You are currently browsing the category archive for the ‘Broadcasting’ category.

Tentang TV Programming

Oleh Diki Umbara

Sebagai penonton, kita disuguhi berbagai acara televisi dari waktu ke waktu. Acara-acara itu silih berganti, dari pagi sampai malam dan seterusnya. Beberapa stasiun televisi bahkan bersiaran selama dua puluh empat jam dalam sehari, jadi sebetulnya “tidak bisa dilihat” kapan sebetulnya acara tersebut dimulai. Tulisan di bawah hanya ringkasan saja bagaimana acara dibuat hingga ditayangkan,dari sisi tv programming.

Pengaturan schedule acara tidak dilakukan begitu saja tanpa perencanaan serta evaluasi setelahnya. Ada proses yang dilalui sehingga tayangan tersebut bisa secara rutin dilakukan stasiun televisi. Yang mengatur itu semua dilakukan di satu departemen yakni Programming Departement. Di dalam TV Programming akan tercakup :

  • Orientasi Program
  • Kebijakan Program
  • Strategi Program
  • Sumber Acara
  • Pola Acara
  • Kriteria Acara
  • Pengembangan Program

Untuk menjalankan ke 7 aspek di atas, programming memiliki harus memiliki strategi yakni : Counter Programming, Block Programming, Hammock, Tentoling, dan Stunting.

Pola Dasar Siaran

NO

TIME

DAY

1

05.00-15.00

Slot Time Siaran Nasional

2

15.00-18.00

Slot Time Siaran Lokal

3

18.00-21.00

Slot Time Siaran Regional

4

21.00-24.00

Slot Time Siaran Nasional

5

24.00-05.00

Slot Time Siaran Nasona

Pola Dasar Acara

Seperti sudah dibahas sebelumnya, tahapan penayangan acara televisi melewati tahap yang panjang yakni :

  1. Perancangan Program
  2. Pra Produksi
  3. Produksi
  4. Paska Produksi
  5. Tahap Penyiaran
  6. SIARAN
  7. Evaluasi

Karena tahap Pra Produksi, Produksi, serta Paska Produksi telah penulis bahas sebelumnya, jadi kali ini hanya akan dibahas :

Contoh Pola Acara & Rate Card

Tahap Perancangan Program

Pada tahapan ini aktivitas dimulai dengan mengumpulkan ide baik internal maupun eksternal sampai menjadi sebuah desain program untuk mengisi atau sebagai masukan pada Pola Dasar yang memuat judul, kriteria serta format program. Tujuannya yakni untuk mendapatkan sebuah desain program yang tentu saja yang menarik serta memenuhi kebutuhan khalayak/penonton. Kegiatan yang dilakukan dalam tahapan ini yakni :

  1. Mengumpulkan Ide
  2. Merancang Program
  3. Mempelajari & Mengembangkan Ide untuk rancangan program
  4. Mengkaji Program
  5. Menganalisia & Menilai rancangan program, yang nantinya disetujui atau mungkin ditolak menjadi desain program

Dari tahapan ini akan diperoleh : Jenis Program, Ide Program, Desain Program, serta Persetujuan.

Tahap Penyiaran

Tahapan ini merupakan tahapan menyiarkan program yang sudah dibuat tadi yakni program yang siap siar sesuai dengan pola acara terpadu serta pola acara lokal. Tujuannya yakni untuk menyiarkan program televisi yang sudah siap siar/on airing. Dalam Tahapan Penyiaran, terdiri atas :

  1. Format bahan layak siar
  2. Kualitas teknis bahan layak siar
  3. Kualitas program bahan layak siar

Untuk memenuhi bahan layak siar tadi diperlukan penyimpanan khusus materi siaran yang berbentuk perpustakaan/library bahan siar yang akan :

  1. Menerima, menyimpan, dan menyerahkan bahan siaran
  2. Menerima, menyimpan, dan menyerahkan bahan layak siar berikut dengan data pendukung
  3. Menyiapkan pita bahan siaran yang baru/blank tape sesuai format yang ditetapkan

