Produksi Televisi (Part 5)

Studio Rehearsal

Oleh Diki Umbara

Suatu produksi acara televisi di studio merupakan produksi yang sangat kompleks, banyak melibatkan kru produksi, equiment, serta prosedur yang harus dilewati. Agar suatu produksi bisa berjalan dengan lancar, maka rehearsal/gladiresik merupakan kunci utama.

Dan rehearsal merupakan salah satu step serta prosdur produksi itu sendiri. Tulisan di bawah akan mengajak anda, bagaimana rehearsal terutama untuk produksi acara televisi di studio.

Rehearsal adalah tahap awal ketika proses pra produksi selesai. Rehearsal dilakukan oleh tim produksi secara menyeluruh. Dengan rehearsal kemungkinan kesalahan ketika shooting berlangsung bisa diminimalisair bahkan diharapkan tidak ada sedikit kesalahanpun nantinya. Hal yang perlu diperhatikan dalam rehearsal adalah :

  • Timing
  • Briefing Performers
  • Props
  • Shot Arrangement
  • Audio & Lighting
  • Unrehearsed/Rehearsed Studio Production

Timing

Produksi Televisi akan menyangkut timing/waktu, estimasi waktu harus bisa diprediksi seakurat mungkin. Panduan waktu adalah rundown yang sudah dibuat pada saat pre-production. Dalam format live, pengaturan waktu harus benar-benar diperhitungkan minute by minute serta scond by scond.

Briefing Performers

Salah satu elemen bagus tidaknya suatu acara televisi adalah bagaimana pengisi acara bisa secara total melakukan adegan serta dialog sesuai naskah. Agar hal demikian bisa tercapai diperlukan briefing pada seluruh pemain/pengisi acara. Briefing dilakukan sedetail mungkin. Untuk beberapa contoh kasus bahkan briefing tidak hanya pada masalah konten saja,karena terkadang maslah teknis juga perlu diketahui oleh para pemain.

Props

Property sebagai bagian dari tata artistik harus disiapkan pada saat rehearsal. Namun untuk keperluan ini bisa saja menggunakan dummy.

Shot Arrangement

Pengaturan shot sudah bisa dilakukan pada saat rehearsal, selalu mengecek area shot sesuai dengan yang telah direncanakan. Dengan pengaturan shot ini juga bisa melihat apakah penataan artistik sudah sesuai dengan yang diharapkan. Juga akan berkaitan dengan penataan lighting.

Audio & Lighting

Sebagai bagian dari produksi audio visual, audio dan lighting harus menjadi perhatian yang baik. Selalu mengecek apakah audio sudah berjalan dengan benar, karena paling tidak ada dua masalah audio yang harus diperhatikan. Pertama,audio yang ada di area studio tersebut (misalnya acara musik). Kedua, audio yang akan dipakai sebagai output acara.

Prosedur Rehearsal

Dalam berbagai tipe acara televisi hampir memiliki hal yang sama ketika melakukan rehearsal. Tidak ada aturan mengenai berapa kali kegiatan ini dilakukan, untuk acara yang besar kadang rehearsal dilakukan secara parsial. Pada intinya rehearsal dilkakukan untuk membantu agar pada proses pengambilan gambar nantinya bisa berjalan lancar. Rehearsal terakhir dilakukan secara run trough, sesuai dengan rundown yang telah dibuat. Ada tiga jenis prosedur rehearsal yang dilakukan oleh penagarah acara :

  • Camera Blocking
  • Floor Blocking

Blocking kamera ditentukan oleh Program Director. Photo by Reni Umbara

Camera Blocking

Di sini director/pengarah acara melakukan kontrol dari sebuah control room. Di dalam control room sudah tersedia monitor dari seluruh kamera serta monitor preview dan program, dengan demikian pengarah acara bisa mengontrol penuh bagaimana kamera-kamera tersebut ditempatkan. Dalam hal ini pengarah acara hanya akan “turun” ke lapangan /studio jika ada hal yang dirasa sangat penting untuk diskusi langsung dengan crew.

Floor Blocking

Kebalikkannya dengan metode Camera Blocking, pada metode ini pengarah acara mengontrol melalui monitor yang ada di studio. Dengan demikian dia bisa mengatur langsung para pemain dan pengarah acara ke control room pada saat taping.

