Dokumenter Part 9

Juni 13, 2009 at 4:33 am | In dokumenter | 1 Comment

Narasumber dalam Dokumenter

Oleh Diki Umbara

Narasumber dalam dokumenter adalah hal yang sangat penting, narasumber sebagai subyek bukan sebagai obyek. Itulah uniknya dokumenter, memperlakukan manusia sebagai subyek. Narasumber memiliki karakter yang berbeda, artinya lebih baik menggunakan pendekatan subyektif ketimbang generalisasi. Ribet? Gak ah. Mari kita diskusikan……

Mengenali Narasumber

Tak kenal maka tak sayang, sebuah adagium klasik sederhana tapi masih relevan sampai saat ini. Narasumber dalam dokumenter adalah hal terpenting setelah ide/gagasan serta bagaimana story telling sang dokumentator. Banyak cara bagaimana menginisiasi calon narasumber kita, dan riset merupakan langkah awal. Kenali calon narasumber dengan berbagai referensi. Jika narasumber merupakan orang terkenal pasti tidak aka nada kesulitan untuk bahan referensi, tapi bagaimana kalau narasumber kita adalah orang biasa-biasa saja?

Prepare Interview vs Casual Interview

Wawancara yang baik seharusnya dilakukan persiapan yang matang, di antaranya dengan menginisiasi calon narasumber kita. Dan yang paling penting lagi adalah goal apa yang ingin dicapai oleh dokumentator atas narasumber tersebut. Ketika goalnya sudah jelas, maka buatlah list pertanyaan, buatlah pertanyaan yang mudah di urutan pertama. Hal ini dilakukan agar narasumber “tidak kaget”, dan dengan demikian dokumentator bisa menginisiasi narasumber ketika di lapangan. Bebrapa praktisi menyarankan untuk membuat semacam pre arrange question, yakni pertanyaan pembuka yang bisa jadi nantinya tidak dipakai ketika proses editing berjalan.

web aceh 1

Berbeda dengan tehnik prepare interview, tehnik lainnya yakni casual interview memiliki pendekatan agak sedikit berbeda. Ketika narsumber ditemui secara on the spot alias langsung di lapangan, maka dokumentator harus memiliki kejelian. Pada waktu pembuatan dokumenter bulan lalu di Aceh, penulis beberapa kali menemui narasumber on the spot. Aceh sebelum paska tsunami dan perjanjian damai Henlinski memang sudah berbeda, namun bukan berarti trauma pada masa Gerakan Aceh Merdeka/GAM serta pemberlakuan Daerah Operasi Militer/DOM sirna begitu saja, traumatik itu masih ada. Ini tentu menyulitkan saya dan tim ketika mewawancarai narasumber, apalagi yang ditanyakan seputar politik. Tanpa kehadiran kamera masih banyak informasi yang bisa penulis eksplorasi, tapi ketika kamera dihadapkan pada mereka, freezeee….. Lalu apa yang bisa dilakukan oleh penulis dan tim? Pendekatan personal. Teori-teori dalam buku jurnalistik investigasi yang sangat Amerika itu tidak berlaku, ini Aceh kawan! Banyak kejadian unik di lapangan, jangankan rakyat biasa, untuk mewancarai mahasiswa yang notabene sangat kritis saja diperlukan pendekatan khusus.

web aceh 2

Don’t stretch to the point, ini salah satu kuncinya. Saya ngobrol dengan mereka dari hal-hal yang ringan sampai pada hal yang menarik buat mereka. Dan mereka itu saya jadikan kita, berarti kami dan mereka. Setelah semuanya sudah terasa nyaman barulah kamera saya on kan,bla…bla…bla….ngalor-ngidul sudah menghabiskan hampir setengah kaset,narasumber bercerita panjang lebar tentang hal yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan materi dokumenter, barulah pada poin yang ingin digali oleh penulis.

Selat Malaka 1

Gotcha! Penulis dapat semua informasi yang diperlukan. Juga demikian, ketika penulis berhasil ngobrol dengan seorang petani di salah satu daerah di Aceh Besar. Bicara tentang bagaimana dia bertani, darimana benih dia dapat, hingga pada poin utama bagaimana keadaan eks kombatan GAM saat ini dan bagaimana politik mutakhir di Aceh saat ini.

