Hanung Bramantyo

Film layar lebar pertama garapannya, Brownies, langsung menobatkannya sebagai Sutradara Terbaik dalam Festival Film Indonesia 2005. Setelah itu, kariernya seolah tak terbendung. Filmnya yang lain, Jomblo (2006), juga tak kalah laris, sehingga akhirnya diproduksi ulang dalam bentuk sinetron. Kini, ia sudah siap menggarap dua film baru, yaitu Ayat-Ayat Cinta (dari novel berjudul sama karya penulis Mesir, Habiburrahman El-Shirazy) dan Get Married.

Seni peran dan penyutradaraan sudah sejak lama mencuri hati pria kelahiran Yogyakarta, 1 Oktober 1975, ini. Semasa kecil, putra sulung pasangan Muhammad Salim dan Mulyati ini sering diajak neneknya (dari pihak Ayah) nonton kesenian tradisional ketoprak. Sejak itu pula, ia mulai bermimpi menekuni seni pertunjukkan. Ia pun bergabung dengan teater masjid dekat rumahnya, di bilangan Kadipaten Yogyakarta. Bisa dibilang, sejak usia 10 tahun ia sudah berakting sekaligus menulis skenario dan menjadi sutradara untuk pentas-pentas drama di sekolah. Buat Hanung, mementaskan drama sungguh mengasyikkan. Ia bisa mengembangkan imajinasi sekaligus menciptakan dunia baru diatas panggung, membayangkan jalan ceritanya, memilih pemain, menyiapkan properti, lalu mewujudkannya dalam bentuk pertunjukan. Kegilaannya pada dunia teater terus berlangsung hingga di SMA. Apalagi, saat itu ia pun sudah mulai berinteraksi dengan tokoh-tokoh teater di Yogya, seperti Emha Ainun Najib dan Landung Simatupang.

 

Ia punya kenangan indah tentang masa-masa itu. Saat di SMA, ia membentuk kelompok teater untuk mengikuti Festival Teater se-SLTA di Yogya. Lakonnya sudah ditentukan, yaitu sebuah lakon Rusia. Karena anak buahnya kebanyakan perempuan dan berjilbab, aktor utamanya yang seharusnya laki-laki, ia ubah jadi perempuan. Dan, karena ia berjilbab, Hanung pun mengubah latar belakang Rusia menjadi Timur Tengah, pemeran utamanya menjadi pemain terbaik. Sayangnya, keinginan Hanung untuk melanjutkan kuliah ke ISI (Institut Seni Indonesia) mendapat tentangan keras dari ayahnya. Sebagai pengusaha sekaligus tokoh Muhammadiyah, sang ayah hanya menoleransi kegiatan teater sebagai hobi, bukan profesi. Alhasil, setamat SMA, Hanung melanjutkan kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (UII), sekaligus di Fakultas Seni Rupa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

 

Ternyata, panggilan dunia teater terlalu kuat, hanya bertahan 5 semester, ia pun meninggalkan kuliahnya di UII dan UNY. Sempat luntang-lantung beberapa bulan, ia diajak DJaduk Ferianto ke Jakarta untuk nyantrik (magang) di rumah sutradara kenamaan Teguh Karya (alm), yang merangkap sanggar Teater Populer. Kebetulan, saat itu Teguh sedang menggarap film Perkawinan Siti Zubaidah. Alhasil, minat Hanung mulai beralih. Bila semula ingin jadi aktor, kini ia kesengsem menjadi sutradara. Tapi, selama magang itu, ia hanya boleh lihat-lihat saja. Pegang kamera tidak boleh, ikut mengurusi kostum dan properti juga tidak boleh, karena tidak betah diam, ia jadi tukang membuatkan minuman buat semua orang. Sewaktu ia bilang bahwa ia ingin menjadi sutradara, Pak Steve (panggilan akrab Teguh Karya) hanya senyum-senyum. Dia bilang, untung kamu datang ke saya. Selanjutnya, ia coba-coba bikin film sendiri, dengan peralatan seadanya. Ketika ia perlihatkan kepada Pak Steve, beliau malah menyuruh ia mengambil kuliah sinematografi. Padahal, saat itu ia tak percaya bahwa seni bisa dipelajari lewat institusi formal.

 

Nasihat itu diturutinya juga. Hanung datang lagi kepada bapaknya, minta dibiayai kuliah di sinematografi IKJ. Kata sang ayah, ini terakhir kalinya ia mau membantu Hanung. Ternyata, keputusannya kali ini tidak keliru. Di Jakarta, ia bisa mengembangkan diri secara maksimal. Ia juga dengan mudah bisa bertemu tokoh-tokoh film terkemuka, antara lain Slamet Rahardjo, Garin Nugroho, Mira Lesmana, dan Riri Riza. Duduk di semester II, sudah menghasilkan sebuah film pendek berjudul Tlutur, dan berhasil menjadi juara pertama dalam Festival Film Alternatif yang diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta. Selanjutnya, ia banyak membuat telesinema anak-anak, antara lain Gelas-Gelas Berdenting (1998). Namun, kemudian ia gerah sendiri. Saya tidak tega melihat ibu-ibu yang begitu ambisius menjual anak-anak mereka agar bisa main film, ujarnya. Setelah menggarap beberapa sinetron, ia ditawari Leo Sutanto, produser sekaligus pemilik perusahaan film SinemaArt, untuk menyutradarai film layar lebar berjudul Brownies.

 

Awalnya ia sempat frustasi ketika ditawari untuk menggarap film ini. Karena pada waktu itu, ia masih penuh idealisme. Kok, film layar lebar pertama saya justru film remaja yang hanya mengikuti selera pasar? Tapi, saya pantang menolak tawaran. Saat itu, mendapat kesempatan menyutradarai film layar lebar saja sudah hebat banget. Pokoknya, apapun tawaran yang datang, justru akan saya jadikan tantangan,kenangnya.  Nyatanya, lewat film Brownies, ia malah mendapat Piala Citra. Berkompromi dengan sutradara dan selera pasar, mau tak mau memang harus ia lakoni. Untuk saat ini, ia hanya ingin film-filmnya ditonton oleh sebanyak mungkin penonton. Ia juga tak ingin merugikan pihak produser yang sudah mengeluarkan dana yang tidak sedikit. Tapi, ia juga tidak mau membuat film yang hanya mementingkan segi komersial semata.

 

Karena itu, sebisa mungkin ia melakukan kompromi supaya ide-ide pribadinya juga bisa masuk. Mungkin, nanti-nanti, kalau ia sudah cukup punya modal sendiri, atau kalau ada produser yang nekat, barulah ia akan membuat film-film yang bisa menyalurkan semua idealismenya.

Satu pemikiran pada “Hanung Bramantyo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s