Program Director Berita Televisi, Bagaimana Ia Bekerja?
Oleh Diki Umbara

Ada pelbagai format acara televisi saat ini tayang, baik yang disiarkan secara langsung maupun tidak. Dan di balik itu semua ada puluhan bahkan ratusan orang yang bekerja agar tayangan itu bisa terus berlangsung. Banyak tidaknya kru tentu saja tergantung dari seberapa besar program acara tersebut serta pada stasiun televisi mana acara televisi itu mengudara.

Di antara banyak kru di belakang layar itu salah satunya adalah program director. Beberapa stasiun televisi ada yang menyebutnya sebagai program director atau PD sedang di beberapa televisi lainnya menggunakan istilah pengarah acara. Pada dasarnya antara Program Director dengan Pengarah Acara tak ada bedanya, ia adalah orang yang bertanggung jawab serta memimpin acara sebuah program televisi baik siaran langsung/live atau siaran tunda/taping.

“10 Menit lagi S!” begitu pemberitahuan dari Master Control pada Sub Control bahwa acara akan dimulai 10 menit lagi. S yang dimaksud adalah sebutan untuk studio. Beberapa stasiun televisi memiliki SOP atau standar operasional termasuk di dalamnya tentang istilah dan singkatan yang mesti dimengeti oleh seluruh kru. Ketika waktu menjelang on air maka master control akan memastikan kembali apakah di sub control sudah benar-benar stand by. Count down terus bergulir hingga menjelang 10 detik sebelum siaran. Komunikasi dari master control pada sub control adalah dengan pengarah acara atau program director. Di sub control, program director sudah harus memastikan seluruh crew dengan tugas masing-masing sudah siap. Program director harus memastikan bahwa di studio semua sudah pada posisi masing-masing: setting, lighting, kamera, serta pengisi acara. Ketika semua sudah standby maka program director akan menginformasikan pada MCR bahwa acara sudah bisa dimulai.

Bekerja dengan Rundown

Program director, ia bertanggung jawab akan berlangsungnya acara, ia juga yang memimpin semua kru yang bertugas saat itu. Namun demikian program director tak sekadar mengarahkan acara. Yang menjadi pegangan program director ketika acara berlangsung ialah susunan acara atau rundown. Di dalam rundown sudah ada informasi detail tentang susunan acara serta waktu atau durasinya. Pada acara berita televisi rundown dibuat oleh produser yang telah ia usulkan pada saat rapat redaksi. Rundownlah yang menjadi acuan program director dari mulai acara pertama berlangsung hingga closing program. Namun pada berita televisi kerap rundown bisa berubah kapanpun, hal ini bisa karena berbagai alasan. Perubahan rundown akan diberitahukan segera oleh produser, misalnya karena ada berita yang baru saja masuk. Program director juga harus dengan cermat menghitung durasi, apakah durasi berlebih atau malah kurang. Setiap perubahan terjadi maka program director mesti memberitahukan pada kru yang ada di sub control, terutama pada operator play list dan prompter, karena rundown akan berkaitan juga pada kedua petugas tersebut.

800px-ATV_news_studio_control_room

Bekerja dengan Produser

Program director sebetulnya tak bertanggung jawab atas konten acara karena ia “hanya” menjalankan agar acara berlangsung seperti yang sudah tertulis pada rundown. Dan yang bertanggung jawab pada konten adalah produser. Bahkan ketika misalnya paket berita berlebih atau over durasi, program director hanya memberi tahu bahwa ada paket berita yang mesti didrop karena durasi berlebih. Tentang berita mana yang mesti didrop merupakan kewenangan produser. Walaupun bisa saja program director mengusulkan paket berita mana yang bisa diturunkan tersebut.
Produser merupakan partner program director, sebelum acara berita dimulai produser berdiskusi dulu dengan program director walapun kadang merupakan diskusi kecil saja. Koordinasi produser dengan program director ini penting agar saat acara berlangsung program director sudah tahu sampai hal yang sangat detail. Apalagi misalnya pada program berita tersebut ada siaran langsung dari lapangan. Program director harus memastikan koneksi dengan reporter di lapangan. Program director sudah harus terhubung dengan petugas electronic news gathering atau ENG.