Tahap Peyiaran sendiri terdiri atas :

  1. Penilaian Bahan Siaran
    Penyiaran
    Pemirsa
    Evaluasi & Monitoring

Jadi, pada intinya penyiaran merupakan kegiatan menyiarkan bahan layak siar yakni :

  1. Megumpulkan database program
  2. Menyusun urutan acara/rundown
  3. Mensahkan susunan acara
  4. Mendistribusikan susunan acara
  5. Menyiapkan bahan siaran
  6. Otomasi data program (check display logger data)
  7. Menyelenggarakan siaran
  8. Relokasi bahan siaran

Monitoring dan Evaluasi

Merupakan kegiatan mengamati dan menilai penyiaran sebagai internal control terhadap kegiatan penyiaran dengan tanggung jawab sebagai berikut :

  • Mengamati jalannya penyiaran
  • Menilai mutu penyiaran
  • Mengevaluasi masukan yang diterima dan meneruskan kepada setiap fungsi terkait.

Ada Makna di Balik Shot (part 1)

Oleh Diki Umbara

Melalui unsur verbal dan visual (nonverbal), diperoleh dua tingkatan makna, yakni makna denotatif yang didapat pada semiosis tingkat pertama dan makna konotatif yang didapat dari semiosis tingkat berikutnya. Pendekatan semiotik terletak pada tingkat kedua atau pada tingkat signified, makna pesan dapat dipahami secara utuh (Barthes, 1998:172-173).

Saya setuju dengan tesis yang dikemukanan ahli semiotika dunia Roland Barthes di atas, namun pada tulisan saya kali ini justru akan lebih banyak melihat dari makna pertama utamanya unsur visual (gambar) yakni makna denotatif. Penulis akan mencoba bagaimana makna-makna verbal itu dihasilkan dari sisi praktisi, si pembuat pesan ( sinematografer, videografer, filmmaker, videomaker, broadcaster). Secara spesifik penulis akan mengurai ada makna apa di balik sebuah shot. Ketika kita menonton sebuah film atau tayangan televisi, sebenarnya kita sedang menyaksikan rangkaian shot dalam sebuah scene, dan rangkaian scene dalam sebuah sequence, dan seterusnya hingga kita melihat tayangan atau film secara utuh. Disadari atau tidak disadari sebenarnya penonton telah disuguhi ratusan bahkan ribuan shot yang muncul silih berganti di layar televisi setiap harinya.

Pasti ada pesan yang ingin disampaikan oleh si pembuat dalam menciptakan rangkaian shot-shot tadi, sayangnya tidak semua pesan bisa disampaikan dengan baik dan celakanya hal ini karena ”kesalahan” dari si pembuat pesan. Shot semestinya tidak semata urusan teknis mekanis dan estetis,menyampaikan pesan akan ”berurusan” dengan falsafah, the philosophy of the shot. Wah serumit itukah? mari kita pahami sampai tuntas.

Belum ada kesepakatan tentang definisi yang benar-benar pas tentang apa itu sebenarnya shot. Ketika kita menekan tombol rec atau start sampai kita tekan sekali lagi tombol yang sama, maka itu adalah satu shot. Walaupun hanya satu detik atau bahkan sampai satu jam dari awal sampai akhir, baik bergerak maupun diam.

SHOT SIZE/Type of Shot

Shot size/type of shot atau ukuran shot adalah besar kecilnya subjek dalam sebuah frame.Type of shot itu terdiri atas :

  • ECU : Extreme Close Up (detail shot)
  • VCU : Very Close Up (shot wajah) dari atas kepala sampai dagu
  • BCU : Big Close Up (tight CU, full kepala), wajah memenuhi layar
  • CU : Close Up, dari keapala sampai pundak
  • MCU : Medium Close Up,
  • Knee, 3/4Shot :
  • MLS : Medium Long Shot
  • LS : Long Shot
  • ELS : Extra Long Shot (extereme LS, XLS)

Masing-masing ukuran shot di atas akan memiliki makna yang berbeda-beda ketika diimplementasikan pada pengambilan sebuah gambar/shooting.

