Produksi Televisi (Part 7)

Jadi Floor Director itu, Keren!

Oleh Diki Umbara


Tiga puluh menit lagi on air! Begitu ”perintah” produser setengah jam sebelum siaran langsung sebuah acara televisi. Waktu terus berjalan, beberapa crew masih kelihatan santai. Dua orang cameraman berbincang, entah topik apa yang mereka bicarakan. Make up anchor alias pembawa acara baru saja selesai, si anchor yang kebetulan keturunan Arab cantik itu bergegas menuju studio dengan latar green screen yang memang hanya berjarak beberapa meter saja dari ruang make up.

Lima menit lagi on air! Kali ini giliran program director berteriak. Semua crew sudah standby. Suasana studio masih terasa santai, hingga PD mengucapkan count down : 10.., 9…., 8…,  Dan…..salah seorang cameraman teriak ”Heiii….(sensor) baju lu blum dikancingin satu tuh”


Rutinitas terkadang menjemukan, karena rutinitas pula kegiatan yang penting itu bisa menjadi keteledoran. Saat itu paling tidak, ada empat orang crew di studio dan empat orang di sub control, andaikan saja salah satu cameraman gak ngeh dengan kancing baju mbak news caster tadi tentu saja hal fatal akan terjadi. Acara televisi adalah kerja tim, kesalahan satu orang berarti kesalahan tim. Yang paling bertanggung jawab atas kejadian di atas adalah Floor Director.


Siapakah Floor Director ?


Floor Director merupakan pimpinan alias bos di studio, di beberapa stasiun televisi dan production house, Floor Director biasa juga disebut sebagai Floor Manager. Floor Director adalah kepanjangan tangan dari Program Director/PD (tentang Program Director nanti akan kita bahas tersendiri). Floor Director mendengarkan perintah PD melalui sistem komunikasi intercom dari control room. Ibarat anggota tubuh, seorang FD menjadi telinga, mata, dan mulut seorang PD. Tugas utama seorang Floor Director adalah berkomunikasi dengan talent/pengisi acara. Dalam acara siaran langsung di studio, FD memiliki otoritas terakhir.

Sebelum produksi dimulai alias di pra produksi, seorang Floor Director harus memahami rundown terlebih dahulu. Jika ada perubahan dalam rundown, maka sebagai pemimpin di studio, FD harus segera mengkomunikasikannya dengan seluruh kru yang ada di studio. Juga jika ada perubahan yang melibatkan anchor misalnya, maka FD secepat mungkin memberitahukan pada anchor tersebut. Andrew Utterback dalam bukunya Studio-Based Television Production and Directing, menyarankan agar seorang FD memiliki semua pengetahuan hal teknis yang ada di studio, karena jika diperlukan FD bisa ”menggantikan” posisi tersebut.


FD dengan Crew di Studio


Komunikasi

Sekali lagi tentang masalah komunikasi. Komunikasi antar FD dan talent harus terjalin sejak sebelum produksi dan ketika produksi itu berlangsung. Misalnya ketika talent sudah berada di posisi yang baik, FD harus meyakinkan bahwa posisi clip on yang dikenakan talent sudah terpasang dengan baik. Atau ketika pengisi acara ”salah melihat kamera” maka FD harus segera memberitahukan talent tersebut untuk melihat ke arah kamera yang diinginkan. FD harus berperan aktif agar pengisi acara merasa nyaman dan akhirnya terlihat baik ketika berinteraksi dengan kamera. Ketika talent sudah berada pada blocking set, FD selalu berkomunikasi dengan crew yang ada di studio jika misalnya ada perubahan blocking pada talent.


Cuing Talent, Cuing Studio Crew

Jika pada saat produksi belum berlangsung, FD bisa memberikan arahan dengan bahasa verbal, maka tidak halnya ketika produksi berlangsung. FD memberitahukan semua perintahnya dengan cue alias tanda. Memberita tanda atau isyarat pada para pemain dan kru di studio harus dilakukan seefisien mungkin, sehingga talent dan juga crew faham betul dengan isyarat yang diberikan FD.


Command Hand :

Bahasa non verbal, seperti isyarat tangan, banyak dilakukan oleh Floor Director untuk memberi isyarat, baik pada crew yang ada di studio maupun pada para pengisi acara atau talent. Command hand sudah sangat lazim dipergunakan dalam produksi acara televisi di studio, bahkan command hand sudah menjadi kesepakatan umum di stasiun televisi mana saja.


Artikel ini saya tulis menjelang satu jam sebelum shooting, nanti saya lanjutkan lagi ya….