Bukan Sekadar Pengarah

Program director pada prakteknya tak hanya bertugas mengarahkan acara, ia juga mengarahkan kru di dalam control room dan kru di studio. Pengisi acara, baik itu news caster atau news reader diarahkan juga oleh program director. Misalnya ke kamera mana ia mesti melihat atau apakah speed membaca yang terlalu cepat atau kebalikannya. Pada beberapa stasiun televisi, program director berita televisi dibantu oleh floor director atau pengarah lapangan namun sebagian televisi tidak menggunakan pengarah lapangan. Jadi segela pesan program director disampaikan langsung pada pengisi acara atau bisa juga melalui cameraman. Intinya pesan dari program director harus sampai pada pengisi acara tersebut.

Ada beberapa petugas di sub control yakni audioman, switcherman, CCU-man, play list/CG-man, prompterman, dan tentu saja produser. Walaupun pada dasarnya setiap petugas itu sudah tahu apa yang mesti dilakukan saat sebelum dan saat siaran, namun program director mesti mengarahkan agar program acara bisa berjalan dengan lancar.

Walaupun tidak wajib, baiknya program director menguasai juga bagaimana mengoperasikan berbagai alat yang ada di studio dan sub-control. Beberapa stasiun televisi utamanya stasiun televisi kecil bahkan program director bekerja multifungsi, ia mengoperasikan sendiri video switcher dan video play list. Beberapa alat terkini teknologi broadcasting televisi bahkan memungkinkan seorang program director menjadi pengarah acara, switcherman, audioman, play-list video, sendirian.

image009

Don’t Panic!

Dua kata ini penting bagi seorang program director, jangan panik. Apapun yang terjadi selama acara berlangsung, program director dilarang panik. Kesalahan bisa terjadi, baik karena human error atau karena perlatan bermasalah. Karenanya program director harus tahu persis bagaimana skema sebuah acara berlangsung dari mulai rundown yang diterima hingga berita tayang di layar televisi. Pada acara live sebetulnya tak boleh ada kesalahan sama sekali karena acara tidak bisa diulang. Salah satu caranya yakni persiapan yang baik, patuhi standard operation procedure atau SOP yang sudah dibuat. Kru lain bisa saja panic namun program director yang mesti membuat semuanya tenang. Komputer bisa tiba-tiba hang, maka program director harus dengan cekatan memberi intruksi pada newsreader untuk mengeliminir kesalahan tadi. Bisa juga terjadi kesalahan yang sangat fatal, namun lagi-lagi seorang program director tak usah panic, ketika itu benar-benar terjadi maka program director segera mengalihkan acara atau meminta take over pada petugas master control. Lantas bagian master control biasanya akan mengisi jeda karena masalah tadi dengan iklan atau promo program.

photo(1)

Segalanya Tampak di Layar

Berita televisi berbeda dengan program acara televisi lainnya, kecepatan, ketepatan, dan akurasi berita menjadi segalanya. Dan yang tak kalah penting adalah berita televisi disiarkan secara langsung. Sekecil apapun kesalahan bisa tampak di layar televisi yang walapun sebetulnya bisa saja kesalahan karena di belakang layar. Ada yang sedikit unik untuk acara berita televisi di Indonesia dibandingkan dengan CNN atau BBC misalnya. Kebanyakan televisi di Indonesia “hanya” menggunakan newsreader atau pembaca berita bukan anchor atau newscaster/pembawa acara. Newsreader, biasanya ia hanya membaca apa yang ada di teleprompter. Artinya asal ada latihan membaca dengan baik, siapa saja bisa memnjadi seorang newsreader. Sedangkan newscaster biasanya berasal dari reporter. Selain mampu membaca dengan baik, seorang newscaster biasanya menguasai konten yang ia bawakan. Banyak televisi kita yang mementingkan tampilan si newsreader yang mesti cantik atau ganteng namun ia tak benar-benar menguasai perihal konten berita. Ya benar bahwa tampilan itu penting namun lebih dari itu penguasaan tentang materi berita yang suguhkan pada pemirasa tentu saja jauh lebih penting.

Gambar dari: svconline.com, wikimedia, dan koleksi pribadi.

buku cameraman

Cover Depan

cover back

Cover Belakang

Teknologi broadcasting televisi nampaknya akan terus berkembang,
era digital telah merubah segalanya. Dengan kemajuan teknologi
kini memungkinkan hampir semua kamera memiliki kontrol otomatis,
maka siapapun yang menggunakan kamera video akan sangat mudah
untuk mengoperasikannya. Jadi mengapa seorang calon cameraman
harus memiliki pengetahuan tehnik kamera ?