Long Shots, secara umum penggunaan shot jauh ini akan dilakukan jika :

  • Untuk mengikuti area yang lebar atau ketika adegan berjalan cepat
  • Ketika subjek
  • Untuk menunjukkan dimana adegan berada/menujukkan tempat
  • Untuk menujukkan progres
  • Untuk menjukkan bagaimana posisi subjek memiliki hubungan dengan yang lain

Medium Shots, type shot seperti ini yang paling umum kita jumpai dalam film maupun televisi. Jenis shot ini adalah paling aman, karena tidak ada penekanan khusus seperti halnya pada Long Shots dan Close Shots. Semua adegan bisa ditampilkan dengan netral di sini.

Close Shots, televisi adalah media close up. Awalnya premis ini karena berkaitan dengan hal teknis. Pertama, acara dengan media televisi harus ditampilkan secara close up karena ukuran televisi yang kecil jika dibandingkan dengan layar di bioskop. Ke dua, berbeda juga dengan bisokop, acara televisi ditonton sambil lalu, akan lebih cocok menampilkan gambar-gambar dengan close shot/padat.

Tapi,yang perlu dipahami juga justru makna-makna yang ditampilkan ketika shot-shot itu dibuat secara close up. Efek close up biasanya, akan terkesan gambar lebih cepat, mendominasi, menekan. Ada makna estestis, ada juga makna psikologis.

MOVEMENT

Terdapat paradoks dalam menciptakan camera movement untuk menghasilkan perubahan visual ketika mencoba membuat invisible movement. Secara teknis hal ini dimaksudkan untuk menghindari bergesernya perhatian penonton. Caranya adalah dengan melakukan pergerakkan kamera yang mengikuti pergerakkan subjek. Tapi yang harus diperhatikan tentu saja adalah tujuan atau motivasi dari pergerakkan kamera itu dibuat. Secara umum, menurut Peter Ward dalam Digital Video Camerawork, motivasi itu antara lain :

  • Untuk menambah interest visual
  • Mengekresikan kegembiraan
  • Meningkatkan ketegangan
  • Memberikan interes pada subjek baru
  • Memberikan perubahan angle/sudut pandang.

Secara khusus, ada dua kaidah dalam mengontrol camera movement, yakni menyesuaikan gerakkan dengan aksi subjek sehingga gerakan kamera akan distimulasi oleh aksi dan yang kedua adanya kebutuhan untuk menjaga komposisi yang baik selama pergerakkan.

Hampir di keseluruhan shot yang ditampilkan dalam film Emergency Room atau E.R. menggunakan konsep ini, dengan demikian efek dramatis tercipta sehingga penonton akan merasakan bagaimana suasana yang sangat dinamis di setiap ruang rumah sakit. Demikian juga di beberapa filmnya Rudy Soedjarwo, walaupun menurut saya masih terasa nanggung. Jadi, apa sebenarnya motivasi Rudy membuat film dengan konsep handheld tersebut ?

ANGLE

Secara mekanis, angle atau sudut pengambilan gambar itu berhubungan erat dengan lensa kamera, baik jenis lensa yang digunakan maupun penempatan kamera itu sendiri. Masih menurut Ward, ruang internal shot sering menonjolkan kualitas emosional dari adegan. Perspektif yang normal untuk membangun shot sering digunakan secara gamblang dan langsung. Tinggi lensa akan mengendalikan bagaimana penonton mengidentifikasi subyek. Lensa rendah akan mengurangi detail level latar belakang dan menghilangkan indikasi antara latar belakang dengan objek. Posisi lensa yang tinggi memiliki efek sebaliknya.

Low Angle

Pengambilan gambar dengan low angle, posisi kamera lebih rendah dari objek akan mengakibatkan objek lebih superior, dominan, menekan.

