Persiapan Shooting (part 2)
April 30, 2008 at 5:45 am | In Penyutradaraan | 5 CommentsBekerjasama dengan Penulis Naskah
Hal pertama yang dilakukan sutradara ketika akan membuat sebuah film adalah bekerjasama dengan penulis. Di sinilah sutaradara memberikan interpretasi pada naskah yang telah didevelop oleh penulis naskah. Bahkan beberapa sutradara terlibat dalam penulisan kembali naskah tersebut menjadi sebuah final script. Sebelumnya kerjasama bisa dilakukan antara sutradara, penulis, dan produser. Kerjasama ini terjalin dengan istilah tri angle system.
Sutradara Billy Wilder mengatakan “Tidak terlalu perlu seorang sutradara mampu menulis naskah, tapi yang paling penting, sutaradara harus mampu bagaimana membaca naskah . Tidak mudah mengatakan pada seorang penulis, “Apa artinya ini, saya tidak mendapatkan apa-apa dari naskah ini?.“
Melalui pendekatan dan hubungan baik anatara sutradara dengan penulis, menjadikan ke dua profesi ini menjadi satu kolaborasi yang baik pula. Sutaradara bisa menjadi seorang co-writer dan seorang penulis naskah bisa membayangkan bagaimana menyutradari sebuah film. Oleh karena itu tidak sedikit penulis naskah bisa menjadi seorang sutradara. Perbedaan diantara kedua fungsi tersebut justru bisa saling mengisi satu sama lain.
Sutaradara Robert Mulligan mempunyai pendekatan yang berbeda dalam hal ini, “Tidak semua sutradara harus menulis, tapi diharapkan setiap penulis bisa mendirect. Saya tidak menulis kata-kata ke dalam sebuah kertas (naskah), tapi saya berkolaborasi dengan penulis secra efektif dengan cara tahap demi tahap. Ketika dalam film ada sebuah shot, saya perlihatkan pada penulis. Jika penulis punya gagasan serta usulan saya mendegarkannya secara serius. Tapi penulis tahu benar bahwa keputusan ada di tangan saya.”
Melakukan Casting
Film casting is the art behind the art, and it requires an eye and a deep feel for talent or the just the one intuitive perception of that one thespian who is the perfect choice to fill that one role in the film.
Sederhananya casting adalah penentuan pemain berdasarkan analisis naskah untuk diproduksi. Jika sutradara telah menentukan shooting date (tentu saja dengan asumsi telah disepakati bersama produser), concern selanjutnya adalah pada penentuan pemain (aktor) . Betul bahwa ada yang mengurusi soal casting yankni sebuah departemen casting/ casting departement. Tapi dalam banyak proyek film, sutradara terlibat penuh dalam proses casting ini.
Ada banyak metode casting, diantaranya :
- Casting by Ability
Berdasarkan yang terpandai dan terbaik dipilih untuk peran yang penting / utama dan kesulitan yang tinggi.
- Casting to Emosional Temprament
Memilih seorang pemain berdasarkan hasil observasi hidup pribadinya, karena mempunyai banyak kesamaan atau kecocokan dengan peran yang dipegangnya (kesamaan emosi, temprament, kebiasaan dll.)
Metode casting seperti ini banyak sekali dilakukan oleh para pembuat film Hollywood.
- Casting to Tipe
Pemilihan pemain berdasarkan kecocokan fisik si pemain ( tinggi badan, berat badan, bentuk tubuh dll )
d. Anti type Casting
Pemilihan yang bertentangan dengan watak atau fisik, ini menentang keumuman jenis perwatakan manusia secara konvensional sering disebut education casting.
e. Therapeutic Casting
Menentukan seorang pemain atau pelaku yang bertentangan dengan watak aslinya dengan maksud dan tujuan untuk menyembuhkan atau mengurangi ketidak seimbangan jiwanya.
bersambung…….
Persiapan Menjadi Sutradara (part1)
April 28, 2008 at 4:04 am | In Penyutradaraan | 16 Comments
Sebagian dikutip dari buku jadul banget “The Film Director” karya Richard L.Bare
Tidak seperti sebagian artis, aktor, maupun penulis yang biasanya terlahir dengan bakatnya, seorang sutradara harus mempelajari seni dari pekerjaan yang digelutinya. Melalui apa? yakni melalui :
- Observasi dan tentu saja praktek.
