You are currently browsing the category archive for the ‘Dokumenter’ category.

buku cameraman

Cover Depan

cover back

Cover Belakang

Teknologi broadcasting televisi nampaknya akan terus berkembang,
era digital telah merubah segalanya. Dengan kemajuan teknologi
kini memungkinkan hampir semua kamera memiliki kontrol otomatis,
maka siapapun yang menggunakan kamera video akan sangat mudah
untuk mengoperasikannya. Jadi mengapa seorang calon cameraman
harus memiliki pengetahuan tehnik kamera ?

Secara garis besar di dalam buku ini dibahas dalam dua bahasan
pokok masalah, yakni teknis dan philosofis. Pengetahuan teknis
merupakan bagian dari pengetahuan operasional yang harus
dimiliki oleh seorang calon cameraman. Pengetahuan operasional
akan berkaitan dengan bagaimana menggunakan kamera
dengan segala fasilitas yang tersedia pada kamera tersebut.

How To Become A Cameraman telah dijadikan text book di beberapa kampus yang memiliki jurusan penyiaran televisi atau broadcasting. Buku ini merupakan panduan terlengkap bagi para calon camera person baik di industri penyiaran televisi maupun production house di Indonesia.

Penerbit : Motion Publishing
ISBN : 978-602-95630-0-3
Halaman : 235
Harga Buku Rp.50.000

Pemesanan Langsung :
081318178860
info@katabergerak.com


Dokumenter Televisi, Bukan Sekadar Dokumentasi
Diki Umbara

Pelbagai acara televisi di berbagai kanal seolah mengatakan “tonton kami, tonton kami!” Dan pada akhirnya hanya tontonan menariklah yang akan menjadi pilihan pemirsa. Itupun mereka belum tentu setia mengikuti acara televisi hingga akhir acara. Ketidaksetiaan itu dipengaruhi oleh berbagai alasan, dan alasan paling umum biasanya acara tak menarik untuk diikuti sampai selesai. Maka dalam hitungan sepersekian detik penonton dengan mudah akan mengganti kanal atau saluran televisi.

 

Seringkali acara televisi memiliki segment tertentu, ketertarikan acara televisi dipengaruhi oleh minat penonton karena berbagai hal di antaranya faktor usia, latar belakang pendidikan, gender, dan status ekonomi sosial. Karenanya para kreator acara televisi akan memperhatikan unsur tersebut. Akan tetapi itu bukan segalanya karena kontent yang menariklah yang akan menjadi pilihan akhir.

Informasi, Edukasi, Hiburan!

Televisi apapun itu selalu terkait dengan tiga hal besar, ia harus memiliki unsur informasi, edukasi, dan hiburan. Dan unsur terakhir rupanya merupakan rumusan yang tak boleh dihindari, bahkan untuk jenis acara apapun. Ya, nyatanya acara televisi mesti menghibur. Kenapa unsur hiburan itu penting? Karena sebagian besar penonton tak menganggap serius apa yang ditayangkan di televisi. Lalu bagaimana untuk acara-acara televisi non hiburan? Medium is messege. Televisi sebagai media adalah pesan itu sendiri. Karenanya acara yang mengandung unsur informasi dan edukasi juga memiliki tempat. Acara berita tenntu saja, kanal-kanal televisi berita memiliki penontonnya sendiri. Demikian juga dengan acara yang memiliki unsur edukasi. Walaupun nyatanya tak seelok acara berita dan hiburan. Sebut misalnya Blomberg TV, LiTV, Deutche Welle, dan E-TV yang memiliki banyak acara edukasi, ia juga memiki penontonnya sendiri.

dokumenter art.stanford.edu

foto: art.stanford.edu

Dokumenter TV vs Acara Lain

Di antara format acara televisi yang memiliki kekhasan dan memiliki penonton tersendiri ialah dokumenter. Sebetulnya dokumenter televisi merupakan salah satu format acara televisi paling awal era tayangnya televisi itu sendiri, namun berbagai format baru nyaris saja menggilas acara ini utamanya acara dengan format hiburan seperti sinetron, gameshow, music show, talent hunting atau ajang pencarian bakat, dan quiz. Karenanya para kreator dokumenter televisi mesti berpikir keras bagaimana agar dokumenter televisi bisa tetap menjadi tontonan menarik, bahkan memiliki ketiga unsur tadi yakni memberikan informasi, ada unsur edukasi, serta menghibur. Maka kanal-kanal televisi dokumenter bisa masih eksis, Discovery Channel sebagai salah satu televisi yang mengkhususkan pada acara dokumenter melahirkan kanal-kanal baru yang lebih spesifik seperti Discovery Kid dan Discovery Family.

