Produser Televisi, Bagaimana Ia Menjalankan Program Acara?

 Produser Televisi, Bagaimana Ia Menjalankan Program Acara?

Diki Umbara

Di ruang programming, preview sebuah acara televisi berlangsung. Selesai sampai pada credit title, semua yang hadir di ruangan bertepuk tangan. Kini produser mempersilakan tim programing untuk mengulas apa saja kelebihan dan kekurangan dari acara tersebut.

Kritik tajampun baru saja dimulai. Begitulah sampai akhirnya program benar-benar nantinya ditayangkan di sebuah stasiun televisi. Ada proses yang panjang dilalui sehingga programing memutuskan tentang plotting tayang acara, berapa episode yang mesti dibuat berikutnya, dan seterusnya.

Bermula Dari Ide

Beda stasiun televisi nyatanya beda juga bagaimana sebuah acara dibuat, walaupun secara umum selalu bermula dari tahapan ide, pra produksi, produksi, dan paska produksi. Ide atau gagasan acara bisa dari mana saja, bisa dari programing atau dari departemen kreatif. Lantas ide yang semula masih sebagai jabang bayi itu dikembangkan menjadi konsep yang pada akhirnya nanti bisa dieksekusi oleh tim produksi.  Di sinilah produser sudah mulai kerja. Ia mendiskusikan perihal konten acara dengan tim kreatif. Tim kreatif tentu ia akan membuat sesuatu yang “liar” tak terbatas, namun mereka mesti “realitis” agar acara bisa dibuat. Karenanya diskusi dengan produser akan intens dilakukan karena produser yang lebih tahu dan akan menyesuaikan dengan budgeting, equipment, serta sumber daya manusia atau crew yang dimiliki stasiun televisi tersebut.

Perencanaan Produksi

Ketika ide sudah dituangkan ke dalam bentuk rundown acara di mana minute by minute sudah tertulis detail maka produser sudah bisa melakukan langkah yang sangat krusial, yakni perencanaan produksi. Agak berbeda dengan production house, crew untuk produksi sudah tersedia. Beberapa televisi memasukan crew di bawah departemen supporting. Jadi produser tidak membuat kru produksi, tapi menyusun kru yang oaring-orangnya diminta dari atau diberikan oleh departemen support tadi.

Seberapa banyak kru yang dibutuhkan akan disesuaikan dengan besar kecilnya suatu produksi. Untuk acara berjenis lite program bisa jadi hanya butuh 5 orang saja, tentu beda misalnya denga program besar seperti kuis atau acara music yang krunya bisa mencapai puluhan orang. Beberapa program bahkan ada yang memerlukan kru hingga ratusan.

Di hadapan masing-masing kepala departeman, produser memaparkan gagasan tentang acara tersebut. Dengan demikian masing-masing departemen akan paham baik secara konten maupun kebutuhan teknis yang diperlukan. Konsep yang tertuang dalam desain produksi yang telah ia susun sebelumnya dipaparkan secara detail. Dalam meeting pra-produksi inilah secara cermat produser mengungkapkan dengan cermat, sehingga kelak ketika produksi berjalan tidak ada hal yang tidak dipahami oleh kru yang akan terlibat. Selepas presentasi, masing-masing kepala departemen akan mengajukan pertanyaan atau usulan. Pertemuan berikutnya, produser menagendakan technical meeting.

Departemen Kreatif, Sang Juru Masak Acara

Jauh sebelum presentasi produser di hadapan masing-masing perwakilan departemen tadi, produser akan terlibat diskusi dengan tim kreatif. Ide atau gagasan yang sebetulnya bisa datang dari siapa saja bahkan bisa jadi usulan dari departemen programming, diolah sedemikian rupa oleh tim kreatif. Tim ini ibarat seorang professional chef, ia yang menciptakan menu dalam hal ini konsep acara televisi yang kelak akan dijabarkan oleh produser.

