Dokumenter Part 8

Repotnya jadi Produser Dokumenter

Oleh Diki Umbara

The two most important roles of a documentary producer are to create a safe working environment for the cast and crew and to hire the best people to execute the director’s vision. A documentary producer must be a master of negotiation and people management. (Mechelle Pellebon)

Ada banyak profesi dalam film maupun acara televisi yang berkaitan dengan produser, yakni executive producer,ass.producer, line producer, news producer,sport producer, documentary producer, promo producer, co-producer, dan masih banyak lagi. Secara umum produser mempunyai tanggung jawab dalam sebuah produksi film atau televisi dari mulai pra produksi, produksi, hingga paska produksi. Walaupun secara umum memiliki tanggung jawab yang sama, namun jika dilihat dari hasil karya atau jenis produksi yang dihasilkan, masing-masing produser memiliki kekhasan sendiri,hal ini dikarenakan adanya perbedaan “cara menangani” acara-acara yang spesifik tadi. Dan kali ini kita akan membahas tentang bagaimana produser dokumenter bekerja.

Menentukan Kru

Tentang bagaimana menentukan kru, sudah kita bahas pada artikel sebelumnya, di sana saya tidak hanya membicarakan bagaimana menentukan atau memilih kru, tapi bagaimana membangun tim atau kru yang baru. Di sini saya jelaskan kembali, bahwa salah satu tugas produser adalah memilih kru untuk sebuah produksi dokumenter. Tidak semua cameraman terbiasa dengan pembuatan dokumenter, apalagi misalnya cameraman studio. Cameraman dokumenter harus jeli melihat situasi dan kondisi yang bisa terjadi kapan saja di lapangan. Yang paling memungkinkan dari cameraman lain adalah cameraman berita. Jadi, sebagai produser dokumenter harus dengan cermat ketika memilih kru yang akan diajak kerjasama. Juga ketika memilih siapa yang akan menjadi sutradara dokumenter tersebut, beberapa produser lebih nyaman bekerjasama dengan sutradara “langganannya”. Maka tidak mengherankan kalau “sutradara yang itu” selalu dengan “produser yang itu” juga. Ini sebenarnya tidak hanya terjadi dalam proyek dokumenter, di feature film pun sebetulnya demikian juga. Alasannya hamper sama, sudah ketemu chemistrynya.

Pendanaan Dokumenter

Produser dokumenter harus mampu untuk presentasi pada client atau investor, jika film dokumenter itu orderan atau pesanan dari investor bahkan produser harus terlibat pada banyak tahapan tender/bidding. Jadi, produser dokumenter memang harus jago ngomong, harus bisa memaparkan gagasan serta konsep dokumenter yang akan dibuatnya. Tema bukan segala-galanya dalam film dokumenter, bahkan tidak sedikit tema sudah ditentukan oleh si penyandang dana, yang paling penting adalah bagaimana agar tema tersebut bisa dipaparkan dalam sebuah gagasan sehingga film dokumenter nantinya bisa menjadi karya yang baik, karya dengan story telling yang baik. Ketika mengikuti beberapa kali tender project dokumenter, terkadang saya suka senyum sendiri melihat berbagai gaya produser dalam presentasi, terutama ketika melihat produser yang belum terbiasa presentasi di hadapan klien bule.

Membuat budget untuk pembuatan karya dokumenter haruslah cermat, produser harus bisa mengestimasi budget riset hingga paska produksi sedetail mungkin. Demikian juga ketika client/donor sudah mematok anggaran pembuatan dokumenter, produser tidak boleh akal-akalan mensiasati budget dengan asal tebak. Jangan pernah menganggap donor tidak paham dengan budgeting produksi dokumenter.

Produser dan Penulis Naskah

Di beberapa produksi dokumenter, tidak sedikit profesi penulis naskah dokumenter dihandle oleh produser sendiri. Dokumentator Michael Moore misalnya, dalam karya dokumenternya, selain sebagai produser dia sendiri yang menangani penulisan naskahnya, Roger and Me, dan Sicko, juga dokumentator Morgan Spurlock dengan karya terkenalnya Super Size Me. Inilah salah satu hal yang unik dalam pembuatan dokumenter, satu orang bisa merangkap untuk dua bahkan sampai tiga jabatan. Produser juga, sutradara juga, penulis naskah juga. Ini tidak hanya terjadi di luar sana, di Indonesia juga demikian. Beberapa film dokumenter disutradarai dan ditulis oleh orang yang sama, seperti dokumentator mas Tonny Trimarsanto sama mas Wiranegara misalnya. Kenapa jabatan bisa rangkap begitu? apalagi kalau bukan masalah budget dan masalah efesiensi.

Di Lapangan

shooting dokumenterBenar bahwa di lokasi shooting, apa saja bisa terjadi. Yang paling penting adalah bagaimana agar produser setiap saat bisa mengantisipasi segala kondisi, sampai kondisi ekstrim sekalipun. Apa yang harus dilakukan oleh produser? Ya persiapan yang matang, persiapan dilakukan jauh sebelum pergi ke lapangan. Hasil riset di lapangan sebelumnya baiknya dievaluasi dulu, dibuat check list segala kebutuhan yang diperlukan. Pakailah orang lokal sebagai mitra kerja produser, tidak hanya sebagai porter tapi kru lokal bisa diajak kerjasma sebagai mediator produser dan juga sutradara dengan lingkungan dimana dokumenter itu dibuat. Selalu berkomunikasi dengan sutradara, jangan sampai ada mis antara produser dengan sutradara. Diskusi baiknya dilakukan, pada saat sebelum shooting dan pada saat setelah shooting, untuk evaluasi.

Saat Paska Produksi

Ketika shooting selesai bukan berarti pekerjaan selesai,jadi produser memang repot. Proses selanjutnya sudah menanti yakni paska produksi. Produser biasanya sudah memilih editor ketika shooting belum dimulai. Ribuan shot yang tercerai berai harus diurai menjadi satu kesatuan cerita oleh editor atau penyunting gambar. Sebelum melakukan penyuntingan gambar, editor akan memaparkan konsep editing pada produser dan sutradara. Kalau sutradara mempunyai treatment atau shooting script sebagai panduan di lapangan, maka editor harus memiliki post-script sebagai panduannya, editor membuat paper edit yang dijabarkan pada sutradara dan produser. Produser dokumenter selalu memantau pekerjaan editor, memantau di sini bukan berarti intervensi, karena editor sudah tau apa yang akan dan harus dikerjakan. Produser memberikan target kapan rough cut harus selesai, dan ini tentu saja didiskusikan dan disepakati bersama dengan editor sebelumnya. Dalam presentasi pada klien, produser bisa melibatkan editor untuk mendengarkan masukan dari klien. Pada kenyataanya tidak jarang pula editor memberikan masukan pada produser dan sutradara.

Produser dokumenter memiliki tanggung jawab atas sukses tidaknya sebuah produksi dokumenter, kegagalan karya film dokumenter berarti kegagalan seorang produser dokumenter. Tulisan ini saya dedikasikan buat Agis Susanti yang sedang membuat karya dokumenter. Gis, saya masih ada 2 janji lagi ya? Hemmm sabar ya….

Satu pemikiran pada “Dokumenter Part 8

  1. ass..
    mohon bantuan..
    untuk mendapatkan buku tentang editing videografi, dimana saya bisa temukan, dan apa saja buku-buku yang terkadit dengan editing video grafi.

    terima kasih sebelumnya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s