Berdiri Melucu di Televisi

Berdiri Melucu di Televisi
Diki Umbara

 

Standup comedy, dua tahun belakangan sangat popular di Indonesia. Terutama setelah salah satu genre komedi ini menjadi tayangan di dua televisi nasional, diawali oleh Kompas TV dan disusul Metro TV. Kenapa standup comedy banyak diminati pentonton kita? Ya karena standup comedy memang menghibur. 

Tentu saja acara ini sudah sangat terkenal nun jauh di sana, seperti di Amerika dan Eropa misalnya. Nyatanya acara serupa bisa kita temui di pelbagai daerah di Indonesia seperti Sumatera dan Papua. Di “Denias, Senandung di Atas Awan” sebuah film garapan Arie Sihasale ada satu scene yang diperankan Minuc C Karoba dimana seseorang melucu di depan teman-temannya seperti halnya acara standup comedy. 

“Untuk tayang di televisi, pas standup akan hati-hati pemilihan bahasa dan materi. Karena untuk tv tentu ada KPI (Komisi Penyiaran Indonesia), sangat dibatasi. Sebenarnya kita dibebaskan mau bawa SARA (Suku, Agama, Ras) terserah, tapi ketika editing yang berbau sara akan dibuang. Biasanya yang ngakalin bukan comic tapi stasiun televisinya. Di MetroTV sebelum taping dibriefing dulu, ngasih materi apa saja. Mana boleh mana tidak” demikian penuturan Dwika Putra seorang comic, sebutan untuk comedian standup comedy yang sempat jadi finalis Standup Comedy Indonesia.

standup2

gambar: Kompas TV

Begitulah tayangan televisi, ia tidak seperti acara off air. Harus patuh pada rambu-rambu yang telah dituangkan ke dalam Undang-Undang dan tentu saja hal normatif lainnya walaupun tidak tidak masuk ranah UU, karena tayangan televisi teresterial telah menggunakan ranah publik, ranah udara yang “dipinjam” stasiun televisi. Karenanya yang bekerja di tim kreatif harus berpikir keras bagaimana agar acara yang sukses di tonton secara off air, akan tetap menarik ditonton di televisi secara on air.

“Standup comedy itu punya pakem tersendiri, beda dengan jenis komedi lainnya. Di televisi komedi situasi atau sketsa, komedian yang mereka lakukan atau sampaikan sudah terskript. Mereka tinggal mengembangkan tekstur dan improvisasi. Di standup comedy seorang comic berlaku sebagai penulis naskah, actor, sutradara sekaligus” terang Andi Gunawan, seorang comic yang pernah menjadi tim kreatif di Standup Comedy Show MetroTV.

standup5

gambar: Andi Gunawan, MetroTV

Namun tampaknya televisi tak banyak mengubah format standup comedy versi off air untuk kepentingan on air. Kecuali masalah konten yang “tak laik siar” dan perihal durasi, dan ini semua bisa dilakukan di paska produksi. Biasanya editor akan dapat arahan dari produser perihal materi mana yang harus dibuang. Off material akan diedit sedemikian rupa sehingga menjadi broadcast material yang bisa layak siar.

Berawal dari Sosial Media

Tidak bisa dipungkiri bahwa standup comedy di Indonesia nyatanya populer karena jejaring sosial media, twitter khususnya. Standup comedy yang dilakukan di sebuah cafe Kemang diadakan setiap minggu mendapat respon postitif dengan promosi di jejaring sosial ini. Siapa saja boleh tampil untuk memeriahkan standup comedy, lantas open mic atau “panggung terbuka standup comedy” ini merambah ke kota-kota lain di Indonesia. Tak hanya di pulau Jawa, karena open mic kerap dilakukan juga di tempat lain seperti Kalimantan dan Sumatera. Selain dari jejaring sosial media, tentu saja pada akhirnya dari mulut ke  mulut acara ini menjadi semacam hiburan yang relatif baru jika dibanding acara hiburan komedi lainnya.

Selebritas Baru

Pada akhirnya acara yang ditayangkan di televisi, ia akan melahirkan para selebritas baru dan “jika beruntung” kelak akan menjadi public figure seperi halnya yang dilahirkan panggung hiburan lainnya. Menyusul Pandji dan Raditya Dika, nama-nama seperti Ernest Prakasa, Sam Darma Putra, Miund, Muhadkly Acho menjadi selebritas baru. Dengan ketenaran yang telah mereka miliki tentu saja menjadi modal untuk menghasilkan pundi-pundi uang dari profesi ini. Dan dampak dari seringnya mereka tampil di televisi, job off air akan mengalir.

standup1

gambar: Kompas TV

Menurut kabar, beberapa politisi sudah mengincar para selebritas baru ini untuk kepentingan kampanye politik. Jadi kalau dulu para artis menjadi incaran tim sukses politikus, kini para comic menjadi pilihan lain. Tentu tidak semua, karena beberapa comic ingin tetap netral tak mau menjadi bagian dari penyuara tim sukses pribadi atau parpol tertentu.