Floor Director memberikan briefing pada peserta gameshow tv. Photo by Reni Umbara

Masalah dalam Rehearsal

Ketika melakukan rehearsal akan ditemui banyak permasalahan, justru dengan demikian kesalahan tersebut bisa diperbaiki sedini mungkin. Permasalahan itu anatara lain :

Shot

Jika tidak mendapatkan shot yang detail, maka caranya dengan menggeser subjek atau menggeser posisi kamera atau dengan melakukan zoom in. Begitu juga kalau ada set yang kurang pas posisinya, set tersebut bisa digeser agar bisa dishoot dengan komposisi yang baik.

Pemain

Jika pemain keluar dari posisi dalam framming maka hal yang bisa dilakukan adalah dengan memberi ”marking” pada lantai. Dan memberi arahan agar pengisi acara/pemain agar tidak keluar dari marking yang sudah dibuat. Pemain terkadang salah arah kamera, hal ini bisa diatasi dengan meminta floor manager untuk memberi cue agar pemain menghadap pada kamera yang diinginkan. Jika banyak terjadi kesalahan pada dialog, gunakan cue card, prompter, dan alat bantu lainnya. Jika terjadi kesalahan lain ? Ya tentu saja dilakukan retake. Tapi hal ini hanya berlaku pada metode taping, tidak untuk acara langsung.

Desain Set

Desain serta property harus diperhatikan dengan seksama. Kadang property tertentu tidak terlalu jelas atau bahkan memmantulkan cahaya yang berlebihan. Untuk mengatasi hal ini dengan mengatur tata cahaya, memcarai sudut pengambilan lain, mengecat kembali properti tersebut, atau dengan menyemprot properti tersebut dengan dulling spray. Masalah lain dalam property adalah warna serta tone yang kurang bagus, hal ini juga bisa diatasi dengan penataan lighting atau dengan memodifikasi background.

11 pemikiran pada “Produksi Televisi (Part 5)

  1. salam kenal mas diki saya..saya mo nanya tentang lighting / tata cahaya gimana kerja samanya dgn tata artistik dan jenis lampu yang digunakan pada produksi di studio apa saja sih yang harus di pertimbangkan tentang kesan suasana & efect 3 dimensi yang dihasilkan..?makasih sblumnya trus terang dgn membaca tulisan mas diki jd menambah pengetahuan saya tentang broadcasting


    Tentang hubungan kerja antar departemen kru sepertinya pernah saya bahas dech, cuma saya lupa di blog apa di kelas ya. Yang jelas tentu saja harus ada kerjasama yg baik antara tata artistik dan penata cahaya. Shooting itu melukis dengan cahaya. Salah satu unsur yg paling menentukan baik tidaknya sebuah acara tv atau film adalah tata cahaya. Dengan tata cahaya yg benar maka, akan ada dimensi antar properti satu dengan lainnya, antara set dengan subjek (pemain/pengisi acara).

    Konsep paling sederhana dalam tata cahaya adalah bagaimana anda memadu padankan key light (cahaya utama), fill light (pengisi), dan back light. Dan satu lagi background light. Nah yg terakhir ini merupakan unsur pencahyaan yang anda blang sebagai effect dimensi yang dihasilkan. Kalau 3 unsur pertama lebih ke pencahyaan subjek, sedangkan background light lebih ke dimensi antar subjek dengan panggung/set/artitistik.

    Sebagai bahan bacaan coba anda cari buku “Lighting for Television and Film” harganya sekitar enam ratus ribuan ribuan. Buku ini keren banget mas, sayangnya ini merupakan buku yg dipinjam dan tidak kembali.