Secara garis besar di dalam buku ini dibahas dalam dua bahasan
pokok masalah, yakni teknis dan philosofis. Pengetahuan teknis
merupakan bagian dari pengetahuan operasional yang harus
dimiliki oleh seorang calon cameraman. Pengetahuan operasional
akan berkaitan dengan bagaimana menggunakan kamera
dengan segala fasilitas yang tersedia pada kamera tersebut.

How To Become A Cameraman telah dijadikan text book di beberapa kampus yang memiliki jurusan penyiaran televisi atau broadcasting. Buku ini merupakan panduan terlengkap bagi para calon camera person baik di industri penyiaran televisi maupun production house di Indonesia.

Penerbit : Motion Publishing
ISBN : 978-602-95630-0-3
Halaman : 235
Harga Buku Rp.50.000

Pemesanan Langsung :
081318178860
info@katabergerak.com


Menakar Rating, Mengukur Pemirsa TV

Oleh Diki Umbara

Bagi sebagian pekerja televisi jantungnya akan berdebar-debar ketika laporan rating televisi mereka baru terima yang biasanya diberikan oleh tim programming televisi kepada eksekutif produser, produser, serta asistennya.  Betapa tidak, angka-angka yang sebetulnya takterlalu  rumit karena ia tidak  lebih dari dua digit itu menjadi sangat penting. Bahkan angka nol koma akan menjadi pembahasan, baik menyenangkan atau kebalikannya. Begitulah rating dan share tak jarang menjadi momok menakutkan buat para produser dan tim kreatif.

 tv

Karenanya berbagai cara dilakukan oleh televisi agar acarannya mendapat rating yang tinggi? Dengan rating bagus berarti acara akan dengan mudah mendapat iklan dari para agency, banyak iklan berarti pundi-pundi uang siap menanti. Begitulah rating dan share televisi sampai saat ini masih menjadi satu-satunya tolak ukur untuk melihat seberapa banyak kecenderungan penonton untuk melihat acara terntentu.

Tak seperti halnya media cetak atau internet, televisi memiliki potensial viewer yang lebih besar. Hampir tak ada biaya yang dikeluarkan seseorang untuk menonton televisi. Maka masyarakat penonton televisi Indonesia cenderung memilih mengonsumsi media televisi, dibanding media lainnya. Penduduk Indonesia yang dua ratus juta lebih dengan jumlah penduduk di daerah yang terjangkau siaran televisi mencapai 175.296. Angka ini tentu menjadi lahan bagus bagi produsen untuk mempromosikan produknya melaui televisi.

Menakar Rating, Dulu Hingga Sekarang

Di Amerika, aplikasi audimeter mulai digunakan di televisi pada tahun 1950-an. Sebuah perangkat disambungkan ke setiap televisi di beberapa rumah dan keluarga yang menempati rumah itu diminta untuk membuka audimeter di akhir pekan dan mengirimkan hasilnya ke Nielsen untuk dianalisis. Keluarga yang menjadi responden diberi insentif 50 sen setiap minggunya. Data dari audimeter TV memberikan dua hasil: Nielsen Television Index (NTI) dan Nielsen Station Index (NSI). Kelemahan dari metode ini adalah kurangnya data demografis. Sebab, audimeter hanya bisa bisa menjelaskan stasiun apa yang didengarkan, bukan siapa yang mendengarkan.

Kelemahan ini lalu diisi oleh American Research Bureau atau Arbitron yang menggunakan teknik pengumpulan data demografis berupa diary. Responden diminta untuk merekam aktivitas menonton TV dan mengirimkannya kembali ke Arbitron jika diary selesai diisi. Menghadapi ini, Nielsen terus menciptakan inovasi. Mulai dari menghentikan layanan survey rating radio karena terlalu boros dana, hingga menciptakan storage instantaneous audimeter (SIA) yang mengirimkan informasi melalui jaringan telepon langsung ke komputer Nielsen. Teknologi SIA memungkinkan pihak Nielsen mempublikasi rating sehari setelah program ditayangkan.

