini, penonton menjadi bagian penting sebab hal ini bisa dikaitkan sebagai dukungan tertentu. Semakin meriah penonton pendukung setidaknya akan mempengaruhi pula bagi si kontestan di atas panggung.

Penonton di Mata Penonton

Di mata penonton televisi, tak begitu sulit untuk mengidentifikasi mana penonton bayaran dan mana penonton yang pure atau benar-benar sukarela sebagai penonton, tanpa dibayar. Pada acara-acara musik tertentu, penonton bayaran akan tampil sangat dekat dengan stage atau bahkan benar-benar menjadi bagian di atas panggung. Siapapun penyanyi dan apapun yang dinyanyikan, kerap penonton yang dekat dan atau sepanggung dengan penyanyi tersebut, tarian si penonton selalu itu-itu saja. Karenanya dengan mudah penonton melihat kalau itu sebagai penonton bayaran. Walaupun saat ini beberapa agency sudah sadar akan hal itu, dengan demikian ia akan memberikan arahan untuk tidak asal joget misalnya. Dan hal yang paling mencolok, beberapa penonton menggunakan pakaian dengan gambar produk tertentu.

Apakah penonton itu mengganggu bagi penonton televisi yang tidak berada di lokasi di mana acara itu berlangsung? Bisa iya, bisa juga tidak. Program Director atau PD yang memandu acara di belakang layar ia mestinya pandai pada bagian mana saja penonton di lokasi itu diambil untuk ditayangkan dan pada bagian mana justru mereka tidak akan ditampilkan. Sebab PD mestinya bisa mewakili penonton televisi, sehingga ia bisa memilah-milah perihal itu. Jangan sampai penonton televisi justru merasa terganggu dengan kemunculan penonton di layar televisi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s