Bagaimana Untuk Bergabung Dengan Televisi?

Bagaimana Untuk Bergabung Dengan Televisi?
Diki Umbara

 

Keluar dari sebuah ruangan interview, seorang perempuan nampak kurang semangat. Ini berbeda ketika lima belas menit sebelumnya saat ia memasuki ruangan itu, nampak semangat dengan wajah yang ceria. Ya baru saja ia melakukan tahap paling esensi dalam proses melamar di salah satu stasiun televisi baru namun sudah langsung populer itu.

Yang melakukan interview padanya barusan bukan staf HRD, tapi seorang produser sebagai user yang memerlukan personil baru untuk acara yang ia pegang. Sebelumnya perempuan itu sudah melewati dua tahapan lamaran yakni interview pertama dengan HRD dan psikotest dan dalam kedua tahapan tersebut ia dinyatakan lolos, hingga ia mesti menjalankan interview dengan user yang seorang produser tadi.

 tv logo

Tidak sedikit orang pada akhirnya tidak bisa diterima oleh stasiun televisi yang membuka lowongan karena si calon karyawan justru tidak lolos pada tahapan interview dengan user. Ya user inilah yang memiliki peran penting dalam memberikan nilai serta merekomendasikan apakah si A bisa diterima atau tidak. Kenapa demikian? User di televisi berarti ia akan menjadi atasan calon karyawan yang direkrut televisi tersebut. Karena user yang paling tahu kapasitas karyawan seperti apa yang dibutuhkan, karenanya dia mampu menilai apakah si A atau si B layak atau tidak kelak menjadi bawahannya untuk diberikan tugas-tugas sebagai job descriptionnya.

Kembali ke ruangan saat interview tadi, rupanya perempuan sang pelamar merupakan fresh gradute dari kampus dengan akreditasi A untuk jurusan di mana perempuan itu menempuh pendidikan. Saat obrolan pertama dengan produser, awalnya masih cukup meyakinan. Ia mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan sekitar dunia televisi secara umum. Hingga akhirnya ia tampak kewalahan dan nyaris mengalah ketika dia diuji oleh sang produser untuk menulis naskah sebuah tayangan televisi. Ya rupanya perempuan itu melamar untuk posisi creative. Dan contoh naskah yang baru saja ia buat dinilai tidak layak oleh produser. Sang produser menjelaskan bagaimana kalau ia mau membuat program dan meminta kepada yang di hadapannya itu untuk membuat gimmick sehingga program menjadi menghibur. Si pelamar nampak gelagapan, ia nyaris tidak bisa berpikir bagaimana membuat gimmick dalam waktu singkat sedangkan ia tidak pernah diajari untuk membuat itu di kampusnya.

Fresh Graduate vs Berpengalaman

Pada dasarnya televisi memang menerima karyawan baik yang sudah berpengalaman ataupun yang bena-benar fresh gradute. Tidak ada jaminan juga yang sudah berpengalaman bisa dengan mudah bergabung di televisi sebab bisa jadi ia tidak masuk kriteria yang diinginkan. Tapi bukan berarti pula yang fresh gradute tidak bisa masuk bergabunng di televisi tersebut. Yang televisi inginkan tentu yang benar-benar bisa siap bekerja, dengan demikian kontibusinya memang akan terlihat nyata.

Beberapa hal yang barangkali bisa menjadi perhatian untuk para fresh graduate ketika hendak bergabung di televisi. Buatlah lamaran yang tidak kaku, tapi tentu saja tetap mengunakan bahasa resmi. Lulusan broadcasting televisi bukan jaminan juga bisa lebih mudah bergabung bekerja di televisi, walaupun setidaknya bisa jadi itu menjadi point pertama. Yang bukan lulusan broadcasting nyatanya juga banyak yang bisa bekerja di televisi. Buatlah curriculum vitae semenarik mungkin, cantumkan kegiatan-kegiatan yang menurut anda bisa menjadi nilai plus untuk si pembaca lamaran dan pewawancara nantinya. Jika benar-benar fresh gradute, pengalaman magang akan menjadi point sangat penting, karena dengan demikian ia sudah pernah terlibat dalam suatu produksi program televisi.

Show Reel, Contoh Karya Nyata

Selain curriculum vitae, yang menjadi point utama untuk user saat hendak merekrut calon bawahannya adalah show reel. Ya show reel merupakan bukti bahwa anda benar-benar sudah pernah melakukan pekerjaan yang diinginkan. Misalnya saat di kampus anda pernah membuat suatu karya audio visual, maka karya tersebut simpanlah ke dalam bentuk show reel atau bisa juga diupload ke dalam sosial media sehingga saat melamar link show reel anda juga bisa dicantumkan.

