buku cameraman

Cover Depan

cover back

Cover Belakang

Teknologi broadcasting televisi nampaknya akan terus berkembang,
era digital telah merubah segalanya. Dengan kemajuan teknologi
kini memungkinkan hampir semua kamera memiliki kontrol otomatis,
maka siapapun yang menggunakan kamera video akan sangat mudah
untuk mengoperasikannya. Jadi mengapa seorang calon cameraman
harus memiliki pengetahuan tehnik kamera ?

Secara garis besar di dalam buku ini dibahas dalam dua bahasan
pokok masalah, yakni teknis dan philosofis. Pengetahuan teknis
merupakan bagian dari pengetahuan operasional yang harus
dimiliki oleh seorang calon cameraman. Pengetahuan operasional
akan berkaitan dengan bagaimana menggunakan kamera
dengan segala fasilitas yang tersedia pada kamera tersebut.

How To Become A Cameraman telah dijadikan text book di beberapa kampus yang memiliki jurusan penyiaran televisi atau broadcasting. Buku ini merupakan panduan terlengkap bagi para calon camera person baik di industri penyiaran televisi maupun production house di Indonesia.

Penerbit : Motion Publishing
ISBN : 978-602-95630-0-3
Halaman : 235
Harga Buku Rp.50.000

Pemesanan Langsung :
081318178860
info@katabergerak.com


Menakar Rating, Mengukur Pemirsa TV

Oleh Diki Umbara

Bagi sebagian pekerja televisi jantungnya akan berdebar-debar ketika laporan rating televisi mereka baru terima yang biasanya diberikan oleh tim programming televisi kepada eksekutif produser, produser, serta asistennya.  Betapa tidak, angka-angka yang sebetulnya takterlalu  rumit karena ia tidak  lebih dari dua digit itu menjadi sangat penting. Bahkan angka nol koma akan menjadi pembahasan, baik menyenangkan atau kebalikannya. Begitulah rating dan share tak jarang menjadi momok menakutkan buat para produser dan tim kreatif.

 tv

Karenanya berbagai cara dilakukan oleh televisi agar acarannya mendapat rating yang tinggi? Dengan rating bagus berarti acara akan dengan mudah mendapat iklan dari para agency, banyak iklan berarti pundi-pundi uang siap menanti. Begitulah rating dan share televisi sampai saat ini masih menjadi satu-satunya tolak ukur untuk melihat seberapa banyak kecenderungan penonton untuk melihat acara terntentu.

Tak seperti halnya media cetak atau internet, televisi memiliki potensial viewer yang lebih besar. Hampir tak ada biaya yang dikeluarkan seseorang untuk menonton televisi. Maka masyarakat penonton televisi Indonesia cenderung memilih mengonsumsi media televisi, dibanding media lainnya. Penduduk Indonesia yang dua ratus juta lebih dengan jumlah penduduk di daerah yang terjangkau siaran televisi mencapai 175.296. Angka ini tentu menjadi lahan bagus bagi produsen untuk mempromosikan produknya melaui televisi.

Menakar Rating, Dulu Hingga Sekarang

Di Amerika, aplikasi audimeter mulai digunakan di televisi pada tahun 1950-an. Sebuah perangkat disambungkan ke setiap televisi di beberapa rumah dan keluarga yang menempati rumah itu diminta untuk membuka audimeter di akhir pekan dan mengirimkan hasilnya ke Nielsen untuk dianalisis. Keluarga yang menjadi responden diberi insentif 50 sen setiap minggunya. Data dari audimeter TV memberikan dua hasil: Nielsen Television Index (NTI) dan Nielsen Station Index (NSI). Kelemahan dari metode ini adalah kurangnya data demografis. Sebab, audimeter hanya bisa bisa menjelaskan stasiun apa yang didengarkan, bukan siapa yang mendengarkan.

Kelemahan ini lalu diisi oleh American Research Bureau atau Arbitron yang menggunakan teknik pengumpulan data demografis berupa diary. Responden diminta untuk merekam aktivitas menonton TV dan mengirimkannya kembali ke Arbitron jika diary selesai diisi. Menghadapi ini, Nielsen terus menciptakan inovasi. Mulai dari menghentikan layanan survey rating radio karena terlalu boros dana, hingga menciptakan storage instantaneous audimeter (SIA) yang mengirimkan informasi melalui jaringan telepon langsung ke komputer Nielsen. Teknologi SIA memungkinkan pihak Nielsen mempublikasi rating sehari setelah program ditayangkan.

