Kompetisi film pendek dari Festival Goelali dan IDS!
Deadline 27 Mei 2011
Tapi info dasarnya:
1. Tema: Hideop Mas Ketjil
2. Durasi: Maks 10 menit termasuk kredits
3. Jenis film: apa saja kecuali iklan dan music-video clip!
4. Format pengumpulan: DVD file atau MiniDV
5. Format : MOV, MPEG2, AVI
Boleh mengirimkan film yang dibuat setelah tahun 2009.
Menangkan hadiah-hadiah menarik dan para film pemenang akan ditayangkan di Kanada dan Australia.
Kirimkan film kalian ke:
Jl. Panglima Polim X no. 16
Jakarta Selatan
12160
Berawal dari sebuah pemikiran pada ketersediaan buku-buku mengenai dunia broadcasting yang tidak sebanding dengan perkembangan dunia pendidikan, penulis tergugah untuk membagi pengetahuan dan pengalaman yang telah penulis peroleh selama menjadi praktisi maupun setelah menjadi pengajar di bidang broadcasting. Sebuah ironi bahwa para mahasiswa dan siswa susah untuk menemukan buku-buku yang dipakai sebagai literatur maupun sebagai landasan penulisan ilmiah. Semua buku yang ada kebanyakan masih berbahasa Inggris dengan kemampuan berbahasa Inggris yang berbeda-beda pemahaman tentang pengetahuan tentang dunia broadcast ditangkap dalam kondisi yang kurang sempurna.
Buku hanyalah buku, ilmu hanyalah ilmu itu juga yang menyebabkan dunia broadcast kita semakin tidak jelas. Beragam “kiblat” baik yang Eropa, Jepang dan Amerika menjadikan bahasa, sistem dan model pertelevisian kita beragam. Ditambah lagi mindset para broadcaster dan calon broadcaster yang selalu berfikiran bahwa pengalaman lapangan adalah yang terpenting. Sebuah pengalaman akan lebih baik jika dilandasi dengan sebuah pendidikan yang menjadikan semuanya lebih tersistem, berjalan dengan efektif serta memperkecil resiko yang terjadi di lapangan. Sebuah perhatian kita bersama para broadcaster dan para pengajar untuk memperbaiki dan menjadikan broadcasting kita menjadi semakin Indonesia.
Teknologi broadcasting televisi nampaknya akan terus berkembang, era digital telah merubah segalanya. Dengan kemajuan teknologi kini memungkinkan hampir semua kamera memiliki kontrol otomatis, maka siapapun yang menggunakan kamera video akan sangat mudah untuk mengoperasikannya. Jadi mengapa seorang calon cameraman harus memiliki pengetahuan tehnik kamera ?
Ada beberapa alasan mendasar mengapa anda harus mempelajari ”Teori dan Tehnik Kamera” :
Pengetahuan Operasional
Artistik
Kualitas Gambar
Koordinasi
Secara garis besar di dalam buku ini dibahas dalam dua bahasan pokok masalah, yakni teknis dan philosofis. Pengetahuan teknis merupakan bagian dari pengetahuan operasional yang harus dimiliki oleh seorang calon cameraman. Pengetahuan operasional akan berkaitan dengan bagaimana menggunakan kamera dengan segala fasilitas yang tersedia pada kamera tersebut.
Tidak seperti halnya pengetahuan operasional, pemahaman philosopis seorang cameraman dituntut agar bisa menghasilkan gambar yang baik, yakni yang bisa menyampaikan pesan atau gagasan yang ingin disampaikan pada para penonton. Gambar tersebut tidak hanya berurusan dengan teknis mekanis dan artistis saja, karena apapun yang ditampilkan di layar televisi atau bioskop akan selalu dimaknai penonton. Dengan demikian ada juga bahasan semiotika film dan televisi. Penata kamera dan teknis kamera tidak berdiri sendiri, ini merupakan bagian dari sebuah produksi acara televisi maupun film. Maka di dalam buku ini dibahas mengenai proses produksi acara televisi dibuat satu dalam Bab tersendiri.
Tata cahaya sebagai bagian penting dalam produksi juga dibahas dalam bab tersendiri. Selain alasan ini, seorang penata kamera juga harus memahami tata cahaya. Tentang tata cahaya dibahas pada Bab Cahaya dan Pencahayaan. Demikian juga dengan tata suara, seorang penata kamera harus memahami tentang tata suara/audio baik secara teknis maupun teoritis. Maka bahasan tentang tata suara juga dibahas dalam Bab tersendiri. Pada Bab akhir di buku ini diberikan suplemen Tips & Triks yakni kiat-kiat menjadi penata kamera menurut para praktisi kamera.
In film, a shot is a continuous strip of motion picture film, created of a series of frames, that runs for an uninterrupted period of time. Shots are generally filmed with a single camera and can be of any duration. A shot in production, defined by the beginning and end of a capturing process, is equivalent to a clip in editing, defined as the continuous footage between two edits. (wikipedia)
Banyak yang bertanya, kenapa film fiksimini “Berpisah” dari karya fiksimini Acha Chan hanya dibuat dengan satu shot. Kenapa satu shot? Inilah salah satu konsep pembuatan film. Tentang pengertian shot, penjelasan wikipedia di atas cukup jelas. Jadi, yang dinamakan satu shot itu pengambilan satu gambar secara kontinyu tanpa ada interupsi cutting, tanpa ada jeda. Ini merupakan metode awal mula sejarah pembuatan film dimana tehnik editing belum ditemukan.
