Menakar Rating, Mengukur Pemirsa TV

Menakar Rating, Mengukur Pemirsa TV

Oleh Diki Umbara

Bagi sebagian pekerja televisi jantungnya akan berdebar-debar ketika laporan rating televisi mereka baru terima yang biasanya diberikan oleh tim programming televisi kepada eksekutif produser, produser, serta asistennya.  Betapa tidak, angka-angka yang sebetulnya takterlalu  rumit karena ia tidak  lebih dari dua digit itu menjadi sangat penting. Bahkan angka nol koma akan menjadi pembahasan, baik menyenangkan atau kebalikannya. Begitulah rating dan share tak jarang menjadi momok menakutkan buat para produser dan tim kreatif.

 tv

Karenanya berbagai cara dilakukan oleh televisi agar acarannya mendapat rating yang tinggi? Dengan rating bagus berarti acara akan dengan mudah mendapat iklan dari para agency, banyak iklan berarti pundi-pundi uang siap menanti. Begitulah rating dan share televisi sampai saat ini masih menjadi satu-satunya tolak ukur untuk melihat seberapa banyak kecenderungan penonton untuk melihat acara terntentu.

Tak seperti halnya media cetak atau internet, televisi memiliki potensial viewer yang lebih besar. Hampir tak ada biaya yang dikeluarkan seseorang untuk menonton televisi. Maka masyarakat penonton televisi Indonesia cenderung memilih mengonsumsi media televisi, dibanding media lainnya. Penduduk Indonesia yang dua ratus juta lebih dengan jumlah penduduk di daerah yang terjangkau siaran televisi mencapai 175.296. Angka ini tentu menjadi lahan bagus bagi produsen untuk mempromosikan produknya melaui televisi.

Menakar Rating, Dulu Hingga Sekarang

Di Amerika, aplikasi audimeter mulai digunakan di televisi pada tahun 1950-an. Sebuah perangkat disambungkan ke setiap televisi di beberapa rumah dan keluarga yang menempati rumah itu diminta untuk membuka audimeter di akhir pekan dan mengirimkan hasilnya ke Nielsen untuk dianalisis. Keluarga yang menjadi responden diberi insentif 50 sen setiap minggunya. Data dari audimeter TV memberikan dua hasil: Nielsen Television Index (NTI) dan Nielsen Station Index (NSI). Kelemahan dari metode ini adalah kurangnya data demografis. Sebab, audimeter hanya bisa bisa menjelaskan stasiun apa yang didengarkan, bukan siapa yang mendengarkan.

Kelemahan ini lalu diisi oleh American Research Bureau atau Arbitron yang menggunakan teknik pengumpulan data demografis berupa diary. Responden diminta untuk merekam aktivitas menonton TV dan mengirimkannya kembali ke Arbitron jika diary selesai diisi. Menghadapi ini, Nielsen terus menciptakan inovasi. Mulai dari menghentikan layanan survey rating radio karena terlalu boros dana, hingga menciptakan storage instantaneous audimeter (SIA) yang mengirimkan informasi melalui jaringan telepon langsung ke komputer Nielsen. Teknologi SIA memungkinkan pihak Nielsen mempublikasi rating sehari setelah program ditayangkan.

Di Indonesia, penyelenggaraan survai rating televisi di tanah air dirintis oleh Survai Research Indonesia (SRI) sejak 1990. Pada tahun 1994, AC Nielsen perusahaan riset pemasaran terkemuka asal Amerika Serikat—mengakuisisi SRI, sehingga namanya berubah menjadi AC Nielsen-SRI. Selanjutnya beberapa kali perusahaan ini berganti nama. Awalnya, AC Nielsen Media International, kemudian Nielsen Media Research

Secara internasional, NMR adalah bagian dari grup perusahaan VNU Media Measurement & Information. Terakhir pada tahun 2004, membentuk join venture dengan AGB, penyelenggara survei kepemirsaan terbesar nomor dua di dunia, sehingga namanya berubah menjadi AGB Nielsen Media Research. Melalui bendera AGB Nielsen Media Research, wilayah surveinya mencakup di 30 negara

Di Amerika, Nielsen Media Research menggambarkan dua tipe berbeda dalam mengambil sampel saat ingin mengukur aktivitas menonton TV di Amerika Serikat.Pertama, NTI yang didesain untuk merepresentasikan populasi di sebuah daerah. Hasil datanya bertaraf nasional. Sebagai sampel, Nielsen mula-mula memilih acak lebih dari 6000 area di suatu negara, biasanya berpusat pada area urban, lalu mensensus seluruh rumah tangga yang ada di area itu. Setelah itu, 5000 rumah tangga dari seluruh populasi diambil lagi secara acak. Setiap keluarga dihubungi, dan jika mereka bersedia untuk menjadi responden, Nielsen akan memasang People meter.