Tidak ada aturan sebarapa panjang show reel. Namun untuk keperluan interview, buatlah show reel yang tidak lebih dari lima menit saja. Jika anda melamar untuk posisi penata kamera, tunjukan shot-shot yang menurut anda paling bagus. Jika melamar untuk posisi editor, tunjukan karya anda dengan scene dimana cuting-cutingnya baik. Dan misalnya melamar untuk posisi creative, tentu tunjukan karya yang memiliki keratifitas yang bagus, karya yang memiliki gimmick bagus atau misalnya karya dengan scene yang terdapat dialog-dialog atau narasi yang bagus. Sehingga user akan yakin dengan kemampuan anda, juga anda bisa menjelaskan dengan baik karena terbantu juga oleh apa yang anda pelihatkan itu.

Lebih dari Sekadar Interview

Ketika benar-benar akan diterima untuk bergabung, beberapa televisi ada yang mensyaratkan kelak karyawan barunya itu untuk melakukan training terlebih dulu. Masa ini sekalian dibuat juga sebagai probabition yang waktunya biasa tidak lebih dari tiga bulan. Pada masa inilah si karyawan baru akan mendapat gemblengan sehingga ia akan benar-benar tahu apa yang mesti dilakukan di stasiun televisi tersebut ke depannya. Tidak selesai sampai di sana, selepas mendapatkan training karyawan baru tersebut tidak langsung benar-benar menjalankan tugaskannya secara full namun iya akan didampingi oleh seniornya. Jika tahapan itu terlewati dengan baik barulah ia dipercaya untuk akhirnya menjadi karyawan televisi itu sesungguhnya.

Akan tetapi ada pula stasiun televisi yang tidak membuat tahapan seperti itu, namun untuk sebelum user merekomendasikan bahwa yang diinterviewnya itu bisa bergabung atau tidak hal terakhir yang mesti dilewati oleh calon karyawan tersebut ialah melakukan test praktek. Dalam arti sesungguhnya, user akan meminta calon karyawan televisi tersebut melakukan salah satu elemen dalam job description. Apa yang mesti dilakukan tentu tergantung dari posisi apa yang nantinya akan ditempati. Untuk calon cameraman akan diminta untuk melakukan pengambilan gambar, untuk editor akan diminta untuk melakukan penyuntingan gambar, untuk reporter akan diminta untuk on cam di depan kamera melakukan reporting dan wawancara.

Ketika semua tahapan sebelumnya bisa terlewati dengan baik, belum tentu tahap praktek ini bisa dengan mudah dilewati, sebab ada kalanya calon karyawan tersebut tidak seratus persen siap. Yang mesti dilakukan oleh calon karyawan ketika akan melewati tahap praktek ini tentu saja memang harus benar-benar menguasai terlebih dulu. Jika perlu, cari informasi yang akan membantu agar pada saat praktek bisa dikerjakan dengan baik. Misanya, untuk di stasiun televisi A jenis software editing apa yang digunakan. Jadi calon editor di televisi tersebut sudah harus paham tentang aplikasi editing apa yang dipakai. Jika si calon editor itu paham betul Final Cut Pro misalnya padahal di televisi tersebut menggunakan Avid Composser maka bisa jadi akan sia-sia saja ketika praktek jika si calon editor di televisi tersebut tidak menguasai software Avid. Pun demikian untuk cameraman, ia harus tahu kamera jenis apa yang digunakan di televisi yang ia ajukan lamarannya itu. Secara umum peralatan yang digunakan oleh masing-masing televisi memang tidak jauh berbeda, namun ada kalanya ada juga televisi yang menggunakan equipment dan software yang spesifik yang pada akhirnya menginginkan calon karyawannya sudah mahir dalam penggunaan equipment tersebut.

Hal yang berkaitan dengan bagaimana agar bisa bergabung dengan stasiun televisi yang diidamkan, pada dasarnya nyaris serupa, hal umum itu misalnya tentang basic salary serta tunjangan-tunjangan yang akan didapat. Televisi seperti halnya perusahaan lain tentu sudah punya standar masing-masing, namun ada kalanya hal ini negotiable. Gaji untuk production assistant atau PA misalnya bisa jadi punya range tertentu. Karenanya negosiasi awal ini sangatlah penting, baik dengan pihak HRD maupun dengan user, oleh sebab itu bisa jadi posisi yang sama akan mendapat gaji yang berbeda padahal itu ada di stasiun televisi yang sama.

Adaptasi

Beda stasiun televisi beda pula budaya kerja di dalamnya. Ada yang masih menerapkan senioritas, ada pula yang tidak. Beberapa peraturan tak tertulis itu kadang bisa mempengaruhi juga pada kinerja seseorang. Pun perihal promosi jabatan di antaranya. Apapun siatuasinya, yang memungkinkan dilakukan oleh karyawan baru tentu saja bisa beradaptasi dengan lingkungan barunya itu. Dan hal paling penting tentu saja bagaimana kita bisa benar-benar profesional menjalakan kewajiban kepada perusahaan. Saat kita bisa melakukan pekerjaan yang baik maka lingkunganpun akan merespon pula dengan baik, riak-riak kecil tentu saja ada. Dan itulah seninya bekerja di stasiun televisi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s