Di Indonesia, penyelenggaraan survai rating televisi di tanah air dirintis oleh Survai Research Indonesia (SRI) sejak 1990. Pada tahun 1994, AC Nielsen perusahaan riset pemasaran terkemuka asal Amerika Serikat—mengakuisisi SRI, sehingga namanya berubah menjadi AC Nielsen-SRI. Selanjutnya beberapa kali perusahaan ini berganti nama. Awalnya, AC Nielsen Media International, kemudian Nielsen Media Research

Secara internasional, NMR adalah bagian dari grup perusahaan VNU Media Measurement & Information. Terakhir pada tahun 2004, membentuk join venture dengan AGB, penyelenggara survei kepemirsaan terbesar nomor dua di dunia, sehingga namanya berubah menjadi AGB Nielsen Media Research. Melalui bendera AGB Nielsen Media Research, wilayah surveinya mencakup di 30 negara

Di Amerika, Nielsen Media Research menggambarkan dua tipe berbeda dalam mengambil sampel saat ingin mengukur aktivitas menonton TV di Amerika Serikat.Pertama, NTI yang didesain untuk merepresentasikan populasi di sebuah daerah. Hasil datanya bertaraf nasional. Sebagai sampel, Nielsen mula-mula memilih acak lebih dari 6000 area di suatu negara, biasanya berpusat pada area urban, lalu mensensus seluruh rumah tangga yang ada di area itu. Setelah itu, 5000 rumah tangga dari seluruh populasi diambil lagi secara acak. Setiap keluarga dihubungi, dan jika mereka bersedia untuk menjadi responden, Nielsen akan memasang People meter.

People Meter 1People Meter yang dipasang di responden

People Meter3

Skema pengiriman data dari responden ke pusat perhitungan rating

Prosedur yang hampir sama di Indonesia juga dilakukan oleh AGB Nielsen yang saat ini wilayah suirveinya mencakup 10 kota besar, yaitu Jakarta, Surabaya, Medan, Semarang, Bandung, Makassar, Yogyakarta, Palembang, Denpasar, dan Banjarmasin. Tingkat penyebaran panel (satu set perangkat pencatatan rating pada televisi rseponden) didasarkan pada survei awal atau Establishment Survey (ES) di 10 kota tersebut untuk menetapkan dan mengidentifikasi profil demografi penonton TV. Dari ES, akan didapatkan jumlah rumah tangga (berusia 5 tahun ke atas) yang memiliki TV yang berfungsi dengan baik atau disebut populasi TV. Penyebaran sampel tidak sama di setiap kota, yaitu Jakarta 55 persen, Surabaya 20 persen, Bandung 5 persen, Yogyakarta 5 persen, Medan 4 persen, Semarang 3 persen, Palembang 3 persen, Makassar 2 persen, Denpasar 2 persen, dan Banjarmasin 1 persen. Angka ini proporsional berdasarkan populasi kepemilikan televsisi di tiap-tiap kota itu. Kepemilikan televisi di Jakarta, misalnya, 55 persen terhadap total 10 kota, maka jumlah sampelnya 55 persen.

Angka rating televisi dihitung dengan rumus sederhana:

Rating   =   Jumlah Penonton Suatu Program

                   —————————————————  X 100 %

                   Jumlah Universe

Sedangkan

Share   =       Jumlah Penonton Suatu Program

                  ———————————————————  X 100 %

                 Total Penonton TV Disaat Bersamaan

Contoh jumlah universe di Jakarta teradapat 3 televisi. Misalnya akan dihitung rating dan share masing-masing televisi tersebut pada pukul 9 sampai pukul 10 malam dimana misalnya TV A ditonton oleh 5 juta orang, TV B 4 juta orang, TV C 2 juta orang. Maka seluruh jumlah pemirsa adalah 11 juta orang. Dengan rumus tadi rating TV A adalah 25% dengan perhitungan: 5 juta dibagi 20 juta dikali 100%. Sedangkan share untuk TV A: 5 juta dibagi  dibagi 11 juta dikali 100 % yakni 45%. Demikian juga dengan TV B dan C, tinggal memasukan rumus di atas tadi.

Pengambilan Data Kepermirsaan Televisi

Pesawat televisi dan perlatan yang terhubung akan dipantau secara elektronik oleh sistim people meter. Masing-masing anggota rumah tangga diberikan sebuah tombol khusus pada handset people meter, misalnya tombol 1 untuk ayah, tombol 2 untuk ibu, tombol 3 untuk anak. Anggota rumah tangga diminta untuk menekan tombol handset pada saat menonton televisi dan menekan kembali ketika selesai menonton.