Bagaimana Agar Tetap Lucu?

Opini dari stand up comedian seringkali jadi punchline, menonjok. Seringkali comic setuju dan pemirsa setuju maka pemirsa akan tertawa. Kesetujuannya itu ketawa. Banyak faktor berhasilna sebuah joke. Materi politik gak akan berhasil tidak akan cocok pada anak-anak. Sebaiknya yang disampaikan yang diketahui oleh comic atau hal yg ingin diketahui. Comic harus observasi. Realita sosial, yang meresahkan, atau mungkin unik. Pada akhitnya sikap ini akan menjadi persona komic. Pemarah, kalem, menggebu-gebu atau masa bodoh.

george carlinfoto: George Carlin

Tidak ada nilai kelucuan absolut. Ini juga menjadi pekerjaan rumah sendiri untuk comic. Namun pada askhirnya setiap comic itu tematik. Tema akan bergantung point of view comic. Bisa jadi itu random, bisa jadi beda komic beda eksekusi. Tema tergantung pengembangan si komic. Bisa jadi bit panjang atau pendek. Bit pendek itu one line biasanya tak lebih dari tiga kalimat. Kalau diluaskan mungkin satu bit limabelas menit untk bahas tema yang sama.

Sampai Kapan Standup Comedy Bertahan?

Ini tak hanya menjadi kekhawatiran para comic tapi televisi itu sendiri. Bagaimana agar acara standup comedy tetap digemari publik dalam hal ini pemirsa. “Kalau ingin bertahan, kami harus beradaprasi dengan ide baru, gak monoton. Memadukan dengan bentuk lain yang di luar bentuk umum.” kata Andi Gunawan.

Pada akhirnya standup comedy  turunannya menjadi banyak. Ada grup dengan mengolah improve langsung di tempat dengan banyak penonton, permaninan properti, atau memadupadankan dengan musik. Di tv ada baik buruknya. Buruknya, kalau komic terbatas sementara energi tayangan. Dan yang tak kalah penting adalah kesempatan untuk latihan. Di sisi lain komik makin banyak, baik karena wadahnya ada untuk regenerasi.

Demikian juga dengan standup comedy di televisi, nyatanya tak semua acara standu up yang didesain untuk tayang di televisi bisa sukses. Acara Comic Action di Kompas TV misalnya, tidak bertahan lama. Artinya kemasan acara televisi untuk standup comedy juga harus menarik. Isi materi yang sama jika dikemas tidak baik itu juga akan berpengaruh pada acara secara keseluruhan. Oleh karenanya tim kreatif harus berpikir keras untuk membuat kemasan yang menarik.

Kesulitan dan Masa Depan Standup Comedy di Indonesia

Tak mudah untuk mempertahankan suatu hiburan baru untuk bisa eksis, baik untuk off air maupun on air. Sejumlah kesulitan itu misalnya: negara kita multi kultur. Otomatis banyak pebedaan, itu berat. Segmen komedi terbatas. Satu materi lucu di kalangan tertentu, dianggap sebagai yang gak di kalangan lain. Kesulitannya adalah inovasi agak sulit. Pada awalnya referensi terbatas. Atau banyak tapi dari barat. Belum tentu disesuaikan akan layak. Referensi bagus di sana, bagus di sana belum tentu di sini sama, kebahasaan beda. Mesti ada hal yang disesuai. Hal lain ialah pengembangan komunitas baik. Semakin banya sult dijangkau. Mereka beriusaha tumbuh sendiri. Mereka akan memanfaatkan youtube dan buku. Saat mereka mencoba mempelajri otodidak tanpa bimbingan maka itu akan berpotensi multitafsir. Akan salah kaprah, agak sulit dicegah.

standup6

gambar: Sosishot Project

Sebetulnya permintaan standup comedy di daerah itu banyak. Jadi akan ada audience baru. Karenanya materi yang satu bisa di bawa ke daerah ke daerah lain. Pertunjukan digelar pasang tiket tidak jarang yang murah, memang layak dihargai karena proses kreatif panjang dan melelahkan, kata Andi Gunawan.

Di akhir perbincangan, Dwika  Putra menambahkan, mau dibuat sok kreatif tentu harus ada gimmick terserah kreatif. Ini komedi baru. Komedi fisik yang turun temurun. Ini suatu baru, mungkin ada semacam culture shock. Di ujung akan jadi dilematis, apakah untuk menggrab atau mendapat penonton baru atau tetap penonton setia.

Hemat penulis, berdiri melucu baik yang ditayangkan di media televisi atau secara langsung di depan audiens tentu memerlukan kreatifitas yang tanpa batas. Inovasi diperlukan oleh para comic itu sendiri maupun para tim kreatif televisi. Apakah standup comedy akan menjadi hiburan musiman atau akan langgeng seperti halnya hiburan lainnya? Wallahu alam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s