Telah terbit buku “HOW TO BECOME A CAMERAMAN”

Cover Depan
Cover Belakang
Teknologi broadcasting televisi nampaknya akan terus berkembang,
era digital telah merubah segalanya. Dengan kemajuan teknologi
kini memungkinkan hampir semua kamera memiliki kontrol otomatis,
maka siapapun yang menggunakan kamera video akan sangat mudah
untuk mengoperasikannya. Jadi mengapa seorang calon cameraman
harus memiliki pengetahuan tehnik kamera ?
Secara garis besar di dalam buku ini dibahas dalam dua bahasan
pokok masalah, yakni teknis dan philosofis. Pengetahuan teknis
merupakan bagian dari pengetahuan operasional yang harus
dimiliki oleh seorang calon cameraman. Pengetahuan operasional
akan berkaitan dengan bagaimana menggunakan kamera
dengan segala fasilitas yang tersedia pada kamera tersebut.
Penerbit : Motion Publishing
ISBN : 978-602-95630-0-3
Halaman : 235
Harga Buku Rp.55.000
Pemesanan Langsung :
021 94518777
dikiumbara@gmail.com
Produksi Televisi (Part 7)
Jadi Floor Director itu, Keren!
Oleh Diki Umbara
Tiga puluh menit lagi on air! Begitu ”perintah” produser setengah jam sebelum siaran langsung sebuah acara televisi. Waktu terus berjalan, beberapa crew masih kelihatan santai. Dua orang cameraman berbincang, entah topik apa yang mereka bicarakan. Make up anchor alias pembawa acara baru saja selesai, si anchor yang kebetulan keturunan Arab cantik itu bergegas menuju studio dengan latar green screen yang memang hanya berjarak beberapa meter saja dari ruang make up.
Lima menit lagi on air! Kali ini giliran program director berteriak. Semua crew sudah standby. Suasana studio masih terasa santai, hingga PD mengucapkan count down : 10.., 9…., 8…, Dan…..salah seorang cameraman teriak ”Heiii….(sensor) baju lu blum dikancingin satu tuh”
Rutinitas terkadang menjemukan, karena rutinitas pula kegiatan yang penting itu bisa menjadi keteledoran. Saat itu paling tidak, ada empat orang crew di studio dan empat orang di sub control, andaikan saja salah satu cameraman gak ngeh dengan kancing baju mbak news caster tadi tentu saja hal fatal akan terjadi. Acara televisi adalah kerja tim, kesalahan satu orang berarti kesalahan tim. Yang paling bertanggung jawab atas kejadian di atas adalah Floor Director.
Siapakah Floor Director ?
Floor Director merupakan pimpinan alias bos di studio, di beberapa stasiun televisi dan production house, Floor Director biasa juga disebut sebagai Floor Manager. Floor Director adalah kepanjangan tangan dari Program Director/PD (tentang Program Director nanti akan kita bahas tersendiri). Floor Director mendengarkan perintah PD melalui sistem komunikasi intercom dari control room. Ibarat anggota tubuh, seorang FD menjadi telinga, mata, dan mulut seorang PD. Tugas utama seorang Floor Director adalah berkomunikasi dengan talent/pengisi acara. Dalam acara siaran langsung di studio, FD memiliki otoritas terakhir.
Sebelum produksi dimulai alias di pra produksi, seorang Floor Director harus memahami rundown terlebih dahulu. Jika ada perubahan dalam rundown, maka sebagai pemimpin di studio, FD harus segera mengkomunikasikannya dengan seluruh kru yang ada di studio. Juga jika ada perubahan yang melibatkan anchor misalnya, maka FD secepat mungkin memberitahukan pada anchor tersebut. Andrew Utterback dalam bukunya Studio-Based Television Production and Directing, menyarankan agar seorang FD memiliki semua pengetahuan hal teknis yang ada di studio, karena jika diperlukan FD bisa ”menggantikan” posisi tersebut.