People Meter 1People Meter yang dipasang di responden

People Meter3

Skema pengiriman data dari responden ke pusat perhitungan rating

Prosedur yang hampir sama di Indonesia juga dilakukan oleh AGB Nielsen yang saat ini wilayah suirveinya mencakup 10 kota besar, yaitu Jakarta, Surabaya, Medan, Semarang, Bandung, Makassar, Yogyakarta, Palembang, Denpasar, dan Banjarmasin. Tingkat penyebaran panel (satu set perangkat pencatatan rating pada televisi rseponden) didasarkan pada survei awal atau Establishment Survey (ES) di 10 kota tersebut untuk menetapkan dan mengidentifikasi profil demografi penonton TV. Dari ES, akan didapatkan jumlah rumah tangga (berusia 5 tahun ke atas) yang memiliki TV yang berfungsi dengan baik atau disebut populasi TV. Penyebaran sampel tidak sama di setiap kota, yaitu Jakarta 55 persen, Surabaya 20 persen, Bandung 5 persen, Yogyakarta 5 persen, Medan 4 persen, Semarang 3 persen, Palembang 3 persen, Makassar 2 persen, Denpasar 2 persen, dan Banjarmasin 1 persen. Angka ini proporsional berdasarkan populasi kepemilikan televsisi di tiap-tiap kota itu. Kepemilikan televisi di Jakarta, misalnya, 55 persen terhadap total 10 kota, maka jumlah sampelnya 55 persen.

Angka rating televisi dihitung dengan rumus sederhana:

Rating   =   Jumlah Penonton Suatu Program

                   —————————————————  X 100 %

                   Jumlah Universe

Sedangkan

Share   =       Jumlah Penonton Suatu Program

                  ———————————————————  X 100 %

                 Total Penonton TV Disaat Bersamaan

Contoh jumlah universe di Jakarta teradapat 3 televisi. Misalnya akan dihitung rating dan share masing-masing televisi tersebut pada pukul 9 sampai pukul 10 malam dimana misalnya TV A ditonton oleh 5 juta orang, TV B 4 juta orang, TV C 2 juta orang. Maka seluruh jumlah pemirsa adalah 11 juta orang. Dengan rumus tadi rating TV A adalah 25% dengan perhitungan: 5 juta dibagi 20 juta dikali 100%. Sedangkan share untuk TV A: 5 juta dibagi  dibagi 11 juta dikali 100 % yakni 45%. Demikian juga dengan TV B dan C, tinggal memasukan rumus di atas tadi.

Pengambilan Data Kepermirsaan Televisi

Pesawat televisi dan perlatan yang terhubung akan dipantau secara elektronik oleh sistim people meter. Masing-masing anggota rumah tangga diberikan sebuah tombol khusus pada handset people meter, misalnya tombol 1 untuk ayah, tombol 2 untuk ibu, tombol 3 untuk anak. Anggota rumah tangga diminta untuk menekan tombol handset pada saat menonton televisi dan menekan kembali ketika selesai menonton.

Pengambilan data dilakukan melalui dua sistim yakni offline dan online. Pada sistem online data diambil setiap malam melalui  siteim telpon yang diset secara otomatis dan dihubungkan dengan sistim pengolahan data sentral di AGB Nielsen Media Research. Sitem penarikan data harian atau daily rating di Jakara, Bandung, dan Surabaya. Sedangkan untuk data offline di kota lainnya akan didatangi petugas Liaison Officer untuk mengganti modul atau alat perekam data.

Membaca Rating

Lalu bagaimana data rating televisi bisa menjadi “kebijakan” para programmer televisi? Data rating yang dibeli dari AGB Nielsen bisa ditelaah dengan mudah oleh bagian departemen programming televisi, pun leh production house atau agency. Data berupa grafik dan angka suatu acara di televisi A bisa dikomparasi dengan acara di televisi B di waktu yang sama. Program acara juga bisa dilihat minutes by minute, sehingga bisa terbaca pada menit ke berapa acara ditonton banyak orang dan kapan mulai ada penurunan.  Jadi selain head to head dengan program lain, data rating acara televisi juga bisa dilihat secara detail bagaimana trend pemirsa menonton acara tersebut.

Inilah yang nantinya diolah sehingga pada akhirnya menjadi “kebijakan” programing, misalnya apakah acara itu akan terus dilanjutkan, dihentikan, atau “direvisi” sana-sini. Data rating yang telah diolah tadi lantas didistribusikan pada para produser dan tim kreatif. Maka seperti penjelasan di atas, angka nol koma sekian saja menjadi sangat penting untuk mereka.

Rating Televisi vs Kualitas Acara

Ini sudah lumayan lama diperdebatkan, nyatanya rating televisi tidak berbanding lurus dengan kualitas acara tv. Sebagian masyarakat menginginkan ada semacam lembaga yang justru bisa mengukur kualitas acara televisi, dengan demikian akan menjadi salah satu panduan bagi penonton untuk melihat acara televisi yang baik. Parameter serta bagaimana metode penilainya tentu saja bisa dirumuskan. Jika pada rating televisi merupakan metode kuantitatif maka untuk menilai bagus tidaknya program televisi tentu mesti menggunakan metode kualitatif.

Institut Kesenian Jakarta sebetulnya pernah melakukan semacam mengukur rating televisi dengan metode ini dan hasilnya memang jauh dengan rating yang dikeluarkan oleh AGB Nielsen. Namun demikian hal ini tidak bisa dilakukan secara berkala karena terkait dengan berbagai hal dan yang paling utama masalah pendanaan. Sebuah riset pasti memerlukan dana, dan riset nirlaba harus didukung oleh pendanaan yang banyak serta bisa secara simultan. Inilah salah satu problem besarnya.

Lantas bagaimana ke depannya? Mesti ada terobosan, bagaimana mengukur kecenderungan penonton televisi dengan tak bergantung pada salah satu lembaga rating saja. Belum lama Komisi Penyiaran Indonesia sudah melakukan seminar perihal rating, namun rasanya belum ada solusi yang mumpuni dalam waktu dekat agar persoalan kualitas acara televisi dan bagaimana cara menakar dan mengukur dengan ideal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s