Tim Kreatif Televisi Itu Keren!

Tim Kreatif Televisi Itu Keren!
Diki Umbara

Ruang Tim Kreatif sebuah stasiun televisi mendadak gaduh. Kepala departemen kreatif baru saja mengumumkan dua kabar sekaligus. Pertama, salah satu program acara televisi yang mereka buat mendapatkan rating dan share tinggi yang sebelumnya belum pernah dicapai oleh acara tersebut. Tepuk tangan crew yang tergabung di tim kreatifpun riuh. Lalu mendadak hening ketika pengumuman ke dua, yakni satu acara yang sudah lama bertahan mendadak diberhentikan, tidak akan diproduksi kembali.

tvHingga kini rating dan share yang dikeluarkan oleh lembaga atau perusahaan satu-satunya penyelia jasa pengukur pemirsa televisi AGB Nielsen, menjadi barometer untuk televisi dan para pemakai jasa tersebut seperti agency dan rumah produksi. Rating dan share inilah yang membuat para pembuat acara televisi tersenyum atau cemberut kecut. Salahkah lembaga rating tersebut?  Kali ini pembahasan lebih ke bagaimana sebuah acara televisi dibuat sehingga pada akhirnya akan berperan baik langsung atau tidak, pada capaian rating dan share tersebut.

Bagaimana Tim Kreatif Bekerja?

Tidak semua stasiun televisi memiliki departemen kreatif, hanya stasiun televisi besar saja biasanya memiliki departemen ini. Lainnya, tim kreatif tergabung di bawah departemen produksi, atau bahkan di bawah langsung eksekutif produser. Bahkan bisa jadi tak dapat dikatakan sebagai tim kreatif sebab banyak acara yang hanya memiliki satu orang saja kreatif. Namun idealnya tim kreatif itu memang mesti ada. Kenapa demikian? karena tim kreatif akan konsentrasi khusus pada konten-konten acara yang diproduksi oleh televisi tersebut. Pun demikian di production house tentunya. Bahkan di luar sana ada creative house, yakni semacam rumah produksi yang konsen pada hanya pembuatan konsep-konsep program televisi.

Sebagaimana namanya, tim kreatif tidak bekerja sendirian, ada beberapa orang yang tergabung di departemen ini untuk menjadi si pembuat resep agar hidangan atau acara kelak menjadi santapan yang lezat ditonton pemirsa. Resep yang baik tentunya tidak akan terlalu sulit ketika kelak diimplementasikan menjadi program yang baik pula. Karenanya, ia tidak boleh keliru. Uji resep acara televisi biasanya akan berbentuk dummy atau pilot project. Lantas dummy tersebut dievaluasi oleh tim programming, dipresentasikan produser, lalu dibahas bersama agar kelak ketika ditayangkan akan menjadi tontonan yang manarik. Ditonton banyak orang, mendapat rating dan share yang bagus, memancing para pengiklan, mendapatkan pundi-pundi uang.

Ide atau gagasan dasar acara bisa dari mana saja, bisa dari tim programming, dari tim produksi, atau tentu saja dari tim kreatif itu sendiri. Lantas tim kreatiflah yang mengolah itu semua. Hasil akhir dari tim kreatif adalah script atau naskah serta rundown acara. Ya, sehelai rundown dan beberapa halaman naskah itulah yang mesti dibuat oleh tim kreatif. Inilah lembaran-lembaran ajaib yang berikutnya akan menjadi panduan tim produksi untuk mengeksekusinya menjadi sebuah tayangan.

Naskah Semi-Script dan Fully Scripted

Format penulisan naskah kadang berbeda antara program jenis satu dengan lainnya. Bentuk atau format penulisan itu dimaksudkan untuk memudahkan departemen atau crew lain untuk membaca dan mengaplikasikan naskah tersebut. Dalam beberapa hal, ada kalanya naskah kemudian dibuatkan breakdown oleh masing-masing departemen. Naskah semi-script biasanya dibuat untuk format acara reality show sedangkan fully script untuk naskah sinetron atau FTV.

Split Page

Dibuat empat kolom memanjang yang terdiri atas nomor, video, audio, remarks. Pada kolom video, kreatif akan menuliskan gambar apa saja yang diperlukan sesuai dengan gagasannya. Pada kolom audio diisi narasi atau audio dari narasumber/talent. Sedangkan pada kolom remarks akan ditulis keterangan atau catatan khusus jika penulis menginginkan sesuatu yang intinya sebagai catatan juga pada si pembaca naskah tersebut nantinya. Format split page ini biasanya untuk program dokumenter, feature, atau infotainment.

