Dokumenter Part 5

April 19, 2009 at 2:03 am | In dokumenter | 3 Comments

Dokumentator Tanpa Naskah!

Oleh Diki Umbara

Tadi malam jam 1.40 seorang mahasiswa saya bertanya melalui chat facebook, kenapa tidak ada bahasan script writer dalam dokumenter. Maka 10 jam kemudian saya menulis artikel ini, masih dalam rangkaian serial artikel dokumenter. Untuk membuat naskah dokumenter, memiliki tahapan-tahapan yakni : penyusunan data/riset/observasi pada subyek, penulisan sinopsis, penulisan treatment, dan penulisan naskah itu sendiri. Penyusunan data bisa dilakukan dengan menghimpun data tulis (buku, majalah,jurnal,internet) ,foto-foto,dan footage audio video. Sinopsis merupakan ringkasan cerita, menjelaskan tentang tema serta subyek apa yang akan dalam sebuah dokumenter. Treatment meupakan pengembagan dari sinopsis, dengan membaca treatment saja kita bisa tau gagasan serta dengan cara apa dokumenter tersebut ingin dibuat. Bahasan tentang naskah dokumenter saya akan jelaskan detail di ujung alinea artikel ini.

Essay dan Narrative

Pendekatan dalam pembuatan dokumenter secara garis besar ada dua macam, yakni essay dan narrative. Lalu kenapa ada essay/esai dan narrative/naratif? Hal ini akan menyangkut pada masalah bagaimana dokumentator menyampaikan pesan. Dengan pendekatan esai dokumentator mempresentasikan realita menggunakan penutur narasi, penutur narasi ini disebut narator. Penjelasan mengenai suatu hal dijelaskan dengan naskah yang dibacakan secara voice over oleh narrator. Dalam dokumenter televisi terkadang dokumenter disajikan oleh presentator. Dalam “Jejak Petualang” Trans 7 acara dipandu oleh host, selain menjadi host ada kalanya juga sebagai narrator. Dokumenter televise “Potret” di SCTV tidak menggunakan host tapi menggunakan narrator untuk menyampaikan pesannya.

Nah, ini akan berbeda jika dokumentator menggunakan pendekatan naratif dalam pembuatan dokumenternya. Dengan naratif, tidak menggunakan narrator serta presentator, dalam pendekatan naratif memanfaatkan penuturan dari nara sumber yang ada pada dokumenter yang kita buat. Sumber yang dimaksud adalah subyek utama serta subyek pendukung lainnya. Dokumenter dengan gaya pendekatan naratif ini yang beberapa dokumentator kita menyebutnya sebagai dokumenter murni. Agak kurang tepat sebetulnya. Menurut Klaus Wildenhan, seorang dokumentator ternama asal Jerman bahwa yang dimaksud dengan “pure documentary” merupakan metode film maker yang merekam dengan sabar menunggu hingga ada ‘sesuatu’ yang terjadi pada subyek di depan kamera. Jadi dokumenter murni adalah metode atau cara, tidak ada urusan dengan pake narasi atau tanpa narasi. Dan entah kenapa dokumenter tanpa narasi ini yang biasanya memenang dalam festival.

Naskah atau Tanpa Naskah

Ada dua tingkat dalam penulisn naskah dokumenter, yakni pre-shot atau shooting script dan pro-shot script. Shooting scrip merupakan naskah panduan untuk dokumentator ketika akan melakukan pengambilan gambar. Sedangkan pro-shot script, naskah sebagai panduan editor ketika akan melakukan penyuntingan gambar, isitlah lain untuk pro-shot script adalah paper edit.

Menulis naskah untuk feature film/fiksi atau non fiksi akan berbeda dengan menulis untuk media cetak. Kenapa demikian? Film adalah karya visual, tulisan seorang penulis naskah film tidak dibaca dalam film tersebut, yang terlihat merupakan gambar dalam sebuah layar. Ini berarti, seorang penulis naskah harus bisa menulis secara visual. Film merupakan gambar bergerak, artinya penulis naskah harus mampu menterjemahkan visual ke dalam bentuk tulisan.

Dalam naskah dokumenter ada tiga elemen penting yakni : elemen visual, elemen audio, serta elemen story/cerita. Naskah dokumenter tidak hanya merupakan kumpulan kata atau kalimat saja, akan tetapi merupakan kompilasi konsep elemen-elemen telling story. Perpaduan elemen penting inilah yang akan menjadikan sebuah film dokuemnter yang baik. Jadi, ini agak mirip dengan film fiksi, yakni bagaimana film tersebut harus bisa mengemukakan gagasan, selain menceritakan fakta sebagai ciri khas dari dokumenter. Artinya dokumenter juga harus memiliki struktur. Struktur bisa dibuat secara kronologis, tematis, maupun dialektikal. Ending atau akhir film dokumenter bisa dibuat open end, yakni menggambarkan persoalan yang masih bisa dibuka, mempersilahkan penonton untuk “melanjutkan” realita yang ada di dokumenter tersebut. Dan bisa juga dibuat closed end, dokumentator memberikan penyelesaian pada filmnya.