Referensi :

Studio-Based Television Production and Directing, Andrew Utterback

Television Production, Gerald Millerson

17 pemikiran pada “Produksi Televisi (Part 7)

  1. Selamat malam,pak guru ,maaf saya menyimak pelajaran anda tanpa izin, hanya menjadi “murid” anda di ruang maya ini. Dan “kelas istimewa “anda ini , membuka mata saya , bahwa “movie” (saya tergila” dgn dunia ini) tidak sesederhana yang saya bayangkan…oh, ya nama saya Djuli Ismail. panggil saja Djuli. saya otodidak mengenai film. dan blog ini sangat” membantu saya (sebenarnya saya hanya sedikit bisa menulis skenario, … dan beberapa membuat film pendek secara sederhana (budget rendah he..he..tentu saja lampunya hanya hallogen)
    saat ini saya tengah mendapat tawaran memproduksi satu variety show yang “celakanya”,menggunakan multy camera (terus terang, saya masih rada” buta) , yang mau saya tanyakan (kalau berkenan,lho) ..bagaimana mengenai sistematik audio saat recording acara tersebut. (apa pernah di bahas?) ….
    sebelumnya, saya ucapkan terima kasih untuk sudi menjawab.

    selamat malam, – Djuli –


    ____________
    Tanpa izin? emang ga mesti izin kok,hehehe…. saya seneng kalo blog sederhana ini ada manfaat bagi yg membacanya.
    Banyak cara untuk belajar sesuatu, dan otodidak merupakan salah satu metode belajar. So don’t worry brotha. Joko Anwar juga otodidak, tapi tetep sukses toh jadi sutradara.

    Djuli, tentang multicamera saya sudah ada beberapa tulisan saya membahas hal ini. Kalau tentang sistem audio secara spesifik saya belum saya posting, saya masih menulisnya.

    Saya sedikit jelaskan ya. Untuk format multicamera, sistem audio menggunakan mixer audio (ada banyak macam jenis mixer), pakailah mixer audio yg memang didesain untuk di studio. Microphone bisa anda gunakan clip on, boom mic, hand mic. Atau kombinasi semuanya, ini sangat tergantung dari kebutuhan anda. Satu hal lagi, acara variety shownya indoor apa outdoor?

  2. Duch…udah lama nih blom baca blog ini lagi. Kangen juga sih coz banyak ilmu disini. Thank’s yach boss!! Btw, tar masuk kan pak? Kalo iya jelasin tentang mata kuliah yang Produksi program non-drama dong! Bapak nilainya darimana? Apa yang di Karnos Film atau di BSI TV?

    Thank’s

    —————-

    Michbah…nanti sore saya izin gak ngasih kuliah, saya ada shooting konser music di Komunitas Salihara nanti malam. Tentang penilaian produksi non drama, saya sudah jelaskan di awal perkuliahan dulu. Penilaian berlaku untuk produksi di Karnos Film juga waktu simulasi siaran langsung kampus Salemba.

  3. wah, thanx lho pak Diki, udah respon.
    iya, saya bolak-balik halaman blog ini, audio memang belum banyak di bahas.
    acara ini bisa di outdoor atau indoor, ( lokasi sekolah ) , nah salah satu segmen debat antara siswa dan panelis itulah, yang harus indirect sound-nya. (peserta siswa 4 orang, dan panelis 3 orang ) bagaimana saat recording ke kamera nya? (master) ..kami gunakan sony P170 (sekali lagi, budget cetek,pak ;-P ) …bagaimana ya, supaya hasil agar maksimal?

    thanx a lot

    salam -Djuli-

    —————-
    Okay Djuli, yang “debat antara siswa dan panelis ” gunakan aza salah satu kamera untuk merekam audionya. Pake 2 boom mic, 1 boom mic buat siswa, 1 mic lagi buat panelis. Nanti waktu editing ke dua audio itu bisa digabungkan. Bahkan dengan metode begini, misalnya suara panelis volumenya kurang keras masih bisa diadjust tanpa “mengganggu” audio siswa. Setting ke dua channel audio posisikan di “REAR”. Sedangkan kamera lainnya setting di “FRONT”, walaupun nantinya audio di 2 kamera itu tidak dipakai, tetap diperlukan buat guiding waktu editing.

  4. Assalamu’akum bang, kenalkan saya andri hasan, saya berprofesi sama halnya dengan abang sebagai broadcaster cuman rezekinya aja yang beda, kalau saya di TV lokal gitu lah http://www.pjtv.co.id saya sangat tertarik dengan tuliasan abang, karena itu yang saya butuhkan. mohon ijin untuk di copy paste untuk di posting di weblog saya, tapi saya juga mempermalingkan setiap judul tulisan ke webblognya abang, jadi semua tulisan brodcast tautnya ke weblog abang. mohon dibalas terima kasih.


    ——————
    Silahkan dicopypastekan di weblog anda, dengan senang hati semoga bermanfaat.