Selat Malaka 3

Dalam teori memang banyak dibahas bagaimana menggali narasumber agar bisa menyampaikan informasi selengkap mungkin, tapi tidak dibicarakan bagaimana membuat narasumber nyaman. Nyaman dalam arti personal, dan ini bukan generik. Secara umum ada dua kriteria interview yang baik: yakni riset yang baik serta kemampuan mendengarkan yang baik. Butuh kesabaran yang ekstra ketika kita menjadi pendengar, dengan demikian kita akan peka terhadap apa yang disampaikan oleh narasumber. Tidak sedikit informasi baru akan kita gali ketika kita mendapat tuturan sang narasumber, pertanyaan ke dua, ke tiga, atau bahkan ke empat atas jawaban pertama tadi. Secara psikologis jelas bahwa lawn bicara kita akan merasa nyaman, merasa punya teman, ketika mereka kita dengarkan dengan baik.

Bersambung……

Dokumenter Part 8

Mei 12, 2009 at 9:13 am | In Broadcasting | Leave a Comment

Repotnya jadi Produser Dokumenter

Oleh Diki Umbara

The two most important roles of a documentary producer are to create a safe working environment for the cast and crew and to hire the best people to execute the director’s vision. A documentary producer must be a master of negotiation and people management. (Mechelle Pellebon)

Ada banyak profesi dalam film maupun acara televisi yang berkaitan dengan produser, yakni executive producer,ass.producer, line producer, news producer,sport producer, documentary producer, promo producer, co-producer, dan masih banyak lagi. Secara umum produser mempunyai tanggung jawab dalam sebuah produksi film atau televisi dari mulai pra produksi, produksi, hingga paska produksi. Walaupun secara umum memiliki tanggung jawab yang sama, namun jika dilihat dari hasil karya atau jenis produksi yang dihasilkan, masing-masing produser memiliki kekhasan sendiri,hal ini dikarenakan adanya perbedaan “cara menangani” acara-acara yang spesifik tadi. Dan kali ini kita akan membahas tentang bagaimana produser dokumenter bekerja.

Menentukan Kru

Tentang bagaimana menentukan kru, sudah kita bahas pada artikel sebelumnya, di sana saya tidak hanya membicarakan bagaimana menentukan atau memilih kru, tapi bagaimana membangun tim atau kru yang baru. Di sini saya jelaskan kembali, bahwa salah satu tugas produser adalah memilih kru untuk sebuah produksi dokumenter. Tidak semua cameraman terbiasa dengan pembuatan dokumenter, apalagi misalnya cameraman studio. Cameraman dokumenter harus jeli melihat situasi dan kondisi yang bisa terjadi kapan saja di lapangan. Yang paling memungkinkan dari cameraman lain adalah cameraman berita. Jadi, sebagai produser dokumenter harus dengan cermat ketika memilih kru yang akan diajak kerjasama. Juga ketika memilih siapa yang akan menjadi sutradara dokumenter tersebut, beberapa produser lebih nyaman bekerjasama dengan sutradara “langganannya”. Maka tidak mengherankan kalau “sutradara yang itu” selalu dengan “produser yang itu” juga. Ini sebenarnya tidak hanya terjadi dalam proyek dokumenter, di feature film pun sebetulnya demikian juga. Alasannya hamper sama, sudah ketemu chemistrynya.

Pendanaan Dokumenter

Produser dokumenter harus mampu untuk presentasi pada client atau investor, jika film dokumenter itu orderan atau pesanan dari investor bahkan produser harus terlibat pada banyak tahapan tender/bidding. Jadi, produser dokumenter memang harus jago ngomong, harus bisa memaparkan gagasan serta konsep dokumenter yang akan dibuatnya. Tema bukan segala-galanya dalam film dokumenter, bahkan tidak sedikit tema sudah ditentukan oleh si penyandang dana, yang paling penting adalah bagaimana agar tema tersebut bisa dipaparkan dalam sebuah gagasan sehingga film dokumenter nantinya bisa menjadi karya yang baik, karya dengan story telling yang baik. Ketika mengikuti beberapa kali tender project dokumenter, terkadang saya suka senyum sendiri melihat berbagai gaya produser dalam presentasi, terutama ketika melihat produser yang belum terbiasa presentasi di hadapan klien bule.

Membuat budget untuk pembuatan karya dokumenter haruslah cermat, produser harus bisa mengestimasi budget riset hingga paska produksi sedetail mungkin. Demikian juga ketika client/donor sudah mematok anggaran pembuatan dokumenter, produser tidak boleh akal-akalan mensiasati budget dengan asal tebak. Jangan pernah menganggap donor tidak paham dengan budgeting produksi dokumenter.