dokumenter www.publicaffairs.ubc.ca

foto: publicaffairs.ubc.ca

Realitas dan Kreativitas

Dua hal yang paling khas dam dokumenter televisi ini tak bisa dipisahkan, realitas atau kenyataan alias bukan fiksi serta kreativitas, yaitu bagaimana agar sesuatu yang ada dalam kenyataan ini bisa didesain sedemikian rupa dengan sekreatif mungkin oleh para pembuat dokumenter televisi. Karenanya dokumenter sering disebut sebagai perlakuan kreatif atas realitas.

Bisa jadi inilah yang menjadi titik poin kenapa dokumenter televisi di Indonesia masih belum menjadi acara unggulan kecuali di beberapa televisi seperti MetroTV, TVOne, KompasTV dan terakhir NET. Kreatifitas semestinya tanpa batas agar dokumenter tak menjadi acara yang membosankan. Ada beberapa faktor kenapa ini tak terjadi secara baik di televisi yang ada di Indonesia. Kreativitas akan berkaitan dengan sumber daya manusia alias yang terlibat pada pembuatan dokumenter tersebut. Data sebagai salah satu hal yang sangat penting seringkali diabaikan. Data yang kemudian diolah menjadi fakta karena riset masih dirasa minim.

dokumenter indonesia bagus netmedia co id

foto: netmedia.co.id

Hal lain yang tak kalah penting adalah menyangkut ide dan tema. Sebagai salah seorang juri di KPI Award kategori dokumenter televisi, penulis melihat tema yang diangkat dalam dokumenter televisi kita masih kurang beragam. Dan ini menjadi catatan yang kita sampaikan pada KPI Award 2012 lalu.

Sekadar Dokumentasi

Mungkin ini kritik yang agak berlebihan, tapi dengan berat hati penulis sampaikan nyatanya dokumenter televisi kita masih banyak yang sekadar dokumentasi. Separah itukah? Semoga tidak demikian ke depannya, setidaknya kabar baik itu bisa kita lihat pada dokumenter televisi di KompasTV dan NET. Namun secara umum memang dokumenter televisi kita jauh dari apa yang dikatakan di atas, perlakuan kreatif atas realitas. Alih-alih kreativitas yang tinggi, beberapa serial dokumenter televisi kita masih minim akan riset. Ini bisa kita temui misalnya ketika kita menonton dokumenter televisi di tv kita minim akan informasi sehingga informasi yang disuguhkan cenderung dangkal.

Ditinggalkan atau Mengejar

Pilihannya hanya ada dua, dokumenter televisi kita akan ditinggalkan atau dibuat sedemikian rupa menarik dengan mengejar program-program yang jauh lebih dahulu diminati penonton. Berat memang, dokumenter televisi tak bisa sedramatis sinetron atau FTV yang memang naskahnya dibuat berdasar khayalan. Namun bukan berarti dokumenter tidak bisa menarik. Hal-hal teknis yang bisa dilakukan pada program lain bisa juga diterapkan pada dokumenter televisi. Untuk videografi atau pengambilan gambarnya, dokumenter televisi di NET sudah lumayan bahkan bagus menyusul dokumenter yang ada di KompasTV. Keindahan gambar pada dokumenter televisi tidak kalah dengan gambar-gambar yang ada di sinetron. Namun masih ada yang mesti diperbaiki yakni konten atau isi acara. Riset menjadi teramat penting dilakukan oleh para pembuat dokumenter televisi. Tentu saja bukan riset yang ala kadarnya. Demikian juga dengan tema. Dari Aceh hingga Papua, dengan keberagaman hayati, sosial, seni, dan budaya sepertinya tak akan pernah kurang. Subyek dan obyek yang itu-itu saja apalagi misalnya tempat yang sudah sangat familiar tentu akan menjadi membosankan jika itu terus diulang. Artinya para kreator jangan terjebak dengan hal yang itu-itu saja. Keberagaman dan pelbagai potensi alam serta aspek sosial di dalamnya merupakan modal yang sangat besar. Lalu beranikan para pembuat dokumenter mulai melirik tema lain yang tak sekadar ikut-ikutan dengan hasil dokumenter televis yang pernah dibuat sebelumnya?

dokumenter nationalgeographic co id

gambar: nationalgeographic.co.id

Lokal untuk Global!