Di Indonesia, penyelenggaraan survai rating televisi di tanah air dirintis oleh Survai Research Indonesia (SRI) sejak 1990. Pada tahun 1994, AC Nielsen perusahaan riset pemasaran terkemuka asal Amerika Serikat—mengakuisisi SRI, sehingga namanya berubah menjadi AC Nielsen-SRI. Selanjutnya beberapa kali perusahaan ini berganti nama. Awalnya, AC Nielsen Media International, kemudian Nielsen Media Research

Secara internasional, NMR adalah bagian dari grup perusahaan VNU Media Measurement & Information. Terakhir pada tahun 2004, membentuk join venture dengan AGB, penyelenggara survei kepemirsaan terbesar nomor dua di dunia, sehingga namanya berubah menjadi AGB Nielsen Media Research. Melalui bendera AGB Nielsen Media Research, wilayah surveinya mencakup di 30 negara

Di Amerika, Nielsen Media Research menggambarkan dua tipe berbeda dalam mengambil sampel saat ingin mengukur aktivitas menonton TV di Amerika Serikat.Pertama, NTI yang didesain untuk merepresentasikan populasi di sebuah daerah. Hasil datanya bertaraf nasional. Sebagai sampel, Nielsen mula-mula memilih acak lebih dari 6000 area di suatu negara, biasanya berpusat pada area urban, lalu mensensus seluruh rumah tangga yang ada di area itu. Setelah itu, 5000 rumah tangga dari seluruh populasi diambil lagi secara acak. Setiap keluarga dihubungi, dan jika mereka bersedia untuk menjadi responden, Nielsen akan memasang People meter.

People Meter 1People Meter yang dipasang di responden

People Meter3

Skema pengiriman data dari responden ke pusat perhitungan rating

Prosedur yang hampir sama di Indonesia juga dilakukan oleh AGB Nielsen yang saat ini wilayah suirveinya mencakup 10 kota besar, yaitu Jakarta, Surabaya, Medan, Semarang, Bandung, Makassar, Yogyakarta, Palembang, Denpasar, dan Banjarmasin. Tingkat penyebaran panel (satu set perangkat pencatatan rating pada televisi rseponden) didasarkan pada survei awal atau Establishment Survey (ES) di 10 kota tersebut untuk menetapkan dan mengidentifikasi profil demografi penonton TV. Dari ES, akan didapatkan jumlah rumah tangga (berusia 5 tahun ke atas) yang memiliki TV yang berfungsi dengan baik atau disebut populasi TV. Penyebaran sampel tidak sama di setiap kota, yaitu Jakarta 55 persen, Surabaya 20 persen, Bandung 5 persen, Yogyakarta 5 persen, Medan 4 persen, Semarang 3 persen, Palembang 3 persen, Makassar 2 persen, Denpasar 2 persen, dan Banjarmasin 1 persen. Angka ini proporsional berdasarkan populasi kepemilikan televsisi di tiap-tiap kota itu. Kepemilikan televisi di Jakarta, misalnya, 55 persen terhadap total 10 kota, maka jumlah sampelnya 55 persen.

Angka rating televisi dihitung dengan rumus sederhana:

Rating   =   Jumlah Penonton Suatu Program

                   —————————————————  X 100 %

                   Jumlah Universe

Sedangkan

Share   =       Jumlah Penonton Suatu Program

                  ———————————————————  X 100 %

                 Total Penonton TV Disaat Bersamaan

Contoh jumlah universe di Jakarta teradapat 3 televisi. Misalnya akan dihitung rating dan share masing-masing televisi tersebut pada pukul 9 sampai pukul 10 malam dimana misalnya TV A ditonton oleh 5 juta orang, TV B 4 juta orang, TV C 2 juta orang. Maka seluruh jumlah pemirsa adalah 11 juta orang. Dengan rumus tadi rating TV A adalah 25% dengan perhitungan: 5 juta dibagi 20 juta dikali 100%. Sedangkan share untuk TV A: 5 juta dibagi  dibagi 11 juta dikali 100 % yakni 45%. Demikian juga dengan TV B dan C, tinggal memasukan rumus di atas tadi.

Pengambilan Data Kepermirsaan Televisi

Pesawat televisi dan perlatan yang terhubung akan dipantau secara elektronik oleh sistim people meter. Masing-masing anggota rumah tangga diberikan sebuah tombol khusus pada handset people meter, misalnya tombol 1 untuk ayah, tombol 2 untuk ibu, tombol 3 untuk anak. Anggota rumah tangga diminta untuk menekan tombol handset pada saat menonton televisi dan menekan kembali ketika selesai menonton.