FD dengan Crew di Studio
Komunikasi
Sekali lagi tentang masalah komunikasi. Komunikasi antar FD dan talent harus terjalin sejak sebelum produksi dan ketika produksi itu berlangsung. Misalnya ketika talent sudah berada di posisi yang baik, FD harus meyakinkan bahwa posisi clip on yang dikenakan talent sudah terpasang dengan baik. Atau ketika pengisi acara ”salah melihat kamera” maka FD harus segera memberitahukan talent tersebut untuk melihat ke arah kamera yang diinginkan. FD harus berperan aktif agar pengisi acara merasa nyaman dan akhirnya terlihat baik ketika berinteraksi dengan kamera. Ketika talent sudah berada pada blocking set, FD selalu berkomunikasi dengan crew yang ada di studio jika misalnya ada perubahan blocking pada talent.
Cuing Talent, Cuing Studio Crew
Jika pada saat produksi belum berlangsung, FD bisa memberikan arahan dengan bahasa verbal, maka tidak halnya ketika produksi berlangsung. FD memberitahukan semua perintahnya dengan cue alias tanda. Memberita tanda atau isyarat pada para pemain dan kru di studio harus dilakukan seefisien mungkin, sehingga talent dan juga crew faham betul dengan isyarat yang diberikan FD.
Command Hand :
Bahasa non verbal, seperti isyarat tangan, banyak dilakukan oleh Floor Director untuk memberi isyarat, baik pada crew yang ada di studio maupun pada para pengisi acara atau talent. Command hand sudah sangat lazim dipergunakan dalam produksi acara televisi di studio, bahkan command hand sudah menjadi kesepakatan umum di stasiun televisi mana saja.
Artikel ini saya tulis menjelang satu jam sebelum shooting, nanti saya lanjutkan lagi ya….
Referensi :
Studio-Based Television Production and Directing, Andrew Utterback
Television Production, Gerald Millerson
Produksi Televisi (Part 5)
Studio Rehearsal
Oleh Diki Umbara
Suatu produksi acara televisi di studio merupakan produksi yang sangat kompleks, banyak melibatkan kru produksi, equiment, serta prosedur yang harus dilewati. Agar suatu produksi bisa berjalan dengan lancar, maka rehearsal/gladiresik merupakan kunci utama.
Dan rehearsal merupakan salah satu step serta prosdur produksi itu sendiri. Tulisan di bawah akan mengajak anda, bagaimana rehearsal terutama untuk produksi acara televisi di studio.
Rehearsal adalah tahap awal ketika proses pra produksi selesai. Rehearsal dilakukan oleh tim produksi secara menyeluruh. Dengan rehearsal kemungkinan kesalahan ketika shooting berlangsung bisa diminimalisair bahkan diharapkan tidak ada sedikit kesalahanpun nantinya. Hal yang perlu diperhatikan dalam rehearsal adalah :
- Timing
- Briefing Performers
- Props
- Shot Arrangement
- Audio & Lighting
- Unrehearsed/Rehearsed Studio Production
Timing
Produksi Televisi akan menyangkut timing/waktu, estimasi waktu harus bisa diprediksi seakurat mungkin. Panduan waktu adalah rundown yang sudah dibuat pada saat pre-production. Dalam format live, pengaturan waktu harus benar-benar diperhitungkan minute by minute serta scond by scond.
Briefing Performers
Salah satu elemen bagus tidaknya suatu acara televisi adalah bagaimana pengisi acara bisa secara total melakukan adegan serta dialog sesuai naskah. Agar hal demikian bisa tercapai diperlukan briefing pada seluruh pemain/pengisi acara. Briefing dilakukan sedetail mungkin. Untuk beberapa contoh kasus bahkan briefing tidak hanya pada masalah konten saja,karena terkadang maslah teknis juga perlu diketahui oleh para pemain.
Props
Property sebagai bagian dari tata artistik harus disiapkan pada saat rehearsal. Namun untuk keperluan ini bisa saja menggunakan dummy.
