Dokumenter Part 10

Posted On Juni 19, 2009

Disimpan dalam dokumenter

Comments Dropped leave a response

Editing Dokumenter

Oleh Diki Umbara

Ketika proses shooting selesai, maka tahap selanjutnya yakni editing sebagai bagian dari proses paska produksi, merupakan tahapan yang sangat menarik dalam pembuatan dokumenter. Kolaborasi atau kerjasama antar sutradara dengan editor sudah dimulai. Seperti halnya dalam editing feature film, editing dokumenter melalui berbagai tahapan. Dan saat ini saya akan mencoba sharing tentang apa dan bagaimana tahapan editing dokumenter.

Preview Hasil Shooting

Ratusan atau bisa jadi ribuan shot yang sudah dihasilkan oleh sutradara dan cameraman, namun shot-shot tersebut tidak akan memiliki makna apa-apa ketika belum disusun oleh editor menjadi satu kesatuan cerita. Karena itu peran seorang editor sangatlah penting. Sebelum melakukan penyuntingan gambar, preview hasil shooting. Semua materi shot harus dilihat oleh editor. Dan kalau memungkinkan ada baiknya pada proses melihat hasil shooting ini, sutrdara menemani editor. Dengan demikian sutradara bisa berdiskusi dengan editor mengenai shot-shot yang sudah dihasilkannya itu.

Logging

Terkadang buat sebagian editor ini merupakan proses yang membosankan. Logging secara sederhana berarti pencatatan time code seluruh shot hasil shooting. Time code merupakan kode waktu yang terdapat pada materi shot. Pencatatan time code awal serta akhir shot. Jadi logging merupakan manajemen file, yang berfungsi untuk memudahkan ketika melakukan penyuntingan gambar nantinya. Catatan logging tersebut dibuat ke dalam logging list atau logging sheet. Logging sheet merupakan panduan untuk capture atau pemindahan materi tape ke dalam komputer editing.

Paper Edit

Ada dua naskah dalam dokumenter, yang pertama adalah pre-shot script yakni script yang dibuat oleh penulis naskah sebagai panduan dokumentator di lapangan. Dan yang ke dua, dinamakan pro-shot script, yakni naskah yang dibuat setelah shooting selesai. Pro-shot script dinamakan juga paper edit. Kenapa paper edit ini diperlukan oleh editor dokumenter? Ini salah satu yang membedakan antara feature film dengan dokumenter. Ketika editor merasa bahwa pekerjaan editing dokumenter terasa berat, maka transcript wawancara dituangkan ke dalam paper edit. Makanya tidak heran, akan ditemukan banyak kertas coretan di meja editing dokumenter. Kertas ini sangat membantu editor untuk membuat struktur cerita yang akan direkontruksi. Tidak ada aturan baku dalam format paper edit, yang paling penting.

Editing Assembly

Tahap ini merupakan tahapan setelah logging dan capturing. Editing Assembly dilakukan untuk melihat gambaran secara umum dokumenter tersebut. Untuk dokumenter berdurasi satu jam, biasanya assembly edit sekitar 140 menit, atau empat puluh persen lebih banyak. Ini bukan rumusan umum, tapi menurut pengalaman pribadi serta sharing dengan editor dokumenter lainnya estimasi durasi di atas umum dilakukan. Dalam editing assembly, belum ada musik serta voice over serta efek. Yang jelas, dalam assembly edit sudah terlihat cerita di dalamnya. Pada hasil assembly edit memang belum bisa untuk presentasi, tapi sutrdara sudah bisa melihat gambaran umumnya. Editor sudah bisa membayangkan tema apa yang bisa dibuang atau tidak terpakai,

Rough Cut

Namanya simpel, rough cut alias motong kasar tapi ini merupakan tahapan sebenarnya dalam editing. Editor sudah membuat kontruksi cerita sesuai dengan post-script yang sudah dibuat sebelumnya. Penambahan draft narasi atau voice over (kalau pendekatannya essay) sudah bisa dilakukan. Durasi hasil editing rough cut biasanya tidak lebih dari sepuluh persen dari durasi film dokumenter yang sudah jadi nantinya. Hasil rough cut sudah bisa dipresentasikan pada klien atau investor. Untuk menjajaki apakah film dokumenter tersebut sudah bagus secara editingnya, ada baiknya film tersebut dipertontonkan pada penonton awam, atau bisa saja minta komentar dari kawan anda.