Pengambilan data dilakukan melalui dua sistim yakni offline dan online. Pada sistem online data diambil setiap malam melalui  siteim telpon yang diset secara otomatis dan dihubungkan dengan sistim pengolahan data sentral di AGB Nielsen Media Research. Sitem penarikan data harian atau daily rating di Jakara, Bandung, dan Surabaya. Sedangkan untuk data offline di kota lainnya akan didatangi petugas Liaison Officer untuk mengganti modul atau alat perekam data.

Membaca Rating

Lalu bagaimana data rating televisi bisa menjadi “kebijakan” para programmer televisi? Data rating yang dibeli dari AGB Nielsen bisa ditelaah dengan mudah oleh bagian departemen programming televisi, pun leh production house atau agency. Data berupa grafik dan angka suatu acara di televisi A bisa dikomparasi dengan acara di televisi B di waktu yang sama. Program acara juga bisa dilihat minutes by minute, sehingga bisa terbaca pada menit ke berapa acara ditonton banyak orang dan kapan mulai ada penurunan.  Jadi selain head to head dengan program lain, data rating acara televisi juga bisa dilihat secara detail bagaimana trend pemirsa menonton acara tersebut.

Inilah yang nantinya diolah sehingga pada akhirnya menjadi “kebijakan” programing, misalnya apakah acara itu akan terus dilanjutkan, dihentikan, atau “direvisi” sana-sini. Data rating yang telah diolah tadi lantas didistribusikan pada para produser dan tim kreatif. Maka seperti penjelasan di atas, angka nol koma sekian saja menjadi sangat penting untuk mereka.

Rating Televisi vs Kualitas Acara

Ini sudah lumayan lama diperdebatkan, nyatanya rating televisi tidak berbanding lurus dengan kualitas acara tv. Sebagian masyarakat menginginkan ada semacam lembaga yang justru bisa mengukur kualitas acara televisi, dengan demikian akan menjadi salah satu panduan bagi penonton untuk melihat acara televisi yang baik. Parameter serta bagaimana metode penilainya tentu saja bisa dirumuskan. Jika pada rating televisi merupakan metode kuantitatif maka untuk menilai bagus tidaknya program televisi tentu mesti menggunakan metode kualitatif.

Institut Kesenian Jakarta sebetulnya pernah melakukan semacam mengukur rating televisi dengan metode ini dan hasilnya memang jauh dengan rating yang dikeluarkan oleh AGB Nielsen. Namun demikian hal ini tidak bisa dilakukan secara berkala karena terkait dengan berbagai hal dan yang paling utama masalah pendanaan. Sebuah riset pasti memerlukan dana, dan riset nirlaba harus didukung oleh pendanaan yang banyak serta bisa secara simultan. Inilah salah satu problem besarnya.

Lantas bagaimana ke depannya? Mesti ada terobosan, bagaimana mengukur kecenderungan penonton televisi dengan tak bergantung pada salah satu lembaga rating saja. Belum lama Komisi Penyiaran Indonesia sudah melakukan seminar perihal rating, namun rasanya belum ada solusi yang mumpuni dalam waktu dekat agar persoalan kualitas acara televisi dan bagaimana cara menakar dan mengukur dengan ideal.

Studio Televisi, Kamera Apa yang Digunakan?
Oleh Diki Umbara

Kadang ada pertanyaan seperti judul di atas. Padahal jawabannya tentu saja simpel, ya kamera studio. Pertanyaan lugu dengan jawaban yang seolah lugu juga. Tak ada yang salah dari pertanyaan tersebut juga tak ada yang salah dengan jawaban di atas. Namun akan jadi soal ketika memang saat ini tak sedikit kamera yang sebetulnya bukan diperuntukan di studio tapi digunakan di studio, bahkan di stasiun televisi besar sekalipun.

Banyak sekali jenis kamera yang didesain serta diciptakan oleh para vendor atau produsen. Jenis-jenis ini diklasifikasikan untuk kebutuhan yang berbeda-beda, walaupun fungsi utamanya tentu saja sama yakni untuk mengambil gambar dan atau suara. Berdasarkan pada penggunaannya, jenis kamera dapat dibagi menjadi 3 kategori yaitu ENG (Electronic News Gathering), EFP (Electronic Field Production) dan Kamera Studio.

cam studio

ENG (Electronic News Gathering)

Kamera ENG adalah kamera yang digunakan untuk meliput sebuah peristiwa, kejadian ataupun sebuah berita. Ciri-ciri dari kamera ini adalah bentuknya yang portabel artinya mudah dibawa kemana-mana, dilengkapi dengan shake reduction (peredam getaran atau goncangan) serta dilengkapi dengan baterai dengan daya tahan yang cukup lama.

