Lantai Dua Pasar Santa

Lantai Dua Pasar Santa
Diki Umbara

Ada delapan anak tangga yang mungkin orang tak pernah menghitungnya. Menuju kanan, menuju kiri, atau sebaliknya. Tak ada kerutan, sebab semua wajah adalah muda atau menjadi muda.

Seorang lelaki yang tidak terlalu ganteng dikerubuni tiga perempuan di dalam barbershop, tukang cukur  mencuri-curi dengar, mencukur jambang yang mencakar.

Tak ada bunyi klentang klenteng pada serupa tembikar yang sebetulnya terbuat dari kaleng. Dua…tiga…empat orang memasukan uang. Secangkir kopi dari barista yang sedang belajar tersajikan.

Minggu sudah sangat sore, lantai dua Pasar Santa semakin berjejal. Piringan hitam bertumpuk tak begitu rapi atau memang sengaja dibuat tidak rapi, sebab siapa pengunjung siapa penjaja nyaris serupa dan memang tiada beda. Musik mengalun, mencuai melewati berderet kios yang seramai alun-alun.

Di seberang gerai buku, asap-asap sebentar saja menyeruak mengepul ditarik blower. Irisan-irisan daging merah menyala. Di lantai dua Pasar Santa semua atau hampir semua orang enggan pergi ke mana-mana.

Kota kecil di dalam pasar, senyum di mana-mana, seringai nyaris tak ada. Kota ini hendak tutup dan akan ramai kembali pekan depan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s