Pengambilan data dilakukan melalui dua sistim yakni offline dan online. Pada sistem online data diambil setiap malam melalui  siteim telpon yang diset secara otomatis dan dihubungkan dengan sistim pengolahan data sentral di AGB Nielsen Media Research. Sitem penarikan data harian atau daily rating di Jakara, Bandung, dan Surabaya. Sedangkan untuk data offline di kota lainnya akan didatangi petugas Liaison Officer untuk mengganti modul atau alat perekam data.

Membaca Rating

Lalu bagaimana data rating televisi bisa menjadi “kebijakan” para programmer televisi? Data rating yang dibeli dari AGB Nielsen bisa ditelaah dengan mudah oleh bagian departemen programming televisi, pun leh production house atau agency. Data berupa grafik dan angka suatu acara di televisi A bisa dikomparasi dengan acara di televisi B di waktu yang sama. Program acara juga bisa dilihat minutes by minute, sehingga bisa terbaca pada menit ke berapa acara ditonton banyak orang dan kapan mulai ada penurunan.  Jadi selain head to head dengan program lain, data rating acara televisi juga bisa dilihat secara detail bagaimana trend pemirsa menonton acara tersebut.

Inilah yang nantinya diolah sehingga pada akhirnya menjadi “kebijakan” programing, misalnya apakah acara itu akan terus dilanjutkan, dihentikan, atau “direvisi” sana-sini. Data rating yang telah diolah tadi lantas didistribusikan pada para produser dan tim kreatif. Maka seperti penjelasan di atas, angka nol koma sekian saja menjadi sangat penting untuk mereka.

Rating Televisi vs Kualitas Acara

Ini sudah lumayan lama diperdebatkan, nyatanya rating televisi tidak berbanding lurus dengan kualitas acara tv. Sebagian masyarakat menginginkan ada semacam lembaga yang justru bisa mengukur kualitas acara televisi, dengan demikian akan menjadi salah satu panduan bagi penonton untuk melihat acara televisi yang baik. Parameter serta bagaimana metode penilainya tentu saja bisa dirumuskan. Jika pada rating televisi merupakan metode kuantitatif maka untuk menilai bagus tidaknya program televisi tentu mesti menggunakan metode kualitatif.

Institut Kesenian Jakarta sebetulnya pernah melakukan semacam mengukur rating televisi dengan metode ini dan hasilnya memang jauh dengan rating yang dikeluarkan oleh AGB Nielsen. Namun demikian hal ini tidak bisa dilakukan secara berkala karena terkait dengan berbagai hal dan yang paling utama masalah pendanaan. Sebuah riset pasti memerlukan dana, dan riset nirlaba harus didukung oleh pendanaan yang banyak serta bisa secara simultan. Inilah salah satu problem besarnya.

Lantas bagaimana ke depannya? Mesti ada terobosan, bagaimana mengukur kecenderungan penonton televisi dengan tak bergantung pada salah satu lembaga rating saja. Belum lama Komisi Penyiaran Indonesia sudah melakukan seminar perihal rating, namun rasanya belum ada solusi yang mumpuni dalam waktu dekat agar persoalan kualitas acara televisi dan bagaimana cara menakar dan mengukur dengan ideal.

Studio Televisi, Kamera Apa yang Digunakan?
Oleh Diki Umbara

Kadang ada pertanyaan seperti judul di atas. Padahal jawabannya tentu saja simpel, ya kamera studio. Pertanyaan lugu dengan jawaban yang seolah lugu juga. Tak ada yang salah dari pertanyaan tersebut juga tak ada yang salah dengan jawaban di atas. Namun akan jadi soal ketika memang saat ini tak sedikit kamera yang sebetulnya bukan diperuntukan di studio tapi digunakan di studio, bahkan di stasiun televisi besar sekalipun.

Banyak sekali jenis kamera yang didesain serta diciptakan oleh para vendor atau produsen. Jenis-jenis ini diklasifikasikan untuk kebutuhan yang berbeda-beda, walaupun fungsi utamanya tentu saja sama yakni untuk mengambil gambar dan atau suara. Berdasarkan pada penggunaannya, jenis kamera dapat dibagi menjadi 3 kategori yaitu ENG (Electronic News Gathering), EFP (Electronic Field Production) dan Kamera Studio.

cam studio

ENG (Electronic News Gathering)

Kamera ENG adalah kamera yang digunakan untuk meliput sebuah peristiwa, kejadian ataupun sebuah berita. Ciri-ciri dari kamera ini adalah bentuknya yang portabel artinya mudah dibawa kemana-mana, dilengkapi dengan shake reduction (peredam getaran atau goncangan) serta dilengkapi dengan baterai dengan daya tahan yang cukup lama.

