Dokumenter Part 5

Dokumentator Tanpa Naskah!

Oleh Diki Umbara

Tadi malam jam 1.40 seorang mahasiswa saya bertanya melalui chat facebook, kenapa tidak ada bahasan script writer dalam dokumenter. Maka 10 jam kemudian saya menulis artikel ini, masih dalam rangkaian serial artikel dokumenter. Untuk membuat naskah dokumenter, memiliki tahapan-tahapan yakni : penyusunan data/riset/observasi pada subyek, penulisan sinopsis, penulisan treatment, dan penulisan naskah itu sendiri. Penyusunan data bisa dilakukan dengan menghimpun data tulis (buku, majalah,jurnal,internet) ,foto-foto,dan footage audio video. Sinopsis merupakan ringkasan cerita, menjelaskan tentang tema serta subyek apa yang akan dalam sebuah dokumenter. Treatment meupakan pengembagan dari sinopsis, dengan membaca treatment saja kita bisa tau gagasan serta dengan cara apa dokumenter tersebut ingin dibuat. Bahasan tentang naskah dokumenter saya akan jelaskan detail di ujung alinea artikel ini.

Essay dan Narrative

Pendekatan dalam pembuatan dokumenter secara garis besar ada dua macam, yakni essay dan narrative. Lalu kenapa ada essay/esai dan narrative/naratif? Hal ini akan menyangkut pada masalah bagaimana dokumentator menyampaikan pesan. Dengan pendekatan esai dokumentator mempresentasikan realita menggunakan penutur narasi, penutur narasi ini disebut narator. Penjelasan mengenai suatu hal dijelaskan dengan naskah yang dibacakan secara voice over oleh narrator. Dalam dokumenter televisi terkadang dokumenter disajikan oleh presentator. Dalam “Jejak Petualang” Trans 7 acara dipandu oleh host, selain menjadi host ada kalanya juga sebagai narrator. Dokumenter televise “Potret” di SCTV tidak menggunakan host tapi menggunakan narrator untuk menyampaikan pesannya.

Nah, ini akan berbeda jika dokumentator menggunakan pendekatan naratif dalam pembuatan dokumenternya. Dengan naratif, tidak menggunakan narrator serta presentator, dalam pendekatan naratif memanfaatkan penuturan dari nara sumber yang ada pada dokumenter yang kita buat. Sumber yang dimaksud adalah subyek utama serta subyek pendukung lainnya. Dokumenter dengan gaya pendekatan naratif ini yang beberapa dokumentator kita menyebutnya sebagai dokumenter murni. Agak kurang tepat sebetulnya. Menurut Klaus Wildenhan, seorang dokumentator ternama asal Jerman bahwa yang dimaksud dengan “pure documentary” merupakan metode film maker yang merekam dengan sabar menunggu hingga ada ‘sesuatu’ yang terjadi pada subyek di depan kamera. Jadi dokumenter murni adalah metode atau cara, tidak ada urusan dengan pake narasi atau tanpa narasi. Dan entah kenapa dokumenter tanpa narasi ini yang biasanya memenang dalam festival.

Naskah atau Tanpa Naskah

Ada dua tingkat dalam penulisn naskah dokumenter, yakni pre-shot atau shooting script dan pro-shot script. Shooting scrip merupakan naskah panduan untuk dokumentator ketika akan melakukan pengambilan gambar. Sedangkan pro-shot script, naskah sebagai panduan editor ketika akan melakukan penyuntingan gambar, isitlah lain untuk pro-shot script adalah paper edit.

Menulis naskah untuk feature film/fiksi atau non fiksi akan berbeda dengan menulis untuk media cetak. Kenapa demikian? Film adalah karya visual, tulisan seorang penulis naskah film tidak dibaca dalam film tersebut, yang terlihat merupakan gambar dalam sebuah layar. Ini berarti, seorang penulis naskah harus bisa menulis secara visual. Film merupakan gambar bergerak, artinya penulis naskah harus mampu menterjemahkan visual ke dalam bentuk tulisan.

Dalam naskah dokumenter ada tiga elemen penting yakni : elemen visual, elemen audio, serta elemen story/cerita. Naskah dokumenter tidak hanya merupakan kumpulan kata atau kalimat saja, akan tetapi merupakan kompilasi konsep elemen-elemen telling story. Perpaduan elemen penting inilah yang akan menjadikan sebuah film dokuemnter yang baik. Jadi, ini agak mirip dengan film fiksi, yakni bagaimana film tersebut harus bisa mengemukakan gagasan, selain menceritakan fakta sebagai ciri khas dari dokumenter. Artinya dokumenter juga harus memiliki struktur. Struktur bisa dibuat secara kronologis, tematis, maupun dialektikal. Ending atau akhir film dokumenter bisa dibuat open end, yakni menggambarkan persoalan yang masih bisa dibuka, mempersilahkan penonton untuk “melanjutkan” realita yang ada di dokumenter tersebut. Dan bisa juga dibuat closed end, dokumentator memberikan penyelesaian pada filmnya.

Selain struktur yang jelas, penulis naskah dokumenter sudah harus memikirkan ploting. Plot yang terdiri atas archplot, miniplot, dan antiplot. Archplot ini biasanya penulis naskah menyebut dengan desain plot klasik. Cerita dengan desain archplot dibuat secara linear, secara urut dan biasanya dibuat closed end. Sedangkan miniplot merupakan bentuk minimalis dari arcplot. Yang paling ekstrim membuat ploting dengan antiplot, tidak linear seperti halnya archplot.

Hemmm….sepertinya tulisan ini tidak cukup menjelaskan secara detail seperti janji saya di atas ya. Kalau begitu tentang naskah dokumenter ini nanti saya lanjutkan.

6 pemikiran pada “Dokumenter Part 5

  1. brader gw mau nanya, apa bedanya
    segmen dan treatment? thx ya…brader

    segmen sama treatment? aduh beda jauh kemana-mana atuh. tapi saya gak tau persis maskud pertanyaanya. saya coba jawab ya, segmen: bagian dari episode, segmen bisa berarti babak. misal acara tv setengah jam terbagi atas 3 sampai 4 segmen. nah kalo treatment, merupakan catatan director/program director pada naskah, ini biasanya untuk mempermudah ketika pelaksanaan shooting.

    sekali lagi, karena pertanyaanya gak jelas jadi jawabnya juga rada susah, tentang treatmen yang kamu tanyakan misalnya, treatment apa dulu nich? manicure padycure kan treatmen juga. perawatan kulit juga kan termasuk treatment, hehehe….

  2. treatment itu biasanya terdapat apa aja mas didalam naskah?
    dukomenter yang baik itu biasanya kita ambil harus ada nilai positif dari dokumennya atau negatif atau dua2nya mas?

    takut kalau kita umbar yang negatif jadi tidak baik yang ke publik

  3. mas, ada facebook g? aku tertarik tentang tulisan mas yg konsep naratif dokumenter di atas…aku pengen tanya2 lebih dalem,lwat FB lbh enak sajak’ane…trims.

  4. selain model tersebut itu masih ada lagi nggak pendekatan-pendekatan untuk sebuah film dokumenter,,,, wah boleh juga tuh klo ada FB,,,,

    bisa tanya kah saia???
    klo dokumenter ethnografi itu yang seperti apa??? trus ada kolerasi nggak dengan visual anthropology????
    matur tengkyu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s