Drama TV (part 1)

Drama televisi, merupakan karya audio visual drama yang menggunakan televisi sebagai media penayangannya. Sebelum jauh membahas tentang drama televisi,kita liat tentang pengertian “drama” itu sendiri.

Ada beberapa definisi tentang drama, yang paling simpel drama diartikan sebagai life presented in action, demikian menurut Moulton. Atau hidup yang dilukiskan dengan gerak.

Drama adalah bentuk cerita konflik manusia dalam bentuk dialog yang diproyeksikan pada pentas dengan menggunakan percakan dan action di depan penonton/audience. Drama dirancang untuk penonton, drama bergantung pada k

omunikasi. Jika drama tidak komunikatif, maksud pengarang, pembangun respon emosional tidak akan sampai (Dietrich, 1953:4).

Menurut Brander Mathews, konflik dari sifat manusia merupakan sumber pokok drama. Menurut Ferdinand Brunetierre, drama haruslah melahirkan kehendak manusia dengan action.

Menurut Balthazar Verhagen, drama adalah kesenian melukiskan sifat dan sikap manusia dengan gerak.

Ada beberapa aliran dalam drama menurut pendefinisiannya, yakni :

  1. Aliaran Realisme : Psikologis & Sosial
  2. Aliran Romantik

Aliran realisme lebih mementingkan kenyataan yang digambarkan sedangkan aliran romantik menampilkan hal-hal yang berlebihan dan sentimental.

Acting

Acting merupakan wujud atau bentuk ekspresi, gerakan, mimik,  atau ucapan dari pamain yang memerankan tokoh dan karakter dalam cerita.

Asal kata  acting  adalah  to  Act  atau dalam bahasa Indonesia  berarti beraksi. Itu sebabnya kita sering mendengar sutradara meneriakkan kata action  !dibelakang kamera ketika aktor akan memulaiaktingnya. Akting dengan demikian lebih berartimengaksikan peran yang dimainkan.

Dalam buku Seni Akting, Catatan -Catatan Dasar Seni Kreatif Seorang Aktor disebutkan bahwa Akting adalah wujud yang kasat mata dari suatu seni peragaan tubuh,  yang menirukan perilaku _ perilaku manusia mencakup segala segi, lahir dan batin, yang sebelumnya digagas terlebih dahulu,  direka,  dirancang,  kemudian diselenggarakan di panggung untuk disaksikan penonton peminatnya sebagi bentuk seni efemeral.

Seni efemeral berarti yang dilangsungkan melalui akting tersebut adalah seni pertunjukan teater atau seni pertunjukan drama yang di dalamnya terusung hal – hal menarik dari rahasia kehidupan manusia,  sosok- sosoknya secara rinci, dan meliputi permasalahan-permasalahan khas insani secara terpadu,  lengkap dengan bagan – bagan spesifik menurut alur cerita, serta lazimnya dipertontonkan pada suatu malam dan berakhir pada malam yang sama pula.

Makna visual dari sebuah drama sangat dipengaruhi oleh teknik berperan dari pemain dalam membawakan karakternya masing – masing. Pada dasarnya seni peran adalah bagaimana mengatur ekspresi diri.

Dalam asas -asas akting ada dua bagian pelaksanaan akting, yaitu dalam teater tradisional disebut non – realisme, dan dalam teater modern disebut realisme

Akting non-realisme adalah akting dengan gerakan-gerakan besar, sehingga menampilkan sosok yang tidak naturalis dan tidak realistis, dan lazim dikatakan bentuk representasional. 

Seperti pada teater tradisional Indonesia, baik klasik seperti wayang wong, ketoprak,  langendriyan dan lain  sebagainya termasuk yang  populer seperti Srimulat, Lenong.

Sedangkan akting realisme merupakan gambaran aktor memainkan perannya dengan memperdayakan dengan betul alat- alat TRJ-nya atau Tubuh, Roh, Jiwa, sehingga darinya diperoleh tontonan tindak perbuatan dan perilakuan yang naturalis, yang artinya mewakili secara asasi kenyataan – kenyataan alami.

Tujuan Acting

Akting adalah suatu pekerjaan, jadi mempelajari akting merupakan suatu kemauan untuk menjadi tujuan hidupnya

Akting harus ditumbuhkan dari kesadaran insani manusia yang mengikat sehingga menentukan nilai kepribadiannya.  ( karakter yang melekat pada diri pemain ).

Kesadaran yang dimaksud :

Dorongan estetik menentukan lahirnya kesenian adalah dorongan keindahan.

Dorongan ekonomi ( Aktor bermain akting karena dorongan untuk mendapatkan hasil).

Kesadaran Etis : sumber segala keindahan adalah sang Ilahi. Pencipta Alam dan segala isinya ditrima secara dogmatis (akting didorong dengan adanya keindahan- keindahan yang berasal dari Tuhan)

Continuity

Pengertian kontinuitas dalam hal ini adalah kelangsungan, kelanjutan atau kesinambungan. Lebih khususnya adalah kesinambungan para pemain dalam memerankan tokoh dalam drama.

Kontinuitas dalam sebuah drama dapat katakan sebagai kunci pokok keberhasilan dari drama tersebut.  Sebuah drama  yang  apabila kontinuitinya sempurna akan disukai karena menggambarkan peristiwa secara realistik. 

Lima faktor kontinuiti tersebut adalah :

Content Continuity : kontinuitas gambar pada isi cerita yang terangkum dalam sambungan berbagai shot. Hal tersebut bisa berbentuk benda (tata artistik, properti), sinar cahaya (tata cahaya), wardrobe, dan make up.

Movement Continuity : kontinuitas gambar pada gerakan yang direkayasa ataupun yang terjadi dengan sendirinya (natural).  Gerakan dalam adegan diperankan oleh pemain dan figuran, sedangkan gerakan natural merupakan gerakan yang terjadi karena faktor alam, misalnya awan ditiup angin, riak dari air terjun ataupun burung terbang bebas.

Dialogue  Continuity : kontinuitas dialog  yang  terwujud dalam percakapan para pemeran sesuai dengan tuntutan cerita dan logika visual (kebutuhan gambar sesuai dengan naskah).

Position  Continuity : kontinuitas gambar untuk blocking pemain,  posisi properti (tata artistik), dan berbagai posisi lainya yang disesuakan dengan komkposisi gambar dalam berbagai sudut arah kamera

Sound  Continuity : kontinuitas suara dalam gambar, baik yang bersifat Direct Sound (suara yang direkam langsung pada saat shotting) maupun Indirect Sound (sound effect dan ilustrasi musik).

 

 

 

 

4 pemikiran pada “Drama TV (part 1)

  1. Pak Diki,

    Kalo saya sama geng garbage mao liat proses produksi di Komunitas Musik Salihara boleh gak? BTW, ada job-job gak nih tentang produksi drama? Kita mao nih ngerjain yang penting di support (He…he….he….).
    Pak, saya mao tanya soal jadi produser lini dong..saya lupa mao tanya ke bapak semalam.

    Thank’s

    Geng Garbage

  2. Pak Diki,

    Saya mau bertanya, apa sich perbedaan acting alami dan acting bakat? Tolong kasih contohnya masing-masing!

    acting alami dan acting bakat? hemmm coba baca “membangun Tokoh” karya Constantin Stanilavsky dech…lengkap banget tuh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s