EFP (Elektronik Field Production)

Kamera EFP adalah kamera yang digunakan untuk produksi non berita. Kamera ini biasanya digunakan untuk produksi drama, sinetron, program nondrama dan lain-lain. Ciri-ciri dari kamera ini adalah dilengkapi dengan aksesoris seperti tripod, crane atau jimmy jib dan kadang dilengkapi juga dengan zoom servo (remote pengatur perbesaran gambar), view finder dan juga intercom.

Kamera Studio

Kamera Studio adalah kamera yang digunakan untuk produksi-produksi didalam studio televisi. Ciri-ciri kamera ini dapat dilihat dari ukurannya yang besar dan berat. Ukuran yang besar serta beban yang berat dari kamera ini dimaksudkan agar ketika mengambil gambar hasil yang didapat benar-benar still (tenang) dan smooth atau halus. Selain itu kamera ini juga dilengkapi dengan zoom servo, pedestal (fungsinya seperti tripod), view finder dan intercom yang memungkinkan PD atau Program Director untuk men-direct kamerawan.

cam4

Lensa Kamera

Salah satu yang membedakan dari ketiga jenis kamera juga ada pada lensa yang digunakan. Lensa sebagai bagian penting dari kamera nyatanya juga akan berpengaruh pada acara jenis apa yang akan dibuat oleh televisi. Lensa untuk liputan bola berbeda dengan misalnya lensa yang digunakan untuk liputan berita. Maka jenis kamera yang dipakai akan menggunakan jenis lensa yang berbeda pula.

cam2 pedestal

1. Lensa Studio

Sebuah lensa yang terdapat pada body kamera dimana di dalam lensa ini sudah terdapat kontrol fokus dan zoom serta sensor kendali untuk kontrol ekternal.

2. Lensa EFP dan ENG

Sebuah lensa yang terdapat pada kamera dimana kontrol zoom dan fokus terpadat atau menempel pada badan lensa.
Lensa ini memungkinkan pengambilan gambar dengan sistem makro atau ekstrim close up (pengambilan obyek jarak dekat atau benda-benda kecil).

Studio Camera Mounts

Dalam proses kerja studio kamera dipasang pada sebuah alat yang disebut pedestal. Pedestal adalah dudukan kamera yang dilengkapi dengan tiga buah dolly atau roda, yang mampu digerakan oleh kameraman dengan halus dan tanpa getaran. Ketiga roda atau kemudi di bagian bawah menjadi alas tumpuan sehingga pedestal dapat diputar menggunakan itu lingkaran kemudi. Kamera dihubungakan langsung dengan kepala dudukan sehingga kamera dapat melakukan gerakan berputar secara horisontal (pan) serta dapat merubah sudut penggambilan gambar dari low angle ke high angle (tilt). Kita dapat merubah hal tersebut secara halus dan dapat pula dikunci apabia kita sudah menemukan komposisi gambar yang kita inginkan.

Ukuran kamera studio berkurun besar dan mempunyai berat sekitar 45 kilogram namun dengan bantuan internal counter-weights kameraman dapat dengan mudah menaikan atau menurunkan kamera selama telescopic ring-nya tidak terkunci.

Alat Tambahan Pada Kamera Studio

Shot Boxes
Pada penggunaan kamera studio sering kita menggunakan beberapa ukuran gambar yang selalu dipakai dalam produksi. Salah satu contohnya adalah wide shot, two shot, dan one shot sering digunakan pada acara berita. Shot Boxes adalah sebuat perangkat elektronik yang dipasang pada kamera studio yang mampu mengingat ukuran zoom lensa lengkap dengan ukuran shutter dan fokus. Kameraman dapat mengatur semua dengan hanya menekan satu tombol. Dengan perangkat ini proses kerja akan semakin efektif dan efisien.