EFP (Elektronik Field Production)

Kamera EFP adalah kamera yang digunakan untuk produksi non berita. Kamera ini biasanya digunakan untuk produksi drama, sinetron, program nondrama dan lain-lain. Ciri-ciri dari kamera ini adalah dilengkapi dengan aksesoris seperti tripod, crane atau jimmy jib dan kadang dilengkapi juga dengan zoom servo (remote pengatur perbesaran gambar), view finder dan juga intercom.

Kamera Studio

Kamera Studio adalah kamera yang digunakan untuk produksi-produksi didalam studio televisi. Ciri-ciri kamera ini dapat dilihat dari ukurannya yang besar dan berat. Ukuran yang besar serta beban yang berat dari kamera ini dimaksudkan agar ketika mengambil gambar hasil yang didapat benar-benar still (tenang) dan smooth atau halus. Selain itu kamera ini juga dilengkapi dengan zoom servo, pedestal (fungsinya seperti tripod), view finder dan intercom yang memungkinkan PD atau Program Director untuk men-direct kamerawan.

cam4

Lensa Kamera

Salah satu yang membedakan dari ketiga jenis kamera juga ada pada lensa yang digunakan. Lensa sebagai bagian penting dari kamera nyatanya juga akan berpengaruh pada acara jenis apa yang akan dibuat oleh televisi. Lensa untuk liputan bola berbeda dengan misalnya lensa yang digunakan untuk liputan berita. Maka jenis kamera yang dipakai akan menggunakan jenis lensa yang berbeda pula.

cam2 pedestal

1. Lensa Studio

Sebuah lensa yang terdapat pada body kamera dimana di dalam lensa ini sudah terdapat kontrol fokus dan zoom serta sensor kendali untuk kontrol ekternal.

2. Lensa EFP dan ENG

Sebuah lensa yang terdapat pada kamera dimana kontrol zoom dan fokus terpadat atau menempel pada badan lensa.
Lensa ini memungkinkan pengambilan gambar dengan sistem makro atau ekstrim close up (pengambilan obyek jarak dekat atau benda-benda kecil).

Studio Camera Mounts

Dalam proses kerja studio kamera dipasang pada sebuah alat yang disebut pedestal. Pedestal adalah dudukan kamera yang dilengkapi dengan tiga buah dolly atau roda, yang mampu digerakan oleh kameraman dengan halus dan tanpa getaran. Ketiga roda atau kemudi di bagian bawah menjadi alas tumpuan sehingga pedestal dapat diputar menggunakan itu lingkaran kemudi. Kamera dihubungakan langsung dengan kepala dudukan sehingga kamera dapat melakukan gerakan berputar secara horisontal (pan) serta dapat merubah sudut penggambilan gambar dari low angle ke high angle (tilt). Kita dapat merubah hal tersebut secara halus dan dapat pula dikunci apabia kita sudah menemukan komposisi gambar yang kita inginkan.

Ukuran kamera studio berkurun besar dan mempunyai berat sekitar 45 kilogram namun dengan bantuan internal counter-weights kameraman dapat dengan mudah menaikan atau menurunkan kamera selama telescopic ring-nya tidak terkunci.

Alat Tambahan Pada Kamera Studio

Shot Boxes
Pada penggunaan kamera studio sering kita menggunakan beberapa ukuran gambar yang selalu dipakai dalam produksi. Salah satu contohnya adalah wide shot, two shot, dan one shot sering digunakan pada acara berita. Shot Boxes adalah sebuat perangkat elektronik yang dipasang pada kamera studio yang mampu mengingat ukuran zoom lensa lengkap dengan ukuran shutter dan fokus. Kameraman dapat mengatur semua dengan hanya menekan satu tombol. Dengan perangkat ini proses kerja akan semakin efektif dan efisien.