  2. Salam kenal mas, saya kerie mas 26 tahun, saya telah melewatkan 8 tahun kehidupan saya untuk hal2 yang tidak saya inginkan. Namun akhirnya saya dapat menemukan apa yg benar-benar saya inginkan, apa yang benar-benar telah ditanamkan dalam diri saya….. buyset berat banget ya mas….. . . he he he he intinya saya tau bahwa hidup saya ke depan adalah hidup yang saya jalani di dunia broadcasting, makanya saya senang sekali melihat blog mas ini, saya ingin mendapatkan informsai sebanyak2nya dan sedetailnya tentang broadcasting. Saya harap mas jg bisa menjadi netor virtual saya. Oh iya mas…. dimana saya bisa melihat tulisan-tulisan mas yang lain ya
    SALAM


    Okay met kenal juga Kerie. Kamu bilang “intinya saya tau bahwa hidup saya ke depan adalah hidup yang saya jalani di dunia broadcasting”. Berbahagialah kawan, karena dirimu telah menemukan jalan hidup kamu di masa mendatang.

    Blog ini saya dedikasikan untuk sharing ilmu khususnya di bidang broadcasting & sinematografi. Tentang tulisan yang lain yang lebih lengkap, sementara tidak saya posting di sini. Saat ini saya sedang menggarap penulisan buku, diantaranya “Become a Cameraman”, “Produksi Televisi”, “TV Komunitas, Media Alternatif”. Jadi tulisan versi lengkap diharapkan ada di buku2 ini. Yang sudah mau rampung adalah “Become a Cameraman”.

    Netor Virtual? di sela2 waktu saya sempatkan untuk menjawab pertanyaan yg disampaikan via blog sederhana ini. Mari kita berdiskusi…..

  3. Mentor Virtual Maksudnya mas, Mentoring yang dilakukan didunia virtual seperti ini mas…. Mas, saya perkenalkan kegiatan saya skrng, saya bersama teman joinan punya studio sendiri, lantai 1 kami buat studio rekaman dan studio musik, beberapa album musik daerah dan album natal sedang kami kerjakan, seru deh mas!. Nah dilantai 2 adalah daerah Teritorial saya, saat ini sdang digunakan untuk keperluan khursus musik, mulai Vocal,Gitar,Drum, dll. TAPI kedepan saya ingin daerah teritorial saya itu akan menjadi ruang Produksi TV saya, Karena itulah yang saya impi2kan. Itu sekilas ttng saya mas.

    1.Kemaren saya berkesempatan melihat pembuatan Vidio Klip, yang dibuat oleh mas David dari jkt, Nah dari pengalaman melihat itu saya memberanikan diri menerima tawaran pembuatan vidio clip dari klien rekaman saya. Beberapa persiapan non teknis sya sdang siapkan, termasuk alur cerita clipnya. Tapi yang masih menjadi perhatian saya adalah CAMERA, saya ingin mencari (nyewa) beberapa kamera, tapi informasainya membingungkan, katanya kalau Camera untuk outdoor beda dengan camera indoor, Benar begitu mas? padahal waktu saya liat pembuatan vidio clip camera yang digunakan oleh directornya cuma 1, untuk take outdoor maupun indoor,

    2.Trus tentang sudut pengambilan gambar, yang paling bagu tuh yang mana mas, krn sya dengar directornya bicara” Ok…Take up angle…… lanjuta low angle……” emang ada berapa angle mas dalam tiap pengambilan gambar.

    Saya tau ini kedengarannya pertanyaan sepele, dan masih jauh dari produksi TV, tapi saya juga yakin Tiap pekerjan besar dimulai dengan pekerjaan kecil yang dilakukan dengan kesungguhan yang besar.
    Oh iya mas saya sudah memiliki bbrp konsep acara TV untuk saya produksi di TV lokal daerah saya…. Saya gak sabar untuk mewujudkannya….. Thx mas


    Daerah teritorial ? kayak korem sama kodim aza mas, hehehe….
    Okay,saya coba jelaskan tentang pertanyaan dirimu ya mas :

    1. Tentang jenis kamera, ada beberapa jenis mas. Diantaranya, Kamera Studio, Kamera EFP (Electronic Field Production), dan Kamera ENG (Electronic News Gathering). Secara sederhana, kamera studio ya diperuntukkan di studio (itu lho mas kamera yang segede gaban yg dipunyai oleh Indosiar sama MetroTV,ciri hasnya kotak lensa besar warna putih). Trus kamera EFP buat produksi tv, dan kamera ENG buat di lapangan (news,etc.). Tapi….di Indonesia rancu kok mas, misal kamera ENG yg biasa buat news bisa juga buat produksi. Parahnya lagi kamera model Sony PD170 yg biasa dipakai di lapangan, banyak juga yg make buat di studio. O’ya pengklasifikasian jenis kamera juga ada beberapa mas. Kalo dari format tapenya ada kamera Betacam,DVCam,HDV,XDCam, dan P2 (Tapless). Ada juga pengkasifikasian berdasarkan ukuran, diaranya : Compact Camera, Lightweight Camera.