Absurditas

Begitulah semestinya kamera, ia diperlakukan sesuai fungsi dan kegunaanya. Sama seperti halnya mobil, truk difungsikan untuk mengangkut barang sedang sedan untuk mengankut orang. Namun di negeri tercinta ini tak jarang kita melihat mobil truk yang digunakan untuk mengangkut orang.

cam5 efp

cam7 eng

Pun dengan kamera televisi, tak jarang stasiun televisi menggunakan kamera EFP bahkan kamera ENG untuk keperluan shooting di studio. Kenapa ini bisa terjadi? Bukankah itu artinya menyalahi fungsi dan kegunaanya tadi? Disinyalir yang menjadi biang ini semua ialah perihal budget. Kamera studio dengan berbagai fitur lengkap itu harganya jauh lebih mahal tinimbang kamera EFP dan kamera ENG. Maka, kamera EFP yang semestinya diperuntukkan dalam produksi sinetron atau kamera ENG untuk peliputan berita di lapangan, dipaksa difungsikan dalam pembuatan acara televisi di studio. Hasilnya tentu saja kurang maksimal. Selain itu akan menjadi pekerjaan tersendiri untuk para operator kamera itu sendiri. Tak semua kamera EFP bisa dikoneksikan dengan CCU atau Camera Control Unit apalagi kamera ENG, artinya untuk menyamaratakan pencahayaan tidak bisa dikontrol dalam satu alat. Jadi masing-masing operator kamera harus mengadjust fungsi iris serta color temperature untuk white balancenya.

TV Nasional, TV Lokal, TV Komunitas atau TV Kampus

Seperti diulas di atas bahwa nyatanya bahkan televisi beberapa telelevisi nasionalpun ”hanya” menggunakan kamera EFP untuk kebutuhan studio, namun sebagian besar memang telah menggunakan kamera studio. Sedangkan televisi lokal hampir dipastikan tidak benar-benar menggunakan kamera studio. Sebagian besan bahkan menggunakan kamera ENG, kamera untuk liputan berita yang dipaksakan untuk keperluan acara televisi di studio.

canon

Lantas bagaimana dengan televisi komunitas. Nah ini lebih unik lagi, televisi komunitas ada yang menggunakan kamera ENG untuk studio dan bahkan ada yang menggunakan kamera model compact seperti handycam. Demikian juga dengan televisi yang basisnya web. Alinea TV yang tayang streaming di internet menggunakan kamera handycam untuk acara live dialog pun liputan di lapangan.

TV Kampus tak beda jauh dengan televisi komunitas. Kamera yang digunakan biasanya tergantung dari budget yang dialokasikan kampus. Sebagian tv kampus biasanya merupakan bagian dari studio yang digunakan untuk latihan dalam perkuliahan broadcasting televisi. Kamera yang digunakan merupakan kamera ENG.

Era Televisi Digital, Kamera Digital

Puluhan tahun teknologi televisi menggunakan teknologi analog, pesatnya teknologi pada abad 21 telah mengubah segalanya, teknologi analog lambat laun tergantikan oleh teknologi digital. Salah satu kelemahan dari teknlogi analog adalah terbatasnya frekuensi yang tersedia. Begitu pula dengan kualitas gambar yang dihasilkan, teknologi digital memiliki kelebihan yang jauh disbanding teknologi analog. Teknologi televisi digital sudah dimulai sejak tahun 2003 yang dipelopori oleh negara yang memiliki perkembangan teknologi pesat, Jerman.

canon xf305

Dengan kamera digital, permasalahan kategorisasi kamera berdasarkan peruntukan diatas agak tereliminir. Karena misalnya koalitas kamera ENG banyak yang setara dengan kamera EFP. Saking miripnya bahkan secara hasil bisa jadi tak begitu tampak perbedaan yang mencolok. Kamera untuk acara World Cup 2010 kemarin sebagai contoh, acara bola yang biasanya menggunakan kamera Studio, saat itu menggunakan kamera EFP alias kamera untuk kepentingan produksi drama. Karenanya Canon XF 305 sebagai kamera EFP mendapat banyak pujian karena output yang diterima para pemirsa sangat bagus.

camera studio

Namun hemat penulis, mestinya penggunaan kamera itu ideal dengan fungsi dan kegunaanya terkecuali kelak produsen kamera tak lagi memilah jenis kamera berdasar jenis produksi yang dihasilkan.

Studio Televisi, Kamera Apa yang Digunakan?

