Tata Cahaya Televisi, Bukan Asal Terang

  Tata Cahaya Televisi, Bukan Asal Terang

Diki Umbara

Set panggung bagus serta tata cahaya yang sempurna menjadi padupadan beberapa program televisi sehingga acara tersebut menjadi terlihat lebih grande. Sebut saja acara ajang pencarian bakat Indonesian Idols, X Factor, The Voice, dan yang paling terakhir The Raising Star. Efek-efek dari tata cahaya menjadikan ke empat acara televisi tersebut terlihat mewah. Begitulah, bahwa tata cahaya menjadi bagian yang sangat penting dalam acara pertunjukan televisi. Bahkan untuk acara televisi yang sederhana sekalipun.

Rising-Star-1

image source: mlsp.de

Tak ada acara televisi yang tidak membutuhkan pencahayaan, ya karena pencahayaan merupakan salah satu unsur terpenting dalam karya visual. Sebab, pengambilan gambar baik itu diam maupun bergerak adalah melukis dengan cahaya.  Tidak ada cahaya maka gambar itu tidak akan pernah benar-benar ada.

Mulanya dari Konsep

Acara televisi selalu bermula dari gagasan serta konsep acara tersebut. Gagasan dan konsep kerap mesti menyesuaikan dengan format acara televisi itu sendiri. Beda format acara beda pula konsep pencahayaanya, bahkan format acara yang sama bisa jadi konsep pencahayaannya berbeda. Secara sederhana pencahyaan dibutuhkan agar secara visual bisa menarik. Setelah itu baru nilai artistik dari pencahyaan diperhitungkan.

Mengenal Jenis Pencahyaan

Benda apapun itu akan nampak karena ia memantulkan cahaya, artinya kita bisa melihat benda karena ada cahaya lantas diterima oleh mata kita dan seterusnya. Dalam acara televisi (termasuk film terntunya) mengenal dua sumber pencahyaan yakni pencahyaan yang sudah ada atau available light, misalnya cahaya matahari, cahaya dari lampu yang sudah tersedia, lampu jalanan, dan sejenisnya. Dan ada sumber cahaya yang sengaja didesain untuk keperluan pengambilan gambar, pencahayaan jenis ini disebut sebagai artificial light. Untuk shooting di luar ruangan misalnya, bisa saja kita tidak menggunakan lampu sama sekali karena sudah ada cahaya matahari. Pun di ruangan yang sudah ada lampu yang sebenarnya bukan dimaksudkan untuk keperluan shooting.

Intensitas Cahaya

Seringkali tontonan televisi mesti terang merata, karena justru dengan meratanya intensitas cahaya bisa jadi akan membuat mata penonton cepat lelah. Padahal dalam fungsi artistik cahaya bisa menimbulkan dimensi tertentu. Secara teknis, intensitas cahaya bisa diatur sehingga kebutuhan cahaya bisa disesuaikan dengan konsep yang telah dibuat sebelumnya tadi. Ada kalanya dalam panggung ada area dibutuhkan spot cahaya tertentu, ini biasanya dimaksudkan agar penonton bisa fokus pada area itu.

Untuk memudahkan dalam membagi fungsinya, maka penata cahaya akan menentukan cahaya sebagai key light, fill light, back light, dan background light. Key light merupakan pencahayaan utama, ini merupakan pencahayaan yang wajib. Jika pengambilan gambar hanya menggunakan satu lighting, maka dipastikan ia berfungsi sebagai key light. Fill light seperti sebutannya, ia berfungsi sebagai “pengisi” di mana ketika pencahyaan utama sudah ada maka biasanya fill light diperlukan untuk membuat dimensi pada subyek yang mendapat pencahaan tersebut. Sedangkan back light, pencahayaan dari arah belakang subyek difungsuikan agar subyek tidak terkesan menempel pada background yakni agar mendapat kesan tadi, subyek memiliki dimensi alias tidak flat.

Arah Cahaya

Selain intensitas atau banyaknya cahaya dibuat, hal paling penting lagi ialah arah cahaya. Dari atas, depan, belakang, atau samping. Sumber cahaya setidaknya harus logis juga pada akhirnya, pencahayaan yang frontal biasanya untuk efek tertentu misalnya dalam pertunjukan musik atau video klip. Secara “normal” arah sumber cahaya biasanya dari atas atau top light. Dengan pencahayaan dari atas tidak akan mengakibatkan talent yang ada di panggung silau karena jatuhnya cahaya.