Absurditas

Begitulah semestinya kamera, ia diperlakukan sesuai fungsi dan kegunaanya. Sama seperti halnya mobil, truk difungsikan untuk mengangkut barang sedang sedan untuk mengankut orang. Namun di negeri tercinta ini tak jarang kita melihat mobil truk yang digunakan untuk mengangkut orang.

cam5 efp

cam7 eng

Pun dengan kamera televisi, tak jarang stasiun televisi menggunakan kamera EFP bahkan kamera ENG untuk keperluan shooting di studio. Kenapa ini bisa terjadi? Bukankah itu artinya menyalahi fungsi dan kegunaanya tadi? Disinyalir yang menjadi biang ini semua ialah perihal budget. Kamera studio dengan berbagai fitur lengkap itu harganya jauh lebih mahal tinimbang kamera EFP dan kamera ENG. Maka, kamera EFP yang semestinya diperuntukkan dalam produksi sinetron atau kamera ENG untuk peliputan berita di lapangan, dipaksa difungsikan dalam pembuatan acara televisi di studio. Hasilnya tentu saja kurang maksimal. Selain itu akan menjadi pekerjaan tersendiri untuk para operator kamera itu sendiri. Tak semua kamera EFP bisa dikoneksikan dengan CCU atau Camera Control Unit apalagi kamera ENG, artinya untuk menyamaratakan pencahayaan tidak bisa dikontrol dalam satu alat. Jadi masing-masing operator kamera harus mengadjust fungsi iris serta color temperature untuk white balancenya.

TV Nasional, TV Lokal, TV Komunitas atau TV Kampus

Seperti diulas di atas bahwa nyatanya bahkan televisi beberapa telelevisi nasionalpun ”hanya” menggunakan kamera EFP untuk kebutuhan studio, namun sebagian besar memang telah menggunakan kamera studio. Sedangkan televisi lokal hampir dipastikan tidak benar-benar menggunakan kamera studio. Sebagian besan bahkan menggunakan kamera ENG, kamera untuk liputan berita yang dipaksakan untuk keperluan acara televisi di studio.

canon

Lantas bagaimana dengan televisi komunitas. Nah ini lebih unik lagi, televisi komunitas ada yang menggunakan kamera ENG untuk studio dan bahkan ada yang menggunakan kamera model compact seperti handycam. Demikian juga dengan televisi yang basisnya web. Alinea TV yang tayang streaming di internet menggunakan kamera handycam untuk acara live dialog pun liputan di lapangan.

TV Kampus tak beda jauh dengan televisi komunitas. Kamera yang digunakan biasanya tergantung dari budget yang dialokasikan kampus. Sebagian tv kampus biasanya merupakan bagian dari studio yang digunakan untuk latihan dalam perkuliahan broadcasting televisi. Kamera yang digunakan merupakan kamera ENG.

Era Televisi Digital, Kamera Digital

Puluhan tahun teknologi televisi menggunakan teknologi analog, pesatnya teknologi pada abad 21 telah mengubah segalanya, teknologi analog lambat laun tergantikan oleh teknologi digital. Salah satu kelemahan dari teknlogi analog adalah terbatasnya frekuensi yang tersedia. Begitu pula dengan kualitas gambar yang dihasilkan, teknologi digital memiliki kelebihan yang jauh disbanding teknologi analog. Teknologi televisi digital sudah dimulai sejak tahun 2003 yang dipelopori oleh negara yang memiliki perkembangan teknologi pesat, Jerman.

canon xf305

Dengan kamera digital, permasalahan kategorisasi kamera berdasarkan peruntukan diatas agak tereliminir. Karena misalnya koalitas kamera ENG banyak yang setara dengan kamera EFP. Saking miripnya bahkan secara hasil bisa jadi tak begitu tampak perbedaan yang mencolok. Kamera untuk acara World Cup 2010 kemarin sebagai contoh, acara bola yang biasanya menggunakan kamera Studio, saat itu menggunakan kamera EFP alias kamera untuk kepentingan produksi drama. Karenanya Canon XF 305 sebagai kamera EFP mendapat banyak pujian karena output yang diterima para pemirsa sangat bagus.

camera studio

Namun hemat penulis, mestinya penggunaan kamera itu ideal dengan fungsi dan kegunaanya terkecuali kelak produsen kamera tak lagi memilah jenis kamera berdasar jenis produksi yang dihasilkan.

Studio Televisi, Kamera Apa yang Digunakan?

Extras Talent, (Profesi) Menggiurkan
Diki Umbara

Ektras Talen atau Talent Extras ialah seorang aktor yang bermain menjadi latar baik di film, acara televisi, atau drama panggung. Mereka muncul biasanya tanpa dialog. Pada film kolosal extras talent akan sangat banyak sekali.

Di film perang akan ada ratusan bahkan ribuan pemain sebagai extras. Di Hollywood, extras talent digarap dengan sangat serius. Demikian juga dengan industri film India, Bollywood. Lalu bagaimana eksistensi mereka di Indonesia?

