Persiapan Shooting (part 2)

Bekerjasama dengan Penulis Naskah

Hal pertama yang dilakukan sutradara ketika akan membuat sebuah film adalah bekerjasama dengan penulis. Di sinilah sutaradara memberikan interpretasi pada naskah yang telah didevelop oleh penulis naskah. Bahkan beberapa sutradara terlibat dalam penulisan kembali naskah tersebut menjadi sebuah final script. Sebelumnya kerjasama bisa dilakukan antara sutradara, penulis, dan produser. Kerjasama ini terjalin dengan istilah tri angle system.

Sutradara Billy Wilder mengatakan “Tidak terlalu perlu seorang sutradara mampu menulis naskah, tapi yang paling penting, sutaradara harus mampu bagaimana membaca naskah . Tidak mudah mengatakan pada seorang penulis, “Apa artinya ini, saya tidak mendapatkan apa-apa dari naskah ini?.

Melalui pendekatan dan hubungan baik anatara sutradara dengan penulis, menjadikan ke dua profesi ini menjadi satu kolaborasi yang baik pula. Sutaradara bisa menjadi seorang co-writer dan seorang penulis naskah bisa membayangkan bagaimana menyutradari sebuah film. Oleh karena itu tidak sedikit penulis naskah bisa menjadi seorang sutradara.  Perbedaan diantara kedua fungsi tersebut justru bisa saling mengisi satu sama lain.

Sutaradara Robert Mulligan mempunyai pendekatan yang berbeda dalam hal ini, “Tidak semua sutradara harus menulis, tapi diharapkan setiap penulis bisa mendirect. Saya tidak menulis kata-kata ke dalam sebuah kertas (naskah), tapi saya berkolaborasi dengan penulis secra efektif dengan cara tahap demi tahap. Ketika dalam film ada sebuah shot, saya perlihatkan pada penulis. Jika penulis punya gagasan serta usulan saya mendegarkannya  secara serius. Tapi penulis tahu benar bahwa keputusan ada di tangan saya.”

Melakukan Casting

Film casting is the art behind the art, and it requires an eye and a deep feel for talent or the just the one intuitive perception of that one thespian who is the perfect choice to fill that one role in the film.

Sederhananya casting adalah penentuan pemain berdasarkan analisis naskah untuk diproduksi. Jika sutradara telah menentukan shooting date (tentu saja  dengan asumsi telah disepakati bersama  produser), concern selanjutnya adalah pada penentuan pemain (aktor) . Betul bahwa ada yang mengurusi soal casting yankni sebuah departemen casting/ casting departement. Tapi dalam banyak proyek  film, sutradara terlibat penuh dalam proses casting ini.

Ada banyak metode casting, diantaranya :

  1. Casting by Ability

Berdasarkan yang terpandai dan terbaik dipilih untuk peran yang penting / utama dan kesulitan yang tinggi.

  1. Casting to Emosional Temprament

Memilih seorang pemain berdasarkan hasil observasi hidup pribadinya, karena mempunyai banyak kesamaan atau kecocokan dengan peran yang dipegangnya (kesamaan emosi, temprament, kebiasaan dll.)

Metode casting seperti ini banyak sekali dilakukan oleh para pembuat film Hollywood.

  1. Casting to Tipe

Pemilihan pemain berdasarkan kecocokan fisik si pemain ( tinggi badan, berat badan, bentuk tubuh dll )

d. Anti type Casting

Pemilihan yang bertentangan dengan watak atau fisik, ini menentang keumuman jenis perwatakan manusia secara konvensional sering disebut education casting.

e. Therapeutic Casting

Menentukan seorang pemain atau pelaku yang bertentangan dengan watak aslinya dengan maksud dan tujuan untuk menyembuhkan atau mengurangi ketidak seimbangan jiwanya.

bersambung…….

7 pemikiran pada “Persiapan Shooting (part 2)

  1. Pengertian shooting ya? wah pasti banyak definisinya lah. Tapi yang paling sederhana, shooting adalah proses pengambilan gambar ke dalam bentuk audio visual.Shooting berasal dari “to shoot,” yang berarti menembak atau membidik (point and shoot.) Dari kata “to shoot” kita bisa dapatkan kata benda “shot.” “to shoot” artinya membidikan kamera ke arah subject. “Shooting” adalah aksi mengambil gambar subject yang di depan camera. “A shot” adalah sebuah cuplikan (frame) dari hasil gambar yang telah direkam dalam kamera.

    Atau simpelnya shooting adalah proses pengambilan gambar subjek ke dalam media, baik subjek bergerak atau tidak bergerak untuk kepentingan audio visual. Shooting merupakan bagian dari sebuah produksi audio visual yang menggunakan kamera sebagai alat perekam.

    Bingung ya? ya semoga bingung, karena bingung adalah hidup. Halahhhh lebaiiii banget ya.

    regard
    Diki Umbara

  2. To Pensen :
    Casting di Indonesia ? ya hampir semua metode yg saya jelasin di atas mereka menggunakannya. Tapi banyaknya pake yg Casting by Ability.

    Tapi yg paling sering sebetulnya, sutradara sama produser sudah tau kira2 siapa yg cocok untuk pemeran utama di film2 mereka.

    Biasanya kalo produser sama sutradara dah cocok ke beberapa artis tertentu, mereka biasa make itu terus. Nah…di luar negeri juga sama kok kayak gitu juga.

  3. Sebelumnya terima kasih banyak atas blognya.
    Tadinya saya sudah hampir putus asa karena belum dapat data tentang penyutradaraan untuk calon skripsi saya yang rencananya berjudul “Strategi Penyutradaraan Film ?(masih belum tahu mau pilih film apa)”.Tapi setelah browsing n liat blognya mas diki, saya jadi bisa sedikit bernafas lega.
    Btw,saya mau tanya.Buku2 yang tertera di samping kanan itu punya mas diki semua?.Boleh fotokopi gak kalo saya perlu?.Atau mungkin mas bisa rekomendasikan perpustakaan mana yang memiliki banyak buku tentang film dan penyutradaraan?.
    THanks b4

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s