How To Make A Big TV Show

 How To Make A Big TV Show
Diki Umbara

The Voice, X-Factor, Masterchef, Big Brother, The Hole in The Wall. Di antara acara tersebut adakah yang tidak pembaca ketahui? Jika acara tersebut kita kenal bahkan ikut menikmatinya, artinya acara televisi itu terkenal. Ada ribuan acara televisi, jadi tidak mungkin kita tahu semua acara tersebut.

Namun ada beberapa acara yang kita minati dan menjadi acara favorit. Begitulah acara televisi besar, dia akan mencuri perhatian kita. Lalu bagaimana acara itu dibuat?

Kreativitas (Semestinya) Tanpa Batas

Begitulah semestinya karya kreatif. Ia tak boleh dibatasi oleh apapun. Mencari dan menemukan ide itu bahkan tak perlu ada biaya. Ide mesti liar. Hindari apa yang orang kita lakukan ATM, ambil tiru modifikasi. Jangan terpikir untuk membuat acara dengan mencontek acara yang sudah ada. Itu barangkali yang dilakukan orang kreatif televisi dunia seperti Simon Phillip Cowell dan John de Mol.

Inilah salah satu kekurangan lain dari para kreator acara televisi di Indonesia, minim riset. Pelbagai format acara televisi seperti dokumenter, game show, talkshow, music show, pencarian ajang bakat, drama,  dan lain sebagainya semestinya riset menjadi salah satu tahan yang tak boleh dilewati. Banyak manfaat dari riset, salah satunya agar acara televise yang dibuat akan tepat sasaran.Kecenderungan penonton televise akan sesuatu hal jadi salah satu kunci agar kelak acara yang kita buat bisa dinikmati secara luas.

Rumah Ide

Ini juga menjadi salah satu perbedaan perkembangan acara televise di negara maju dengan negara berkembang seperti Indonesia. Di kita seringkali televisi sebagai lembaga penyiaran membuat sendiri acara televisi. Televisi tak sekadar broadcast atau menyiarkan acara tapi ia membuat acara itu sendiri. Tak melulu salah, namun di negara maju para kreator acara televisi justru ia tak bernaung di lembaga penyiaran tv bahkan production house. Mereka adalah sekumpulan orang kreatif yang bernaung khusus di bawah apa yang disebut sebagai rumah ide. Bebas dari apa yang disebut sebagai intervensi bagian programming televisi. Maka, ide mereka akan lebih liar. Nampaknya rumah ide ini belum ada di Indonesia. Yang umum itu departemen kreatif sebagai bagian dari stasiun televise dan production house.

Format Acara

Barangkali, format atau bentuk acara televisi sudah hampir semua ada. Lalu para kreator acara televisi memadupadankan antara format yang satu dengan format lain menjadi format baru. Yang dilakukan membuat acara yang benar-benar baru dari format yang ada. Ajang pencarian bakat misalnya, seperti beberapa yang disebut di atas X-Factor dan The Voice yang begitu populer sehingga diminati dan diadaptasi di berbagai negara. Acara ajang bakat tak melulu sebagai ajang pencarian orang pada minat tertentu. Penonton akan menikmati drama di dalamnya. Karenanya, penonton akan terus mengikuti dari awal hingga akhir serial acara tersebut.

xfactorfoto: http://www.xfactorindonesia.com

Production’s Bible

Acara televisi yang di dalamnya ada aturan main seperti halnya ajang penncarian bakat, game show, dan kuis, biasanya akan ada production’s bible yang dibuat sehingga nantinya akan menjadi panduan untuk siapapun yang akan memproduksi acara tersebut. Pada production’s bible di dalamnya akan tercantum aturan main yang dibuat secara detail. Production’s bible merupakan hasil akhir yang dibuat oleh creator yang di dalamnya akan terdapat:

  • Deskripsi Program yang menjelaskan tentang apa program tersebut.
  • Format Acara, yakni bentuk acara televisi seperti game show, kuis, talent hunter, dan lain sebagainya.
  • Durasi Program, lamanya program acara. Lamanya acara dari mulai opening hingga credit title, biasanya merupakan kelipatan dari 30 menit. Jadi akan ada acara berdurasi 30 menit, 60 menit, 90 menit dan 120 menit. Dan untuk kebanyakan televisi acara tersebut akan dipotong oleh durasi iklan dan promo program.
  • Target Audience, penonton yang disasar di dalam acara tersebut yakni berupa jenis kelamin serta usia penonton.
  • SES atau Socio Economy Status, status sosial penonton. Walaupun di beberapa acara SES ini nyatanya tak diperlukan. Namun untuk meliha lebih specific penonton yang disasar berdasar status ekonomi sosialnya maka SES diperlukan.
  • Outline, ringkasan acara per segment.
  • Jumlah Episode. Setiap acara memiliki jumlah episode yang berbeda-beda. Berepa acara dilihat dari ia akan diselesaikan per sesi, misalnya satu sesi akan selesai dalam 30 episode.
  • Rule of The Game, pada point ini dijelaskan secara gambling bagaimana acara tersebut berjalan dari A sampai Z dari sisi aturan mainnya. Aturan main tak boleh multitafsir yang akan menyebabkan kericuhan kelak.

