Tak Ada Roda Bergerak Lama di Jalan Jaksa

Tak Ada Roda Bergerak Lama di Jalan Jaksa
Diki Umbara

Di luar, tukang ketupat menahan kantuk. Tahu dan kuahnya bau asap. Kursi-kursi tidak lagi berjejer rapi, ia bergerak tersaruk-saruk tak ingin sepi.

Volume musik diatur daun pintu cafe yang dibuka tutup tamu. Tamu atau bukan yang benar-benar tamu. Anak anjing enggan masuk. Ia tidak suka musik. Atau barangkali musik memang tak menyukai anak anjing.

Tangan-tangan negro menyandera dua perempuan berlogat Jawa. Satu telapak tangan perempuan itu merintih kesakitan, lainnya tertawa-tawa. Argo taksi masih menyala, angka digitalnya berubah lambat sekali. Argo itu seperti tukang ketupat tadi. Angka katanya, rezeki yang diubah Tuhan.

Dua mulut gang hampir berhadapan, satunya menganga, lainnya remang kekurangan cahaya. Tukang ketupat dan sopir taksi saling bertukar cerita. Lawson dan Alfamart berdampingan tapi enggan bertegur sapa. Barangkali karena merk kondom yang dijual sama tapi harganya memang beda.

Pelantang suara mushola mengeluarkan asap; yang mengubah rezeki diteriaki. Anak anjing bersender di roda taksi. Mata kantuk tukang ketupat memintas jalan. Dua tutup botol bir telungkup kedinginan. Embun bilang, sekarang sudah hari Senin.

Sopir taksi mengantar dua lonte ke tenggara. Negro paruh baya menikam dompetnya. Tiga lembar dollar palsu mengiba-iba. Dua minggu lalu petugas imigrasi tak berseragam menawarkan jasa undang-undang.

Kursi-kursi kafe tersaruk-saruk merapikan diri.

Satu pemikiran pada “Tak Ada Roda Bergerak Lama di Jalan Jaksa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s