Acara televisi, utamanya berupa serial, ia tidak boleh hanya memikirkan satu episode saja namun mesti memikirkan serial episode berikutnya. Seorang konseptor acara televisi pernah berujar: Write the guidelines for the show detailing the content for episodes throughout the season. Artinya tim kreatif di mana di dalamnya ada penulis ia mesti memikirkan konten secara detail untuk tiap musim. Di pelbagai televisi biasanya akan dibuat per 13 episode dan kelipatannya. Hal ini sebetulnya mengacu pada televisi di Amerika dan Eropa yang mengenal 4 musim, namun Indonesia yang hanya mengenal 2 musim mengikuti jejak kebiasaan televisi di luar sana. Jadi, tim kreatif akan menyuguhkan menu tema dengan konsep lengkapnya sebanyak 13 episode dan seterusnya.

Menyusun Budget Produksi

Membuat budget produksi seringkali bukan merupakan pekerjaan produser televisi, ia “hanya” menyesuaikan berdasar budget yang sudah dianggarkan oleh bagian keuangan. Bagimana departemen finansial ini bisa mengaggarkan sebuah produksi televisi? Mereka biasanya sudah memiliki semacam platform anggaran produksi berdasar tipe acara. Walapun sebelum budgeting itu benar-benar direlease dengan persetujuan direktur keuangan, biasanya ada hitungan-hitungan di mana hal demikian sebelumnya dipresentasikan oleh eksekutif produser.

Namun tak sampai di situ, produser mesti piawai bagaimana ia mengelola budget tersebut. Produser mesti cermat bagaimana misalnya menyusun anggaran yang seperti halnya konsep per 13 episode tadi, sehingga biaya produksi setiap episodenya menjadi presisi seperti yang telah dianggarkan sebelumnya. Produser bisa saja melakukan subsidi silang untuk beberapa episode, artinya masing-masing episode tidak sama persis biayanya, namun ketika semuanya dikalkulasi per 13 episode dan kelipatannya sama dengan yang telah dianggarkan. Kenapa hal ini bisa terjadi? Karena bisa saja biaya masing-masing episode pada kenyataanya memang membutuhkan biaya yang berbeda.

Budget produksi yang dikeluarkan sebetulnya bisa jadi tak persis angkanya, namun semua itu mesti dihitung, misal untuk penggunaan equipment atau perlatan shooting tak mengeluarkan uang karena alat sudah disediakan oleh si stasiun tv, untuk kpentingan budgeting semuanya mesti dihitung, pun dengan biaya untuk sumber daya atau crew, studio, dan semua unsur lainnya.

Menyusun Kru

Setidaknya ada dua cara bagaimana produser menggunakan sumber daya manusia atau kru yang akan dilibatkan dalam produksi acara televisi. Pertama dengan membangun kru, yakni benar-benar menentukan kru siapa saja yang akan dilibatkan. Kedua dengan menyusun kru, lantas meminta sumber daya tersebut pada departmen support. Yang paling banyak dilakukan adalah dengan cara kedua, karena hamper semua stasiun televisi mmeiliki departemen support yang akan mensuply kru yang dibutuhkan dalam kegiatan produksi. Produser menentukan misalnya berapa penata kamera yang diperlukan, ini disesuaikan dengan jenis produksinya apakah cukup dengan satu kamera, dua kamera, atau mesti kamera yang terintegrasi dengan sistim multikamera. Pun untuk keperluan kru lainnya, seperti audio dan penataan cahaya.

Besar kecilnya acara juga akan memerlukan apakah produser memerlukan assisten produser atau cukup dengan production assistant atau PA saja. Beberapa acara bisa memerlukan lebih dari satu asisten produser atau bisa saja satu asisten produser dan lebih dari satu production assistant. Selain masing-masing kru sudah mesti paham dengan job desc masing-masing, ada kalanya produser harus menentukan tugas masing-masing kru yang sudah dibentuk tadi.