Shot Arrangement
Pengaturan shot sudah bisa dilakukan pada saat rehearsal, selalu mengecek area shot sesuai dengan yang telah direncanakan. Dengan pengaturan shot ini juga bisa melihat apakah penataan artistik sudah sesuai dengan yang diharapkan. Juga akan berkaitan dengan penataan lighting.
Audio & Lighting
Sebagai bagian dari produksi audio visual, audio dan lighting harus menjadi perhatian yang baik. Selalu mengecek apakah audio sudah berjalan dengan benar, karena paling tidak ada dua masalah audio yang harus diperhatikan. Pertama,audio yang ada di area studio tersebut (misalnya acara musik). Kedua, audio yang akan dipakai sebagai output acara.
Prosedur Rehearsal
Dalam berbagai tipe acara televisi hampir memiliki hal yang sama ketika melakukan rehearsal. Tidak ada aturan mengenai berapa kali kegiatan ini dilakukan, untuk acara yang besar kadang rehearsal dilakukan secara parsial. Pada intinya rehearsal dilkakukan untuk membantu agar pada proses pengambilan gambar nantinya bisa berjalan lancar. Rehearsal terakhir dilakukan secara run trough, sesuai dengan rundown yang telah dibuat. Ada tiga jenis prosedur rehearsal yang dilakukan oleh penagarah acara :
- Camera Blocking
- Floor Blocking
Blocking kamera ditentukan oleh Program Director. Photo by Reni Umbara
Camera Blocking
Di sini director/pengarah acara melakukan kontrol dari sebuah control room. Di dalam control room sudah tersedia monitor dari seluruh kamera serta monitor preview dan program, dengan demikian pengarah acara bisa mengontrol penuh bagaimana kamera-kamera tersebut ditempatkan. Dalam hal ini pengarah acara hanya akan “turun” ke lapangan /studio jika ada hal yang dirasa sangat penting untuk diskusi langsung dengan crew.
Floor Blocking
Kebalikkannya dengan metode Camera Blocking, pada metode ini pengarah acara mengontrol melalui monitor yang ada di studio. Dengan demikian dia bisa mengatur langsung para pemain dan pengarah acara ke control room pada saat taping.
Floor Director memberikan briefing pada peserta gameshow tv. Photo by Reni Umbara
Masalah dalam Rehearsal
Ketika melakukan rehearsal akan ditemui banyak permasalahan, justru dengan demikian kesalahan tersebut bisa diperbaiki sedini mungkin. Permasalahan itu anatara lain :
Shot
Jika tidak mendapatkan shot yang detail, maka caranya dengan menggeser subjek atau menggeser posisi kamera atau dengan melakukan zoom in. Begitu juga kalau ada set yang kurang pas posisinya, set tersebut bisa digeser agar bisa dishoot dengan komposisi yang baik.
Pemain
Jika pemain keluar dari posisi dalam framming maka hal yang bisa dilakukan adalah dengan memberi ”marking” pada lantai. Dan memberi arahan agar pengisi acara/pemain agar tidak keluar dari marking yang sudah dibuat. Pemain terkadang salah arah kamera, hal ini bisa diatasi dengan meminta floor manager untuk memberi cue agar pemain menghadap pada kamera yang diinginkan. Jika banyak terjadi kesalahan pada dialog, gunakan cue card, prompter, dan alat bantu lainnya. Jika terjadi kesalahan lain ? Ya tentu saja dilakukan retake. Tapi hal ini hanya berlaku pada metode taping, tidak untuk acara langsung.
Desain Set
Desain serta property harus diperhatikan dengan seksama. Kadang property tertentu tidak terlalu jelas atau bahkan memmantulkan cahaya yang berlebihan. Untuk mengatasi hal ini dengan mengatur tata cahaya, memcarai sudut pengambilan lain, mengecat kembali properti tersebut, atau dengan menyemprot properti tersebut dengan dulling spray. Masalah lain dalam property adalah warna serta tone yang kurang bagus, hal ini juga bisa diatasi dengan penataan lighting atau dengan memodifikasi background.
Agustus 7, 2009
Oktober 29, 2008
Agustus 19, 2008





