Shooting dengan Kamera Handheld

Shooting dengan Kamera Handheld

Oleh Diki Umbara

Gambar yang shaking atau goyang tidak karu-karuan,  alih-alih bisa dinikmati dengan baik, penonton akan pusing melihat gambar atau serangkain shot yang tidak stabil. Begitulah kerap terjadi ketika kita melihat liputan cameraman berita di lapangan. Tidak hanya terjadi pada acara berita televisi, demikian juga pada acara musik. Kenapa hal ini bisa terjadi?

Di tangan kameraman profesional, handheld (handholding) atau mengoperasikan kamera dengan menggunakan tangan sebagi tumpuan, efek ini mungkin akan terlihat bagus namun ketikan dilakukan oleh kameraman pemula terutama ketika melakukan zooming, pan dan tilt maka justru akan memperliahatkan keamatiran dari kameraman tersebut dan gambar akan menjemukan bagi audiens. Hand-held merupakan tehnik menggunakan kamera tanpa menggunkan mounting seperti tripod atau monopod. Tehnik ini menggunakan kedua tangan sebagai bantuan dalam mengoperasikan kamera. Tehnik ini memungkinkan untuk mengurangi/mereduce goyangan atau shake. Gambar di bawah merupakan contoh cara menggunakan kamera tanpa bantuan tripod. Denga cara ini diharapkan pengambilan gambar akan lebih stabil walaupun pengambilan gambar dilakukan dalam waktu yang lama.

Beragam Cara

  1. Menggunakan ke dua tangan untuk menahan kamera
  2. Posisi kameraman sambil duduk, menggunakan lutut sebagai penahan tangan
  3. Lutut kaki kiri menahan di lantai/tanah, tehnik ini dinamakan kneeling.
  4. Pengambilan gambar dengan cara kamera dipanggul sambil tiarap

Pada gambar satu merupakan cara pengambilan gambar dengan tehnik handheld secara umum. Akan tetapi sebetulnya ini merupakan cara yang paling sulit. Tidak ada bantuan untuk tumpuan sama sekali, cameraman hanya mengandalkan tubuh saja terutama kedua tangan. Yang mesi diperhatikan ketika mengambil gambar dengan posisi ini adalah posisi kaki. Posisi kaki kanan biasanya lebih depan sedikit, kira-kira 20 cm lebih depan dari kaki kiri. Maksudnya untuk menjaga kestabilan tertuama ketika cameramen melakukan pengambilan gambar pada waktu yang lebih lama.

Handheld dengan cara berdiri merupakan cara paling umum, camareman bisa bergerak bebas untuk mengikuti subyek yang bergerak. Namun jika subyek yang kita ambil gambarnya merupakan subyek yang tak bergerak, maka cameraman bisa melakukan pengambilan gambar seperti pada gambar dua. Posisi duduk merupakan posisi paling nyaman dalam pengambilan gambar dengan syarat  subyek yang kita ambil gambarnya tidak terhalang oleh benda lain. Kedua lutut menahan kedua tangan, dengan demikian kamera akan tertahan dengan seimbang. Kelamahahan melakukan handheld deperti ini, cameraman tidak bisa leluasa jika subyek bergerak bebas keluar dari frame lensa kamera.

Tehnik handheld pada gambar ketiga, menggunakan salah satu lutut untuk menahan beban, pada sebagian orang tehnik yang disebut juga sebagai kneeling ini  agak sulit. Ini seperti perpaduan antara cara handheld pertama dan kedua. Pada tehnik ini cameraman tidak akan kesulitan jika tiba-tiba ia hendak berdiri untuk mengubah posisi.

Seperti pada gambar empat, cameraman melakukan pengambilan gambar seperti seorang tentara yang tiarap siaga dengan senjata api. Tehnik handheld seperti ini nyaman teruatama untuk pengambilan gambar secara candid atau tersembunyi. Dengan handheld seperti ini juga cocok untuk liputan perang misalnya. Dua siku tangan berfungsi sebagai penyangga kamera, dengan demikian pengambilan gambar akan tetap stabil.

  • 6. Posisi punggung kameraman sambil menyender pada dinding6.
  • 7. Menggunakan ke dua siku tangan sebagai penahan
  • 8. Kamerman menyenderkan salah satu sisi badan pada tembok sebagai penahan
  • 9. Kaki kanan atau kiri di atas  step atau tangga yang lebih tinggi dari posisi kaki lainnya.
  • 10. Mengggunakan tiang sebagai alat bantu

Pada lokasi tertentu, ada kalanya cameraman bisa memanfaatkan situasi yang ada. Seperti pada gambar lima misalnya, cameraman bisa memanfaatkan dinding untuk menyender. Punggung yang menempel di dinding sebagai kunci keseimbangan. Tehnik ini bukan berarti cameraman bisa dengan santai melakukan pengambilan gambar, ia tetap mesti berkonsentrasi atas segala subyek yang dia ambil gambarnya.

Seperti pada gambar ke enam, cameraman meletakan siku tangan di atas sebuah penahan. Ini benar-benar hanya bisa dilakukan jika kita menemukan tempat seperti itu. Posisi ini juga bisa dilakukan ketika ada meja yang bisa kita manfaatkan sebagai penahan. Di dalam mobil posisi juga bisa dilakukan, yakni dengan membuka kaca pintu samping mobil.

Mirip dengan posisi pengambilan gambar pada nomor lima, dengan menyenderkan salah satu sisi badan maka cameraman juga bisa melakukan pengambilan gambar. Pada gambar tujuh ini, cameraman memanfaatkan dinding sebagai penyangga badan. Tidak terlalu nyaman, namun kestabilan akan didapat karena sebagian beban ditumpukan pada dinding tersebut.

Ada kalanya, dengan posisi kaki yang sama rata dalam pijakan akan mudah pegal. Jadi jika ada step atau tangga, cameraman bisa menginjakan salah satu kaki ke tangga tersebut.

 Penahan lain yang bisa digunakan oleh cameraman yaitu tiang. Ya, tiang apapun yang berdiameter tidak lebih besar dari tubuh kita bisa dijadikan alat bantu. Cameran seolah memeluk tiang tersebut dengan maksud untuk memindahkan beban sehingga diharapkan akan mendapat kestabilan ketika melakukan pengambilan gambar dengan waktu lebih lama.

Komposisi dan Stabilitas

Tehnik pengambilan gambar dengan menggunakan tangan sebagai penumpu tanpa bantuan alat khusus seperti triopod atau monopod memang harus dilatih. Utamanya bagaimana agar kita bisa senyaman mungkin dalam melakukan pengambilan gambar. Selain itu yang tak kalah penting yang mesti diperhatikan oleh cameraman ketika melakukan tehnik ini adalah menjaga agar gambar atau shot memiliki komposisi yang baik, yakni komposisi yang diinginkan oleh cameraman itu sendiri atau keinginan dari pengarah acara atau sutradara. Kunci lainnya yakni masalah stabilitas atau keseimbangan dalam melakukan pengambilan gambar. Dampak lain, pengambilan gambar dengan tehnik handheld ini yakni gambar akan terlihat dinamis. Misalnya untuk pengambilan gambar dengan subyek bergerak. Acara musik tertentu semisal konser musik rock akan tampak dinamis ketika beberapa kamera menggunakan tehnik ini, shaking namun komposisi tetap terjaga. Konsep ini dinamakan juga dengan crazy angle yakni sudut pengambilan yang ”tak lazim” yang akan menimbulkan kesan gambar yang lebih dinamis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s