- Sutradara juga bisa belajar dengan cara menonton film-film karya sutradara yang lain.
- Calon sutradara juga bisa belajar dengan memperhatikan cara sutradara lain bekerja di lapangan
- Pengetahuan penyutradaraan juga bisa diperoleh dari membaca buku-buku tentang film atau mengikuti pendidikkan sinematografi bisa berupa kursus atau pendidikan formal
- Satu hal yang pasti, tempat berlatih yang baik bagi calon sutradara adalah industri film itu sendiri. Intinya, terjun langsung dalam dunia film adalah pelatihan terbaik.
Memang tidak begitu banyak institusi pendidikan yang memfokuskan pada sinematografi di Indonesia, beberpaa perguruan tinggi diantaranya ada IKJ (Institut Kesenian Jakarta), ISI (Institut Seni Indonesia) Jogyakarta, dan Next Academy. Lain halnya kalau broadcasting (penyiaran), puluhan perguruan tinggi sudah membuka jurusan ini. Universitas Indonesia, UNPAD Bandung, Univ Moestopo, Sahid, AKOM BSI, Univ Tarumanagara, dan terakhir Univ Pancasila memiliki jurusan Broadcasting. Nah kalau tempat kursus diantaranya, School for Brodcast Media, PPHUI (Usmar Ismail), Diklat TVRI, Broadcast Center UI, dan CMC.
Selain institusi tadi, sutradara Rudy Soejarwo pernah mengadakan pelatihan penyutradaraan, juga Pop Corner yg terdiri dari bberapa sineas muda, terakhir Hanung Bramatyo juga mengadakan semacam pelatihan untu calon asisten sutradara.
Mengikuti pendidikan formal atau kursus bukan jalan satu-satunya, seperti yang diuraikan di atas bahwa ada cara-cara lain. Menonton karya sutradara lain juga penting dan ini juga dilakukan di perguruan tinggi semisal yang dilakukan di University of Southern California dan Academy of Motion Picture Arts and Sciences bahkan di Institut Kesenian Jakarta juga, bahkan menonton menjadi kewajiban mahasiswa. Sutradara Riri Riza menyukai sesi menonton ini yg diwajibkan di mata kuliah Sejarah Film.
Directing Philosophy
April 17, 2008 at 8:03 am | In Penyutradaraan | 2 CommentsFilosofi adalah kerangka pikiran yang terbentuk sedemikian rupa dalam diri kita dan berfungsi memberi kita ruang bagi semua tindakan yang mungkin kita lakukan. Semakin luas kerangka berpikir itu semakin luas pula wilayah tindakan yang mungkin kita lakukan.
Simpelnya sich seperti itu, tapi waktu saya belajar “Filsafat Ilmu” dari Pak Michael Dua, yg namanya filsafat bisa bikin kepala nyut-nyutan. Filsafat oh filsafat…
Terus apa hubungannya dengan Filosofi Penyutradaraan? Menurut Naratama, filosofi dalam penutradaraan televisi merupakan sebuah daya pemikiran atas nilai-nilai seni visual yang diwujudkan dalam kenyataan visual itu sendiri.
Masih menurut Mas Nara, ada 3 dasar konsep menonton yang harus dipahami oleh Sutradara, yakni :
1. What People Want To See
2. What People Need To See
3. What People Want and Need To See
Kesimpulan saya, dengan memahami hal yang elementer ini, sebagai sutradara kita tidak boleh egois dalam menciptakan sebuah karya. Butuh pembelajaran yg simultan untuk mengetahui apa yang ingin penonton ketahui, apa yang perlu penonton ketahui, dan keduanya.
Matthew Kellen bilang :
Most importantly, I have learned that a director must continuously re-evaluate his or her methodology and keep an open mind to the world around them, both professionally and personally…
Sebetulnya ada buku, judulnya “Filmosophy” karya Daniel Frampton, ini buku keren aja. Sinopsisnya:
“Filmosophy” is a provocative new manifesto for a radically philosophical way of understanding cinema. The book coalesces twentieth-century ideas of film as thought (from Hugo Munsterberg to Gilles Deleuze) into a practical theory of ‘film-thinking’, arguing that film style conveys poetic ideas through a constant dramatic ‘intent’ about the characters, spaces and events of film.
Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.