  5. pak tar saya jadi artis pak . . . he . . he . .
    ikutan parodi di karnos aye jadi glen predly.
    sebenarnya aye kagak suka jadi glen fredly pak.soale aye anak punk rock.ya untuk memeriahkan suasana ya gpplah.
    pak curhat dunkz . . .
    selama ini aye brantem bank ame kriska , , , tolong dunkz satuin kayak dulu lg.
    dulu aye ma dia kepompong pak,sekarang jadi kedebuk.

    salam damai kami sepanjang hari . . .
    THE YOUNG GUN OF CAMERA
    stupid idea . . . creatif idea . . .
    —————
    Ya, smoga karya non drama kalian di Karnos Film sukses ya.
    Tentang curhat,….semoga kalian berjodoh ya. Rio & Kriska, cocok kok kayaknya ):

  6. pak mau bertanya apa benar di Karnos Film adalah penilaian yg paling utama.apa di BSI tv cuma pelengkap aza,,,,,,aku kata anak2,,,,,by molly cool
    ———-
    Arrrrgggh…Molly Sutarno (sutradara film porno), makanya kalo kuliah saya masuk dunk. Saya sering liat kamu nongkrong di luar. Semua “Rule of the Games” kan saya dah jelaskan detail di kelas.

  7. pak…kasih tips supaya ngk gemetaran megang kamera ….

    Molly mau tipsnya ya, silahkan simak baik-baik:
    – Jangan pernah melakukan shooting habis ngebir kebanyakan, karena sejago apapun kamu pake kamera pasti akan goyang kalo shooting dilakukan saat kamu lagi mabok berat.
    – Jika melakukan pengambilan gambar dekat (Close Shot) usahakan jarak subyek dengan kamera sedekat mungkin, bukan dengan melakukan zooming. Karena dengan menggunakan fasilitas zoom, kemungkinan getar/shaking lebih besar.
    -Rapatkan lengan dengan tubuh, ini fungsinya bwat penyangga
    -Gunakan tripod ketimbang handheld pasti lebih steady
    -Jangan shooting sambil merokok, mendingan gunakan kedua tangan untuk memegang kamera. Lagian kalo ambil gambar sambil merokok jelek secara atitude

  8. What’s Up P Diki,…saya setuju Pak,…gimana kalo kita jodohin aza Tampaty ma Kriska,…pasti seru tuh,…ya sekali-sekali bikin sensasi,…wkwkwkwkwk,….ok Pak, Salam Rezpect dan Unity aza,..moga Broadcast BSI makin jaya,….:) Di tunggu nich kehadirannya di basecamp,……wkwkwkwkwkwkwk🙂

  9. Hatur nuhun pisan kanggo kang Didi anu tos masihan elmu nu mangpaat kanggo abdi ti komunitas barudak daerah nu hoyong mengekspresikan dirina dina dunia film. Cuma tolong sampaikan buat teman-teman yang ada di Jakarta, jangan invasi kota cirebon dong, biarkan orang daerah berkreativitas. cukup kasih ilmunya aja….setuju ga kang Didi?

  10. salam kenal, mohon izin ada beberapa materi kuliah bapak sy jadikan referensi tuk bahan ajar di kelas tq, kapan-kapan bs sy undang tuk jd dosen tamu di kampus sy. makasih

    Silahkan pak, semoga bermanfaat…..

  11. Terima kasih banyak artikel FD-nya, memeberikan pencerahan buat saya pribadi selaku FD junior. Tp sepertinya belum selesai ya Pak? Gpp, saya setia menunggu lanjutannya🙂
    Saya mau tanya sedikit Pak, bagaimana batasan antara Creative dan FD ketika dilapangan?
    Mohon pencerahannya…

    Makasih juga Hani udah baca2 tulisan saya. Memang “sengaja” gak saya selesaikan nulisnya. Tulisan saya di blog hanya sebagian kecil saja, lengkapnya saya tulis untuk buku.

    Beda creative dengan FD di lapangan? ya mestinya sich beda banget, tapi…maksud di lapangan itu apa dulu? waktu rehearsal apa waktu “take” ? FD merupakan wakil PD di studio, dia yg memiliki wewenang atas arahan PD di lapangan. Creative tentu saja boleh memberikan masukan, tapi biasanya bukan waktu take tapi pada saat rehearsal. Bahkan Creative seharusnya lebih konsen pada saat produksi belum dimulai.

    Tapi…..begitulah di Indonesia, kadang orang2 creative “gatel” juga ingin intervensi di lapangan. Gak masalah sich, selama itu ada kesepakatan antara produser,creative,serta PD. Apalagi tidak jarang juga FD berasal dari orang Creative.

  12. mas saya minta contoh format rundown berita, trafik dll tulisan yang menyangkut persiapan berita dong…saya nih lagi kerja di TV komunitas..perlu banyak belajar praktis…dari kuliah dan baca belum cukup…

  13. mas diki mohon ijin copy paste ya..artikelnya bermanfaat sekali,saya tunggu artikel yang laen,TUHAN yang balas mas…amin, sukses buat mas diki,trimks

    dari Dhoho TV ya? kemungkinan kita pernah ketemu di acara seminar TV lokal di Jakarta beberapa waktu lalu. Silahkan dicopy paste, smoga bermanfaat.

  14. Wah blog yang sangat bagus dan bermanfaat..
    saya adalah pendatang baru di dunia televisi dan perfilman, jadi sangat butuh asupan yang bermanfaat seperti materi-materi di blog ini…
    Salam Kenal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s