Fine Cut

Ini merupakan proses editing akhir sebelum film dokumenter tersebut benar-benar akan direlease. Pada tahapan ini editor sudah membuat struktur final dengan durasi hampir persis pada durasi sebenarnya, menambahkan musik ilustrasi, serta efek. Pada tahap ini, hasil editing fine cut sudah bisa dipresentasikan kembali. Untuk beberapa dokumenter terkadang harus mempresentasikan di hadapan advisor. Ini biasanya menyangkut konten atau isi, misalnya seperti dokumenter intruksional.

Editor

Picture Locked!

Tidak ada yang paling membahagiakan seorang editor ketika, semua pekerjaan sudah selesai, dan ini yang namnaya picture lock. Tidak ada perubahan sama sekali dalam editing, karena begitu gambar/video sudah dilock berarti selanjutnya adalah finalisasi graphik serta musik. Dan tentu selanjutnya adalah mastering dan membuat copy release.

Penjelasan tahapan editing dokumenter di atas mungkin masih terlalu simpel, kalau ada waktu senggang nanti saya akan edit serta tambahkan lagi. Jadi…tulisan ini masih bersambung….

Dokumenter Part 9

Posted On Juni 13, 2009

Disimpan dalam dokumenter

Comments Dropped leave a response

Narasumber dalam Dokumenter

Oleh Diki Umbara

Narasumber dalam dokumenter adalah hal yang sangat penting, narasumber sebagai subyek bukan sebagai obyek. Itulah uniknya dokumenter, memperlakukan manusia sebagai subyek. Narasumber memiliki karakter yang berbeda, artinya lebih baik menggunakan pendekatan subyektif ketimbang generalisasi. Ribet? Gak ah. Mari kita diskusikan……

Mengenali Narasumber

Tak kenal maka tak sayang, sebuah adagium klasik sederhana tapi masih relevan sampai saat ini. Narasumber dalam dokumenter adalah hal terpenting setelah ide/gagasan serta bagaimana story telling sang dokumentator. Banyak cara bagaimana menginisiasi calon narasumber kita, dan riset merupakan langkah awal. Kenali calon narasumber dengan berbagai referensi. Jika narasumber merupakan orang terkenal pasti tidak aka nada kesulitan untuk bahan referensi, tapi bagaimana kalau narasumber kita adalah orang biasa-biasa saja?

Prepare Interview vs Casual Interview

Wawancara yang baik seharusnya dilakukan persiapan yang matang, di antaranya dengan menginisiasi calon narasumber kita. Dan yang paling penting lagi adalah goal apa yang ingin dicapai oleh dokumentator atas narasumber tersebut. Ketika goalnya sudah jelas, maka buatlah list pertanyaan, buatlah pertanyaan yang mudah di urutan pertama. Hal ini dilakukan agar narasumber “tidak kaget”, dan dengan demikian dokumentator bisa menginisiasi narasumber ketika di lapangan. Bebrapa praktisi menyarankan untuk membuat semacam pre arrange question, yakni pertanyaan pembuka yang bisa jadi nantinya tidak dipakai ketika proses editing berjalan.

web aceh 1

Berbeda dengan tehnik prepare interview, tehnik lainnya yakni casual interview memiliki pendekatan agak sedikit berbeda. Ketika narsumber ditemui secara on the spot alias langsung di lapangan, maka dokumentator harus memiliki kejelian. Pada waktu pembuatan dokumenter bulan lalu di Aceh, penulis beberapa kali menemui narasumber on the spot. Aceh sebelum paska tsunami dan perjanjian damai Henlinski memang sudah berbeda, namun bukan berarti trauma pada masa Gerakan Aceh Merdeka/GAM serta pemberlakuan Daerah Operasi Militer/DOM sirna begitu saja, traumatik itu masih ada. Ini tentu menyulitkan saya dan tim ketika mewawancarai narasumber, apalagi yang ditanyakan seputar politik. Tanpa kehadiran kamera masih banyak informasi yang bisa penulis eksplorasi, tapi ketika kamera dihadapkan pada mereka, freezeee….. Lalu apa yang bisa dilakukan oleh penulis dan tim? Pendekatan personal. Teori-teori dalam buku jurnalistik investigasi yang sangat Amerika itu tidak berlaku, ini Aceh kawan! Banyak kejadian unik di lapangan, jangankan rakyat biasa, untuk mewancarai mahasiswa yang notabene sangat kritis saja diperlukan pendekatan khusus.

web aceh 2

Don’t stretch to the point, ini salah satu kuncinya. Saya ngobrol dengan mereka dari hal-hal yang ringan sampai pada hal yang menarik buat mereka. Dan mereka itu saya jadikan kita, berarti kami dan mereka. Setelah semuanya sudah terasa nyaman barulah kamera saya on kan,bla…bla…bla….ngalor-ngidul sudah menghabiskan hampir setengah kaset,narasumber bercerita panjang lebar tentang hal yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan materi dokumenter, barulah pada poin yang ingin digali oleh penulis.

