Video Jurnalis, yang Serba Bisa di Televisi

Video Jurnalis, yang Serba Bisa di Televisi
Diki Umbara

Sebuah telpon masuk redaksi, ada kejadian yang disampaikan oleh seseorang di mana ia menjadi salah seorang saksi mata. Di perbatasan kota di hari yang masih pagi buta terjadi beberapa tembakan. Tidak ada desas desus sebelumnya, pengepungan sebuah rumah baru saja berlangsung. Namun penelpon ke sebuah televisi tersebut tak menyebutkan secara rinci apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Tak lama berselang ada informasi serupa dari pelapor lain. Redaksi memutuskan untuk segera mengirim tim liputan ke lapangan. Di newsroom, produser dan dan timnya sedang mempersiapkan berita pagi. Kini jam menunjukkan pukul tiga, artinya masih ada dua jam sebelum berita pagi itu tayang. Kabar tentang penyerbuan sebuah rumah di sebuah perbatasan sudah sampai di newsroom. Tim redaksi menginginkan yang serupa pertempuran tersebut bisa naik di berita pagi. “Kalau bisa live dari lapangan, kita kirim video jurnalis sekarang!” demikian perintah pimpinan redaksi di hadapan produser dan koordinator liputan saat itu.

Video Jurnalis yang Siaga

Tidak ada waktu yang cukup untuk redaksi jika harus mengirim tim liputan lengkap. Jika sebuah tim lengkap dikirim untuk melakukan siaran langsung dari lapangan, maka setidaknya aka nada dua mobil yang disiapkan yakni OB Van atau Outside Broadcast Van yakni mobil berjenis van yang berisi peralatan vision mixer, audio mixer, serta peralatan uplink ke satelit , serta mobil tim liputan yakni cameraman dan reporter. Untuk menyiapkan itu semua tentu tidak bisa sangat segera, kendala agar segera cepat sampai di lokasi jadian juga merupakan persoalan tersendiri. Namun kini ada solusi lain, yakni mengirim video jurnalis. Ya video jurnalis bisa bekerja seorang diri.

Dengan briefing dari produser terlebih dulu sang video jurnalis sudah paham dengan apa yang mesti ia lakukan pagi buta ini. Berbekal surat tugas dari koordinator liputan dan produser tadi ia segera menuju bagian logistik. Daftar peralatan apa saja yang mesti dibawa disodorkan pada petugas logistik; kamera, batere, tripod, serta serta sebuah pc. Dalam hitungan menit peralatan tersebut kini sudah berada di tangan sang video jurnalis. Perlatan dalam kondisi prima, sehingga sang VJ yakin dan akan segera berangkat menuju lokasi.

Kali sang VJ tak berangkat sendirian, ia ditemani seorang messenger. Messenger adalah petugas yang mengirim materi hasil liputan reporter dan cameraman di lapangan agar materi segera sampai di newsroom untuk kemudian diingest lantas diedit. Dengan tas ransel di pundak, kamera didekap, serta tripod berukuran kecil, meluncurlah sang VJ dan messenger menggunakan motor. Jalanan yang lengang di pagi buta, tak sampai tiga puluh menit mereka tiba di sebuah perbatasan kota, tepatnya perbatasan tiga provinsi sekaligus; Jakarta, Jawa Barat, dan Banten.

Di Lapangan, Apapun Bisa Terjadi

Di luar sana profesi Video Jurnalis sudah terkenal sebab sepuluh tahunan lalu sudah ada, namun di Indonesia profesi ini bisa dibilang masih relatif baru. Video jurnalis, ia sebenarnya merupakan padu padan tiga profesi sekaligus yakni cameraman, reporter, dan editor. Yang berarti dengan satu orang inilah kegiatan jurnalistik bisadi kerjakan. Secara teknis ia harus bisa mengoperasikan kamera dan melakukan penyuntingan gambar, di sisi lain ia mesti pandai dalam penulisan naskah dan reportase yang di dalamnya berarti ia harus cakap dalam pengumpulan data, riset, dan kegiatan penunjang jurnalistik lainnya.