Selain struktur yang jelas, penulis naskah dokumenter sudah harus memikirkan ploting. Plot yang terdiri atas archplot, miniplot, dan antiplot. Archplot ini biasanya penulis naskah menyebut dengan desain plot klasik. Cerita dengan desain archplot dibuat secara linear, secara urut dan biasanya dibuat closed end. Sedangkan miniplot merupakan bentuk minimalis dari arcplot. Yang paling ekstrim membuat ploting dengan antiplot, tidak linear seperti halnya archplot.

Hemmm….sepertinya tulisan ini tidak cukup menjelaskan secara detail seperti janji saya di atas ya. Kalau begitu tentang naskah dokumenter ini nanti saya lanjutkan.

Dokumenter Part 4

April 14, 2009 at 9:35 am | In dokumenter | 2 Comments

Memilih Kru atau Membuat Kru?

Oleh Diki Umbara

Dengan judul artikel di atas, penulis tidak bermaksud bermain-main dengan kata-kata, alih-alih menjadi pencerahan buat pembaca malah nanti jadi membingungkan. Anggap saja tulisan berseri tentang dokumenter ini menjadi pengantar untuk mahasiswa saya yang tidak sempat mengikuti perkuliahan “Dokumenter TV” di kelas. Tapi tetap saja kalau berdiskusi dan bahasan dengan studi kasus masih enak dengan cara tatap muka.

Kru adalah orang yang terlibat dalam proses sebuah produksi, ada yang hanya terlibat di pra produksi saja, di produksi saja, di paska produksi saja, ada di keduanya, ada juga yang terlibat di semua tahapan produksi. Secara detail sudah saya jelaskan di tulisan “Crew Film & Television”, namun secara spesifik tentang kru film dokumenter akan dijelaskan kembali di sini. Yuk kita mulai….yuksssssssss.

Kru Film Dokumenter

Film dokumenter tidak hanya semata merepresentasikan realitas, tetapi mengubah sesuatu. Paling tidak, dirinya sebagai filmmaker berubah setelah membuat sebuah film. Bagaimanapun filmmaker adalah bagian dari apa yang ia filmkan, demikian kata Nicholas Philibert seorang sutradara dokumenter asal Perancis. Maka gak heran kalau ada yang bilang, di film fiksi The Director is God sedangkan dalam dokumenter The God is director.

Secara khusus tidak ada perbedaan antara kru film dokumenter dengan kru film fiksi, yang membedakan jika dilihat dari jumlah kru saja. Pada kru film dokumenter biasanya memiliki jumlah kru yang sedikit. Kru film dokumenter terdiri atas sutradara, cameraman, gaffer, soundman, serta production manager.

  1. Sutradara, orang yang bertanggung jawab pada semua aspek produksi film, baik sinematik artistic maupun secara teknis.
  2. Cameraman atau sinematografer adalah orang yang melaksanakan aspek teknis dalam pengambilan gambar, dia juga membantu sutradara dalam memilih sudut, penyusunan dan rasa dari pencahayaan dan kamera.
  3. Gaffer, orang yang bertanggung jawab pada pencahayaan atau lighting. Pada beberapa produksi dokumenter, utamanya jika menggunakan video, tanggung jawab gaffer dirangkap oleh seorang cameraman karena hampir dipastikan seorang cameraman memahami aspek pencahayaan.
  4. Soundman, bertanggung jawab pada audio atau suara yang dihasilkan pada saat pengambilan gambar atau shooting.
  5. Production Manager, orang yang bertanggung jawab atas detail produksi dari awal hingga akhir produksi.

Memilih atau Membuat Kru?

Banyak yang menyarankan ketika kita akan membuat film dokumenter baiknya kita memilih kru yang kredibel. Kru yang tidak hanya berpengalaman dalam membuat film, bahkan lebih spesifik lagi kru yang berpengalaman dalam membuat film dokumenter. Weisssssss….tunggu dulu, itu untuk pembuatan dokumenter profesional. Kalau untuk yang baru pertama bikin dokumenter gimana? Solusi memilih sepertinya kurang tepat, gimana mau memilih kalau kita belum pernah bikin dokumenter sebelumnya. Yang tepat adalah membuat atau membangun/develop kru. Ini tidak berbicara tentang amatir atau profesional, toh apapun karya kita harus dibuat seprofesional mungkin. Membuat tim atau kru pasti tidak semudah memilih. Hal-hal di bawah mungkin jadi panduan anda ketika mau menentukan tim:

  • Tim Riset, ini terdiri dari orang-orang yang senang dengan data-data, bisa mengolah data, senang melakukan observasi. Selain terdiri dari orang yang independen di luar kru produksi, baiknya bahkan seharusnya sutrdara terlibat di sini.
  • Sutaradara, ini jabatan yang teramat penting. Ini bukan masalah keren-kerenan. Tentukan siapa yang paling kredibel menjadi sutradara. Sutradara adalah orang yang bertanggung jawab atas semua hasil karya baik secara artistik maupun teknik sinematik. Dia juga harus mampu menjadi leader untuk kru yang lainnya. Sutradara harus mampu mentransformasikan gagasannya, agar tujuan atau pesan yang ingin disampaikan bisa dipahami oleh penontonnya.
  • Cameraman,soundman,gaffer: ketiga kru ini harus memiliki kemampuan tehnik di bidang masing-masing. Jadi ketika anda memutuskan untuk membangun tim baru, yakinkan bahwa kru yang dibuat ini memang memiliki kemampuan atau juga keinginan sesuai bidang-bidang ini.