Ini barangkali kelemahan lain para pembuat dokumenter televisi kita, mereka membuat acara dokumenter memang untuk ditayangkan di tv lokal, nasional, atau berjaringan nasional. Jadi membuat dokumenter hanya berdasar yang “diinginkan” lokal saja. Barangkali akan beda jika para pembuat dokumenter berpikir bahwa kelak hasil dokumenter televisi tersebut akan ditayangkan secara internasional seperti halnya National Geographic atau Discovery Channel. Karena dengan ditayangkan luas di berbagai negara, secara kualitas juga akan memenuhi standar internasional. Quality control yang mereka lalkukan sangat ketat, baik aspek teknis maupun konten. Jadi, buatlah acara dokumenter televisi konten lokal yang (akan) ditayangkan di televise jaringan mancanegara. Selamat berkreativitas!

Editing Dokumenter

Oleh Diki Umbara

Ketika proses shooting selesai, maka tahap selanjutnya yakni editing sebagai bagian dari proses paska produksi, merupakan tahapan yang sangat menarik dalam pembuatan dokumenter. Kolaborasi atau kerjasama antar sutradara dengan editor sudah dimulai. Seperti halnya dalam editing feature film, editing dokumenter melalui berbagai tahapan. Dan saat ini saya akan mencoba sharing tentang apa dan bagaimana tahapan editing dokumenter.

Preview Hasil Shooting

Ratusan atau bisa jadi ribuan shot yang sudah dihasilkan oleh sutradara dan cameraman, namun shot-shot tersebut tidak akan memiliki makna apa-apa ketika belum disusun oleh editor menjadi satu kesatuan cerita. Karena itu peran seorang editor sangatlah penting. Sebelum melakukan penyuntingan gambar, preview hasil shooting. Semua materi shot harus dilihat oleh editor. Dan kalau memungkinkan ada baiknya pada proses melihat hasil shooting ini, sutrdara menemani editor. Dengan demikian sutradara bisa berdiskusi dengan editor mengenai shot-shot yang sudah dihasilkannya itu.

Logging

Terkadang buat sebagian editor ini merupakan proses yang membosankan. Logging secara sederhana berarti pencatatan time code seluruh shot hasil shooting. Time code merupakan kode waktu yang terdapat pada materi shot. Pencatatan time code awal serta akhir shot. Jadi logging merupakan manajemen file, yang berfungsi untuk memudahkan ketika melakukan penyuntingan gambar nantinya. Catatan logging tersebut dibuat ke dalam logging list atau logging sheet. Logging sheet merupakan panduan untuk capture atau pemindahan materi tape ke dalam komputer editing.

Paper Edit

Ada dua naskah dalam dokumenter, yang pertama adalah pre-shot script yakni script yang dibuat oleh penulis naskah sebagai panduan dokumentator di lapangan. Dan yang ke dua, dinamakan pro-shot script, yakni naskah yang dibuat setelah shooting selesai. Pro-shot script dinamakan juga paper edit. Kenapa paper edit ini diperlukan oleh editor dokumenter? Ini salah satu yang membedakan antara feature film dengan dokumenter. Ketika editor merasa bahwa pekerjaan editing dokumenter terasa berat, maka transcript wawancara dituangkan ke dalam paper edit. Makanya tidak heran, akan ditemukan banyak kertas coretan di meja editing dokumenter. Kertas ini sangat membantu editor untuk membuat struktur cerita yang akan direkontruksi. Tidak ada aturan baku dalam format paper edit, yang paling penting.

Editing Assembly

Tahap ini merupakan tahapan setelah logging dan capturing. Editing Assembly dilakukan untuk melihat gambaran secara umum dokumenter tersebut. Untuk dokumenter berdurasi satu jam, biasanya assembly edit sekitar 140 menit, atau empat puluh persen lebih banyak. Ini bukan rumusan umum, tapi menurut pengalaman pribadi serta sharing dengan editor dokumenter lainnya estimasi durasi di atas umum dilakukan. Dalam editing assembly, belum ada musik serta voice over serta efek. Yang jelas, dalam assembly edit sudah terlihat cerita di dalamnya. Pada hasil assembly edit memang belum bisa untuk presentasi, tapi sutrdara sudah bisa melihat gambaran umumnya. Editor sudah bisa membayangkan tema apa yang bisa dibuang atau tidak terpakai,