Extras Talent, (Profesi) Menggiurkan
Diki Umbara

Ektras Talen atau Talent Extras ialah seorang aktor yang bermain menjadi latar baik di film, acara televisi, atau drama panggung. Mereka muncul biasanya tanpa dialog. Pada film kolosal extras talent akan sangat banyak sekali.

Di film perang akan ada ratusan bahkan ribuan pemain sebagai extras. Di Hollywood, extras talent digarap dengan sangat serius. Demikian juga dengan industri film India, Bollywood. Lalu bagaimana eksistensi mereka di Indonesia?

K

riteria untuk extras talen ini tentu saja macam-macam karena sangat tergantung dari film atau acara televisi itu sendiri. Baik di luar negeri atau di Indonesia, extras talent biasanya “disediakan” oleh agency untuk memenuhi kebutuhan dari production house atau stasiun televisi. Agency yang baik biasanya mereka akan dengan cekatan menyediakan extras sesuai dengan kriteria yang diinginkan kliennya. Namun demikian kebanyakan agency di kita nampaknya belum terlalu serius menangani ini, agak beda misalnya ketika PH atau televisi meminta talent utama dan supporting talent atau peran pendukung.

extras_www.colttalent.com

foto: colttalent.com

Masih Dianggap Sepele

Tanpa diberi  dialog dan hanya memerankan adegan kecil, karenanya sebagian besar yang menjadi extras talent hanya akan menganggap profesi ini sebagai batu loncatan atau malah sebagai pekerjaan sampingan. Sekilas tak ada yang salah dengan dua hal ini, namun nyatanya hal inilah yang menjadi salah satu problem kenapa profesi extras talent dianggap sebelah mata. Padahal di industri film Hollywood sana bahkan banyak orang yang tak ingin “naik pangkat” dari extras talent ke jenjang berikutnya misalnya menjadi supporting atau main talent.

Ini juga untuk jabatan first line dan scond line director, mereka tak menjadikan profesi asisten sutradara sebagai batu loncatan untuk menjadi sutradara. Dan alasannya ialah mereka sadar bahwa menjadi extras talent itu penting dan bukan pekerjaan batu loncatan apalagi pekerjaan sampingan. Itulah yang membedakan negara dimana industri televisi dan film yang sudah sangat maju dengan negara yang masih berkembang seperti Indonesia.

 ektras_tempo

foto: tempo.com

Talent Agency, Bagus vs Nakal

Tak seperti halnya aktor yang bisa “independen” tanpa harus melalui agency, nyaris tak ada extras talent yang bisa main film langsung dengan casting pada penyelia aktor. Karenanya extras talent biasanya ada pada naungan rumah agency. Karenanya extras talent memerlukan agency, tepatnya simbiosis mutualisme. Keduanya bisa berkerjasama saling menguntungkan.

LK

foto: dienan silmy  FTV “Ingatan yang Terkuak”

Namun carut marut penyelia pemain atau talent agency ini nampaknya masih mennjadi rahasia umum di kalangan insane film dan televisi. Kebanyakan talent agency tidak membuat kontrak dengan para extras talent, hanya atas dasar kepercayaanlah mereka bekerjasama. Perbedaan prosentase honor extras talent yang diambil talent agencypun berbeda-beda. Maka bisa jadi honor extras talent di talent agency A akan berberda jauh dengan yang didapat dari talent agency B. Tak hanya pada masalah honor, kejelasan skedul dimana extras talent bermainpun menjadi masalah tersendiri. Extras talent biasanya hanya tahu hari apa mereka bermain di sinetron atau film A tanpa tahu persis berapa scene mereka berakting. Namun tak semua talent agency demikian karena beberapa sudah melakukan fungsinya dengan rapi.

Masa Depan Extras Talent

Demikian extras talent sejatinya merupakan profesi yang bisa dijadikan mata pencaharian serius. Industri televisi dan perfilman kita sudah mulai bagus. Kabar baik ini semestinya diantisipasi oleh penyokong kebutuhan industria ini, termasuk oleh talent agency dimana di dalamnya terdapat ratusan bahkan ribuan extras talent. Saling percaya satu sama lain memang suatu keharusan, namun agar menjadi rapi baiknya dibuat kesepakatan tertulis hak dan kewajiban masing-masing pihak supaya kelak tak ada yang dirugikan.

Kategori

Kicauan

SociaBuzz

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 87 pengikut lainnya.