K

riteria untuk extras talen ini tentu saja macam-macam karena sangat tergantung dari film atau acara televisi itu sendiri. Baik di luar negeri atau di Indonesia, extras talent biasanya “disediakan” oleh agency untuk memenuhi kebutuhan dari production house atau stasiun televisi. Agency yang baik biasanya mereka akan dengan cekatan menyediakan extras sesuai dengan kriteria yang diinginkan kliennya. Namun demikian kebanyakan agency di kita nampaknya belum terlalu serius menangani ini, agak beda misalnya ketika PH atau televisi meminta talent utama dan supporting talent atau peran pendukung.

extras_www.colttalent.com

foto: colttalent.com

Masih Dianggap Sepele

Tanpa diberi  dialog dan hanya memerankan adegan kecil, karenanya sebagian besar yang menjadi extras talent hanya akan menganggap profesi ini sebagai batu loncatan atau malah sebagai pekerjaan sampingan. Sekilas tak ada yang salah dengan dua hal ini, namun nyatanya hal inilah yang menjadi salah satu problem kenapa profesi extras talent dianggap sebelah mata. Padahal di industri film Hollywood sana bahkan banyak orang yang tak ingin “naik pangkat” dari extras talent ke jenjang berikutnya misalnya menjadi supporting atau main talent.

Ini juga untuk jabatan first line dan scond line director, mereka tak menjadikan profesi asisten sutradara sebagai batu loncatan untuk menjadi sutradara. Dan alasannya ialah mereka sadar bahwa menjadi extras talent itu penting dan bukan pekerjaan batu loncatan apalagi pekerjaan sampingan. Itulah yang membedakan negara dimana industri televisi dan film yang sudah sangat maju dengan negara yang masih berkembang seperti Indonesia.

 ektras_tempo

foto: tempo.com

Talent Agency, Bagus vs Nakal

Tak seperti halnya aktor yang bisa “independen” tanpa harus melalui agency, nyaris tak ada extras talent yang bisa main film langsung dengan casting pada penyelia aktor. Karenanya extras talent biasanya ada pada naungan rumah agency. Karenanya extras talent memerlukan agency, tepatnya simbiosis mutualisme. Keduanya bisa berkerjasama saling menguntungkan.

LK

foto: dienan silmy  FTV “Ingatan yang Terkuak”

Namun carut marut penyelia pemain atau talent agency ini nampaknya masih mennjadi rahasia umum di kalangan insane film dan televisi. Kebanyakan talent agency tidak membuat kontrak dengan para extras talent, hanya atas dasar kepercayaanlah mereka bekerjasama. Perbedaan prosentase honor extras talent yang diambil talent agencypun berbeda-beda. Maka bisa jadi honor extras talent di talent agency A akan berberda jauh dengan yang didapat dari talent agency B. Tak hanya pada masalah honor, kejelasan skedul dimana extras talent bermainpun menjadi masalah tersendiri. Extras talent biasanya hanya tahu hari apa mereka bermain di sinetron atau film A tanpa tahu persis berapa scene mereka berakting. Namun tak semua talent agency demikian karena beberapa sudah melakukan fungsinya dengan rapi.

Masa Depan Extras Talent

Demikian extras talent sejatinya merupakan profesi yang bisa dijadikan mata pencaharian serius. Industri televisi dan perfilman kita sudah mulai bagus. Kabar baik ini semestinya diantisipasi oleh penyokong kebutuhan industria ini, termasuk oleh talent agency dimana di dalamnya terdapat ratusan bahkan ribuan extras talent. Saling percaya satu sama lain memang suatu keharusan, namun agar menjadi rapi baiknya dibuat kesepakatan tertulis hak dan kewajiban masing-masing pihak supaya kelak tak ada yang dirugikan.

Berdiri Melucu di Televisi
Diki Umbara

 

Standup comedy, dua tahun belakangan sangat popular di Indonesia. Terutama setelah salah satu genre komedi ini menjadi tayangan di dua televisi nasional, diawali oleh Kompas TV dan disusul Metro TV. Kenapa standup comedy banyak diminati pentonton kita? Ya karena standup comedy memang menghibur. 

Tentu saja acara ini sudah sangat terkenal nun jauh di sana, seperti di Amerika dan Eropa misalnya. Nyatanya acara serupa bisa kita temui di pelbagai daerah di Indonesia seperti Sumatera dan Papua. Di “Denias, Senandung di Atas Awan” sebuah film garapan Arie Sihasale ada satu scene yang diperankan Minuc C Karoba dimana seseorang melucu di depan teman-temannya seperti halnya acara standup comedy. 