Rough Cut

Namanya simpel, rough cut alias motong kasar tapi ini merupakan tahapan sebenarnya dalam editing. Editor sudah membuat kontruksi cerita sesuai dengan post-script yang sudah dibuat sebelumnya. Penambahan draft narasi atau voice over (kalau pendekatannya essay) sudah bisa dilakukan. Durasi hasil editing rough cut biasanya tidak lebih dari sepuluh persen dari durasi film dokumenter yang sudah jadi nantinya. Hasil rough cut sudah bisa dipresentasikan pada klien atau investor. Untuk menjajaki apakah film dokumenter tersebut sudah bagus secara editingnya, ada baiknya film tersebut dipertontonkan pada penonton awam, atau bisa saja minta komentar dari kawan anda.

Fine Cut

Ini merupakan proses editing akhir sebelum film dokumenter tersebut benar-benar akan direlease. Pada tahapan ini editor sudah membuat struktur final dengan durasi hampir persis pada durasi sebenarnya, menambahkan musik ilustrasi, serta efek. Pada tahap ini, hasil editing fine cut sudah bisa dipresentasikan kembali. Untuk beberapa dokumenter terkadang harus mempresentasikan di hadapan advisor. Ini biasanya menyangkut konten atau isi, misalnya seperti dokumenter intruksional.

Editor

Picture Locked!

Tidak ada yang paling membahagiakan seorang editor ketika, semua pekerjaan sudah selesai, dan ini yang namnaya picture lock. Tidak ada perubahan sama sekali dalam editing, karena begitu gambar/video sudah dilock berarti selanjutnya adalah finalisasi graphik serta musik. Dan tentu selanjutnya adalah mastering dan membuat copy release.

Penjelasan tahapan editing dokumenter di atas mungkin masih terlalu simpel, kalau ada waktu senggang nanti saya akan edit serta tambahkan lagi. Jadi…tulisan ini masih bersambung….

Narasumber dalam Dokumenter

Oleh Diki Umbara

Narasumber dalam dokumenter adalah hal yang sangat penting, narasumber sebagai subyek bukan sebagai obyek. Itulah uniknya dokumenter, memperlakukan manusia sebagai subyek. Narasumber memiliki karakter yang berbeda, artinya lebih baik menggunakan pendekatan subyektif ketimbang generalisasi. Ribet? Gak ah. Mari kita diskusikan……

Mengenali Narasumber

Tak kenal maka tak sayang, sebuah adagium klasik sederhana tapi masih relevan sampai saat ini. Narasumber dalam dokumenter adalah hal terpenting setelah ide/gagasan serta bagaimana story telling sang dokumentator. Banyak cara bagaimana menginisiasi calon narasumber kita, dan riset merupakan langkah awal. Kenali calon narasumber dengan berbagai referensi. Jika narasumber merupakan orang terkenal pasti tidak aka nada kesulitan untuk bahan referensi, tapi bagaimana kalau narasumber kita adalah orang biasa-biasa saja?

Prepare Interview vs Casual Interview

Wawancara yang baik seharusnya dilakukan persiapan yang matang, di antaranya dengan menginisiasi calon narasumber kita. Dan yang paling penting lagi adalah goal apa yang ingin dicapai oleh dokumentator atas narasumber tersebut. Ketika goalnya sudah jelas, maka buatlah list pertanyaan, buatlah pertanyaan yang mudah di urutan pertama. Hal ini dilakukan agar narasumber “tidak kaget”, dan dengan demikian dokumentator bisa menginisiasi narasumber ketika di lapangan. Bebrapa praktisi menyarankan untuk membuat semacam pre arrange question, yakni pertanyaan pembuka yang bisa jadi nantinya tidak dipakai ketika proses editing berjalan.

