Dokumenter Part 10

Editing Dokumenter

Oleh Diki Umbara

Ketika proses shooting selesai, maka tahap selanjutnya yakni editing sebagai bagian dari proses paska produksi, merupakan tahapan yang sangat menarik dalam pembuatan dokumenter. Kolaborasi atau kerjasama antar sutradara dengan editor sudah dimulai. Seperti halnya dalam editing feature film, editing dokumenter melalui berbagai tahapan. Dan saat ini saya akan mencoba sharing tentang apa dan bagaimana tahapan editing dokumenter.

Preview Hasil Shooting

Ratusan atau bisa jadi ribuan shot yang sudah dihasilkan oleh sutradara dan cameraman, namun shot-shot tersebut tidak akan memiliki makna apa-apa ketika belum disusun oleh editor menjadi satu kesatuan cerita. Karena itu peran seorang editor sangatlah penting. Sebelum melakukan penyuntingan gambar, preview hasil shooting. Semua materi shot harus dilihat oleh editor. Dan kalau memungkinkan ada baiknya pada proses melihat hasil shooting ini, sutrdara menemani editor. Dengan demikian sutradara bisa berdiskusi dengan editor mengenai shot-shot yang sudah dihasilkannya itu.

Logging

Terkadang buat sebagian editor ini merupakan proses yang membosankan. Logging secara sederhana berarti pencatatan time code seluruh shot hasil shooting. Time code merupakan kode waktu yang terdapat pada materi shot. Pencatatan time code awal serta akhir shot. Jadi logging merupakan manajemen file, yang berfungsi untuk memudahkan ketika melakukan penyuntingan gambar nantinya. Catatan logging tersebut dibuat ke dalam logging list atau logging sheet. Logging sheet merupakan panduan untuk capture atau pemindahan materi tape ke dalam komputer editing.

Paper Edit

Ada dua naskah dalam dokumenter, yang pertama adalah pre-shot script yakni script yang dibuat oleh penulis naskah sebagai panduan dokumentator di lapangan. Dan yang ke dua, dinamakan pro-shot script, yakni naskah yang dibuat setelah shooting selesai. Pro-shot script dinamakan juga paper edit. Kenapa paper edit ini diperlukan oleh editor dokumenter? Ini salah satu yang membedakan antara feature film dengan dokumenter. Ketika editor merasa bahwa pekerjaan editing dokumenter terasa berat, maka transcript wawancara dituangkan ke dalam paper edit. Makanya tidak heran, akan ditemukan banyak kertas coretan di meja editing dokumenter. Kertas ini sangat membantu editor untuk membuat struktur cerita yang akan direkontruksi. Tidak ada aturan baku dalam format paper edit, yang paling penting.

Editing Assembly

Tahap ini merupakan tahapan setelah logging dan capturing. Editing Assembly dilakukan untuk melihat gambaran secara umum dokumenter tersebut. Untuk dokumenter berdurasi satu jam, biasanya assembly edit sekitar 140 menit, atau empat puluh persen lebih banyak. Ini bukan rumusan umum, tapi menurut pengalaman pribadi serta sharing dengan editor dokumenter lainnya estimasi durasi di atas umum dilakukan. Dalam editing assembly, belum ada musik serta voice over serta efek. Yang jelas, dalam assembly edit sudah terlihat cerita di dalamnya. Pada hasil assembly edit memang belum bisa untuk presentasi, tapi sutrdara sudah bisa melihat gambaran umumnya. Editor sudah bisa membayangkan tema apa yang bisa dibuang atau tidak terpakai,

Rough Cut

Namanya simpel, rough cut alias motong kasar tapi ini merupakan tahapan sebenarnya dalam editing. Editor sudah membuat kontruksi cerita sesuai dengan post-script yang sudah dibuat sebelumnya. Penambahan draft narasi atau voice over (kalau pendekatannya essay) sudah bisa dilakukan. Durasi hasil editing rough cut biasanya tidak lebih dari sepuluh persen dari durasi film dokumenter yang sudah jadi nantinya. Hasil rough cut sudah bisa dipresentasikan pada klien atau investor. Untuk menjajaki apakah film dokumenter tersebut sudah bagus secara editingnya, ada baiknya film tersebut dipertontonkan pada penonton awam, atau bisa saja minta komentar dari kawan anda.

Fine Cut

Ini merupakan proses editing akhir sebelum film dokumenter tersebut benar-benar akan direlease. Pada tahapan ini editor sudah membuat struktur final dengan durasi hampir persis pada durasi sebenarnya, menambahkan musik ilustrasi, serta efek. Pada tahap ini, hasil editing fine cut sudah bisa dipresentasikan kembali. Untuk beberapa dokumenter terkadang harus mempresentasikan di hadapan advisor. Ini biasanya menyangkut konten atau isi, misalnya seperti dokumenter intruksional.

Editor

Picture Locked!

Tidak ada yang paling membahagiakan seorang editor ketika, semua pekerjaan sudah selesai, dan ini yang namnaya picture lock. Tidak ada perubahan sama sekali dalam editing, karena begitu gambar/video sudah dilock berarti selanjutnya adalah finalisasi graphik serta musik. Dan tentu selanjutnya adalah mastering dan membuat copy release.

Penjelasan tahapan editing dokumenter di atas mungkin masih terlalu simpel, kalau ada waktu senggang nanti saya akan edit serta tambahkan lagi. Jadi…tulisan ini masih bersambung….

3 pemikiran pada “Dokumenter Part 10

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s