High Angle

Kebalikan dari low angle, akan mengakibatkan dampak sebaliknya, objek akan terlihat imperior, tertekan

Dengan mengetahui dampak pesan yang akan tersampaikan dari sudut pengambilan gambar ini, diharapan sinematografer atau videografer bisa mengkonstruksi shot-shot yang akan dibuat sesuai dengan pesan apa yang ingin kita sampaikan pada penonton.

Satu sekuens yang sama akan dimaknai berbeda ketika pemlihan angle shot yan berbeda pula. Misalnya adegan demontrasi mahasiswa, rangkaian petama : 1.long shot para demontrans, 2. high angle demonstran teriak-teriak, 3. low angle polisi sedang menggebuki demonstran. 4. high angle demontran kesakitan, sedangkan rangkain ke dua : 1.long shot para demontrans, 2. low angle demonstran teriak-teriak, 3. high angle polisi sedang menggebuki demonstran. 4. low angle demontran.Dalam sekuens pertama, penonton akan memaknai rangkaian shot tersebut bahwa ada demontrasi yang dilakukan mahasiswa, polisi dengan superioritasnya bisa menangani aksi demontrasi itu dengan sikap represif, mahasiswa teretekan. Sedangkan dalam rangkain shot pada sekuens ke dua, penonton akan melihat demontrasi yang dilakukan mahasiswa walapun dijaga oleh para polisi, mahasiswa terlihat superior dan mendominasi bahkan lebih gagah dari para polisi.

Ya, ini baru satu aspek saja yakni dari angle atau sudut pengambilan gambar bisa mengahsilkan efek yang berbeda pada penonton. Jadi, angle menjadi elemen makna atau pesan. Pesan apa yang ingin disampaikan pemberi pesan ?

Secara detail, Ward mengemukan bahwa sudut lensa mana yang dipilih tergantung dari tujuan shot, yang terdiri atas :

  • Menonjolkan subyek prinsip
  • Menyediakan variasi ukuran shot
  • Memberikan kelebihan tambahan terhadap subyek yang dipilih
  • Menyediakan perubahan sudut atau ukuran shot untuk memungkinkan terjadinya inter cutting yang tidak menonjol
  • Menciptakan komposisi shot yang baik
  • Meningkatkan arah mata

Sandekala, dari Novel ke Teater, dari Teater ke Televisi

Oleh Diki Umbara

Sandekala adalah novel karya Godi Suwarna, seniman asal Tasikmalaya yang lahir 42 tahun yang lalu. Godi merupakan seniman yang sangat produktif telah menghasilkan beragam karya, puisi, cerpen, novel serta naskah drama.

Sandekala belum lama dipentaskan dalam format teater disutradarai oleh Wawan Sofyan di Taman Ismail Marzuki. Pementasan teater yang menghadirkan sebanyak 25 tokoh dan dimainkan oleh berbagai kelompok teater ini berkisah tentang Suroto, Camat Kawali Ciamis yang korup dan memerintah dengan tangan besi. Dengan kekuasaannya itu, dia berbuat sewenang-wenang termasuk merampas hak-hak warga setempat demi kepentingan pribadi. Ia melakukan kolusi dengan para kontraktor untuk pembangunan gedung olahraga dan pasar. Ia juga menyetujui penyelenggaraan pasar malam di alun-alun kota, padahal tempat tersebut dekat sekali dengan masjid agung, sekolah dan rumah sakit. Ia pun menggunakan kekuasaannya sebagai camat untuk meraup keuntungan yang tentu saja masuk ke kantong pribadinya.Kang Godi, sebagai penulis begitu cerdik menulis novel ini, terkadang serius namun beberapa bagian dibuat lucu, guyonan khas Sunda.

Kembali ke media yang digunakan, ini cukup menarik karena ada konvergensi atau tepatnya ”konversi” dari satu media ke media lainnya, dari novel (media cetak) ke teater (media ruang), dan dari teater ke televisi (media eketronik). Dan bisa jadi nantinya dari televisi ke media internet (youtube,dsb).