web aceh 1

Berbeda dengan tehnik prepare interview, tehnik lainnya yakni casual interview memiliki pendekatan agak sedikit berbeda. Ketika narsumber ditemui secara on the spot alias langsung di lapangan, maka dokumentator harus memiliki kejelian. Pada waktu pembuatan dokumenter bulan lalu di Aceh, penulis beberapa kali menemui narasumber on the spot. Aceh sebelum paska tsunami dan perjanjian damai Henlinski memang sudah berbeda, namun bukan berarti trauma pada masa Gerakan Aceh Merdeka/GAM serta pemberlakuan Daerah Operasi Militer/DOM sirna begitu saja, traumatik itu masih ada. Ini tentu menyulitkan saya dan tim ketika mewawancarai narasumber, apalagi yang ditanyakan seputar politik. Tanpa kehadiran kamera masih banyak informasi yang bisa penulis eksplorasi, tapi ketika kamera dihadapkan pada mereka, freezeee….. Lalu apa yang bisa dilakukan oleh penulis dan tim? Pendekatan personal. Teori-teori dalam buku jurnalistik investigasi yang sangat Amerika itu tidak berlaku, ini Aceh kawan! Banyak kejadian unik di lapangan, jangankan rakyat biasa, untuk mewancarai mahasiswa yang notabene sangat kritis saja diperlukan pendekatan khusus.

web aceh 2

Don’t stretch to the point, ini salah satu kuncinya. Saya ngobrol dengan mereka dari hal-hal yang ringan sampai pada hal yang menarik buat mereka. Dan mereka itu saya jadikan kita, berarti kami dan mereka. Setelah semuanya sudah terasa nyaman barulah kamera saya on kan,bla…bla…bla….ngalor-ngidul sudah menghabiskan hampir setengah kaset,narasumber bercerita panjang lebar tentang hal yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan materi dokumenter, barulah pada poin yang ingin digali oleh penulis.

Selat Malaka 1

Gotcha! Penulis dapat semua informasi yang diperlukan. Juga demikian, ketika penulis berhasil ngobrol dengan seorang petani di salah satu daerah di Aceh Besar. Bicara tentang bagaimana dia bertani, darimana benih dia dapat, hingga pada poin utama bagaimana keadaan eks kombatan GAM saat ini dan bagaimana politik mutakhir di Aceh saat ini.

Selat Malaka 3

Dalam teori memang banyak dibahas bagaimana menggali narasumber agar bisa menyampaikan informasi selengkap mungkin, tapi tidak dibicarakan bagaimana membuat narasumber nyaman. Nyaman dalam arti personal, dan ini bukan generik. Secara umum ada dua kriteria interview yang baik: yakni riset yang baik serta kemampuan mendengarkan yang baik. Butuh kesabaran yang ekstra ketika kita menjadi pendengar, dengan demikian kita akan peka terhadap apa yang disampaikan oleh narasumber. Tidak sedikit informasi baru akan kita gali ketika kita mendapat tuturan sang narasumber, pertanyaan ke dua, ke tiga, atau bahkan ke empat atas jawaban pertama tadi. Secara psikologis jelas bahwa lawn bicara kita akan merasa nyaman, merasa punya teman, ketika mereka kita dengarkan dengan baik.

Bersambung……

Prepare Shooting Dokumenter

Oleh Diki Umbara

“A documentary you can’t miss.More, a touching portrait of the building of a country.”

Benoîte Labrosse – Alternatives

Ketika shooting script sudah selesai dibuat, berarti pelaksanaan shooting sudah bisa dilakukan. Shooting script merupakan panduan dokumentator di lapangan, shooting script ibarat sebuah peta yang akan menghantarkan anda agar “tidak tersesat di jalan”. Tapi peta tetaplah peta, di lapangan segala sesuatu bisa saja terjadi. Lalu hal apa saja yang perlu dipersiapkan ?