“Untuk tayang di televisi, pas standup akan hati-hati pemilihan bahasa dan materi. Karena untuk tv tentu ada KPI (Komisi Penyiaran Indonesia), sangat dibatasi. Sebenarnya kita dibebaskan mau bawa SARA (Suku, Agama, Ras) terserah, tapi ketika editing yang berbau sara akan dibuang. Biasanya yang ngakalin bukan comic tapi stasiun televisinya. Di MetroTV sebelum taping dibriefing dulu, ngasih materi apa saja. Mana boleh mana tidak” demikian penuturan Dwika Putra seorang comic, sebutan untuk comedian standup comedy yang sempat jadi finalis Standup Comedy Indonesia.

standup2

gambar: Kompas TV

Begitulah tayangan televisi, ia tidak seperti acara off air. Harus patuh pada rambu-rambu yang telah dituangkan ke dalam Undang-Undang dan tentu saja hal normatif lainnya walaupun tidak tidak masuk ranah UU, karena tayangan televisi teresterial telah menggunakan ranah publik, ranah udara yang “dipinjam” stasiun televisi. Karenanya yang bekerja di tim kreatif harus berpikir keras bagaimana agar acara yang sukses di tonton secara off air, akan tetap menarik ditonton di televisi secara on air.

“Standup comedy itu punya pakem tersendiri, beda dengan jenis komedi lainnya. Di televisi komedi situasi atau sketsa, komedian yang mereka lakukan atau sampaikan sudah terskript. Mereka tinggal mengembangkan tekstur dan improvisasi. Di standup comedy seorang comic berlaku sebagai penulis naskah, actor, sutradara sekaligus” terang Andi Gunawan, seorang comic yang pernah menjadi tim kreatif di Standup Comedy Show MetroTV.

standup5

gambar: Andi Gunawan, MetroTV

Namun tampaknya televisi tak banyak mengubah format standup comedy versi off air untuk kepentingan on air. Kecuali masalah konten yang “tak laik siar” dan perihal durasi, dan ini semua bisa dilakukan di paska produksi. Biasanya editor akan dapat arahan dari produser perihal materi mana yang harus dibuang. Off material akan diedit sedemikian rupa sehingga menjadi broadcast material yang bisa layak siar.

Berawal dari Sosial Media

Tidak bisa dipungkiri bahwa standup comedy di Indonesia nyatanya populer karena jejaring sosial media, twitter khususnya. Standup comedy yang dilakukan di sebuah cafe Kemang diadakan setiap minggu mendapat respon postitif dengan promosi di jejaring sosial ini. Siapa saja boleh tampil untuk memeriahkan standup comedy, lantas open mic atau “panggung terbuka standup comedy” ini merambah ke kota-kota lain di Indonesia. Tak hanya di pulau Jawa, karena open mic kerap dilakukan juga di tempat lain seperti Kalimantan dan Sumatera. Selain dari jejaring sosial media, tentu saja pada akhirnya dari mulut ke  mulut acara ini menjadi semacam hiburan yang relatif baru jika dibanding acara hiburan komedi lainnya.

Selebritas Baru

Pada akhirnya acara yang ditayangkan di televisi, ia akan melahirkan para selebritas baru dan “jika beruntung” kelak akan menjadi public figure seperi halnya yang dilahirkan panggung hiburan lainnya. Menyusul Pandji dan Raditya Dika, nama-nama seperti Ernest Prakasa, Sam Darma Putra, Miund, Muhadkly Acho menjadi selebritas baru. Dengan ketenaran yang telah mereka miliki tentu saja menjadi modal untuk menghasilkan pundi-pundi uang dari profesi ini. Dan dampak dari seringnya mereka tampil di televisi, job off air akan mengalir.

standup1

gambar: Kompas TV

Menurut kabar, beberapa politisi sudah mengincar para selebritas baru ini untuk kepentingan kampanye politik. Jadi kalau dulu para artis menjadi incaran tim sukses politikus, kini para comic menjadi pilihan lain. Tentu tidak semua, karena beberapa comic ingin tetap netral tak mau menjadi bagian dari penyuara tim sukses pribadi atau parpol tertentu.

Bagaimana Agar Tetap Lucu?