Pementasan teater sendiri dimainkan oleh Mainteater dari Bandung, pementasan sendiri ada dua yakni yang berbahasa Indonesia serta yang berbahasa Sunda. Sayang saya sendiri tidak sempat menyaksikan pementasan yang berbahasa Sunda, padahal dipastikan saya akan mengerti pementasan yang berbahasa Sunda karena sebagai orang Cianjur saya memahami betul bahasa ini.

Bagi penulis sendiri, meliput secara utuh acara teater untuk keperluan acara televisi merupakan pengalaman pertama. Tidak terlalu banyak persiapan untuk peliputan dengan menggunakan multicamera ini. Untungnya saya sempat melihat rehearsal pementasan teater yang dilakukan oleh sutrdara dan para pemain. Pengambilan gambar atau shooting dilakukan dengan tehnik live on tape. Sandekala berdurasi dua setengah jam rencananya akan dibagi menjadi 3 episode dan akan ditayangkan di semua televisi lokal yang tergabung di Afiliasi TV Lokal Indonesia. Saat ini Sandekala sedang memasuki tahap penyuntingan gambar.

Saya tidak tau persis seberapa banyak perubahan adaptasi dari karya novel ini ke dalam media teater. Namun kalau dari teater ke televisi benar-benar tidak ada perubahan kecuali hanya perpindahan media saja serta pembagian episode karena untuk penyesuaian durasi bagi keperluan on air.

Pementasan Sandekala terselenggara oleh berbagai lembaga swadaya masyarakat seperti ICW, ELSAM, WALHI, Praxis, Forum Diskusi Wartawan Bandung. Acara ini diliput untuk keperluan dokumentasi serta tayangan televisi oleh SBM atau School for Broadcast Media Jakarta. Klik link ini untuk melihat detail pemetasan Sadekala. Jika penasaran, untuk anda di daerah sedikit bersabar karena pementasan sandekala akan segera hadir di televisi lokal dimana anda tinggal.

dvd’s cover design by Diki Umbara

Do you speak bahasa ? demikian tanya Farhan di acara Bule Gila di TransTV episode awal. Sebagai penonton saya sedikit terperangah. Apa maksud pertanyaan salah satu presenter top di Indonesia ini. Apakah maksudnya Apakah Anda berbahasa Indonesia ? Bukankah seharusnya dia bertanya Do you speak Indonesian? Gak…yang ditanyakan Farhan itu sudah betul. Oh….kata saya, dan teman sayapun menjelaskan tentang bahasa, language, english, dan Indonesian. Kini acara Bule Gila alias Bugil tayang kembali di ANTV setiap hari Senin sampe Jum’at jam 19.00

Kita sudah faham betul atau paling gak pura-pura faham kalau selama ini dan dari awal televisi berita pertama Metrotv sering memakai istilah berbahasa Inggris. Liat saja kini televisi milik om brewok Surya Paloh ini punya slogan The Election Channel . Pun dengan nama mata acaranya selalu menggunakan bahasa Inggris. Hemmm…trus kenapa? ada masalah gitu ? exactly no….

Masalahnya…kini sudah ada pesaing TV yang berlokasi di bilangan Pilar Mas ini, tv tersebut tiada lain adalah TVOne, sebuah stasiun tv reinkarnasi dari Lativi. TVOne, dari namanya lagi-lagi ke-Inggris-Ingrisan. Tapi…ternyata mata acaranya masih menggunakan bahasa Indonesia. Ini contoh perbedaan nama acara ke dua tv tersebut :

Metro TV : Market Review, Metro Good Morning, Sport Corner

TVOne : Kabar Pasar, Kabar Pagi, Kabar Arena

O’ya kalau slogan MetroTV The Election Channel maka TVOne punya slogan TV Pemilu. Menurut saya slogan MetroTV lebih eye catchy sedangkan TVOne lebih membumi.