Peralatan Shooting

Seperti halnya tentara yang akan bertempur di medan perang, persenjataan yang lengkap beserta amunisi serta strategi yang matang sudah harus dipersiapkan. Pun demikian ketika kita akan berangkat menuju lokasi shooting. Yakinkan bahwa semua peralatan shooting tidak ada yang ketinggalan. Buatlah daftar peralatan yang harus dibawa. Kamera sebagai bagian vital peralatan shooting sebaiknya dicek terlebih dahulu. Jika anda harus menyewanya, jangan terlalu percaya pada penyewa kalau peralatan dalam kondisi baik jika anda belum mengeceknya. Lakukan perekaman untuk mengetes apakah hasil rekaman itu baik atau tidak. Battere, hingga saat ini belum ada kamera video yang bisa dioperasikan tanpa ada arus listrik baik AC maupun DC. Bawalah paling tidak dua battere untuk keperluan shooting, beberapa battere memiliki indikator berapa lama bisa digunakan, tapi kalau tidak ada kondisi battere bisa dicek di display kamera. Dengan demikian anda bisa memprediksi kebutuhan battere di lapangan nantinya. Saran saya, bawa juga charger battere karena swaktu-waktu anda bisa mengisi battere yang sudah kosong. Tripod,penyangga kamera agar gambar yang dihasilkan lebih steady, tidak goyang. Pastikan semua panel yang ada di tripod bisa berfungsi dengan benar, misalnya apakah paning head tidak bermasalah? kalau konsep pembuatan dokumenter anda dengan gaya handheld berarti anda tidak mebutuhkan tripod atau penyangga kamera ini. Audio Set, seperangkat alat perekaman suara terdiri atas microphone, transmitter serta receivernya (kalau menggunakan tipe wireless) juga harus dicek. Begitu juga kalau menggunakan kabel mic. Reflektor, ada banyak jenis reflektor tapi tidak mungkin anda bawa semua jenis reflektor ke lapangan bukan? kalau saya sendiri lebih suka yang simple, yang bisa dilipat dan berwarna silver/perak. Ini sepertinya jadi favorit para dokumentator lain juga. Reflektor warna perak ini bisa memantulkan cahaya dengan baik. Kalau yang mau lengkap coba gunakan yang 5 in one, seperti namanya ini reflector satu set ada 5 jenis dalam satu paket(white difusser, soft,black,silver, dan gold). Tape/Cassette, kalau di senjata perang ini tape atau kaset itu ibarat peluru atau amunisi. Kalau untuk bikin feature film kebutuhan kaset bisa diprediksi dengan mudah, lain halnya untuk dokumenter jangan pelit untuk membawa kaset lebih. Beberapa kamera tidak menggunakan kaset alias tapeless,nah kalau seperti ini berarti anda harus mempersiapkan hardisk cadangan untuk media penyimpanannya.

Logistik

Jangan pernah menyepelekan logistik! hehehe…pake tanda seru biar keliatan serius. Tapi beneran lho kalo logistik itu penting banget. Tidak semua makanan gampang didapat di daerah, kalaupun ada apakah makan tersebut cocok untuk kru? Nah,kalau begitu bebarti sebelum berangkat shooting baiknya kita mempersiapkan makanan juga. Produser atau manajer produksi sudah harus memastikan berapa bujet yang dibutuhkan di lapangan, baik bujet keseluruhan maupun bujet setiap harinya. Ada kalanya harus membawa uang cash yang banyak, kenapa? karena di hutan tidak ada ATM, paling gak di empat hutan yang pernah saya datangi tidak pernah menemukan mesin ini. Hemm..bercanda lagi, tapi bener bahwa kita harus membawa cukup uang. Riyyani Djangkaru, mantan pembawa acara dokumenter televisi Jejak Petualang” di Trans 7 cerita ke saya, suatu saat dia dan kru menshoot babi dan ubi yang dijual di pasar. Dan…owww, sebelum di shoot mereka meminta bayaran. Gak nyangka kan kalau shooting ubi dan babi ada bayarannya? Ya, artinya memang harus menyediakan uang lebih alias kontijensi/contigency.

Kru Lokal

Sebelum pengambilan gambar alias shooting, kita pasti sudah sering ke lokasi shooting tersebut. Di Gothe Hauss, sekitar setahun yang lalu saya sempat menanyakan pada Dominic Morissete dokumentator asal Perancis, berapa lama dia riset ke lapangan waktu buat film Afghan Chronicles”. Dia menjelaskan tidak kurang dari dua tahun dia bolak-balik ke Afghanistan. Dia juga memanfaatkan kru lokal sana untuk membantu pembuatan dokumenter tersebut. Waktu saya buat dokumenter “SMP Terbuka Pulau Tunda” saya juga dibantu oleh orang lokal sana. Kenapa kru lokal ini penting? karena yang paling tahu tentang semua kondisi ya pasti orang lokal sana. Kru yang dimaksud tidak hanya sebagai porter saja, tapi bisa juga kita jadikan sebagai pemandu kita. Dan bagusnya lagi, dengan melibatkan orang lokal akan memperkecil atau mengurangi segala kecurigaan masyarakat di sana.

Hemmm..cukupkah persiapan untuk shooting dokumenter dengan prepare seperti yang saya tuliskan di atas? sepertinya belum…maklum lah artikel ini saya tulis dalam sambil mengerjakan hal lain, lagi nulis naskah dokumenter, supervisi editing, meeting beberapa project kantor, bimbingan TA, sama facebook sialan yang suka mengganggu,…hehehe.

Kategori

Kicauan

SociaBuzz

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 85 pengikut lainnya.