Tapi ternyata konsep ini menjadi salah satu trend. Tentu saja untuk pembuatan film panjang, sequence shot, atau satu shot ada dalam satu rangkaian adegan cerita. Beberapa video klip menggunakan konsep ini. Bahkan para filmmaker dunia pernah membuat film dengan hanya satu shot saja.
Dalam film “Zerkalo” sutradara Andrei Tarkovsky asal Russia, membuat eksperimen satu shot. Dua anak kecil sehabis makan keluar meninggalkan ruangan meninggalkan meja makan. Botol di atas meja makan terjatuh. Gambar bergerak melewati cermin yang memantulkan gambar dua anak tersebut bediri di depan pintu. Dari ruang berbeda satu anak ke luar menuju halaman belakang. Terlihat seorang perempuan dan laki-laki berdiri melihat gubuk yang terbakar diiringi hujan. Sang anak mendekat untuk ikut melihat kebakaran gubuk tersebut. Dan ini hanya satu shot tanpa terputus. Silakan lihat video ini :
Juga silahkan tonton yang ini :
Bagaimana film di atas bisa terlihat dengan sempurna, pasti perlu persiapan yang matang. Saya akan menceritakan pembuatan film satu shot yang dibuat oleh Fiksimini Film yaitu “Berpisah” dari karya fiksimini Acha Chan yang saya sutradarai. Silahkan lihat dulu film ini
‘Berpisah’ adalah film dari cerita fiksimini yang saat itu temanya adalah ‘Klise’
@fiksimini: RT @meowingme: BERPISAH Api pelan-pelan membakar tumpukan klise itu. Di sudut ruangan, sebuah foto tua terisak.
Kalimat yang sekilas sederhana; ada klise yang terbakar di suatu ruangan. Yang menarik adalah kalimat yang kedua, apa yang membuat sebuah foto bisa menangis? Unsur mistis! Nah, untuk mendukung suasana mistis itulah maka dipakai konsep pembuatan film dengan satu shot. Penonton diajak untuk mencari dari mana asal suara tangisan yang ternyata berasal dari sebuah foto.
Tim artistik berperan sangat penting untuk menghidupkan suasana mistis yang diinginkan. Untuk tempat dipilih sebuah ruangan yang diubah menjadi gudang. Ada meja tua di samping jendela dengan barang-barang yang bermakna simbolis di sekitarnya. Lilin, jam klasik, buku, majalah, patung garuda wisnu kencana, topeng, boneka usang di atas bantal dan koran dengan headline; “Penculikan Bayi Makin Meningkat”. Dan yang paling utama adalah klise dan foto.
Dalam film nampak shot dimulai dengan angin yang bertiup kencang mengibaskan tirai dan membuat lilin yang menyala terjatuh lalu membakar klise. Kamera lalu bergerak seakan mencari asal suara tangisan yang berasal dari foto. Untuk lebih dramatis foto dibuat menangis darah. Selain karena ‘air mata’ biasa tidak tampak jelas, ‘tangisan darah’ menyimbolkan kesedihan yang teramat dalam. Foto dibuat khusus untuk film ini, menampilkan sosok perempuan dengan ekspresi ‘misterius’.
Apakah adegan di film ini alami? Tentu saja tidak! Angin yang bertiup berasal dari blower yang dioperasikan oleh kru yang bersiap di balik jendela. Untuk menjatuhkan lilin, angin saja tidak cukup. Maka lilin dililit benang dengan rapi dan kru menariknya di balik jendela. Untuk membakar klise, dengan api lilin saja tentu membutuhkan waktu lama. Maka klise sebelumnya disiram dengan minyak Zippo. Nah, saat kamera bergerak ke arah foto ada kru yang bertugas segera memadamkan api agar seluruh properti tidak habis terbakar. Dari mana asal ‘tangisan darah’? Ada dua orang kru yang sekuat tenaga meniup dua selang yang dihubungkan ke kedua mata di foto tersebut. Cairan darah dibuat dari campuran susu yang diberi pewarna tekstil merah. Agar ‘cairan darah’ mudah mengalir sebelum menyuntikan campuran susu terlebih dahulu disuntikan Altis, sejenis cairan antiseptic yang berfungsi untuk pelumas. Setelah itu kedua orang kru meniup selang kuat-kuat. Butuh kerja keras untuk meniupnya karena selang berukuran kecil dengan panjang 2,5 m. Terbayang kan bagaimana ekspresi kru saat meniupnya?
Tentu saja, untuk mendapatkan satu shot yang diinginkan tersebut dibutuhkan kekompakan tim. Selain sutradara dan cameraman, ada 5 orang kru yang bekerja saat pengambilan gambar. Perlu 8 kali take sampai akhirnya sutradara berteriak ‘Cut! And wrap!’ alias bungkuuusss! Pengulangan yang membuat kami perlu mengganti klise 4 kali dan foto 2 lembar. Ternyata repot ya membuat satu shot saja. Tapi ini repot yang menyenangkan. Tidak percaya?! Silakan mencoba!