Selat Malaka 1

Gotcha! Penulis dapat semua informasi yang diperlukan. Juga demikian, ketika penulis berhasil ngobrol dengan seorang petani di salah satu daerah di Aceh Besar. Bicara tentang bagaimana dia bertani, darimana benih dia dapat, hingga pada poin utama bagaimana keadaan eks kombatan GAM saat ini dan bagaimana politik mutakhir di Aceh saat ini.

Selat Malaka 3

Dalam teori memang banyak dibahas bagaimana menggali narasumber agar bisa menyampaikan informasi selengkap mungkin, tapi tidak dibicarakan bagaimana membuat narasumber nyaman. Nyaman dalam arti personal, dan ini bukan generik. Secara umum ada dua kriteria interview yang baik: yakni riset yang baik serta kemampuan mendengarkan yang baik. Butuh kesabaran yang ekstra ketika kita menjadi pendengar, dengan demikian kita akan peka terhadap apa yang disampaikan oleh narasumber. Tidak sedikit informasi baru akan kita gali ketika kita mendapat tuturan sang narasumber, pertanyaan ke dua, ke tiga, atau bahkan ke empat atas jawaban pertama tadi. Secara psikologis jelas bahwa lawn bicara kita akan merasa nyaman, merasa punya teman, ketika mereka kita dengarkan dengan baik.

Bersambung……

Dokumenter Part 8

Posted On Mei 12, 2009

Disimpan dalam Broadcasting

Comments Dropped leave a response

Repotnya jadi Produser Dokumenter

Oleh Diki Umbara

The two most important roles of a documentary producer are to create a safe working environment for the cast and crew and to hire the best people to execute the director’s vision. A documentary producer must be a master of negotiation and people management. (Mechelle Pellebon)

Ada banyak profesi dalam film maupun acara televisi yang berkaitan dengan produser, yakni executive producer,ass.producer, line producer, news producer,sport producer, documentary producer, promo producer, co-producer, dan masih banyak lagi. Secara umum produser mempunyai tanggung jawab dalam sebuah produksi film atau televisi dari mulai pra produksi, produksi, hingga paska produksi. Walaupun secara umum memiliki tanggung jawab yang sama, namun jika dilihat dari hasil karya atau jenis produksi yang dihasilkan, masing-masing produser memiliki kekhasan sendiri,hal ini dikarenakan adanya perbedaan “cara menangani” acara-acara yang spesifik tadi. Dan kali ini kita akan membahas tentang bagaimana produser dokumenter bekerja.

Menentukan Kru

Tentang bagaimana menentukan kru, sudah kita bahas pada artikel sebelumnya, di sana saya tidak hanya membicarakan bagaimana menentukan atau memilih kru, tapi bagaimana membangun tim atau kru yang baru. Di sini saya jelaskan kembali, bahwa salah satu tugas produser adalah memilih kru untuk sebuah produksi dokumenter. Tidak semua cameraman terbiasa dengan pembuatan dokumenter, apalagi misalnya cameraman studio. Cameraman dokumenter harus jeli melihat situasi dan kondisi yang bisa terjadi kapan saja di lapangan. Yang paling memungkinkan dari cameraman lain adalah cameraman berita. Jadi, sebagai produser dokumenter harus dengan cermat ketika memilih kru yang akan diajak kerjasama. Juga ketika memilih siapa yang akan menjadi sutradara dokumenter tersebut, beberapa produser lebih nyaman bekerjasama dengan sutradara “langganannya”. Maka tidak mengherankan kalau “sutradara yang itu” selalu dengan “produser yang itu” juga. Ini sebenarnya tidak hanya terjadi dalam proyek dokumenter, di feature film pun sebetulnya demikian juga. Alasannya hamper sama, sudah ketemu chemistrynya.