Produser dan Penulis Naskah

Di beberapa produksi dokumenter, tidak sedikit profesi penulis naskah dokumenter dihandle oleh produser sendiri. Dokumentator Michael Moore misalnya, dalam karya dokumenternya, selain sebagai produser dia sendiri yang menangani penulisan naskahnya, Roger and Me, dan Sicko, juga dokumentator Morgan Spurlock dengan karya terkenalnya Super Size Me. Inilah salah satu hal yang unik dalam pembuatan dokumenter, satu orang bisa merangkap untuk dua bahkan sampai tiga jabatan. Produser juga, sutradara juga, penulis naskah juga. Ini tidak hanya terjadi di luar sana, di Indonesia juga demikian. Beberapa film dokumenter disutradarai dan ditulis oleh orang yang sama, seperti dokumentator mas Tonny Trimarsanto sama mas Wiranegara misalnya. Kenapa jabatan bisa rangkap begitu? apalagi kalau bukan masalah budget dan masalah efesiensi.

Di Lapangan

shooting dokumenterBenar bahwa di lokasi shooting, apa saja bisa terjadi. Yang paling penting adalah bagaimana agar produser setiap saat bisa mengantisipasi segala kondisi, sampai kondisi ekstrim sekalipun. Apa yang harus dilakukan oleh produser? Ya persiapan yang matang, persiapan dilakukan jauh sebelum pergi ke lapangan. Hasil riset di lapangan sebelumnya baiknya dievaluasi dulu, dibuat check list segala kebutuhan yang diperlukan. Pakailah orang lokal sebagai mitra kerja produser, tidak hanya sebagai porter tapi kru lokal bisa diajak kerjasma sebagai mediator produser dan juga sutradara dengan lingkungan dimana dokumenter itu dibuat. Selalu berkomunikasi dengan sutradara, jangan sampai ada mis antara produser dengan sutradara. Diskusi baiknya dilakukan, pada saat sebelum shooting dan pada saat setelah shooting, untuk evaluasi.

Saat Paska Produksi

Ketika shooting selesai bukan berarti pekerjaan selesai,jadi produser memang repot. Proses selanjutnya sudah menanti yakni paska produksi. Produser biasanya sudah memilih editor ketika shooting belum dimulai. Ribuan shot yang tercerai berai harus diurai menjadi satu kesatuan cerita oleh editor atau penyunting gambar. Sebelum melakukan penyuntingan gambar, editor akan memaparkan konsep editing pada produser dan sutradara. Kalau sutradara mempunyai treatment atau shooting script sebagai panduan di lapangan, maka editor harus memiliki post-script sebagai panduannya, editor membuat paper edit yang dijabarkan pada sutradara dan produser. Produser dokumenter selalu memantau pekerjaan editor, memantau di sini bukan berarti intervensi, karena editor sudah tau apa yang akan dan harus dikerjakan. Produser memberikan target kapan rough cut harus selesai, dan ini tentu saja didiskusikan dan disepakati bersama dengan editor sebelumnya. Dalam presentasi pada klien, produser bisa melibatkan editor untuk mendengarkan masukan dari klien. Pada kenyataanya tidak jarang pula editor memberikan masukan pada produser dan sutradara.

Produser dokumenter memiliki tanggung jawab atas sukses tidaknya sebuah produksi dokumenter, kegagalan karya film dokumenter berarti kegagalan seorang produser dokumenter. Tulisan ini saya dedikasikan buat Agis Susanti yang sedang membuat karya dokumenter. Gis, saya masih ada 2 janji lagi ya? Hemmm sabar ya….

Editing Part 2

Mei 10, 2009 at 10:53 am | In Editing | 2 Comments

Kontinyuitas Editing

Oleh Diki Umbara

Editor adalah seseorang yang melakukan penyuntingan gambar pada saat paska produksi. Jadi editor, bekerja setelah proses produksi selesai. Namun kini, editor sudah dilibatkan bahkan sebelum produksi dimulai. Oleh produser dan sutradara, editor diminta untuk memaparkan konsep editing apakah yang akan digunakan pada saat nanti akan melakukan penyuntingan gambar. Sebelum memaparkan konsep editing pada film yang akan dieditnya, seorang editor harus memahami teori editing.

Editing atau menyunting adalah tehnik penggabungan beberapa shot tunggal menjadi satu kesatuan cerita yang utuh. Editor menyusun shot-shot tersebut sehingga menjadi sebuah scene, kemudian dari penyusunan scene-scene tersebut akan tercipta sequence sehingga pada akhirnya akan tercipta sebuah film yang utuh. Seperti yang sudah saya jelaskan pada artikel sebelumnya, yang dinamakan satu shot yakni dari mulai perekaman (ketika cameraman menekan tombol start) sampai perekaman itu dihentikan, yakni sampai cameraman menekan tombol stop, tanpa interupsi. Sedangkan scene artinya adalah adegan, yakni satu adegan dalam satu tempat atau lokasi serta waktu yang sama. Dan sequence merupakan kumpulan dari beberapa scene, atau bisa juga satu sequence merupakan satu scene juga.