Warna Cahaya

Secara sederhana setidaknya ada dua jenis warna cahaya yang lazim diperuntukkan dalam acara televisi yakni day light dan tungsten. Day light cenderung normal karena warna cahaya yang dihasilkan netral sehingga ia tidah “mengubah” warna kulit manusia, sedangkan tungsten cenderung kekuning-kuningan. Untuk menimbulkan efek warna cahaya biasanya diperlukan light filter. Ada beragam filter cahaya seperti biru, merah, oranye, kuning, dan lain sebagainya. Efek-efek warna cahaya ini diperlukan untuk menambah nilai artistik. Pertunjukan musik kerap kali menggunakan berbagai efek sehingga warna yang dihasilkan sesuai dengan yang diinginkan.

Cahaya untuk Shooting Multikamera

Sebenarnya hamper sama saja kebutuhan cahaya untuk pengambilan gambar dengan menggunakan single kamera atau multikamera dengan menggunakan sistim. Tata cahaya yang baik akan menghasilkan gambar yang baik dari segi pencahayaan. Secara teknis, untuk keperluan shooting dengan menggunakan system multikamera, akan dibantu dengan CCU atau Camera Control Unit. Masing-masing kamera dikontrol pencahayaanya oleh masing-masing CCU yang terintegrasi.

Pada pertandingan sepak bola misalnya, seorang CCU-man yang bertugas mengoperasikan CCU, ia akan mengadjust masing-masing kamera. Karena bisa jadi pencahaan di kamera satu akan berbeda dengan pencahayaan di kamera dua dan seterusnya. Ketika kamera satu mendapat mengambil gambar subyek dengan pencahayaan rendah, CCU-man akan menambahkan iris sehingga antar kamera akan mendapati brightness yang sama. Gambar dengan close shot atau shot padat bisa jadi akan berbeda dengan gambar dengan yang wide, karena misalnya subyek yang close shot kebetuan ada di area yang pencahayaanya kurang.

Bekerja dengan Breakdown Sheet

Untuk acara-acara televisi yang memiliki treatment yang berbeda-beda setiap segemennya maka diperlukan breakdown sheet. Ini serupa lembaran yang kelak dijadikan panduan oleh penata cahaya. Breakdown sheet dibuat berdasarkan rundown yang telah dibuat oleh produser atau tim kreatif. Misalnya pada opening segmen, tim kreatif ingin pencahayaan dimulai dengan semburat cahaya yang jatuh pada panggung, maka chief lighting akan membuat catatan pada segmen satu tersebut. Atau misalnya, ketika host berjalan produser atau kreatif menginginkan pencahayaan yang mengikuti host ketika berjalan menuju stage maka dalam breakdown sheet dibuat catatan kebutuhan follow spot.

Segmen demi segemen acara dibuat catatan tentang konsep pencahayaan dan kebutuhan cahaya yang berarti kebutuhan lampu yang diinginkan. Breakdown sheet lighting dibuat semudah mungkin sehingga ia bisa dipahami oleh semua crew lighting. Jadi, ketika chief lighting menjelaskan pada anak buahnya akan lebih mudah.

Tidak Asal Terang

Ada istilah astrada yang semestinya merupakan akronim dari asisten sutradara diplesetkan menjadi asal gambar terang ada. Semacam olok-olok pada tata cahaya yang hanya mengandalkan asal terang saja. Apakah sepenuhnya salah? Bisa jadi iya. Gambar dengan pencahayaan yang asal terang tentu tidak akan menghasilkan visual yang artisktik. Bisa jadi mata penonton akan cepat lelah ketika mesti melihat gambar yang konsisten dengan pencahyaan yang pekat. Dengan demikian, asal terang itu mesti segera ditinggalkan. Penata cahaya apa salahnya untuk memanjakan mata para penonton acara televisi tersebut.

Karena Cahaya, Menjadi Indah

Begitulah tata cahaya, ia akan menjadikan program acara televisi menjadi artistik, indah dan mengagumkan. Ia tidak sekadar enak dipandang mata, lebih dari itu ada nilai seni di dalamnya. Seorang penata cahaya adalah seorang pelukis yang memanfaatkan medium cahaya sebagai bahan baku utamanya.

2 pemikiran pada “Tata Cahaya Televisi, Bukan Asal Terang

  1. Ping balik: LIGHTING | Bibah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s