Pendanaan Dokumenter

Produser dokumenter harus mampu untuk presentasi pada client atau investor, jika film dokumenter itu orderan atau pesanan dari investor bahkan produser harus terlibat pada banyak tahapan tender/bidding. Jadi, produser dokumenter memang harus jago ngomong, harus bisa memaparkan gagasan serta konsep dokumenter yang akan dibuatnya. Tema bukan segala-galanya dalam film dokumenter, bahkan tidak sedikit tema sudah ditentukan oleh si penyandang dana, yang paling penting adalah bagaimana agar tema tersebut bisa dipaparkan dalam sebuah gagasan sehingga film dokumenter nantinya bisa menjadi karya yang baik, karya dengan story telling yang baik. Ketika mengikuti beberapa kali tender project dokumenter, terkadang saya suka senyum sendiri melihat berbagai gaya produser dalam presentasi, terutama ketika melihat produser yang belum terbiasa presentasi di hadapan klien bule.

Membuat budget untuk pembuatan karya dokumenter haruslah cermat, produser harus bisa mengestimasi budget riset hingga paska produksi sedetail mungkin. Demikian juga ketika client/donor sudah mematok anggaran pembuatan dokumenter, produser tidak boleh akal-akalan mensiasati budget dengan asal tebak. Jangan pernah menganggap donor tidak paham dengan budgeting produksi dokumenter.

Produser dan Penulis Naskah

Di beberapa produksi dokumenter, tidak sedikit profesi penulis naskah dokumenter dihandle oleh produser sendiri. Dokumentator Michael Moore misalnya, dalam karya dokumenternya, selain sebagai produser dia sendiri yang menangani penulisan naskahnya, Roger and Me, dan Sicko, juga dokumentator Morgan Spurlock dengan karya terkenalnya Super Size Me. Inilah salah satu hal yang unik dalam pembuatan dokumenter, satu orang bisa merangkap untuk dua bahkan sampai tiga jabatan. Produser juga, sutradara juga, penulis naskah juga. Ini tidak hanya terjadi di luar sana, di Indonesia juga demikian. Beberapa film dokumenter disutradarai dan ditulis oleh orang yang sama, seperti dokumentator mas Tonny Trimarsanto sama mas Wiranegara misalnya. Kenapa jabatan bisa rangkap begitu? apalagi kalau bukan masalah budget dan masalah efesiensi.

Di Lapangan

shooting dokumenterBenar bahwa di lokasi shooting, apa saja bisa terjadi. Yang paling penting adalah bagaimana agar produser setiap saat bisa mengantisipasi segala kondisi, sampai kondisi ekstrim sekalipun. Apa yang harus dilakukan oleh produser? Ya persiapan yang matang, persiapan dilakukan jauh sebelum pergi ke lapangan. Hasil riset di lapangan sebelumnya baiknya dievaluasi dulu, dibuat check list segala kebutuhan yang diperlukan. Pakailah orang lokal sebagai mitra kerja produser, tidak hanya sebagai porter tapi kru lokal bisa diajak kerjasma sebagai mediator produser dan juga sutradara dengan lingkungan dimana dokumenter itu dibuat. Selalu berkomunikasi dengan sutradara, jangan sampai ada mis antara produser dengan sutradara. Diskusi baiknya dilakukan, pada saat sebelum shooting dan pada saat setelah shooting, untuk evaluasi.

Saat Paska Produksi

Ketika shooting selesai bukan berarti pekerjaan selesai,jadi produser memang repot. Proses selanjutnya sudah menanti yakni paska produksi. Produser biasanya sudah memilih editor ketika shooting belum dimulai. Ribuan shot yang tercerai berai harus diurai menjadi satu kesatuan cerita oleh editor atau penyunting gambar. Sebelum melakukan penyuntingan gambar, editor akan memaparkan konsep editing pada produser dan sutradara. Kalau sutradara mempunyai treatment atau shooting script sebagai panduan di lapangan, maka editor harus memiliki post-script sebagai panduannya, editor membuat paper edit yang dijabarkan pada sutradara dan produser. Produser dokumenter selalu memantau pekerjaan editor, memantau di sini bukan berarti intervensi, karena editor sudah tau apa yang akan dan harus dikerjakan. Produser memberikan target kapan rough cut harus selesai, dan ini tentu saja didiskusikan dan disepakati bersama dengan editor sebelumnya. Dalam presentasi pada klien, produser bisa melibatkan editor untuk mendengarkan masukan dari klien. Pada kenyataanya tidak jarang pula editor memberikan masukan pada produser dan sutradara.

Produser dokumenter memiliki tanggung jawab atas sukses tidaknya sebuah produksi dokumenter, kegagalan karya film dokumenter berarti kegagalan seorang produser dokumenter. Tulisan ini saya dedikasikan buat Agis Susanti yang sedang membuat karya dokumenter. Gis, saya masih ada 2 janji lagi ya? Hemmm sabar ya….

Halaman Berikutnya »