Tiba di lapangan sang VJ segera melakukan perekaman gambar, dengan cahaya yang minim ia segera mengadjust iris yang ada di kamera. Beberapa momen tak luput dari bidikan HD Videocamnya, kamera mungil namun beresolusi tinggi ini sudah ia pahami betul fitur-fiturnya. Sebelum melakukan pengambilan gambar lain ia menghampiri beberapa warga untuk mengorek informasi perihal kejadian penyerbuan salah satu rumah yang masih berlangsung ini. Dari hasil negosiasinya, salah satu warga bersedia juga diwawancara. Kali ini sang VJ tak menggunakan tripod, sebab dengan handheld ia merasa nyaman untuk wawancara. Jadi ketika misal tiba-tiba ia harus bergegas dalam perekaman gambar lain dengan mudah ia bisa melakukannya.

Tak lama berselang hape sang VJ berbunyi, rupanya ia dapat panggilan dari newsroom televisi di mana ia bekerja. “Empat puluh menit lagi berita pagi akan dimulai, messenger sudah bisa segera mengirim materi liputan kamu sekarang. Atau memungkinkan kalau kamu bisa live nanti?” demikian produser di ujung telpon memberi opsi. Ada beberapa alasan kenapa kejadian itu mesti disiarkan langsung. Rupanya ini bukan penggerebekan teroris biasa, di balik itu semua ada dugaan melibatkan orang yang tidak asing di kota ini.

Live on Location,Tak Serumit Dulu

Teknologi saat ini memungkinkan untuk televisi melakukan siaran langsung atau live bahkan di tempat terpencil sekalipun. Salah satu teknologi yang dimaksud yakni penggunaan sinyal telpon GSM. Ya TVU memanfaatkan jalur telpon seluler dalam mengirim data dalam bentuk suara dan gambar. Secara teknis, dari camera disambungkan ke sebuah laptop yang sudah dilengkapi modem. Aplikasi TVU di laptop tersebut akan menerima audio dan visual dari video kamera, lantas data tersebut dikirim dan akan diterima di control room televisi.

Karena menggunakan sinyal telpon selular, maka bagus atau tidaknya gambar dan suara yang diterima tentu sangat tergantung dari sinyal telpon itu sendiri. Jadi pemilihan operator selular mana yang akan kita gunakan tentu menjadi sangat penting. Namun yang jelas, dengan teknologi ini biaya untuk siaran langsung akan jauh lebih murah dan lebih mudah.

Dari data yang dihimpun di lapangan sang VJ bisa memastikan kalau kejadian ini memang penyergapan teroris yang dilakukan seperti mendadak, sebab beberapa warga menuturkan tidak ada hal yang mencurigakan terjadi dari pagi hingga sore sebelumnya. Dan sang VJ rupanya merupakan jurnalis televisi satu-satunya yang pertama tiba di lokasi.

Video Jurnalis Itu All In One

Selain Video Jounalist atau yang lebih simpel dipangggil VJ, ada pula istilah baru yakni Solo Journalist yang pada prinsipnya sama yakni ia bekerja seorang diri: sebagai seorang reporter, cameraman, serta editor. Jadi mulai pra produksi sampai paska produksi bahkan hingga ia melaporkan kejadian secara live dari lapangan. Ya seorang VJ itu all in one karenya ia harus multi-skill dan tentu ini menjadi pekerjaan yang sangat berat. Butuh passion yang tinggi bagi seseorang yang hendak menjadi seorang video jurnalis.

Sebagai reporter, ia memiliki tugas dalam mengumpulkan data, mewawancara, hingga membuat laporan secara lengkap. Sebagai cameraman ia akan mencari memilih subyek, mencari, dan merekam kejadian. Sebagai editor ia akan memilih, memotong, serta menyusun shot-shot menjadi satu kesatuan cerita. Bagi stasiun televisi, dengan adanya video jurnalis ini tentu akan banyak mendapatkan penghematan baik dalam pengeluaran dana hingga efektifitas waktu. Karenanya video jurnalis yang mulanya populer di Amerika, kini juga mulai banyak diterapkan dan direkrut oleh banyak stasiun televisi di Indonesia.

Jam delapan empatpuluh lima pagi di hari yang sama sang VJ yang bertugas tadi tiba di kantor salah satu stasiun televisi berita ternama di Indonesia. Tanpa diduga, ketika ia tiba di newsroom ia mendapat surprise. Pimpinan redaksi menyalami sang VJ sembari mengucapkan selamat, tepuk tangan dari semua yang bertugas di newsroompun menggema. Laporan langsung sang VJ dari tempat kejadian penyergapan teroris di berita pagi di televisi tersebut menjadi perbincangan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s