Dokumenter part 1

Buat Film Dokumenter itu Seru!

Oleh Diki Umbara

A documentary is the sum of relationships during period of shared action and living, a composition made from the sparks generated during a meeting hearts and minds.

(Michael Rabiger, Directing Documentary hal 31)

Seperti halnya pembuatan film fiksi, pada pembuatan film dokumenter akan melewati tahapan-tahapan yang harus dilalui oleh pembuatnya. Tahapan tersebut terdiri atas : pre production, production, post production. Dalam pre production pembuatan dokumenter termasuk di dalamnya, pemilihan subyek atau tema, melakukan riset, menentukan kru, memilih peralatan yang akan digunakan, menentukan metode yang akan dipakai, serta membuat skedul shooting. Dalam tahap production, ini gak kalah seru juga dalam tahap akhir alias pre-production. Tapi sebelum itu kita bahas semua, yuk kita telusuri sedikit asal muasal film dokumenter.

Sampai saat ini masih terjadi perdebatan tentang definisi film dokumenter, namun secara sederhana film dokumenter merupakan film yang menampilkan fakta yang ada dalam kehidupan atau film yang menampilkan tentang kenyataan. Dari definisi di atas, berarti semua film non fiksi merupakan dokumenter dong ya? Biarlah perdebatan menjadi perdebatan, seperti halnya perdebatan tentang “seberapa boleh” subyek dalam dokumenter disutradarai/diarahkan/didirect. Maka, buku Directing Documentary karya Michael Rabiger menjadi menarik perhatian saya, dan ini menjadi salah satu buku referensi tulisan ini. Di dalam beberapa literatur disebutkan bahwa istilah documentary atau documenter pertama digunakan oleh John Grierson. Saat itu Grierson dengan nama samaran The Moviegoer menulis resensi sebuah film, Moana karya documentary maker Robert Flaherty. Moana sendiri dibuat pada tahun 1926.

Tentang Ide

Membuat film documenter itu memang seru, yang paling mengesankan buat saya waktu buat film dokumenter pertama “SMP Terbuka Pulau Tunda”. Menggunakan kapal motor kecil saat itu ombak laut sedang tidak bersahabat, cameraman saya sempet muntah-muntah, perjalanan malam hari menuju salah satu gugusan Kepulauan Seribu memakan waktu lebih lama dari biasanya. Ide tentang pembuatan film ini berasal dari kawan saya yang sudah sering mondar-mandir ke Kepulauan Seribu. Seperti halnya film fiksi, ide dalam dokumenter bisa dari siapa saja. Yang paling penting adalah apakah ide itu cukup menarik untuk dijadikan sebuah film dokumenter? Menarik bagi anda belum tentu menarik bagi yang lain, begitu juga sebaliknya.

Persiapan

Hampir semua documentarian/documentary film maker atau dokumentaris (istilah om Gerson) sepakat bahwa riset merupakan hal yang teramat penting dalam sebuah dokumenter. Riset meruapakan bagian dari persiapan dalam pembuatan film documenter. Tentang persiapan yang perlu diperhatikan , Rabiger menyarankan : Define hypothetical approach to subject, List the action sequences, Check reality, Check written resources, Do the legwork, Develop trust, Develop a working hypothesis, Preinterview, Make final draft proposal revision, Write a treatment, Obtain permission, Secure crew, Make a shooting schedule, Make a budget, Plan shooting style, Do trial shooting. Bersambung……

Note : tulisan ini terdiri dari 10 seri, didedikasikan untuk para mahasiswa saya di AKOM Broadcast BSI, bagi yang lain yang ingin mengutip tulisan silahkan.

3 pemikiran pada “Dokumenter part 1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s