Opini dari stand up comedian seringkali jadi punchline, menonjok. Seringkali comic setuju dan pemirsa setuju maka pemirsa akan tertawa. Kesetujuannya itu ketawa. Banyak faktor berhasilna sebuah joke. Materi politik gak akan berhasil tidak akan cocok pada anak-anak. Sebaiknya yang disampaikan yang diketahui oleh comic atau hal yg ingin diketahui. Comic harus observasi. Realita sosial, yang meresahkan, atau mungkin unik. Pada akhitnya sikap ini akan menjadi persona komic. Pemarah, kalem, menggebu-gebu atau masa bodoh.

george carlinfoto: George Carlin

Tidak ada nilai kelucuan absolut. Ini juga menjadi pekerjaan rumah sendiri untuk comic. Namun pada askhirnya setiap comic itu tematik. Tema akan bergantung point of view comic. Bisa jadi itu random, bisa jadi beda komic beda eksekusi. Tema tergantung pengembangan si komic. Bisa jadi bit panjang atau pendek. Bit pendek itu one line biasanya tak lebih dari tiga kalimat. Kalau diluaskan mungkin satu bit limabelas menit untk bahas tema yang sama.

Sampai Kapan Standup Comedy Bertahan?

Ini tak hanya menjadi kekhawatiran para comic tapi televisi itu sendiri. Bagaimana agar acara standup comedy tetap digemari publik dalam hal ini pemirsa. “Kalau ingin bertahan, kami harus beradaprasi dengan ide baru, gak monoton. Memadukan dengan bentuk lain yang di luar bentuk umum.” kata Andi Gunawan.

Pada akhirnya standup comedy  turunannya menjadi banyak. Ada grup dengan mengolah improve langsung di tempat dengan banyak penonton, permaninan properti, atau memadupadankan dengan musik. Di tv ada baik buruknya. Buruknya, kalau komic terbatas sementara energi tayangan. Dan yang tak kalah penting adalah kesempatan untuk latihan. Di sisi lain komik makin banyak, baik karena wadahnya ada untuk regenerasi.

Demikian juga dengan standup comedy di televisi, nyatanya tak semua acara standu up yang didesain untuk tayang di televisi bisa sukses. Acara Comic Action di Kompas TV misalnya, tidak bertahan lama. Artinya kemasan acara televisi untuk standup comedy juga harus menarik. Isi materi yang sama jika dikemas tidak baik itu juga akan berpengaruh pada acara secara keseluruhan. Oleh karenanya tim kreatif harus berpikir keras untuk membuat kemasan yang menarik.

Kesulitan dan Masa Depan Standup Comedy di Indonesia

Tak mudah untuk mempertahankan suatu hiburan baru untuk bisa eksis, baik untuk off air maupun on air. Sejumlah kesulitan itu misalnya: negara kita multi kultur. Otomatis banyak pebedaan, itu berat. Segmen komedi terbatas. Satu materi lucu di kalangan tertentu, dianggap sebagai yang gak di kalangan lain. Kesulitannya adalah inovasi agak sulit. Pada awalnya referensi terbatas. Atau banyak tapi dari barat. Belum tentu disesuaikan akan layak. Referensi bagus di sana, bagus di sana belum tentu di sini sama, kebahasaan beda. Mesti ada hal yang disesuai. Hal lain ialah pengembangan komunitas baik. Semakin banya sult dijangkau. Mereka beriusaha tumbuh sendiri. Mereka akan memanfaatkan youtube dan buku. Saat mereka mencoba mempelajri otodidak tanpa bimbingan maka itu akan berpotensi multitafsir. Akan salah kaprah, agak sulit dicegah.

standup6

gambar: Sosishot Project

Sebetulnya permintaan standup comedy di daerah itu banyak. Jadi akan ada audience baru. Karenanya materi yang satu bisa di bawa ke daerah ke daerah lain. Pertunjukan digelar pasang tiket tidak jarang yang murah, memang layak dihargai karena proses kreatif panjang dan melelahkan, kata Andi Gunawan.

Di akhir perbincangan, Dwika  Putra menambahkan, mau dibuat sok kreatif tentu harus ada gimmick terserah kreatif. Ini komedi baru. Komedi fisik yang turun temurun. Ini suatu baru, mungkin ada semacam culture shock. Di ujung akan jadi dilematis, apakah untuk menggrab atau mendapat penonton baru atau tetap penonton setia.

Hemat penulis, berdiri melucu baik yang ditayangkan di media televisi atau secara langsung di depan audiens tentu memerlukan kreatifitas yang tanpa batas. Inovasi diperlukan oleh para comic itu sendiri maupun para tim kreatif televisi. Apakah standup comedy akan menjadi hiburan musiman atau akan langgeng seperti halnya hiburan lainnya? Wallahu alam.

Kategori

Kicauan

SociaBuzz

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 83 pengikut lainnya.