Ketika kita membangun tim yang baru, bagaimana agar nantinya tim ini mampu bekerjasama dengan baik. Kelemahan tim yang baru dibuat biasanya ketika ada kesalahan cenderung saling menyalahkan satu sama lain, dan hal ini berbahaya. Peran produser, dalam dokumenter biasa dirangkap juga oleh sutradara, sangat dituntut agar semuanya bisa berjalan baik. Ini menyangkut manajemen sumber daya manusia/SDM, dan SDM ini pasti memiliki karakter yang berbeda-beda. Sutradara dan juga kru yang lain harus memahami karakter masing-masing.

Komitmen

Cuma satu kata, komitmen. Tapi ini sangat penting. Komitmen ada baiknya dibuat jauh sebelum produksi dimulai, bahkan sebelum tahap pre-production. Komitmen bisa dibuat bersama, pertama tentu saja komitmen pada job desc masing-masing, ke dua atas prakarsa bersama. Bersambung….

Dokumenter part 3

April 9, 2009 at 12:47 am | In dokumenter | Leave a Comment

Dokumenter tanpa Riset!

Oleh Diki Umbara

Ide dan gagasan sudah didapat, dan ide itu bisa diimplementasikan menjadi karya audio visual film dokumenter karena sudah memenuhi variable-variabel yang sudah kita (atau mungkin klien/investor) tentukan. Jadi apa langkah berikutnya? Riset! Sederhanya riset itu merupakan upaya pengumpulan dan pengolahan data. Semua data yang diperlukan untuk mendukung ide/gagasan awal tadi.

Riset, riset itu sebenarnya timeless, tidak ada batasan waktu, yang membatasi hanyalah deadline. Deadline yang sudah disepakati dalam time schedule yang sudah dibuat produser yang sebelumnya sudah diinformasikan pada klien atau investor. Beberapa dokumentaris bahkan menyebutkan bagus tidaknya film dokumenter dilihat dari seberapa lama riset itu dilakukan. Semua dokumentaris sepakat bahwa film dokumenter yang baik harus didukung oleh riset di lapangan yang baik dan mendalam. Di salah satu kesempatan diskusi, Garin Nugroho menjelaskan, “Film dokumenter itu tidak bisa dibuat tanpa riset dan data yang asal-asalan”. Sepertinya Garin sedang mengkritik utamanya pada para pembuat dokumenter pemula karena karya dokumenternya miskin data.

Metode Riset

Banyak sekali metode riset yang bisa membantu para pembuat dokumenter, yang paling umum dan banyak disarankan adalah metode riset observasi partisipasi. Dengan metode ini, periset terlibat langsung dengan subyek yang diriset. Dengan demikian periset akan mengenal secara jelas tentang segala hal yang ada di subyek. Harus diingat, ketika periset akan melakukan observasi, dia harus memiliki data-data awal terlebih dahulu, data itu bisa saja didapat dari berbagai literatur atau hasil penelitian sebelumnya, jika subyek pernah dilakukan penelitian. Dengan data awal, periset bisa membuat list pertanyaan yang akan bermanfaat untuk guiding pada observasi di lapangan. Yang dimaksud guiding di sini yakni sebuah panduan yang tidak kaku, karena sangat dimungkinkan periset bisa menambah beberapa pertanyaan untuk menggali informasi dari subyek. (Tentang tehnik wawancara akan dibahas pada seri berikutnya). Riset dalam documenter sebenarnya sedikit mirip dengan riset lainnya yakni, geografis, demografis, sosiografis, psikografis. Jadi, periset paling tidak harus memahami ke empat unsur ini. Ada buku tentang riset yang bagus banget karya Dr.John Smith, text book ini banyak dijadikan refrensi para dokuemntaris, sayangnya saya sendiri blom memiliki buku ini.

Siapakah yang akan menjadi periset?

Sutradara dokumenter akan sangat terbantu oleh hasil riset yang baik dengan data yang valid yang dibutuhkan dalam film dokumenter tersebut. Periset bisa terdiri dari beberapa orang yang tergabung dalam tim periset/researcher team. Di antara anggota tim, baiknya salah satu periset merupakan orang yang paling tau tentang daerah subyek riset yakni orang lokal itu sendiri. Misalnya ketika kita akan membuat film dokumenter tentang Papua ya bagusnya orang Papua sendiri, yang tau seluk beluk lokasi di sana. Bersambung…..

« Halaman SebelumnyaHalaman Berikutnya »

Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.