    Hemmm…ya seharusnya emang beda antara kamera yg dipake buat indoor sama outdoor. Nah tentang banyaknya kamera yg digunakan untuk produksi acara tv (termasuk video klip), tentu saja sangan tergantung mas, tergantung dari konsep recordingnya. Mau single camera atau multicamera. Video klip banyaknya menggunakan single camera, baik indoor maupun outdoor. Kalau konser musik, ya idealnya pasti pake sistem multi camera. Coba,baca tulisan saya tentang produksi multicamera dech mas.

    2. Tentang sudut pengambilan gambar alias ANGLE, banyak jenisnya mas. Ada Low Angle, yakni pengambilan gambar, posisi kamera lebih rendah dari subyek. Pengambilan gambarnya dari bawah. Dengan pengambilan gambar seperti ini biasanya subyek akan keliatan superior/gagah/mendominasi (selanjutnya dirimu bisa baca tulisan saya “Ada Makna di Balik Shot”). High Angle kebalikan dari Low Angle. Ada lagi Eye Level, pengamblilan gambar rata/datar/sejajar antara subyek dengan kamera. Frog View, pengambilan gambar rata dengan tanah/lantai/air dsb misalnya untuk mengambil gambar tentara lagi tiarap. Bird Eye View, sudut pengambilan gambar dari atas. Ada lagi Dutch Angle…dan masihhhh banyak lagi. Saat ini saya sedang menyusun buku (udah mau rampung) “Become A Cameraman”, nah disitu saya jelasin betul detail tentang apa dan bagaimana cameraman bekerja, teknis, serta philosophy shot. Do’ain cepet kelar aza ya…

    Tidak ada pertanyaan yang sepele buat saya, semua pertanyaan itu baik…bahkan pertanyaan iseng sekalipun. Saya malahan akan kesel kalo di kelas,mahasiswa pada males bertanya.

    Okay mas,smoga bisa menjawab….bagusnya sich jangan puas biar dirimu bisa beli buku saya nanti…hehehe

  4. MAs…. saya sudah mengunduh beberapa tulisan di web mas….. mas PElatihan Jurnalisame TV SBM tahun 2009 mulai kapan ya mas? Mas editing yang masa pake tiu Avid Expres dan avid adrenalin? Bisa jelasin apa itu mas? Saya taunya Penacle, Adhope premire…….
    Mas cita-cita saya adalah Pengarah acara ato produser…. sebentar…. pengarah acara itu sama denga produser bukan?….. nah sehubungn dengan cita-cita saa tersebut training yang mana yang paling tepat juka saya sekolah di SBM? Matursuwun mas

  5. Satu lagi mas…. mas S2 bidang Manajeman Media? saya juga berencana S2….(AMIN) nah yang berkenaan dengan cita-cita saya di atas tuh S2 apa ya mas… ada emang S2 TV broadcasting? mastur suwun lagi mas

  6. hallo boz…… boleh numpang copy semua artikel anda tentang produksi acara televisi ?
    kegunaannya untuk bekal pembelajaran anak-anak yang magang di tvri kalbar…..
    thanks before

  7. mas mau tanya??klo saya mau lebih tau lagi ttg cameraman gmn???untuk menjadi seorang cameraman harus sekolah dulu??klo iy dmn??

  8. keren bgt blog’a mas..
    Salm knl ya..
    Yg mas tls ttg multicam, sama persis dgn apa yg saya dpt di tmpt magang saya di tv lokal. Saya mau beli buku buat kebtuhan laporan saya. Buku2 mas udh jadi? Jdul’a apa saja? Saya bisa beli dimana? Saya amat sgt btuh byk bku broadcast tp jgn yg mhal2.hehe
    mkch byk bos.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s