Kemampuan berbahasa Inggris buat pembawa acara/pembaca berita/anchor/news caster/news reader atau apapun namanya, menurut saya memang sangatlah penting. Kan gak enak didengar aja kalo pembaca berita mengucapkan kata atau kalimat berbahasa Inggris srimpet-srimpet. Nah,ini disadari betul oleh MetroTV. Maka gak heran, dalam perekrutan untuk karyawannya terutama untuk anchor tadi, MetroTV mengaruskan calon anchor memiliki nilai TOEFL tertentu yang masih berlaku dalam enam bulan pada pelaksanaan tesnya.

Trus,apakah TVOne harus melakukan yang sama? sepertinya gak usah deh…dengan gak usah capek2 merekrut anchor dari nol, TVOne sepertinya sudah kebanjiran karyawan dari MetroTV. Termasuk pindahnya jeng Rahma Sarita, presenter janda cantik keturunan Arab yang memiliki suara parau itu.

Hemmm…kira-kira akankah TVOne menyaingi MetroTV? prediksi saya sich ya. Contoh saja, pernah nonton acara “Debat” di TVOne ? acara yang dipandu Alfito Deannova Ginting ini sekarang saat ini lagi diminati pemirsa, apalagi sekarang sedang musim pilkada. Awalnya acara yang digagas Komisi Pemilihan Umum ini ditawarkan ke beberapa stasiun tv, ya termasuk MetroTV tentunya. Dan “pemenangnya” ya TVOne,karena bagaimana gak, stasiun tv yang dipimpin Erick Thohir ini menawarkan gratis alias free pada KPU, sementara Metro gak alias mesti bayar.

Strategi marketing yang mantap nich yg dilakukan TVOne, acaranya sich gratis. Tapi lihat saja iklannya, semua acara debat pilkada penuh dengan iklan para cagub. Pundi-pundi uang iklan ini kini sedang dinikmati oleh tv “bercorak merah” ini.

Buku Kamera

Sebenarnya bukan hal pertama kali saya meminjamkan buku, baik ke temen atau ke mahasiswa. Dulu ada yang minjam buku saya “The Technique of Lighting for Television” sampai saat ini blum kembali. Nah,sekarang kejadian lagi. Buku yang dipinjam adalah “Video Camera Technique” karya Gerald Millerson terbitan Focal Press.

Bagi yang merasa minjam,plissss…plisss..tolong kembalikan buku saya itu. Itu buku asli bukan copyan harganya Rp.300rb-an. Saya lupa siapa yg pinjam karena saya gak mencatat nama yang minjamnya. Satu lagi buku “Produksi Program Televisi“, ini berbahasa Indonesia.

Gerald

Nah…kalo buku yang di atas ini baru saja sudah ada yang balikin, itupun karena sudah saya tagih berkali-kali, untung saja saya inget kelas mana yang minjam salah satu buku kesayangan ini. Dari seorang Executive Producer sampe mahasiswa jurusan broadcasting pernah minjam buku ini, kayaknya lebih dari sepuluh orang yang pinjam buku yang lengkap membahas tentang produksi acara tv ini. Karena kejadian terakhir rada sedikit kapok minjemin buku.

Tata Artistik

Nah, kalo buku yg ini saya blom punya……..kapan ya bisa beli buku yang ngebahas tentang set desain ini?

Buku Sita

Dan…..buku yang ini adalah bukunya Sita Shidarta. Jeng Sita…saya mo balikin nich buku,kapan ya? Ini buku keren aja, secara yg nulis John Fiske si professor komunikasi. Ini salah satu buku rujukkan thesis saya tentang televisi. O’ya tentang Sita Shidarta, dia adalah penulis buku “Menjadi Penulis Skenario Profesional“. Buku yang diterbitkan Grasindo ini ditulis Sita bareng Sony Set.

Hemmm…saat ini (sebetulnya dah dari dulu) saya lagi nulis buku “Become a Cameraman” sama “Ngedit Yuk” kok blom rampung-rampung ya? Arrrrgggh………

Kategori

Kicauan

SociaBuzz

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 88 pengikut lainnya.