Pra Produksi

Inilah bagian paling esensial dalam pembuatan acara televisi. Baik buruknya sebuah acara televisi sebetulnya bisa dilihat dari bagaimanana persiapan dalam pra produksi, karena sebenarnya lebih dari 50 persen dari proses pembuatan acara televisi ada pada tahapan pra produksi ini.  Naskah serta rundown yang dibuat tim kreatif segera disupervisi oleh produser, sehingga jika ada kekurangan ia bisa meminta tim kreatif untuk mengubahnya atau bisa saja produser mengubah naskah tersebut. Karena pada dasarnya produser mesti bisa menulis naskah juga.

Kebutuhan set yang menjadi salah satu bagian penting dalam tayangan televisi tentu tidak boleh luput dari pantauan produser. Set designer akan mendesain sedemikian rupa sesuai arahan produser yang tertuang dalam konsep acara televisi tersebut. Setelah desain set selesai tentu saja gambar segera dikirim ke bagian art dan set builder. Tim inilah yang akan mengimplementasikan gambar desain set tadi menjadi set yang sesungguhnya. Sedangkan property, walaupun ia biasanya satu departemen dengan art, ia mesti cermat setiap episodenya karena bisa saja tiap episode membutuhkan property yang berbeda-beda. Kebutuhan properti ini dibuat breakdown dari naskah atau skrip masing-masing episode tadi.

Pun demikian dengan bagian wardrobe, ia harus membuat breakdown kebutuhan wardrobe dari rundown yang telah dibuat sebelumnya tadi. Intinya semua departemen harus membuat breakdown dari skrip atau rundown untuk memudahkan pekerjaanya.

 Produksi

Jika semua persiapan sudah dijalankandengan baik saat pra produksi, sebetulnya saat produksi bukan hal yang sulit. Set baik studio atau non studio harus sudah siap untuk digunakan shooting. Rehearsal atau latihan sebaiknya dilakukan di lokasi shooting, hal ini untuk memudahkan koreksi jika ada perubahan atau aapun kebutuhan produksi tersebut. Saat rehearsal inilah semua departemen bisa memanfaatkan waktunya. Tata cahaya dan penata audio, harus dengan sigap mengimplementasikan “keinginan” dari rundown. Masing-masing segmen bisa saja kebutuhan tata suara dan tata cahanya berbeda, karenanya lag-lagi setiap departemen harus cermat mebuat breakdown.

Ada dua jenis tipe tayang, yakni siaran langsung atau tunda. Dalam siaran langsung, tidak boleh sedikitpun ada kesalahan. Namun demikian dalam siaran tunda atau taping, sebisa mungkin presisi susuai dengan rundown yang telah dibuat. Hal ini untuk meudahkan saat penyuntingan gambar di tahapan berikutnya, paska produksi.

Paska Produski

Paska produksi merupakan gerbang terakhir dari pembuatan acara televisi. Materi hasil shooting diberikan pada departemen paska produksi. Sebelumnya, produser memberikan arahan pada chief editor tentang konsep acara yang dibuat. Menyunting gambar bukan sekadar memotong dan menyambung gambar. Lebih dari itu editor baiknya punya rasa seni juga, sehingga hasil yang akan ditayangkan bukan sambungan atau potongan mekanis saja. Editor merupakan story teller, ia harus mampu bertutur dengan bahasa gambar.

Tak hanya gambar atau visual, editor juga harus memperhatikan unsur audio. Mixing audio kerap dibutuhkan agar suara yang dihasilkan balance. Sebelum akhirnya materi tersebut diserahkan pada departemen yang mengurusi penayangan, produser harus mensupervisi sehingga ia yakin betul kalau materi yang akan ditayangkan memang sudah sesuai dengan yang diharapkan.

Kepemimpinan

Pada akhirnya, seorang produser memang wajib memiliki kemampuan dalam memimpin. Tayangan televisi merupakan karya kolaborasi. Kerjasama tim bisa jadi segalanya, dan kerjasama yang baik akan bisa berlangsung ketika produser mampu memimpin, mulai dari pra produksi hingga paska produksi. Kemampuan manajerial produser disertai kemampuan komunikasi adalah kombinasi wajib yang mesti dimiliki oleh seorang produser.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s