Lisensi

Begitulah program-program televise luar, mereka sangat concern pada hak cipta sebuah konsep acara. Maka semua acara akan didaftarkan sehingga mendapat lisensi. Karenanya, siapapun yang akan menggarap acara maka ia harus membayar lisensi sesuai perjanjian. Program berlisensi nantinya bisa dibeli oleh production house atau televisi.

the wallfoto: http://www.fremantlemedia.com

Jaringan Televisi

Kenapa acara yang di sebut di awal tulisan itu terkenal di seluruh dunia? Karena sedari awal acara-acara tersebut memang didesain untuk tayang di beragam televisi. Lain halnya misal kalau acara tersebut hanya ditayangkan di satu negara, bisa jadi ia tidak akan seterkenal sekarang. Barangkalai itu juga kelebihan dari sebuah creative’s house, mereka bisa concern pada kreatifitas acara televise tanpa mesti pusing untuk bagaimana membuatnya. Konseptor terpisah dari eksekutor. Lagi-lagi, alih-alih sebuah production house bahakan televise sebagai media broadcasting atau menyiarkan, ia disibukkan juga sebagai eksekutor alias yang memproduksi acara televisi sendiri.

idol

Adaptasi

Lalu bagaimana jika sebuah production house atau televisi memutuskan untuk membeli lisensi acara untuk kemudian ditayangkan? Yang pertama dilakukan tentu saja memahami dari konten acara tersebut. Project dummy biasanya sudah disediakan, dari situ bisa dipelajari bagaimana misalnya flow dari acara. Dan tentu saja mempelajari production’s bible acara. Tak serta merta dari production’s bible tersebut bisa dipindahkan ke dalam sebuah produksi. Karakter satu negara berbeda dengan negara lainnya. Artinya karakteristik penontonnya juga beda. Inilah perlunya adaptasi. Production’s bible yang memuat hal rinci tersebut dijabarkan menjadi bagian-bagian elemen acara, mana yang tetap bisa dipertahankan dan mana yang harus diubah atau disesuaikan dengan tontonan bagi negara tersebut. Karenanya sebagai contoh, Masterchef Amerika itu berbeda dengan Masterchef Australia, pun dengan Masterchef India, dan juga Masterchef Indonesia. Adaptasi itulah yang membedakan acara yang di Indonesia diproduksi bareng Fremantle Media dengan RCTI.

okefoodfoto: http://www.okefood.com

Adaptasi suatu progam bukan berarti tak ada batasannya. Tidak semua bisa dengan senaknya kita mengubah elemen-elemen acara. Hal yang paling memungkinkan diubah biasanya ada pada bagaimana acara tersebut disesuaikan dengan kultur masing-masing negara. Penyesuaian juga dilakukan misalnya melihat dari aturan tayangan televisi di masing-masing negara yang bisa jadi berbeda.

Orisinalitas vs Kreativitas

Tidak ada karya yang benar-benar orisinal, namun bukan berarti kita bisa sembarang mencontek acara lain karena justru menconteklah yang menjadikan kreator acara tv justru akan mandek. Karenanya para kreator dituntut agar menghasilkan karya yang sebelumnya tak pernah ada atau menyuguhkan hal baru. Acara yang didesain untuk ditayakan di pelbagai negara nantinya, kreator juga harus bisa membuat acara yang nantinya bisa diadaptasi dengan mudah yang memungkinkan pelaksana produksi acara tersebut membuat acara yang tak keluar dari pakem yang asli namun bisa disesuaikan dengan kebutuhan si penayang yakni stasiun televisi. Dan tim kreatif di production house atau stasiun televisi itulah yang akan membuat creative brief sehingga acara akan tetap menarik, menghibur, dan bisa dinikmati penontonnya!

Giliran Kita!

Jika sampai saat ini seringkali kita mengadaptasi kreatif luar atau menayangkan acara televisi besar negara lain, sebenarnya tak mustahil kita sendiri yang membuat acara tersebut lantas acara diadaptasi oleh negara lain. Yang biasanya “membeli” lisensi dari luar seperti dari Inggris, Australia, atau Amerika, kini sudah mesti berpikir kelak negara lainlah yang membeli lisensi acara kita. Salah satu syaratnya ialah program yang dibuat merupakan program televisi unik dan menghibur dan tidak hanya dikreasi untuk kepentingan lokal saja. Buat acara yang sedari awal didesain untuk ditayangkan di berbagai negara. Sulit pasti, tapi kenapa kita tak mencoba? Jadi kelak akan ada nama orang Indonesia yang dikenal oleh dunia sebagai kreator acara televisi kelas dunia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s