Naskah Fiksi

Format penulisannya seperti pada film, FTV, atau sinetron. Ada scene heading terdiri atas lokasi tempat yang ditandai dengan EXT untuk eksterior dan INT untuk interior. Ada angka yang ditaruh sebelum keterangan tempat. Angka yang dimaksud sebagai urutan scene atau pegadegan. Pada scene heading baris paling kanan ada keterangan waktu yang ditulis DAY untuk suasana siang dan NIGHT untuk menunjukan suasana malam hari. DI bawah scene heading adalah keterangan adegan. Adegan tidak mesti ditulis terlalu mendetail, karena pada dasarnya naskah akan dibuat breakdown script oleh pengarah acara atau sutradara. Persis di bawah keterangan pengadegan ada nama tokoh serta dialog.

Do not direct the script! Demikian saran beberapa penulis naskah serial televisi. Tapi tentu saja naskah juga jangan sampai membingungkan si sutradara dalam mengeksekusi menjadi tayangan televisi nantinya.

Episode by Episode

Beberapa acara televisi seringkali bukan dibuat hanya untuk satu episode. Ada beberapa slasan kesinambungan, acara tersebut dibuat secara serial atau memang rutin ditayangkan: stripping, seminggu tiga kali, atau seminggu sekali/weekly. Tim kreatif harus memikirkan tidak hanya untuk satu episode. Beberapa acara dibuat untuk 13 episode, 26, episode, 52 episode, dan seterunya. Kenapa 13 episode ini sebetulnya mengacu pada acara televisi yang ditayangkan di Amerika atau Eropa. 13 episode berarti ia akan selesai dalam satu musim. Karenanya akan beda untuk 13 episode untuk musim semi dengan 13 episode untuk musim salju. Itu akan berkaitan dengan apakah 13 episode untuk cocok untuk keluarga, untuk musim liburan, dan selanjutnya. Namun demikian, ternyata ini juga dicontoh oleh negera-negara yang hanya memiliki dua musim. Jadi 13 episode di Indonesia tidak berkaitan dengan musim tadi. Walaupun demikian beberapa kontrak acara televisi dibuat seperti itu juga pada akhirnya.

Brain Storming

Sebagai sebuah tim, kreatif tidak bekerja sendirian. Dengan demikian brain storming atau bertukar pikiran akan melahirkan ide-ide yang saling melngkapi. Perihal brain storming ini Fabian Dharmawan, Head of Production RCTI pernah berseloroh, brainstorming itu tidak usah terlalu banyak melibatkan orang karena alih-alih mendapat ide yang bagus malah yang terjadi storming. Ya ada benarnya juga, ada kalanya terlalu banyak kepala dalam merumuskan ide malah tidak terlalu baik. Apalagi ketika acara baru saja akan dibuat. Fabian juga menjelaskan bahwa hampir tidak aad ide yang orisinal, oleh karenanya ketika kita membuat acara televisi baiknya memiliki banyak referensi. Referensi artinya sebagai perbandingan bukan menjiplak. Referensi bisa didapat dengan cara melihat acara televisi serupa di televisi-televisi luar yang memang memiliki program yang bagus.

Kreatif, Tak Ada Sekolahnya

Bagaimana agar kita bisa kreatif? Berpkirlah secara out of the box. Seperti halnya kejujuran, kreatif itu tidak ada sekolahnya. Ini seperti gurauan, tapi demikian adanya. Untuk berpikir kreatif acapkali kita harus memandang sesuatu dari yang orang lain tak melihat demikian. Sesekali ubahlah sudut pandang kita ketika melihat sesuatu. Kalau terbiasa menulis di tempat yang hening, cobalah untuk menulis di keramaian. Suasana yang beda kadang akan mendapatkan hasil yang bisa jadi di luar dugaan. Sesekali menulislah dengan membayangkan Anda sebagai salah satu penonton acara televisi. Minta kritik dari orang yang tidak terlibat dengan acara yang kita buat juga menarik. Bagaimana sebetulnya acara televisi yang baik? Budayawan Goenawan Muhammad pernah bilang, acara televisi itu menghibur dan tidak membodohi pemirsanya saja sudah cukup. Lalu bagaimana agar acara televisi bisa mendapat rating dan share yang bagus? Jika ada formula pasti tentang itu, pasti akan menjadi rebutan para creator acara televisi tentunya. Yang jelas jadi Tim Kreatif Televisi itu, keren!

7 pemikiran pada “Tim Kreatif Televisi Itu Keren!

  1. Setahu saya, jangankan untuk lulusan SMK, bahkan sekarang stasiun televisi berjaringan nasional tidak lagi menerima lulusan D3. Jadi ya mesti S1. Namun tentu ini belum berlaku untuk televisi lokal.

  2. “Setahu saya, jangankan untuk lulusan SMK, bahkan sekarang stasiun televisi berjaringan nasional tidak lagi menerima lulusan D3. Jadi ya mesti S1. Namun tentu ini belum berlaku untuk televisi lokal.” sombong banget sih jawabannya🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s