Hal yang paling esensi atau mendasar yang dilakukan seorang editor ketika menyunting gambar adalah bagaimana agar cerita dalam film tersebut bisa dipahami oleh penonton. Ini berarti berkaitan dengan telling the story, bagaimana editor menceritakan kembali cerita yang sudah ditulis oleh seorang script writer serta serta divisualkan oleh seorang sutradara. Editor membangun rangkaian shot-shot ini menjadi satu kesatuan cerita yang berkesinambungan. Teori ini dinamakan editing continuity, kontinyuitas editing ini berkaitan dengan kontinyuitas pemotongan gambar atau cutting to continuity.

Editing Continuity

Metode editing continuity merupakan konsep editing cukup populer di kalangan editor, disadari atau tidak bahkan banyak dilakukan oleh editor yang belajar dengan otodidak sekalipun. Secara sederhana konsep editing dibagi dua yakni visible cutting dan invisible cutting. Editing continuity masuk pada kategori invisible cutting. Dengan invisible cutting, penonton tidak “melihat” atau merasakan adanya sambungan antar shot. Inilah dasar konsep editing continuity, selain cutting untuk melanjutkan cerita juga bagaimana agar ada kesinambungan/matching antar shot. Match atau kesinambungan antar shot inilah yang ditemukan oleh para leluhur film editing semisal Edwin S. Porter serta Pudkovin yang melanjutkan kiprah G.W. Griffith sebelumnya. Dia menemukan formula agar terjadi kesinambungan antar shot. Teori ini dinamakan three match cut, yakni:

  1. Matching The Look
  2. Matching The Position
  3. Matching The Movement

Matching The Look

Ini berkaitan dengan ruang dan bentuk, shot yang satu disambungkan ke shot berikutnya dengan memperhatikan bentuk dan ruang. Ketika bentuk atau ruang tidak memiliki kesamaan, maka hampir dipastikan sambungan tersebut akan terlihat. Dan ini yang dinamakan jumping, sambungan menjadi visible atau terlihat.

Matching The Position

Kesinambungan secara posisi antara shot sebelum dengan shot sesudahnya. Editor harus melihat apakah msalnya posisi subyek pada satu shot terdapat kesamaan dengan shot berikutnya atau tidak. Jika tidak ada kesamaan maka sambungan antar shot akan terganggu, ini artinya sambungan tersebut tidak match, tidak cocok.

Matching The Movement

Sambungan satu shot dengan shot berikutnya dilakukan jika ada kesinambungan secara pergerakannya. Yang dimaksud pergerakkan di sini yakni pergerakkan subyek, pergerakkan kamera, atau pergerakkan kedua-duanya.

Pada intinya, dengan memahami kaidah three match cut di atas maka penonton secara tidak sadar akan merasakan kesinambungan cerita, penonton tidak akan merasakan adanya cut atau sambungan antar shot. Agar setiap sambungan dibuat sehalus mungkin, usahakan agar ketika melakukan penyuntingan gambar posisikan editor sebagai penonton, demikian saran Sastha Sunu seorang Senior Film Editor yang juga diamini Cesa David dalam satu diskusi di EDL (Editor Discussion League). EDL merupakan diskusi yang terbuka untuk umum yang dimotori oleh AEI (Asossiasi Editor Indonesia), sayangnya diskusi ini sudah lama belum diselenggarakan lagi. AEI dinaungi oleh Board of Director terdiri dari Sastha Sunu, Aline Jusria, Ahsan Adrian, Diki Umbara,W. Ichwandiardono, Andhy Pulung, dan Chandra Sulistiyanto

Teori Lainnya

Hemmm….jadi editing itu ada teorinya ya? Yup tentu saja, dengan berbekal teori ini akan memudahkan editor bagaimana merangkai shot-shot menjadi satu rangkaian cerita yang bisa merekontruksi emosi penonton. Masih banyak lagi teori editing lainnya, misalnya tentang juxtaposition yakni tentang penempatan posisi shot, itu akan berpengaruh pada cerita yang dibangun oleh editor. Ada juga aliran atau teori Montange atau biasa juga disebut Sovyet Montage. Yang ini tidak kalah seru, menurut teori ini ketika shot A digabung dengan shot B, belum tentu menghasilkan cerita shot A + shot B tapi menjadi cerita shot C. Lainnya ada teori New Wave, Andre Bazin, serta Lev Kuleshov. Menarik bukan? tentang teori yang lain akan saya bahas di serial artikel editing berikutnya.

« Halaman SebelumnyaHalaman Berikutnya »

Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.